Friday, February 20, 2009

KONDISI EKSISTING KAWASAN KOTA LAMA BANYUMAS


Baca Selengkapnya...

Kawasan kota lama Banyumas merupakan sebuah kawasan yang pernah menjadi lokasi bekas pusat pemerintahan Kadipaten Banyumas sebelum pindah ke Purwokerto. Kota ini dibangun dengan konsep sangga buana, yaitu berada di sebuah wilayah yang dikelilingi dataran tinggi (menyerupai mangkuk) dengan pusat kota tepat di tengah-tengah cekungan terdalam, di tepi sungai Serayu. Konsep ini memiliki makna filosofis bahwa pemerintah Kadipaten Banyumas diharapkan mampu menjadi jugang pawuhan, yakni mampu menjadi tempat muara berbagai persoalan hidup masyarakatnya. Selain itu, secara geografis wilayah yang berada di cekungan seperti ini memiliki tanah subur yang memungkinkan Banyumas menjadi wilayah yang gemah ripah loh jinawi karta tata tur raharja.

Kota lama Banyumas terdapat di sebuah kawasan yang berjarak kurang lebih 11 km dari arah kota Purwokerto yang saat sekarang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas. Kota lama Banyumas berada di wilayah strategis yang menghubungkan jalur lintas Jakarta-Yogyakarta dan Bandung-Semarang lewat jalur darat. Letak strategis yang demikian ini memungkinkan kota lama Banyumas menjadi jalur lintas ekonomi, perdagangan, dan pariwisata di antara kota-kota besar tersebut.

Di wilayah kota lama Banyumas terdapat berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, antara lain:

  1. Artefak sejarah-purbakala. Di wilayah ini terdapat berbagai macam artefak sejarah-purbakala seperti kompleks Pendopo Duplikat Si Panji, kompleks makam Adipati Mrapat, makam Kyai Mranggi, Makam Raja Jembrana, dan lain-lain. Tempat-tempat ini memungkinkan dikembangkan untuk keperluan wisata sejarah dan wisata religi.
  2. Ekonomi dan perdagangan. Di wilayah ini terdapat pasar tradisional, sentra badik, sentra bunga, sentra makanan khas dan lain-lain. Adanya sentra-sentra ekonomi dan perdagangan yang dikelola oleh masyarakat, memungkinkan kota lama Banyumas mewujudkan diri sebagai salah satu pusat ekonomi dan perdagangan di wilayah Kabupaten Banyumas dan sekitarnya.
  3. Budaya. Kota lama Banyumas merupakan salah satu kawasan budaya lokal yang bercirikan adanya perpaduan antara budaya kerakyatan, budaya priyayi dan budaya Indisch. Kekayaan ragam budaya ini dapat diarahkan untuk mencitrakan kota Banyumas sebagai pusat kebudayaan lokal Banyumas.
  4. Pertanian. Di tengah perubahan sosial ke arah modernisasi dan globalisasi, wilayah kota lama Banyumas masih menyimpan kekuatan sebagai daerah agraris yang bertumpu pada pertanian dengan sistem pengairan berupa irigasi teknis dan setengah teknis. Kondisi demikian memungkinkan wilayah kota lama Banyumas diarahkan sebagai ‘lumbung’ tanaman pangan bagi warga masyarakat Banyumas dan sekitarnya.

Saat ini kota lama Banyumas masih berkutat sebagai kota kecil (kota kecamatan) yang cenderung kurang berkembang. Hal ini disebabkan semua potensi tersebut di atas belum dikembangkan secara optimal. Apabila dilakukan upaya pengembangan secara serius, tertata, dan berkesinambungan, bukan tidak mungkin kota lama Banyumas dapat mewujudkan diri sebagai kekuatan ekonomi dan kultural pada masa yang akan datang.

KOTA LAMA BANYUMAS: Perpaduan Berbagai Elemen Kebudayaan


Baca Selengkapnya...
Kota Lama Banyumas menyimpan keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kota lain. Di wilayah ini berkembang tiga kultur yang berbeda, yakni kultur priyayi, kultur wong cilik, dan kultur Indisch. Kultur priyayi berkembang di pusat pemerintahan Kadipaten Banyumas masa lalu (sebelum pindah ke Purwokerto) yang menyisakan peninggalan artefak sejarah berupa kompleks Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas beserta bangunan-bangunan kuno yang terdapat di sekitarnya. Kultur wong cilik sebagai arus utama dalam kehidupan masyarakat Banyumas dapat dijumpai di dalam komunitas masyarakat yang terdapat di luar tembok Kadipaten dan masih lestari hingga sekarang. Sedangkan kultur Indisch merupakan kultur yang berkembang pada masa penjajahan Belanda yang menyisakan artefak bangunan kuno yang bercorak Indisch yang dalam persebarannya hidup berdampingan dengan kehidupan kaum priyayi, wong cilik dan masyarakat Cina Keturunan (Tiong Hoa).

Jika dilihat dari aktivitas sosial, keberadaan ketiga kultur ini dapat dilihat pada tiga komponen penting, yaitu pemerintahan, kehidupan sehari-hari masyarakat, dan perdagangan. Aktivitas pemerintahan berupa Kadipaten (bukan Kabupaten) yang bercirikan adanya kekuasaan Adipati yang memiliki angkatan perang. Dalam sejarahnya, pemerintahan di Kadipaten Banyumas mulai berkembang sejak Kasultanan Pajang, yang berlangsung terus hingga masa kekuasaan Mataram maupun Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas yang dimaksud di sini adalah sebuah perjalanan kultural yang bersumber dari pola kehidupan tradisional-agraris. Nilai-nilai yang berkembang adalah nilai kerakyatan yang bercorak egaliter, sederhana, terbuka (exposure), dan cablaka (tranparency). Adapun aktivitas perdagangan ditandai dengan keberadaan pasar tradisional yang terdapat di sisi utara Kota Banyumas sekarang. Kegiatan perdagangan di Kota Lama Banyumas tidak lepas dari kebijakan pemerintah Hindia Belanda bersama pemerintah Kadipaten Banyumas yang melibatkan etnis Tiong Hoa sebagai salah satu bagian terpenting di dalamnya. Kondisi tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang.