Posts

EBEG SEBAGAI BAGIAN DARI TRADISI

Sebagai sebuah tradisi, ebeg diolah berdasarkan cita rasa masyarakat Banyumas dalam pengertian luas, termasuk nilai kebudayaan tradisi, pandangan hidup, pendekatan, falsafah, rasa etis serta estetis yang kemudian diterima dan diwariskan oleh angkatan tua kepada angkatan muda. Oleh karena itu dalam studi antropologis, melihat sebuah penampilan seni pertunjukan tradisional sama halnya dengan melihat isi otak pemilik kesenian tersebut. Hal ini sebagaimana pendapat Edi Sedyawati bahwa berbagai ragam kesenian itu tumbuh berkembang secara turun-temurun secara berulang dengan pola-pola yang mengikat dan menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat pendukungnya (Edi Sedyawati, 1981:48).
Soedarsono (1972:88) mengungkapkan bahwa di dalam kesenian tradisional terkandung nilai-nilai yang berkaitan dengan masyarakat pendukungnya dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan masyarakat pendukungnya serta selama pandangan hidup pemiliknya tidak berubah. Nilai-nilai yang dimaksud di sini adalah segala sesu…

PERTUNJUKAN EBEG DI BANYUMAS

Kesenian ebeg di wilayah kultural Banyumas seperti tak lekang dimakan usia tak lapuk dimakan umur. Berbagai tawaran estetis melalui produk-produk seni masa kini boleh jadi melanda ke seluruh pelosok negeri bagai banjir bandang, tetapi ebeg tetap saja ebeg. Media ekspresi estetis masyarakat pedesaan di wilayah Banyumas yang penuh gairah, tanpa kamuflase, sederhana, jujur, apa adanya, namun setiap pementasannya selalu mampu menyedot animo penonton untuk menyaksikan.
Hingga saat ini hampir di setiap desa di wilayah kebudayaan Banyumas terdapat kelompok-kelompok seni ebeg, sebagai media hiburan, sebagai media ekspresi estetis, sebagai representasi pengalaman-pengalaman mistis-religius, sebagai media aktualisasi diri, bagi masyarakat pendukungnya. Merebaknya ragam budaya massa, seni pop atau seni instan melalui berbagai ekspresi, ternyata bukan halangan bagi ebeg untuk tetap menjadi tontonan yang digemari oleh masyarakat.   Boleh jadi, ada sebagian kalangan masyarakat yang menganggap bahw…

EBEG BANYUMASAN

Ebeg adalah jenis tarian tradisional yang sangat populer di Banyumas dengan properti berupa kuda-kudaan terbuat dari anyaman bambu. Dalam pertunjukannya para pemain ebeg menggambarkan prajurit berkuda di bawah pimpinan Prabu Klana dalam cerita Panji. Sajian tarian diiringi alat musik bendhe yang merupakan perangkat musik tradisional yang khusus digunakan untuk mengiringi pertunjukan Ebeg. Di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas masih bertebaran kelompok-kelompok atau grup-grup seni ebeg, khususnya di wilayah-wilayah pedesaan. Hampir di setiap desa terdapat seni ebeg, mulai dari sebelah barat aliran sungai Luk Ulo Kebumen di sisi timur, hingga wilayah perbatasan Pasundan di sisi barat.
Hingga sekarang ebeg masih hidup dan berkembang di berbagai daerah di wilayah sebaran kebudayaan Jawa dengan berbagai nama dan bentuk pertunjukan seperti kuda lumping, kuda kepang, embeg, embleg, emblek, jaran dor dan lain-lain. Pada masa lalu properti berupa kuda-kudaan selain terbuat dari bambu juga te…

KONSEP SESAJI DALAM SPIRITUAL KEJAWEN

Sebuah Refleksi
Oleh Yus Wong Banyumas
Hari ini kita membahas persoalan yang sedang sangat rentan. Tentang sesaji atau sajen, yang oleh salah satu kelompok keyakinan dianggap sebagai sesuatu kuno, bodoh, dan dosa besar. Saya yakin terjadinya anggapan semacam itu karena mereka tidak tahu, tidak paham, hanya melihat kulitnya, tanpa tahu makna yang lebih dalam. Sebagian dari mereka mungkin mengerti, tapi karena nuraninya telah tertutup oleh pemahaman dogma yang membabi-buta maka mereka tidak segan membenturkannya dengan ajaran yang mereka yakini. Ditambahkan pula bumbu penyedap berupa kepentingan politik kekuasaan, sehingga tampak semakin sangar. Sesuatu yang semestinya biasa-biasa saja kemudian jadi luar biasa. 
Sesaji yang sudah dikenal masyarakat nusantara sejak ribuan tahun yang lalu, sekarang dibahas dalam orasi-orasi, dikaitkan dengan fenomena bencana alam, bahkan fluktuasi ekonomi pasar dan perkembangan geo-politik global dikaitkan sebagai dampak sesaji. Sesaji yang dalam kehidup…

Gubrak Lesung, Seni Banyumasan yang Kian Surut

Kamis, 2 April 2009 | 02:01 WIB
Oleh M Burhanudin

Hari beranjak sore di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup musik tetabuhan bernada ritmik mengalun rancak dari arah Sanggar Plana yang terletak tak jauh dari pinggir Sungai Serayu. Setelah Kompas mendekat, rupanya di depan sanggar sederhana beratap ilalang itu lima nenek sedang memainkan seni gubrak lesung.

Lima nenek itu adalah Aswi (75), Wasilah (71), Sati (70), Marpik (61), dan Srigiyatin (56). Mereka bertetangga. Memainkan musik gubrak lesung merupakan hal biasa bagi perempuan-perempuan lanjut usia di Desa Plana. Bukan untuk pertunjukan, tapi sekadar menghibur diri dan lingkungan sambil melewatkan senja.

Aswi dan kawan-kawan mengaku terbiasa memainkan gubrak lesung sejak muda. Untuk nada yang dimainkan, mereka mewarisinya dari orangtua mereka.

"Ini seni peninggalan nenek moyang. Walau tidak ada yang ditumbuk, kami bisa tetap main-main seperti ini untuk hiburan kalau kumpul sore-sor…

MEREKA BERTAHAN DI TENGAH BUDAYA POP

Setiap pulang sekolah, bersama sejumlah temannya, Egi Darmawan (14), siswa SMP Negeri 1 Somagede, Kabupaten Banyumas, belajar tari dan karawitan di Padepokan Seni Banyubiru di Desa Plana, Kecamatan Somagede. Dia mengaku tidak malu dan tidak khawatir dikatakan kolot, belajar seni tradisional.

Saya malah bangga bisa berkesenian tradisional. Bisa ke mana- mana. Sebenarnya saya juga suka seni modern, tetapi saya lebih bangga dengan seni tradisional," ujar Egi Darmawan.

Di padepokan itu ada sekitar 20 anak dan remaja putri berusia 8- 15 tahun yang setiap Selasa dan Jumat pukul 14.00-17.00 berlatih tari banyumasan. Bahkan ada beberapa anak yang belajar tari di padepokan tersebut sejak usia tujuh tahun. Salah satunya adalah Dwi Retnoningsih (12), siswa Kelas VI SD Plana Satu.

"Saya memang senang tari. Banyak teman-teman saya di sekolah yang ikut tari," kata Dwi yang menguasai paling tidak lima tari tradisional banyumasan seperti sonderan, tredel, merak, mrampak, dan manipuri.

Yusm…

SAJIAN CALUNG ANAK-ANAK BANYU BIRU PLANA

Image
Siapa bilang anak-anak muda tidak lagi menyenangi kesenian tradisonal? Kalau kita mau jujur, semua itu sangat bergantung seberapa jauh mereka berkesempatan untuk berapresiasi dengan ragam kesenian tradisional di lingkungan sekitar. Semakin besar apresiasi, maka kian besar pula kecintaan dan sense of belonging dalam diri mereka. Sebaliknya, jika mereka tidak memiliki media apresiasi yang cukup, rasa kecintaan mereka pun menjadi rendah. Lihat saja, anak-anak Padhepokan Seni Banyu Biru Plana yang sudah demikian terampil memainkan alat musik calung di saat usia mereka masih muda belia.






Anak-anak Padhepokan Seni Banyu Biru Plana
dalam sebuah sajian calung Banyumasan