Friday, January 2, 2009

GUBRAG LESUNG DI DESA PLANA




Gubrag lesung di Desa Plana, Kecamatan Somagede, masih terus mencoba bertahan di tangah terpaan arus globalisasi. Pada masa lalu gubrag lesung selalu terdengar ketika ada salah seorang warga masyarakat memiliki khajat (duwe gawe), seperti mantu, mbesan, khitanan, kaul dan lain-lain. Bunyi lesung yang ditabuh bertalu-talu menjadi pertanda akan dimulainya khajatan, yaitu sesaat setelah dilakukan proses menumbuk beras yang menjadi bahan baku jenang tradisional versi setempat. Gubrag lesung juga dapat dijumpai pada musim panen, yaitu ketika warga masyarakat secara bersama-sama menumbuk gabah menjadi beras.

Bersama dengan perjalanan waktu, perubahan pun senantiasa terjadi. Perkakas tradisional digantikan dengan alat-alat modern. Alat penggilingan padi untuk menjadi beras atau beras menjadi tepung, tidak lagi dilakukan secara konvensional menggunakan lesung atau lumpang. Alat-alat tradisional itu telah digantikan oleh mesin giling yang mempersingkat proses dan hasilnya lebih bagus. Proses perubahan demikian mau tidak mau memberikan pengaruh terhadap tradisi gubrag lesung, sehingga pada jaman sekarang jarang sekali dijumpai tabuh-tabuhan dengan menggunakan perkakas lesung.

Bagi masyarakat desa Plana, perubahan tersebut tidak lantas membunuh tradisi. Melalui Padhepokan Seni Banyu Biru, tradisi gubrag lesung terus dilestarikan sebagai sebuah sajian musik tradisional yang semakin banyak diminati. Gubrag lesung di Plana telah mampu hadir sebagai media ekspresi estetik yang dikemas apik untuk berbagai keperluan. Gambar di atas diambil pada saat padhepokan seni kedatangan tamu dari Jepang, Argentina, Amerika Serikat dan Inggris pada Agustus 2008. Pada saat itu disajikan berbagai lagu khusus yang hanya dapat dijumpai pada musik lesung. Beberapa di antaranya adalah Blang Dhumuk, Randha Semaya, Kaki Dhudha, dan Prawan Pupur.




Gubrag lesung di Desa Plana, Kecamatan Somagede, masih terus mencoba bertahan di tangah terpaan arus globalisasi. Pada masa lalu gubrag lesung selalu terdengar ketika ada salah seorang warga masyarakat memiliki khajat (duwe gawe), seperti mantu, mbesan, khitanan, kaul dan lain-lain. Bunyi lesung yang ditabuh bertalu-talu menjadi pertanda akan dimulainya khajatan, yaitu sesaat setelah dilakukan proses menumbuk beras yang menjadi bahan baku jenang tradisional versi setempat. Gubrag lesung juga dapat dijumpai pada musim panen, yaitu ketika warga masyarakat secara bersama-sama menumbuk gabah menjadi beras.

Bersama dengan perjalanan waktu, perubahan pun senantiasa terjadi. Perkakas tradisional digantikan dengan alat-alat modern. Alat penggilingan padi untuk menjadi beras atau beras menjadi tepung, tidak lagi dilakukan secara konvensional menggunakan lesung atau lumpang. Alat-alat tradisional itu telah digantikan oleh mesin giling yang mempersingkat proses dan hasilnya lebih bagus. Proses perubahan demikian mau tidak mau memberikan pengaruh terhadap tradisi gubrag lesung, sehingga pada jaman sekarang jarang sekali dijumpai tabuh-tabuhan dengan menggunakan perkakas lesung.

Bagi masyarakat desa Plana, perubahan tersebut tidak lantas membunuh tradisi. Melalui Padhepokan Seni Banyu Biru, tradisi gubrag lesung terus dilestarikan sebagai sebuah sajian musik tradisional yang semakin banyak diminati. Gubrag lesung di Plana telah mampu hadir sebagai media ekspresi estetik yang dikemas apik untuk berbagai keperluan. Gambar di atas diambil pada saat padhepokan seni kedatangan tamu dari Jepang, Argentina, Amerika Serikat dan Inggris pada Agustus 2008. Pada saat itu disajikan berbagai lagu khusus yang hanya dapat dijumpai pada musik lesung. Beberapa di antaranya adalah Blang Dhumuk, Randha Semaya, Kaki Dhudha, dan Prawan Pupur.

No comments: