Posts

KLILAN NYONG NGASO NANG PANGKONMU

Klilan nyong ngaso nang pangkonmu Yung Kaya jaman gemiyen Dhong mbeke goar lair Kalung usus gudrah banyu kawah Rika uwat inyong obah Rika ngeden inyong mrekengkeng Dadi daya ngancik alam padhang Klilan nyong ngaso nang pangkonmu Yung Tembungmu dadi japa Luhmu dadi tamba Tangismu tedhas ati Kaya kidung sing mbalung sungsum Dadi kekuwatan cipta rasa karsa Sekiye nyong urip kaya watu nang kali Aben dina nubruk mbentus didu wedhus Bareng klawan ilining banyu Inyong sayah Yung Kepengin ngaso nang pangkonmu Kaya jaman gemiyen Dhong mbeke goar lair Kalung usus gudrah banyu kawah

PERMOHONAN MAAF

Kepada para pembaca dan apresian, saya mohon maaf yang setulus-tulusnya karena hampir dua bulan ini saya tidak sempat posting informasi tentang kebudayaan Banyumas. Semoga saja, pada waktu-waktu yang akan datang, saya senantiasa diberi karunia kesehatan dan kesempatan untuk menulis atau menyuguhkan gambar-gambar tentang ragam kearifan lokal Banyumas. Amin.

KONDISI EKSISTING KAWASAN KOTA LAMA BANYUMAS

Kawasan kota lama Banyumas merupakan sebuah kawasan yang pernah menjadi lokasi bekas pusat pemerintahan Kadipaten Banyumas sebelum pindah ke Purwokerto. Kota ini dibangun dengan konsep sangga buana, yaitu berada di sebuah wilayah yang dikelilingi dataran tinggi (menyerupai mangkuk) dengan pusat kota tepat di tengah-tengah cekungan terdalam, di tepi sungai Serayu. Konsep ini memiliki makna filosofis bahwa pemerintah Kadipaten Banyumas diharapkan mampu menjadi jugang pawuhan, yakni mampu menjadi tempat muara berbagai persoalan hidup masyarakatnya. Selain itu, secara geografis wilayah yang berada di cekungan seperti ini memiliki tanah subur yang memungkinkan Banyumas menjadi wilayah yang gemah ripah loh jinawi karta tata tur raharja. Kota lama Banyumas terdapat di sebuah kawasan yang berjarak kurang lebih 11 km dari arah kota Purwokerto yang saat sekarang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas. Kota lama Banyumas berada di wilayah strategis yang menghubungkan jalur lintas Jakarta-Y...

KOTA LAMA BANYUMAS: Perpaduan Berbagai Elemen Kebudayaan

Kota Lama Banyumas menyimpan keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kota lain. Di wilayah ini berkembang tiga kultur yang berbeda, yakni kultur priyayi, kultur wong cilik, dan kultur Indisch. Kultur priyayi berkembang di pusat pemerintahan Kadipaten Banyumas masa lalu (sebelum pindah ke Purwokerto) yang menyisakan peninggalan artefak sejarah berupa kompleks Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas beserta bangunan-bangunan kuno yang terdapat di sekitarnya. Kultur wong cilik sebagai arus utama dalam kehidupan masyarakat Banyumas dapat dijumpai di dalam komunitas masyarakat yang terdapat di luar tembok Kadipaten dan masih lestari hingga sekarang. Sedangkan kultur Indisch merupakan kultur yang berkembang pada masa penjajahan Belanda yang menyisakan artefak bangunan kuno yang bercorak Indisch yang dalam persebarannya hidup berdampingan dengan kehidupan kaum priyayi, wong cilik dan masyarakat Cina Keturunan (Tiong Hoa). Jika dilihat dari aktivitas sosial, keberadaan ketiga kultur ini dapat ...

PRODUKSI BATIK BANYUMASAN

Image
Batik Banyumasan akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang menggembirakan. Produksi batik lokal ini selain memiliki jaringan pemasaran yang semakin meluas, juga terjadi pengembangan motif dan corak yang semakin beragam. Salah satu produsen yang omsetnya cukup besar adalah Batik Jalan Mruyung Banyumas. Produksi batik tulis Banyumasan Jalan Mruyung Banyumas Produksi batik cap ( printing ) Banyumasan Jalan Mruyung Banyumas

PRODUKSI FILM EBEG PADHEPOKAN SENI BANYU BIRU

Image
Padhepokan Seni Banyu Biru Plana terlibat dalam produksi film semi dokumenter berjudul ' Antara Aku, Dia dan Ebeg' pada bulan Agustus 2008. Penggarapan film ini mengandalkan pemain lokal setempat, mulai dari tokoh utama dalam cerita hingga pemain ebeg dalam pementasan. Kru film sedang dalam pelaksanaan shoting film semi dokumenter ' Aku, Dia dan Ebeg '. Ogi dan Devi sedang akting dalam perannya sebagai Pak Jo dan Sri dalam Film Aku, Dia dan Ebeg . Para pemain ebeg sedang intrance ( wuru atau mendem ) pada saat pelaksanaan shoting.

MODIFIKASI TARI APLANG

Image
Tari Aplang dimodifikasi oleh Padhepokan Seni Banyu Biru Plana ke dalam sebuah tari Banyumasan dengan konsep garapan baru pada Festival Dramatari Tingkat Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Dinas pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah bertampat di Auditorium RRI Semarang pada 12 September 2006. Di dalam karya tari tersebut dapat dilihat ragam gerak tari aplang yang secara umum berkesan gagah tanpa meninggalkan sifat fenininitas pelakunya yang terdiri dari penari wanita. Di dalam gambar dapat disaksikan para penari masih berusia kanak-kanak (mereka masih usia Sekolah Dasar). Meskipun demikian mereka mampu menjadi penyaji terbaik II, di bawah Kabupaten Karanganyar, Surakarta, yang pelakunya terdiri dari dosen dan mahasiswa senior dari Institut Seni Indonesia Surakarta. Salah seorang dari mereka berhasil merebut posisi terhormat sebagai pemain wanita terbaik, atas nama Kartikarini.