EBEG: SPIRIT KUDA SEBAGAI ETOS KERJA PETANI

Oleh: Yus Wong Banyumas

Ada pertanyaan sederhana yang berpuluh-puluh tahun saya tidak mendapat jawabannya dan baru ditemukan dalam sebuah obrolan dengan Mas Hari Genduk, dosen Institut Seni Indonesia Surakarta: “Mengapa ebeg begitu populer di Banyumas?” Di wilayah Banyumas dan sekitarnya ebeg bukan cuma persoalan berkesenian tetapi telah menjadi media perwujudan eksistensi diri yang memungkinkan seseorang total berekspresi. Kehadiran ebeg juga menjelma menjadi semacam euphoria dari kegelisahan, kemarahan, dendam, kegagalan, kebencian, penderitaan, sekaligus heroisme dan patriotisme.

Dalam obrolan tersebut kami sama-sama menggali persoalan popularitas ebeg di Banyumas berdasarkan berbagai sudut pandang, baik dari sisi diakronis, estetis, antropologis, ekonomis, politis, perkembangan budaya maupun psiko-sosial dan sosial-psikologis. Jawabannya terletak pada hubungan antara spirit kuda dan etos kerja petani.

Dalam sejarah perjalanan kerajaan-kerajaan nusantara (pra Islam) dijumpai nama-nama yang diawali dari berbagai jenis binatang seperti gajah, banyak, lembu, mahesa, dan kuda. Ada sederet nama pengageng di kerajaan Jawa yang diawali dengan kata “kuda”, seperti Kuda Kuda Laleyan (Surya Amiluhur), Kuda Taliwangsa, Kuda Warengpati (nama lain Panji Inu Kertapati), Kuda Panolih (Kuda Pengasih), Kuda Perwira, Kuda Peranca, Kuda Pawana, dan seterusnya. Semua itu terkait dengan spirit binatang totem yang diharapkan menjadi kekuatan eksistensi diri si pemilik nama tersebut.

Bagaimana dengan ebeg di Banyumas? Wilayah Banyumas yang memiliki tradisi pertanian telah menjadikan kuda sebagai spirit bagi petani. Setidak-tidaknya ada tiga keistimewaan sifat kuda. Pertama, kuda dikenal sebagai binatang yang sangat kuat. Orang Banyumas mengatakan kuda sebagai binatang yang “ora duwe wudel” yang berarti tidak pernah lelah. Binatang yang satu ini bisa bekerja terus-menerus tanpa rasa lelah. Tidak berbeda dengan petani yang bekerja menggarap lahan pertanian berhari-hari tanpa kenal rasa lelah.

Kedua, kuda adalah binatang yang sangat setia dengan majikannya. Dia tidak akan meninggalkan tuannya yang terluka dan ketika ditinggalkan maka ia akan menunggu hingga majikannya kembali. Petani pun demikian. Ia akan selalu setia dengan tanah yang digarap, dengan tanaman yang ia tanam.

Ketiga, kuda dikenal sebagai binatang yang memiliki indera keenam yang kuat. Kuda mampu berjalan dalam kegelapan tanpa tersandung atau mampu menghindari jatuh saat sedang berlari di arah depan ada jurang. Petani dengan spirit kuda mampu memperkirakan tingkat kelebatan hujan pada masa tanam yang akan datang atau hama apa yang akan menyerang tanaman.

Seni ebeg adalah representasi spirit kuda masyarakat Banyumas yang hidup dalam pola tradisional-agraris. Gambaran keistimewaan sifat kuda telah menjadi etos kerja masyarakat yang menggantungkan hidup dari tradisi pertanian. Etos kerja tersebut kemudian diekspresikan kembali melalui kegiatan estetis pertunjukan ebeg. Melalui pertunjukan ebeg seseorang dapat mengekspresikan diri secara total baik melalui gerak tarian, menabuh gamelan, berolah vokal maupun mendem (intrance).

Sebagai kesenian yang lahir di dalam tradisi pertanian, ebeg tidak lepas dari tindakan komplentatif dengan alam semesta. Tindakan mendem atau wuru (intrance) dalam pertunjukan ebeg adalah wujud nyata kedekatan orang Banyumas dengan kesemestaan alam. Pertunjukan ebeg tidak ubahnya pestanya para indhang. Mereka diundang dan diberi suguhan. Asap kemenyan yang diumpamakan sebagai nasi dan bunga sebagai sayuran. Dan gendhing-gendhing yang disajikan oleh pengrawit adalah music iringan untuk menari-nari dalamsuka-cita. Kehadiran indhang dalam pertunjukan ebeg selaras dengan tradisi masyarakat Banyumas yang selalu ngabekti kepada leluhur dengan cara ngreksa atau ngrumat makam atau petilasan. Indhang diyakini sebagai roh leluhur yang bisa dihadirkan kapan saja untuk kepentingan pertunjukan berbagai jenis kesenian. Pertunjukan kesenian yang dihadiri indhang diyakini akan berlangsung semarak dan hidup sehingga lebih menarik minat penonton untuk menyaksikan sampai selesai pertunjukan. Oleh akrena itu, setiap seniman tradisional di Banyumas umumnya melakukan usaha nggayuh indhang, dengan harapan mampu menyajikan pertunjukan secara total.

Lalu bagaimana posisi ebeg dalam kehidupan pada masa kini? Perubahan jaman dari tradisional-agraris ke arah modern-teknologis dan berpusar ke era post-modernisme telah mengubah cara pandang masyarakat tentang diri dan lingkungannya. Kesenian ebeg sebagai salah satu hasil karya era tradisional-agraris seringkali dipandang telah ketinggalan jaman. Oleh karena itu sangat diperlukan redefinisi dan re-orientasi dalam memandang dan memperlakukan seni ebeg dalam kehidupan sekarang. 

Ebeg semestinya tidak dipandang sebagai sesuatu yang mati dan tidak boleh diubah. Memandang ebeg hanya dengan kacamata pandang preservasi justru akan bermuara pada kegagalan ebeg mengambil posisi dalam situasi jaman yang sedang berlangsung. Ebeg harus diberi daya hidup dengan inovasi dan pembaruan sesuai dengan jamannya sehingga mampu hadir sebagai karya seni yang kreatif-produktif-adaptif.

Hal yang perlu terus dijaga adalah spirit yang terkandung di dalamnya. Spirit kuda yang meliputi kekuatan, kesetiaan dan kekuatan daya rasa adalah spirit yang tidak lekang dimakan jaman. Sampai kapan pun spirit semacam ini dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Spirit kuda ini dapat diekspresikan dalam berbagai sisi kehidupan profesi yang memungkinkan menjadikan seseorang mandiri, kreatif, dan produktif. Mereka yang menjadi pedagang, pegawai, petani, tentara, polisi, karyawan, pengusaha dan atau pekerjaan lain dapat menjadikan spirit kuda agar mampu bekerja total di bidang pekerjaan masing-masing.

Lalu perwujudan pertunjukan ebeg harus terus berinovasi sesuai dengan daya kreatif seniman yang terlibat di dalamnya. Jangan takut dicap sebagai pemberontak dalam berkarya seni. Jangan pula takut dinilai jelek hasil kreativitasnya. Karena hidup adalah proses. Berkesenian pun adalah proses. Tidak mungkin seorang kreator tiba-tiba menghasilkan karya hebat tanpa melalui proses panjang yang bahkan seringkali berdarah-darah dan penuh nestapa. Tidak ada kata sulit untuk memulai. Tidak ada kata tak mampu untuk mencoba. Dengan memahami kekuatan proses maka pada masa yang akan datang memungkinkan hadir karya-karya mercusuar yang didasarkan pada tradisi pertunjukan ebeg. Sementara bagi mereka yang tetap berpegang pada tradisi memiliki tugas harus mencari kekuatan-kekuatan di setiap elemen pertunjukan agar mampu tampil prima sesuai dengan kaidah-kaidah estetis dalam berkesenian. Karena yang harus dipahami bersama bahwa salah satu sifat pertunjukan ebeg adalah sederhana, tetapi sederhana bukan berarti asal-asalan.

Popular posts from this blog

MAKNA SIMBOLIK PADA PROPERTI BEGALAN

KONSEP KARYA TARI TEMBANG PANGIMPEN

SENI BUNCIS DI BANYUMAS: Ekspresi Estetik Dalam Kekalutan