Saturday, May 24, 2008

REVITALISASI KOTA LAMA BANYUMAS

Bangunan Pendopo di Kompleks Kadipaten Banyumas; sebuah peninggalan masa lalu bertempat di Kota Lama Banyumas

Revitalisasi bangunan kuno bersejarah dapat menjadi langkah nyata dari usaha sebuah kelompok masyarakat membangun kembali sejarah leluhurnya serta menatap masa depan dengan penuh keyakinan tentang kekuatan diri di tengah peradaban yang kian mengglobal. Dengan demikian revitalisasi bangunan kuno bersejarah bermakna sebagai usaha membangun citra diri sebagai sebuah bangsa yang berkarakter dan beridentitas. Lihat saja tata letak kota tua itu. Konsep pembagian ruang dalam blok-blok yang mendekatkan pusat pemerintahan dengan pusat ekonomi serta aktivitas penduduk lainnya. Kota tua itu dibangun dengan memerhatikan tata ruang.

Kompleks Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas merupakan bangunan peninggalan Kadipaten Banyumas sebelum dipindah ke Purwokerto oleh Bupati Banyumas Martadireja II pada tanggal 7 Januari 1937. Sebagai lokus Kadipaten, Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas telah menjadi salah satu artefak sekaligus landmark (tetenger) dari perjalanan panjang sejarah Kadipaten Banyumas yang pertama kali dibangun oleh Joko Kahiman yang bergelar Kanjeng Adipati Warga Utama II (Adipati Mrapat).

Kondisi eksisting Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas mulai dari alun-alun, pintu gerbang, pendopo, longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni hingga tamansari, selain hadir sebagai artefak sejarah, juga memiliki kedalaman filosofi yang didasarkan pada ajaran Jawa. Dari sisi arsitektur, bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas merupakan perpaduan yang sangat kental antara arsitektur tradisional Jawa dan arsitektur kolonial Belanda.

Dari sisi filosofis, Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas mengandung ajaran kosmologi Jawa tentang keblat papat lima pancer (empat arah mata angin dan titik pusat imaginer yang berada di tengah-tengah). Bangunan pendopo dikelilingi empat pintu gerbang utama. Gerbang pada sisi timur dan barat searah dengan terbit dan tenggelamnya matahari yang menjadi simbolisasi dari purwa, madya dan wasana yang menggambarkan kehidupan manusia di dunia dari yang semula tidak ada, menjadi ada, dan pada saatnya akan kembali tidak ada. Sedangkan gerbang pada sisi selatan dan utara searah dengan laut selatan dan gunung Slamet, menggambarkan arah privasi (dalem Kadipaten) ke arah publik (masyarakat). Oleh karena itu di arah depan pendopo terdapat alun-alun yang di sisi kanannya terdapat masjid (menggambarkan sisi kebaikan) dan di sisi kirinya terdapat penjara atau Lembaga Pemasyarakatan (menggambarkan sisi buruk).

Fakta demikian membuktikan bahwa Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas memiliki kedalaman nilai historis bagi masyarakat Banyumas secara keseluruhan. Dalam konteks perjalanan sejarah kebudayaan, nilai-nilai historis semacam ini menjadi bagian integral kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Ia menjadi spirit, kekuatan sekaligus motivasi bagi kehidupan pribadi dan kehidupan kolektif.

Pelaksanaan revitalisasi Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas memiliki dua pengertian, yaitu revitalisasi secara fisik dan secara non-fisik. Revitalisasi secara fisik dalam bentuk usaha membangun kembali (mengembalikan) dan melengkapi secara fisik sesuai bentuk dasar dengan mengacu pada berbagai sumber dan berorientasi pada lingkup kraton Jawa dengan menggunakan teknik dan teknologi masa kini. Penggarapan revitalisasi fisik Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas meliputi:
1. Alun-alun beserta sarana-prasarana penyertanya.
2. Tembok keliling beserta sarana-prasarana penyertanya.
3. Bangunan pendopo beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
4. Bangunan longkangan beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
5. Bangunan dalem ageng beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
6. Bangunan griya ageng beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
7. Bangunan boga sasana beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
8. Bangunan senthong kiwa beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
9. Bangunan senthong tengen beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
10. Bangunan bale peni beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
11. Bangunan bale warni beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
12. Bangunan pringgitan beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
13. Bangunan tamansari beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
14. Bangunan-bangunan lain di dalam tembok keliling beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
15. Penggarapan revitalisasi secara non-fisik akan mampu menghidupkan kembali energi masa lalu. Semangat cablaka (transparency), terbuka (exposure), sederhana, apa adanya dan egaliter, merupakan bagian terpenting kebudayaan lokal Banyumas yang saat sekarang perlu digali, ditumbuhkembangkan serta disinergikan dengan semangat modern. Hadirnya kembali energi masa lalu akan mampu mewujudkan kembali identitas lokal Banyumas di tengah derasnya arus globalisasi dan multikulturisme.
Dalam rangka mewujudkan gagasan tersebut diperlukan sebuah studi tentang perencanaan revitalisasi Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas. Studi ini dilaksanakan sebagai bentuk usaha mengumpulkan fakta dan data di lapangan sebagai data guna terwujudnya sebuah perencanaan revitalisasi sebuah bangunan cagar budaya yang terprogram, efektif, efisien dan akuntabel, dengan tetap mengedepankan substansi makna dari penggarapan sebuah bangunan bersejarah.

Bangunan Pendopo di Kompleks Kadipaten Banyumas; sebuah peninggalan masa lalu bertempat di Kota Lama Banyumas

Revitalisasi bangunan kuno bersejarah dapat menjadi langkah nyata dari usaha sebuah kelompok masyarakat membangun kembali sejarah leluhurnya serta menatap masa depan dengan penuh keyakinan tentang kekuatan diri di tengah peradaban yang kian mengglobal. Dengan demikian revitalisasi bangunan kuno bersejarah bermakna sebagai usaha membangun citra diri sebagai sebuah bangsa yang berkarakter dan beridentitas. Lihat saja tata letak kota tua itu. Konsep pembagian ruang dalam blok-blok yang mendekatkan pusat pemerintahan dengan pusat ekonomi serta aktivitas penduduk lainnya. Kota tua itu dibangun dengan memerhatikan tata ruang.

Kompleks Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas merupakan bangunan peninggalan Kadipaten Banyumas sebelum dipindah ke Purwokerto oleh Bupati Banyumas Martadireja II pada tanggal 7 Januari 1937. Sebagai lokus Kadipaten, Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas telah menjadi salah satu artefak sekaligus landmark (tetenger) dari perjalanan panjang sejarah Kadipaten Banyumas yang pertama kali dibangun oleh Joko Kahiman yang bergelar Kanjeng Adipati Warga Utama II (Adipati Mrapat).

Kondisi eksisting Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas mulai dari alun-alun, pintu gerbang, pendopo, longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni hingga tamansari, selain hadir sebagai artefak sejarah, juga memiliki kedalaman filosofi yang didasarkan pada ajaran Jawa. Dari sisi arsitektur, bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas merupakan perpaduan yang sangat kental antara arsitektur tradisional Jawa dan arsitektur kolonial Belanda.

Dari sisi filosofis, Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas mengandung ajaran kosmologi Jawa tentang keblat papat lima pancer (empat arah mata angin dan titik pusat imaginer yang berada di tengah-tengah). Bangunan pendopo dikelilingi empat pintu gerbang utama. Gerbang pada sisi timur dan barat searah dengan terbit dan tenggelamnya matahari yang menjadi simbolisasi dari purwa, madya dan wasana yang menggambarkan kehidupan manusia di dunia dari yang semula tidak ada, menjadi ada, dan pada saatnya akan kembali tidak ada. Sedangkan gerbang pada sisi selatan dan utara searah dengan laut selatan dan gunung Slamet, menggambarkan arah privasi (dalem Kadipaten) ke arah publik (masyarakat). Oleh karena itu di arah depan pendopo terdapat alun-alun yang di sisi kanannya terdapat masjid (menggambarkan sisi kebaikan) dan di sisi kirinya terdapat penjara atau Lembaga Pemasyarakatan (menggambarkan sisi buruk).

Fakta demikian membuktikan bahwa Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas memiliki kedalaman nilai historis bagi masyarakat Banyumas secara keseluruhan. Dalam konteks perjalanan sejarah kebudayaan, nilai-nilai historis semacam ini menjadi bagian integral kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Ia menjadi spirit, kekuatan sekaligus motivasi bagi kehidupan pribadi dan kehidupan kolektif.

Pelaksanaan revitalisasi Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas memiliki dua pengertian, yaitu revitalisasi secara fisik dan secara non-fisik. Revitalisasi secara fisik dalam bentuk usaha membangun kembali (mengembalikan) dan melengkapi secara fisik sesuai bentuk dasar dengan mengacu pada berbagai sumber dan berorientasi pada lingkup kraton Jawa dengan menggunakan teknik dan teknologi masa kini. Penggarapan revitalisasi fisik Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas meliputi:
1. Alun-alun beserta sarana-prasarana penyertanya.
2. Tembok keliling beserta sarana-prasarana penyertanya.
3. Bangunan pendopo beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
4. Bangunan longkangan beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
5. Bangunan dalem ageng beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
6. Bangunan griya ageng beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
7. Bangunan boga sasana beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
8. Bangunan senthong kiwa beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
9. Bangunan senthong tengen beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
10. Bangunan bale peni beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
11. Bangunan bale warni beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
12. Bangunan pringgitan beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
13. Bangunan tamansari beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
14. Bangunan-bangunan lain di dalam tembok keliling beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
15. Penggarapan revitalisasi secara non-fisik akan mampu menghidupkan kembali energi masa lalu. Semangat cablaka (transparency), terbuka (exposure), sederhana, apa adanya dan egaliter, merupakan bagian terpenting kebudayaan lokal Banyumas yang saat sekarang perlu digali, ditumbuhkembangkan serta disinergikan dengan semangat modern. Hadirnya kembali energi masa lalu akan mampu mewujudkan kembali identitas lokal Banyumas di tengah derasnya arus globalisasi dan multikulturisme.
Dalam rangka mewujudkan gagasan tersebut diperlukan sebuah studi tentang perencanaan revitalisasi Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas. Studi ini dilaksanakan sebagai bentuk usaha mengumpulkan fakta dan data di lapangan sebagai data guna terwujudnya sebuah perencanaan revitalisasi sebuah bangunan cagar budaya yang terprogram, efektif, efisien dan akuntabel, dengan tetap mengedepankan substansi makna dari penggarapan sebuah bangunan bersejarah.

No comments: