Wednesday, August 6, 2008

KONSEP KARYA TARI SELIRING GENTING


Baca Selengkapnya...
A. Tema/Judul/Nama
1. Tema : Permainan Anak pada saat Bulan Purnama
2. Judul Karya : Seliring Genting

B. Gagasan Dasar Penciptaan
Seliring Genting adalah jenis permainan anak di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas yang dilakukan pada saat bulan purnama. Permainan ini dilakukan oleh sekelompok anak-anak yang membentuk barisan mirip ular-ularan dan berhadapan dengan satu orang anak yang berperan sebagai Maling Aguna. Seorang anak yang berada dalam posisi paling depan disebut Nini-nini Sing Tunggu Wulan dan yang paling belakang disebut pitik trondhol. Permainan didahului dengan tembang yang dinyanyikan secara bersama-sama. Di dalam permainan, Maling Aguna berhadapan langsung dengan Nini-nini Sing Tunggu Wulan. Pada pertemuan itu diceritakan Maling Aguna bermaksud akan meminta api kepada Nini-nini Sing Tunggu Wulan. Dipertanyakan, apakah tidak panas, karena Maling Aguna meminta api tanpa membawa wadah apapun. Lalu Maling Aguna meminta dengan paksa seekor pitik trondhol yang akan digunakan untuk cémpal (alas tangan agar tidak panas). Permintaan itu tidak dipenuhi, maka kemudian Maling Aguna pun memaksa dengan cara mengejar ekor dari barisan yang menyerupai ular-ularan itu dengan tujuan untuk menangkap anak yang berada di urutan paling belakang dari barisan (pitik trondhol). Apabila peran pitik trondhol berhasil ditangkap, maka permainan selesai dan dimulai lagi dengan berganti peran; pitik trondhol berperan sebagai Maling Aguna. Demikian seterusnya.
Pada saat kehidupan masyarakat di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas masih berlangsung dalam pola tradisional-agraris, Seliring Genting menjadi salah satu permainan yang sangat digemari anak-anak pada saat bulan purnama. Sekelompok anak biasanya berkumpul di halaman yang luas untuk jonjang (bermain bersuka-ria) dengan berbagai macam permainan yang salah satunya adalah seliring genting. Di dalam permainan ini sarat dengan ajaran yang sangat berguna sebagai sarana mendapatkan pengalaman empirik yang berguna bagi masa depan mereka. Seliring Genting selain berisi permainan olahraga adu ketangkasan, juga terdapat tembang dan tarian. Melalui permainan ini anak-anak dapat belajar tentang strategi merebut dan menghindar, kemampuan berkompetisi, ketahanan mental, kekuatan fisik, rasa kebersamaan dan jiwa korsa, kedekatan dengan alam lingkungan, kemampuan olah vokal, dan kemampuan gerak tarian. Semua itu merupakan representasi dari nilai-nilai dasar dalam kehidupan yang sangat penting bagi perkembangan jiwa anak-anak.
Berbagai macam kekuatan yang terdapat dalam performa permainan seliring genting sebagaimana tersebut di atas, sangat mungkin digarap atau dikembangkan ke dalam suatu bentuk karya tari yang diperuntukkan bagi anak-anak. Penggarapan atau pengembangan dapat dilakukan melalui cara membesut, menstilisasi, mengubah, membuang, mengambil, menambah kekuatan-kekuatan yang ada ke dalam karya baru dirasa cocok untuk dunia anak-anak. Dengan cara demikian diharapkan akan terwujud sebuah karya tari anak-anak yang membumi dan mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan jiwa anak ke arah yang positif dan konstruktif.

C. Konsep Penciptaan
Konsep dasar penciptaan karya tari Seliring Genting adalah dalam rangka menambah khasanah tarian anak-anak gaya Banyumasan. Pengambilan sumber garapan dari permainan anak seliring genting yang berkembang di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas tidak lain sebagai usaha pendekatan kultural antara gagasan dasar atau gagasan isi dan rancangan wujud hasil ciptaan. Dengan sumber garapan berupa permainan anak yang berkembang di Banyumas, maka pengungkapan gagasan ke dalam wujud karya berlangsung mengalir sesuai dengan ragam budaya yang melatarbelakanginya.
Wujud garapan adalah karya tari tradisi yang dirancang untuk anak-anak usia antara 10-15 tahun. Anak-anak yang berada pada tataran usia ini, memungkinkan melakukan gerak-gerak tari yang variatif tanpa menghilangkan jatidiri dan dunianya. Pola dasar permainan seliring genting sengaja tidak dihilangkan dengan harapan nuansa permainan yang menjadi sumber garapan tidak hilang. Namun demikian, di dalamnya dilakukan penambahan-penambahan gerak tarian yang disesuaikan dengan pola ritme dan irama musik pengiringnya. Ragam gerak tarian dipilih ragam gerak tari Banyumasan sebagaimana yang dapat ditemukan pada berbagai ragam kesenian lokal setempat, seperti lengger, ebeg, aplang, cowongan, ujungan dan aksimudha. Dengan demikian di dalam perwujudannya terdapat berbagai nuansa sajian kesenian yang menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan gerak tarian. Langkah ini dimaksudkan untuk mewujudkan bentuk tarian yang variatif dan inovatif, sehingga selain diharapkan mampu menghadirkan kualitas sajian yang memenuhi standar estetik, juga memiliki dinamika sajian yang enak ditonton dengan tanpa meninggalkan pola-pola yang umum berlaku dalam dunia kanak-kanak yang sederhana, lugu, gembira, ceria, dan apa adanya.
Ragam gerak tari Banyumasan yang umumnya dinamis memang sangat memungkinkan dijadikan sebagai media representasi bagi kehadiran dunia kanak-kanak dalam sajian karya tari ini. Citra kanak-kanak yang gembira dan ceria diwakili oleh ragam gerak tarian yang dinamis dan dalam tempo yang cenderung cepat. Sebagai penghubung antara pola permainan anak dengan gerak tarian tradisi dalam karya ini digunakan ragam gerak non-tradisi atau non-konvensional yang tetap bersumber dari ragam gerak Banyumasan yang ada. Cara yang dilakukan adalah melalui penambahan volume, aliran garis gerak, hingga pada bangunan gerak tarian yang ditampilkan.

D. Tahap Penggarapan/Penyusunan
Dalam proses kreatif penciptaan karya tari ini terlebih dahulu dilakukan observasi atau pengamatan langsung terhadap bentuk permainan seliring genting yang menjadi sumber garapan. Hasil dari pengamatan langsung selanjutnya dijadikan sebagai bahan dasar penciptaan sesuai dengan kerangka dasar bentuk bangunan karya yang ingin diwujudkan. Di sini akan terlihat bahwa antara permainan yang menjadi sumber garapan belum sesuai dengan kerangka dasar karya yang ingin diwujudkan. Untuk itu kemudian pada bagian-bagian tertentu dari alur sajian memungkinkan diisi dengan gerak-gerak tarian konvensional maupun non-konvensional yang bersumber dari ragam tarian yang hidup dan berkembang di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas. dalam hal ini permainan seliring genting diposisikan sebagai materi dasar, sedangkan ragam gerak tarian diposisikan sebagai isian dan penghubung agar menjadi satu-kesatuan karya yang utuh.
Guna mewujudkan sebuah karya tari yang sesuai dengan gagasan dasar maupun konsep penciptaan, maka dari keseluruhan sajian diwujudkan ke dalam plot-plot sajian yang dapat dibedakan menjadi:
1. Plot awal. Pada plot awal disajikan sekelompok anak-anak yang masuk ke dalam panggung dalam permainan seliring genting. Di sini permainan seliring genting disajikan secara utuh. Namun demikian untuk memenuhi standar kualitas estetik yang ingin diungkapkan, di sini dimasukkan pula ragam gerak tarian yang diselaraskan dengan pola permainan sesungguhnya.
2. Plot tengah. Plot tengah diawali dengan sajian tetembangan yang dilakukan bersama-sama oleh semua penari. Mereka melakukan tetembangan sambil menari dengan pola tarian non-konvenasional sebagai jembatan menuju tarian konvensional yang bersumber dari ragam gerak tarian Banyumasan. Secara tiba-tiba musik mengubah tempo permainan ke arah irama yang sedemikian rancak. Di sini penari mulai menari Banyumasan yang menggambarkan hasrat dan kekuatan diri pada anak-anak untuk senantiasa bersemangat menyongsong masa depan.
3. Plot akhir. Pada plot akhir yang merupakan ending dari keseluruhan sajian didahului oleh penampilan ragam gerak tarian non-konvensional dalam tempo yang cenderung lambat. Pada kesempatan berikutnya, sesuai dengan tempo permainan musik sajian beranjak ke tempo cepat dengan sajian ragam gerak tradisi Banyumasan.

E. Medium/Elemen
Beberapa elemen penting di luar ragam gerak tarian dalam sajian karya ini antara lain:
1. Iringan. Musik pengiring karya tari ini adalah calung Banyumasan dan genjringan dengan sajian berupa gendhing-gendhing tradisi Banyumasan dan lagu yang lazim dijumpai pada pertunjukan aplang. Sebagai penghubung antara satu aransemen gendhing dengan aransemen gendhing yang lain disertai pula ragam aransemen musikal non-tradisi. Sebagai bahan dasar dari keseluruhan sajian, dipilih beberapa gendhing antara lain: (1) lagu dolanan Seliring Genting, (2) gendhing Tlutur Banyumasan, (3) Jonjang Jolio, (4) lagu dolanan Buta Cakil, (5) gendhing Ilo Gondhang, (6) gendhing Cowet-cowetan, dan (7) lagu Tunggak Jati Mati.
2. Rias dan Busana. Tata rias untuk penampilan karya tari ini adalah jenis rias ayu, yaitu rias wajah dengan tujuan agar wajah kelihatan lebih cantik. Untuk keperluan rias ayu diperlukan bahan-bahan sebagai berikut: (1) Cucumber/Milk Clenser, (2) Astrengen/Face Tonic, (3) Pelembab, (4) Bedak dasar, (5) Bedak tabur, (6) Bedak padat, (7) Eye shadow, (7) Pensil alis, (8) Lip stick, (9) Rouge, (10) Pensil alis, (11) Bulu mata, dan (12) Eye liner. Penampilan karya tari ini mengacu pada busana penari tradisional anak-anak di Banyumas yang dikembangkan untuk keperluan sajian. Penari mengenakan kain yang lazim digunakan untuk penampilan busana tari putri tetapi memungkinkan untuk jangkah lebar pada tari gagahan. Untuk keperluan tata rambut dibutuhkan alat-alat antara lain: (1) gelung unthil dan (2) jamang terbuat dari daun. Tata busana untuk bagian badan dibutuhkan jenis-jenis busana antara lain: (1) Kain, (2) Mekak, (3) Ilat-ilatan, (4) Slepe, (5) Sampur, (6) Rampek, (7) Stagen, dan (8) Cancut. Adapun accecories yang dibutuhkan antara lain: (1) kalung, (2) gelang, (3) giwang, dan (4) Sari melati (keket).
3. Tata Lampu. Di dalam sajian karya tari ini digunakan lighting dengan warna bulan. Untuk keperluan itu lebih dibutuhkan lampu netral dengan sorot cenderung redup yang dipadu dengan lampu warna kuning dan biru. Untuk penggambaran wujud bulan, pada awal sajian dipakai lampu hollow yang dishot ke arah belakang panggung dengan wujud menyerupai bulan purnama.
4. Tata Panggung. Tata panggung pada sajian karya ini menyesuaikan dengan tempat yang tersedia.
5. Durasi Sajian. Sajian karya tari ini berdurasi 10 menit.
6. Jumlah Penari. Jumlah penari yang dibutuhkan dalam sajian karya tari ini adalah 5 – 7 anak yang berusia 10 – 15 tahun.

F. Sinopsis
Seliring Genting adalah jenis permainan anak di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas yang dilakukan pada saat bulan purnama. Permainan ini dilakukan oleh sekelompok anak-anak yang membentuk barisan mirip ular-ularan dan berhadapan dengan satu orang anak yang berperan sebagai Maling Aguna. Seorang anak yang berada dalam posisi paling depan disebut Nini-nini Sing Tunggu Wulan dan yang paling belakang disebut pitik trondhol. Di dalam permainan, Maling Aguna berhadapan langsung dengan Nini-nini Sing Tunggu Wulan. Pada pertemuan itu diceritakan Maling Aguna bermaksud akan meminta api kepada Nini-nini Sing Tunggu Wulan. Dipertanyakan, apakah tidak panas, karena Maling Aguna meminta api tanpa membawa wadah apapun. Lalu Maling Aguna meminta dengan paksa seekor pitik trondhol yang akan digunakan untuk cémpal (alas tangan agar tidak panas). Permintaan itu tidak dipenuhi, maka kemudian Maling Aguna pun memaksa dengan cara mengejar ekor dari barisan yang menyerupai ular-ularan itu dengan tujuan untuk menangkap anak yang berada di urutan paling belakang dari barisan (pitik trondhol). Karya ini digubah dalam bentuk karya tari anak-anak dengan ragam gerak tari bersumber dari berbagai ragam kesenian tradisional di Banyumas seperti lengger, ebeg, aplang, cowongan, ujungan dan aksimudha.

G. Penutup
Demikian konsep karya tari berjudul Seliring Genting ini disusun sebagai salah satu prasyarat mengikuti Lomba Cipta Tari Anak-anak 2008 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. Sebagai akhir tulisan disertai harapan semoga rancangan karya ini mampu memberikan manfaat bagi semua pihak yang terkait dengan usaha penggalian, pelestarian dan pengembangan seni tari. Amin.

KONSEP KARYA TARI TEMBANG PANGIMPEN


Baca Selengkapnya...
A. Tema/Judul/Nama
1. Tema : Impian atau pangimpen dalam dunia anak-anak.
2. Judul Karya : Tembang Pangimpen

B. Gagasan Dasar Penciptaan
Obsesi adalah bayangan orang lain yang kita puja-akui sebagai bayangan diri sendiri, sehingga kita pontang-panting menggapainya. Kita kadang lupa dengan bayangan diri sendiri, yang meski dekat pun sulit kita gapai. Setiap orang memang bebas berimajinasi, bermimpi, berobsesi atau mengkhayal. Ini adalah hasil kerja otak yang dalam bahasa Jawa dapat digolongkan ke dalam pangimpen. Melalui proses semacam ini, maka setiap orang memungkinkan meyakinkan diri untuk mewujudkan apa yang diimajinasikan, diimpikan, diobsesikan atau dikhayalkannya. Tanpa adanya usaha mewujudkan, maka orang itu hanya sekedar menjadi imajinatif, pemimpi, obsesif atau pengkhayal. Berawal dari sinilah, kemudian akan tumbuh daya semangat dan motivasi dalam diri seseorang untuk berusaha lebih keras mewujudkan pangimpen yang ada dalam pikirannya.
Dalam dunia anak, pangimpen merupakan salah satu hal terpenting. Pangimpen menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran yang membawa seorang anak mampu mengenali diri dan lingkungannya. Melalui pangimpen, seorang anak dengan bebas berimajinasi menjadi apa saja, mendapatkan apa saja, mulai dari yang paling rasional hingga yang paling irrasional sekalipun. Ia bisa memimpikan bisa terbang tinggi dengan sayap seperti burung atau menyelam dan berenang seperti ikan. Ia bisa juga berimajinasi menjadi seorang yang dengan penuh kasih sayang mengurus keluarganya. Tetapi, ia juga sah jika berimajinasi menjadi batu yang sangat keras atau menjadi robot yang tak terkalahkan. Semua itu adalah proses kreatif yang bermuara menjadi cita-cita yang diharapkan dapat dicapai kelak setelah mencapai usia dewasa. Oleh karena itu pangimpen dapat menjadi rencana besar yang dipersiapkan oleh seorang anak yang dipersiapkan masa depannya.
Gagasan terhadap alam pangimpen memungkinkan direpresantasikan ke dalam karya seni tari yang memungkinkan dikonsumsi untuk kalangan anak-anak. Dalam hal ini ragam gerak tarian dijadikan sebagai media ungkap bagi impian-impian yang ada dalam diri mereka. Setiap pangimpen yang ada dalam diri seseorang didasarkan pada tata nilai dan pengalaman empirik yang terjadi dalam kehidupan keseharian dunia kanak-kanak. Mengenai tata nilai, pangimpen dalam diri seseorang tidak lepas dari nilai-nilai yang dianut oleh yang bersangkutan, baik dalam konteks kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Adapun tentang pengalaman empirik dapat dijabarkan bahwa kehidupan sehari-hari merupakan media pembelajaran. Melalui pengalaman yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, maka seorang anak akan mampu menemukan jati dirinya sebagai manusia yang memliki hak dan kewajiban serta berkemampuan membedakan benar-salah, baik-buruk, untung-rugi, dan seterusnya.

C. Konsep Penciptaan
Pengungkapan fakta empirik tentang pangimpen dalam dunia kanak-kanak dalam karya ini diwujudkan melalui karya tari dengan mengambil sumber ragam gerak tari Banyumasan. Semua ini dilakukan sebagai wujud kepedulian terhadap perkembangan ragam kesenian lokal Banyumas yang dirasa sangat perlu dikembangkan agar mampu mengikuti perubahan jaman. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan cara melakukan eksperimentasi, inovasi dan pengembangan ragam gerak tarian yang ada ke dalam ragam gerak tari konvensional dan non-konvensional yang diharapkan mampu mewadahi gagasan pembaharuan dalam konteks kesenian.
Dalam usaha mewujudkan karya tari ini dilakukan tiga tahapan penting, antara lain: orientasi, observasi, dan eksploitasi. Pada tahap orientasi dilakukan langkah-langkah penting berupa usaha pencermatan terhadap gagasan dasar/tema yang akan diungkap, materi/bahan, obyek, teknik, bentuk, dan karakter yang dibutuhkan. Gagasan dasar yang menjadi tema karya adalah obsesi, impian dan atau cita-cita. Maka, sebagai langkah awal adalah melakukan pencermatan terhadap hal-hal yang terkait dengan obsesi, impian dan atau cita-cita. Di sini hal-hal yang dicermati antara lain mulai dari sumber yang menjadi sebab terjadinya obsesi, hal-hal yang umum menjadi obyek obsesi, hingga cara pengungkapan obsesi atau impian.
Materi atau bahan yang digunakan untuk mengungkapkan persoalan-persoalan terkait dengan obsesi atau impian adalah ragam gerak tarian dengan mengambil obyek ragam tari Banyumasan. Khasanah tari Banyumasan ini kemudian dirancang untuk diwujudkan dalam bentuk tari yang mewakili dunia kanak-kanak. Dengan demikian dalam pelaksanaan pengungkapan dipilih teknik-teknik gerak yang memungkinkan dapat dilakukan oleh anak-anak. Di sisi lain karakter gerak dipilih yang selaras dengan karakter yang dibutuhkan untuk mengungkapkan gagasan dasar tentang impian.
Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung terhadap obyek, fenomena, dan fakta sosial yang terjadi di lingkungan sehari-hari yang lazim dijumpai dalam kehidupan anak-anak. Dalam hal ini obyek, fenomena, maupun fakta sosial yang dicermati adalah fakta-fakta empirik dengan mengambil fokus kajian lingkup wilayah sebaran kebudayaan Banyumas. Salah satu fenomena penting dari kebudayaan Banyumas adalah akar budaya yang bersumber dari kehidupan rakyat kebanyakan (wong cilik). Ragam kebudayaan Banyumas berakar kerakyatan dengan pola egaliter dan sederhana. Dengan melihat fakta demikian maka sangat mungkin digarap karya tari dengan warna kerakyatan.
Langkah ketiga adalah eksploitasi yang dilakukan dengan cara melakukan pencarian dan eksperimentasi gerak. Berdasarkan hasil orientasi dan observasi maka tahap pencarian dan eksperimentasi diarahkan pada ragam gerak tarian yang bersumber dari kultur Banyumas. Secara teknis, usaha ini dilakukan melalui usaha inovasi dari ragam gerak yang sudah ada maupun penciptaan ragam gerak yang sama sekali baru dalam dunia seni tari yang didasarkan pada fenomena-fenomena tradisi dan atau budaya lokal Banyumas.


D. Tahap Penggarapan/Penyusunan
Tahap penggarapan/penyusunan karya diawali dari perencanaan karya yang meliputi bentuk dan struktur karya tari yang hendak disusun. Dalam hal ini yang dimaksud dengan bentuk adalah wujud bangunan karya tari yang dirancang mampu mereaktualisasikan gagasan tentang pangimpen atau impian yang mungkin terjadi pada diri anak-anak. Desain bentuk yang dirancang untuk mengungkapkan fakta empirik tentang pangimpen adalah karya tari Banyumasan. Dilihat dari struktur sajian, karya ini terdiri dari tiga plot, yaitu plot awal, plot tengah, dan plot akhir. Plot awal merupakan bagian permulaan atau introduction dari keseluruhan sajian karya, disajikan gambaran alam pedesaan yang ramah dan dinamis. Plot tengah merupakan bagian inti sajian karya, disajikan hal-hal pokok tentang pangimpen. Sedangkan plot akhir adalah bagian ending atau extroduction dari keseluruhan sajian yang mengetengahkan tentang solusi dari permasalahan yang diangkat dalam cerita.
Berdasarkan perencanaan dan desain karya seperti tersebut di atas, selanjutnya dilakukan proses garap karya. Pada tahap ini dilakukan implementasi gagasan dasar/tema dalam bentuk karya melalui ragam gerak tarian. Dalam hal ini pemilihan ragam gerak tarian diarahkan untuk mampu mengungkapkan tema sajian, yaitu fakta empirik tentang impian, obsesi atau cita-cita. Dalam proses garap karya dipilih ragam gerak yang bersumber dari ragam tari tradisional maupun tradisi/budaya lokal Banyumasan. Hal tersebut dilakukan guna mengungkapkan warna kerakyatan dengan latar belakang kebudayaan Banyumas.
Dalam usaha mewujudkan gagasan dasar/tema dilakukan simulasi berbagai unsur. Dalam karya ini beberapa unsur penting antara lain: ragam gerak tarian, musik iringan, rias, busana, lighting, dan setting panggung. Perwujudan gagasan tentang pangimpen dalam karya ini dilakukan dengan cara mengkolaborasikan ragam gerak tari dengan ragam musik iringan, rias, busana, lighting, properti, dan setting panggung yang sesuai dengan tema sajian. Musik iringan dipilih aransemen musikal yang memiliki warna kerakyatan yang disajikan melalui perangkat musik tradisional yang berkembang di Banyumas, yaitu perangkat musik calung dan genjring. Untuk rias dan busana diarahkan pada tampilan non-tradisi dengan tetap tidak meninggalkan warna-warna lokal Banyumas. Misalnya: busana menggunakan kain batik Banyumasan, rias kerakyatan, demikian pula tatanan rambut lebih mengesankan warna kerakyatan meskipun terdapat polesan-polesan non-tradisi. Tata lampu atau lighting dipilih warna dasar bulan dengan cara memadukan warna merah, biru dan putih. Properti yang digunakan adalah perkakas tradisional yang lazim digunakan dalam kehidupan tradisional di Banyumas yang dalam hal ini dipilih cepon (bakul kecil) dan jajan pasar. Adapun setting panggung diarahkan pada warna tradisional-kerakyatan dengan menampilkan background berupa dedaunan pohon dan rumpun bambu.
Keseluruhan unsur tersebut di atas diaplikasikan menjadi satu-kesatuan konsep garap medium yang utuh. Masing-masing elemen tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan bagian dari keseluruhan dengan porsi dan proporsi yang memungkinkan. Sebagai contoh, ragam musikal yang dihasilkan dari tabuhan calung dan genjring dipadu dengan jenis vokal dengan warna kerakyatan. Ragam musikal semacam ini digunakan untuk mendukung suasana dan karakter sajian serta gerak tarian yang disajikan. Busana yang dikenakan tidak sekedar menyajikan tampilan fisik, tetapi juga harus mampu meekspresikan karakter kerakyatan yang secara umum melekat pada masyarakat kecil di Banyumas. Pada elemen lain seperti properti, tata lampu, tata rias, dan setting panggung pun diarahkan untuk terwujudnya karakter kerakyatan yang bersifat mendukung tema sajian.
Di dalam karya tari ini hendak diungkapkan tentang nilai-nilai kejuangan dalam mencapai cita-cita. Sajian karya tari ini diharapkan akan memberikan kesan bahwa tinggi-rendahnya nilai kemanusiaan tidak terdapat pada kaya-miskin, bahagia-derita atau tinggi-rendahnya jabatan. Nilai kemanusiaan terletak pada bagaimana seseorang mampu menjaga harkat dan martabatnya sebagai manusia serta bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai yang dijadikan sebagai pedoman hidup dalam konteks kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Sesungguhnya inilah pesan nilai yang hendak diungkapkan pada karya ini.
Pencapaian kualitas sajian dicapai melalui dua cara, yaitu (1) kemampuan mengungkap nilai-nilai artistik dan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan gagasan dasar tentang pangimpen, dan (2) kemampuan teknik sajian. Kemampuan mengungkap nilai-nilai artistik dan nilai-nilai kemanusiaan diaktualisasikan melalui kemampuan olah rasa dalam penampilan sajian karya. Sedangkan kemampuan teknik sajian ditunjukkan melalui kemampuan menyajikan teknik garap dari keseluruhan unsur yang terlibat dalam bangunan karya hingga mencapai tahap virtousitas yang diinginkan.

E. Medium/Elemen
Dalam sajian karya ini digunakan beberapa media pendukung karya, seperti musik iringan, rias, busana, lighting, properti, dan setting panggung. Secara rinci medium atau elemen-elemen tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
1. Iringan. Iringan karya tari ini menggunakan dua macam perangkat musik, yaitu calung dan genjring. Calung adalah alat musik tradisional khas Banyumas yang terbuat dari bahan baku berupa bambu wulung dengan nada-nada pentatonik berlaras slendro. Sedangkan genjring merupakan alat musik berupa membran berbahan baku kulit yang lazim digunakan untuk sajian musik Islami. Kedua macam perangkat musik ini digunakan untuk mengungkapkan suasana kerakyatan melalui sajian aransemen musikalnya yang memang bernuansa kerakyatan.
Di dalam sajian karya ini akan disajikan beberapa ragam musikal antara lain: (a) intro laras slendro, (b) gendhing Lobong Ilang laras slendro, (c) gendhing Man Dhoplang laras slendro, (d) palaran Asmaradan laras slendro, dan (e) gendhing Gathotkaca Edan laras slendro. Keseluruhan aransemen musikal ini pada prinsipnya adalah ragam gendhing tradisi gaya Banyumas. Namun demikian dalam penggunaannya, gendhing-gendhing tersebut disajikan dengan perpaduan antara teknik garap konvensional dan non-konvensional dengan menggunakan medium berupa perangkat musik calung dan genjring.
2. Rias dan Busana. Rias dalam karya tari ini pada dasarnya adalah rias ayu, namun demikian diarahkan untuk terwujudnya tampilan karakter masyarakat pedesaan. Cara yang dilakukan adalah dengan menggunakan warna-warna dasar yang cenderung kegelap-gelapan (tidak menyala). Adapun busana yang digunakan antara lain: (a) bagian kepala, penataan rambut dengan sanggul modern dipadu dengan bunga warna-warni untuk mengesankan tampilan tradisional, (b) bagian dada menggunakan mekak warna ceria yang dipadu dengan motif batik Banyumasan. Perpaduan warna ini selain digunakan untuk mengungkapkan dunia kanak-kanak yang ceria, juga untuk menunjukkan identitas Banyumas. Pada bagian bawah digunakan kain batik tradisional yang memungkinkan dipakai apabila gerak kaki melangkah lebar.
3. Tata Lampu. Penataan lighting diarahkan untuk terciptanya warna dasar sindar bulan dengan memadukan warna merah, biru dan putih. Namun demikian untuk menguatkan suasana adegan digunakan lampu spot tertentu yang diarahkan pada tokoh-tokoh tertentu pada plot-plot yang dibutuhkan.
4. Properti. Properti yang digunakan dalam karya tari ini antara lain cepon (bakul kecil).
5. Tata Panggung. Tata panggung diarahkan untuk mewujudkan alam pedesaan. Untuk keperluan ini digunakan dedaunan dan rumpun bambu yang dipasang sebagai latar belakang panggung pertunjukan. Panggung dirancang dua versi, yaitu panggung prosenium dan panggung arena.
6. Durasi Sajian. Karya tari ini dirancang untuk disajikan dalam waktu 9 (sembilan) menit.
7. Jumlah Penari. Karya tari ini disajikan oleh penari perempuan dengan jumlah penari antara 3 – 7 orang anak usia 12 – 15 tahun.

F. Teknik Garap
Kekuatan karya tari ini sesungguhnya adalah pada kekayaan ragam kesenian tradisional yang ada di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas. Beberapa ragam kesenian lokal di daerah ini antara lain lengger, dhaeng atau aplang, dan ebeg. Pada ragam kesenian itu terdapat tari-tarian yang memiliki kekhasan, baik dalam tataran gerak, musikal maupun pola rasa di dalam sajian-sajiannya. Sebagai contoh gerak tari pada pertunjukan lengger memiliki karakter yang dinamis, sementara dhaeng dan ebeg memiliki karakter gagah. Semua ini menjadi pangkal tolak penciptaan gerak tarian yang digunakan untuk merepresentasikan gagasan tentang pangimpen.
Usaha yang dilakukan adalah menstilisasi kekuatan teknik gerak pada ‘kesenian sumber’ ke dalam ragam gerak tarian non-tradisi dengan cara mengubah power, teknik, volume, dan karakter. Dengan cara demikian maka ragam gerak yang semula bersumber dari tradisi lokal mampu mencitrakan bentuk gerak baru yang berkesan non-tradisi.
Hal yang sama diberlakukan pula dalam menggarap musik iringan. Perangkat musik yang terdiri dari perangkat musik tradisional dengan ragam aransemen musikal (gendhing) tradisi, digarap dengan teknik-teknik non-konvensional. Cara demikian dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan garapan non-tradisi pada ragam gerak tariannya. Dalam hal ini untuk semakin memperkuat karakter dan visualisasi sajian, didukung pula oleh tata rias dan busana, tata lampu serta tata panggung yang sesuai dengan kebutuhan pementasan.

G. Sinopsis
Dalam dunia anak, pangimpen merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran yang membawa seorang anak mampu mengenali diri dan lingkungannya. Melalui pangimpen, seorang anak dengan bebas berimajinasi menjadi apa saja, mendapatkan apa saja, mulai dari yang paling rasional hingga yang paling irrasional sekalipun. Semua itu adalah proses kreatif yang bermuara menjadi cita-cita yang diharapkan dapat dicapai kelak kemudian hari. Oleh karena itu pangimpen dapat menjadi rencana besar yang dipersiapkan oleh seorang anak yang dipersiapkan masa depannya.

H. Penutup
Karya ini diharapkan tersusun dalam bentuk satu-kesatuan sajian utuh yang menggambarkan alam pangimpen (impian/obsesi) dalam diri anak-anak. Secara visual karya tari ini juga mencitrakan sebuah karya lokal Banyumas yang digarap melalui pendekatan tari rakyat. Diharapkan karya ini mampu menjadi salah satu karya yang mampu mencitrakan Banyumas sebagai salah satu kekuatan seni-budaya, baik dalam tataran lokal, regional, nasional, bahkan internasional.
Selaras dengan karya yang sedang dirancang, maka sebagai akhir tulisan ini disarankan beberapa hal, antara lain:
1. Seniman harus senantiasa mampu mengembangkan gagasan kreatifnya ke dalam karya-karya seni bermutu sesuai dengan bidang profesi masing-masing.
2. Seniman harus senantiasa mampu mewujudkan karya-karya yang ‘agung’ dan ‘mengagumkan’ guna membangun citra diri dan citra teritorial dalam kehidupan profesi dan kehidupan bermasyarakat.
3. Diperlukan peran dan perhatian dari Pemerintah secara terus-menerus terhadap pertuumbuhan dan perkembangan kesenian, dalam bentuk pendanaan, pemberian ruang ekspresi serta penghargaan bagi prestasi-prestasi terbaik yang mampu diukir oleh para seniman.