Thursday, January 3, 2008

MEMBEBASKAN DIRI DARI IMPERIUM KEBUDAYAAN

Salah satu persoalan yang sangat pelik dalam perkembangan sejarah kebudayaan Banyumas adalah wilayah ini begitu lama mengalami masa-masa keterjajahan. Tragisnya lagi, imperialisme di Banyumas tidak sekedar dilakukan oleh bangsa-bangsa Barat pada masa kolonialisme, tetapi juga oleh bangsa sendiri pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Jawa. Paling tidak semenjak era Pajang, Banyumas dipercaya mulai berada di bawah kekuasaan kerajaan Jawa, yang berlangsung hingga era Surakarta-Yogyakarta. Tidak ditemukan bukti-bukti tertulis tentang kekuasaan Pajang di wilayah Banyumas. Namun di dalam babad Wirasaba yang berkembang secara lisan di masyarakat, diceritakan bahwa Adipati Warga Utama I terbunuh dalam perjalanan pulang setelah menyerahkan anak perempuannya untuk menjadi selir Sultan Hadiwijaya.

Paling tidak ada dua macam penjajahan yang dialami oleh masyarakat Banyumas, yaitu penjajahan fisik dan penjajahan kultural. Penjajahan fisik dilakukan oleh bangsa-bangsa Barat seperti Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis. Penjajahan fisik lebih berorientasi pada penguasaan teritorial untuk kepentingan ekonomi, perdagangan, dan politik. Adapun penjajahan kultural dilakukan oleh raja-raja Jawa sejak era Pajang. Penjajahan budaya lebih berupa penguasaan psikologis untuk kepentingan kekuasaan raja. Penguasaan secara psikologis ini berimbas pada hampir seluruh sisi kehidupan; fisik-mental. Wilayah Banyumas selain dikuasai dari sisi kewilayahan dan ekonomi, juga dikuasai dari sisi kehormatan, harkat dan martabat kemanusiaan, ideologi, hingga harapan hidup. Orang Banyumas sering diumpamakan sebagai “kebo cinancangan” (kerbau yang diikat). Demikian jargon yang konon berkembang sejak masa kekuasaan Sultan Agung di Negeri Mataram. Perumpamaan tersebut memiliki makna, apabila orang Banyumas diberi cukup makan dan dipiara dengan baik, maka akan dengan mudah ditaklukkan. Bagi mereka yang menganut sinkretisme, perumpamaan tersebut diterima dengan baik sebagai sebuah realita yang tidak dapat disangkal. Namun, bagi sebagian sesepuh yang merupakan intelektual lokal, perumpamaan demikian adalah sebuah penghinaan Mataram terhadap Banyumas dalam arti yang sesungguhnya. Orang Banyumas memiliki ungkapan yang sangat pas untuk menyebut keadaan yang sangat tragis ini yaitu “kebo ilang kandhange rubuh” (kerbau hilang, kandangnya roboh) (Yusmanto dan Bambang Wadoro, 2000:23). Ungkapan ini memiliki makna orang yang mendapat celaka teramat sangat.

Sebagian masyarakat Banyumas pada dasarnya juga merasa bahwa kuatnya kekuasaan kraton telah menempatkan Banyumas dalam posisi yang lemah. Semua itu dapat bermakna sebagai usaha pembedaan kelas dan pembodohan. Namun demikian, umumnya mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan kekuasan Mataram. Kenyataan demikian kiranya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah kebudayaan Banyumas. Perasaan menderita dan terjajah telah mendarah-daging, menjadi memori otak kecil yang tergambar melalui perilaku bawah sadar dalam kehidupan sehari-hari. Orang Banyumas umumnya memiliki ciri nrima ing pandum (menerima semua keadaan yang menimpa dirinya), apatis (masa bodoh), dan tidak suka melawan kekuasaan. Semua itu adalah realita yang tergambar melalui berbagai aktivitas estetik.

Di kalangan masyarakat Banyumas sendiri kemudian tumbuh dua kelompok masyarakat. Kelompok pertama adalah kelompok priyayi yang terdiri dari para ambtenaar (pegawai pemerintah). Mereka adalah kelompok minoritas yang umumnya mendiami pusat-pusat desa. Mereka memiliki tempat tinggal yang strategis, dekat dengan fasilitas umum seperti pasar, balai desa dan sekolah. Sedangkan kelompok kedua adalah wong cilik atau kaum penginyongan (pekulaan) yang terdiri dari buruh tani, petani kecil, dan para pedagang. Mereka adalah kelompok mayoritas yang mendiami wilayah-wialayah pinggiran desa. Di antara kedua kelompok ini terdapat dua konsep hidup yang berbeda. Di kalangan kelompok priyayi dikembangkan pola hidup yang teratur, hidup sehat, berpendidikan serta pola tindakan dan tutur kata halus yang mengacu pada budaya tinggi. Sementara di kalangan kaum penginyongan berlangsung pola hidup yang sederhana, apa adanya dan lebih mengutamakan kebersamaan dalam suasana hidup yang berdiri sama tinggi duduk sama rendah.

Kalangan priyayi di desa-desa umumnya berusaha memegang kendali sistem kehidupan yang dianut bersama. Mereka memungkinkan bersikap ‘menguasai’ (atau bahkan arogan) kaum penginyongan. Hal seperti itu, sekalipun oleh kaum penginyongan dirasakan sebagai tindakan yang menyakitkan, tetapi mereka merasa ora ilok (tidak pantas) untuk menentangnya. Dalam situasi seperti itu mereka mencoba untuk menetralisir keadaan yang bernada supata (kutukan) dengan ungkapan tunggak jarak mrajak tunggak jati mati yang berarti orang kecil akan hidup lestari beranak-pinak, sedangkan para priyayi pada akhirnya akan mengalami keterputusan generasi (tidak lestari). Dengan demikian, sekalipun hidup menderita, mereka merasa lebih beruntung dibanding dengan golongan priyayi. Hal tersebut didasarkan pada realita kekuasaan Jawa, tidak satupun raja besar di Jawa yang mampu bertahan lama dalam mempertahankan garis keturunannya. Namun demikian kekalahan tetap saja bermakna sebagai kekalahan, yang harus diterima dan dialami sepanjang hayat.

Gambaran tentang kekalahan tersebut dapat dipahami dengan jelas pada tradisi seni sastra. Di Banyumas jarang sekali dijumpai bentuk-bentuk wiracarita yang menggambarkan heroisme perlawanan terhadap kekuasaan. Beberapa ragam cerita sejarah/babad yang memuat kisah heroisme seperti Adipati Seda Pendapa di Kadipaten Banyumas dan Raden Thole di Kadipaten Pasir, semua berakhir tragis bagi tokoh hero dalam cerita.

Sikap berontak pada kalangan masyarakat Banyumas jarang sekali dilakukan secara kolektif. Sikap berontak lebih muncul pada tataran individu atau kelompok kecil yang bersifat parsial. Pada umumnya orang-orang yang memiliki sikap berontak justru dianggap sebagai sikap yang ucul tali gadhage (tidak dapat mengendalikan diri (Yusmanto dan Bambang Wadoro, 2000:19). Orang-orang seperti ini justru dipandang sebagai sesuatu yang aneh, bahkan tidak jarang akan dijauhkan dari pergaulan.

Hidup rekasa (menderita) dalam komunitas masyarakat tradisional di Banyumas dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Hidup manusia lir wayang seumpamane (bagaikan wayang). Kalau Gusti urung pareng (Gusti belum mengijinkan), maka apapun usaha manusia akan berakhir sia-sia. Oleh karena itu sangat wajar apabila kemiskinan di desa-desa di Banyumas seakan-akan telah mendarah daging (Tjetjep Rohendi Rohidi, 2000:25). Mereka sudah tidak lagi merasakan bahwa kemiskinan adalah sebuah penderitaan. Kekurangan makan seringkali justru dipahami sebagai kesempatan untuk menjalankan laku agar mencapai keselamatan di dunia-akherat atau jalan menuju pencapaian segala yang diinginkan. Kemelaratan bagi mereka adalah keniscayaan, sehingga tidak perlu diusahakan dengan cara membabi-buta untuk berubah menjadi kaya.

Orang Banyumas memiliki sikap yang khas, yaitu pinter madani awake dhewek (pintar mencela diri sendiri). Di daerah ini banyak terdapat ungkapan-ungkapan yang dimaksudkan untuk madani. Misalnya: anak turune si kemrunggi (orang yang dalam hidupnya senantiasa merugikan orang lain), anak turune wong gelung unthil (keturunan orang kecil/rakyat kebanyakan), balung cilik (orang yang memiliki kekuatan terbatas sehingga tidak mampu melakukan hal-hal besar) (Yusmanto dan Bambang Wadoro, 2000:11-13) dan lain-lain. Ungkapan-ungkapan semacam ini ditujukan untuk diri sendiri yang bertujuan untuk menyadari ketidakmampuan dan kekurangannya di dalam pergaulan sosial.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa imperialisme budaya telah mampu mencuci otak orang Banyumas ke dalam situasi berpikir yang terkadang tidak rasional, pesimis dan apriori dalam hidupnya. Ini merupakan pembunuhan karakter yang terjadi dalam tempo yang sangat lama. Bagi mereka yang belum mampu keluar dari tekanan psikologis semacam ini, pada umumnya lebih bersifat lamban menerima perubahan, cenderung gumunan (mudah takjub) dan minder apabila dihadapkan dengan persoalan-persoalan baru.

Perilaku umum semacam kasus yang terjadi pada masyarakat Banyumas telah diteliti oleh Guofang Li terhadap sebuah keluarga imigran asal Filipina di Kanada. Dalam penelitiannya, Guofang Li menemukan fenomena khusus pada keluarga Holman yang dalam lingkungan sosial berusaha beradaptasi dengan masyarakat sekitarnya yang hidup dalam tradisi dan kebudayaan Kanada. Tetapi ketika mereka berkumpul di rumah, maka mereka kembali menggunakan cara hidup yang didasari oleh tradisi dan kebudayaan Filipina (Guofang Li, 2000). Perilaku semacam ini pun terjadi pada masyarakat Banyumas. Di lingkungan sosialnya, mereka sangat akrab dengan peradaban Banyumas yang memang mendasari kehidupan mereka. Namun ketika mereka hidup di tengah pergaulan sosial yang lebih luas cenderung menghilangkan identitas mereka. Fenomena demikian dapat dilihat pada seseorang yang melakukan urbanisasi ke kota-kota besar. Hanya dalam waktu yang relatif singkat seseorang bekerja di Jakarta, maka ia sudah begitu fasih berbahasa dialek Betawi. Begitu pun mereka yang bekerja di Bandung yang begitu cepat menghilangkan “kebanyumasan”-nya dengan berbahasa Sunda. Atau mereka yang tinggal di Surakarta-Yogyakarta yang serta merta menggunakan bahasa bandhekan dalam berkomunikasi.

Di tengah kuatnya pengaruh imperialisme budaya di Banyumas, justru lahir aktivitas estetik yang langsung maupun tidak langsung menjadi media ungkap dalam upaya membebaskan diri dari peristiwa imposisi tersebut. Aktivitas estetik itu terwujud melalui musik calung. Di dalam musik ini tersirat adanya usaha masyarakat Banyumas menjadi dirinya sendiri, tanpa diliputi perasaan tertekan atau terancam oleh pihak luar. Kenyataan demikian dapat menjadi sarana uji kebenaran pendapat Ernst Cassier yang menyatakan bahwa seni merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling hakiki yang menjadikan manusia merasa lebih hidup. Dengan kesenian pula manusia dapat lepas dari beban hidup yang senantiasa menimpa dirinya (Ernst Cassirer, 1987:240). Orang Banyumas bisa saja apatis, nglenggana atau nrima ing pandum atau minder terhadap keadaan yang menimpa dirinya. Tetapi semua itu tidak tampak pada tampilan musiknya. Calung justru tampil begitu dahsyat, dengan irama dan laya yang dinamis, atraktif dan semangat.

Di dalam sajian musik calung sama-sekali tidak tergambar beban derita yang dihadapi dalam perjalanan sejarah kebudayaan Banyumas. Calung justru berada dalam situasi paradok dengan semua itu. Semua yang terjadi di dalam sajian musik calung merupakan semacam luapan emosi dari alam pikir dan alam rasa masyarakat Banyumas yang tidak dapat diungkapkan di dalam pergaulan sosial. Di dalam musik calung tertuang kebebasan kreatif yang dengan ‘liar’ dituangkan dalam ide-ide dan garap musikal. Di sini para kreator musik dapat dengan bebas mengembarakan imajinasi mereka sesuka hati. Suatu saat mereka menghadirkan warna Banyumasan yang lekat dengan kerakyatannya. Pada saat yang lain, dihadirkan romantisme dan ketakjuban kebesaran kraton yang memuat keindahan ragam kebudayaan tinggi serta sesuatu yang rumit dan memiliki teknik tinggi. Sementara pada saat yang lain lagi, hadir ragam warna Kulonan sebagai media ekspresi pengalaman empirik yang merupakan wujud kedekatan mereka dengan kebudayaan Pasundan.

Di dalam sajian calung juga tertuang sikap-sikap kritis masyarakat Banyumas tentang falsafah hidup, tentang penderitaan, alam lingkungan, tentang kebahagiaan dan atau tentang segala sesuatu yang bersifat utopia. Gendhing Sekar Gadhung memuat falsafah tentang manusia. Gadhung adalah jenis umbi beracun yang dengan teknik pengolahan tertentu dapat menjadi makanan rakyat yang sangat digemari di kalangan masyarakat setempat. Manusia diibaratkan ‘bunga gadhung’. Apabila salah dalam merawat dan mendidik, manusia akan menjadi sukertaning jagad (sampah kehidupan di dunia). Sebaliknya, apabila seorang anak manusia dirawat dan dididik dengan baik, maka ia akan menjadi orang yang mampu berperan membangun dunia. Sebaliknya gendhing Randha Nunut mengambarkan penderitaan yang dialami oleh seorang janda dalam hidupnya.

Penggambaran tentang alam lingkungan dapat dilihat pada gendhing Ricik-ricik (hujan gerimis). Melalui alur melodi gendhing ternyata dapat digambarkan imajinasi tentang hujan gerimis, saat-saat terindah yang dialami oleh kaum tani yang berarti hadirnya kembali harapan hidup. Dengan datangnya gerimis maka kaum tani berkesempatan menggarap sawah atau ladang yang menjadi lahan tanaman pangan sebagai gantungan hidup dan sumber mata pencaharian. Sehubungan dengan alur melodi yang terdapat di dalam gendhing Ricik-ricik yang begitu anggun, Ki Narto Sabdo kemudian menggubah lirik lagu gerongan yang berisi percintaan.

Penggambaran tentang kebahagiaan selain dijumpai pada gendhing Ricik-ricik di atas, juga dapat dijumpai pada gendhing lain seperti Renggong Manis (renggong adalah tarian sejenis lengger yang berkembang di wilayah perbatasan sebaran kebudayaan Banyumas dan kebudayaan Sunda), Siji Lima, Kembang Glepang, Gudril dan lain-lain. Untuk mengungkapkan suasana kegembiraan, melodi gendhing berupa alur lagu dinamis yang menyiratkan keceriaan dengan ditunjang teks syair yang ceria pula.

Pandangan tentang segala sesuatu yang bersifat utopia juga tergambar di dalam sajian calung. Banyak gendhing yang disajikan di dalam pertunjukan calung yang menggambarkan negeri impian, kebahagiaan ideal atau perasaan kesejatian yang hanya dapat diperoleh di dalam impian. Sebagai contoh gendhing Gunungsari dan Eling-eling. Kata ‘gunungsari’ berasal dari kata ‘gunung’ dan ‘sari’ (bunga) yang berarti kebahagiaan puncak setinggi gunung. Demikian pula Eling-eling (ingat-ingat) memiliki makna warning (perhatian) untuk mencapai hidup ideal maka setiap orang harus senantiasa ingat kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Jika seseorang selalu ingat Tuhannya, maka diharapkan akan tercapai kebahagiaan sejati, baik selama hidup di dunia maupun setelah di akherat kelak.

Di dalam sajian calung dapat dilihat dengan jelas ungkapan-ungkapan tentang kebahagiaan, kesenangan, kebebasan dan kemerdekaan. Semua itu dapat dilihat pada model-model improvisasi pada sajian musik yang dilakukan secara spontan. Salah satu ricikan biasanya menawarkan pola tabuhan tertentu yang secara spontan dilakukan pada sajian gendhing. Kemudian instrumen lain menyambut dengan tabuhan sang saling mengisi. Dengan begitu sajian gendhing lalu berjalan lebih variatif, menyenangkan.

Melalui sajian calung juga dapat dituangkan ajaran dan atau ajakan untuk berbuat kebaikan, pernyataan sikap, larangan terhadap perbuatan menyimpang, kritik, sindiran atau bahkan sarkasme terhadap kejadian-kejadian umum sehari-hari di lingkungan pergaulan sosial. Kritik, sindiran atau sarkasme itu umumnya dilakukan melalui teks-teks syair (cakepan) yang diucapkan oleh sindhen dan atau senggak. Teks syair itu umumnya berbentuk parikan ataupun wangsalan yang disajikan dengan alur lagu tertentu sesuai dengan sajian gendhing yang sedang berlangsung. Untuk lebih jelasnya lihat contoh berikut ini.

Contoh teks parikan dua baris

1. Nandur jae nang galengan/ngkono bae go delengan (menanam jahe di pematang/di situ saja untuk dipandang)
2. Nandur kopi keblusuk-blusuk/ora saiki mbok mesuk-mbesuk (menanam kopi terperosok/tidak sekarang semoga besok-besok)
3. Dina Minggu ora prei/ditunggu-tunggu ora diwei (hari minggu tidak libur/ditunggu-tunggu tidak diberi)
4. Dina Minggu plesir Gombong/ditunggu-tunggu digawa ngewong (hari Minggu bertamasya ke Gombong/ditunggu-tunggu dibawa orang)

Contoh teks parikan empat baris

1. Awang-awang si mega mendhung/trenggiling amba sisike/tega nyawang ora tega nembung/kelingan kebecikane (awang-awang si mega mendhung/trenggiling lebar sisiknya/tega melihat tidak tega meminta/mengingat kebaikannya)
2. Tuku cita citane luntur/balekena maring nyonyahe/urung nikah uwis campur/gawe wirang wong tuwane (membeli [kain]cita, citanya luntur/kembalikan kepada si nyonya [panggilan untuk wanita Tionghoa]/belum menikah sudah campur/membuat malu orang tua)
3. Kapuk randhu di Jawa Barat/hujan gerimis di Jawa Timur/kalau rindu kirimlah surat jangan menangis di tempat tidur
4. Dari mana datangnya lintah/dari sawah turun ke kali/dari mana datangnya cinta/dari mata turun ke hati

Contoh teks wangsalan

1. Lisus kali, kedhung jero banyu mili/meneng sote, atine bolar-baleran (lisus sungai, lubuk dalam air mengalir/meski diam, hatinya gundah-gulana)
2. Lodhong ijo, banyu wayu tinggang Rebo/aja maido, nanggap sindhen esih bodho (lodhong [tempat membawa air terbuat dari batang bambu] hijau, air basi tiga Rabu/jangan menegur, menanggap sindhen masih bodoh)
3. Janur gunung, sakulon Banjarpatoman/kadingaren, wong bagus gasik tekane (janur gunung, sebelah barat Banjarpatoman/tidak seperti biasanya, orang bagus gasik datangnya)
4. Klasa janur, klasane wong mbaranggawe/ndhempe-ndmpe, wong seneng ngenteni simpe (tikar janur, tikarnya orang punya khajat/ berusaha mendekat, orang cinta menunggu [orang lain] lupa)

Beberapa contoh teks syair di atas hanyalah sebagian dari begitu banyak syair yang ada dan lazim menjadi teks tembang yang dibawakan oleh sindhen dan senggak pada sajian gendhing. Dengan mempelajari isi syair, maka dapat dilihat kepribadian orang Banyumas sebagai sebuah komunitas masyarakat yang memiliki naluri hidup kolektif. Mereka senantiasa berbagi perasaan tentang kebahagiaan dan penderitaan. Di dalamnya terdapat nuansa kesahajaan dan egaliter yang hadir mewarnai kehidupan sehari-hari. Pada teks syair di atas tidak satu pun yang dimaksudkan untuk menunjukkan ‘keakuan’ yang angkuh. Tetapi justru inilah wujud ‘keakuan’ masyarakat Banyumas. Mereka hidup kolektif, berdampingan, saling menghormati dan menghargai, homogen dan adanya perasaan senasib sepenanggungan. Dengan cara hidup seperti itulah, semua penderitaan dan ketidak-adilan dapat dipikul bersama dalam suasana senasib sependeritaan.

Melalui aktivitas musik calung, masyarakat Banyumas malakukan penuangan nilai-nilai ideal tentang hidup, sekalipun hal itu tidak selamanya berlangsung dalam realita kehidupan sosial. Penuangan nilai-nilai ideal itu dilakukan melalui proses pembayangan dan penjadian bentuk. Seperti diungkapkan Edi Sedyawati bahwa nilai di dalam seni terwujud sebagai pengalaman yang berisi pembayangan (image) dan penjadian (process) (Edi Sedyawati, 1984:58). Cara seperti inilah yang kemudian menghasilkan situasi yang paradoksal antara kenyataan hidup dengan kenyataan musik. Ini membuktikan seni hadir kapan saja, di mana saja serta dalam situasi apa saja. Seperti dikatakan Budhisantoso bahwa kesenian merupakan gejala kebudayaan yang universal sehingga tidak ada suatu masyarakat di dunia ini yang tidak mengembangkan kesenian (S. Budhisantoso, 1994:2). Dalam kemelaratan, penderitaan dan keserbatiadaan pun, masyarakat Banyumas mampu menciptakan ragam kesenian.
DAFTAR PUSTAKA


Budhisantoso, S., 1994, “Kesenian dan Kebudayaan”, dalam Wiled, Jurnal Seni STSI Surakarta, Tahun I, Juli 1994.

Cassirer, Ernst, 1987, Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia, Jakarta: Gramedia.

Edi Sedyawati, 1984, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: Sinar Harapan.

Guofang Li, 2000, “Family Literacy and Cultural Identity: An Ethnographic Study of a Filipino Family in Canada”, McGill Journal of Education, http://Furl.net.

Rohidi, Tjetjep Rohendi, 2000, Ekspresi Seni Orang Miskin, Adaptasi Simbolik terhadap Kemiskinan, Bandung: Yayasan Adikarya IKAPI bekerjasama dengan Ford Foundation.

Yusmanto & Bambang Wadoro, 2000, Ungkapan Tradisional Banyumas, Purwokerto: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas.

Salah satu persoalan yang sangat pelik dalam perkembangan sejarah kebudayaan Banyumas adalah wilayah ini begitu lama mengalami masa-masa keterjajahan. Tragisnya lagi, imperialisme di Banyumas tidak sekedar dilakukan oleh bangsa-bangsa Barat pada masa kolonialisme, tetapi juga oleh bangsa sendiri pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Jawa. Paling tidak semenjak era Pajang, Banyumas dipercaya mulai berada di bawah kekuasaan kerajaan Jawa, yang berlangsung hingga era Surakarta-Yogyakarta. Tidak ditemukan bukti-bukti tertulis tentang kekuasaan Pajang di wilayah Banyumas. Namun di dalam babad Wirasaba yang berkembang secara lisan di masyarakat, diceritakan bahwa Adipati Warga Utama I terbunuh dalam perjalanan pulang setelah menyerahkan anak perempuannya untuk menjadi selir Sultan Hadiwijaya.

Paling tidak ada dua macam penjajahan yang dialami oleh masyarakat Banyumas, yaitu penjajahan fisik dan penjajahan kultural. Penjajahan fisik dilakukan oleh bangsa-bangsa Barat seperti Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis. Penjajahan fisik lebih berorientasi pada penguasaan teritorial untuk kepentingan ekonomi, perdagangan, dan politik. Adapun penjajahan kultural dilakukan oleh raja-raja Jawa sejak era Pajang. Penjajahan budaya lebih berupa penguasaan psikologis untuk kepentingan kekuasaan raja. Penguasaan secara psikologis ini berimbas pada hampir seluruh sisi kehidupan; fisik-mental. Wilayah Banyumas selain dikuasai dari sisi kewilayahan dan ekonomi, juga dikuasai dari sisi kehormatan, harkat dan martabat kemanusiaan, ideologi, hingga harapan hidup. Orang Banyumas sering diumpamakan sebagai “kebo cinancangan” (kerbau yang diikat). Demikian jargon yang konon berkembang sejak masa kekuasaan Sultan Agung di Negeri Mataram. Perumpamaan tersebut memiliki makna, apabila orang Banyumas diberi cukup makan dan dipiara dengan baik, maka akan dengan mudah ditaklukkan. Bagi mereka yang menganut sinkretisme, perumpamaan tersebut diterima dengan baik sebagai sebuah realita yang tidak dapat disangkal. Namun, bagi sebagian sesepuh yang merupakan intelektual lokal, perumpamaan demikian adalah sebuah penghinaan Mataram terhadap Banyumas dalam arti yang sesungguhnya. Orang Banyumas memiliki ungkapan yang sangat pas untuk menyebut keadaan yang sangat tragis ini yaitu “kebo ilang kandhange rubuh” (kerbau hilang, kandangnya roboh) (Yusmanto dan Bambang Wadoro, 2000:23). Ungkapan ini memiliki makna orang yang mendapat celaka teramat sangat.

Sebagian masyarakat Banyumas pada dasarnya juga merasa bahwa kuatnya kekuasaan kraton telah menempatkan Banyumas dalam posisi yang lemah. Semua itu dapat bermakna sebagai usaha pembedaan kelas dan pembodohan. Namun demikian, umumnya mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan kekuasan Mataram. Kenyataan demikian kiranya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah kebudayaan Banyumas. Perasaan menderita dan terjajah telah mendarah-daging, menjadi memori otak kecil yang tergambar melalui perilaku bawah sadar dalam kehidupan sehari-hari. Orang Banyumas umumnya memiliki ciri nrima ing pandum (menerima semua keadaan yang menimpa dirinya), apatis (masa bodoh), dan tidak suka melawan kekuasaan. Semua itu adalah realita yang tergambar melalui berbagai aktivitas estetik.

Di kalangan masyarakat Banyumas sendiri kemudian tumbuh dua kelompok masyarakat. Kelompok pertama adalah kelompok priyayi yang terdiri dari para ambtenaar (pegawai pemerintah). Mereka adalah kelompok minoritas yang umumnya mendiami pusat-pusat desa. Mereka memiliki tempat tinggal yang strategis, dekat dengan fasilitas umum seperti pasar, balai desa dan sekolah. Sedangkan kelompok kedua adalah wong cilik atau kaum penginyongan (pekulaan) yang terdiri dari buruh tani, petani kecil, dan para pedagang. Mereka adalah kelompok mayoritas yang mendiami wilayah-wialayah pinggiran desa. Di antara kedua kelompok ini terdapat dua konsep hidup yang berbeda. Di kalangan kelompok priyayi dikembangkan pola hidup yang teratur, hidup sehat, berpendidikan serta pola tindakan dan tutur kata halus yang mengacu pada budaya tinggi. Sementara di kalangan kaum penginyongan berlangsung pola hidup yang sederhana, apa adanya dan lebih mengutamakan kebersamaan dalam suasana hidup yang berdiri sama tinggi duduk sama rendah.

Kalangan priyayi di desa-desa umumnya berusaha memegang kendali sistem kehidupan yang dianut bersama. Mereka memungkinkan bersikap ‘menguasai’ (atau bahkan arogan) kaum penginyongan. Hal seperti itu, sekalipun oleh kaum penginyongan dirasakan sebagai tindakan yang menyakitkan, tetapi mereka merasa ora ilok (tidak pantas) untuk menentangnya. Dalam situasi seperti itu mereka mencoba untuk menetralisir keadaan yang bernada supata (kutukan) dengan ungkapan tunggak jarak mrajak tunggak jati mati yang berarti orang kecil akan hidup lestari beranak-pinak, sedangkan para priyayi pada akhirnya akan mengalami keterputusan generasi (tidak lestari). Dengan demikian, sekalipun hidup menderita, mereka merasa lebih beruntung dibanding dengan golongan priyayi. Hal tersebut didasarkan pada realita kekuasaan Jawa, tidak satupun raja besar di Jawa yang mampu bertahan lama dalam mempertahankan garis keturunannya. Namun demikian kekalahan tetap saja bermakna sebagai kekalahan, yang harus diterima dan dialami sepanjang hayat.

Gambaran tentang kekalahan tersebut dapat dipahami dengan jelas pada tradisi seni sastra. Di Banyumas jarang sekali dijumpai bentuk-bentuk wiracarita yang menggambarkan heroisme perlawanan terhadap kekuasaan. Beberapa ragam cerita sejarah/babad yang memuat kisah heroisme seperti Adipati Seda Pendapa di Kadipaten Banyumas dan Raden Thole di Kadipaten Pasir, semua berakhir tragis bagi tokoh hero dalam cerita.

Sikap berontak pada kalangan masyarakat Banyumas jarang sekali dilakukan secara kolektif. Sikap berontak lebih muncul pada tataran individu atau kelompok kecil yang bersifat parsial. Pada umumnya orang-orang yang memiliki sikap berontak justru dianggap sebagai sikap yang ucul tali gadhage (tidak dapat mengendalikan diri (Yusmanto dan Bambang Wadoro, 2000:19). Orang-orang seperti ini justru dipandang sebagai sesuatu yang aneh, bahkan tidak jarang akan dijauhkan dari pergaulan.

Hidup rekasa (menderita) dalam komunitas masyarakat tradisional di Banyumas dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Hidup manusia lir wayang seumpamane (bagaikan wayang). Kalau Gusti urung pareng (Gusti belum mengijinkan), maka apapun usaha manusia akan berakhir sia-sia. Oleh karena itu sangat wajar apabila kemiskinan di desa-desa di Banyumas seakan-akan telah mendarah daging (Tjetjep Rohendi Rohidi, 2000:25). Mereka sudah tidak lagi merasakan bahwa kemiskinan adalah sebuah penderitaan. Kekurangan makan seringkali justru dipahami sebagai kesempatan untuk menjalankan laku agar mencapai keselamatan di dunia-akherat atau jalan menuju pencapaian segala yang diinginkan. Kemelaratan bagi mereka adalah keniscayaan, sehingga tidak perlu diusahakan dengan cara membabi-buta untuk berubah menjadi kaya.

Orang Banyumas memiliki sikap yang khas, yaitu pinter madani awake dhewek (pintar mencela diri sendiri). Di daerah ini banyak terdapat ungkapan-ungkapan yang dimaksudkan untuk madani. Misalnya: anak turune si kemrunggi (orang yang dalam hidupnya senantiasa merugikan orang lain), anak turune wong gelung unthil (keturunan orang kecil/rakyat kebanyakan), balung cilik (orang yang memiliki kekuatan terbatas sehingga tidak mampu melakukan hal-hal besar) (Yusmanto dan Bambang Wadoro, 2000:11-13) dan lain-lain. Ungkapan-ungkapan semacam ini ditujukan untuk diri sendiri yang bertujuan untuk menyadari ketidakmampuan dan kekurangannya di dalam pergaulan sosial.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa imperialisme budaya telah mampu mencuci otak orang Banyumas ke dalam situasi berpikir yang terkadang tidak rasional, pesimis dan apriori dalam hidupnya. Ini merupakan pembunuhan karakter yang terjadi dalam tempo yang sangat lama. Bagi mereka yang belum mampu keluar dari tekanan psikologis semacam ini, pada umumnya lebih bersifat lamban menerima perubahan, cenderung gumunan (mudah takjub) dan minder apabila dihadapkan dengan persoalan-persoalan baru.

Perilaku umum semacam kasus yang terjadi pada masyarakat Banyumas telah diteliti oleh Guofang Li terhadap sebuah keluarga imigran asal Filipina di Kanada. Dalam penelitiannya, Guofang Li menemukan fenomena khusus pada keluarga Holman yang dalam lingkungan sosial berusaha beradaptasi dengan masyarakat sekitarnya yang hidup dalam tradisi dan kebudayaan Kanada. Tetapi ketika mereka berkumpul di rumah, maka mereka kembali menggunakan cara hidup yang didasari oleh tradisi dan kebudayaan Filipina (Guofang Li, 2000). Perilaku semacam ini pun terjadi pada masyarakat Banyumas. Di lingkungan sosialnya, mereka sangat akrab dengan peradaban Banyumas yang memang mendasari kehidupan mereka. Namun ketika mereka hidup di tengah pergaulan sosial yang lebih luas cenderung menghilangkan identitas mereka. Fenomena demikian dapat dilihat pada seseorang yang melakukan urbanisasi ke kota-kota besar. Hanya dalam waktu yang relatif singkat seseorang bekerja di Jakarta, maka ia sudah begitu fasih berbahasa dialek Betawi. Begitu pun mereka yang bekerja di Bandung yang begitu cepat menghilangkan “kebanyumasan”-nya dengan berbahasa Sunda. Atau mereka yang tinggal di Surakarta-Yogyakarta yang serta merta menggunakan bahasa bandhekan dalam berkomunikasi.

Di tengah kuatnya pengaruh imperialisme budaya di Banyumas, justru lahir aktivitas estetik yang langsung maupun tidak langsung menjadi media ungkap dalam upaya membebaskan diri dari peristiwa imposisi tersebut. Aktivitas estetik itu terwujud melalui musik calung. Di dalam musik ini tersirat adanya usaha masyarakat Banyumas menjadi dirinya sendiri, tanpa diliputi perasaan tertekan atau terancam oleh pihak luar. Kenyataan demikian dapat menjadi sarana uji kebenaran pendapat Ernst Cassier yang menyatakan bahwa seni merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling hakiki yang menjadikan manusia merasa lebih hidup. Dengan kesenian pula manusia dapat lepas dari beban hidup yang senantiasa menimpa dirinya (Ernst Cassirer, 1987:240). Orang Banyumas bisa saja apatis, nglenggana atau nrima ing pandum atau minder terhadap keadaan yang menimpa dirinya. Tetapi semua itu tidak tampak pada tampilan musiknya. Calung justru tampil begitu dahsyat, dengan irama dan laya yang dinamis, atraktif dan semangat.

Di dalam sajian musik calung sama-sekali tidak tergambar beban derita yang dihadapi dalam perjalanan sejarah kebudayaan Banyumas. Calung justru berada dalam situasi paradok dengan semua itu. Semua yang terjadi di dalam sajian musik calung merupakan semacam luapan emosi dari alam pikir dan alam rasa masyarakat Banyumas yang tidak dapat diungkapkan di dalam pergaulan sosial. Di dalam musik calung tertuang kebebasan kreatif yang dengan ‘liar’ dituangkan dalam ide-ide dan garap musikal. Di sini para kreator musik dapat dengan bebas mengembarakan imajinasi mereka sesuka hati. Suatu saat mereka menghadirkan warna Banyumasan yang lekat dengan kerakyatannya. Pada saat yang lain, dihadirkan romantisme dan ketakjuban kebesaran kraton yang memuat keindahan ragam kebudayaan tinggi serta sesuatu yang rumit dan memiliki teknik tinggi. Sementara pada saat yang lain lagi, hadir ragam warna Kulonan sebagai media ekspresi pengalaman empirik yang merupakan wujud kedekatan mereka dengan kebudayaan Pasundan.

Di dalam sajian calung juga tertuang sikap-sikap kritis masyarakat Banyumas tentang falsafah hidup, tentang penderitaan, alam lingkungan, tentang kebahagiaan dan atau tentang segala sesuatu yang bersifat utopia. Gendhing Sekar Gadhung memuat falsafah tentang manusia. Gadhung adalah jenis umbi beracun yang dengan teknik pengolahan tertentu dapat menjadi makanan rakyat yang sangat digemari di kalangan masyarakat setempat. Manusia diibaratkan ‘bunga gadhung’. Apabila salah dalam merawat dan mendidik, manusia akan menjadi sukertaning jagad (sampah kehidupan di dunia). Sebaliknya, apabila seorang anak manusia dirawat dan dididik dengan baik, maka ia akan menjadi orang yang mampu berperan membangun dunia. Sebaliknya gendhing Randha Nunut mengambarkan penderitaan yang dialami oleh seorang janda dalam hidupnya.

Penggambaran tentang alam lingkungan dapat dilihat pada gendhing Ricik-ricik (hujan gerimis). Melalui alur melodi gendhing ternyata dapat digambarkan imajinasi tentang hujan gerimis, saat-saat terindah yang dialami oleh kaum tani yang berarti hadirnya kembali harapan hidup. Dengan datangnya gerimis maka kaum tani berkesempatan menggarap sawah atau ladang yang menjadi lahan tanaman pangan sebagai gantungan hidup dan sumber mata pencaharian. Sehubungan dengan alur melodi yang terdapat di dalam gendhing Ricik-ricik yang begitu anggun, Ki Narto Sabdo kemudian menggubah lirik lagu gerongan yang berisi percintaan.

Penggambaran tentang kebahagiaan selain dijumpai pada gendhing Ricik-ricik di atas, juga dapat dijumpai pada gendhing lain seperti Renggong Manis (renggong adalah tarian sejenis lengger yang berkembang di wilayah perbatasan sebaran kebudayaan Banyumas dan kebudayaan Sunda), Siji Lima, Kembang Glepang, Gudril dan lain-lain. Untuk mengungkapkan suasana kegembiraan, melodi gendhing berupa alur lagu dinamis yang menyiratkan keceriaan dengan ditunjang teks syair yang ceria pula.

Pandangan tentang segala sesuatu yang bersifat utopia juga tergambar di dalam sajian calung. Banyak gendhing yang disajikan di dalam pertunjukan calung yang menggambarkan negeri impian, kebahagiaan ideal atau perasaan kesejatian yang hanya dapat diperoleh di dalam impian. Sebagai contoh gendhing Gunungsari dan Eling-eling. Kata ‘gunungsari’ berasal dari kata ‘gunung’ dan ‘sari’ (bunga) yang berarti kebahagiaan puncak setinggi gunung. Demikian pula Eling-eling (ingat-ingat) memiliki makna warning (perhatian) untuk mencapai hidup ideal maka setiap orang harus senantiasa ingat kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Jika seseorang selalu ingat Tuhannya, maka diharapkan akan tercapai kebahagiaan sejati, baik selama hidup di dunia maupun setelah di akherat kelak.

Di dalam sajian calung dapat dilihat dengan jelas ungkapan-ungkapan tentang kebahagiaan, kesenangan, kebebasan dan kemerdekaan. Semua itu dapat dilihat pada model-model improvisasi pada sajian musik yang dilakukan secara spontan. Salah satu ricikan biasanya menawarkan pola tabuhan tertentu yang secara spontan dilakukan pada sajian gendhing. Kemudian instrumen lain menyambut dengan tabuhan sang saling mengisi. Dengan begitu sajian gendhing lalu berjalan lebih variatif, menyenangkan.

Melalui sajian calung juga dapat dituangkan ajaran dan atau ajakan untuk berbuat kebaikan, pernyataan sikap, larangan terhadap perbuatan menyimpang, kritik, sindiran atau bahkan sarkasme terhadap kejadian-kejadian umum sehari-hari di lingkungan pergaulan sosial. Kritik, sindiran atau sarkasme itu umumnya dilakukan melalui teks-teks syair (cakepan) yang diucapkan oleh sindhen dan atau senggak. Teks syair itu umumnya berbentuk parikan ataupun wangsalan yang disajikan dengan alur lagu tertentu sesuai dengan sajian gendhing yang sedang berlangsung. Untuk lebih jelasnya lihat contoh berikut ini.

Contoh teks parikan dua baris

1. Nandur jae nang galengan/ngkono bae go delengan (menanam jahe di pematang/di situ saja untuk dipandang)
2. Nandur kopi keblusuk-blusuk/ora saiki mbok mesuk-mbesuk (menanam kopi terperosok/tidak sekarang semoga besok-besok)
3. Dina Minggu ora prei/ditunggu-tunggu ora diwei (hari minggu tidak libur/ditunggu-tunggu tidak diberi)
4. Dina Minggu plesir Gombong/ditunggu-tunggu digawa ngewong (hari Minggu bertamasya ke Gombong/ditunggu-tunggu dibawa orang)

Contoh teks parikan empat baris

1. Awang-awang si mega mendhung/trenggiling amba sisike/tega nyawang ora tega nembung/kelingan kebecikane (awang-awang si mega mendhung/trenggiling lebar sisiknya/tega melihat tidak tega meminta/mengingat kebaikannya)
2. Tuku cita citane luntur/balekena maring nyonyahe/urung nikah uwis campur/gawe wirang wong tuwane (membeli [kain]cita, citanya luntur/kembalikan kepada si nyonya [panggilan untuk wanita Tionghoa]/belum menikah sudah campur/membuat malu orang tua)
3. Kapuk randhu di Jawa Barat/hujan gerimis di Jawa Timur/kalau rindu kirimlah surat jangan menangis di tempat tidur
4. Dari mana datangnya lintah/dari sawah turun ke kali/dari mana datangnya cinta/dari mata turun ke hati

Contoh teks wangsalan

1. Lisus kali, kedhung jero banyu mili/meneng sote, atine bolar-baleran (lisus sungai, lubuk dalam air mengalir/meski diam, hatinya gundah-gulana)
2. Lodhong ijo, banyu wayu tinggang Rebo/aja maido, nanggap sindhen esih bodho (lodhong [tempat membawa air terbuat dari batang bambu] hijau, air basi tiga Rabu/jangan menegur, menanggap sindhen masih bodoh)
3. Janur gunung, sakulon Banjarpatoman/kadingaren, wong bagus gasik tekane (janur gunung, sebelah barat Banjarpatoman/tidak seperti biasanya, orang bagus gasik datangnya)
4. Klasa janur, klasane wong mbaranggawe/ndhempe-ndmpe, wong seneng ngenteni simpe (tikar janur, tikarnya orang punya khajat/ berusaha mendekat, orang cinta menunggu [orang lain] lupa)

Beberapa contoh teks syair di atas hanyalah sebagian dari begitu banyak syair yang ada dan lazim menjadi teks tembang yang dibawakan oleh sindhen dan senggak pada sajian gendhing. Dengan mempelajari isi syair, maka dapat dilihat kepribadian orang Banyumas sebagai sebuah komunitas masyarakat yang memiliki naluri hidup kolektif. Mereka senantiasa berbagi perasaan tentang kebahagiaan dan penderitaan. Di dalamnya terdapat nuansa kesahajaan dan egaliter yang hadir mewarnai kehidupan sehari-hari. Pada teks syair di atas tidak satu pun yang dimaksudkan untuk menunjukkan ‘keakuan’ yang angkuh. Tetapi justru inilah wujud ‘keakuan’ masyarakat Banyumas. Mereka hidup kolektif, berdampingan, saling menghormati dan menghargai, homogen dan adanya perasaan senasib sepenanggungan. Dengan cara hidup seperti itulah, semua penderitaan dan ketidak-adilan dapat dipikul bersama dalam suasana senasib sependeritaan.

Melalui aktivitas musik calung, masyarakat Banyumas malakukan penuangan nilai-nilai ideal tentang hidup, sekalipun hal itu tidak selamanya berlangsung dalam realita kehidupan sosial. Penuangan nilai-nilai ideal itu dilakukan melalui proses pembayangan dan penjadian bentuk. Seperti diungkapkan Edi Sedyawati bahwa nilai di dalam seni terwujud sebagai pengalaman yang berisi pembayangan (image) dan penjadian (process) (Edi Sedyawati, 1984:58). Cara seperti inilah yang kemudian menghasilkan situasi yang paradoksal antara kenyataan hidup dengan kenyataan musik. Ini membuktikan seni hadir kapan saja, di mana saja serta dalam situasi apa saja. Seperti dikatakan Budhisantoso bahwa kesenian merupakan gejala kebudayaan yang universal sehingga tidak ada suatu masyarakat di dunia ini yang tidak mengembangkan kesenian (S. Budhisantoso, 1994:2). Dalam kemelaratan, penderitaan dan keserbatiadaan pun, masyarakat Banyumas mampu menciptakan ragam kesenian.
DAFTAR PUSTAKA


Budhisantoso, S., 1994, “Kesenian dan Kebudayaan”, dalam Wiled, Jurnal Seni STSI Surakarta, Tahun I, Juli 1994.

Cassirer, Ernst, 1987, Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia, Jakarta: Gramedia.

Edi Sedyawati, 1984, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: Sinar Harapan.

Guofang Li, 2000, “Family Literacy and Cultural Identity: An Ethnographic Study of a Filipino Family in Canada”, McGill Journal of Education, http://Furl.net.

Rohidi, Tjetjep Rohendi, 2000, Ekspresi Seni Orang Miskin, Adaptasi Simbolik terhadap Kemiskinan, Bandung: Yayasan Adikarya IKAPI bekerjasama dengan Ford Foundation.

Yusmanto & Bambang Wadoro, 2000, Ungkapan Tradisional Banyumas, Purwokerto: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas.

No comments: