Friday, February 20, 2009

KOTA LAMA BANYUMAS: Perpaduan Berbagai Elemen Kebudayaan

Kota Lama Banyumas menyimpan keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kota lain. Di wilayah ini berkembang tiga kultur yang berbeda, yakni kultur priyayi, kultur wong cilik, dan kultur Indisch. Kultur priyayi berkembang di pusat pemerintahan Kadipaten Banyumas masa lalu (sebelum pindah ke Purwokerto) yang menyisakan peninggalan artefak sejarah berupa kompleks Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas beserta bangunan-bangunan kuno yang terdapat di sekitarnya. Kultur wong cilik sebagai arus utama dalam kehidupan masyarakat Banyumas dapat dijumpai di dalam komunitas masyarakat yang terdapat di luar tembok Kadipaten dan masih lestari hingga sekarang. Sedangkan kultur Indisch merupakan kultur yang berkembang pada masa penjajahan Belanda yang menyisakan artefak bangunan kuno yang bercorak Indisch yang dalam persebarannya hidup berdampingan dengan kehidupan kaum priyayi, wong cilik dan masyarakat Cina Keturunan (Tiong Hoa).

Jika dilihat dari aktivitas sosial, keberadaan ketiga kultur ini dapat dilihat pada tiga komponen penting, yaitu pemerintahan, kehidupan sehari-hari masyarakat, dan perdagangan. Aktivitas pemerintahan berupa Kadipaten (bukan Kabupaten) yang bercirikan adanya kekuasaan Adipati yang memiliki angkatan perang. Dalam sejarahnya, pemerintahan di Kadipaten Banyumas mulai berkembang sejak Kasultanan Pajang, yang berlangsung terus hingga masa kekuasaan Mataram maupun Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas yang dimaksud di sini adalah sebuah perjalanan kultural yang bersumber dari pola kehidupan tradisional-agraris. Nilai-nilai yang berkembang adalah nilai kerakyatan yang bercorak egaliter, sederhana, terbuka (exposure), dan cablaka (tranparency). Adapun aktivitas perdagangan ditandai dengan keberadaan pasar tradisional yang terdapat di sisi utara Kota Banyumas sekarang. Kegiatan perdagangan di Kota Lama Banyumas tidak lepas dari kebijakan pemerintah Hindia Belanda bersama pemerintah Kadipaten Banyumas yang melibatkan etnis Tiong Hoa sebagai salah satu bagian terpenting di dalamnya. Kondisi tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang.


Kota Lama Banyumas menyimpan keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kota lain. Di wilayah ini berkembang tiga kultur yang berbeda, yakni kultur priyayi, kultur wong cilik, dan kultur Indisch. Kultur priyayi berkembang di pusat pemerintahan Kadipaten Banyumas masa lalu (sebelum pindah ke Purwokerto) yang menyisakan peninggalan artefak sejarah berupa kompleks Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas beserta bangunan-bangunan kuno yang terdapat di sekitarnya. Kultur wong cilik sebagai arus utama dalam kehidupan masyarakat Banyumas dapat dijumpai di dalam komunitas masyarakat yang terdapat di luar tembok Kadipaten dan masih lestari hingga sekarang. Sedangkan kultur Indisch merupakan kultur yang berkembang pada masa penjajahan Belanda yang menyisakan artefak bangunan kuno yang bercorak Indisch yang dalam persebarannya hidup berdampingan dengan kehidupan kaum priyayi, wong cilik dan masyarakat Cina Keturunan (Tiong Hoa).

Jika dilihat dari aktivitas sosial, keberadaan ketiga kultur ini dapat dilihat pada tiga komponen penting, yaitu pemerintahan, kehidupan sehari-hari masyarakat, dan perdagangan. Aktivitas pemerintahan berupa Kadipaten (bukan Kabupaten) yang bercirikan adanya kekuasaan Adipati yang memiliki angkatan perang. Dalam sejarahnya, pemerintahan di Kadipaten Banyumas mulai berkembang sejak Kasultanan Pajang, yang berlangsung terus hingga masa kekuasaan Mataram maupun Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas yang dimaksud di sini adalah sebuah perjalanan kultural yang bersumber dari pola kehidupan tradisional-agraris. Nilai-nilai yang berkembang adalah nilai kerakyatan yang bercorak egaliter, sederhana, terbuka (exposure), dan cablaka (tranparency). Adapun aktivitas perdagangan ditandai dengan keberadaan pasar tradisional yang terdapat di sisi utara Kota Banyumas sekarang. Kegiatan perdagangan di Kota Lama Banyumas tidak lepas dari kebijakan pemerintah Hindia Belanda bersama pemerintah Kadipaten Banyumas yang melibatkan etnis Tiong Hoa sebagai salah satu bagian terpenting di dalamnya. Kondisi tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang.


No comments: