Friday, June 20, 2008

KETIKA PENOBATAN RONGGENG DIUSUNG KE PANGGUNG PERTUNJUKAN

Judul Karya : DADI RONGGENG

Penyusun Karya : Yus Pelana

Jenis Karya : Karya Tari Tradisional

Durasi Pementasan : 15 menit

Sulasih sulangjana kukus menyan ngundang dewa

Ana dewa ndaning sukma widadari tumuruna

Runtung-runtung kasanga sing mburi karia lima

Leng-leng guleng guleng kencana katon

Gelang-gelang nglayoni, nglayoni putria ngungkung

Cek-incek raga bali rogrog asem kamilaga

Reg-regan rog-rogan Reg-regan rog-rogan

Kembang duren bur kolang kalingan mega riyem-riyem

Ingkang bathikane lonthang, ketrung-kentrung si rama sira nglilira

Kembang kapas embok emas ditagih utange beras

Ho-oh iyo ho-oh iyo iyo iyo

Syair tersebut di atas adalah mantra tradisional yang berkembang di Banyumas dan sekitarnya
yang dalam pertunjukan karya Dadi Ronggeng dijadikan sebagai lagu pembuka. Syair tersebut
memberikn gambaran bahwa Yus Pelana ingin menampilkan suasana sakral di dalam sajian
karyanya. Memang karya Dadi Ronggeng yang tampil sebagai salah satu peserta dalam Festival
Seni Rakyat dan Festival Dolanan Anak Tingkat Kabupaten Banyumas merupakan upaya mengusung
prosesi penobatan seorang ronggeng di dalam panggung pertunjukan. Festival yang diikuti oleh
tujuh peserta perwakilan dari tiap-tiap eks-Kawedanan dimenangkan oleh karya Dadi Ronggeng
yang merupakan mewakili wilayah eks-Kawedanan Banyumas.

Ronggeng dalam tradisi di Banyumas adalah bagian dari ritus kesuburan yang diekspresikan
lewat seni pertunjukan. Penari ronggeng laksana bumi yang menjadi sumber kehidupan di dunia.
Gerak tarian dan suara nyanyian yang dibangun bersama irama gendhing adalah wujud ekspresi
doa illahiah. Saat dalam tarian itulah dunia batin seorang ronggeng berkontemplasi dengan
kekuatan-kekuatan supranatural macro cosmos demi kelestarian hidup manusia.

Menjadi ronggeng adalah tugas mulia karena untuk itu seorang wanita harus merelakan dirinya
menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan tradisi dan mengorbankan jatidirinya sebagai
seorang manusia. Itulah maka ia haruslah melalui saat-saat dramatis pada acara ritual
penobatan menjadi ronggeng yang dipimpin oleh seorang induk semang (dhukun). Barulah setelah
itu ia sah untuk menari di atas panggung pertunjukan, menjadi pujaan dan bergelimang harta
benda. Syahdan kehadirannya memiliki kekuatan magis tertentu yang menjadi sumber kekuatan
dan imajinasi bagi lelaki sehingga mampu menuntun mereka mengekspresikan keceriaan batin
dengan menari bersama sang ronggeng.

Karya tari Dadi Ronggeng disajikan sebagai bentuk pemadatan dari tradisi ronggeng di
Banyumas. Di dalamnya ada berbagai peristiwa budaya yang terangkum dalam sajian tari mulai
dari bentuk ritual tradisional yang dituntun oleh seorang dukun, ragam gerak tarian yang
ritmis dan dinamis hingga bentuk tari pergaulan yang dilakukan oleh lelaki pembacer dangan
penari ronggeng. Berbagai peristiwa budaya itu dibangun melalui sajian musik yang
menggunakan perangkat musik calung sebagai bentuk musik tradisional khas Banyumas. Secara
keseluruhan sajian karya tari Dadi Ronggeng terdiri atas empat bagian utama, yaitu:

1. Bagian pertama, seorang dukun datang ke panggung pertunjukan menyalakan dlepak untuk
menerangi penobatan ronggeng. Tidak lama kemudian datang calon-calon penari ronggeng membawa
dupa sebagai sarana upacara.

2. Bagian kedua, mulai terjadi kontemplasi antara dunia batin sang ronggeng dengan kekuatan
alam yang magis-religius. Ronggeng laksana ruh kehidupan, ronggeng laksana hidup itu
sendiri, yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Banyumas yang
tradisional-agraris dengan selaksa rahasia semesta yang tak terjawab.

3. Bagian ketiga, mereka telah memulai kehidupan baru sebagai ronggeng. Mereka menari dan
menari. Mereka menikmati tariannya. Mereka menikmati nyanyiannya. Mereka hidup dan terus
hidup. Tak pernah mati dan tak akan pernah mati.

4. Bagian keempat, penari banceran datang dan menari bersama ronggeng. Mereka semua bersuka
ria, mengaktualisasikan dirinya sebagai sejatining lanang lan sejatining wadon.
Keindahan-keindahan inderawi mereka rasakan bersama lewat lewaning jejogedan, kumrumpyunging
tetabuhan calung dan bercengkerama lewat lantunan tembang-tembang asmara yang keluar dari
bibir-bibir mungil penari ronggeng.

Karya tari Dadi Ronggeng disajikan selama 15 menit. Penari yang terlibat dalam sajian tari
Ronggeng secara keseluruhan berjumlah 11 penari yang terdiri atas delapan orang penari putri
dan tiga orang penari putra dengan perincian: dukun ronggeng satu orang, penari ronggeng
tujuh orang, dan lelaki pembancer tiga orang. Iringan karya ini adalah gendhing-gendhing
Banyumasan antara lain Gunungsari slendro sanga, Tlutur slendro sanga, Renggong Lor slendro
sanga dan Garut slendro manyura.

Secara umum penari karya tari Dadi Ronggeng mengenakan rias-busana tradisional yang lazim
digunakan dalam pertunjukan ronggeng di Banyumas. Peran dukun berdandan menor tepi tetap
terkesan tua, selalu ngemut susur dengan busana tradisional Banyumasan. Penari Ronggeng
menggunakan rias ayu dengan busana ronggeng. Adapun Pembancer menggunakan rias gagah dengan
busana putra gagah Banyumasan. Dalam pementasan karya tari ini diperlukan setiap penari
membawa kembang setaman dan salah seorang penari membawa properti berupa dupa.

Setting panggung pementasan karya tari Dadi Ronggeng adalah setting alam pedesaan. Sebagai
latar belakang panggung adalah cungkup kuburan (makam) dan di depannya terdapat perangkat
musik calung yang sekaligus menjadi iringan pementasan. Di sekeliling panggung pementasan
terdapat dlepak (sejenis obor) yang tertata secara rapi dan berfungsi sebagai alat
penerangan.

Judul Karya : DADI RONGGENG

Penyusun Karya : Yus Pelana

Jenis Karya : Karya Tari Tradisional

Durasi Pementasan : 15 menit

Sulasih sulangjana kukus menyan ngundang dewa

Ana dewa ndaning sukma widadari tumuruna

Runtung-runtung kasanga sing mburi karia lima

Leng-leng guleng guleng kencana katon

Gelang-gelang nglayoni, nglayoni putria ngungkung

Cek-incek raga bali rogrog asem kamilaga

Reg-regan rog-rogan Reg-regan rog-rogan

Kembang duren bur kolang kalingan mega riyem-riyem

Ingkang bathikane lonthang, ketrung-kentrung si rama sira nglilira

Kembang kapas embok emas ditagih utange beras

Ho-oh iyo ho-oh iyo iyo iyo

Syair tersebut di atas adalah mantra tradisional yang berkembang di Banyumas dan sekitarnya
yang dalam pertunjukan karya Dadi Ronggeng dijadikan sebagai lagu pembuka. Syair tersebut
memberikn gambaran bahwa Yus Pelana ingin menampilkan suasana sakral di dalam sajian
karyanya. Memang karya Dadi Ronggeng yang tampil sebagai salah satu peserta dalam Festival
Seni Rakyat dan Festival Dolanan Anak Tingkat Kabupaten Banyumas merupakan upaya mengusung
prosesi penobatan seorang ronggeng di dalam panggung pertunjukan. Festival yang diikuti oleh
tujuh peserta perwakilan dari tiap-tiap eks-Kawedanan dimenangkan oleh karya Dadi Ronggeng
yang merupakan mewakili wilayah eks-Kawedanan Banyumas.

Ronggeng dalam tradisi di Banyumas adalah bagian dari ritus kesuburan yang diekspresikan
lewat seni pertunjukan. Penari ronggeng laksana bumi yang menjadi sumber kehidupan di dunia.
Gerak tarian dan suara nyanyian yang dibangun bersama irama gendhing adalah wujud ekspresi
doa illahiah. Saat dalam tarian itulah dunia batin seorang ronggeng berkontemplasi dengan
kekuatan-kekuatan supranatural macro cosmos demi kelestarian hidup manusia.

Menjadi ronggeng adalah tugas mulia karena untuk itu seorang wanita harus merelakan dirinya
menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan tradisi dan mengorbankan jatidirinya sebagai
seorang manusia. Itulah maka ia haruslah melalui saat-saat dramatis pada acara ritual
penobatan menjadi ronggeng yang dipimpin oleh seorang induk semang (dhukun). Barulah setelah
itu ia sah untuk menari di atas panggung pertunjukan, menjadi pujaan dan bergelimang harta
benda. Syahdan kehadirannya memiliki kekuatan magis tertentu yang menjadi sumber kekuatan
dan imajinasi bagi lelaki sehingga mampu menuntun mereka mengekspresikan keceriaan batin
dengan menari bersama sang ronggeng.

Karya tari Dadi Ronggeng disajikan sebagai bentuk pemadatan dari tradisi ronggeng di
Banyumas. Di dalamnya ada berbagai peristiwa budaya yang terangkum dalam sajian tari mulai
dari bentuk ritual tradisional yang dituntun oleh seorang dukun, ragam gerak tarian yang
ritmis dan dinamis hingga bentuk tari pergaulan yang dilakukan oleh lelaki pembacer dangan
penari ronggeng. Berbagai peristiwa budaya itu dibangun melalui sajian musik yang
menggunakan perangkat musik calung sebagai bentuk musik tradisional khas Banyumas. Secara
keseluruhan sajian karya tari Dadi Ronggeng terdiri atas empat bagian utama, yaitu:

1. Bagian pertama, seorang dukun datang ke panggung pertunjukan menyalakan dlepak untuk
menerangi penobatan ronggeng. Tidak lama kemudian datang calon-calon penari ronggeng membawa
dupa sebagai sarana upacara.

2. Bagian kedua, mulai terjadi kontemplasi antara dunia batin sang ronggeng dengan kekuatan
alam yang magis-religius. Ronggeng laksana ruh kehidupan, ronggeng laksana hidup itu
sendiri, yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Banyumas yang
tradisional-agraris dengan selaksa rahasia semesta yang tak terjawab.

3. Bagian ketiga, mereka telah memulai kehidupan baru sebagai ronggeng. Mereka menari dan
menari. Mereka menikmati tariannya. Mereka menikmati nyanyiannya. Mereka hidup dan terus
hidup. Tak pernah mati dan tak akan pernah mati.

4. Bagian keempat, penari banceran datang dan menari bersama ronggeng. Mereka semua bersuka
ria, mengaktualisasikan dirinya sebagai sejatining lanang lan sejatining wadon.
Keindahan-keindahan inderawi mereka rasakan bersama lewat lewaning jejogedan, kumrumpyunging
tetabuhan calung dan bercengkerama lewat lantunan tembang-tembang asmara yang keluar dari
bibir-bibir mungil penari ronggeng.

Karya tari Dadi Ronggeng disajikan selama 15 menit. Penari yang terlibat dalam sajian tari
Ronggeng secara keseluruhan berjumlah 11 penari yang terdiri atas delapan orang penari putri
dan tiga orang penari putra dengan perincian: dukun ronggeng satu orang, penari ronggeng
tujuh orang, dan lelaki pembancer tiga orang. Iringan karya ini adalah gendhing-gendhing
Banyumasan antara lain Gunungsari slendro sanga, Tlutur slendro sanga, Renggong Lor slendro
sanga dan Garut slendro manyura.

Secara umum penari karya tari Dadi Ronggeng mengenakan rias-busana tradisional yang lazim
digunakan dalam pertunjukan ronggeng di Banyumas. Peran dukun berdandan menor tepi tetap
terkesan tua, selalu ngemut susur dengan busana tradisional Banyumasan. Penari Ronggeng
menggunakan rias ayu dengan busana ronggeng. Adapun Pembancer menggunakan rias gagah dengan
busana putra gagah Banyumasan. Dalam pementasan karya tari ini diperlukan setiap penari
membawa kembang setaman dan salah seorang penari membawa properti berupa dupa.

Setting panggung pementasan karya tari Dadi Ronggeng adalah setting alam pedesaan. Sebagai
latar belakang panggung adalah cungkup kuburan (makam) dan di depannya terdapat perangkat
musik calung yang sekaligus menjadi iringan pementasan. Di sekeliling panggung pementasan
terdapat dlepak (sejenis obor) yang tertata secara rapi dan berfungsi sebagai alat
penerangan.

1 comment:

Ursula said...

hai..
saya sangat tertarik dengan ronggeng yang udah diceritain.
kapan ada pertunjukan lagi?
apakah pertunjukan seperti itu hanya dilaksanakan pada waktu tertentu?
danapakah saya harus ke banyumas?

apakah ronggeng sekarang diajarkan kepada anak-anak di sana?
kalau iya, berarti bagus donk bisa melestarikan budaya...

mohon jawabannya.thanx