Friday, December 14, 2007

UJUNGAN


Baca Selengkapnya...

Anda pernah dengar istilah "ujungan"? Ya, inilah sebuah acara unik yang masih dapat dijumpai di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas. Ujungan adalah olahraga sekaligus ritual tradisional minta hujan. Tradisi ini dilaksanakan pada musim kemarau panjang dengan cara adu pukul menggunakan sebilah rotan yang disebut "ujung", dipimpin oleh seorang wasit yang disebut "wlandang". Konon, semakin banyak darah yang keluar akibat pukulan rotan akan semakin mempercepat datangnya hujan. Ritual ujungan masih menjadi bagian tradisi di wilayah perbatasan kabupaten Banyumas, Banjarnegara dan Purbalingga, yaitu di wilayah kecamatan Somagede, Susukan dan Kemangkon.

COWONGAN


Baca Selengkapnya...

Cowongan, ritual tradisional minta hujan yang masih menjadi bagian dari tradisi masyarakat di desa Plana, kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas. Ritual ini dilaksanakan pada saat terjadi kemarau panjang. Pelakunya terdiri dari kaum wanita yang tengah dalam keadaan suci. Mereka percaya bahwa melalui upacara ini akan hadir bidadari yang merasuk ke dalam properti ritual yang berupa alat dapur: irus atau siwur.

Sunday, December 9, 2007

USAHA PENGEMBANGAN LENGGER


Baca Selengkapnya...

Sebagai wujud kepedulian terhadap pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Banyumas, saya berusaha terus-menerus berperan aktif dalam eksplorasi ragam kesenian lokal Banyumas. Salah satunya adalah seni lengger yang merupakan bagian integral dari kehidupan tradisi setempat. Pada gambar dapat dilihat 'lengger-lengger' muda yang terdiri anak-anak sekolah. Gambar tersebut diambil saat mereka pentas bersama dengan seniman Jepang dan Institut Seni Indonesia Surakarta tanggal 25 Agustus 2007 yang lalu bertempat di Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas.

Sangat dibutuhkan dukungan dari semua pihak agar langkah ini dapat terus berlanjut yang berguna bagi kontinuitas berbagai ragam kearifan lokal Banyumas. Bagi pembaca yang berminat silakan segera kontak ke yus_pelana@yahoo.com atau via HP 081 327341514. Terima kasih.
Salam,
Yus

Saturday, December 8, 2007

GUNUNG SLAMET DAN SUNGAI SERAYU


Baca Selengkapnya...
Gunung Slamet dan sungai Serayu sebagai
ikon kebudayaan lokal Banyumas

CALUNG BANYUMASAN


Baca Selengkapnya...
Calung Banyumasan

Friday, December 7, 2007

WUJUD KEBUDAYAAN BANYUMAS: MEMBANGUN IDENTITAS


Baca Selengkapnya...
Wujud kebudayaan Banyumas berupa local genius dari kelompok-kelompok kecil masyarakat yang mendiami dusun-dusun, grumbul-grumbul dan desa-desa yang dibatasi oleh gunung, sawah, ladang, sungai, hutan dan semak belukar. Di setiap lokus komunitas kecil itu terdapat spesifikasi budaya yang dibangun berdasarkan peradaban lokal komunitas tersebut. Oleh karena itu tidak mustakhil apabila suatu ragam kesenian ada di satu kelompok masyarakat, tetapi tidak terdapat di kelompok masyarakat lainnya, meskipun semua itu masih berada di dalam ranah kebudayaan Banyumas.
Edi Sedyawati menjelaskan bahwa dalam konteks kemasyarakatan, jenis-jenis kesenian tertentu memiliki kelompok-kelompok pendukung tertentu pula (Edi Sedyawati et al, 1986:4). Di Banyumas, bongkel hanya ada di Gerduren, Purwojati. Jemblung hanya hidup di wilayah Sumpiuh dan Tambak. Ujungan hanya di wilayah segitiga perbatasan Kabupaten Banyumas, Banjarnegara dan Purbalingga. Krumpyung hanya terdapat di Kecitran, Banjarnegara dan masih banyak ragam kesenian lain yang tersebar di satuan kelompok-kelimpok kecil masyarakat dalam lingkup grumbul, dusun ataupun desa.

Demikian pula dalam hal bahasa. Bahasa Jawa dialek Banyumas terbagi setidaknya menjadi sub dialek, yaitu sub dialek wetan kali (sisi timur sungai) dan sub dialek kulon kali (sisi barat sungai). Yang dimaksud sungai di sini adalah sungai Serayu. Sub dialek wetan kali merupakan dialek Banyumasan yang cenderung dekat dengan bahasa Jawa standar yang dikembangkan di wilayah negarigung. Sedangkan dialek kulon kali cenderung dekat dengan bahasa Sunda. Fakta yang paling mudah ditemukan adalah nama-nama desa. Di sisi barat sungai Serayu terdapat begitu banyak desa atau tempat-tempat yang didahului kata “ci” yang dalam bahasa Sunda berarti sungai, seperti Cilongok, Cingebul, Cilacap, Cionje dan lain-lain. Ini berbeda dengan desa-desa atau tempat-tempat di sebelah timur sungai Serayu yang lebih njawani, seperti Karangsalam, Karangrau, Purwareja, Wirasaba, Somagede dan lain-lain. Kenyataan demikian tidak dapat disangkal meskipun nama-nama njawani berkembang lebih meluas hingga sisi barat sungai Serayu. Semua itu terjadi karena sungai Serayu telah menjadi batas terakhir perkembangan kebudayaan Sunda, sementara persebaran kebudayaan Jawa merambah hingga perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Lebih dari itu pada tingkat kelompok-kelompok kecil ternyata juga terdapat perbedaan-perbedaan sub dialek yang tercermin pada pilihan kosa kata, intonasi, dan gaya bahasa. Di wilayah kulon kali, terdapat banyak sub dialek seperti yang terdapat di wilayah Kalibagor hingga Purwokerto yang berbeda dengan Karanglewas dan Cilongok. Hal ini berbeda dengan yang terdapat di Ajibarang hingga Lumbir. Semakin ke arah barat, semakin kental pula warna Sundanya. Namun justru ada kekhususan, di daerah Wanareja dan sekitarnya justru banyak digunakan bahasa Jawa bandhek (standar) untuk komunikasi sehari-hari. Hal tersebut terjadi karena di wilayah Wanareja dihuni oleh orang-orang dari Wetan (wilayah Blora, Pati, Klaten dan lainnya) bekas narapidana Nusakambangan pada masa penjajahan Belanda yang tidak pulang ke daerahnya. Artinya, sejak lama di wilayah Wanareja justru telah dihuni oleh masyarakat multietnis yang memungkinkan terciptanya sub kebudayaan tersendiri di dalam konteks kebudayaan Banyumas secara keseluruhan.
Fakta tersebut di atas memberikan petunjuk bahwa kebudayaan Banyumas ternyata tidak dibangun oleh sebuah komunitas masyarakat yang homogen. Identitas kebudayaan Banyumas justru dibangun dari serpihan-serpihan komunitas masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang menghuni di wilayah Banyumas. Hal ini sangat bisa dipahami karena pada dasarnya identitas budaya dibangun oleh individu-individu sejauh dia dipengaruhi oleh tanggung jawabnya terhadap sebuah kelompok atau kebudayaan (Wikipedia,2006). Karakter individu sangat berperan di sini. Karakteristik individu berakar pada identitas dasar yang dibawa semenjak lahir dan merupakan suatu anugerah yang tidak bisa dihindari. Identitas dasar itulah yang kemudian membentuk “keakuan” dan membedakannya dengan yang lain (Ubid Abdillah S., 2002:12). Karakteristik individu pada orang per orang yang mendiami wilayah Banyumas kemudian disatukan oleh perasaan kebersamaan. Ibarat sapu, individu-individu di Banyumas adalah lidinya, sedangkan suh (pengikat)-nya adalah perasaan kebersamaan. Adanya perasaan kebersamaan ini kemudian terbentuk suatu sistem kebudayaan; kebudayaan Banyumas.

Perasaan kebersamaan diwujudkan melalui berbagai cara dan ekspresi seperti yang tampak pada bahasa dan kesenian-kesenian tertentu yang berkembang meluas di seantero Banyumas. Bahwa bahasa dialek Banyumasan dengan sub-sub dialeknya merupakan ekspresi perasaan kebersamaan kaum penginyongan (Ahmad Tohari, 2006) di tengah hegemoni kebudayaan kraton Jawa. Musik calung adalah contoh konkret ragam kesenian yang mampu berperan sebagai pengikat rasa kebersamaan tersebut.

Calung tumbuh subur di berbagai lokus dan didukung oleh hampir semua kelompok masyarakat di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas. Keadaan demikian tentu saja bukan suatu hal yang kebetulan terjadi. Pasti ada sesuatu yang membedakan calung dengan ragam kesenian lain yang berkembang di dalam lokus yang lebih terbatas. Sebab, seperti dijelaskan Tolstoy, kesenian adalah kegiatan manusia yang secara sadar dengan perantaraan tanda-tanda lahiriah tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan perasaan-perasaan yang telah dihayatinya kepada orang lain (dalam The Liang Gie, 1976:60). Calung memiliki kekuatan yang menjadikannya dapat diterima dan dinikmati oleh lebih banyak orang Banyumas. Sebagaimana bahasa dialek Banyumasan, calung mampu berfungsi sebagai sarana komunikasi antar warga masyarakat Banyumas dalam konteks yang lebih luas.

Pada awalnya calung pun tentu bermula dari perkembangan lokal, berbagai serpihan khasanah kebudayaan Banyumas yang hanya hidup di kelompok kecil masyarakat. Namun demikian serpihan itu kemudian berkembang, baik secara kualitatif maupun kuantitatif (Edi Sedyawati, 1984,50-51) sehingga semakin memiliki kualitas estetis yang tinggi dan semakin luas jangkauan sebarannya. Seperti ditegaskan Van Zanten tentang body of concepts kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang tercermin di dalam realitas musik (Van Zanten, W., 1996), realitas musik pada calung mampu mewadahi sensitivitas dan sensibilitas perasaan serta konsep nilai yang dianut bersama-sama oleh masyarakat Banyumas.

Melalui ragam musik calung, masyarakat Banyumas menganyam dan merajut mata rantai identitas yang berbasis kehidupan kaum penginyongan. Franz Magnis Suseno mengungkapkan bahwa identitas sebuah bangsa adalah kediriannya yang terbentuk dalam proses perkembangannya, dalam sejarahnya (Franz Magnis Suseno, 1992:52). Kehadiran musik calung bermakna sebagai media ekspresi kedirian masyarakat Banyumas di tengah peradaban yang lebih luas. Terhadap nilai, ruh dan tampilan perwajahan calung, masyarakat Banyumas boleh jadi tidak perlu lagi membaca, sekalipun bisa membacanya. Hal ini karena ekspresi musikal pada sajian calung ibarat kata-kata yang mewakili gagasan-gagasan yang begitu saja keluar untuk dikomunikasikan kepada khalayak. Maka, khalayak yang berposisi sebagai komunikanlah yang membaca dan menterjemahkan makna ekspresi musik tersebut guna mengetahui ide atau gagasan yang ada di dalam benak pikiran orang Banyumas. Keberhasilan mengkomunikasikan gagasan itu sendiri, bagi mereka kemudian menjadi media menunjukkan karakter ‘keakuan’. Dengan cara demikian, maka mereka merasa lebih ‘hidup’.

Dalam hal ini Jennifer Lindsay menyatakan bahwa kesenian tradisional menjadi suatu ciri dalam identitas serta cermin kepribadian masyarakat pendukungnya (Jennifer Lindsay, 1991:39). Pernyataan Jennifer Lindsay dibuktikan oleh musik calung yang ternyata mampu berperan sebagai media ungkap identitas kebudayaan Banyumas. Hal demikian karena musik bambu tradisional ini telah dirasakan sebagai milik sendiri oleh masyarakat di lingkungannya. Calung diolah berdasarkan cita rasa masyarakat Banyumas selaku pendukung keberlangsungannya. Cita rasa di sini memiliki pengertian luas, termasuk nilai kebudayaan tradisi, pandangan hidup, pendekatan, falsafah, rasa etis serta estetis serta budaya setempat. Hasilnya berupa sebuah ragam musik yang membumi, mewakili jiwa sebagian besar masyarakat Banyumas dan kemudian diterima sebagai tradisi yang diwariskan oleh angkatan tua kepada angkatan muda.


DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Tohari, 2006, “Membangun Identitas Banyumas melalui Seni-Budaya”, Pointers makalah, disampaikan pada Sarasehan Seni yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas bertempat di Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas tanggal 20 Juli 2006.

Edi Sedyawati, 1984, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: Sinar Harapan.

_____ et al, 1986, Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Masalah tari, Jakarta: Direktorat Pengembangan Kesenian Proyek Pengembangan Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lindsay, Jennifer, 1991, Klasik, Kitsch, dan Kontemporer, Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Suseno, Franz Magnis, 1992, Filsafat Kebudayaan Politik. Butir-Butir Pemikiran Kritis, Jakarta: Gramedia.

The Liang Gie, 1976, Garis-garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan), Yogyakarta: Karya.

Ubid Abdillah S, 2002, Politik Identitas Etnis: Pergulatan Tanda Tanpa Identitas, Magelang: Indonesiatera.

Van Zanten, W., 1996, Sundanese Music In The Cianjuran Style., Foris Publication, Dordrecht-Holland/Providence - U.S.A.

Wikipedia Indonesia, 2006, “Indonesia: Era Orde Baru” Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Bagian dari seri Sejarah Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/ Indonesia:_Era_Orde_Baru.

MENIMBANG SAJIAN CALUNG BANYUMASAN: ANTARA WADAH DAN ISI


Baca Selengkapnya...
Humardani mengungkapkan bahwa bentuk adalah unsur dari semua perwujudan. Bentuk-bentuk lahiriah tidak lebih dari suatu medium, yaitu alat untuk mengungkapkan (to express) dan menyatakan (to state atau to communicate) isi (SD. Humardani, 1959:1). Pandangan Humardani menunjukkan berbagai ragam kesenian merupakan wujud dari ungkapan isi pandangan dan tanggapan seniman ke dalam bentuk fisik yang dapat ditangkap indra. Yang dimaksud dengan isi di sini adalah nilai-nilai, pandangan hidup dan pengalaman empirik seniman yang terekam dalam memori otak dan perasaan yang kemudian hadir ide-ide atau gagasan-gagasan estetik. Dengan kata lain, bentuk adalah wadah yang dipergunakan untuk mengungkapkan isi yang berupa nilai-nilai. Keduanya, wadah dan isi, merupakan satu-kesatuan wujud kesenian tradisional yang mencerminkan sistem nilai, pola pikir dan pandangan hidup masyarakat pendukungnya.
Sajian calung tidak lain merupakan wadah yang memuat cita rasa dan hadir sebagai hasil budidaya masyarakat Banyumas yang menjalankan kodratnya yang hidup dengan selalu mengenal keindahan. Ia tumbuh mengakar pada kehidupan masyarakat setempat dengan kerangka, pola-pola dan bentuk yang mengikat serta penerapan yang berulang-ulang. Inilah yang membuatnya hidup kontinyu, menjadi tradisi dan mendapat dukungan dari sebagian besar masyarakat Banyumas.

Dilihat dari sisi bentuk, calung memiliki wujud yang kasar. Ini merupakan salah satu ciri kesenian rakyat. Dalam hal ini Edi Sedyawati mengemukakan bahwa seni pertunjukan rakyat biasanya tumbuh liar, kasar, bebas dari kaidah kraton dan tidak terawat sehingga tidak mewujudkan keutamaan (Edi Sedyawati, 1984:110). Pendapat tersebut merupakan hasil tinjauan dua jenis kesenian; seni rakyat dan seni kraton. Seni rakyat identik dengan seni kasar, sedangkan seni kraton identik dengan kehalusan rasa. Dalam tulisan ini mencoba menerjemahkan pengertian “kasar” yang dimaksudkan oleh Edi Sedyawati. Dengan demikian di mana letak kekasaran di dalam calung dapat segera dilihat dengan jelas sebagai sebuah fakta empirik.

Dalam tradisi calung di Banyumas dapat dilihat beberapa elemen yang terkait dengan tampilan fisik maupun sajian musikalnya. Beberapa elemen penting tersebut antara lain wujud fisik, garap instrumen, tempat sajian, dan garap gendhing. Setiap elemen secara bersama-sama berperan dalam membangun wujud kesenian, dalam arti sebagai sarana ekspresi estetik maupun sebagai bagian dari perjalanan panjang sebuah ragam kebudayaan.
Wujud fisik calung berupa perangkat musik terbuat dari bambu yang dibuat secara manual dengan menggunakan kemampuan teknologi tradisional ala pedesaan. Beberapa ragam alat musik seperti gambang barung, gambang penerus, dhendhem, kenong, dan gong, dirakit secara sederhana menjadi bentuk yang sederhana pula. Beberapa ragam alat musik itu dibuat lebih sekedar menjadi sebuah instrumen yang memungkinkan dengan mudah dipergunakan untuk membangun sajian musik. Dengan demikian pembuatan alat musik lebih mengutamakan aspek fungsional, dibanding aspek estetika bentuk. Dari sisi wujud alat musik, memang calung terkesan memiliki garapan yang kasar, asal jadi dan dengan teknologi yang sangat sederhana.
Dilihat dari sisi garap instrumen, pada dasarnya di dalam sajian calung sudah terdapat variasi garap yang “diperumit”. Para pengrawit calung umumnya menciptakan garap ricikan dengan mengacu pada sajian gamelan gedhe. Misalnya: garap imbal pada gambang barung dan gambang penerus sangat mirip dengan garap imbal pada ricikan bonang barung dan bonang penerus. Garap nggambang pada ricikan gambang barung, mirip dengan teknik garap yang digunakan pada ricikan gambang pada sajian gamelan gedhe. Garap onelan pada gambang penerus mengacu pada teknik garap instrumen gender penerus. Demikian pula garap dhendhem mirip dengan garap saron penerus dan garap kenong mirip dengan tabuhan ricikan kethuk-kenong. Sementara itu, instrumen gong yang teknik tabuhannya dengan cara ditiup, diusahakan semirip mungkin dengan suara tabuhan ricikan gong pada gamelan gedhe, baik pada besarnya frekuensi suara maupun pada jenis suara yang bergelombang. Pada saat yang lain, instrumen gong memainkan peran sebagai ricikan kempul dengan cara ditiup bunyi yang relatif lebih kecil dibanding bunyi gong dengan teknik bunyi yang pendek-pendek. Bunyi demikian mirip dengan bunyi tabuhan kempul pada karawitan Sunda yang cara menabuhnya dilakukan dengan teknik pethetan agar gaungnya tidak panjang.

Musik calung dalam sajiannya juga menggunakan teknik garap instrumen yang cenderung menghentak-hentak dan adanya improvisasi-improvisasi tertentu yang melibatkan satu atau lebih instrumen. Hal ini terjadi karena ragam instrumen pada perangkat calung terbuat dari bambu yang memiliki volume bunyi yang tidak memungkinkan sangat keras serta resonansi bunyi yang diakibatkan oleh tabuhan instrumen tidak memungkinkan untuk menciptakan gaung yang panjang. Keadaan demikian menyebabkan para penabuh calung cenderung membunyikan instrumen dengan volume dalam batas maksimal yang memungkinkan dilakukan. Untuk mengatasi resonansi pendek disiasati dengan teknik tabuhan yang se-nrecel (kerap) mungkin dalam tempo yang cenderung cepat. Selain itu, untuk membesut keseluruhan sajian agar menjadi satu-kesatuan bunyi musikal yang utuh, pada hampir setiap sajian gendhing selalu sebanyak mungkin dilakukan penyuaraan vokal, baik dalam bentuk vokal sindhenan maupun senggakan. Semua itu merupakan pola kerja mengorganisir bunyi dan suara guna mensiasati keadaan. Dengan alat yang relatif terbatas ternyata dapat dihasilkan sebuah jalinan musik yang rancak.

Pada elemen garap gendhing dapat dilihat usaha memposisikan calung sebagai gamelan gedhe. Semua unsur garap gendhing yang lazim dilakukan di dalam gamelan gedhe begitu saja ditransfer ke dalam sajian calung, mulai dari ragam gendhing, irama, laya, pathet hingga vokal sindhenan dan senggakan. Pada sisi ini dapat dilihat konsep pikir kreator calung yang telah menggunakan segala cara untuk mampu memainkan sajian gendhing sekalipun ia tidak mendapati gamelan. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kondisi hidup masyarakat Banyumas yang tidak memungkinkan membeli atau membuat gamelan sendiri. Dalam ketiadaan justru kemudian lahir kreativitas dalam diri mereka dengan menciptakan alat musik yang dapat dijadikan sebagai media ekspresi musikal guna menyajikan gendhing.

Calung diciptakan sebagai usaha yang dilakukan oleh masyarakat kecil dan melarat, tetapi memiliki kemauan estetik yang tinggi. Pengalaman musikal mereka adalah gamelan dan gendhing. Maka diciptakan perangkat musik yang dapat mewakili pengungkapan ide-ide musikal pada gamelan untuk menyajikan gendhing. Mungkin pada awalnya mereka mencoba dan salah (trial and error), membuat alat musik dari kayu, besi, batu atau berbagai jenis bambu seperti bambu tali (apus), petung, gendani, tutul dan lain-lain termasuk di antaranya bambu wulung. Dengan berbagai pertimbangan seperti pengadaan bahan baku, tingkat kesulitan cara pembuatan, kualitas bunyi yang dihasilkan hingga kemungkinan cara penyajiannya, akhirnya bambu wulung-lah yang menjadi pilihan utama sebagai bahan baku pembuatan alat musik yang mereka inginkan.

Alur logika yang demikian dapat dibuktikan pola dan teknik tabuhan instrumen pada calung yang ternyata juga merupakan proses imitasi (Ernst Cassirer, 1987:241) pola dan teknik tabuhan instrumen pada gamelan gedhe. Alat musik calung diusahakan sedekat mungkin mirip dengan suara gamelan gedhe. Demikian pula pada tataran warna bunyi, pola dan teknik tabuhan hingga teknik sajian aransemen musikal (gendhing)-nya juga diusahakan untuk tidak berbeda jauh dengan apa yang dijumpai pada sajian gamelan gedhe.

Tempat sajian calung sangat erat kaitannya dengan kebiasaan hidup masyarakat Banyumas. Bagi orang Banyumas, sajian kesenian adalah bagian prosesi hidup, dan calung ada di dalam koridor tersebut. Calung memungkinkan dipentaskan di sembarang tempat sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Dalam sajiannya, musik ini lazim ditempatkan di panggung arena sehingga dapat disaksikan oleh penonton dari semua penjuru. Namun pada saat yang lain, calung dapat pula disajikan di tempat yang relatif sempit seperti di emper (teras) rumah, di bawah pohon yang rindang atau di jogan (balai-balai rumah). Semua itu dilakukan mengingat tempat yang tersedia serta usaha memenuhi kebutuhan si penanggap. Namun demikian sesungguhnya yang lebih penting di sini adalah usaha agar sajian calung dapat disaksikan oleh sebanyak-banyaknya penonton. Dengan demikian aspek kedekatan dengan penonton menjadi ciri utama sajian calung.

Di luar hal-hal yang berkaitan dengan tampilan fisik maupun sajian musikal tersebut di atas, masih terdapat satu hal prinsip yakni tentang nilai-nilai dan cita rasa yang merupakan kandungan isi dari setiap sajian musik calung. Bahwa dilihat dari sisi tampilan fisik dan teknik sajian musikal diperoleh fakta bahwa musik calung cenderung hadir sebagai musik yang kasar, pada level tertentu dapat dibenarkan. Namun demikian apabila dilihat dari sudut pandang nilai-nilai di balik tampilan fisik tersebut, yang terjadi justru sebaliknya. Nilai estetik ibarat software dalam sebuah komputer. Ia hadir dari otak pada kepala manusia dan nurani terdalam yang hadir dalam wujud kearifan (kawicaksanan). Calung adalah wujud kearifan lokal masyarakat Banyumas yang perlu dimaknai tidak sekedar pada penampilan fisik sebuah ragam kesenian.

Calung memuat kedalaman—meminjam istilah Humardani—nilai rokhani yang wigati, yang diyakini kebenarannya dan dijadikan sebagai pedoman dalam proses kehidupan. Nilai-nilai rokhani wigati yang dimaksud di sini berupa nilai tentang hidup, meliputi harkat dan martabat kemanusiaan, etika-moral, adat-istiadat serta estetika yang sesungguhnya semua itu berlaku secara universal. Di sisi lain, calung adalah juga sebuah fenomena estetik yang mengungkap keseluruhan pengalaman, menyangkut totalitas hidup masyarakat Banyumas (Arnold Hauser, 1974). Dengan bahasa yang lebih sederhana, fenomena estetik yang dijumpai di dalam calung bukanlah sesuatu yang instan. Kehadiran calung mencerminkan keseluruhan pengalaman empirik kreator yang dituangkan kembali melalui media estetis alat musik bambu. Nuansa atau rasa ke-Banyumas-an di dalam calung hadir karena musik ini merupakan suatu proses dinamis yang mewadahi totalitas pengalaman hidup manusia masyarakat pendukungnya.

Berdasarkan kenyataan tersebut, maka sesungguhnya pengertian “kasar” dan “halus” di dalam sajian kesenian rakyat—termasuk di dalamnya musik calung—perlu dikaji kembali. Nuansa “kasar” sesungguhnya lebih pada cara pandang terhadap tampilan fisik. Pada ragam kesenian kraton pun banyak dijumpai tampilan kesenian yang relatif kasar seperti yang dijumpai pada sajian gamelan sekaten, gendhing-gendhing soran ataupun tari gagahan. Dan, pada calung Banyumasan nuansa “kasar” tersebut lebih diakibatkan olah bahan baku alat musik, teknik tabuhan dan kepentingan penggunaan. Semua itu telah bermuara pada hasil seni yang cenderung memiliki citarasa estetik yang “kasar”. Pada tataran nilai, sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan konsep-konsep nilai pada ragam kesenian yang dikembangkan oleh kebudayaan tinggi.
Digambarkan Malinowski bahwa segala aktivitas kebudayaan sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah kebutuhan naluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya (Koentjaraningrat, 1987:171). Keberadaan calung di Banyumas pun diperuntukkan bagi tercapainya maksud tersebut. Oleh karena itu bukan hal yang mustakhil apabila calung dalam kehidupan masyarakat Banyumas mampu menjadi penanda identitas mereka. Hal ini seperti dikemukakan Deborah Rockman bahwa seni memiliki pengaruh terhadap formasi identitas melalui model ekspresi (Deborah Rockman (2003). Gaya, pola dan atau model pengungkapan gagasan estetik di dalam calung sesungguhnya merupakan bagian dari rangkaian pemenuhan kebutuhan masyarakat Banyumas dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu musik yang satu ini memungkinkan menjadi media ungkap sekaligus penanda identitas kebudayaan yang menjadi gantungan hidup masyarakat setempat.

Analisis kultural didasarkan pada pemikiran bahwa kehidupan sehari-hari membentangkan dirinya dalam susunan yang berarti (Neils Mulder, 1996:11). Konsep ini memberikan pengertian bahwa aktivitas estetik melalui musik calung yang dilakukan masyarakat Banyumas adalah sesuatu yang benar dan bermakna penting bagi kehidupan mereka. Pembenaran dan pemaknaan itu berlangsung di dalam suatu dunia pengetahuan yang dimiliki bersama, yaitu kebudayaan Banyumas, yang dapat dianalisis sebagai sistem persepsi, klasifikasi dan penafsiran lain yang mereka miliki.

DAFTAR PUSTAKA


Cassirer, Ernst, 1987, Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia, Jakarta: Gramedia.

Edi Sedyawati, 1984, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: Sinar Harapan.

Hauser, Arnold, 1974, The Sociology of Art, Translated by Kenneth J. Northcott, Chicago and London: The University of Chicago Press.

Humardani, SD, 1959, “Menari Sukarena dan Retna Pamudya”, Yogyakarta (Naskah ketikan).

Koentjaraningrat, 1987, Sejarah Teori Antropologi I, Jakarta: UI Press.

Mulder, Neils, 1996, Pribadi dan Masyarakat di Jawa, Seri Budi No. 3., Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Rockman, Deborah, 2003, “Culture, Identity & the Visual Arts: Who Am I?”, First presented at the 2001 Fifth Congress of the Americas in Puebla, Mexico, http://debrockman.com.

RIWAYAT KEPARIWISATAAN BANYUMAS


Baca Selengkapnya...
Cikal-bakal pengelolaan kegiatan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas tidak lepas dari peran penjajah Belanda yang cukup lama menguasai wilayah Banyumas, pasca perang Diponegoro tahun 1830. Sejak itu mulai banyak Pegawai Pemerintah Belanda yang bertempat tinggal di Baturraden. Mereka bekerja di Kilang Minyak Cilacap serta Pabrik Gula Purwokerto Kalibagor, Sokaraja dan Purbalingga.

Pemilihan Baturraden sebagai tempat hunian karena iklimnya yang sejuk, mendekati iklim di Eropa serta memiliki panorama alam yang indah. Untuk pemenuhan kebutuhan pemukiman, mereka membangun berbagai macam infrastruktur dan bentuk-bentuk usaha yang dilakukan oleh perorangan. Beberapa aktivitas yang dapat dilacak antara lain: pusat pembangkit listrik, pusat pembibitan ternak, Sanatarium (rumah sakit paru-paru), usaha penginapan/hotel dan usaha tanaman hias.

Bukti otentik yang dapat dilihat sampai sekarang adalah di sekitar areal lokawisata Baturraden terdapat sebuah prasasti berangka tahun 1914 yang bertuliskan “BRUG GOEMAWANG GESCHOKEN DOOR FIRMA KO LIE 1914” yang dapat diartikan bahwa yang membangun jembatan adalah sebuah firma. Prasasti yang tertulis pada sebuah batu marmer itu merupakan sebuah monumen atas dibangunnya sebuah jembatan di atas sebuah sungai yang dihiasi batu-batu dan di ujungnya terdapat air terjun dengan latar belakang gunung Slamet.

Pasca Kemerdekaan

Pada masa perang fisik antara pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Belanda tahun 1947, berbagai prasarana fisik dibumihanguskan (dibakar) oleh para pejuang. Yang tertinggal hanya tinggal Pusat Pembangkit Tenaga Air Ketenger, BPTHMT dan Sanotarium Karangmangu. Ketiga tempat ini tidak ikut dihancurkan dengan pertimbangan memenuhi hajat hidup orang banyak.

Pada dekade 1952 muncul pemikiran/ide dari R.Moch. Kaboel Poerwodiredjo yang menjabat sebagai Bupati/Kepala Daerah (KDH) Tingkat II Banyumas yang berkeinginan menghidupkan kembali Baturraden sebagai tempat peristirahatan dan tempat Rekreasi. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa pada masa liburan sekolah Anak-anak, landscape Baturraden beserta beberapa bangunan peninggalan Belanda banyak dikunjungi masyarakat untuk keperluan rekreasi. Namun demikian gagasan tersebut kemudian belum dapat terealisir karena adanya gangguan Keamanan DI/TII. Gagasan tersebut kemudian baru dilanjutkan kembali pada masa pemerintahan Letkol Kolonel Soekarno Agung saat menjabat sebagai Bupati/KDH Tingkat II Banyumas ke-25 pada tahun 1966.

Pasca pemberontakan DI/TII, gagasan menjadikan Baturraden sebagai tempat rekreasi kembali bergulir. Pelaksanaan pekerjaan ditangani oleh Komite/Panitia Pariwisata yang diketuai oleh Mayor Darsono (1966/1967). Untuk mewujudkan gagasan membangun Baturraden sebagai tempat wisata, Bupati Soekarno Agung (1966) telah mengadakan pertemuan di Wisma Kartika Nirwana untuk membahas Panitia Pariwisata yang dihadiri oleh Soekarno Agung (Bupati Banyumas), Kolonel Tjiptono Setiabudi (Danrem 071 Wijayakusuma), Suwignyo (Ketua DPRD Kabupaten Banyumas), Letkol Tugiran (Dandim 0701 Banyumas), dan Mayor Darsono (Kasdim 0701 Banyumas). Hasil pertemuan menunjuk Mayor Darsono (Kasdim 0701 Banyumas) sebagai Ketua Panitia Pariwisata yang bertugas melaksanakan pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas.

Pelaksanaan kerja Panitia Pariwisata Kabupaten Banyumas telah menghasilkan beberapa hal penting, antara lain: (1) membangun Baturraden sebagai obyek wisata; (2) kebun binatang terletak di sebelah utara Stadion Widodo; dan (3) merehab dan mengalihfungsikan Gedung Bioskop Indra menjadi Gedung Kesenian Soetedja. Pengalihan Gedung Bioskop Indra menjadi Gedung Kesenian Soetedja yang dilaksanakan pada tahun 1970 merupakan kompensasi bagi para seniman yang mendukung kegiatan penyelenggaraan pentas-pentas penggalangan dana yang dilaksanakan oleh Panitia Pariwisata. Selain itu, Panitia Pariwisata juga menggalang bentuk-bentuk sumbangan dari berbagai institusi dengan hasil anatar lain: (1) Korem 071 Banyumas menyumbang pipa saluran air panas dari Pancuran Tiga ke obyek wisata dan tanah sebelah Wisma Kartika untuk parkir kendaraan roda empat; (2) Departemen Pertanian menyumbang tanaman untuk penghijauan obyek wisata; (3) Perhutani Banyumas Timur ijin penggunaan sumber air panas Pancuran Tiga dan Pancuran Tujuh untuk dikelola sebagai obyek wisata; Drs. Karseno, mantan Kepala Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah menyerahkan kembali tanah Negara yang digunakan penanaman murbei untuk ulat sutra, akomodasi, villa dan Rumah Makan.

Di sisi lain, Panitia Pariwisata juga mengadakan kegiatan LOTDA (Lotre Daerah) dan SIRKUS di Kebondalem Purwokerto. Hasilnya digunakan untuk pembiayaan sarana fasilitas pendukung pengembangan Baturraden sebagai tempat wisata, antara lain: (1) membuat lapangan tenis di sekitar lokawisata Baturraden (sekarang tempat parkir roda empat, (2) membangun pemandian air panas yang bersumber dari pancuran tiga, dan (3) Kolam Renang. Pelaksanaan pembangunan lapangan tenis, pemandian air panas di pancuran tiga dan kolam renang mendapat bantuan dari masyarakat di sekitar Baturraden dan tenaga Tapol G30S/PKI. Sebagai komandan tapol adalah Hardjo Soenarmo (Purnawirawan). Para tapol ditempatkan di sebuah rumah yang pernah dijadikan sebagai tempat transaksi barang-barang curian pada masa pemberontakan DI/TII.

Masa Orde Baru

Setelah masa tugas selesai (1 Mei 1971) Panitia Pariwisata menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Pemda Tingkat II Banyumas. Berdasarkan Surat Bupati/Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Banyumas No.80/1971 tanggal 22 Juli 1971 tentang Penunjukan Sdr. Koesni sebagai Wakil Direksi Harian, Bupati/Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Banyumas menunjuk Kusni, seorang staf Biro-Produksi Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas, sebagai Wakil Direksi Harian Obyek Wisata Baturraden. Surat ditujukan kepada (1) Poedjadi selaku Pelaksana Pembangunan Loket Penjualan Karcis Pariwisata Baturraden (Penunjukan Poedjadi sebagai Pelaksana Pembangunan Loket Penjualan Karcis Pariwisata Baturraden berdasarkan Surat Bupati/Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Banyumas Nomor: Par. 34/1971 dan Surat Perintah Kerja Nomor: 1045-IV) dan (2) Sugeng Wiyono selaku Pelaksana Pembangunan Jalur Jalan di Kompleks Tirta-Ria Baturraden (Penunjukan Sugeng Wiyono sebagai Pelaksana Pembangunan Jalur Jalan di Kompleks Tirta-Ria Baturraden berdasarkan Surat Bupati/Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Banyumas Nomor: Par. 68/1971 dan Surat Perintah Kerja Nomor: 70/1971).

Pada tahun 1974, Sugeng Wiyono ditugaskan sebagai penanggung jawab pariwisata Baturraden yang ditetapkab berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Banyumas Nomor: 51/I/2/kdh. (No.Pemb.B.773/X-5/74) tanggal 18 April 1974 tentang Penunjukan Sdr. Sugeng jln. Jendral Gatot Soebroto Purwokerto untuk melaksanakan tugas sehari-hari sebagai penanggung jawab sebagaimana yang dimaksud bunyi Surat Keputusan Bupati/Kepala Daerah Nomor: 50/I/2/kdh tanggal 18 April 1974. Di dalam Keputusan tersebut dijelaskan bahwa Surat Keputusan ini berlaku hanya enam bulan sejak tanggal diberlakukan dan Sugeng Wiyono bertanggung jawab kepada Biro Pembangunan. Selanjutnya berdasarkan Surat Bupati KDH/Tingkat II Banyumas Nomor: 1646/1/III/KDH tanggal 3-4-1975 tentang penugasan Mayor Purnawirawan Tiono di Lokawisata Baturraden.

Pada tahun 1976 terbit Keputusan Bupati KDH/Tingkat II Banyumas Nomor: 002/UPB.14/3/76 tanggal 24-1-1976 tentang Pembentukan Badan Pengelola Lokawisata Baturraden yang bertanggungjawab langsung kepada Bupati KDH/Tingkat II Banyumas, yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 1976. Semua hasil/income yang diperoleh dari Lokawisata Baturraden dibagi sebagai berikut: (a) 50% disetor Kas Daerah; (b) 10% untuk insentif personil; (c) 20% untuk Pemeliharaan; dan (d) 20% untuk Pembiayaan Pembangunan baru dan pengembangan Obyek Wisata. Pelaksanaan bertanggung jawab kepada Bupati KDH/Tingkat II Banyumas. Khusus penyetoran keuangan secara teknis dilakukan melalui Bagian Kesra. Saat itu mulai ada investor yang datang untuk mendirikan hotel/penginapan Restoran dan lainnya.

Pengelolaan obyek wisata Baturraden ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati KDH TK II Banyumas Nomor: 828/UPB.14/2-77 tanggal 31 Oktober 1977 tentang pengangkatan Sdr. Sapingoen Cs. sebagai petugas Pengelola Obyek Wisata Baturraden. Untuk memudahkan pelaksanaan pekerjaan Bupati/KDH Tingkat II Banyumas mengangkat seorang manajer bernama R. Soeyadi melalui Surat Keputusan Bupati Nomor: 556/73/82/51 tgl.17-7-1982. Dalam pelaksanaan tugasnya, R. Soeyadi bertanggung jawab kepada Bupati lewat Bagian Perekonomian Setwilda Tingkat II Banyumas. Manajemen Baturraden pada waktu itu hanya menangani satu lokasi, yaitu di sekitar curug (air terjun) kecil yang merupakan lokasi yang paling sering dikunjungi masyarakat untuk keperluan rekreasi. Lokasi tersebut selanjutnya diberi nama Tirta Ria yang berasal dari kata “tirta” yang berarti air dan “ria” yang berarti seneng. Tirta Ria dimaksudkan sebagai tempat berair yang dijadikan sebagai lokasi bersenang-senang (rekreasi). Lokasi Tirta Ria memiliki luas sekitar lima hektar. Modal utama dari pengelolaan Tirta Ria adalah pemandangan indah sejuk dan kemampuan pelayanan yang baik. Dengan dua modal dasar ini Baturraden berkembang melalui marketing pasif (dari mulut ke mulut).
Pada dekade tahun 1982, obyek wisata Baturraden yang semula hanya mengelola Tirta Ria seluas tiga hektar (ha), selanjutnya dikembangkan oleh pihak manajemen dengan mengelola hutan yang disebut dengan nama Wanasuka dan Penyunan. Dengan demikian, luas obyek wisata Baturraden menjadi 16,8 ha termasuk sebuah makam kuno (petilasan) Nyi.Indit (disebut juga Nyi. Roro Ireng), Putra Putri dari Hadipati Kutaliman dan Sigamel/Tukang piara Kuda yang dapat dijumpai dalam Cerita Rakyat/ legenda Baturraden.

Keputusan Gubernur Jawa Tengah No.HK 99/1977 tgl.21 September 1977 menetapkan 77 Obyek Wisata di 33 Daerah Tingkat II se-Jateng sebagai Obyek Wisata daerah Kabupaten/Kotamadya. Berdasarkan Keputusan tersebut pengelolaan obyek wisata Baturraden dilakukan oleh Badan Pengelola Obyek Wisata (BPOW) dengan tujuan agar obyek wisata itu mampu menjadi daerah tujuan (DTW) Pariwisata Internasional.

Tahun 1987 Pemerintah Kabupaten/Dati II Banyumas membentuk dinas teknis yang memiliki tugas pokok dan fungsi mengelola hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan kepariwisataan dengan nama Dinas Pariwisata Kabupaten/Dati II Banyumas. Dinas ini berkantor di Gedung Kesenian Suteja Purwokerto dengan Kepala Dinas dijabat oleh Drs. T.H. Sudarso. Obyek Wisata Baturraden menjadi bagian tugas pokok dan fungsi Dinas Pariwisata Kabupaten/Dati II Banyumas. Sejak itu, Baturraden yang semula berpendapatan kecil dapat berkembang hingga miliaran rupiah saat sekarang.

Perkembangan Terakhir

Berkembangnya Baturraden membuat perubahan pada ekonomi, pendidikan dan kebudayaan masyarakat sekitar lokawisata. Kesadaran dan pemahaman akan pentingnya kepariwisataan telah menuntun masyarakat di sekitar Lokawisata Baturraden memiliki pengendalian diri dan perencanaan ke depan demi kelancaran kegiatan kepariwisataan di Baturraden. Sebagai contoh, masyarakat yang semula bermata pencaharian sebagai peternak dan pencari kayu bakar yang cenderung merusak hutan, kini banyak di antaranya yang beralih profesi menjadi pedagang, pegawai lokawisata dan pengusaha hotel/losmen.

Keberhasilan penanganan obyek wisata Baturraden telah menciptakan kesadaran para pejabat di Kabupaten Banyumas serta masyarakat Banyumas bahwa bidang kepariwisataan dapat menjadi aset yang menjanjikan untuk menuju taraf kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu sejak dekade 1980 mulai digagas pengembangan potensi wisata lain untuk dijadikan sebagai obyek wisata yang sebanding dengan popularitas Baturraden. Potensi wisata yang dikembangkan di Kabupaten Banyumas antara lain:

1) Wisata Alam: (a) curug Cipendok, (b) curug Ceheng Sumbang, (c) goa Darma Kradenan, (d) Gunung Putri Purwojati, (e) Daerah Aliran Sungai Serayu dan lain-lain.
2) Wisata Buatan: (a) Bendung Gerak Serayu Kebasen, (b) Monumen Jenderal Soedirman Purwokerto, (c) Taman Kota Berkoh Purwokerto, (d) Bendung Gerak Tajum dan lain-lain.
3) Wisata Religi: (a) Makam Makdum Wali Karanglewas, (b) Makam Adipati Mrapat Dawuhan Banyumas, (c) Makam Kyai Tolih dan Masjid Saka Tunggal Cikakak Wangon, (d) Masjid Ageng Nur Sulaeman Banyumas, (e) Makam Kyai Mranggi Banyumas, dan lain-lain.
4) Agro Wisata: (a) Perkebunan Ulat Sutra Baturraden, (b) Perkebunan Kopi Mahameru Tambak, (c) Wanawisata Baturraden, (d) Hutan Pinus Krumput, dan lain-lain.
5) Wisata Kuliner: (a) Getuk Goreng dan soto Sokaraja, (b) Kripik dan mendoan Purwokerto, (c) Salak Kalisube Banyumas, (d) Nopia Banyumas dan lain-lain.
6) Wisata Husada: (a) Pemandian Kalibacin Rawalo, (b) Pancuran Telu Baturraden, (c) Pancuran Pitu Baturraden, dan lain-lain.Wisata Budaya: (a) Kesenian tradisional, (b) adat-istiadat dan nilai budaya tradisional, (c) mata pencaharian tradisional, (d) pakaian/rumah adat tradisional, (e) upacara tradisional, dan lain-lain.***

Pengalaman Kesenian


Baca Selengkapnya...


Pementasan Karya tari "Dadi Ronggeng" pada Borobudur International Festival tahun 2003






Dalam usaha mewujudkan iklim berkesenian yang kondusif di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas, saya senantiasa berupaya menciptakan ragam karya tari yang bersumber dari tradisi setempat. Beberapa karya yang telah berhasil saya ciptakan antara lain:
  • Gobyog Jaranan (1994), bersumber dari kesenian ebeg. Karya tari ini menjadi salah satu karya terbaik pada Lomba Karya Cipta Tari Anak-anak Tingkat Jawa Tengah bertempat di Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta.
  • Tregel (1994), ragam tari kreasi baru gagrag Banyumas yang memadukan unsur-unsur gerak tarian lokal Banyumas dan jaipongan. Karya tari ini pernah ditampilkan di beberapa event internasional antara lain World Music Art and Dance (WOMAD) Festival di Reading-Inggris, Larmer Tree Music Festival di Salisbury-Inggris, Queen Elizabeth Hall di London-Inggris, Rudolstaadt Festival di Jerman, dan Sfinks Festival di Belgia.
  • Lobong Ilang (1996), bersumber dari seni lengger Banyumas, menjadi penyaji terbaik pada Festival Tari Rakyat Tingkat Jawa Tengah di Kabupaten Tegal tahun 1997.
  • Marungan (1999), bersumber dari seni lengger Banyumas, menjadi penyaji terbaik pada Bengawan Solo Festival bertempat di Pagelaran Kraton Surakarta tahun 1998 dan menjadi penyaji terbaik pada Festival Tari Rakyat Tingkat Jateng-DIY bertempat di Hotel Natour Garuda Yogyakarta tahun 2001.
  • Pager Bumi (2002), sebuah tarian ritual yang menggambarkan keblat papat lima pancer. Penari terdiri dari lima orang dengan kostum berwarna merah, hitam, kuning, putih dan ijo maya-maya, yang menggambarkan empat nafsu manusia (amarah, aluamah, sufiah dan mutmainah) dan hati nurani yang menjadi pancer dan pengendali keempat nafsu tersebut.
  • Krasa Ngawak Krasa Ngati (2002), menggambarkan penderitaan dan kemelaratan yang ditampilkan melalui ragam karya tari kontemporer dengan sumber gerak berupa ragam tari rakyat Banyumasan.
  • Karya Tari Dadi Ronggeng (3003), bersumber dari seni lengger Banyumas, menjadi salah satu penyaji terbaik pada Borobudur International Festival bertempat di Kabupaten Magelang tahun 2003.
  • Srintil Melarung Birahi (2004), karya tari kontemporer yang diilhami oleh novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Sekalipun karya tari ini berkategori tari kontemporer, namun sumber geraknya adalah ragam tarian tradisional Banyumasan, terutama kesenian lengger.
  • Semar Mbarang Jantur (2004), sebuah karya kompilasi antara cerita dalam wayang kulit purwa dengan lengger Banyumasan yang diaktualisasikan melalui sebuah karya tari lepas. Karya ini menjadi salah satu penyaji terbaik pada Kemilau Nusantara II yang bertempat di Bandung, Jabar tahun 2004.
  • Kaki Mbeang Mbeong (2006), dramatari dengan sumber cerita dongeng tentang sebuah keluarga miskin yang memiliki 25 orang anak. Demi memberikan harapan bagi anak-anaknya, Kaki Mbeang Mbeong merebus batu yang dikatakan sedang menanak nasi. Di dalamnya diceritakan, saat tidak ada apapun untuk dimakan, mereka hidup rukun senasib seperjuangan. Namun ketika ada sesuatu yang dapat dimakan, mereka saling berebut dan berkelakuan lebih liar dari binatang.

Geliat Kebudayaan Pinggiran


Baca Selengkapnya...
Dalam konteks perkembangan kebudayaan Jawa, Banyumas seringkali dipandang sebagai wilayah marginal (Koentjaraningrat, 1984) yang berkonotasi kasar, tertinggal dan tidak lebih beradab dibanding dengan kebudayaan yang berkembang wilayah negarigung (pusat kekuasaan kraton) yang dijiwai oleh konsep adiluhung.[1] Kebudayaan Banyumas atau sering pula disebut budaya Banyumasan[2] hadir sebagai kebudayaan rakyat yang berkembang di kalangan rakyat jelata[3] yang jauh dari hegemoni kehidupan kraton. Akhiran “an” pada kata “Banyumas” menunjukkan lokalitas atau kekhususan, seperti pada kata “Semarangan”, “Jawa Timuran”, “Surabayan”, “Magelangan” dan lain-lain. Rene T.A. Lysloff berpendapat bahwa penggunaan akhiran “an” pada kata-kata semacam ini berkaitan dengan pandangan cenderung dimaksudkan untuk mengecilkan tradisi dan berhubungan dengan persoalan “gaya” (Rene T.A. Lysloff, 1992). Hal ini menunjukkan bahwa budaya Banyumasan merupakan unsur lokal di dalam satu lingkup yang lebih besar; kebudayaan Jawa.

Memang, kebudayaan Banyumas pada prinsipnya merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Jawa. Namun demikian dikarenakan kondisi dan letak geografis yang jauh dari pusat kekuasaan kraton serta latar belakang kehidupan dan pandangan hidup masyarakat Banyumas yang dijiwai oleh semangat kerakyatan, mengakibatkan pada berbagai sisi budaya Banyumas dapat dibedakan dari budaya induknya. Jiwa dan semangat kerakyatan kebudayaan Banyumas telah membawanya pada penampilan yang—apabila dilihat dari sudut pandang kebudayaan kraton—terkesan kasar dan rendah. Kenyataan demikian menyebabkan kebudayaan Banyumas seringkali disub-kulturkan (Ahmad Tohari, 2005), dianggap kurang bermakna bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Jawa secara keseluruhan.
Kebudayaan Banyumas terbentuk dari perpaduan antara unsur-unsur kebudayaan Jawa lama dengan pola kehidupan masyarakat setempat. Dalam perjalanannya kebudayaan Banyumas dipengaruhi oleh kultur Jawa baru, kultur Sunda, kultur Islami, dan kultur Barat. Unsur-unsur kebudayaan Jawa lama (Jawa Kuno dan Pertengahan) dipengaruhi kebudayaan India (Hindu-Budha) yang sejak lama telah disebarkan oleh seorang pendeta bernama Aji Saka (Sudiono,2006). Khasanah budaya ini tumbuh berkembang di kampung-kampung, dusun-dusun atau dukuh-dukuh, sebagai wujud local genious dan menjadi bagian integral dari kehidupan komunitas wong cilik.

Kebudayaan Banyumas berlangsung dalam pola kesederhanaan, dilandasi oleh semangat kerakyatan, cablaka (transparency), exposure (terbuka) dan dibangun dari masyarakat yang berpola kehidupan tradisional-agraris. Kecenderungan demikian terutama disebabkan oleh karena wilayah Banyumas merupakan wilayah pinggiran dari kerajaan-kerajaan besar tempo dulu. Perkembangan kebudayaan di daerah ini secara umum berlangsung lebih lambat dibanding dengan kebudayaan yang hidup di lingkungan kraton sebagai pusat kekuasaan raja.

Kandungan unsur-unsur kebudayaan Jawa lama di dalam kebudayaan Banyumas terutama tercermin pada bahasa dan sistem kepercayaan. Di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas selain berkembang bahasa Jawa baku—sering disebut dengan istilah bahasa bandhek[4]—juga berkembang bahasa Jawa dialek Banyumas atau bahasa Banyumasan. Bagi masyarakat di daerah ini, bahasa Banyumasan merupakan bahasa ibu yang hadir sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Bahasa Banyumasan diyakini sebagai peninggalan dari bahasa Jawa lama (bahasa Jawa Kuno dan Tengahan) yang masih bisa dijumpai hingga sekarang (Ahmad Tohari,1999). Dengan demikian bahasa Banyumasan dapat digunakan untuk mengintip pertumbuhan bahasa Jawa lama yang berkembang sebelum lahirnya bahasa Jawa baru.[5]

Bahasa Banyumasan memiliki spesifikasi dan/atau ciri-ciri khusus yang dapat dibedakan dengan bahasa Jawa baru (standar). Beberapa ciri khusus tersebut antara lain: (1) berkembang secara lokal hanya di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas; (2) memiliki karakter lugu dan terbuka; (3) tidak terdapat banyak gradasi unggah-ungguh; (4) digunakan sebagai bahasa ibu oleh sebagian besar masyarakat Banyumas; (5) mendapat pengaruh bahasa Jawa kuno, Jawa tengahan, dan bahasa Sunda; (6) pengucapan konsonan di akhir kata dibaca dengan jelas (selanjutnya sering disebut ngapak-ngapak), dan (7) pengucapan vokal a, i, u, e, o dibaca dengan jelas (Yusmanto, 2004-a). Dalam percaturan sosial yang lebih luas, ciri-ciri semacam ini telah menjadi salah satu penanda yang dapat dengan mudah dikenali oleh kelompok masyarakat lain.

Pengaruh kebudayaan India (Hindu-Budha) terhadap kebudayaan Banyumas dapat dilihat artefak peninggalan sejarah dan sistem kepercayaan masyarakat Banyumas yang dekat dengan sistem kepercayaan pada kedua agama tersebut. Di daerah ini banyak dijumpai artefak sejarah seperti lingga, yoni, arca prasejarah dan benda-benda lain yang merupakan peninggalan persebaran kebudayaan Hindu.[6] Di wilayah Banyumas juga diyakini terdapat sebuah kadipaten yang berkembang pada masa pra Islam, yaitu Kadipaten Pasirluhur (Sugeng Priyadi,2004).[7] Ini membuktikan Banyumas pernah menjadi salah satu basis yang kuat bagi persebaran agama Hindu.

Dalam hal sistem kepercayaan, pengaruh Hindu-Budha tercermin pada kuatnya kepercayaan animisme, dinamisme, totemisme, dewa-dewi serta kekuatan-kekuatan supranatural yang datang dari alam dan roh nenek-moyang. Di daerah ini terdapat berbagai macam ritual yang dilakukan secara berkala yang dihitung berdasarkan kalender Jawa maupun pranata mangsa.[8] Misalnya: ritual ruat bumi dan Suran pada bulan Sura, penjamasan pusaka pada setiap bulan Mulud, Sadranan dan unggah-unggahan pada bulan Sadran, udhun-udhunan pada bulan Syawal serta cowongan, ujungan dan baritan yang dilaksanakan setiap mangsa Kapat dan Kelima.[9] Kegiatan ritual semacam ini masih terus dilaksanakan oleh masyarakat Banyumas hingga sekarang.
Hingga awal dekade tahun 1990-an masih banyak dijumpai kegiatan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas pada setiap malam hari kelahiran dengan cara membakar kemenyan atau dupa serta beberapa properti sesaji seperti kembang telon (bunga tiga macam) dan bubur merah putih yang diperuntukkan bagi sedulur tua-sedulur nom (saudara tua dan saudara muda).[10] Di sisi lain, peninggalan agama Budha masih dapat dilihat pada masih tersisanya persebaran agama Budha di daerah pegunungan Kendheng, yaitu pegunungan yang membelah wilayah sebaran kebudayaan Banyumas, membujur dari arah barat hingga ke timur.

Persebaran agama Islam di Banyumas telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan di daerah itu. Agama Islam mulai menyebar di wilayah Banyumas berlangsung sejak era Demak, yaitu pada saat wilayah ini di bawah kekuasaan Kadipaten Pasir. Pembawa ajaran agama Islam adalah Makdum Wali, yang berhasil mengislamkan Adipati Banyak Blanak, penguasa Pasir. Bahkan, Adipati Banyak Blanak kemudian turut berperan mengislamkan berbagai wilayah, antara lain wilayah Banyumas, Jawa Barat dan wilayah Ponorogo dan sekitarnya. Atas peran sertanya itu, Raja Demak memberikan beberapa hadiah kepada Adipati Banyak Blanak, antara lain: (1) Kadipaten Pasir lestari menjadi wilayah perdikan (tidak berkewajiban atur pisungsung/pajak kepada Demak); (2) Kadipaten Pasir diberi wilayah mulai dari Tugu Mangangkang (lereng gunung Sindoro-Sumbing) hingga Udhug-udhug Karawang; dan (3) Adipati Banyak Blanak diangkat senapati bergelar Kanjeng Adipati Mangku Bumi (Budiono, t.th:11). Sejak itu pula agama Islam menggantikan posisi agama-agama yang berkembang sebelumnya (Hindu-Budha) sebagai agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Banyumas.

Persebaran Islam di Banyumas tidak serta-merta menghilangkan kepercayaan lama yang telah berurat-berakar dalam kehidupan masyarakat di wilayah ini. Islam yang dikembangkan di wilayah ini berupa Islam Abangan (Clifford Geertz,1989) yang tetap memberikan peluang bagi berkembangnya kepercayaan animisme-dinamisme bagi pemeluknya. Pemahaman tentang ketuhanan berlaku kebiasaan “budaya membingkai agama”. Aspek-aspek kebudayaan berperan lebih dominan dalam kehidupan sosial, ngemuli (menyelimuti) dan membingkai ajaran-ajaran Islam. Pemahaman tentang ketuhanan dibingkai dalam nuansa budaya lokal seperti dapat dijumpai dalam ragam kesenian, ungkapan tradisional, folklore, kepercayaan tradisional dan lain-lain. Ini berbeda dengan kebudayaan pesisir (utara) yang lebih cenderung mengembangkan Islam puritan dalam bentuk “agama membingkai budaya”.
Perkembangan kebudayaan Banyumas tidak sekedar di wilayah administratif Kabupaten Banyumas. Di sebelah utara berbatasan dengan kebudayaan pesisir utara, di sebelah selatan mencapai pesisir kidul, di sisi timur berbatasan dengan kebudayaan Kedu, dan di sisi barat berbatasan dengan kebudayaan Sunda. Keberadaan kebudayaan Banyumas sangat spesifik dan khas, menandai eksistensi masyarakat kecil di antara hegemoni kebudayaan kraton yang berkembang di pusat-pusat kerajaan Jawa.

Letak geografis Banyumas yang berada di daerah perbatasan sebaran budaya Jawa dan Sunda telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan kebudayaan Banyumas. Kedua kebudayaan ini mengalami akulturasi yang demikian kental yang bermuara pada terbentuknya ragam budaya tersendiri yang justru berbeda dengan kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda yang notabene adalah kebudayaan induknya. Pada berbagai aspek dapat dilihat dengan jelas lekatnya percampuran antara kedua kutub budaya tersebut di dalam budaya Banyumas. Contoh konkretnya adalah mitos dua leluhur yang demikian kuat dalam masyarakat Banyumas. Mereka percaya bahwa leluhur Banyumas merupakan percampuran antara Majapahit dan Pajajaran. Raden Baribin, salah seorang adik dari Brawijaya IV telah menikah dengan salah seorang putri Pajajaran. Keduanya kemudian dikaruniai keturunan bernama Raden Joko Kahiman yang menjadi Adipati Banyumas pertama bergelar Adipati Warga Utama II atau Adipati Mrapat (Sugeng Priyadi,1998). Kenyataan demikian menggambarkan betapa dari sisi historis sekalipun dapat dilihat kuatnya percampuran Jawa-Sunda dalam ranah kebudayaan Banyumas.

Dalam kehidupan sosial, masyarakat Banyumas akrab sekali dengan folklor yang sangat dipengaruhi oleh ajaran kepercayaan animisme-dinamisme dan perkembangan Islam abangan. Kepercayaan terhadap takhayul, kekuatan-kekuatan supranatural yang melingkupi hidup manusia dan kepercayaan tentang ketuhanan menggambarkan percampuran antara sistem kepercayaan animisme-dinamisme dengan ajaran Islam Abangan. Contoh konkret dapat dijumpai pada mantra-mantra tradisional. Seseorang yang berjalan tepat pada tengah hari di tempat-tempat yang dianggap angker (dihuni makhluk ghaib) akan mengucapkan mantra tradisional-Islami “Millah bedhug”[11] atau mengucapkan “Bismillah, kyaine, putune ajeng liwat”[12]. Pada dunia kanak-kanak pun banyak dijumpai mantra sejenis ini. Seorang anak yang mencari capung akan mengucapkan mantra “Kemalo-kemalo goletna kinjeng kebo ora nyandhang ora nganggo, nganggoa welulang kebo”.

Model mantra-mantra seperti ini dilakukan untuk hal-hal yang serius maupun sekedar main-main. Ucapan, “Millah bedhug” atau “Bismillah, kyaine, putune ajeng liwat” adalah contoh sesuatu yang dianggap serius. Masyarakat daerah ini percaya bahwa di tempat-tempat tertentu dihuni oleh roh halus, baik yang berkelakuan baik ataupun jahat. Sikap kehati-hatian mereka ditunjukkan melalui kalimat-kalimat mantra semacam ini. Adapun dalam konteks main-main, mantra yang diucapkan oleh anak-anak penangkap capung menggambarkan betapa dalam diri mereka terdapat keyakinan atau sugesti, bahwa dengan mengucap mantra tersebut maka capung akan menjadi jinak. Sebaliknya, agar capung tersebut tidak jinak maka mantra tersebut ditangkal dengan mantra yang lain, ndhuling, ndhuling, mburimu ana maling (ndhuling, ndhuling, belakangmu ada maling).

Dalam konteks kesenian, local genius masyarakat Banyumas telah banyak menghasilkan ragam kesenian tradisional yang bernafas kerakyatan seperti lengger, bongkel, jemblung, calung, angklung, dan lain-lain. Aneka ragam kesenian ini dibangun dari kultur kerakyatan. Mereka memiliki standar estetik yang berbeda dengan ragam kesenian kraton yang dijiwai oleh konsep adiluhung. Berkesenian dalam konteks kebudayaan Banyumas adalah sarana ekspresi totalitas pengalaman masyarakat yang hidup dalam komunitas alam pedesaan, jauh dari hegemoni kraton, kultur tradisional-agraris dan kepekaan sosial yang mencerminkan gerak kehidupan keseharian mereka.
Di sisi lain, kehidupan kebudayaan Banyumas sangat dipengaruhi oleh tradisi lisan. Sebagai daerah yang relatif tertinggal dalam perkembangan budaya di masa lalu, budaya tulis di daerah ini relatif berkembang lebih lambat dibanding dengan pusat-pusat kerajaan. Imbas dari semua ini telah memekarkan tradisi lisan sebagai salah satu bagian terpenting dari hidup mereka. Masyarakat di daerah ini memiliki teknik-teknik mengingat peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Banyumas. Seorang warga yang buta huruf di Banyumas dapat bercerita dengan jelas tentang sejarah Banyumas, babad Pasirluhur atau peristiwa Banjir Banyumas. Demikian pula masyarakat di daerah ini memiliki cara untuk mengingat hari, pasaran dan tanggal tahun dalam waktu sewindu hanya dengan hitungan jari.
Kebudayaan Banyumas juga dipengaruhi oleh kultur Barat (kolonial) seperti tercermin dalam berbagai ragam tradisi masyarakatnya. Tradisi marungan yang berupa kebiasaan para priyayi di daerah pedesaan melakukan kasukan (bersukaria) dengan minum-minum (minuman keras) sambil main kartu dan menyaksikan pertunjukan tarian rakyat lengger, disinyalir merupakan pengaruh kolonialisme Belanda yang demikian lama menguasai Indonesia. Pertunjukan tunil yang berupa pethilan (potongan) dari sandiwara diyakini berasal dari istilah toneel dalam kosa kata dalam bahasa Belanda. Demikian pula kostum yang dikenakan pada kesenian dhames dan angguk juga merupakan pengaruh kostum yang dikenakan para serdadu kolonial Belanda. Di sisi lain, pengaruh kolonial juga dijumpai pada model-model bangunan. Rumah potong sedhan adalah salah satu bentuk bangunan hasil pengaruh masa kolonial.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tohari, 1999, “Sumbangan Kebudayaan Lokal terhadap Pengembangan Kepariwisataan di Kabupaten Banyumas”, makalah disampaikan pada Seminar Membangun Kepariwisataan Banyumas, diselenggarakan oleh Pusat Pariwisata (Puspar) Unsoed Purwokerto, bertempat di Gedung Soemarjito Purwokerto, 27 September 1999.

_____, 2005, “Andai Tidak Disubkulturkan”, dimuat dalam Kolom Pringgitan Lembar Sang Pamomong Harian Umum Suara Merdeka, Semarang, Tahun ke-56 Nomor 69 tanggal 24 April 2005 hal.19.

Budiono, t.th. “Babad Pasir II”, Naskah Ketikan.

Geertz, Clifford, 1973, The Interpretation of Culture, New York: Basic Book, Onc., Publishers.

Koentjaraningrat, 1984, Manusia dan Kebudayaan, Seri Etnografi, Jakarta: PN Balai Pustaka.

Lysloff, Rene T.A., 1992, “Innovation and Tradition: Calung Music in Banyumas”, makalah disampaikan dalam Festival of Indonesia Conference Summaries: Indonesian Music 20th Century Innovation and Tradition, New York: Festival of Indonesia Foundation.

Sudiono, 2006, “Teks Santapan Rokhani Hindu”, disampaikan dalam rangka Peringatan Tahun Baru Çaka 1927 (tahun 2006 M), di RRI Surakarta, tanggal 4 April 2006.
Sugeng Priyadi, 1998, “Meninjau Kembali Hari Jadi Kabupaten Banyumas”, makalah dipresentasikan pada Rapat Dinas yang diselenggarakan oleh Setda Kabupaten/Dati II Banyumas pada tanggal 28 Mei 1998.

Yusmanto, 2004, “Strategi Kebudayaan, Orientasi Praktis Penanganan Kebudayaan Banyumas”, makalah disajikan pada Sarasehan Peningkatan Profesionalisme Pamong Budaya yang diselenggarakan oleh Paguyuban Semar, bertempat di Disparbud Kabupaten Banyumas, 2 Januari 2004.



[1] Sumarsam (1992) menyatakan bahwa istilah adiluhung merupakan model pendekatan Eropa yang digunakan oleh intelektual Jawa untuk menjelaskan kesenian istana Jawa sebagai kesenian tinggi.
[2] Di dalam visi dan misi Kabupaten Banyumas sebagaimana tercantum di dalam Rencana Strategis Kabupaten Banyumas Tahun 2002-2006 disebutkan, “…tetap mempertahankan budaya Banyumasan”.
[3] Jennifer Lindsay (1991) menyatakan bahwa istilah rakyat mempunyai pengertan yang dianggap rendah. Istilah istana mengandung pengertian sesuatu yang dianggap bagus, utama, indah, agung dan hebat yang sering diidentikkan dengan kata adiluhung.
[4] Menurut keterangan Gito Sewojo (wawancara,4-7-2005 di Banyumas), masyarakat Banyumas menyebut bahasa Jawa baku dengan istilah bahasa bandhek. Istilah “bandhek” diperkirakan berasal dari kata “gandhek” yang berarti utusan. Ini berkaitan dengan kebiasaan para gandhek dari pusat-pusat kerajaan Jawa yang ketika datang ke wilayah Banyumas menggunakan bahasa yang halus, berbeda dengan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.
[5] Ahmad Tohari menjelaskan bahwa bahasa Jawa baru (standar) dikembangkan sejak era kekuasaan Pajang dan berlangsung hingga Mataram dan mencapai puncak pada era Surakarta-Yogyakarta. Bahasa Jawa yang demikian ini dikembangkan dalam pola-pola yang halus dan bertujuan untuk menciptakan garis yang tegas guna membedakan kraton dan rakyat, gusti dan kawula (wawancara: 4-7-2006 di Tinggarjaya, Jatilawang).
[6] Artefak peninggalan masa Hindu dapat dijumpai di seputar wilayah Banyumas. Misalnya: Situs Lembu Nandi di Sumbang; Batu Lumpang di Kemawi, Somagede; Watu Gathél di Baturraden. Hingga saat ini masyarakat Banyumas juga masih percaya bahwa DAS Serayu memiliki mitos-mitos yang berhubungan dengan keluarga Pendawa dan Astina.
[7] Baca juga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981, Babad Pasirluhur, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta.
[8] Pranata mangsa merupakan kalender yang menggunakan dasar perputaran bumi ke matahari, seperti digunakan dalam perhitungan pada tarikh masehi. Ini berbeda dengan kalender Jawa (Çaka) yang didasarkan pada perputaran bulan ke bumi.
[9] Dalam kalender Jawa, urut-urutan nama bulan dimulai dari bulan Sura, dilanjutkan Sapar, Mulud, Rabimulakhir, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rajab, Sadran, Puasa, Syawal, Apit dan Besar. Sedangkan pranata mangsa dimulai dari Kasa, Karo, Katelu, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Dasa, Sadda dan Dhesta.
[10] Dalam sistem kepercayaan masyarakat Banyumas, setiap bayi lahir ke dunia selalu bersama dengan dua saudara yaitu air ketuban (disebut sedulur tua) dan ari-ari atau placenta (disebut sedulur nom). Oleh karena itu kedua saudara ini disebut juga kakang kawah adhi ari-ari. Keduanya diyakini selalu ikut bersama jabang bayi hingga tumbuh dewasa, bahkan sampai meninggal dunia.
[11] Maksudnya adalah lafal basmallah yang diucapkan pada tengah hari, ketika matahari tepat berada di atas kepala.
[12] Ucapan ini dikandung maksud pengucapan lafal basmallah dengan tetap menunjukkan rasa hormat kepada roh leluhur (kyaine). Di sini, diri sendiri diposisikan sebagai putu (cucu).

SENTRA BUDAYA BANYUMAS


Baca Selengkapnya...
Semenjak tahun 2001 Kabupaten Banyumas telah melaksanakan amanat Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah[1]. Sebagai salah satu upaya yang ditempuh untuk melaksanakan amanat tersebut adalah penggabungan sektor kebudayaan dengan sektor kepariwisataan dalam wadah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Penggabungan kedua sektor ini merupakan langkah strategis dalam rangka memberdayakan aspek-aspek kebudayaan yang ada di masyarakat untuk mendukung pembangunan sektor kepariwisataan. Dengan demikian penggarapan sektor kepariwisataan tidak sekedar berbasis pada wisata alam, melainkan juga mengandalkan sektor kebudayaan sebagai salah satu kekuatan yang diharapkan dapat mewujudkan Kabupaten Banyumas sebagai daerah tujuan wisata.

Penggarapan sektor kebudayaan sebagai salah satu andalan pembangunan kepariwisataan sangat mungkin dilaksanakan di Kabupaten Banyumas, mengingat daerah ini memiliki khasanah atau kekayaan budaya yang beraneka ragam. Daerah Banyumas dikenal memiliki kebudayaan khas, yaitu budaya Banyumas. Pada prinsipnya budaya Banyumas merupakan sub kultur dari budaya Jawa. Namun demikian mengingat kondisi dan letak geografis, latar belakang kehidupan serta pandangan hidup masyarakat Banyumas yang dijiwai oleh semangat kerakyatan, mengakibatkan pada berbagai sisi budaya Banyumas dapat dibedakan dari budaya induknya; budaya Jawa. Di sisi lain letak geografis Banyumas yang berada di daerah perbatasan antara wilayah sebaran budaya Jawa dan Sunda telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan budaya Banyumas. Oleh karena itu pada berbagai aspek dapat dilihat dengan jelas lekatnya percampuran antara kedua kutub budaya tersebut di dalam budaya Banyumas.

Wilayah sebaran budaya Banyumas meliputi wilayah administratif Kabupaten Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, dan Purbalingga serta sebagian wilayah Kabupaten Kebumen (daerah Karanganyar dan sekitarnya). Di wilayah ini hidup dan berkembang berbagai aspek kebudayaan khas yang dipengaruhi oleh pola kehidupan tradisional-agraris antara lain: bahasa, kesenian, kesusastraan, kesejarahan, sistem mata pencaharian, pandangan hidup, sistem religi, sistem nilai, dan lain-lain.

Berbagai aspek budaya yang tumbuh dan berkembang di daerah Banyumas dewasa ini secara berangsur-angsur terkikis oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang merambah berbagai bidang kehidupan. Berbagai khasanah budaya Banyumas terasa sekali makin tergeser ke tepi, berkembang namun dalam kondisi yang pucat pasi, atau terpaksa harus merelakan dirinya mengalami kepunahan. Hal tersebut sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan suatu masyarakat. Apabila kondisi demikian terus berlanjut, bukan tidak mungkin pada suatu saat masyarakat Banyumas akan mengalami keterasingan di negeri sendiri.

Berdasarkan berbagai kenyataan di atas kiranya sangat diperlukan upaya-upaya tertentu dalam rangka menyelamatkan berbagai khasanah budaya Banyumas melalui bentuk-bentuk usaha penggalian, pelestarian, pengembangan, dan pemberdayaan berbagai aspek budaya yang ada di masyarakat. Melalui upaya ini akan dapat dilakukan langkah-langkah revitalisasi, redefinisi, reposisi, dan reaktualisasi aspek-aspek budaya yang ada sehingga mampu tumbuh dan berkembang wajar dalam iklim yang kondusif.
Salah satu langkah yang dapat ditempuh dalam rangka merealisasikan kerangka berpikir di atas adalah dengan mewujudkan sebuah pusat kebudayaan Banyumas. Pemikiran tentang perlunya dibangun pusat kebudayaan di Banyumas telah muncul terutama sejak dituangkannya persoalan kebudayaan di dalam visi Kabupaten Banyumas tahun 2002-2006 yang antara lain berbunyi, “... tetap mempertahankan kebudayaan Banyumas”. Dengan demikian peluang berdirinya lembaga kebudayaan semakin terbuka.
Perlunya didirikan pusat kebudayaan di Banyumas, terutama hangat dibicarakan di dinas teknis yang mengurusi bidang yang satu ini, yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Sejak itu langkah-langkah persiapan bagi berdirinya pusat kebudayan Banyumas mulai dilakukan, antara lain dengan pemetaan lokasi pada tahun 2001 dan kegiatan seminar dengan tema “Perlunya Preservasi Kota Lama Banyumas dalam Penggarapan Kebudayaan Banyumas” pada tahun 2002. Sejak itu pembicaraan tentang pusat kebudayaan Banyumas semakin meluas di lingkungan pemerintahan, legislatif, hingga seniman dan budayawan di daerah ini. Ada beberapa usulan nama yang bergulir, antara lain: Pusat Kebudayaan Banyumas, Banyumas Culture Cenre dan Sentra Budaya Banyumas. Nama terakhir inilah yang kemudian dianggap paling pas, karena selain membumi juga tidak terkesan kegedhen empyak kurang cagak (lebih besar pasak daripada tiang).

Berdirinya Sentra Budaya Banyumas diharapkan dapat memberikan beberapa keuntungan. Pertama, keberadaan lembaga kebudayaan ini merupakan langkah konkret preservasi bangunan-bangunan bernilai sejarah sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Kota Banyumas memang sering disebut sebagai kota lama yang menyimpan aneka bangunan peninggalan kolonial Belanda dan Kadipaten Banyumas sebelum pindah ke Purwokerto pada masa pemerintahan Soedjiman S. Gandasoebrata pada tahun 1936. Berbagai bangunan bersejarah tersebut saat ini banyak diantaranya yang dihuni penduduk dan dikelola Pemerintah Kabupaten Banyumas. Sedangkan sebagian lainnya sudah mulai hancur dimakan usia.

Kedua, Sentra Budaya Banyumas dapat menjadi sasana untuk pelaksanaan kegiatan konservasi aneka ragam kebudayaan lokal dalam lingkup kebudayaan Banyumas. Dalam konteks cultur area, Banyumas merupakan sebuah “provinsi” budaya yang terbentuk di lingkungan masyarakat yang berpola kehidupan agraris, berada di wilayah perbatasan sebaran kebudayaan Jawa dan kebudayaan Sunda. Selama ini kebudayaan di daerah ini berada dalam posisi tersub-ordinasi oleh kebudayaan Jawa. Meminjam istilah Ahmad Tohari, kebudayaan Banyumas berada dalam posisi disub-kulturkan oleh kebudayaan Jawa.[2] Pemberlakuan UU Otonomi Daerah telah menggugah semangat lokal bahwa kebudayaan Banyumas perlu diakui sebagai kebudayaan tersendiri, yang dibedakan dengan kebudayaan Jawa.

Ketiga, keberhasilan mewujudkan Sentra Budaya Banyumas oleh banyak pihak diharapkan dapat menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan penggarapan kebudayaan sebagaimana diamanatkan di dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Kabupaten Banyumas tahun 2002-2006. dalam istilah Banyumasan, hal tersebut diharapkan dapat menjadi puthon (barang atau hasil karya berharga yang dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang) selama rentang waktu tahun 2002 hingga tahun 2006. Dengan memanfaatkan kompleks Pendopo duplikat Kadipaten Banyumas yang bernama Pendopo Si Panji[3] yang merupakan peninggalan Kadipaten Banyumas tempo dulu, kiranya keinginan mendirikan Sentra Budaya Banyumas bukanlah hal yang berlebihan. Terwujudnya Sentra Budaya Banyumas dapat menjadi museum budaya, wahana kegiatan kebudayaan serta memungkinkan dijadikan sebagai salah satu sajian wisata di Kabupaten Banyumas.

Model Penggarapan Kebudayaan

Dengan berdirinya Sentra Budaya Banyumas, maka pengelolaan atau penggarapan kebudayaan di Kabupaten Banyumas secara garis besar dilakukan melalui dua model atau cara, yaitu:
1. Kebudayaan digarap sebagai bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat Banayumas. Di sini berbagai macam aspek kebudayaan warisan leluhur diharapkan dapat menjadi spirit bagi setiap individu di masyarakat dalam kehidupan ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya dan pertahanan-keamanan.
2. Puncak-puncak perkembangan kebudayaan Banyumas yang hidup di masyarakat dikumpulkan dalam suatu wadah pusat kebudayaan. Wadah ini berfungsi sebagai museum, laboratorium serta wahana ekspresi seni-budaya bagi masyarakat Banyumas.

Keberhasilan pengelolaan dengan dua model demikian diharapkan dapat mempercepat akses kebudayaan Banyumas ke dalam maupun ke luar. Akses ke dalam adalah kedudukan dan fungsi kebudayaan Banyumas bagi masyarakat pemiliknya. Sedangkan akses keluar berupa pandangan positif masyarakat luas terhadap eksistensi Banyumas sebagai daerah yang berhasil melakukan penanganan kebudayaan dengan baik. Dampak positif lebih lanjut memungkinkan daerah ini memberdayakan kebudayaan sebagai ikon kebesaran daerah, pengembangan industri wisata serta sebagai pintu masuk bagi investor sebagai penyandang dana di bidang kebudayaan.
Pengelolanan kebudayaan model pertama selama ini sudah digarap oleh Bidang Kebudayaan yang bernaung di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas. Lembaga ini selain memiliki tenaga administrasi dan teknis, juga memiliki tenaga fungsional yaitu Pamong Budaya. Pamong Budaya terdiri dari lima macam, yaitu: (1) Pamong Budaya Sejarah, (2) Pamong Budaya Nilai Tradisional, (3) Pemong Budaya Kesenian, (4) Pamong Budaya Permuseuman dan Kepurbakalaan, dan (5) Pamong Budaya Bahasa dan Sastra. Sementara ini, mengingat keterbatasan tenaga dan kompetensi, baru terisi Pamong Budaya Kesenian yang berkedudukan di wilayah Kecamatan.

Pengelolaan kebudayaan model kedua di atas, hingga saat ini masih terbatas dalam rencana yang perlu segera direalisasikan. Inilah perlunya didirikan Sentra Budaya Banyumas yang dikelola di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Banyumas. Lembaga ini memiliki tugas pokok sebagai wadah kegiatan preservasi bangunan kuno bersejarah, konservasi kebudayan lokal serta menjadi pusat pengkajian kebudayaan yang memfokuskan diri pada kebudayaan Banyumas. Dalam pelaksanaan pengelolaannya, lembaga ini dapat dikerjakan bersama dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten di wilayah sebaran budaya Banyumas, pihak swasta, penyandang dana, LSM, lembaga/organisasi seni-budaya, patron seni-budaya, maupun perorangan yang memiliki respek terhadap bidang seni-budaya.

Sebagai lembaga pemerintah, Sentra Budaya Banyumas dapat dikelola dalam bentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang dipimpin oleh PNS bereselon IVa atau Badan Pengelola Kebudayaan Banyumas yang dipimpin PNS bereselon III. Lembaga ini memiliki dua target sasaran preservasi, konservasi, dan inovasi:

1. Bangunan. Bangunan yang dimaksud di sini adalah bangunan kuno (bersejarah), dan pengadaan bangunan baru yang fungsional bagi kegiatan preservasi, konservasi, dan inovasi kebudayaan yang antara lain:
- Kantor kebudayaan
- Rumah kuno
- Museum
- Sasana/tempat pameran dan pertunjukan kesenian
- Balai kebudayaan
- Workshops centre
- conference centre

2. Kegiatan seni-budaya. Yang dimaksud kegiatan seni budaya di sini adalah berbagai macam kegiatan seni-budaya masyarakat yang terpusat pada satu tempat di bangunan tertentu yang menjadi pusat kebudayaan. Kegiatan tersebut antara lain:

- Penggalian, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan
- Penelitian kebudayaan
- Pertemuan ilmiah tentang kebudayaan
- Pemberdayaan kebudayaan
- Pameran dan pertunjukan kesenian
- Pusat kegiatan seni-budaya
- Wisata budaya

Sentra Budaya Banyumas dalam pelaksanaan kerjanya memiliki dua pengertian, yaitu pengertian sempit dan pengertian luas. Dalam arti sempit, Sentra Budaya Banyumas adalah lembaga UPT Kebudayaan di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Banyumas yang merupakan wadah bagi aktivitas kebudayaan bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Banyumas. Dalam arti luas, jangkauan wilayah kerja lembaga ini adalah seluas ‘provinsi budaya’ atau wilayah sebaran budaya Banyumas. Dengan demikian wilayah kerja lembaga Sentra Budaya Banyumas di sebelah timur mencapai daerah Kebumen dan Wonosobo, di sebelah barat mencapai perbatasan dengan Tasikmalaya dan Cirebon, di sebelah selatan mencapai pantai selatan Pulau Jawa dan di sebelah utara mencapai pantai utara Pulau Jawa. Batas-batas wilayah ‘propinsi budaya’ ini didasarkan pada kondisi faktual persebaran kebudayaan Banyumas saat ini. Dengan demikian dalam perkembangannya sangat mungkin batas-batas ini akan berubah; menyempit atau meluas sesuai dengan kondisi faktual yang terjadi.

Modal

Untuk mewujudkan Sentra Budaya Banyumas harus ada modal, baik dalam wujud materi, finansial, tenaga, pemikiran maupun motivasi. Ada beberapa modal yang secara umum sudah siap untuk mewujudkan Sentra Budaya Banyumas, antara lain:
1. Kemauan masyarakat. Kebudayan Banyumas hingga saat ini masih memiliki pendukung yang cukup kondusif, baik dilihat dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Ini merupakan modal yang sangat berharga untuk mewujudkan impian terbentuknya Sentra Budaya Banyumas. Pada tanggal 20 Maret 2005 tokoh-tokoh masyarakat di wilayah Banyumas dan sekitarnya telah berkumpul di Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas untuk membahas kemungkinan dibentuknya paguyuban atau lembaga yang bertujuan untuk mewujudkan Sentra Budaya Banyumas. Dalam pertemuan tersebut disepakati perlunya penanganan secara serius kota lama Banyumas dan berbagai aspek kebudayaan yang hidup di daerah itu untuk mewujudkan Banyumas sebagai pusat perkembangan kebudayaan. Saat sekarang kelompok tersebut sudah mulai bergerak melakukan inventarisasi kekayaan budaya Banyumas.
2. Bangunan kuno bersejarah dan artefak. Di Banyumas terdapat bangunan-bangunan kuno dan artefak yang bernilai sejarah dan purbakala. Bangunan dan artefak itu di antaranya kompleks Pendopo Duplikat Si Panji, kompleks makam Adipati Mrapat, kompleks makam Kyai Mranggi, kompleks makam Raja Jembrana, Masjid Ageng Nur Sulaiman Banyumas, rumah-rumah peninggalan jaman Belanda, benda-benda museum dan peninggalan purbakala, dan lain-lain.
3. Sekolah seni. Di Banyumas terdapat SMK (dulu SMKI) Sendang Mas yang selain merupakan lembaga pendidikan kesenian tingkat menengah, juga dapat dijadikan sebagai laboratorium seni budaya, khususnya di bidang seni tradisional dan kontemporer Banyumas seperti karawitan, tari, pedhalangan, kriya ukir, keramik, dan lain-lain.
4. Kesenian. Terdapat berbagai macam kesenian tradisional khas Banyumas seperti aplang, angguk, aksimudha, buncis, bongkel, calung, ebeg, lengger, rodat, karawitan, wayang kulit dan lain-lain.
5. Makanan khas. Banyumas memiliki bermacam-macam makanan khas seperti apem, mendoan, gethuk goreng, nopia, salak Kalisube, soto Sokaraja, kripik dan lain-lain.
6. Kerajinan. Di daerah-daerah sekitar Banyumas telah berkembang industri kerajinan dan seni kriya seperti keramik Klampok, tatah sungging, kerajinan blangkon, lukis Sokaraja dan lain-lain.
7. Fasilitas umum. Ada banyak ketersediaan fasilitas umum yang dapat mendukung pelestarian dan pengembangan kebudayaan di daerah Banyumas, seperti kompleks Gua Maria, Gedung Pertemuan, alun-alun, masjid, gereja, pasar tradisional, dan lain-lain.

PAD vs Persoalan Kultural

Hambatan psikologis yang hingga saat ini dirasakan sebagai ganjalan bagi berdirinya Sentra Budaya Banyumas adalah pertanyaan dan atau pernyataan yang berkaitan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Misalnya: apakah Sentra Budaya Banyumas dapat memberikan andil bagi peningkatan PAD, sejauh mana Sentra Budaya Banyumas dapat meningkatkan PAD, seberapa besar PAD yang diperoleh apabila Sentra Budaya Banyumas benar-benar diwujudkan, prioritas pelaksanaan pembangunan adalah sektor-sektor riil yang meningkatkan PAD sehingga Sentra Budaya Banyumas belum menjadi skala prioritas, dan lain-lain. Pertanyaan dan atau pernyataan semacam ini datang dari berbagai pihak, baik di kalangan eksekutif maupun legislatif. Semua ini memunculkan sikap keragu-raguan untuk merealisasikan Sentra Budaya Banyumas.

Dapat dipahami apabila di kalangan eksekutif maupun legislatif muncul pertanyaan atau pernyataan demikian. Pelaksanaan otonomi daerah ternyata telah menjadi persoalan tersendiri bagi Daerah dalam kaitannya dengan kemandirian mengurus rumah tangganya sendiri. Daerah yang berhasil surplus dianggap sebagai Daerah yang berhasil melaksanakan otonomi daerah. Untuk itu, setiap Daerah dituntut mampu menggali setiap potensi yang memungkinkan bagi peningkatan PAD. Di Kabupaten Banyumas sendiri, beberapa sektor riil seperti sektor kesehatan, pajak bumi dan bangunan, kepariwisataan, pajak dan retribusi, menjadi andalan bagi PAD. Dalam hal ini sektor kebudayaan yang berada satu atap dengan kepariwisataan pun tidak luput dari tuntutan bagi masuknya inkam daerah di bidang wisata budaya.
Cara pandang seperti itu tidaklah salah. Namun juga tidak sepenuhnya benar. Pendirian Sentra Budaya Banyumas adalah persoalan kultural, yang berarti persoalan nilai kemanusiaan dan manusia itu sendiri. Keberhasilan penggarapan kebudayaan melalui berdirinya Sentra Budaya Banyumas mestinya tidak diukur dari seberapa besar kemampuan lembaga ini mensuplai PAD. Seandainya toh melalui kegiatan kebudayaan terjadi adanya pemasukan ke Daerah, ini bukan menjadi tujuan utama. Sebab tujuan utamanya adalah menggarap mind set masayrakat Banyumas agar kembali memposisikan kebudayaan sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka.
Keberhasilan Sentra Budaya Banyumas sebagai wadah kegiatan kebudayaan semestinya diukur dari seberapa besar dampak positif yang ditimbulkan terhadap pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Banyumas. Apabila dengan berdirinya Sentra Budaya Banyumas kemudian kebudayaan Banyumas lebih maju, tercipta kesadaran budaya bagi masyarakat Banyumas, tercipta identitas daerah melalui sektor kebudayaan, kebudayaan Banyumas memiliki akses yang lebih luas, terselamatkannya bangunan-bangunan yang bernilai sejarah, maka berarti keberadaan Sentra Budaya Banyumas mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan. Hal ini terkait dengan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan berdirinya Sentra Budaya Banyumas, antara lain:

1. Sarana mewujudkan integritas, karakter, identitas dan kebanggaan masyarakat Banyumas dalam kehidupan ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya dan pertahan-keamanan.
2. Sarana preservasi dan konservasi bangunan kuno bersejarah.
3. Sarana penyimpanan dan pameran benda-benda atau artefak budaya dan benda-benda atau artefak yang memiliki nilai sejarah purbakala.
4. Sarana penelitian dan pengembangan kebudayaan daerah.
5. Sarana ekspresi seni budaya melalui kegiatan pertunjukan dan pameran maupun kegiatan lainnya.
6. Sarana peningkatan kompetensi dan kualitas tenaga teknis dan fungsional serta para pelaku di bidang seni budaya.
7. Pusat kegiatan seni-budaya
8. Wisata budaya

Berbagai ragam sajian yang diprogramkan oleh Sentra Budaya Banyumas seperti preservasi bangunan kuno, pemberdayaan museum dan kegiatan kesenian, memang memungkinkan dijadikan sebagai salah satu sajian wisata yang digolongkan ke dalam obyek wisata budaya. Namun demikian hal ini bukan merupakan tujuan utama berdirinya Sentra Budaya Banyumas. Lembaga ini ditujukan dalam kerangka mewujudkan suatu wadah bagi pengelolanan aspek-aspek kebudayaan lokal yang pernah ada atau masih ada dan berkembang di wilayah sebaran budaya Banyumas. Melalui wadah ini dapat ditetapkan sasaran garapan yaitu terciptanya suasana kondusif bagi kehidupan aspek-aspek budaya Banyumas dalam satu wadah organisasi formal di bidang kebudayaan di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Mimpi-mimpi yang demikian itu kiranya sangat realistis mengingat kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh kebudayaan Banyumas, antara lain: (1) kebudayaan Banyumas adalah kebudayaan yang berkarakter dan memiliki identitas tersendiri yang dapat dibedakan dengan budaya induknya; budaya Jawa, (2) kebudayaan Banyumas hingga kini masih berkembang dan mendapat dukungan dari masyarakat pemiliknya, (3) adanya program Pemerintah yang secara eksplisit memberikan dukungan bagi kelestarian kebudayaan Banyumas, dan (4) otonomi Daerah memberi peluang bagi penanganan kebudayaan sesuai dengan kebutuhan daerah. Selain itu terdapat peluang yang cukup terbuka bagi pengembangan kebudayaan Banyumas mengingat: (1) semakin luasnya jaringan informasi yang memungkinkan dijadikan sebagai sarana melakukan akses kebudayaan Banyumas dalam skala yang lebih luas, (2) terjadinya jalur lintas budaya memungkinkan kebudayaan Banyumas dikenal dan atau dipelajari oleh bangsa-bangsa lain di berbagai belahan dunia, (3) perkembangan ilmu pengetahuan telah menempatkan kebudayaan dipelajari secara teoritik seperti melalui ilmu budaya, etnografi, etnologi, etnomusikologi dan lain-lain yang memungkinkan menempatkan kebudayaan Banyumas sebagai salah satu sasaran di dalamnya, dan (4) perkembangan industri wisata yang makin serius memungkinkan aspek-aspek tertentu dari kebudayaan Banyumas diberdayakan sebagai salah satu daya tarik wisata.
Namun demikian harus diakui bahwa hingga saat ini masih terdapat kelemahan-kelemahan dalam penggarapan kebudayaan, misalnya: (1) kebudayaan Banyumas makin memudar dalam kehidupan masyarakat pendukungnya, (2) adanya penilaian rendah terhadap kebudayaan Banyumas yang datang dari masyarakat pendukungnya dibanding penilaian terhadap budaya kraton (Jawa) dan budaya modern yang datang dari Barat, (3) pada bagian-bagian tertentu dari kebudayaan Banyumas kurang mampu menyesuaikan dengan perkembangan jaman, (4) kurangnya jumlah petugas kebudayaan, (5) minimnya petugas kebudayaan yang memiliki kompetensi dan jenjang pendidikan sesuai bidang tugasnya, (6) kurangnya diklat kebudayan baik di tingkat lokal, regional maupun nasional yang berpengaruh terhadap kemampuan teknis penanganan kebudayaan, (7) belum optimalnya sikap mental dan motivasi petugas kebudayaan dalam pelaksanaan penanganan kebudayaan, (8) minimnya dana untuk penanganan kebudayaan, dan (9) kurangnya kesesuaian antara program penanganan kebudayaan dengan kebutuhan di lapangan.

Di luar itu semua, kondisi faktual yang berkembang saat ini mengarah pada hal-hal yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan lokal Banyumas, antara lain: (1) modernisasi dan globalisasi pada skala tertentu mengakibatkan terjadinya invasi budaya yang mengakibatkan ragam kebudayaan tradisional tergeser oleh arus budaya massa (mass culture), (2) pelaksanaan pendidikan di sekolah lebih menitikberatkan proses alih ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga kurang memberikan kesempatan terhadap kebudayaan lokal untuk diserap secara wajar oleh kalangan generasi muda, (3) gaya hidup masyarakat masa kini yang cenderung lebih bersifat instan dan lebih mementingkan aspek penampilan fisik telah menipiskan apresiasi terhadap kandungan nilai dan makna yang terkandung di dalam kebudayaan tradisional, (4) berbagai ragam kebudayaan pop yang diproduksi secara massal telah menipiskan tingkat apresiasi masyarakat terhadap aspek-aspek kebudayaan lokal, dan (5) kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan oleh hasil produk teknologi modern menyebabkan hasil produk budaya tradisional yang bersifat manual dan sederhana terasa ketinggalan jaman.
Beberapa kondisi faktual seperti tersebut di atas pada sisi tertentu memberi keuntungan bagi eksistensi kebudayaan Banyumas, namun di sisi lain justru terjadi banyak hal yang merugikan keberadaannya. Semua ini merupakan titik penting perlunya didirikan Sentra Budaya Banyumas. Melalui lembaga ini memungkinkan dibangun infrastruktur maupun suprastruktur di bidang kebudayaan yang semua itu demi kepentingan masyarakat Banyumas secara keseluruhan, yang berarti pula merupakan kepentingan Kabupaten Banyumas dipandang dari sisi teritorial. Keberadaan Sentra Budaya Banyumas berkaitan erat dengan pembangunan masyarakat Banyumas secara keseluruhan. Hal ini sebagaimana dengan pendapat Koentjaraningrat bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan memiliki tiga wujud, yaitu: (1) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya, (2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan (3) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.[4] Dengan demikian persoalan kebudayaan bukan hanya persoalan fisik saja, melainkan juga berkaitan dengan kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, serta kompleks aktivitas dan tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.

Perlunya Kesiapan

Impian berdirinya Sentra Budaya Banyumas hanyalah sekedar impian, apabila tidak diikuti dengan kesiapan berbagai hal yang terkait langsung dengan keberadaan lembaga ini. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan antara lain:

1. Ketenagaan. Untuk mencapai target keberhasilan yang diinginkan, Sentra Budaya Banyumas memerlukan kesiapan ketenagaan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Untuk mewujudkan pelaksanaan kerja yang baik maka lembaga ini membutuhkan tenaga-tenaga yang berkedudukan dalam jabatan struktural dan fungsional. Jabatan struktural harus diisi oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berijasah S-2/S-1 dengan fak atau jurusan yang berada dalam lingkup kebudayaan, seperti: Antropologi Budaya, Sejarah, Arkeologi, Seni Karawitan, Seni Tari, Seni Rupa/Arsitektur, Seni Pedalangan, Bahasa dan Sastra. Adapun jabatan fungsional harus diisi oleh PNS dengan fak/jurusan sesuai dengan urusan tugas pokoknya yang meliputi:
- Urusan Sejarah
- Urusan Nilai Tradisional
- Urusan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME
- Urusan Kesenian
- Urusan Permuseuman
- Urusan Kepurbakalaan
- Urusan Kebahasaan
- Kesastraan

Mereka selain memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya juga harus telah lulus Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) sesuai dengan peraturan-perundangan yang berlaku serta memiliki kualitas yang memadai untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Persoalan ketenagaan merupakan persoalan yang cukup rumit mengingat kondisi saat ini di lingkungan Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas hanya terdiri dari sembilan orang dan hanya empat orang yang berbasis pendidikan sesuai dengan bidang garapan pada Sentra Budaya Banyumas. Cara yang dapat ditempuh adalah melalui alih fungsi dari ketenagaan di sektor lain atau rekruitment CPNS secara berkala.

2. Sarana-Prasarana. Sarana dan prasarana juga merupakan hal yang sangat penting untuk dipersiapkan. Untuk mewujudkan Sentra Budaya Banyumas diperlukan gedung perkantoran dan gedung lainnya. Dalam hal ini lokasi yang dapat dianggap paling strategis adalah Kompleks Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas. Di lokasi itu terdapat bangunan pendopo, rumah induk Bupati serta bangunan lain yang saat ini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas dan dalam kondisi terbengkelai. Dalam hal ini kekurangan sarana-prasarana yang paling menonjol adalah alat-alat kantor berupa mebelair, meja-kuris dan ATK. Apabila lembaga ini segera akan didirikan maka dari sisi sarana-prasarana tidak ada permasalahan yang berarti.

3. Ragam Kebudayaan. Di daerah Banyumas terdapat aspek-aspek kebudayaan yang sangat beragam meliputi kesejarahan, nilai tradisional, penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME, kesenian, permuseuman, kepurbakalaan dan kebahasaan. Semua ini merupakan kekuatan utama bagi keberadaan Sentra Budaya Banyumas.

4. Masyarakat. Perlu dilakukan usaha nyata agar tercipta suatu masyarakat yang sadar budaya. Penggarapan kebudayaan tanpa diikuti penggarapan masyarakatnya, niscaya tidak akan membawa hasil optimal. Di sini dapat dilakukan berbagai macam model antara lain penyuluhan, tatap muka langsung di lapangan, apresiasi dan lain-lain.

5. Pangsa Pasar. Pangsa pasar yang dimaksud di sini adalah berkaitan dengan “untuk siapa Sentra Budaya Banyumas didirikan”. Apakah untuk wisatawan, masyarakat Banyumas sendiri, anak sekolah atau untuk siapa? Di sini perlu jelas siapa pangsa pasarnya. Hal ini berkaitan dengan menu sajian, teknik sajian serta durasi sajian berbagai materi yang disajikan di dalamnya.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Tohari, 2005, “Andai Tidak Disubkulturkan”, dimuat dalam Kolom Pringgitan Lembar Sang Pamomong Harian Umum Suara Merdeka, Semarang, Tahun ke-56 Nomor 69 tanggal 24 April 2005.

Koentjaraningrat, 1984, Kebudayaan Jawa, Balai Pustaka, Jakarta.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

[1] Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah selanjutnya diganti dengan Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
[2] Ahmad Tohari, 2005, “Andai Tidak Disubkulturkan”, dimuat dalam Kolom Pringgitan Lembar Sang Pamomong Harian Umum Suara Merdeka, Semarang, Tahun ke-56 Nomor 69 tanggal 24 April 2005 hal.19.
[3] Pendopo yang asli telah diboyong ke Purwokerto pada saat kepindahan tahun 1936 dan masih berfungsi sebagai Pendopo Kabupaten Banyumas hingga sekarang.
[4] Koentjaraningrat, 1984, Kebudayaan Jawa, Balai Pustaka, Jakarta, hal. 187.