Thursday, September 4, 2008

PENGEMBANGAN BUDAYA SPIRITUAL DALAM KONTEKS SOSIAL EKONOMI

Dalam konteks sosial ekonomi, eksistensi budaya spiritual berkedudukan sebagai etos kerja, ruh, spirit dan motivator. Dalam sastra Jawa dikenal Sekar Macapat Sinom sebagai berikut:

Bonggan kang tan mrelokena
Mungguh ugering aurip
Uripe lan tri prakara
Wirya arta tri winasis
Kalamun kongsi sepi
Marang wilangan tetelu
Telas tilasing janma
Aji godhong jati aking
Temah papa papariman ngulandara

Dari tembang di atas dapat diperoleh pengertian bahwa manusia dalam menjalani hidup di dunia harus memiliki rambu-rambu berupa pengertian hidup itu sendiri serta tiga hal yang lain, yaitu kawiryan, arta dan kawasisan. Tanpa memiliki ketiga hal tersebut maka dalam hidupnya manusia tidak memiliki harkat dan martabat. Pengertian tentang hidup sangat jelas tertuang dalam ungkapan asale ora ana, dadi ana, bakale ora ana yang mewajibkan setiap manusia yang hidup di dunia mencari bekal bagi kematiannya. Adapun tiga hal lain yang harus dimiliki manusia adalah ketrampilan, harta benda dan kepandaian. Hingga jaman post modernisme seperti sekarang ini ketiga hal ini masih sangat cocok diterapkan. Siapapun yang tidak memiliki ketiga hal tersebut maka serta merta akan tersingkir dari kehidupan sosial ekonomi di lingkungannya.

Budaya spiritual—apapun ajarannya—sangat kental dengan ajaran yang terkandung di dalam pupuh tembang di atas. Di dalam budaya spiritual diajarkan tentang hayu (hidup). Di dalamnya juga diajarkan kawruh budi luhur tentang bagaimana seharusnya hidup bermasyarakat yang baik. Ajaran paramarta memberi petunjuk pada kita agar bisa asung pangan wong kaluwen, asung kudhung wong kapanasan dan paring payung kang kudanan. Namun demikian di dalamnya juga mengajarkan agar setiap pribadi mampu angrangsang ingkang inggil dan anggayuh ingkang tebih. Keduanya saling terkait dan sinergis. Untuk mampu asung pangan wong kaluwen, asung kudhung wong kapanasan dan paring payung kang kudanan maka setiap individu harus memiliki harta benda yang diperoleh melalui angrangsang ingkang inggil dan anggayuh ingkang tebih. Ajaran semacam ini dapat dijadikan sebagai spirit bagi pencapaian kesejahteraan hidup sesama anggota masyarakat melalui pencukupan materi sesuai dengan kawiryan dan kawasisan yang dimilikinya.

Dalam perkembangan jaman seperti sekarang ini, konsep ajaran tersebut sangat cocok diterapkan dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. Si kaya memberi kepada si miskin, sedangkan si miskin mengejar ketertinggalan untuk mampu hidup setara dengan si kaya. Dengan cara demikian akan terjadi optimalisasi setiap seumberdaya yang ada untuk mencapai keberhasilan pemberdayaan ekonomi rakyat. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam kehidupan sosial ekonomi, di dalam ajaran spiritual Jawa dibatasi dengan rambu-rambu sebagaimana terkandung dalam ajaran tepa salira dan aja dumeh. Ajaran tepa salira memiliki pengertian bahwa dalam kehidupan sosial, setiap kebebasan, keberhasilan dan kemudahan fasilitas yang dimiliki oleh seseorang secara langsung maupun tak langsung akan bersinggungan dengan orang lain. Oleh karena itu selanjutnya diajarkan aja dumeh; aja dumeh sugih, aja dumeh menang, aja dumeh duwe kalungguhan. Melalui ajaran aja dumeh, setiap pribadi dapat melakukan kontrol diri secara permanen sehingga dalam bersosialisasi akan mampu menempatkan diri secara bijak di antara pribadi lain di lingkungannya.

Dalam konteks sosial ekonomi, eksistensi budaya spiritual berkedudukan sebagai etos kerja, ruh, spirit dan motivator. Dalam sastra Jawa dikenal Sekar Macapat Sinom sebagai berikut:

Bonggan kang tan mrelokena
Mungguh ugering aurip
Uripe lan tri prakara
Wirya arta tri winasis
Kalamun kongsi sepi
Marang wilangan tetelu
Telas tilasing janma
Aji godhong jati aking
Temah papa papariman ngulandara

Dari tembang di atas dapat diperoleh pengertian bahwa manusia dalam menjalani hidup di dunia harus memiliki rambu-rambu berupa pengertian hidup itu sendiri serta tiga hal yang lain, yaitu kawiryan, arta dan kawasisan. Tanpa memiliki ketiga hal tersebut maka dalam hidupnya manusia tidak memiliki harkat dan martabat. Pengertian tentang hidup sangat jelas tertuang dalam ungkapan asale ora ana, dadi ana, bakale ora ana yang mewajibkan setiap manusia yang hidup di dunia mencari bekal bagi kematiannya. Adapun tiga hal lain yang harus dimiliki manusia adalah ketrampilan, harta benda dan kepandaian. Hingga jaman post modernisme seperti sekarang ini ketiga hal ini masih sangat cocok diterapkan. Siapapun yang tidak memiliki ketiga hal tersebut maka serta merta akan tersingkir dari kehidupan sosial ekonomi di lingkungannya.

Budaya spiritual—apapun ajarannya—sangat kental dengan ajaran yang terkandung di dalam pupuh tembang di atas. Di dalam budaya spiritual diajarkan tentang hayu (hidup). Di dalamnya juga diajarkan kawruh budi luhur tentang bagaimana seharusnya hidup bermasyarakat yang baik. Ajaran paramarta memberi petunjuk pada kita agar bisa asung pangan wong kaluwen, asung kudhung wong kapanasan dan paring payung kang kudanan. Namun demikian di dalamnya juga mengajarkan agar setiap pribadi mampu angrangsang ingkang inggil dan anggayuh ingkang tebih. Keduanya saling terkait dan sinergis. Untuk mampu asung pangan wong kaluwen, asung kudhung wong kapanasan dan paring payung kang kudanan maka setiap individu harus memiliki harta benda yang diperoleh melalui angrangsang ingkang inggil dan anggayuh ingkang tebih. Ajaran semacam ini dapat dijadikan sebagai spirit bagi pencapaian kesejahteraan hidup sesama anggota masyarakat melalui pencukupan materi sesuai dengan kawiryan dan kawasisan yang dimilikinya.

Dalam perkembangan jaman seperti sekarang ini, konsep ajaran tersebut sangat cocok diterapkan dalam pengembangan ekonomi kerakyatan. Si kaya memberi kepada si miskin, sedangkan si miskin mengejar ketertinggalan untuk mampu hidup setara dengan si kaya. Dengan cara demikian akan terjadi optimalisasi setiap seumberdaya yang ada untuk mencapai keberhasilan pemberdayaan ekonomi rakyat. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam kehidupan sosial ekonomi, di dalam ajaran spiritual Jawa dibatasi dengan rambu-rambu sebagaimana terkandung dalam ajaran tepa salira dan aja dumeh. Ajaran tepa salira memiliki pengertian bahwa dalam kehidupan sosial, setiap kebebasan, keberhasilan dan kemudahan fasilitas yang dimiliki oleh seseorang secara langsung maupun tak langsung akan bersinggungan dengan orang lain. Oleh karena itu selanjutnya diajarkan aja dumeh; aja dumeh sugih, aja dumeh menang, aja dumeh duwe kalungguhan. Melalui ajaran aja dumeh, setiap pribadi dapat melakukan kontrol diri secara permanen sehingga dalam bersosialisasi akan mampu menempatkan diri secara bijak di antara pribadi lain di lingkungannya.

No comments: