Friday, January 2, 2009

KEBUDAYAAN LOKAL BANYUMAS DALAM KONTEKS KEBUDAYAAN JAWA

Dari studi diakronis tentang kebudayaan lokal Banyumas tidak lepas dari eksistensi kebudayaan Jawa secara keseluruhan. Dalam konteks eksistensi kultural, Jawa tidak sekedar bermakna sebagai wilayah atau nama pulau. Jawa juga merupakan terminologi yang meliputi pengertian tentang gagasan ideal tentang manusia dan nilai-nilai humanisme. Adi Suripto menyebutkan bahwa kata “jawa” berasal dari kata “arjawam” pada bahasa sansekerta, yang artinya jujur, rendah hati. Ketika kata “jawa” itu diputuskan untuk menjadi nama pulau, tersirat harapan para leluhur semoga para penghuninya kelak selalu bermoral tinggi, bersifat “bener” dan jujur atau “arjawam”. Maka sering kali kita dengar istilah ”ora Jawa” (tidak Jawa) yang dapat diartikan ”tidak bermoral” atau ”tidak bersusila”.

Harapan ideal tentang kesusilaan ini ini berlangsung terus-menerus searah dengan periodisasi pusat kekuasaan (raja) sejak dari Purwa Carita, Mataram Kuno, Kediri, Majapahit, Demak, Mataram Islam, hingga Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam hal ini kata “jawa” mempunyai arti khusus yaitu “kadar moralitas dan kesusilaan seseorang”. Kekuatan moral sebagai pedoman perilaku (karma marga) banyak direpresentasikan ke dalam berbagai macam kitab suci, babad hingga berbagai jenis folklor. Mahabharata dan Ramayana yang sarat dengan nilai-nilai moral itu sangat digemari hingga menjadi pengetahuan andalan yang tak tergantikan oleh ceritera lain, meski beberapa alternatif telah ditawarkan. Bhagawatgita yang juga disebut ”Kidung Sukma”, penulisannya dikhususkan dan sering dianggap sebagai “kitab suci yang disakralkan”, sebab dianggap sebagai suara kebenaran sejati atau suara nurani. Beberapa karya sastra lain seperti Wedhatama, Wulangreh, Wulang Sunu dan sejenisnya memiliki ajaran moral mendapat porsi amat besar. Hampir seluruh isi dari karya-karya sastra tersebut mengandung nasehat tentang ajaran moral. Bagi orang Jawa moral amat penting, bahkan sebagai penentu kadar kematangan spiritual dan kedewasaan seseorang. Sebuah petuah leluhur mengatakan “Dadiya wong bener aja ora Jawa”, artinya “jadilah orang susila, jangan tidak bermoral”. Dari kata-kata itu jelas bahwa kedewasaan seseorang bukan ditentukan oleh kematangan fisik semata, tetapi juga kematangan “jiwa”. Seorang spiritualis sering disebut “bathok bolu isi madu”, artinya “seperti tempurung kelapa yang berisi madu”. Walau tampil sederhana tetapi isinya amat berharga.

Ajaran moral Jawa terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai representasi falsafah hidup manusia Jawa. Ajaran moral Jawa juga berkembang di lingkungan kraton sekaligus di lingkungan masyarakat jelata. Dalam perkembangannya hal tersebut telah menjadi dua arus perkembangan kebudayaan Jawa yang sama-sama kuat. Di satu sisi ajaran moral Jawa berkembang di lingkungan kultur kraton, dijiwai oleh spirit adiluhung dan direpresentasikan dalam berbagai aspek kebudayaan yang rumit, halus dan indah. Sedangkan di sisi lain ajaran moral Jawa juga berkembang di kalangan masyarakat jelata, menjadi bagian integral dari kehidupan wong cilik yang hidup dalam pola tradisional-agraris, direpresentasikan dalam aspek-aspek kebudayaan yang sederhana dan egaliter.

Salah satu wujud kebudayaan dengan pola kerakyatan yang masih hidup sampai sekarang adalah kebudayaan lokal Banyumas yang hidup jauh di luar batas tembok kraton. Pola kerakyatan yang dijumpai dalam kebudayaan lokal Banyumas telah menjadi paradoks dari ragam kebudayaan kraton. Kultur lokal Banyumas lahir dan berkembang dengan mengadaptasi dua kutub budaya; Jawa dan Sunda. Kehadiran kedua kutub budaya itu tidak dalam posisi menghancurkan, tetapi justru bersifat memperkaya dan turut berperan dalam membangun entitas kebudayaan Banyumas. Spirit kebudayaan kraton dengan konsep adiluhung-nya, di Banyumas tercermin pada kalangan minoritas priyayi yang seringkali berada dalam posisi berhadapan dengan semangat penginyongan yang mencerminkan semangat kerakyatan. Kecenderungan demikian tercermin pada sikap sosial yang seringkali menempatkan kedua kelompok ini dalam posisi “aku dan kau”. “Aku” atau “inyong” adalah kaum penginyongan yang berada dalam kondisi hidup bersahaja, sederhana, egaliter dan dari sisi kuantitas berjumlah banyak. Sementara “kau” terdiri dari kalangan priyayi yang sesungguhnya minoritas, namun mampu berada dalam situasi hidup lebih sejahtera, berpendidikan dan memiliki jangkauan pengalaman luas. Sungguhpun demikian, dalam konteks kebudayaan kaum penginyongan-lah yang menjadi penyangga utama kebudayaan Banyumas.

Dalam perkembangan sejarah kebudayaan lokal Banyumas, sikap moral dan filosofi Jawa, Sunda, dan lokalitas Banyumas sendiri berada dalam satu susunan paralel yang secara bersama-sama membentuk sebuah kultur tersendiri dengan tetap menampakkan warna-warna aslinya. Secara garis besar, keragaman kebudayaan lokal Banyumas dapat dilihat pada empat patron yang saling berhubungan, yaitu:

1. Hubungan manusia dengan diri sendiri. Dalam kacamata pandang masyarakat Banyumas, hubungan antara manusia dengan diri senidiri dipahami melalui ajaran kosmologi, khususnya tentang mikro kosmos (jagad cilik). Jagad cilik adalah jagading manungsa, ada dalam diri manusia, mencakup empat nafsu beserta satu titik imajiner disebut pancer. Keempat nafsu tersebut antara lain: nafsu amarah, aluamah, sufiah, dan mutmainah, sedangkan pancer-nya adalah hati nurani. Perpaduan antara keempat nafsu dan satu titik imajiner tersebut sering digambarkan ke dalam lima macam warna, yaitu nafsu amarah (merah), aluamah (hitam), sufiah (kuning), dan mutmainah (putih), sedangkan pancer-nya digambarkan dengan warna ijo moyo-moyo. Semua itu juga digambarkan dalam perwujudan kreta jaran sakusire (kereta, kuda dan kusirnya). Kereta untuk menggambarkan badan wadag manusia, kuda sebagai simbolisasi keempat nafsu, dan kusir sebagai penggambaran hati nurani. Selain itu, setiap individu yang terlahir ke dunia juga diyakini memiliki dua saudara yang disebut kakang kawah adhi ari-ari (air ketuban disebut sebagai ’kaka’ dan placenta disebut sebagai ’adik’) yang sering disebut dengan istilah sedulur tua sedulur nom (saudara tua dan saudara muda). Kedua saudara ini akan mengikuti kemanapun seorang anak manusia berada.
2. Hubungan manusia dengan alam semesta. Paham tentang hubungan manusia dengan alam semesta masih terkait dengan paham tentang kosmologi Jawa, khususnya jagad gedhe (makro kosmos). Jagad gedhe dipahami sebagai alam semesta yang memiliki keblat papat lima pancer. Keblat papat (kiblat empat) adalah empat arah mata angin terdiri dari timur, selatan, barat dan utara) , sedangkan lima pancer (pusat imajiner dalam hitungan kelima) adalah titik pusat di mana kita berada. Dalam simbolisasi yang lain, keblat papat lima pancer digambarkan melalui hari pasaran meliputi manis (timur), pahing (selatan), pon (barat), wage (utara), dan kliwon (pancer/tengah). Dalam paham kosmologi Jawa, baik jagad gedhe maupun jagad cilik sama-sama harus dipelihara demi kontinuitas kehidupan manusia di alam fana. Kepercayaan bahwa alam pasti akan hancur itulah yang menyulut semangat hamemayu hayuning bawana sebagai strategi preventif.
3. Hubungan manusia dengan Tuhan. Kata Tuhan merujuk kepada suatu Zat Abadi dan Supernatural, biasanya dikatakan mengawasi dan memerintah manusia dan alam semesta atau jagat raya. Hal ini bisa juga digunakan untuk merujuk kepada beberapa konsep-konsep yang mirip dengan ini misalkan sebuah bentuk energi atau kesadaran yang merasuki seluruh alam semesta, di mana keberadaan-Nya membuat alam semesta ada; sumber segala yang ada; kebajikan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup; atau apapun yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan. Bagi masyarakat Banyumas, pencarian Tuhan selain melalui agama wahyu juga dilakukan melalui akal pikiran dan usaha yang dilakukan sendiri oleh manusia. Inilah yang kemudian muncul berbagai aliran kepercayaan.
4. Hubungan manusia dengan lingkungan sosial. Pada tingkatan hubungan manusia dengan lingkungan sosial terdapat multifaset aktivitas yang melibatkan diri pribadi maupun kelompok masyarakat. Melalui hubungan ini lahir berbagai aktivitas kebudayaan yang melahirkan sistem sosial, sistem pertanian, sistem ekonomi, kesenian, dan lain sebagainya.

Keempat bingkai hubungan manusia ini masing-masing telah menghasilkan artefak-artefak yang memperkaya khasanah kebudayaan lokal Banyumas. Dalam konteks hubungan manusia dengan diri pribadi telah menghasilkan aneka ragam artefak, seperti kendi tempat menyimpan ari-ari, pesucen tempat sesaji, sarana-prasarana dupa/sesaji, dan lain-lain. Sementara, hubungan manusia dengan alam menghasilkan berbagai artefak seperti dapat dilihat pada sarana ritual dengan alam, misalnya dalam tradisi cowongan, ujungan, mimiti, pedhiang, dan lain-lain. Model pencarian Tuhan melalui agama wahyu maupun akal pikiran dan usaha lain, juga telah menghasilkan aneka ragam artefak budaya, seperti masjid, tempat-tempat persembahyangan (manembah), serta alat-alat yang digunakan untuk keperluan tersebut. Kemudian, melalui kancah pergaulan sosial, masyarakat Banyumas menghasilkan berbagai macam artefak budaya seperti alat-alat rumah tangga, alat pertanian, tempat pertemuan, alat kesenian dan lain-lain.

Dari studi diakronis tentang kebudayaan lokal Banyumas tidak lepas dari eksistensi kebudayaan Jawa secara keseluruhan. Dalam konteks eksistensi kultural, Jawa tidak sekedar bermakna sebagai wilayah atau nama pulau. Jawa juga merupakan terminologi yang meliputi pengertian tentang gagasan ideal tentang manusia dan nilai-nilai humanisme. Adi Suripto menyebutkan bahwa kata “jawa” berasal dari kata “arjawam” pada bahasa sansekerta, yang artinya jujur, rendah hati. Ketika kata “jawa” itu diputuskan untuk menjadi nama pulau, tersirat harapan para leluhur semoga para penghuninya kelak selalu bermoral tinggi, bersifat “bener” dan jujur atau “arjawam”. Maka sering kali kita dengar istilah ”ora Jawa” (tidak Jawa) yang dapat diartikan ”tidak bermoral” atau ”tidak bersusila”.

Harapan ideal tentang kesusilaan ini ini berlangsung terus-menerus searah dengan periodisasi pusat kekuasaan (raja) sejak dari Purwa Carita, Mataram Kuno, Kediri, Majapahit, Demak, Mataram Islam, hingga Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam hal ini kata “jawa” mempunyai arti khusus yaitu “kadar moralitas dan kesusilaan seseorang”. Kekuatan moral sebagai pedoman perilaku (karma marga) banyak direpresentasikan ke dalam berbagai macam kitab suci, babad hingga berbagai jenis folklor. Mahabharata dan Ramayana yang sarat dengan nilai-nilai moral itu sangat digemari hingga menjadi pengetahuan andalan yang tak tergantikan oleh ceritera lain, meski beberapa alternatif telah ditawarkan. Bhagawatgita yang juga disebut ”Kidung Sukma”, penulisannya dikhususkan dan sering dianggap sebagai “kitab suci yang disakralkan”, sebab dianggap sebagai suara kebenaran sejati atau suara nurani. Beberapa karya sastra lain seperti Wedhatama, Wulangreh, Wulang Sunu dan sejenisnya memiliki ajaran moral mendapat porsi amat besar. Hampir seluruh isi dari karya-karya sastra tersebut mengandung nasehat tentang ajaran moral. Bagi orang Jawa moral amat penting, bahkan sebagai penentu kadar kematangan spiritual dan kedewasaan seseorang. Sebuah petuah leluhur mengatakan “Dadiya wong bener aja ora Jawa”, artinya “jadilah orang susila, jangan tidak bermoral”. Dari kata-kata itu jelas bahwa kedewasaan seseorang bukan ditentukan oleh kematangan fisik semata, tetapi juga kematangan “jiwa”. Seorang spiritualis sering disebut “bathok bolu isi madu”, artinya “seperti tempurung kelapa yang berisi madu”. Walau tampil sederhana tetapi isinya amat berharga.

Ajaran moral Jawa terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai representasi falsafah hidup manusia Jawa. Ajaran moral Jawa juga berkembang di lingkungan kraton sekaligus di lingkungan masyarakat jelata. Dalam perkembangannya hal tersebut telah menjadi dua arus perkembangan kebudayaan Jawa yang sama-sama kuat. Di satu sisi ajaran moral Jawa berkembang di lingkungan kultur kraton, dijiwai oleh spirit adiluhung dan direpresentasikan dalam berbagai aspek kebudayaan yang rumit, halus dan indah. Sedangkan di sisi lain ajaran moral Jawa juga berkembang di kalangan masyarakat jelata, menjadi bagian integral dari kehidupan wong cilik yang hidup dalam pola tradisional-agraris, direpresentasikan dalam aspek-aspek kebudayaan yang sederhana dan egaliter.

Salah satu wujud kebudayaan dengan pola kerakyatan yang masih hidup sampai sekarang adalah kebudayaan lokal Banyumas yang hidup jauh di luar batas tembok kraton. Pola kerakyatan yang dijumpai dalam kebudayaan lokal Banyumas telah menjadi paradoks dari ragam kebudayaan kraton. Kultur lokal Banyumas lahir dan berkembang dengan mengadaptasi dua kutub budaya; Jawa dan Sunda. Kehadiran kedua kutub budaya itu tidak dalam posisi menghancurkan, tetapi justru bersifat memperkaya dan turut berperan dalam membangun entitas kebudayaan Banyumas. Spirit kebudayaan kraton dengan konsep adiluhung-nya, di Banyumas tercermin pada kalangan minoritas priyayi yang seringkali berada dalam posisi berhadapan dengan semangat penginyongan yang mencerminkan semangat kerakyatan. Kecenderungan demikian tercermin pada sikap sosial yang seringkali menempatkan kedua kelompok ini dalam posisi “aku dan kau”. “Aku” atau “inyong” adalah kaum penginyongan yang berada dalam kondisi hidup bersahaja, sederhana, egaliter dan dari sisi kuantitas berjumlah banyak. Sementara “kau” terdiri dari kalangan priyayi yang sesungguhnya minoritas, namun mampu berada dalam situasi hidup lebih sejahtera, berpendidikan dan memiliki jangkauan pengalaman luas. Sungguhpun demikian, dalam konteks kebudayaan kaum penginyongan-lah yang menjadi penyangga utama kebudayaan Banyumas.

Dalam perkembangan sejarah kebudayaan lokal Banyumas, sikap moral dan filosofi Jawa, Sunda, dan lokalitas Banyumas sendiri berada dalam satu susunan paralel yang secara bersama-sama membentuk sebuah kultur tersendiri dengan tetap menampakkan warna-warna aslinya. Secara garis besar, keragaman kebudayaan lokal Banyumas dapat dilihat pada empat patron yang saling berhubungan, yaitu:

1. Hubungan manusia dengan diri sendiri. Dalam kacamata pandang masyarakat Banyumas, hubungan antara manusia dengan diri senidiri dipahami melalui ajaran kosmologi, khususnya tentang mikro kosmos (jagad cilik). Jagad cilik adalah jagading manungsa, ada dalam diri manusia, mencakup empat nafsu beserta satu titik imajiner disebut pancer. Keempat nafsu tersebut antara lain: nafsu amarah, aluamah, sufiah, dan mutmainah, sedangkan pancer-nya adalah hati nurani. Perpaduan antara keempat nafsu dan satu titik imajiner tersebut sering digambarkan ke dalam lima macam warna, yaitu nafsu amarah (merah), aluamah (hitam), sufiah (kuning), dan mutmainah (putih), sedangkan pancer-nya digambarkan dengan warna ijo moyo-moyo. Semua itu juga digambarkan dalam perwujudan kreta jaran sakusire (kereta, kuda dan kusirnya). Kereta untuk menggambarkan badan wadag manusia, kuda sebagai simbolisasi keempat nafsu, dan kusir sebagai penggambaran hati nurani. Selain itu, setiap individu yang terlahir ke dunia juga diyakini memiliki dua saudara yang disebut kakang kawah adhi ari-ari (air ketuban disebut sebagai ’kaka’ dan placenta disebut sebagai ’adik’) yang sering disebut dengan istilah sedulur tua sedulur nom (saudara tua dan saudara muda). Kedua saudara ini akan mengikuti kemanapun seorang anak manusia berada.
2. Hubungan manusia dengan alam semesta. Paham tentang hubungan manusia dengan alam semesta masih terkait dengan paham tentang kosmologi Jawa, khususnya jagad gedhe (makro kosmos). Jagad gedhe dipahami sebagai alam semesta yang memiliki keblat papat lima pancer. Keblat papat (kiblat empat) adalah empat arah mata angin terdiri dari timur, selatan, barat dan utara) , sedangkan lima pancer (pusat imajiner dalam hitungan kelima) adalah titik pusat di mana kita berada. Dalam simbolisasi yang lain, keblat papat lima pancer digambarkan melalui hari pasaran meliputi manis (timur), pahing (selatan), pon (barat), wage (utara), dan kliwon (pancer/tengah). Dalam paham kosmologi Jawa, baik jagad gedhe maupun jagad cilik sama-sama harus dipelihara demi kontinuitas kehidupan manusia di alam fana. Kepercayaan bahwa alam pasti akan hancur itulah yang menyulut semangat hamemayu hayuning bawana sebagai strategi preventif.
3. Hubungan manusia dengan Tuhan. Kata Tuhan merujuk kepada suatu Zat Abadi dan Supernatural, biasanya dikatakan mengawasi dan memerintah manusia dan alam semesta atau jagat raya. Hal ini bisa juga digunakan untuk merujuk kepada beberapa konsep-konsep yang mirip dengan ini misalkan sebuah bentuk energi atau kesadaran yang merasuki seluruh alam semesta, di mana keberadaan-Nya membuat alam semesta ada; sumber segala yang ada; kebajikan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup; atau apapun yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan. Bagi masyarakat Banyumas, pencarian Tuhan selain melalui agama wahyu juga dilakukan melalui akal pikiran dan usaha yang dilakukan sendiri oleh manusia. Inilah yang kemudian muncul berbagai aliran kepercayaan.
4. Hubungan manusia dengan lingkungan sosial. Pada tingkatan hubungan manusia dengan lingkungan sosial terdapat multifaset aktivitas yang melibatkan diri pribadi maupun kelompok masyarakat. Melalui hubungan ini lahir berbagai aktivitas kebudayaan yang melahirkan sistem sosial, sistem pertanian, sistem ekonomi, kesenian, dan lain sebagainya.

Keempat bingkai hubungan manusia ini masing-masing telah menghasilkan artefak-artefak yang memperkaya khasanah kebudayaan lokal Banyumas. Dalam konteks hubungan manusia dengan diri pribadi telah menghasilkan aneka ragam artefak, seperti kendi tempat menyimpan ari-ari, pesucen tempat sesaji, sarana-prasarana dupa/sesaji, dan lain-lain. Sementara, hubungan manusia dengan alam menghasilkan berbagai artefak seperti dapat dilihat pada sarana ritual dengan alam, misalnya dalam tradisi cowongan, ujungan, mimiti, pedhiang, dan lain-lain. Model pencarian Tuhan melalui agama wahyu maupun akal pikiran dan usaha lain, juga telah menghasilkan aneka ragam artefak budaya, seperti masjid, tempat-tempat persembahyangan (manembah), serta alat-alat yang digunakan untuk keperluan tersebut. Kemudian, melalui kancah pergaulan sosial, masyarakat Banyumas menghasilkan berbagai macam artefak budaya seperti alat-alat rumah tangga, alat pertanian, tempat pertemuan, alat kesenian dan lain-lain.

4 comments:

endar fitrianto said...

nyong lahir nang solo olih bojo wong banyumas, ktp banyumas.
olih mbok cinta budaya banyumas

purwokerto said...

oh bgitu toh ceritanya.Ayo pada ikut lestarikan budaya banyumas untuk INDONESIA kita.

Anonymous said...

anto gombong---sedulur sedulur sing basane ngapak banyumasan aja pada kelalen budayane dewek.walaupun wis era globalisasi.walaupun merantau nang pelosoke indonesia utawa nang manca negara.pejabat kedutaan bisnismen mahasiswa lan uga tki ayuh bareng bareng nguri uri budhaya banyumas....nune dhewek...

Anonymous said...

donie.banaran berkata : jan...mbanyumas ana-ana bae ya..lan banyumas bae apa apa ana....salam rahayu.
inyong kuwe rika lan rika kuwe inyong, dadi inyong karo rika ya padha....