Friday, June 20, 2008

KADIPATEN BANYUMAS SEBAGAI WUJUD ARSITEKTUR INDIES

Dalem Kadipaten Banyumas sebagai wujud arsitektur Indies memiliki ciri utama berupa kentalnya perpaduan antara Barat (Belanda) dan Timur (Jawa). Dari keseluruhan bangunan ini, bagian-bagian yang bercirikan kebudayaan Jawa dapat dijumpai pada falsafah Jawa yang tertuang pada wujud fisik bangunan. Ajaran sinkretisme yang sangat mempengaruhi falsafah Jawa telah berimbas pada bangunan fisik mulai dari alun-alun, empat pintu di keempat arah mata angin, bangunan pendopo, serta penataan ruang di dalem Kadipaten yang masih dapat dilihat hingga sekarang seperti adanya ruang-ruang yang ditengarai sebagai longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni, pringgitan, dan tamansari. Adapun gaya khas Barat dapat dijumpai pada wujud fisik bangunan Induk, lantai, ornamen dan ragam elemen estetik. Secara arsiktural bahwa secara keseluruhan (komplek bangunan) menggunakan sistem penatakan “Jawa” dan beberapa elemen penataan menggunakan model bangunan ‘Belanda” (terutama pada bangunan Induk).

Bangunan Induk (Utama)

Kebudayaan Banyumas juga dipengaruhi oleh kultur Barat (kolonial) seperti tercermin dalam berbagai ragam tradisi masyarakatnya. Tradisi marungan yang berupa kebiasaan para priyayi di daerah pedesaan melakukan kasukan (bersukaria) dengan menyaksikan pertunjukan tarian rakyat lengger, disinyalir merupakan pengaruh kolonialisme Belanda yang demikian lama menguasai Indonesia. Dalem Kadipaten Banyumas sebagai wujud arsitektur Indies memiliki ciri utama berupa kentalnya perpaduan antara Barat (Belanda) dan Timur.

Ruang Pringgitan

Ruang Pringgitan pada Dalem Kadipaten yang mencerminkan legitimasi kekuasaan dan tingkat kepercayaan masyarakat, adanya ciri khas Indies, kondisi masih utuh, namun dilihat kekosongan ruangan, maka dapat ditafsirkan atau dikonotasikan bahwa dulu pasti ada perabot yang menyertainya. Bangunan Indie Kadipaten Banyumas punya kemiripan dengan Dalem kedipaten di lingkungan Keraton, Dalem Pesanggrahan, Dalem Kapangeran. Dalem Pringgitan dilengkapi dengan Tombak, paying, Tongkat, serta di depan pintu terdapat sepasang Loro-blonyo, dan disamping kanan kiri pintu terdapat cermin besar. Ini memberikan konotasi bahwa Dalem Kadipaten Banyumas, pada ruang pringgitan dulu juga demikian. Apabila dilakukan revitalisasi makan secara Interior sebaiknya mengacu ke dalem Kadipaten yang masih ada dan Dalem Kapangeran yang seperti yang telah disebut di atas.

Senthong tengen

Kondisi ruang senthong tengen (kanan) maupun sentong kiwo (kiri) Bangunan Induk Dalem Kadipaten Banyumas, masih utuh namun tidak interior yang memberi petunjuk sebuah ruang Dalem Kadipaten (sekarang ini dimanfaatkan untuk data monograf kecamatan). Untuk mendapatkan ikon sebagai sentong kanan/kiri yang merupakan tempat dan bagian penting dari Arsitektur dalem Kadipaten perlu adanya revitalisasi interior disain.

Museum Wayang

Bangunan “ Musium Wayang”, memanfaatkan bungunan komplek Kadipaten. Berdasarkan konsep Bangunan lingkungan Keraton , bangunan ini adalah bangunan untuk transit (ruang tunggu) tamu Adipati dari luar daerah sehingga merupakan bangunan lingkup Dalem Kadipaten, yang secara arsitektural merupakan satu-kasatuan. Bangunan ini telah mengalami renovasi tanpa orientasi terhadap bangunan yang lain sehingga tampak lepas dan tak ada satu kesatuan dengan bangunan pendukung lain Bangunan semacam ini juga dimanfaatkan dan direnovasi sesuai manfaatnya dan bukan mengacu atau berorientasi pada satu kesatuamn komplek Kadipaten yaitu kantor Kecamatan (sebelah barat Pendapa). Bangunan tersebut mestinya mirip dengan bangunan sebelah kanan dan atau sebelah timur pendapa. Bangunan yang merupakan ruang Adinistrasi Kadipaten.

Ruang Adinistrasi Kadipaten

Bangunan dan sebagai ruang Administrasi, kondisi bangunan masih utuh, namun yang perlu diperhatikan adalah bagaiman merawat bangunan tersebut agar tampak bersih dan klasik (Agung). Ciri khas bangunan seperti pintu, jendela sudah dirubah (mungkin disesuaikan dengan penghuninya kini), termasuk warna dan model daun pintu maupun jendela.

Bale Boga Sasana

Bangunan boga sasana beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya, secara interior sudah direnovasi. Bangunan ini terbuka dan terdapat meja makan (seperti Bar), kini bangunan ini merupakan ruang rapat dan ditutup dengan kaca (lihat foto 10). Bahkan dibelakang ada bangunan tambahan berupa tempat sesaji masyarakat sekeliling, karena dipercayai adanya siluman ular yang bertuah.

Kandang Kuda

“Kadang Kuda” mempunyai ciri-ciri tempat ruang untuk kuda, ada gudang untuk menyimpan sarana perlengkapan dan persediaan makan dan ruang pekatik dan didepan kandang dilengkapi dengan sumur. Pada saat pemotretan secara ikon data masih utuh tetapi keadaan kondisi fisik sangat memprihatinkan. Di dalam renovasi revitalisasi perlu memperhatikan ikon data tersebut

Kondisi eksisting Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas saat ini secara fisik sudah tampak megah, layak dijadikan sebagai bangunan kuno bersejarah yang dirawat dengan baik. Hal ini tentu saja setelah pada tahun-tahun terakhir ini direnovasi dengan pola ‘dikembalikan ke bentuk aslinya’. Ini merupakan modal awal yang sangat berharga dalam usaha melaksanakan revitalisasi sebuah artevak bersejarah peninggalan Kadipaten Banyumas pada masa lalu.

Data yang diperoleh selama penelitian, memberikan asumsi-asumsi dasar yang sangat penting tentang Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas, sebagai berikut:

1. Bangunan utama (induk) dalam kondisi terawat baik.

2. Masih terdapat bangunan-bangunan pendamping yang belum direnovasi.

3. Belum ada sarana-prasarana maupun aksesories yang menggambarkan bangunan tersebut adalah bekas Kadipaten.

4. Di sekitar bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas terdapat bangunan-bangunan baru yang tidak mencerminkan artefak bangunan kuno bersejarah.

5. Bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas masih dimanfaatkan sebagai Kantor Camat Banyumas. Dalam rangka revitalisasi dan pemanfaatan Dalem Kadipaten untuk kepentingan kebudayaan dan pariwisata, keberadaan Kantor Camat kurang menguntungkan.

6. Di salah satu pojok kompleks Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas terdapat stasiun radio yang siarannya tidak mencerminkan eksistensi kebudayaan lokal Banyumas.

7. Belum optimalnya pemanfaatan Dalem Kadipaten guna kepentingan pengembangan seni-budaya Banyumas.

8. Masih memungkinkan terdapat artefak-artefak kuno yang tersembunyi di balik kemegahan Dalem Kadipaten yang ada sekarang ini.

9. Terdapat cerita-cerita mitos yang berkembang di masyarakat berkaitan dengan keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas. Misalnya: tuah Sumur Mas yang berada di belakang Dalem Kadipaten, Sumur Mas yang sesungguhnya terdapat di salah satu ruang Dalem Kadipaten, adanya ular besar (siluman) yang menjaga lorong antara Sumur Mas di salah satu ruang Dalem Kadipaten dengan Sumur Mas yang berada di belakang Dalem Kadipaten, soko guru yang terdapat di arah barat laut pendopo ada penunggunya, dan lain-lain.

10. Mulai adanya perhatian Pemerintah Kabupaten Banyumas serta masyarakat terhadap keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas.

Dalem Kadipaten Banyumas sebagai wujud arsitektur Indies memiliki ciri utama berupa kentalnya perpaduan antara Barat (Belanda) dan Timur (Jawa). Dari keseluruhan bangunan ini, bagian-bagian yang bercirikan kebudayaan Jawa dapat dijumpai pada falsafah Jawa yang tertuang pada wujud fisik bangunan. Ajaran sinkretisme yang sangat mempengaruhi falsafah Jawa telah berimbas pada bangunan fisik mulai dari alun-alun, empat pintu di keempat arah mata angin, bangunan pendopo, serta penataan ruang di dalem Kadipaten yang masih dapat dilihat hingga sekarang seperti adanya ruang-ruang yang ditengarai sebagai longkangan, dalem ageng, griya ageng, boga sasana, senthong kiwa, senthong tengen, bale peni, bale warni, pringgitan, dan tamansari. Adapun gaya khas Barat dapat dijumpai pada wujud fisik bangunan Induk, lantai, ornamen dan ragam elemen estetik. Secara arsiktural bahwa secara keseluruhan (komplek bangunan) menggunakan sistem penatakan “Jawa” dan beberapa elemen penataan menggunakan model bangunan ‘Belanda” (terutama pada bangunan Induk).

Bangunan Induk (Utama)

Kebudayaan Banyumas juga dipengaruhi oleh kultur Barat (kolonial) seperti tercermin dalam berbagai ragam tradisi masyarakatnya. Tradisi marungan yang berupa kebiasaan para priyayi di daerah pedesaan melakukan kasukan (bersukaria) dengan menyaksikan pertunjukan tarian rakyat lengger, disinyalir merupakan pengaruh kolonialisme Belanda yang demikian lama menguasai Indonesia. Dalem Kadipaten Banyumas sebagai wujud arsitektur Indies memiliki ciri utama berupa kentalnya perpaduan antara Barat (Belanda) dan Timur.

Ruang Pringgitan

Ruang Pringgitan pada Dalem Kadipaten yang mencerminkan legitimasi kekuasaan dan tingkat kepercayaan masyarakat, adanya ciri khas Indies, kondisi masih utuh, namun dilihat kekosongan ruangan, maka dapat ditafsirkan atau dikonotasikan bahwa dulu pasti ada perabot yang menyertainya. Bangunan Indie Kadipaten Banyumas punya kemiripan dengan Dalem kedipaten di lingkungan Keraton, Dalem Pesanggrahan, Dalem Kapangeran. Dalem Pringgitan dilengkapi dengan Tombak, paying, Tongkat, serta di depan pintu terdapat sepasang Loro-blonyo, dan disamping kanan kiri pintu terdapat cermin besar. Ini memberikan konotasi bahwa Dalem Kadipaten Banyumas, pada ruang pringgitan dulu juga demikian. Apabila dilakukan revitalisasi makan secara Interior sebaiknya mengacu ke dalem Kadipaten yang masih ada dan Dalem Kapangeran yang seperti yang telah disebut di atas.

Senthong tengen

Kondisi ruang senthong tengen (kanan) maupun sentong kiwo (kiri) Bangunan Induk Dalem Kadipaten Banyumas, masih utuh namun tidak interior yang memberi petunjuk sebuah ruang Dalem Kadipaten (sekarang ini dimanfaatkan untuk data monograf kecamatan). Untuk mendapatkan ikon sebagai sentong kanan/kiri yang merupakan tempat dan bagian penting dari Arsitektur dalem Kadipaten perlu adanya revitalisasi interior disain.

Museum Wayang

Bangunan “ Musium Wayang”, memanfaatkan bungunan komplek Kadipaten. Berdasarkan konsep Bangunan lingkungan Keraton , bangunan ini adalah bangunan untuk transit (ruang tunggu) tamu Adipati dari luar daerah sehingga merupakan bangunan lingkup Dalem Kadipaten, yang secara arsitektural merupakan satu-kasatuan. Bangunan ini telah mengalami renovasi tanpa orientasi terhadap bangunan yang lain sehingga tampak lepas dan tak ada satu kesatuan dengan bangunan pendukung lain Bangunan semacam ini juga dimanfaatkan dan direnovasi sesuai manfaatnya dan bukan mengacu atau berorientasi pada satu kesatuamn komplek Kadipaten yaitu kantor Kecamatan (sebelah barat Pendapa). Bangunan tersebut mestinya mirip dengan bangunan sebelah kanan dan atau sebelah timur pendapa. Bangunan yang merupakan ruang Adinistrasi Kadipaten.

Ruang Adinistrasi Kadipaten

Bangunan dan sebagai ruang Administrasi, kondisi bangunan masih utuh, namun yang perlu diperhatikan adalah bagaiman merawat bangunan tersebut agar tampak bersih dan klasik (Agung). Ciri khas bangunan seperti pintu, jendela sudah dirubah (mungkin disesuaikan dengan penghuninya kini), termasuk warna dan model daun pintu maupun jendela.

Bale Boga Sasana

Bangunan boga sasana beserta sarana-prasarana interior dan eksterior penyertanya, secara interior sudah direnovasi. Bangunan ini terbuka dan terdapat meja makan (seperti Bar), kini bangunan ini merupakan ruang rapat dan ditutup dengan kaca (lihat foto 10). Bahkan dibelakang ada bangunan tambahan berupa tempat sesaji masyarakat sekeliling, karena dipercayai adanya siluman ular yang bertuah.

Kandang Kuda

“Kadang Kuda” mempunyai ciri-ciri tempat ruang untuk kuda, ada gudang untuk menyimpan sarana perlengkapan dan persediaan makan dan ruang pekatik dan didepan kandang dilengkapi dengan sumur. Pada saat pemotretan secara ikon data masih utuh tetapi keadaan kondisi fisik sangat memprihatinkan. Di dalam renovasi revitalisasi perlu memperhatikan ikon data tersebut

Kondisi eksisting Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas saat ini secara fisik sudah tampak megah, layak dijadikan sebagai bangunan kuno bersejarah yang dirawat dengan baik. Hal ini tentu saja setelah pada tahun-tahun terakhir ini direnovasi dengan pola ‘dikembalikan ke bentuk aslinya’. Ini merupakan modal awal yang sangat berharga dalam usaha melaksanakan revitalisasi sebuah artevak bersejarah peninggalan Kadipaten Banyumas pada masa lalu.

Data yang diperoleh selama penelitian, memberikan asumsi-asumsi dasar yang sangat penting tentang Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas, sebagai berikut:

1. Bangunan utama (induk) dalam kondisi terawat baik.

2. Masih terdapat bangunan-bangunan pendamping yang belum direnovasi.

3. Belum ada sarana-prasarana maupun aksesories yang menggambarkan bangunan tersebut adalah bekas Kadipaten.

4. Di sekitar bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas terdapat bangunan-bangunan baru yang tidak mencerminkan artefak bangunan kuno bersejarah.

5. Bangunan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas masih dimanfaatkan sebagai Kantor Camat Banyumas. Dalam rangka revitalisasi dan pemanfaatan Dalem Kadipaten untuk kepentingan kebudayaan dan pariwisata, keberadaan Kantor Camat kurang menguntungkan.

6. Di salah satu pojok kompleks Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas terdapat stasiun radio yang siarannya tidak mencerminkan eksistensi kebudayaan lokal Banyumas.

7. Belum optimalnya pemanfaatan Dalem Kadipaten guna kepentingan pengembangan seni-budaya Banyumas.

8. Masih memungkinkan terdapat artefak-artefak kuno yang tersembunyi di balik kemegahan Dalem Kadipaten yang ada sekarang ini.

9. Terdapat cerita-cerita mitos yang berkembang di masyarakat berkaitan dengan keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas. Misalnya: tuah Sumur Mas yang berada di belakang Dalem Kadipaten, Sumur Mas yang sesungguhnya terdapat di salah satu ruang Dalem Kadipaten, adanya ular besar (siluman) yang menjaga lorong antara Sumur Mas di salah satu ruang Dalem Kadipaten dengan Sumur Mas yang berada di belakang Dalem Kadipaten, soko guru yang terdapat di arah barat laut pendopo ada penunggunya, dan lain-lain.

10. Mulai adanya perhatian Pemerintah Kabupaten Banyumas serta masyarakat terhadap keberadaan Dalem Kadipaten (Pendopo Duplikat Si Panji) Banyumas.

No comments: