Saturday, May 24, 2008

GAMBARAN UMUM DALEM KADIPATEN BANYUMAS


Baca Selengkapnya...
Pengantar

Tulisan ini merupakan Bab II dari Penelitian tentang Pengembangan Kota Lama Banyumas yang saya lakukan dengan dibiayai oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Telematika dan Kearsipan Daerah (Balitbangtelarda) Kabupaten Banyumas pada tahun 2007. Penelitian diarahkan pada usaha preservasi dan konservasi ragam bangunan kuno bersejarah di wilayah Kota Lama Banyumas yang diharapkan dapat menjadi salah satu kekuatan untuk pencitraan Banyumas sebagai kawasan budaya. Usaha pencitraan ini sangat penting dalam rangka pengembangan ragam kebudayaan lokal Banyumas, penciptaan rasa kebanggaan dan sense of belonging dalam diri setiap warga masyarakat Banyumas terhadap ragam budaya milikinya. Di sisi lain, keberhasilan pencitraan ini diharapkan dapat memberikan dukungan bagi pengembangan bidang kepariwisataan.

Riwayat Kadipaten Banyumas

Salah satu kesulitan mencolok dalam pelaksanaan penelitian ini adalah keberadaan artefak sejarah yang ada di lingkungan obyek material penelitian tidak diikuti teks-teks atau catatan-catatan yang ditulis bersamaan waktu atau mengikuti perjalanan sejarah artefak sejarah tersebut. Beberapa tulisan yang berhasil dikumpulkan umumnya adalah teks-teks sejarah yang ditulis berdasarkan gotek atau ujaring kandha. Oleh karena itu uraian tentang hal-hal yang bersifat diakronis dari keberadaan Kadipaten Banyumas kiranya lebih netral dengan menggunakan istilah ‘riwayat’.

Dari beberapa teks yang terkumpul diperoleh keterangan bahwa keberadaan Kadipaten Banyumas tidak lepas dari pengangkatan Joko Kahiman menjadi Adipati Wirasaba oleh Sultan Pajang, menggantikan Adipati Warga Utama I yang tewas pada peristiwa Sabtu Pahing di Bener. Joko Kahiman adalah anak Ki Mranggi dari Kejawar yang telah menjadi putra menantu Adipati Warga Utama I di Wirasaba. Pasca terjadinya tragedi Sabtu Pahing, putra-putra Wirasaba tidak ada yang bersedia memenuhi panggilang Sultan Jajang karena khawatir akan menemui nasib tragis seperi yang telah dialami ayahandanya. Kesediaan Joko Kahiman berangkat ke Pajang ternyata bukan untuk menerima hukuman, tetapi justru menerima anugrah diangkat menjadi Adipati Wirasaba bergelar Adipati Warga Utama II.

Joko Kahiman tidak kemaruk kekuasaan. Dia kemudian membagi Wirasaba menjadi empat kadipaten. Tiga bagian untuk ketiga kakak iparnya dan satu bagian untuk dirinya sendiri. Kakak ipar tertua, Ngabehi Warga Wijaya mendapat bagian di wilayah Wirasaba. Kakak ipar kedua, Ngabehi Wirakrama mendapat bagian di wilayah Merden, dan kakak ipar ketiga, Ngabehi Wirayuda mendapat bagian di wilayah Banjarpatambakan (sebelah timur sungai Merawu). Jokoh Kahiman sendiri memilih bertempat di wilayah Kejawar. Oleh karena itu Joko Kahiman selain bergelar Adipati Warga Utama II juga dikenal dengan sebutan Adipati Mrapat yang berasal dari kata mara papat atau membagi empat.

Pada saat Joko Kahiman melaksanakan babad alas untuk dijadikan sebagai dalem kadipaten, ada sebatang kayu (pohon) yang hanyut di sengai Serayu dan terhenti tidak jauh dari lokasi pelaksanaan babad alas. Kayu tersebut adalah jenis kayu mas yang memiliki ukuran besar. Maka, kayu tersebut kemudian diambil dan dijadikan sebagai soko guru pendopo kadipaten. Berawal dari kata kayu mas yang hanyut di banyu (air), maka lokasi tersebut kemudian disebut Banyumas yang nuggak semi hingga sekarang. Dalem kadipaten yang dibangun oleh Joko Kahiman bertahan hingga enam periode kepemimpinan, yaitu:
1. R. Joko Kahiman (Adipati Warga Utama II) (1582-1590)
2. R. Ngabei Mertasura I (Ngabehi Janah) (1590-1591)
3. R. Ngabei Mertasura II (Ngabei Kalidethuk) (1591-1620)
4. R. Ngabei Mertayuda I (Ngabei Bawang) (1620-1650)
5. R. Tumenggung Mertayuda II (R.T. Mertonegoro atau R.T. Seda Masjid atau R.T. Yudanegara I) (1650-1705)
6. R. Tumenggung Suradipura (R.T. Toyakusuma atau R.T. Kemong) (1705-1707)

Pengganti R. Tumenggung Suradipura adalah anak R.T. Mertonegoro bergelar R.T. Yudanegara II. Dia tidak bersedia bertempat tinggal di kadipaten lama, dan mendirikan dalem kadipaten baru berlokasi di sebelah timur desa Menganti. Sejak itulah diperkirakan awal mula berdirinya Pendopo Si Panji yang masih lestari hingga sekarang. Dalem kadipaten yang dibangun oleh R.T. Yudanegara II bertahan selama 12 periode kepemimpinan, yaitu:
1. R. Tumenggung Yudanegara II (R.T. Seda Pendapa) (1707-1743)
2. R. Tumenggung Reksapraja (1742-1749)
3. R. Tumenggung Yudanegara III (1755) (dadi Patih Sultan Yogyakarta: gelar Danureja I)
4. R. Tumenggung Yudanegara IV (1745-1780)
5. R.T. Tejakusuma, Tumenggung Kemong (1780-1788)
6. R. Tumenggung Yudanegara V (1788-1816)
7. Kasepuhan : R. Adipati Cokronegara (1816-1830)
8. Kanoman : R. Adipati Brotodiningrat (R.T. Martadireja)
9. R.T. Martadireja II (1830-1832) (Kanoman) dan R. Adipati Cokronegara I (R. Adipati Cakrawedana) (1832- 1864) (Kasepuhan)
10. R. Adipati Cokronegara II (1864-1879)
11. Kanjeng Pangeran Arya Martadireja II (1879-1913)
12. KPAA Gandasubrata (1913-1933).

KRAA. Sujiman Martadireja Gandasubrata yang menggantikan KPAA Gandasubrata tidak bersedia tinggal di Banyumas. Dia memilih bertempat tinggal di Purwokerto. Maka pada tanggal 7 Januari 1937 dilakukan boyongan (perpindahan) dalem kadipaten, dari Banyumas ke Purwokerto. Simbol kekuasaan yang dipindahkan berupa soko guru pendopo Si Panji yang terdapat di arah barat laut. Pada saat memboyong soko guru pendopo Si Panji tidak dilakukan dengan cara menyeberang kali lanang (sungai Serayu), melainkan memutar ke arah timur melewati mata air sungai Serayu di pegunungan Dieng. Selanjutnya pemerintahan Kabupaten Banyumas bertahan di Purwokerto sampai sekarang. Pada saat penelitian ini berlangsung, pejabat Bupati sudah mengalami pergantian selama 11 periode, yaitu:
1. KRAA. Sujiman Martadireja Gandasubrata (Gandasubrata II) (1933-1950)
2. R. Moh. Kabul Purwodireja (1950-1953)
3. R. Budiman (1953-1957)
4. M. Mirun Prawiradireja (30-01-1957 / 15-12-1957)
5. R. Bayi Nuntoro (15-12-1957 / 1960)
6. R. Subagio (1960-1966)
7. Letkol Inf. Sukarno Agung (1966-1971)
8. Kol. Inf. Poedjadi Jaringbandayuda (1971-1978)
9. Kol. Inf. R.G. Rujito (1978-1988)
10. Kol. Inf. H. Djoko Sudantoko (1988-1998)
11. Kol. Art. HM Aris Setiono, SH, S.IP (1998-2008)

Perpindahan ibukota Kabupaten Banyumas dari Banyumas ke Purwokerto telah menyisakan kota Banyumas sebagai kota tua. Berbagai macam artefak sejarah masih dapat dijumpai kota Banyumas. Dalem kadipaten Banyumas yang tanpa pendopo, kemudian dibangun pendopo lagi dengan cara meniru bangunan aslinya yang kemudian dikenal dengan sebutan Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas.

Dalem Kadipaten

Menyebut Kabupaten Banyumas tidak bisa lepas dari keberadaan kota Banyumas lama yang secara administratif kini menjadi Kecamatan Banyumas. Meskipun "hanya" sebuah kota kecamatan, nilai sejarah yang dimiliki kecamatan itu telah berumur ratusan tahun (Aufrida Wismi Warastri, 2006). Di wilayah ini banyak dijumpai artefak Kabupaten Banyumas yang menurut Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Daerah Tingkat II Banyumas Nomor 2 tahun 1990 berdiri pada tahun 1582, tepatnya pada hari Jum'at Kliwon tanggal 6 April 1582 Masehi, atau bertepatan tanggal 12 Robiul Awwal 990 Hijriyah.

Tanggal tanggal 7 Januari 1937 pusat pemerintahan kemudian dipindah ke Purwokerto, pada saat tampuk kekuasaan Kabupaten Banyumas berada di bawah kendali Gandasurata II. Lalu, kota Banyumas berangsur berubah menjadi kota tua yang menyisakan artefak-artefak bangunan bersejarah. Salah satunya adalah Dalem Kadipaten Banyumas yang saat ini lebih dikenal dengan istilah Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas.

Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas merupakan warisan arsitektur Indies yang merupakan wujud akulturasi yang sangat kental antara kebudayaan Jawa, kebudayaan Barat dan kearifan lokal Banyumas. Dalam konteks kebudayaan nusantara, kebudayaan Indies tercipta dari kebudayaan Barat (dalam hal ini Belanda) dan kebudayaan Timur (dalam hal ini lebih didominasi oleh kebudayaan Jawa) pada sekitar abad ke 19 (Wikipedia, 2007). Perkembangan kebudayaan Indies di wilayah Banyumas memang paling mudah dijumpai pada berbagai bentuk bangunan peninggalan Kolonial Belanda, mulai dari fasilitas umum hingga rumah-rumah tinggal. Ciri utama gaya arsitektur Indies adalah memadukan berbagai elemen Timur dengan Elemen Barat, memiliki luas tanah yang sangat besar.

Dalem Kadipaten Banyumas (Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas) diperkirakan mulai dibangun pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755, yaitu pada saat Bupati Banyumas, Raden Tumenggung Yudanegara III diangkat menjadi Patih Sultan Yogyakarta bergelar Danureja I. Wikipedia (2007) mencatat bahwa Masjid Nur Sulaiman Banyumas dibangun tahun 1755 dengan Kyai Nur Daiman sebagai arsiteknya sekaligus sebagai Penghulu Masjid pertama. Masjid tertua di Banyumas ini dibangun setelah pembangunan Pendapa Si Panji.

Dalem Kadipaten Banyumas sebagai wujud arsitektur Indies memiliki ciri utama berupa kentalnya perpaduan antara Barat (Belanda) dan Timur (Jawa). Dari keseluruhan bangunan ini, bagian-bagian yang bercirikan kebudayaan Jawa dapat dijumpai pada falsafah Jawa yang tertuang pada wujud fisik bangunan. Ajaran sinkretisme yang sangat mempengaruhi falsafah Jawa telah berimbas pada bangunan fisik mulai dari alun-alun, empat pintu di keempat arah mata angin, bangunan pendopo, serta penataan ruang di dalem Kadipaten yang masih dapat dilihat hingga sekarang seperti adanya ruang-ruang yang ditengarai sebagai longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni, pringgitan, dan tamansari. Adapun gaya khas Barat dapat dijumpai pada wujud fisik bangunan lantai, ornamen dan ragam desain interiornya.

Kondisi eksisting Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas saat ini secara fisik sudah tampak megah, layak dijadikan sebagai bangunan kuno bersejarah yang dirawat dengan baik. Hal ini tentu saja setelah pada tahun-tahun terakhir ini direnovasi dengan pola ‘dikembalikan ke bentuk aslinya’. Ini merupakan modal awal yang sangat berharga dalam usaha melaksanakan revitalisasi sebuah artevak bersejarah peninggalan Kadipaten Banyumas pada masa lalu.

Gambaran umum yang dapat dijumpai saat ini memberikan asumsi-asumsi dasar yang sangat penting tentang Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas, sebagai berikut:
1. Bangunan utama dalam kondisi terawat baik.
2. Masih terdapat bangunan-bangunan pendamping yang belum direnovasi.
3. Belum ada sarana-prasarana maupun aksesories yang menggambarkan bangunan tersebut adalah bekas Kadipaten.
4. Di sekitar bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas terdapat bangunan-bangunan baru yang tidak mencerminkan artefak bangunan kuno bersejarah.
5. Bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas masih dimanfaatkan sebagai Kantor Camat Banyumas. Dalam rangka revitalisasi dan pemanfaatan Dalem Kadipaten untuk kepentingan kebudayaan dan pariwisata, keberadaan Kantor Camat kurang menguntungkan.
6. Di salah satu pojok kompleks Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas terdapat stasiun radio yang siarannya tidak mencerminkan eksistensi kebudayaan lokal Banyumas.
7. Belum optimalnya pemanfaatan Dalem Kadipaten guna kepentingan pengembangan seni-budaya Banyumas.
8. Masih memungkinkan terdapat artefak-artefak kuno yang tersembunyi di balik kemegahan Dalem Kadipaten yang ada sekarang ini.
9. Terdapat cerita-cerita mitos yang berkembang di masyarakat berkaitan dengan keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas. Misalnya: tuah Sumur Mas yang berada di belakang Dalem Kadipaten, Sumur Mas yang sesungguhnya terdapat di salah satu ruang Dalem Kadipaten, adanya ular besar (siluman) yang menjaga lorong antara Sumur Mas di salah satu ruang Dalem Kadipaten dengan Sumur Mas yang berada di belakang Dalem Kadipaten, soko guru yang terdapat di arah barat laut pendopo ada penunggunya, dan lain-lain.
10. Mulai adanya perhatian Pemerintah Kabupaten Banyumas serta masyarakat terhadap keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas.

Rencana awal pelaksanaan revitalisasi Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas diarahkan pada persoalan yang lebih besar, antara lain:
1. Usaha preservasi, konservasi sekaligus ekskavasi bangunan sejarah dan cagar budaya.
2. Usaha mewujudkan culture haretage dari kebudayaan lokal Banyumas.
3. Usaha mendapatkan suatu bentuk visual bangunan Kadipaten Banyumas yang mengacu pada konsep falsafah Jawa.
4. Usaha menjadikan bangunan Kadipaten Banyumas sebagai pusat seni-budaya, pendidikan dan pariwisata.

Guna mewujudkan keempat point di atas, bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas perlu dilengkapi sarana-prasarana yang berkaitan dengan keagungan dan kemuliaan seorang Adipati, falsafah yang dianut di Dalem Kadipaten yang mencerminkan legitimasi kekuasaan dan tingkat kepercayaan masyarakat, adanya ciri khas Indies dan kultur lokal Banyumas yang dijiwai oleh semangat kerakyatan dan pola kehidupan tradisional-agraris serta pemanfaatan secara optimal untuk kepentingan perkembangan kebudayaan lokal Banyumas.

Dalam usaha pelestarian Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas ada tiga kemungkinan model yang dapat dilakukan, yaitu: preservasi, konservasi dan ekskavasi. Preservasi adalah model pelestarian dengan cara melestarian bentuk fisik sesuai dengan aslinya, sehingga tidak terjadi perubahan fisik. Model ini berlaku untuk bentuk-bentuk fisik bangunan. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, perlakuan terhadap bangunan-bangunan kuno bersejarah harus sangat hati-hati, diusahakan jangan sampai mengubah bentuk aslinya. Konservasi adalah bentuk pelestarian dengan cara mempertahankan nilai-nilai (values) yang relevan dengan perkembangan jaman dengan kemungkinan dilakukannya perubahan fisik. Model ini berlaku untuk sarana, prasarana dan atau aksesories-aksesories bangunan yang bersifat melengkapi keberadaan bangunan fisik. Untuk keperluan konservasi ini, langkah yang dilakukan sedapat mungkin mendekati warna aslinya. Namun demikian apabila tidak terdapat dokumentasi ataupun catatan sejarah, usaha yang dilakukan adalah melalui melakukan komparasi dengan bangunan-bangunan sejenis yang ada di Banyumas maupun di luar Banyumas. Adapun ekskavasi merupakan usaha penggalian artefak-artefak yang terpendam di lokus wilayah (situs) terkait dengan keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas.

Berdasarkan kondisi lingkungan strategis yang ada saat ini, langkah-langkah yang memungkinkan dilaksanakan guna menjaga kontinuitas Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas antara lain:
1. Preservasi, menjaga kelestarian bangunan utama kompleks Pendopo Duplikat Si Panji agar tetap bertahan sesuai dengan aslinya.
2. Konservasi, merenovasi bangunan-bangunan yang pernah ada seperti kandang kuda (istal), gedhong pusaka, tempat pencucian mayat, balai bengong, dan lain-lain.
3. Ekskavasi, melaksanakan penggalian artefak yang terdapat di kompleks Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas berdasarkan data-data sejarah yang ada serta keterangan narasumber yang dapat dipercaya. Misalnya: menurut keterangan yang diperoleh selama penelitian, diperoleh data bahwa di sekitar Dalem Kadipaten Banyumas terdapat tujuh sumur. Dalam rangka pelaksanaan ekskavasi, memungkinkan dilaksanakan penggalian terhadap ketujuh sumur ini.
4. Pemanfaatan, yaitu pemanfaatan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas guna pertumbuhan dan permekaran serta eksistensi kebudayaan lokal Banyumas.

Dalem Kadipaten Banyumas di tengah Persebaran Kebudayaan Rakyat

Dalam konteks perkembangan kebudayaan Jawa, Banyumas seringkali dipandang sebagai wilayah marginal (Koentjaraningrat, 1984) yang berkonotasi kasar, tertinggal dan tidak lebih beradab dibanding dengan kebudayaan yang berkembang wilayah negarigung (pusat kekuasaan kraton) yang dijiwai oleh konsep adiluhung. Kebudayaan Banyumas hadir sebagai kebudayaan rakyat yang berkembang di kalangan rakyat jelata yang jauh dari hegemoni kehidupan kraton.
Memang, kebudayaan Banyumas pada prinsipnya merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Jawa. Namun demikian dikarenakan kondisi dan letak geografis yang jauh dari pusat kekuasaan kraton serta latar belakang kehidupan dan pandangan hidup masyarakat Banyumas yang dijiwai oleh semangat kerakyatan, mengakibatkan pada berbagai sisi budaya Banyumas dapat dibedakan dari budaya induknya. Jiwa dan semangat kerakyatan kebudayaan Banyumas telah membawanya pada penampilan yang—apabila dilihat dari sudut pandang kebudayaan kraton—terkesan kasar dan rendah. Kenyataan demikian menyebabkan kebudayaan Banyumas seringkali disub-kulturkan (Ahmad Tohari, 2005), dianggap kurang bermakna bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Jawa secara keseluruhan.
Kebudayaan Banyumas terbentuk dari perpaduan antara unsur-unsur kebudayaan Jawa lama dengan pola kehidupan masyarakat setempat. Dalam perjalanannya kebudayaan Banyumas dipengaruhi oleh kultur Jawa baru, kultur Sunda, kultur Islami dan kultur Barat. Unsur-unsur kebudayaan Jawa lama (Jawa Kuno dan Pertengahan) dipengaruhi kebudayaan India (Hindu-Budha) yang sejak lama telah disebarkan oleh seorang pendeta bernama Aji Saka (Sudiono,2006). Khasanah budaya ini tumbuh berkembang di kampung-kampung, dusun-dusun atau dukuh-dukuh, sebagai wujud local genious dan menjadi bagian integral dari kehidupan komunitas wong cilik.

Kebudayaan Banyumas berlangsung dalam pola kesederhanaan, dilandasi oleh semangat kerakyatan, cablaka (transparency), exposure (terbuka) dan dibangun dari masyarakat yang berpola kehidupan tradisional-agraris. Kecenderungan demikian terutama disebabkan oleh karena wilayah Banyumas merupakan wilayah pinggiran dari kerajaan-kerajaan besar tempo dulu. Perkembangan kebudayaan di daerah ini secara umum berlangsung lebih lambat dibanding dengan kebudayaan yang hidup di lingkungan kraton sebagai pusat kekuasaan raja.
Kandungan unsur-unsur kebudayaan Jawa lama di dalam kebudayaan Banyumas terutama tercermin pada bahasa dan sistem kepercayaan. Di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas selain berkembang bahasa Jawa baku—sering disebut dengan istilah bahasa bandhek—juga berkembang bahasa Jawa dialek Banyumas atau bahasa Banyumasan. Bagi masyarakat di daerah ini, bahasa Banyumasan merupakan bahasa ibu yang hadir sebagai sarana komunikasi seharihari. Bahasa Banyumasan diyakini sebagai peninggalan dari bahasa Jawa lama (bahasa Jawa Kuno dan Tengahan) yang masih bisa dijumpai hingga sekarang (Ahmad Tohari,1999). Dengan demikian bahasa Banyumasan dapat digunakan untuk mengintip pertumbuhan bahasa Jawa lama yang berkembang sebelum lahirnya bahasa Jawa baru.
Bahasa Banyumasan memiliki spesifikasi dan atau ciri-ciri khusus yang dapat dibedakan dengan bahasa Jawa baru (standar). Beberapa ciri khusus tersebut antara lain: (1) berkembang secara lokal hanya di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas, (2) memiliki karakter lugu dan terbuka, (3) tidak terdapat banyak gradasi unggah-ungguh, (4) digunakan sebagai bahasa ibu oleh sebagian besar masyarakat Banyumas, (5) mendapat pengaruh bahasa Jawa kuno, Jawa tengahan dan bahasa Sunda, (6) pengucapan konsonan di akhir kata dibaca dengan jelas (selanjutnya sering disebut ngapak-ngapak), dan (7) pengucapan vokal a, i, u, e, o dibaca dengan jelas (Yusmanto, 2004-a). Dalam percaturan sosial yang lebih luas, ciri-ciri semacam ini telah menjadi salah satu penanda yang dapat dengan mudah dikenali oleh kelompok masyarakat lain.
Pengaruh kebudayaan India (Hindu-Budha) terhadap kebudayaan Banyumas dapat dilihat artefak peninggalan sejarah dan sistem kepercayaan masyarakat Banyumas yang dekat dengan sistem kepercayaan pada kedua agama tersebut. Di daerah ini banyak dijumpai artefak sejarah seperti lingga, yoni, arca prasejarah dan benda-benda lain yang merupakan peninggalan persebaran kebudayaan Hindu.

Persebaran agama Islam di Banyumas telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan di daerah itu. Agama Islam mulai menyebar di wilayah Banyumas berlangsung sejak era Demak, yaitu pada saat wilayah ini di bawah kekuasaan Kadipaten Pasir. Pembawa ajaran agama Islam adalah Makdum Wali, yang berhasil mengislamkan Adipati Banyak Blanak, penguasa Pasir. Bahkan, Adipati Banyak Blanak kemudian turut berperan mengislamkan berbagai wilayah, antara lain wilayah Banyumas, Jawa Barat dan wilayah Ponorogo dan sekitarnya.

Persebaran Islam di Banyumas tidak serta-merta menghilangkan kepercayaan lama yang telah berurat-berakar dalam kehidupan masyarakat di wilayah ini. Islam yang dikembangkan di wilayah ini berupa Islam Abangan (Clifford Geertz,1989) yang tetap memberikan peluang bagi berkembangnya kepercayaan animisme-dinamisme bagi pemeluknya. Pemahaman tentang ketuhanan berlaku kebiasaan “budaya membingkai agama”. Aspek-aspek kebudayaan berperan lebih dominan dalam kehidupan sosial, ngemuli (menyelimuti) dan membingkai ajaran-ajaran Islam. Pemahaman tentang ketuhanan dibingkai dalam nuansa budaya lokal seperti dapat dijumpai dalam ragam kesenian, ungkapan tradisional, folklore, kepercayaan tradisional dan lain-lain. Ini berbeda dengan kebudayaan pesisir (utara) yang lebih cenderung mengembangkan Islam puritan dalam bentuk “agama membingkai budaya”.

Perkembangan kebudayaan Banyumas tidak sekedar di wilayah administratif Kabupaten Banyumas. Di sebelah utara berbatasan dengan kebudayaan pesisir utara, di sebelah selatan mencapai pesisir kidul, di sisi timur berbatasan dengan kebudayaan kedu dan di sisi barat berbatasan dengan kebudayaan Sunda. Keberadaan kebudayaan Banyumas sangat spesifik dan khas, menandai eksistensi masyarakat kecil di antara hegemoni kebudayaan kraton yang berkembang di pusat-pusat kerajaan Jawa.

Letak geografis Banyumas yang berada di daerah perbatasan sebaran budaya Jawa dan Sunda telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan Banyumas. Kedua kebudayaan ini mengalami akulturasi yang demikian kental yang bermuara pada terbentuknya ragam budaya tersendiri yang justru berbeda dengan kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda yang notabene adalah kebudayaan induknya. Pada berbagai aspek dapat dilihat dengan jelas lekatnya percampuran antara kedua kutub budaya tersebut di dalam budaya Banyumas.

Dalam kehidupan sosial, masyarakat Banyumas akrab sekali dengan folklor yang sangat dipengaruhi oleh ajaran kepercayaan animisme-inamisme dan perkembangan Islam abangan. Kepercayaan terhadap takhayul, kekuatan-kekuatan supranatural yang melingkupi hidup manusia dan kepercayaan tentang ketuhanan menggambarkan percampuran antara sistem kepercayaan animisme-dinamisme dengan ajaran Islam Abangan.

Kebudayaan Banyumas juga dipengaruhi oleh kultur Barat (kolonial) seperti tercermin dalam berbagai ragam tradisi masyarakatnya. Tradisi marungan yang berupa kebiasaan para priyayi di daerah pedesaan melakukan kasukan (bersukaria) dengan minum-minum (minuman keras) sambil main kartu dan menyaksikan pertunjukan tarian rakyat lengger, disinyalir merupakan pengaruh kolonialisme Belanda yang demikian lama menguasai Indonesia. Pertunjukan tunil yang berupa pethilan (potongan) dari sandiwara diyakini berasal dari istilah toneel dalam kosa kata dalam bahasa Belanda. Demikian pula kostum yang dikenakan pada kesenian dhames dan angguk juga merupakan pengaruh kostum yang dikenakan para serdadu kolonial Belanda. Di sisi lain, pengaruh kolonial juga dijumpai pada model-model bangunan. Rumah potong sedhan adalah salah satu bentuk bangunan hasil pengaruh masa kolonial.

Dalam kehidupan masyarakat Banyumas, istilah penginyongan atau disebut juga pekulaan merupakan pengakuan secara sadar tentang “siapa saya”. Pengakuan demikian bukan dalam situasi kejiwaan yang jumawa dan tinggi hati, melainkan ungkapan sadar untuk mengakui diri sebagai masyarakat lumrah, orang kebanyakan, wong cilik, tidak menempatkan diri dalam posisi lebih unggul dibanding dengan orang atau kelompok lain. Ada nuansa kegetiran, kekalahan dan kepasrahan di sana. Situasi demikian sangat jauh berbeda dengan “keakuan” yang lebih berkonotasi “inilah saya” (Yusmanto,2004). Situasi psikologis yang hanya dialami oleh orang-orang yang tengah dalam keadaan menang, memiliki pengaruh dan kekuasaan atau memiliki posisi lebih unggul dibanding pihak lain. Keadaan seseorang yang mencitrakan kualitas diri yang hebat, yang agung, yang berpengaruh.

Penginyongan bagi orang Banyumas adalah sebuah konsep hidup. Ketika seseorang menyebut dirinya sebagai penginyongan maka sadar atau tak sadar, ia tengah memposisikan diri sebagai masyarakat kebanyakan dan atau kaum awam di tengah hegemoni kelompok lain yang lebih unggul. Namun sesungguhnya pengakuan demikian bukanlah hal paling substansif di dalam konsep ini. Di balik itu semua, konsep penginyongan berisi cara berpikir orang Banyumas di tengah kehidupan sosial budaya yang heterogen dan campur aduk. Ada dua sikap dasar di balik makna kata penginyongan. Pertama, sikap merendah, tidak ngungkul-ungkuli (tidak memandang diri sendiri lebih unggul dibanding orang lain), sikap semadya (tidak lebih unggul, tapi juga tidak rendah). Kedua, sikap jujur, mengakui hal-hal umum yang melekat pada dirinya baik berupa kekurangan maupun kelebihan. Dengan kedua sikap demikian, maka kaum penginyongan dapat lepas dari kebohongan dan kamuflase untuk menutupi kelemahan diri. Mereka lepas dari hidup “seolah-olah”; seolah-olah hebat, seolah-olah menang, seolah-olah kaya, seolah-olah kuasa dan seterusnya.

Makna kata penginyongan yang memiliki nilai rasa kegetiran tersebut bukan tanpa sebab dan musabab. Wilayah Banyumas sejak lama merupakan daerah jajahan kerajaan-kerajaan besar di Pulau Jawa. Kekuasaan beberapa kerajaan Jawa seperti Majapahit, Demak, Pajang, Mataram hingga Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat telah memberikan pengaruh nyata terhadap keberadaan kebudayaan Banyumas (Ahmad Tohari,2005). Demikian juga kerajaan Pajajaran di tanah Pasundan juga memiliki pengaruh masuknya kebudayaan Sunda di daerah ini.

Hegemoni kekuasaan kerajaan-kerajaan besar itu dapat dipilah menjadi dua macam, yaitu kekuasaan secara teritorial dan secara kultural. Kekuasaan secara teritorial terhadap Banyumas sebenarnya baru dimulai pasca Demak yang ditandai Banyumas menjadi bagian dari wilayah kekuasaan dari kerajaan Pajang. Namun demikian kekuasaan secara kultural sudah terjadi sejak lama, yaitu sejak Majapahit atau bahkan mungkin jauh sebelum itu.

Kekuasan secara kultural inilah yang paling memiliki dampak bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Banyumas. Kultur kerajaan yang dibentuk berdasarkan konsep adiluhung berpadu dengan spirit kerakyatan yang bersumber dari komunitas masyarakat petani tradisional. Semua itu telah menjadi elemen-elemen penting pembentukan kebudayaan Banyumas yang masih bertahan hingga saat sekarang.

Perpaduan antara kebudayaan kraton dan kebudayaan rakyat telah memunculkan dua komunitas masyarakat. Pertama, komunitas priyayi, terdiri dari anggota masyarakat yang trah kerajaan, kaum ningrat atau sentana dalem (abdi kerajaan) (Clifford Geertz,1989). Dalam kehidupan sosial mereka dihormati dan dianggap tahu banyak hal untuk memecahkan berbagai persoalan hidup. Dalam memecahkan permasalahan, pendapat mereka umumnya akan didengar dan diyakini sebagai kebenaran yang dapat melegitimasi pendapat seseorang. Kedua, komunitas penginyongan, terdiri dari kalangan masyarakat jelata atau orang awam yang tidak memiliki pertalian hubungan dengan kerajaan. Mereka umumnya menganggap diri sendiri sebagai orang-orang yang terbelakang, tidak berpengalaman, berpendidikan rendah dan dalam kondisi kemelaratan akut.

Di daerah Banyumas, kalangan priyayi dan penginyongan seringkali hidup dalam tataran hitam-putih. Kedua komunitas ini berada dalam tingkat perbedaan yang tajam, baik dalam hal status sosial-ekonomi maupun pergaulan sehari-hari. Keadaan seperti ini menempatkan kalangan priyayi sebagai kelompok minoritas sebagai pihak yang menguasai kalangan penginyongan yang merupakan kelompok mayoritas. Di desa-desa umumnya kalangan priyayi berposisi sebagai si kaya yang menguasai pertumbuhan ekonomi dan hasil bumi. Dengan tanah pertanian yang luas, kalangan priyayi menjadi tuan tanah yang mempekerjakan kalangan penginyongan. Dengan uang yang banyak memungkinkan mereka membeli apa saja yang tidak mungkin dilakukan oleh kalangan penginyongan.

Tajamnya perbedaan kelas antara priyayi-penginyongan sebagaimana tercermin pada ungkapan tradisional yang berkembang meluas di daerah Banyumas dan sekitarnya. Ada orang-orang dari golongan priyayi tetapi lebih memilih hidup di tengah-tengah kaum penginyongan. Orang-orang seperti ini sering disebut dengan ungkapan dom semelap nang pager (jarum terselip di pagar). Pada ungkapan ini priyayi tersebut diibaratkan dom (jarum) dimaknai sebagai sesuatu yang keras, tajam dan berharga. Sedangkan masyarakat penginyongan diibaratkan pagar yang umumnya di pedesaan terbuat dari bambu dianggap sebagai sesuatu yang tidak berharga. Sebaliknya seseorang yang berasal dari kalangan penginyongan masuk di kalangan priyayi sering disebut dengan ungkapan nyelag kaya ampas gabar (terselip seperti ampas residu). Dalam hal ini orang tersebut diumpamakan sebagai ampas gabar, yakni ampas yang sudah diambil santannya, yang terselip di antara sesuatu yang besar, yakni kalangan priyayi. Dalam ungkapan yang lebih sinis orang-orang ini disebut kere munggah mbale (kere naik ke balai). Ungkapan ini menggambarkan betapa kalangan penginyongan berada pada tataran tidak pada tempatnya ketika ia masuk ke dalam komunitas priyayi.

Dalam perkembangannya, keberadaan komunitas priyayi dan penginyongan ini memunculkan kelompok ketiga yang merupakan gabungan keduanya. Komunitas ini dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu priyayi yang merakyat dan orang kaya baru. Pada kelompok ini terjadi lintas batas dalam hal cara berpikir, berbicara, bersikap dan bertindak. Ada orang-orang yang masih keturunan raden, tetapi dalam kehidupan sehari-hari lebih mencerminkan seorang rakyat jelata. Sebaliknya ada pula orang-orang dari kalangan rakyat jelata yang mampu mengubah taraf ekonomi dan gaya hidup sehingga lebih mencerminkan seorang priyayi.

Dalam skala yang lebih luas, pengertian priyayi dan penginyongan bukan sekedar untuk menyebut orang, tapi sebuah konsep yang bertautan pada dua kumparan kutub budaya yang berbeda. Priyayi mewakili kutub budaya kraton, sedangkan penginyongan mewakili kutub budaya kerakyatan. Kebudayaan kraton selalu dimaknai sebagai kebudayaan yang agung, tinggi, mewah, rumit dan sakral. Kebudayaan seperti ini tidak dimiliki oleh masyarakat kebanyakan. Sebaliknya budaya kerakyatan yang hidup di daerah Banyumas adalah kebudayaan yang tumbuh di kalangan masyarakat jelata yang berkehidupan sebagai petani tradisional. Kebudayaan ini memiliki pola yang sederhana, egaliter, bersahaja dan apa adanya.

Adanya pengaruh kekuasaan kraton di wilayah Banyumas telah menjadi penyebab pergulatan dua kutub budaya: kraton versus rakyat. Keduanya menjadi semacam tesis dan antitesis yang memunculkan pergulatan tiada henti-hentinya. Yang satu seolah-olah merasa lebih berhak survive dibanding yang lain. Kondisi demikian sesungguhnya merupakan kewajaran dalam wacana culture counter. Meminjam pengertian Fuad Hasan, dalam culture counter semacam ini masuknya unsur-unsur asing ke dalam kebudayaan lokal memungkinkan terjadinya tiga peristiwa: penentangan, asimilasi atau adaptasi.

Penentangan masuknya sunsur-unsur budaya kraton tampak pada komunitas penginyongan. Komunitas ini pada akhirnya bukan sekedar identitas masyarakat kelas bawah. Melalui komunitas ini pada masyarakat pedesaan tumbuh keberanian untuk menyatakan diri sebagai suatu kelompok yang berada di luar wilayah kelompok priyayi. Mereka tidak merasa malu menjadi orang desa yang identik dengan kemelaratan, kebodohan dan keterbelakangan. Mereka justru merasa bangga dengan sikap yang samadya dan jujur. Hal demikian merupakan sikap kontradiksi dengan kebiasaan kamu priyayi yang cenderung congkak, tinggi hati dan mau menang sendiri serta kebiasaan kolusi, korupsi dan nepotisme dalam upaya mencapai harapan dan keinginan.

Proses asimilasi budaya dalam konteks ini tercermin pada berkembangnya tradisi hidup sebagai priyayi di Banyumas. Masyarakat setempat sangat paham bahwa tradisi tersebut bukanlah bagian dari kebudayaan mereka. Tetapi mereka tetap menerima tradisi tersebut sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan dan peradaban yang harus mereka jalani. Sebagian masyarakat Banyumas justru merasa bangga ketika dirinya disebut sebagai kaum priyayi. Bahkan hingga saat ini masih banyak dijumpai anggota masyarakat Banyumas yang dengan sengaja datang ke kraton Surakarta untuk memohon kekancingan sebagai abdi dalem Kasunanan. Dengan demikian ia memiliki pangkat atau gelar tertentu yang menjadikan strata sosial mereka terangkat; dari kawula atau wong cilik menjadi pangembating praja yang berarti priyayi.

Proses adaptasi budaya dapat dilihat dengan munculnya kelompok yang memadukan unsur-unsur priyayi dan penginyongan menjadi satu-kesatuan konsep hidup. Konsep gabungan itu menjadi semacam sintesis di antara perbedaan konsep priyayi dan penginyongan. Di sini terjadi perpaduan keagungan dan kehalusan budaya kraton dengan keterbukaan dan kejujuran wong cilik. Dengan cara demikian mereka mereka merasa lebih beradab tanpa meninggalkan corak ke-Banyumas-an yang telah lama melekat dalam diri mereka. Namun demikian cara demikian memungkinkan memunculkan deviasi yang justru paradok dengan yang diinginkan; yakni munculnya sikap congkak dan tinggi hati tanpa melihat diri mereka sesungguhnya.
Konsep penginyongan merupakan produk local genius yang menjadi pedoman kehidupan bagi masyarakat awam di Banyumas. Penginyongan sebagai konsep tidak sama tuanya dengan istilah “inyong” dan keberadaan orang Banyumas. Istilah “inyong” (aku) diperkirakan berasal dari kata dalam bahasa Kawi “ingong” dengan arti yang sama. Adapun keberadaan orang Banyumas di Banyumas sama tuanya dengan keberadaan orang Jawa di Pulau Jawa.

Penginyongan dalam tataran konsep lahir sebagai bentuk counter terhadap keberadaan priyayi di Banyumas. Kehadiran kebudayaan kraton di Banyumas menyisakan tradisi priyayi yang menganggap diri mereka sebagai kelompok masyarakat yang lebih santun, lebih beradab dan lebih unggul dibanding dengan masyarakat kebanyakan. Hal ini mengakibatkan geliat wong cilik untuk mampu eksis di tengah jagad sesrawungan (pergaulan). Mereka seakan ingin mengukuhkan jatidiri sebagai sebuah komunitas masyarakat yang memiliki wewaton atau paugeran (konvensi), adat dan tradisi yang berbeda dengan kaum priyayi.

Konsep penginyongan menjadi spirit yang mendasari setiap gerak langkah seseorang ketika ia menyadari dirinya sebagai orang Banyumas. Mereka menyadari sebagai kaum yang kalah, terjajah, terbelakang dan kurang informasi. Di sisi lain mereka sadar bahwa mereka memiliki warisan nenek-moyang yang harus mereka jadikan sebagai wewaton dalam hidup. Dua hal inilah yang tak terjamah oleh hegemoni kraton. Bahwa kekalahan dan keterjajahan dapat menyulut api semangat untuk berjuang (struggle) serta mampu survive di segala macam situasi dan kondisi.

REVITALISASI KOTA LAMA BANYUMAS


Baca Selengkapnya...
Bangunan Pendopo di Kompleks Kadipaten Banyumas; sebuah peninggalan masa lalu bertempat di Kota Lama Banyumas

Revitalisasi bangunan kuno bersejarah dapat menjadi langkah nyata dari usaha sebuah kelompok masyarakat membangun kembali sejarah leluhurnya serta menatap masa depan dengan penuh keyakinan tentang kekuatan diri di tengah peradaban yang kian mengglobal. Dengan demikian revitalisasi bangunan kuno bersejarah bermakna sebagai usaha membangun citra diri sebagai sebuah bangsa yang berkarakter dan beridentitas. Lihat saja tata letak kota tua itu. Konsep pembagian ruang dalam blok-blok yang mendekatkan pusat pemerintahan dengan pusat ekonomi serta aktivitas penduduk lainnya. Kota tua itu dibangun dengan memerhatikan tata ruang.

Kompleks Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas merupakan bangunan peninggalan Kadipaten Banyumas sebelum dipindah ke Purwokerto oleh Bupati Banyumas Martadireja II pada tanggal 7 Januari 1937. Sebagai lokus Kadipaten, Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas telah menjadi salah satu artefak sekaligus landmark (tetenger) dari perjalanan panjang sejarah Kadipaten Banyumas yang pertama kali dibangun oleh Joko Kahiman yang bergelar Kanjeng Adipati Warga Utama II (Adipati Mrapat).

Kondisi eksisting Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas mulai dari alun-alun, pintu gerbang, pendopo, longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni hingga tamansari, selain hadir sebagai artefak sejarah, juga memiliki kedalaman filosofi yang didasarkan pada ajaran Jawa. Dari sisi arsitektur, bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas merupakan perpaduan yang sangat kental antara arsitektur tradisional Jawa dan arsitektur kolonial Belanda.

Dari sisi filosofis, Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas mengandung ajaran kosmologi Jawa tentang keblat papat lima pancer (empat arah mata angin dan titik pusat imaginer yang berada di tengah-tengah). Bangunan pendopo dikelilingi empat pintu gerbang utama. Gerbang pada sisi timur dan barat searah dengan terbit dan tenggelamnya matahari yang menjadi simbolisasi dari purwa, madya dan wasana yang menggambarkan kehidupan manusia di dunia dari yang semula tidak ada, menjadi ada, dan pada saatnya akan kembali tidak ada. Sedangkan gerbang pada sisi selatan dan utara searah dengan laut selatan dan gunung Slamet, menggambarkan arah privasi (dalem Kadipaten) ke arah publik (masyarakat). Oleh karena itu di arah depan pendopo terdapat alun-alun yang di sisi kanannya terdapat masjid (menggambarkan sisi kebaikan) dan di sisi kirinya terdapat penjara atau Lembaga Pemasyarakatan (menggambarkan sisi buruk).

Fakta demikian membuktikan bahwa Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas memiliki kedalaman nilai historis bagi masyarakat Banyumas secara keseluruhan. Dalam konteks perjalanan sejarah kebudayaan, nilai-nilai historis semacam ini menjadi bagian integral kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Ia menjadi spirit, kekuatan sekaligus motivasi bagi kehidupan pribadi dan kehidupan kolektif.

Pelaksanaan revitalisasi Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas memiliki dua pengertian, yaitu revitalisasi secara fisik dan secara non-fisik. Revitalisasi secara fisik dalam bentuk usaha membangun kembali (mengembalikan) dan melengkapi secara fisik sesuai bentuk dasar dengan mengacu pada berbagai sumber dan berorientasi pada lingkup kraton Jawa dengan menggunakan teknik dan teknologi masa kini. Penggarapan revitalisasi fisik Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas meliputi:
1. Alun-alun beserta sarana-prasarana penyertanya.
2. Tembok keliling beserta sarana-prasarana penyertanya.
3. Bangunan pendopo beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
4. Bangunan longkangan beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
5. Bangunan dalem ageng beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
6. Bangunan griya ageng beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
7. Bangunan boga sasana beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
8. Bangunan senthong kiwa beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
9. Bangunan senthong tengen beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
10. Bangunan bale peni beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
11. Bangunan bale warni beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
12. Bangunan pringgitan beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
13. Bangunan tamansari beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
14. Bangunan-bangunan lain di dalam tembok keliling beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya.
15. Penggarapan revitalisasi secara non-fisik akan mampu menghidupkan kembali energi masa lalu. Semangat cablaka (transparency), terbuka (exposure), sederhana, apa adanya dan egaliter, merupakan bagian terpenting kebudayaan lokal Banyumas yang saat sekarang perlu digali, ditumbuhkembangkan serta disinergikan dengan semangat modern. Hadirnya kembali energi masa lalu akan mampu mewujudkan kembali identitas lokal Banyumas di tengah derasnya arus globalisasi dan multikulturisme.
Dalam rangka mewujudkan gagasan tersebut diperlukan sebuah studi tentang perencanaan revitalisasi Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas. Studi ini dilaksanakan sebagai bentuk usaha mengumpulkan fakta dan data di lapangan sebagai data guna terwujudnya sebuah perencanaan revitalisasi sebuah bangunan cagar budaya yang terprogram, efektif, efisien dan akuntabel, dengan tetap mengedepankan substansi makna dari penggarapan sebuah bangunan bersejarah.

Tuesday, May 20, 2008

PENDIDIKAN KESENIAN: WUJUD PENGEMBANGAN IDENTITAS KEBANGSAAN


Baca Selengkapnya...
Ketika dunia semakin mengglobal dan arus informasi kian terbuka, hal tersebut mengakibatkan pula makin terbukanya kebudayaan-kebudayaan luar yang dapat masuk ke dalam wilayah budaya Indonesia. Arus globalisasi yang membawa iklim keterbukaan hubungan antar bangsa-bangsa di dunia dalam kadar tertentu memberikan manfaat yang luar biasa bagi kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara. Betapa tidak, bahwa dengan adanya globalisasi berbagai macam informasi dari seluruh penjuru dunia dapat diterima dengan cepat, lugas dan jelas. Hal tersebut bukan hanya dikarnakan perkembangan kecanggihan alat informasi saja, melainkan memang globalisasi memberi pemahaman kesadaran yang besar akan adanya keterbukaan oleh setiap bangsa-bangsa di dunia untuk mencapai tarap kemajuan dan kemoderenan.
Persinggungan kebudayaan bangsa satu dengan bangsa lainnya akibat keterbukaan informasi yang dibawa globalisasi tersebut, menyebabkan terjadinya saling tafsir dan saling pinjam antara hasil kebudayaan satu dengan yang lain. Kemampuan daya apresiasi manusia dalam hal ini mengenai hasil kebudayaan yang di miliki para pendukung budaya yang dapat berupa tatanan idiologi, religi, sosial, ekonomi, dan politik tersebut akan menjadi kekayaan dan perbendaharaan yang positif bagi keberadaan kebudayaan dalam suatu wilayah. Karena dengan apresiasi kebudayaan dimungkinkan para pendukung suatu kebudayaan akan mampu memilih dan menimbang suatu hasil kebudayaanya sehingga mereka akan sadar betul mana hasil kebudayaan yang layak pada eranya dan mana yang tidak layak lagi untuk hidup. Akan tetapi hal tersebut juga akan menjadi suatu masalah apabila pemahaman apresiasi tentang hasil kebudayaan lebih menitik beratkan pada perubahan secara totalitas suatu hasil kebudayaan. Berkembangnya anggapan bahwa hasil-hasil kebudayaan lama prodak dari suatu suku bangsa dianggap tidak memiliki nilai seutuhnya untuk dapat hidup dalam era yang baru yang sedang berkembang. Hal tersebut semata-mata didasarkan oleh pemahaman bahwa dengan era yang baru maka hasil kebudayaan yang harus dipakai adalah yang baru pula, hasil kebudayaan lama harus segera di tinggalkan.
Kebudayaan Nusantara yang terdiri dari berbagai kebudayaan lokal yang terbentang dari Sabang sampai Merauke sebagai warisan para leluhurnya, dalam perkembanganya saat ini ternyata juga mengalami hal yang sama. Sebagai mana di uraikan diatas bahwa pengaruh globalisasi yang semakin membuka hubungan antar bangsa-bangsa di dunia yang dalam hal ini termasuk juga Nusantara (Indonesia) memberikan dampak negatif dan positif. Dampak positifnya adalah berkembangnya kebudayaan Nusantara akibat kemampuan apresiasi pendukung budaya tersebut terhadap hasil-hasil budaya luar wilayahnya. Hal ini sebagai mana terlihat dalam dunia kita sekarang ini dimana kita hidup dalam wilayah budaya Nusantara, yang semakin berkembangnya pola pikir kemoderenan untuk melakukan suatu tindakan dibanding pola pikir tradisional yang menjadi hasil warisan budaya moyang kita pada masa lampau. Sehingga dengan pola kemoderenan tersebut manusia Nusantara lebih mampu mengembangkan daya ekspresinya dalam upayanya untuk bertahan hidup.
Hal yang positif tersebut menjadi lain lagi ceritanya apabila suatu kemoderenan dipahami dengan hilangnya prodak-prodak lama kebudayaan asli Nusantara yang dianggap tradisional untuk diganti dengan prodak-prodak yang baru yang disebut prodak era modern. Gambaran-gambaran akan terjadinya sikap negatif terhadap kebudayaan Nusantara tersebut dapat kita lihat dengan menurunya sikap penghayatan terhadap hasil-hasil budaya sendiri oleh beberapa pihak yang memahami kemoderenan adalah mengganti semua yanglama dengan yang baru.
Dengan pemahaman kemoderenan yang demikian maka penulis anggap itu adalah pemahaman yang kurang membangun. Justru dengan pemahaman kemoderenan tersebut hendaknya dapat diupayakan sebagai filter/penyaring hasil kebudayaan nenek moyang kita pada masa lampau untuk selanjutnya di sesuaikan dengan era modern sekarang ini tetapi bukannya mengganti seluruhnya, karena belum tentu bahwa hasil-hasil kebudayaan Nusantara tidak layak lagi untuk dapat hidup. Sebagai contoh Gotong Royong, didalam Gotong Royong tersebut terkandung arti pendidikan sosial yang sangat luar biasa. Dengan Gotong Royong kita di didik untuk dapat saling mengerti satusamalain, persodaraan, dan juga kita diberi pengertian bahwa sesuatu yang di kerjakan bersama-sama maka akan dapat mencapai standar maksimal yang lebih di banding bekerja secara individu. Hal tersebut apabila kita terapkan dalam alam kemoderenan sekarang ini bukankah bukan suatu hal yang buruk? Tentunya arti tersebut dapat dikemas dalam suasana yang beda akantetapi arti danfungsi jiwa gotong royong jangan sampai terbuang. Hal tersebut hanya dalam hasil kebudayaan sosil, padahal hasil-hasil Kebudayaan nusantara bukan hanya gotong royong saja, masih banyak tersimpan dan belum kesemuannya ter eksploitasi. Didalam hasil-hasil kebudayaan Nusantara lainnya misalnya Kesenian.
Kesenian Nusantara apabila di maknai sebenarnya juga mengandung tuntunan-tuntunan hidup yang luar biasa. Didalam hasil kesenian terkandung berbagai makna seperti halnya: cara bersosial, Religi, pendidikan, dan sebagainya. Hal tersebut merupakan tuntunan dan ajaran yang luar biasa untuk kesejahteraan dan kerukunan hidup, karena mautidakmau manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri membutuhkan kerjasama dengan indifidu atau kelompok lainnya sehingga keharmonisan hubungan bermasyarakat juga merupakan suatu kebutuhan.
Pergeseran suatu fungsi kesenian dari yang pada awalnya merupakan suatu tuntunan hidup menjadi sarana pertunjukan (tidak di semua daerah) mungkin menjadi salah satu sebab menurunnya pemahaman fungsi kesenia sebagai tuntunan hidup. Gambaran awal seseorang yang melihat bentuk-bentuk kesenian adalah suatu hiburan maka didalam pertunjukan tersebut para penonton melihat pertunjukan hanya dalam konteks kepuasan batiniah sebagai bentuk hiburan bukan lagi menyertakan makna yang terkandung dalam kesenian tersebut. Hal yang demikian lah yang akhirnya para seniman mulai mengemas separuh dari bentuk pertunjukannya bahkan sepenuhnya sebagai sarana hiburan semata sedangkan konteks isi falsafah yang di kandung didalam kesenian tersebut hanya sebagai syarat saja bahkan dihilangkan.
Hal sebagai mana di atas dan kaitannya sikap kita sebagai pendukung budaya Nusantara tidak harus berdiam berpangku tangan dan menunggu kehancuran budaya warisan leluhur kita. Kita harus segera bangkit dan sadar bahwa dengan runtuhnya kebudayaan dalam satu bangsa tentunya runtuh pulalah jatidiri suatu bangsa tersebut. Karena dengan adanya jatidiri maka merupakan kebanggaan pada bangsa tersebut bahwa suatu bangsa memiliki identitas tersendiri.
Dengan segenap kesadaran tersebut maka kita menganggap perlu mengadakan pengembangan kebudayaan melalui wadah strategi budaya untuk mengkibarkan kembali semangat berbudaya Nusantara yang mulai mengalami kemunduran. Pengembangan strategi kebudayaan dapat melalui berbagai bidang diantaranya dengan sarana pengembangan di bidang pendidikan kesenian.
Pendidikan yang sebagai mana pengertian saat ini yang lebih menitik beratkan pada pembangunan manusia secara intelektual ternyata memungkinkan dijadikan sarana pengembangan benteng kebudayaan. Peroses belajar dan mengajar pada pendidikan seyogyanya mampu menjadi sarana yang efektif untuk pengembangan kebudayaan Nusantara. Dengan pendidikan dan proses yang berada didalamnya membuka kesempatan yang sangat luas untuk dapat mentransfer pengertian-pengertian tentang pentingnya arti kebudayaan yang kaitanya dengan arti dan fungsi jati diri ke-Nusantaraan.
Begitu pula pada bidang pendidikan kesenian sangatlah sekali terbuka luas kesempatan tersebut. Besic pendidikan kesenian yang dengan nama kesenian itu sendiri mengukuhkan sepesifikasi bidang pengajaranya yaitu bidang kesenian yang tentunya didalamnya berisi tentang bagaimana berolah kreatif melalui wadah seni, sangatlah patut apabila dalam tujuannya yaitu mendidik manusia kreatif dengan dibekali wawasan seni budaya Nusantara. Tujuan pembekalan wawasan tersebut memiliki tujan agar pengolahan potensi kreatif dalam bidang kesenian tetap berdasar pada ke-Adiluhungan khasanah kebudayaan Nusantara, sehingga dalam melakukan proses kreatif tersebut para terdidik mampu memilah mana yang sesuai dengan kebudayaannya sendiri dan mana yang tidak.
Untuk mencapai usaha tersebut maka pentingnya diadakan kerjasama dari berbagai pihak yang dapat diantaranya: (1) Pemerintah, (2) Lembaga Pendidikan, (3), (4) Guru, dan (5) pihak lain. Dengan di adakannya kerjasama oleh pihak-pihak tersebut maka penanaman pentinnya pemahaman kebudayaan Nusantara diharapkan akan terwujud.
Peran serta pemerintah dalam hal ini dapat mennyakut pemberian sarana dan pra sarana yang memadai untuk dapat terwujudnya tujuan tersebut. Berbagai prasarana tersebut dapat berupa (1) pengembangan sarana fisik seperti pembangunan gedung-gedung sekolah beserta kelengkapannya, (2) lembaga-lembaga pemerintahan yang mengurusi bidang pendidikan dengan tugasnya yang benar-benar mengacu pada tujuan kualitaas pendidikan, dan (3) sarana lainnya sebagai pendukung terwujudnya tujuan tersebut seperti pengaturan undang-undang dan sebagainya.
Dibidang pengembangan sarana prasarana pemerintah di bebankan untuk membangun sarana tersebut secara layak sehingga tidak akan menggangu proses belajar mengajar pada nantinya. Pembentukan lembaga-lembaga pendidikan oleh pemerintah hendaknya tidak sekedar membuat proses belajar mengajar dapat berjalan, akan tetapi harus didasarkan pada sejauh mana belajar mengajar tersebut dapat berjalan secara optimal. Salah satu bentuknya adalah dengan pembuatan kurikulum pendidikan yang tepat guna bagi setiap cabang-cabang pendidikan. Sebagai contoh adalah bentuk Kurikulum Pendidikan untuk proggram studi seni pertunjukan (SMKI).
Dalam pengaturan Kurikulum dibidang ini hendaknya benar-benar mengacu pada kebutuhan pengembangan pendidikan dibidangnya. Kenyataan yang terjadi saat ini apabila penulis nilai pembuatan kurikulum yang tepat guna tersebut belum sepenuhnya terwujud. Pendapat ini didasarkan pada pengalaman penulis ketika mengikuti pendidikan kesenian di SMK “Sendang Mas” Banyumas (SMKI Banyumas) selama tiga tahun dari tahun 2001-2004, dimana penulis mendapatkan salah satu mata pelajaran tentang kewirausahaan (dan itu diujikan untuk sarat kelulusan) yang didalamnya penulis mendapat kan bentuk materi berwirausaha. Sayangnya materi tersebut tidak sesuai untuk sekolah kejuruan bidang seni pertunjukan karena materi tersebut tidak mengupas permasalahan tentang berwirausaha didalam seni pertunjukan melainkan lebih/dan atau diperuntukan kepada siswa jurusan lain (SMEA). Ketidak tepatan guna tersebut merupakan kelemahan kurikulum yangharus di benahi oleh lembaga yang telah ditunjuk oleh pemerintah yang mengurusi pengembangan Kurikulum tersebut. Pengaturan undang-undang disini juga sangat penting karna dari Undang-Undang itulah yang di gunakan sebagai landasan pengembangan di bidang pendidikan.
Bagian kedua yang mendukung pengembangan kebudayaan melalui sarana pendidikan adalah lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan dalam hal ini penulis artikan sebagai sekolah dalam bidang formal. Dalam lembaga pendidikan ini hendaknya membuat kebijaksanaan-kebijaksanaan yang sesuai dan mendukung pemberdayaan kebudayaan nusantara. Sebagai contoh kebijaksanaan sekolah dalam hal pemilihan ekstrakulikuler. Dalam kebijaksanaan pemilihan ekstrakulikuler hendaknya didasarkan pada tujuan pengembangan kebudayaan Nusantara. hal tersebut dapat dilakukan semisal dengan mengadakan ekstrakulikuler dibidang kesenian daerah seperti: Karawitan, Tari, Pranata Acara Bahasa Jawa. dan sebagainya. Sehingga dengan adanya ekstrakulikuler tersebut murid akan mendapatkan apresiasi.pemberdayaan ekstra kulikuler yang berkesinambungan akan mewujudkan frekuensi apresiasi yang berkelanjutan akibat pelaksanaan tersebut diharapkan akan terbentuk jiwa ke-Nusantaraan pada peserta didik dan mampu membentangi idiologi ke-nusantaraan dari masuknya idiologi asing yang tidak sesuia dengan jiwa pribadi masyarakat Nusantara.
Makin jauhnya pemahaman sebagian manusia Nusantara tentang budayanya dapat mungkin terjadi karna adanya pemahaman bahwa kebudayaan Nusantara sebagai kebudayaan yang terlahir dari masa yang lama dianggap sudah tidak mampu lagi hidup dalam era yang baru seperti sekarang ini. Pemahaman yang seperti tersebut oleh beberapa kelompok merupakan pemahaman yang penulis anggap keliru keliru. “Mereka” menafsirkan bahwa globalisasi dan kemoderenan adalah mengganti seluruh tatanan budaya yang sudah ada dengan tatanan budaya yang baru dan sedang berkembang. Mereka juga menafsirkan bahwa kemoderenan adalah harus menganut kebudayaan dimana budaya kemoderenan tersebut terlahir.Akan tetapi apabila mereka mampu berfikir tentang nilai-nilia yang terkandung dalam kebudayaan Nusantara tersebut maka hal tersebut mungkin tidak akan terjadi.
Hal ketiga yang tidak kalah penting sebagai sebagai pendukung dalam perwujudan pengembangan kebudayaan Nusantara adalah Guru. Mengapa harus Guru karna guru disini berfungsi sebagai pembimbing, bagaimana seorang Guru dapat membimbing apabila dia tidak memiliki skil untik membimbing. Skil disini berkaitan dengan kemampuan seorang Guru dalam menyampaikan materi hinga dapat diterima dengan baik oleh si peserta didik. Pembentukan kemampuan peserta didik boleh dikatakan 40% nya adalah skil Guru tersebut. dengan jumlah yang hampir separuh didalam pengembangan kesuksesan proses pendidikan maka guru tersebut sangat penting, sehingga dalam kaitannya untuk membentuk karakter hidup kebangsaan dengan dasar kebudayaan nusantar peranan guru mendapat kesempatan yang tidak sedikit. Dengan berdasarkan hal tersebut para guru dan calon-calon guru menyadari sepenuhnya akan peranannya tersebut, sehingga mereka dalam bertindak dan menentukan masalah yang berkaitan dalam proses belajar mengajar harus lebih maksimal.
Selain beberapa peranan tersebut diatas juga ada peranan lain yang mendukung proses penanaman kebudayaan Nusantara. Beberapa pihak-pihak yang mendukung terwujudnya tujuan tersebut diantaranya (1) peran orangtua, serta (2) pihak atau lembaga swasta yang bergerak dalam pendidikan. kedua pihak tersebut juga memiliki peranan yang sama pentingnya.
Mengingat pendidikan bukan hanya dalam lingkup formal tetapi juga dalam lingkup informal, maka pendidikan yang dilakukan oleh orang tua adalah salah satu bentuknya. Sesuai ilmu sosiologi bahwa pembentukan karakter manusia diawali dari lingkungan sosial yang paling kecil. Lingkungan sosial yang paling kecil tersebut dikatakan sebagai sebuah keluarga yang didalamnya terdapat tiga unsur yaitu: ayah, ibu, dan anak. Anak sebagai generasi penerus dan pemegang kelangsungan keluarga yang dalam lingkup besar disebut sebagai negara. Mendapat pendidikan pertama kali dari lingkungannya tersebut. Oleh karena itu peranan ayah dan ibu disini sangat penting untuk membentuk karakteristik si anak. Dengan mengetahui posisi kedua orang tua yang dalam hubungannya dengan karakteristik sianak tersebut maka kedua orangtua harus sadar betul bahwa segala tingkah lakunya, tutur kata, dan yang bertkaitan dengan tingkah laku akan dalam kadar tertentu sadar atau pun tidak akan langsung membentuk karakter kejiwaan sang anak yang terwujud melalui tindakan-tindakan. Posisi kedua orang tua yang sangat fital tersebut untuk membangun karakteristik anak hendaknya diberdayakan untuk pengembangan kebudayaan Nusantara. dengan demikian anak yang nantinya akan menjadi besar dan sebagai penerus bangsa akan mendapat beteng yang kuat atau setidak-tidaknya landasan untuk menjadi acuan pengembangan kebudayaan Nusantara untuk nantinya didalam lingkungan yang berbeda.
Kesemua pihak yang telah tersebut diatas sangat berperanpenting dalam pengembangan kebudayaan melalui jalur pendidikan. Kerjasama semua pihak tersebut menjadi kunci keberhasilan tujuan, sehingga apabila dalam pelaksanaanya bekerja sendiri-sendiri atau bahkan ada salah satu pihak yang tidak bekerja maka tujuan untuk mencapai keberhasilan sangat jauh dicapai.
Keadaan dunia dengan pandangan globalisasinya serta paham kemoderenan. Yang memberi kebebasan secara fungsional bukan tidak mungkin akan menggusur hasil-hasil kebudayaan nusantara padanantinya. Walaupun tergusurnya kebudayaan nusantara tersebut tidak hanya didasarkan pada kedua faktor tersebut, tetapi kesempatan-kesempatan berkomunikasi antar berbagi bangsa dengan pemahaman kemoderenan yang berkembang bukan tidak mungkin juga memperluas celah kehancuran budaya Nusantara. Dengan segenap kesadaran yang demikian semoga menggugah kembali semangat berbudaya Nusantara yang saat ini mulai mengalami kememuduran.

RESENSI BUKU


Baca Selengkapnya...
HADIRNYA SETITIK AIR DI TENGAH HAUSNYA KAJIAN
TENTANG KESENIAN

Judul Buku : KETIKA ORANG JAWA NYENI
Penyunting : Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, MA.
Pengantar : Prof. Dr. Sjafri Sairin, MA.
Penerbit : Galang Press, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2000
Tebal : 431 halaman

Heddy Shri Ahimsa Putra (Ahimsa) membuat judul yang cukup nyleneh untuk tulisannya: Ketika Orang Jawa Nyeni (2000). Tulisan ini disunting sebagai wujud keprihatinan yang cukup mendalam berkaitan dengan perkembangan kajian atau analisis fenomena kesenian dan seni di Indonesia yang ditinjau dari sisi kualitas maupun kuantitas belum sepadan dengan kebutuhan. Sebenarnya sebelum tulisan Ahimsa diterbitkan sudah ada beberapa tulisan lain tentang kajian konseptual kesenian yang sudah terbit seperti tulisan Satoto1 (1994), Djoharnurani2 (1999), Mamannoor3 (1999), Sahid4 (1999) dan Wirjodirdjo5 (1999), namun demikian semua itu belum cukup dibanding dengan kekayaan ragam kesenian di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Buku ini merupakan himpunan beberapa tulisan para pakar seni budaya tentang fenomena-fenomena kesenian yang ada di Jawa antara lain tulisan Soeharyoso, Soetaryo, Sunyoto Usman, Soepomo, Soeprapto dan Umar Kayam dkk. Dari keseluruhan tulisan yang dihimpun di dalamnya dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni sebagian tulisan bersifat sinkronis sedangkan sebagian lainnya bersifat diakronis (historis). Tulisan Soeharyoso, Soetaryo, Sunyoto Usman, Soepomo dan Soeprapto dapat digolongkan ke dalam kategori analisis sinkronis. Adapun tulisan Umar Kayam dkk dapat digolongkan analisis historis.
Tulisan-tulisan yang dihimpun di dalam buku ini merupakan hasil penelitian yang dibidik dari sudut pandang tertentu dengan fokus dan angle tertentu pula. Tulisan Soeharyoso membahas dan memetakan jenis-jenis kesenian yang ada dari sudut pandang makro. Demikian pula tulisan Sunyoto Usman dan Soepomo-Soeprapto mendeskripsikan kesenian-kesenian tertentu dengan konteksnya, tetapi tidak seluas konteks geografis seperti yang ada dalam tulisan Soeharyoso. Sebaliknya tulisan Soetaryo mengambil sudut pandang mikro dengan melakukan pendalaman pada kesenian angguk dari desa Garongan. Secara ekstrem Soetaryo seolah-olah berusaha mengubah ketajaman fokus lensa yang digunakan oleh Soeharyoso. Tulisan Umar Kayam dkk merupakan hasil bidikan lensa dengan fokus yang digerakkan dari fokus yang kecil ke yang lebih besar. Hasilnya adalah deskripsi yang agak rinci mengenai jenis kesenian tertentu, sejarah kesenian tersebut secara singkat, kehidupan perkumpulan kesenian tertentu dan konteks perubahan masyarakat pemilik kesenian tersebut.
Secara keseluruhan buku ini terdiri atas tujuh tulisan ilmiah tentang kesenian. Tulisan pertama berjudul “Seni dalam Beberapa Perspektif: Sebuah Pengantar” oleh Heddy Shri Ahimsa Putra selaku penyunting. Pada awal tulisannya Ahimsa secara eksplisit menyatakan keprihatinan yang cukup mendalam berkaitan dengan perkembangan kajian atau analisis fenomena kesenian dan seni di Indonesia yang ditinjau dari sisi kualitas maupun kuantitas belum sepadan dengan kebutuhan. Sebagai sebuah pengantar, tulisan ini menyampaikan ulasan tentang lima tulisan lain yang ada di dalam buku ini. Kelima tulisan ini digolongkan menjadi dua dua kategori, yakni tulisan yang bersifat sinkronis dan yang bersifat diakronis (historis). Dikatakan bahwa dari kelima tulisan ini pembahasan dilakukan melalui fokus dan angle tertentu sehingga menghasilkan tulisan-tulisan yang bersifat makro, mikro dan historis.

Jenis dan Persebaran Teater Tradisional di Sleman
Tulisan kedua adalah “Teater Tradisional di Sleman, Yogyakarta: Jenis dan Persebarannya” yang ditulis oleh Soeharyoso6. Tulisan ini merupakan laporan hasil penelitian yang dibiayai oleh Rockefeller Fondation di Sleman pada tahun 1979 dengan judul asli, “Penyebaran Teater Tradisional di Kabupaten Sleman”. Di dalam tulisannya Soeharsoyo membahas tentang jenis dan persebaran teater tradisional di Sleman, Yogyakarta antara lain: (1) wayang, (2) Langen Mondro Wanoro, (3) Kethoprak, (4) Sruntul, (5) Ande-ande Lumut, (6) Srandul, (7) Dadung Awuk, (8) Tayub, (9) Jatilan dan Reog, dan (10) slawatan. Dalam kehidupan masyarakat Sleman, keberadaan teater tradisional erat kaitannya dengan upacara-upacara atau kegiatan yang menyangkut adat-istiadat, bahkan acap kali menjadi media pendidikan mental dan dapat pula berkembang menjadi media penyaluran kritik sosial terhadap kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Persebaran teater tradisional ini adalah di kalangan masyarakat petani. Mereka menjadikan kesenian ini sebagai hobby yang dilakukan pada malam hari.
Dari hasil penelitian di 17 kecamatan diketahui bahwa dari berbagai jenis teater tradisional yang ada, jenis teater yang memiliki populasi terbanyak adalah kethoprak dengan jumlah perkumpulan 249 buah (22,95%). Terbanyak kedua adalah karawitan dengan jumlah 213 buah (19,63%), disusul wayang orang 108 buah (9,95%), slawatan 81 buah (7,46%), jatilan 75 buah (6,91%), salang wayang kulit 41 kelompok (3,78%), srandul sembilan kelompok (0,83%), reog delapan kelompok (0,74%), dalang wayang klithik lima orang (0,46%), ande-ande lumut empat kelompok (0,37%), dalang wayang golek tiga orang (0,28%), dadung awuk dua kelompok (0,18%) serta langendriyan, langen mondro wanoro dan tayub masing-masing satu kelompok (0,09%).

Angguk di Garongan
Tulisan ketiga, “Kesenian Angguk di Desa Garongan” oleh Soetaryo7. Tulisan ini merupakan hasil penelitian mengenai keberadaan kesenian angguk di desa Garongan, sebuah desa yang terletak di pantai selatan Yogyakarta. Penelitian dilakukan pada tahun 1979 dengan biaya bersumber dari Rockefeller Fondation. Kesenian angguk yang menjadi subyek penelitian memiliki spesifikasi dibanding dengan angguk di daerah lain. Meskipun sama-sama kesenian bernafas islami, angguk di Garongan sangat khas yaitu atraksi klimaks yang disebut ndadi (trance) yang menurut kepercayaan masyarakat setempat melibatkan kekuatan magis (kekuatan sakti). Kekuatan magis ini diyakini dapat hadir karena adanya jimat yang diperoleh dari seorang jurukunci pasarean Bagelen, Kabupaten Purworejo serta roh-roh yang diperbantukan untuk membuat pemain angguk mengalami trance.
Tulisan ini dimaksudkan untuk menggambarkan seluk-beluk kesenian angguk desa Garongan dengan fokus perhatian pada atraksi ndadi atau wuru. Namun demikian hal-hal yang terkait dengan teknis penyajian juga dibahas secara proporsional, antara lain tentang peralatan musik, kostum pemain, tarian dan pantun-pantun yang dapat dibedakan menjadi pantun nasehat atau pendidikan, pantun muda-mudi dan pantun sakral. Sebagai fokus bahasan ndadi dalam pertunjukan angguk di Garongan dibahas cukup jelas mengenai pengertian ndadi, persyaratan ndadi, tentang roh suci beserta cara menerima dan memelihara hubungan dengan roh suci hingga rasa, keadaan dan penyembuhan ketika seorang pemain angguk mengalami ndadi.

Apresiasi Masyarakat Yogyakarta terhadap Musik Populer
Tulisan keempat, “Apresiasi Masyarakat Yogyakarta terhadap Musik Populer” oleh Suntoyo Usman8. Tulisan ini merupakan laporan hasil penelitian tentang tingkat apresiasi masyarakat Yogyakarta terhadap musik populer. Penelitian yang dibiayai oleh Rockefeller Fondation ini dilakukan pada tahun 1980 dengan mengambil lokasi di RK Cokrodirjan dan RK Kotabaru, Kotamadya Yogyakarta dengan judul asli “Apresiasi Masyarakat terhadap Musik Populer”. Dalam tulisan ini dijelaskan bahwa musik populer merupakan salah satu jenis musik bertiti nada diatonis yang memiliki “masyarakat pendengar” yang cukup luas.
Ada tiga faktor penting yang mempengaruhi apresiasi masyarakat warga masyarakat terhadap musik populer, yakni: (1) derajat pengenalan, (2) pembiasaan, dan (3) identitas pergaulannya dengan musik populer. Derajat pengenalan adalah persentuhan orang dengan suatu produk musik populer tertentu. Pembiasaan merupakan frekuensi persentuhan orang dengan suatu produk musik populer tertentu. Adapun identitas pergaulan yang dimaksud adalah pengetahuan yang lebih mendasar mengenai aspek-aspeknya serta keterlibatan (baik secara kuantitatif maupun kualitatif) dalam kegiatan yang mempergunakan musik populer sebagai salah satu sarana pokok. Dua sifat yang mewarnai musik populer adalah komersialitas dan kepraktisannya. Produk musik populer yang dimaksud di sini antara lain berupa: (1) rekaman musik populer (berbentuk kaset atau piringan hitam), (2) pementasan musik populer (live-show) yang komersial, dan (3) penyajian musik populer melalui televisi.
Di dalam penelitiannya Suntoyo Usman mengamati penyiaran musik populer melalui radio-radio yang ada di Yogyakarta antara lain RRI Yogyakarta, Radio Arma Sebelas, Radio EMC, dan Radio Reco Buntung. Dalam upaya mengumpulkan data-data penelitian, Suntoyo Usman mengamati masyarakat Kotabaru dan dan Cokrodirjan melalui prosentase berdasarkan kewarganegaraan, golongan umur dan jenis kelamin, tingkat pendidikan, mata pencaharian, sarana komunikasi serta jenis dan organisasi sosial. Untuk mengumpulkan data-data tentang intensitas kontak masyarakat dengan dengan musik populer diperoleh melalui kebiasaan mendengarkan dan menyaksikan pementasan, pemilikan kaset rekaman, ketrampilan bermain musik serta keikutsertaan dalam kelompok musik dan tari pergaulan. Adapun kegemaran terhadap musik populer ditinjau dari kegemaran terhadap melodi, kegemaran terhadap ritme (irama), kegemaran terhadap syair, kegemaran terhadap warna suara penyanyi dan instrumen musik dan alasan kegemaran.

Apresiasi Masyarakat Yogyakarta terhadap Dagelan Mataram
Tulisan kelima, “Dagelan Mataram: Apresiasi Masyarakat Yogyakarta” oleh Soepomo Poedjosoedarmo9 dan Soeprapto Budi Santoso. Tulisan ini merupakan laporan hasil penelitian tentang tingkat apresiasi masyarakat Yogyakarta terhadap dagelan Mataram. Penelitian yang dibiayai oleh Rockefeller Fondation ini dilakukan pada tahun 1980 dengan judul asli, “Tingkat Penerimaan Masyarakat terhadap Dagelan Mataram di Wilayah Kotamadya Yogyakarta (Sebuah Laporan Penelitian)”. Dalam tulisannya kedua penulis ini mengungkapkan bahwa dagelan Mataram merupakan suatu jenis kesenian Jawa yang dilahirkan di lingkungan Kraton Yogyakarta ketika GP Hangabehi, putra Sultan Hamengkubuana VIII, pada tiap-tiap hari kelahirannya memanggil para abdi dalem oceh-ocehan ke rumah kediamannya untuk membuat tertawa orang yang melihat dan mendengar ocehan mereka. Dagelan Mataram memiliki ciri-ciri tertentu antara lain: (1) mengandung ceritera tertentu, (2) memakai bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar, (3) materi cerita diangkat dari kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa, (4) diiringi gamelan dan sinden sebagai ilustrasi, (5) kadang-kadang memakai tarian, (6) pemain kadang-kadang menyanyikan tembang, dan (7) memakai kostum pakaian Jawa gaya Surakarta atau pakaian yang berasal dari kesenian Jawa lainnya (kethoprak atau wayang wong).
Di dalam tulisan ini dipaparkan beberapa kisah kehidupan pribadi para pemain, antara lain: (1) Hardjo Gepeng (Dagelan “Gudeg Yogya”), (2) Darsono (Dagelan “Gudeg Yogya”), (3) Marsidah, BSc. (Dagelan “Gudeg Yogya”), (4) Suprapto (Dagelan “Gudeg Yogya”), (5) Dul Hadi (Ngabdul), (6) Suprapti, (7) Nyi Put (Bu Basiyo), (8) Suhartini, dan (9) Bu Tik. Fokus bahasan berkisar pada dagelan Mataram dan perusahaan kaset, dagelan Mataram dalam siaran radio dan tingkat penerimaan masyarakat. data mengenai tingkat penerimaan masyarakat bersumber dari pengamatan terhadap pekerja kasar, pedagang, mahasiswa, pegawai dan ibu rumah tangga,pelajar elite dan pelajar slump.

Pertunjukan Rakyat Tradisional Jawa dan Perubahannya
Tulisan keenam, “Pertunjukan Rakyat Tradisional Jawa dan Perubahannya” oleh Umar Kayam10. Tulisan ini merupakan laporan penelitian yang didanai oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1985) dengan judul asli, “Beberapa Bentuk Seni Tradisional Jawa”. Di dalam tulisan ini Umar Kayam dkk menguraikan bahwa kesenian tradisional Jawa memiliki ragam yang cukup banyak meliputi seni rupa, seni tari, seni sastra dan seni teater (drama). Dalam kehidupannya seni tradisional mempunyai fungsi penting yang terlihat terutama pada dua segi, yaitu segi daya jangkau penyebarannya dan segi fungsi sosialnya.
Fokus bahasan tulisan ini adalah kajian secara diakronis tentang tiga kesenian tradisional yang ada di Jawa antara lain: kethoprak, ludrug dan wayang wong. Sebagai bentuk kajian diakronis, penelitian terhadap ketiga jenis kesenian yang menjadi sasaran meliputi aspek kesejarahan, sisi organisasi, ekonomi perkumpulan, struktur pertunjukan dan apresiasi penonton. Pembahasan menganai kethoprak mengambil sasaran perkumpulan kethoprak “P.S. Bayu”. Untuk pembahasan mengenai ludruk sasaran penelitian pada perkumpulan ludruk “Bintang Jaya”. Adapun pembahasan mengenai wayang wong sasaran penelitian pada perkumpulan wayang wong “Sriwedari”. Pada bagian akhir disebutkan bahwa kecenderungan yang kurang menggembirakan serta perubahan yang terjadi pada seni pertunjukan tradisional Jawa pada umumnya berhubungan dengan terjadinya perubahan-perubahan tertentu dalam masyarakat. Ada dua macam perubahan yang dikaji dalam tulisan ini yaitu perubahan teknologi komunikasi serta perubahan sistem sosial dan sistem nilai. Sebagai bagian dari kajian dibahas pula tentang tanggapan seni tradisioal terhadap modernisasi berupa respon pasif dan respon aktif. Respon pasif berupa kesediaan menerima segala tuntutan yang terjadi sehingga menyebabkan seni tradisional berada dalam posisi yang bersaing dengan seni modern produksi massal. Adapun respon aktif berupa usaha mencari peluang yang belum diisi oleh seni modern.

Kajian Tekstual, Kontekstual dan Post-Modernistis dalam Kesenian
Tulisan ketujuh, “Wacana Seni dalam Antropologi Budaya: Tekstual, Kontekstual dan Post-Modernistis” oleh Heddy Shri Ahimsa Putra. Tulisan ini merupakan perbaikan dan pengembangan dari artikel “Sebagai Teks dalam Konteks: Seni dalam Kajian Antropologi Budaya” yang dimuat dalam Jurnal Seni edisi VI/01, Mei, 1998. Di sini Ahimsa tidak memusatkan pembahasan pada bidang seninya, melainkan lebih pada paradigmanya yang difokuskan pada dua bentuk kajian, yaitu: (1) kajian yang memandang fenomena kesenian sebagai suatu teks yang relatif berdiri sendiri, dan (2) kajian yang menempatkan fenomena tersebut dalam konteks yang lebih luas, yaitu konteks sosial budaya masyarakat tempat fenomena kesenian itu muncul atau hidup. Kajian tekstualistik adalah kajian simbolis atau hermeneutik (interpretative) dan kajian struktural (ala Levi-Strauss), sedangkan kajian kontekstualistik didominasi oleh paradigma ekonomi politik, yang melihat kesenian tidak lepas dari berbagai kepentingan politik individu-individu, yang sedikit banyak bersangkut paut dengan kesenian tersebut.
Pandangan post-modernistis umumnya tidak melakukan analisis atau memahami isi suatu fenomena, tetapi mendekonstruksikannya, meruntuhkannya atau mempertanyakan kembali, membuat sebagian ahli antropologi mempertanyakannya kembali apa etnografi itu sendiri, dan ini ternyata mempunyai implikasi radikal. Pandangan post-modernistis memungkinkan semakin lebih jelas pengaruhnya terhadap kesenin dalam antropologi. Melalui pandangan ini dapat dimunculkan etnografi eksperimental yang akan menghilangkan batas-batas yang memisahkan “seni” dan “ilmiah” sehingga semakin memberikan kesadaran akan implikasi politis dari etnografi itu sendiri.

Setetes Air di Tengah Sahara
Sebagai tulisan yang dihasilkan di tengah kelangkaan kajian dan analisis tentang kesenian, buku ini seolah-olah hadir sebagai setetes air di tengah sahara. Beberapa tulisan yang berhasil dihimpun merupakan hasil analisis akademisi di bidang kebudayaan yang juga menjadi pendukung kebudayaan itu sendiri. Oleh karena itu analisis di dalamnya merupakan hasil pemikiran para pelaku budaya yang sehari harinya mengetahui setiap gerak perubahan ragam kesenian yang menjadi bahan tulisannya. Hal ini memungkinkan tulisan yang berhasil disusun sesuai dengan berbagai fakta konkret yang terjadi di lapangan.
Secara umum buku ini mengambil tema tentang bagaimana orang Jawa mengungkapkan pengalaman-pengalaman estetisnya melalui aneka ragam kesenian yang dihasilkannya. Dalam wacana pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan, seni tradisi Jawa dapat dibedakan menjadi seni tradisi kraton dan seni tradisi kerakyatan (kesenian rakyat). Seni tradisi kraton lahir, tumbuh dan berkembang di lingkungan kraton yang erat sekali kaitannya dengan kekuasaan raja-raja Jawa. Adapun kesenian rakyat lahir, tumbuh dan berkembang di lingkungan komunitas rakyat jelata yang hidup di desa-desa yang jauh dari pengaruh kraton. Buku ini bukan dimaksudkan untuk membahas keunikan dan adiluhung-nya kesenian kraton, melainkan lebih memusatkan perhatian pada ragam kesenian rakyat yang tumbuh di luar tembok kraton. Orang Jawa yang dimaksud di dalam buku ini adalah para kawula atau rakyat kebanyakan yang dalam hidupnya tidak lepas dari usaha-usaha pemenuhan kebutuhan estetis sebagai salah satu kebutuhan pokok di luar kebutuhan fisik makan dan minum.
Ada dua kelemahan yang tampak di dalam buku ini. Pertama, tulisan-tulisan yang dihimpun dalam buku Ketika Orang Jawa Nyeni merupakan hasil penelitian yang dilakukan dalam rentang waktu tahun 1979-1985 sementara buku ini diterbitkan pada tahun 2000. Lamanya rentang waktu ini memungkinkan terjadinya deviasi antara analisis di dalam tulisan dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat buku ini diterbitkan. Seperti kita ketahui bahwa antara tahun 1979-1985 adalah masa pemerintahan Orde Baru yang nota bene adalah masa terjadinya model pemerintahan sentralistis. Pada waktu itu kekuasaan pemerintah pusat sangat kuat terhadap segala bidang kehidupan, termasuk kesenian. Banyak ragam kesenian yang kehadirannya sangat dimuati oleh unsur-unsur politik kekuasaan. Hal ini berbeda dengan tahun 2000 yang sudah memasuki era reformasi yang mengakibatkan kecenderungan terjadinya perubahan sosio kultural ke arah kebebasan (demokratisasi). Pada era terakhir ini jelas telah terjadi perubahan-perubahan yang sangat mendasar dalam berbagai aspek kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia.
Di sisi lain dalam rentang waktu yang cukup jauh antara pelaksanaan penelitian dan penerbitan akan berkaitan erat dengan fluktuasi pertumbuhan dan perkembangan kesenian yang diakibatkan oleh perubahan pola pikir masyarakat pendukungnya, sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan masukan data di dalam tulisan. Sebagai contoh pada tulisan Suntoyo Usman tentang produk rekaman hanya dicontohkan berbentuk kaset atau piringan hitam. Hal ini terjadi karena pada saat dilakukannya penelitian belum beredar bentuk rekaman lain seperti CD, VCD, DVD dan lain-lain.
Kedua, khususnya pada tulisan Soeharyoso terjadi kesalahan entry data. Pada tulisannya yang berjudul “Teater Tradisional di Sleman, Yogyakarta: Jenis dan Persebarannya” Soeharyoso memasukkan karawitan dan slawatan ke dalam jenis teater tradisional. Kedua jenis kesenian ini adalah jenis musik tradisional, bukan teater tradisional seperti yang tercantum di dalam tulisan Soeharyoso. Kesalahan demikian dapat memicu pemahaman yang keliru tentang pengertian musik dan teater.
Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang ada, buku ini merupakan bentuk analisis dan kajian tentang kesenian yang cukup mendalam. Sejauh ini tidak banyak dijumpai tulisan-tulisan sejenis yang memiliki kejian mendalam dari sudut pandang kesenian itu sendiri. Tulisan-tulisan yang ada umumnya mengambil sudut pandang kajian sosiologis dan atau antropologis. Hal ini dapat dimaklumi karena kesenian sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya manusia. Selain itu pembicaraan kesenian dari sisi kajian ilmiah merupakan sesuatu yang relatif baru dalam perkembangan dunia ilmu pengetahuan, khususnya di Indonesia.
Yang membuat buku ini semakin menarik adalah penggunaan bahasa yang lugas dan runtut. Para penulis mampu merumuskan ide dan pemikirannya dalam sebuah teks yang mudah dipahami oleh pembaca. Namun demikian satu hal yang dapat dianggap sebagai kelemahan adalah hampir keseluruhan teks di dalam buku ini terasa kering. Hal ini dapat dipahami karena tulisan-tulisan yang dihimpun dalam buku ini merupakan hasil penelitian sehingga lebih banyak menggunakan ragam kata yang bersifat formal seperti layaknya laporan penelitian pada umumnya.
Di dalam buku ini terdapat beberapa kesalahan cetak yang tidak prinsip namun terasa mengganggu. Nama pengarang pada tulisan pertama Ahimsa menggunakan ‘oe’ untuk nama Soeharyoso, namun pada tulisan kedua tertulis Suharyoso. Selain itu penulisan kata-kata asing (bahasa Jawa) tidak konsisten. Pada beberapa kata dicetak miring (italic), tetapi pada kata yang lain tidak dicetak miring.
Dalam wacana perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini, buku Ketika Orang Jawa Nyeni bukan saja penting untuk mereka yang belajar kesenian, tetapi juga dapat memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi pengembangan ilmu-ilmu humaniora, khususnya antropologi dan sosiologi. Dengan demikian buku ini layak dikonsumsi oleh kalangan akademisi yang tertarik pada penelaahan seni budaya.

***
1 Sudiro Satoto, “Teater sebagai Sistem Tanda” dalam Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia, tahun V, 1994, halaman 6-25.
2 Djoharnurani, “Seni dan Intertekstualitas: Sebuah Perspektif”, makalah Pidato Ilmiah pada Disnatalis XV Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, 1999.
3 Mamannoor, “Pendekatan Kosmologi Metafisik Kritik Seni Rupa di Indonesia”, dalam Jurnal Seni edisi VI/03, 1999, halaman 232-250.
4 Sahid, “Pendekatan Sosiologi Teater dan Permasalahannya”, dalam Jurnal Seni edisi VI/03, 1999, halaman 171-184.
5 Wirjodirdjo, “Keris dalam Bingkai Pandang Semiotik”, dalam Jurnal Seni edisi VI/03, 1999, halaman 301-313.
6 Soeharyoso adalah dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
7 Soetaryo adalah staf pengajar di Jurusan Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajahmada Yogyakarta.
8 Suntoyo Usman adalah staf pengajar di Jurusan Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajahmada Yogyakarta.
9 Soepomo Poedjosoedarmo adalah Guru Besar dalam bidang linguistik Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan peneliti senior di Pusat Penelitian Kebudayaan dan Perubahan Sosial UGM.
10 Umar Kayam adalah guru besar emeritus pada Fakultas Sastra UGM. Penulis lain yang bersama-sama terlibat dalam penulisan laporan penelitian ini adalah Ryadi Gunawan, Faruk dan Ahmad Adaby Durban.

THESIS ABSTRACT


Baca Selengkapnya...
CALUNG:
The Study of Banyumas Culture Identity

This research represents an effort studying identity of Banyumas culture through the artistry phenomenon in the form of calung music. Material object studied is phenomenon of calung music in Banyumas, representing one of folk music type, which characteriscally show the existence of Banyumas people with all the ins and outs of its civilization and culture. As for formal object in this research is identity of Banyumas culture, that is form distinguish the physiological characteristic and characteristic which is there are in all idea or imagine, behavioral and also result of idea and behavior of Banyumas society becoming distinguishment with the other culture. Problems raised is (1) which shares from musical form at calung Banyumasan realizing the existence of existence of identity of Banyumas culture, and (2) how identity of culture of Banyumas represented through the show of calung music. The goal of this research are (1) described part of part of musical form at calung Banyumasan realizing the existence of identity of Banyumas culture, (2) knowing ideas or imagine and also their culture activity that is manifested their culture identity, and know the form of Banyumas culture identity, that is represented by the show of calung music. To answer the raised question, this research based in identity theory as which is telling by Judith Starkey that individual feeling as integral part from its property culture and also culture ability define their self as a different system with the other culture. The approach or paradigm used is phenomenology (etno science), that is a way of coming near research problems through the phenomenon that happened in it. Research location is Banyumas cultural dissemination region that is covering administrative territory of Banyumas regency, Purbalingga regency, Banjarnegara regency, Cilacap regency and apart of Kebumen regency. Data collecting conducted with the interview technique, observation, documentation and books studies. Result of research show that the culture identity of Banyumas manifested from taste and conception of thinking of the clan penginyongan representing especial prop of this culture. Calung represent one of the artistry assumed can placed and become the icon for the existence of Banyumas culture.


Key Words: Calung, Culture Identity, Banyumas Culture

Saturday, May 17, 2008

PERTUNJUKAN BEGALAN


Baca Selengkapnya...
Pertunjukan begalan di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas
Begalan merupakan bentuk pertunjukan teater tradisional yang masih tumbuh subur di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas. Pertunjukan begalan dilaksanakan pada upacara pernikahan tradisional khusus untuk anak sulung (mbarep) dan atau anak bungsu (ragil). Pada gambar di atas dapat dilihat salah satu pemain memikul properti berupa perkakas dapur. Properti ini lazim disebut brenong kepang atau bubak kawah. Semua benda yang termasuk di dalam properti begalan menjadi media simbolik bagi piwulang yang diamanatkan kepada kedua mempelai. Simbol-simbol tersebut secara umum berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan, baik dalam tataran kehidupan pribadi, kehidupan keluarga maupun kehidupan sosial.

PEMENTASAN CALUNG PADEPOKAN SENI BANYU BIRU


Baca Selengkapnya...
Pementasan Calung oleh Padepokan Seni Banyu Biru
Calung sebagai salah satu jenis musik tradisional yang merupakan representasi identitas kebudayaan Banyumas masih tumbuh subur di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya. Salah satu kelompok kesenian yang terus berusaha mengembangkan musik ini adalah Padepokan Seni Banyu Biru yang bermarkas di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Kelompok seni yang satu ini mengembangkan calung baik dalam konsep garap tradisional maupun kontemporer.
Gambar di atas adalah salah satu pementasan Padepokan Seni Banyu Biru di auditorium RRI Jakarta pada tanggal 26 April 2008 yang lalu. Pada kesempatan itu ditampilkan sajian calung versi garap tradisional. Versi garap kontemporer yang saat ini sedang diproyeksikan adalah sajian calung untuk keperluan musikalitasi pada produksi film.
Pada tahun 2008 sedang direncanakan padepokan seni ini terlibat pada pembuatan empat buah film sekaligus; 3 (tiga) buah film dokumenter tentang lengger lanang, ebeg dan ujungan, serta satu buah film layar lebar tentang lengger lanang. Pembuatan film tersebut melibatkan berbagai komponen seperti Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas, Balitbangtelarda Kabupaten Banyumas serta para pekerja film dari Purbalingga, Jakarta dan Yogyakarta.

SUNGAI SERAYU


Baca Selengkapnya...
Sungai Serayu
Bagi masyarakat Banyumas sungai Serayu memiliki makna yang sangat penting. Kata "serayu" konon berasal dari kata "soroh" (menyerahkan) dan "hayu" (hidup), yang berarti totalitas penyerahan hidup manusia Banyumas terhadap alam semesta. Ini merupakan wujud pemahaman kosmologi masyarakat tradisional di wilayah ini, bahwa kehidupan manusia di dunia menjadi bagian tak terpisahkan dari alam semesta. Alam memiliki kekuatan yang teramat dahsyat, yang mampu memberikan pengaruh apapun terhadap kehidupan manusia, baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, dalam usaha menjaga kontinuitas kehidupan dunia, manusia wajib secara total menyerahkan diri sebagai bagian integral perjalanan alam semesta.
Pada masa penyebaran agama Hindu, sungai Serayu digambagkan sebagai analogi dari sungai Gangga di India. Di wilayah Banyumas terdapat legenda bahwa sungai Serayu dibuat oleh Bima hanya dengan menggunakan (maaf!) penisnya. Sumber mata air sungai ini di pegunungan Diang bernama Tuk Bima Lukar. Menurut legenda yang berkembang, pembuatan sungai Serayu dilakukan merupakan acara lomba dengan para Korawa yang berjumlah 100 orang, dipimpin oleh Pendhita Drona. Bima membuat sungai Serayu, sementara Korawa membuat sungai Klawing.
Sesampainya di suatu tempat, Bima didampingi oleh punakawan menggelar tikar untuk istirahat makan. Namun belum sempat memakan bekal yang sudah disiapkan terdengar sorak-sorai Korawa yang merasa yakin akan memenangkan lomba itu. Akhirnya Bima batal istirahat. Tempat untuk menggelar tikar selanjutnya disebut kampung "Gelaran". Bima memandang (Jawa: nyawang) ke arah selatan dan tampak (Jawa: katon) para Korawa sedang berpesta merayakan kemenangan mereka. Tempat untuk memandang (nyawang) selanjutnya disebut kampung "Sawangan" dan tempat para Korawa tampak sedang berpesta disebut "Somakaton" (berasal dari kata para "Kusuma wus katon"). Ketiga tempat ini terdapat di wilayah Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas.
Khawatir mengalami kekalahan, maka Bima segera mempercepat kerjanya, dan akhirnya memenangkan perlombaan. Kekalahan Korawa menempatkan Pandhita Drona sebagai korban. Pandhita dari Sokalima itu dihukum dengan cara dipotong penisnya dan dibuang di tepian sungai Klawing. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Panembahan Drona, bertempat di Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga. Di tempat itu masih tersimpan sebuah lingga yang konon penjelmaan dari penis Pandhita Drona.
Di luar legenda yang berkembang tersebut di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa keberadaan sungai serayu sangat terkait dengan pamah tentang kesuburan. Sungai dan atau air identik dengan kesuburan. Paham demikian selaras dengan cerita lain tentang air, seperti banyu prewita urip, air kehidupan dan lain-lain. Di sisi lain, alat kelamin pun lazim dikaitkan dengan paham tentang kesuburan seperti halnya artefak-artefak masa klasik (Hindu-Budha) ditemukan lingga dan yoni yang juga dipahami terkait dengan upacara kesuburan.
Pada era sekarang ini, sungai Serayu marupakan salah satu dari dua ikon penting kepariwisataan Banyumas, yaitu gunung Samet dan sungai Serayu. Dengan dua ikon penting inilah, Kabupaten Banyumas tengah menggencarkan usaha mewujudkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Tengah.