Saturday, May 9, 2009

Gubrak Lesung, Seni Banyumasan yang Kian Surut


Baca Selengkapnya...


Kamis, 2 April 2009 | 02:01 WIB
Oleh M Burhanudin

Hari beranjak sore di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup musik tetabuhan bernada ritmik mengalun rancak dari arah Sanggar Plana yang terletak tak jauh dari pinggir Sungai Serayu. Setelah Kompas mendekat, rupanya di depan sanggar sederhana beratap ilalang itu lima nenek sedang memainkan seni gubrak lesung.

Lima nenek itu adalah Aswi (75), Wasilah (71), Sati (70), Marpik (61), dan Srigiyatin (56). Mereka bertetangga. Memainkan musik gubrak lesung merupakan hal biasa bagi perempuan-perempuan lanjut usia di Desa Plana. Bukan untuk pertunjukan, tapi sekadar menghibur diri dan lingkungan sambil melewatkan senja.

Aswi dan kawan-kawan mengaku terbiasa memainkan gubrak lesung sejak muda. Untuk nada yang dimainkan, mereka mewarisinya dari orangtua mereka.

"Ini seni peninggalan nenek moyang. Walau tidak ada yang ditumbuk, kami bisa tetap main-main seperti ini untuk hiburan kalau kumpul sore-sore seperti ini," tutur Srigiyatin.

Di masyarakat pedalaman Jawa yang agraris, seni musik lesung sudah berkembang sejak dahulu kala. Di Jawa Tengah bagian timur dan sebagian Jawa Timur, seni ini disebut gejog lesung, sedangkan di Jawa Banyumasan, masyarakat menyebutnya gubrak lesung. Meski berbeda nama, intinya sama, yakni seni tetabuhan yang dimainkan oleh para perempuan menggunakan lesung kayu yang dipukul dengan alu.

Seni ini biasanya dimainkan usai panen tiba, yaitu sebagai perayaan warga pedesaan atas panen padi yang melimpah. Namun, dalam perkembangannya, masyarakat juga biasa memainkannya untuk hiburan di luar masa panen.

Seiring makin langkanya penggunaan lesung dan alu untuk menumbuk padi, seni gubrak lesung jauh surut. Dalam kehidupan riil, lesung dan alu terpinggirkan oleh mesin penggiling padi yang cara kerjanya jauh lebih efektif dan efisien. Cara kerja mesin pun menggantikan cara kerja komunal petani di pedesaan yang guyub. Tak ada lagi kumpul-kumpul usai panen untuk menumbuk padi dan berpesta bersama dalam alunan ritmik gubrak lesung.

Dahulu hampir semua desa di Banyumas memiliki kelompok seni gubrak lesung. Namun, kini kelompok yang secara rutin memainkan seni gubrak lesung tinggal di Desa Plana, Kecamatan Somagede. Sayangnya, pemainnya umumnya sudah berusia lanjut. Regenerasi menjadi masalah utama.

Marpik mengatakan, jarang anak muda yang tertarik memainkan gubrak lesung. Mereka lebih tertarik dengan seni modern atau seni tradisional banyumasan di luar gubrak lesung.

"Anak-anak muda di sini memilih ikut karawitan atau tarian banyumasan. Tidak ada yang mau main gubrak lesung," kata dia.

Untuk memainkan gubrak lesung dituntut latihan dan kebiasaan terus-menerus. Maklum, memukulkan alu yang beratnya di atas 5 kilogram ke lesung secara ritmik sangat melelahkan. Selain itu, kulit telapak tangan pun bisa kasar. Hal itu yang tak disukai perempuan muda.

Pegiat seni tradisional Desa Plana, Yusmanto, mengatakan, seni gubrak lesung harus dilestarikan. Salah satu jalan yang ditempuh Sanggar Plana adalah mementaskan gubrak lesung banyumasan di berbagai festival.

Sumber: http://kompas.co.id/read/xml/2009/04/02

MEREKA BERTAHAN DI TENGAH BUDAYA POP


Baca Selengkapnya...


Setiap pulang sekolah, bersama sejumlah temannya, Egi Darmawan (14), siswa SMP Negeri 1 Somagede, Kabupaten Banyumas, belajar tari dan karawitan di Padepokan Seni Banyubiru di Desa Plana, Kecamatan Somagede. Dia mengaku tidak malu dan tidak khawatir dikatakan kolot, belajar seni tradisional.

Saya malah bangga bisa berkesenian tradisional. Bisa ke mana- mana. Sebenarnya saya juga suka seni modern, tetapi saya lebih bangga dengan seni tradisional," ujar Egi Darmawan.

Di padepokan itu ada sekitar 20 anak dan remaja putri berusia 8- 15 tahun yang setiap Selasa dan Jumat pukul 14.00-17.00 berlatih tari banyumasan. Bahkan ada beberapa anak yang belajar tari di padepokan tersebut sejak usia tujuh tahun. Salah satunya adalah Dwi Retnoningsih (12), siswa Kelas VI SD Plana Satu.

"Saya memang senang tari. Banyak teman-teman saya di sekolah yang ikut tari," kata Dwi yang menguasai paling tidak lima tari tradisional banyumasan seperti sonderan, tredel, merak, mrampak, dan manipuri.

Yusmanto (42), pembina seni di Padepokan Seni Banyubiru, mengatakan, sejak tahun 2003 padepokan ini mengembangkan 10 seni tradisional khas Banyumas, yakni gubrak lesung, cowongan, ujungan, calung, lengger, tari banyumasan, karawitan, wayang kulit, ebeg, dan salawatan jawa. Padepokan ini mempunyai 271 anggota yang berusia 8-40 tahun. Sebagian besar dari mereka adalah generasi muda.

Padepokan Tjipto Boedojo di lereng Gunung Merapi di Kabupaten Magelang juga membina kelompok kesenian yang khusus beranggotakan anak-anak, mulai dari usia TK hingga SMP. Mereka diperkenalkan bentuk kesenian kethoprak. Agar lebih mendekatkan kesenian kepada mereka, dalam pementasan ditambahkan adegan-adegan yang erat dengan keseharian anak-anak.

"Misalnya, sekalipun yang dipentaskan adalah cerita pewayangan, di dalamnya tetap ditambahkan kegiatan-kegiatan pada masa kini seperti menggosok gigi atau belajar IPA," ujar Sitras Anjlin (50), seniman dari Padepokan Tjipto Boedojo.

Kelompok kesenian anak-anak tersebut memang dibentuk untuk tujuan regenerasi. Pada awal padepokan berdiri, tahun 1937, anak-anak dikumpulkan untuk diajari beragam kesenian. Namun secara perlahan, minat untuk berkesenian justru tumbuh dari kesadaran anak-anak.

"Jika sudah sebulan lebih tidak pentas, anak-anak akan ribut bertanya, kapan mereka bisa kembali naik panggung," katanya. Sebagaimana di Padepokan Tjipto Boedojo, seniman di Padepokan Seni Banyubiru juga terus membuat inovasi kreasi terhadap kesenian tradisional agar terus bertahan. Inovasi dan kreasi itu pula yang membuat anak muda di Desa Plana dan sekitarnya mau turut nguri-uri budaya warisan nenek moyangnya di tengah gempuran budaya modern yang menjanjikan kekotaan.

"Kami mengakui modernisme pun memengaruhi kami. Namun, satu hal yang selalu kami tekankan di sini, berkesenian tradisional bukan sekadar mbombong manah atau hiburan, tapi sebuah ekspresi yang mendorong untuk terus berinovasi dan berkreasi. Dari sinilah terbangun kebanggaan terhadap pementasan budaya lokal," ujar Yusmanto. (han/egi)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/28

Sunday, May 3, 2009

SAJIAN CALUNG ANAK-ANAK BANYU BIRU PLANA


Baca Selengkapnya...


Siapa bilang anak-anak muda tidak lagi menyenangi kesenian tradisonal? Kalau kita mau jujur, semua itu sangat bergantung seberapa jauh mereka berkesempatan untuk berapresiasi dengan ragam kesenian tradisional di lingkungan sekitar. Semakin besar apresiasi, maka kian besar pula kecintaan dan sense of belonging dalam diri mereka. Sebaliknya, jika mereka tidak memiliki media apresiasi yang cukup, rasa kecintaan mereka pun menjadi rendah. Lihat saja, anak-anak Padhepokan Seni Banyu Biru Plana yang sudah demikian terampil memainkan alat musik calung di saat usia mereka masih muda belia.






Anak-anak Padhepokan Seni Banyu Biru Plana
dalam sebuah sajian calung Banyumasan

Saturday, May 2, 2009

APLANG ATAU DHAENG


Baca Selengkapnya...





Pertunjukan seni aplang atau dhaeng yang sekarang
masih hidup di Desa Kanding, Kecamatan Somagede,
Kabupaten Banyumas

FOTO PERTUNJUKAN AKSIMUDHA


Baca Selengkapnya...





Pertunjukan Aksimudha di Desa Purwadadi, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas

Friday, May 1, 2009

ANAK MASA DEPAN


Baca Selengkapnya...



Main Ebeg di Teras


Saat umur 2 thn Gading main ebeg di teras. Dia juga paling suka main ebeg sama teman-teman saat menjelang senja dan memaksa ayahnya main wayang di waktu senggang. Akankah dia masih mau menari dengan hati saat dia besar nanti???? Entahlah. Tapi dia adalah bagian dari masa depan.



Main ebeg bersama teman-teman



Menyaksikan ayah bermain wayang

HAPPY SALMA BELAJAR RONGGENG


Baca Selengkapnya...



Happy Salma bersama penari dan pelatih
di Padhepokan seni Banyu Biru Plana. Dari Kiri:
Shanty, Izah, Happy Salma, Devi dan Ajeng.


Keberadaan Padhepokan Seni Banyu Biru di Desa Plana, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas kian dikenal meluas. Artis nasional yang sedang naik daun, Happy Salma pun datang ke padhepokan seni yang berada di bibir sungai Serayu ini hanya untuk belajar njoged ronggeng atau lengger. Happy Salma belajar menari dan nyindhen ala ronggeng atau lengger Banyumasan guna mendukung produksi monolog 'Ronggeng Dukuh Paruk' yang bersumber dari novel karya Ahmad Tohari dan akan dipentaskan di beberapa kota di Indonesia pada bulan Oktober 2009. Pada foto di atas tampak Happy Salma foto bersama Devi dan Ajeng, dua penari dari Padhepokan Seni Banyu Biru. Pada foto di bawah ini dapat dilihat Happy Salma bersama personal Padhepokan dan salah satu momentum saat Happy Salma mencoba njoged bersama para penari.



Foto bersama personal Padhepokan Seni Banyu Biru






Njoged bersama penari

KEBERADAAN SENI BEGALAN DI BANYUMAS DEWASA INI


Baca Selengkapnya...



Saya baru saja mendapat dua pertanyaan penting dari happy.tingkerbell@yahoo.co.id tentang keberadaan seni begalan di Banyumas: (1) Bagaimana keberadaan seni begalan dewasa ini, dan (2) Bagaimana peran Pemerintah untuk mengatasi persoalan yang terjadi pada perkembangan seni begalan. Di bawah ini saya paparkan beberapa persoalan mendasar. Semoga dapat membantu pemahaman tentang eksistensi seni begalan dalam kehidupan masyarakat Banyumas saat ini.

Keberadaan Seni Begalan di Banyumas Dewasa ini

Hampir sama dengan ragam seni tradisional yang lain, begalan di Banyumas juga terkena imbas perubahan sosial (social change) yang ditandai dengan perubahan cara hidup dari tradisional-agraris ke arah modern-teknologis. Perubahan tersebut bukan saja meliputi aspek-aspek fisik, tetapi juga mencakup tataran sosial-psikologis maupun psiko-sosial masyarakat yang bersangkutan. Salah satu aspek psikologis yang paling menonjol adalah terjadinya transformasi nilai berupa penggantian nilai-nilai tradisional dengan nilai-nilai modern. Representasi dari nilai tradisional yang tampak pada berbagai macam bentuk kearifan lokal sering dianggap tidak praktis, tidak efektif, bertele-tele, kuno, dan lain-lain.

Fenomena yang dijumpai di dalam seni begalan berupa penyampaian ajaran dari kalangan tua kepada kalangan muda (kaki penganten nini penganten) melalui simbol-simbol yang tertuang di dalam properti pementasan. Abrag-abrag atau brenong kepang (disebut juga bubak kawah) merupakan media simbolik yang mengajarkan nilai-nilai hidup: tentang ketuhanan, tentang alam semesta, tentang tugas dan kewajiban sebagai manusia dalam hidup di dunia.

Perubahan jaman ke arah modernisasi (bahkan post-modernism) menyisakan anggapan bahwa cara-cara tradisional tidak efektif. Penyampaian ajaran lewat simbol-simbol yang pada mulanya menjadi penyampaian informasi dengan kebebasan kreatif dalam penterjemahannya, kini kian jarang digunakan. Masyarakat lebih cenderung memilih cara-cara verbal dan praktif agar dapat dengan mudah ditangkap oleh lawan bicara (komunikan).

Keadaan demikian telah menjadi salah satu penyebab kemunduran eksistensi seni begalan di Banyumas. Saat ini bisa dengan mudah dijumpai pertunjukan begalan, tetapi substansinya berbeda. Keberadaan begalan lebih berfungsi sebagai media hiburan, berupa tari-tarian yang cenderung gecul (lucu), dialog antar pemain yang cenderung mengarah pada dhagelan atau lawak, maupun pemilihan terminologi yang lebih menjurus pada pornografi-pornoaksi (meskipun dengan cara medhang miring maupun nyampar pikoleh).

Perkembangan seni begalan yang demikian sesungguhnya lebih cocok disebut sebagai kemunduran. Sebab, begalan yang semula selain tampil sebagai media hiburan, sesungguhnya merupakan sebuah prosesi ritual yang bermakna lebih dalam bagi para kaum muda (kaki penganten-nini penganten). Keberadaan begalan yang lebih sekedar sebagai media hiburan telah berakibat pada semakin tipisnya substansi kehadiran begalan pada ritus perkawinan tradisional. Ini dapat dilihat langsung di lapangan, masyarakat semakin sering melakukan tawar-menawar waktu untuk pertunjukan begalan. Seseorang dapat menawar pertunjukan begalan hanya dalam tempo 15 menit, 10 menit, atau bahkan lima menit. Mereka tidak lagi berbicara seberapa dalam substansi begalan sebagai media ungkap nilai-nilai tradisional melalui simbol-simbol diungkapkan melalui pertunjukan begalan.

Peran Pemerintah

Eksistensi sebuah ragam kebudayaan sangat terkait dengan politik-kekuasaan yang mem-back up pertumbuhan dan perkembangannya. Seni begalan sebagai bagian integral dari kehidupan kebudayaan lokal Banyumas pun tidak lepas dari bagaimana Pemerintah Banyumas memandang penting dan tidaknya keberadaan kesenian ini dalam dinamika dinamika politik-kekuasaan di wilayah tersebut. Pada masa kekuasaan kerajaan Jawa, berbagai ragam kesenian (terutama seni sastra, seni karawitan, dan seni tari) sangat berkembang pesat, karena pihak kerajaan menggunakannya sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan raja. Pergantian kekuasaan dari kerajaan ke bentuk republik pada tahun 1945 telah berpengaruh terhadap kontinuitas ragam kesenian tradisional (beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya).

Pemerintahan NKRI yang berasaskan demokrasi telah menempatkan kesenian sebagai milik rakyat; bukan milik penguasa. Kesenian tidak lagi sebagai alat legitimasi kekuasaan raja (presiden), tatapi sebagai bagian dari khasanah budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Kesenian diamanatkan sebagai milik rakyat. Keadaan demikian sangat jauh berbeda jaman kerajaan yang menempatkan kesenian sebagai milik raja.

Dalam posisi demikian, fluktuasi perkembangan kesenian bukan lagi terkait dengan ‘kepentingan’ politik-kekuasaan, tetapi larut dengan fluktuasi perubahan sosial yang berlaku di masyarakat. Ketika masyarakat Banyumas begitu dahsyat terkena dampak perubahan jaman ke arah modernisme, secara otomatis ragam kearifan lokal yang dimiliki pun terkena imbasnya.

‘Penyerahan’ kesenian kepada rakyat yang demikian ini, sesungguhnya tidak lantas menghilangkan peran pemerintah. Sebab, modernisasi yang menghasilkan globalisasi terbukti telah menyadarkan dunia akan pentingnya kearifan lokal bagi eksistensi diri sebuah bangsa. Bangsa yang tidak menyadari akan pentingnya kearifan lokal akan tumbuh menjadi bangsa yang tanpa identitas. Kesadaran akan identitas telah banyak menyulut perjuangan pada banyak negara melalui pengukuhan identitas kebudayaan. Beberapa negara yang paling getol memperjuangkan identitas antara lain: Jepang, Kore Selatan, Thailand, Turki, Tajikistan, dan India.

Meminjam istilah Prof Eko Budiharjo, untuk melawan globalisasi hanya bisa dilakukan dengan satu cara, yaitu melalui glokalisasi. Glokalisasi adalah sebuah konsep mewujudkan kekuatan lokal sebagai identitas diri dan lingkungan di mata dunia luar. Dalam hal ini, berbagai ragam kearifan lokal harus direvitalisasi dan direaktualisasi melalui berbagai cara agar kembali menjadi mainstream dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan.

Di banyumas terdapat berbagai ragam kesenian tradisional seperti aplang, aksimudha, lengger, calung, begalan, bongkel, ujungan, cowongan, dan lain-lain. Semua itu merupakan representasi dari nilai-nilai dan pengalaman batin masyarakat setempat. Sebagai bentuk representasi nilai-nilai, berbagai ragam kesenian yang lahir dan hidup di Banyumas dapat mewakili karakter masyarakatnya. Dan, perbedaan karakter merupakan bagian terpenting bagi munculnya identitas. Oleh karena itu, Pemerintah Banyumas sudah seharusnya senantiasa mengupayakan peran dan eksistensi ragam kesenian tradisional untuk membangun karakter Banyumas yang berguna bagi sumber motivasi bagi perjuangan dalam pelaksanaan pembangunan daerah.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka dalam pelaksanaan pembangunan daerah di wilayah Banyumas sangat perlu melihat nilai-nilai yang menjadi pedoman hidup masyarakatnya sebagaimana teraktualisasi melalui ragam kesenian lokal. Salah satu di antara wujud ekspresi dari nilai-nilai tersebut adalah sebagaimana dijumpai pada seni begalan. Peran yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas antara lain:
1. Mencari akar peramasalahan yang terjadi dalam kehidupan ragam kesenian tradisional dan melakukan tindak lanjut berupa problem solving terhadap masalah-masalah yang terjadi di lapangan.
2. Mendorong dan memberi peluang/kesempatan bagi seni begalan untuk berkontinuitas sesuai dengan perkembangan jaman.
3. Mendorong masyarakat untuk memposisikan seni begalan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan ideologi, politik, ekonomi, dan sosial-budaya.
4. Melakukan dokumentasi baik dalam bentuk tulisan, audio, visual, maupun audio-visual guna sebagai langkah preservasi nilai-nilai dan tampilan serta guna mengetahui perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
5. Melaksanakan penggalian, pelestarian, pengembangan serta pemberdayaan nilai-nilai yang terkandung di dalam seni begalan.
6. Mencari jalan keluar berbagai permasalahan yang terjadi dalam kehidupan berbagai ragam kesenian tradisional termasuk di dalamnya seni begalan.
7. Menyediakan dana guna eksistensi dan kontinuitas berbagai ragam kesenian tradisional termasuk di dalamnya seni begalan.

Apa yang sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyumas saat ini? Pada prinsipnya keenam peran tersebut secara formal sudah mulai dijalankan. Namun demikian hingga saat ini, dengan alasan keterbatasan dana, peran tersebut belum menyentuh pada akar permasalahan. Oleh karena itu pada masa yang akan datang, Pemerintah Kabupaten Banyumas sudah seharusnya lebih memikirkan upaya-upaya konkret untuk mengatasi persoalan-persoalan substansif yang ada.