Thursday, September 4, 2008

TRADISI MUDIK MENJELNG HARI LEBARAN DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA URBAN

Modernisasi telah memunculkan daerah-daerah perkotaan yang membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat pedesaan. Daerah perkotaan tidak ubahnya menjadi gula bagi semut-semut bernama masyarakat pedesaan yang secara sadar melakukan urbanisasi dengan tujuan untuk mencari penghidupan bagi diri dan keluarganya. Kondisi semacam ini banyak dijumpai di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota besar lainnya.

Fenomena yang lazim dijumpai sebagai akibat dari urbanisasi warga masyarakat pedesaan di Indonesia adalah adanya tradisi mudik yang terjadi pada waktu-waktu tertentu, terutama saat menjelang lebaran (Idul Fitri). Mudik adalah istilah yang biasa dipakai untuk menyebut saat kepulangan kaum urban dari daerah perkotaan ke kampung halaman masing-masing. Fenomana seperti ini dapat dilihat dalam bentuk kegiatan pulang kampung baik yang dilakukan oleh perseorangan maupun berama-sama (rombongan). Oleh karena itu tidak aneh apabila saat-saat menjelang lebaran, Natal dan Tahun Baru maupun Idul Adha banyak dijumpai arus mudik secara berbondong-bondong dari kota-kota besar ke daerah-daerah pedesaan.

Dari beberapa hari besar seperti tersebut di atas, hari raya yang telah menjadi ajang mudik paling fenomenal adalah saat menjelang hari lebaran. Kondisi demikian dapat dimaklumi mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia memeluk agama Islam. Namun demikian pada akhirnya mudik menjelang lebaran tidak saja berlaku bagi umat Islam, melainkan juga bagi umat agama lain. Siapapun—tidak terbatas umat Islam—merasa berhak melakukan kegiatan mudik menjelang hari lebaran. Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut dalam tulisan ini diajukan permasalahan, “Mengapa tradisi mudik masih terus berlangsung dalam kehidupan masyarakat Indonesia?”

Kehidupan masyarakat Indonesia pada awalnya adalah kehidupan tradisional-agraris yang sangat mengutamakan kebersamaan antar anggota masyarakat di dalamnya. Selaras dengan perkembangan jaman, kehidupan tradisional-agraris ini lambat laum berubah ke arah modernisasi yang pada banyak hal telah menempatkan pola-pola modern-teknologis sebagai mainstream dalam kehidupan individu maupun kelompoknya. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya penetrasi kebudayaan Barat dalam kebudayaan nusantara melalui kancah cultural encounter (pertemuan budaya).

Dengan adanya modernisasi, bagian-bagian tertentu dari kehidupan masyarakat nusantara yang bersifat tradisional, pada akhirnya digantikan dengan pola-pola modern yang cenderung lebih liberal dan individualisme. Oleh karena itu kehidupan masyarakat yang pada awalnya lebih berpola komunal, pada tahap selanjutnya terkikis oleh kepentingan-kepentingan materi dengan cara melakukan upaya ngupaya arta (mencari harta/uang) ke daerah-daerah perkotaan yang mau tidak mau harus merelakan berpisah dengan anggota keluarganya di desa asal tempat tinggal mereka. Masyarakat pedesaan yang pada awalnya rela hidup dalam keserba tidak adaan dan kesederhanaan pada akhirnya tidak lagi dianggap sepadan dengan keinginan-keinginan hidup lebih baik dan berkecukupan dari sisi harta benda.

Kehidupan tradisi mereka bukan dijalani dalam waktu yang pendek. Ciri hidup komunal pada masyarakat Indonesia tidak begitu saja hilang terkikis oleh urbanisasi. Kepergian kaum urban ke kota-kota tujuan dengan meninggalkan keluarga dan kerabatnya pada akhirnya harus mereka tebus dengan saat-saat pulang kampung. Mereka mencari saat-saat penting untuk melakukan pulang kampung. Dalam tradisi Islam, Idul Fitri adalah hari yang memiliki makna penting bagi seluruh umat untuk dalam kebersamaaan, saling memaafkan dan kembali ke fitrah-Nya. Hal inilah yang menjadi alasan utama bagi kaum muslim urban menjadikan hari lebaran sebagai saat untuk berkumpul kembali dengan keluarganya dalam keadaan keserbaadaan dan kebahagiaan.

Saat-saat berkumpulnya warga urban telah menjadi peristiwa yang paradok dengan kecenderungan umum yang terjadi sebelum adanya urbanisasi yang menempatkan masyarakat pedesaan sebagai masyarakat miskin harta dan miskin pengalaman. Mereka kini dapat berkumpul dalam keadaan yang lebih baik karena memiliki uang dan harta yang lebih dibanding sebelum bekerja di kota.

Beberapa hal penting dari fenomena mudik antara lain: (1) kaum urban bertemu dengan anggota keluarganya, (2) kaum urban kembali ke kampung halaman membawa hasil kerja berupa uang dan barang keperluan sehar-hari bagi kehidupan keluarganya, (3) terjadinya hubungan tali silaturahmi antara kaum urban dengan keluarga yang berada di kampung halamannya, dan (4) terjadinya arus masuknya finansial dari daerah perkotaan ke daerah pedesaan.

Selain hal-hal penting sebagaimana tersebut di atas, fenomena mudik sebenarnya juga menyimpan dampak negatif, antara lain: (1) Pola hidup konsumerisme yang lazim berlaku dalam kehidupan masyarakat perkotaan, (2) Menimbulkan perilaku mengada-ada yang dilakukan demi menjaga gengsi sebagai orang yang berhasil dalam mencari penghidupan di kota, dan (3) Masuknya nilai-nilai masyarakat industri yang dijiwai oleh semangat liberalisme dan individualisme yang bermuara pada mengikisnya sifat kegotong-royongan masyarakat pedesaan.

Modernisasi telah memunculkan daerah-daerah perkotaan yang membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat pedesaan. Daerah perkotaan tidak ubahnya menjadi gula bagi semut-semut bernama masyarakat pedesaan yang secara sadar melakukan urbanisasi dengan tujuan untuk mencari penghidupan bagi diri dan keluarganya. Kondisi semacam ini banyak dijumpai di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota besar lainnya.

Fenomena yang lazim dijumpai sebagai akibat dari urbanisasi warga masyarakat pedesaan di Indonesia adalah adanya tradisi mudik yang terjadi pada waktu-waktu tertentu, terutama saat menjelang lebaran (Idul Fitri). Mudik adalah istilah yang biasa dipakai untuk menyebut saat kepulangan kaum urban dari daerah perkotaan ke kampung halaman masing-masing. Fenomana seperti ini dapat dilihat dalam bentuk kegiatan pulang kampung baik yang dilakukan oleh perseorangan maupun berama-sama (rombongan). Oleh karena itu tidak aneh apabila saat-saat menjelang lebaran, Natal dan Tahun Baru maupun Idul Adha banyak dijumpai arus mudik secara berbondong-bondong dari kota-kota besar ke daerah-daerah pedesaan.

Dari beberapa hari besar seperti tersebut di atas, hari raya yang telah menjadi ajang mudik paling fenomenal adalah saat menjelang hari lebaran. Kondisi demikian dapat dimaklumi mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia memeluk agama Islam. Namun demikian pada akhirnya mudik menjelang lebaran tidak saja berlaku bagi umat Islam, melainkan juga bagi umat agama lain. Siapapun—tidak terbatas umat Islam—merasa berhak melakukan kegiatan mudik menjelang hari lebaran. Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut dalam tulisan ini diajukan permasalahan, “Mengapa tradisi mudik masih terus berlangsung dalam kehidupan masyarakat Indonesia?”

Kehidupan masyarakat Indonesia pada awalnya adalah kehidupan tradisional-agraris yang sangat mengutamakan kebersamaan antar anggota masyarakat di dalamnya. Selaras dengan perkembangan jaman, kehidupan tradisional-agraris ini lambat laum berubah ke arah modernisasi yang pada banyak hal telah menempatkan pola-pola modern-teknologis sebagai mainstream dalam kehidupan individu maupun kelompoknya. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya penetrasi kebudayaan Barat dalam kebudayaan nusantara melalui kancah cultural encounter (pertemuan budaya).

Dengan adanya modernisasi, bagian-bagian tertentu dari kehidupan masyarakat nusantara yang bersifat tradisional, pada akhirnya digantikan dengan pola-pola modern yang cenderung lebih liberal dan individualisme. Oleh karena itu kehidupan masyarakat yang pada awalnya lebih berpola komunal, pada tahap selanjutnya terkikis oleh kepentingan-kepentingan materi dengan cara melakukan upaya ngupaya arta (mencari harta/uang) ke daerah-daerah perkotaan yang mau tidak mau harus merelakan berpisah dengan anggota keluarganya di desa asal tempat tinggal mereka. Masyarakat pedesaan yang pada awalnya rela hidup dalam keserba tidak adaan dan kesederhanaan pada akhirnya tidak lagi dianggap sepadan dengan keinginan-keinginan hidup lebih baik dan berkecukupan dari sisi harta benda.

Kehidupan tradisi mereka bukan dijalani dalam waktu yang pendek. Ciri hidup komunal pada masyarakat Indonesia tidak begitu saja hilang terkikis oleh urbanisasi. Kepergian kaum urban ke kota-kota tujuan dengan meninggalkan keluarga dan kerabatnya pada akhirnya harus mereka tebus dengan saat-saat pulang kampung. Mereka mencari saat-saat penting untuk melakukan pulang kampung. Dalam tradisi Islam, Idul Fitri adalah hari yang memiliki makna penting bagi seluruh umat untuk dalam kebersamaaan, saling memaafkan dan kembali ke fitrah-Nya. Hal inilah yang menjadi alasan utama bagi kaum muslim urban menjadikan hari lebaran sebagai saat untuk berkumpul kembali dengan keluarganya dalam keadaan keserbaadaan dan kebahagiaan.

Saat-saat berkumpulnya warga urban telah menjadi peristiwa yang paradok dengan kecenderungan umum yang terjadi sebelum adanya urbanisasi yang menempatkan masyarakat pedesaan sebagai masyarakat miskin harta dan miskin pengalaman. Mereka kini dapat berkumpul dalam keadaan yang lebih baik karena memiliki uang dan harta yang lebih dibanding sebelum bekerja di kota.

Beberapa hal penting dari fenomena mudik antara lain: (1) kaum urban bertemu dengan anggota keluarganya, (2) kaum urban kembali ke kampung halaman membawa hasil kerja berupa uang dan barang keperluan sehar-hari bagi kehidupan keluarganya, (3) terjadinya hubungan tali silaturahmi antara kaum urban dengan keluarga yang berada di kampung halamannya, dan (4) terjadinya arus masuknya finansial dari daerah perkotaan ke daerah pedesaan.

Selain hal-hal penting sebagaimana tersebut di atas, fenomena mudik sebenarnya juga menyimpan dampak negatif, antara lain: (1) Pola hidup konsumerisme yang lazim berlaku dalam kehidupan masyarakat perkotaan, (2) Menimbulkan perilaku mengada-ada yang dilakukan demi menjaga gengsi sebagai orang yang berhasil dalam mencari penghidupan di kota, dan (3) Masuknya nilai-nilai masyarakat industri yang dijiwai oleh semangat liberalisme dan individualisme yang bermuara pada mengikisnya sifat kegotong-royongan masyarakat pedesaan.

No comments: