Tuesday, May 20, 2008

RESENSI BUKU

HADIRNYA SETITIK AIR DI TENGAH HAUSNYA KAJIAN
TENTANG KESENIAN

Judul Buku : KETIKA ORANG JAWA NYENI
Penyunting : Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, MA.
Pengantar : Prof. Dr. Sjafri Sairin, MA.
Penerbit : Galang Press, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2000
Tebal : 431 halaman

Heddy Shri Ahimsa Putra (Ahimsa) membuat judul yang cukup nyleneh untuk tulisannya: Ketika Orang Jawa Nyeni (2000). Tulisan ini disunting sebagai wujud keprihatinan yang cukup mendalam berkaitan dengan perkembangan kajian atau analisis fenomena kesenian dan seni di Indonesia yang ditinjau dari sisi kualitas maupun kuantitas belum sepadan dengan kebutuhan. Sebenarnya sebelum tulisan Ahimsa diterbitkan sudah ada beberapa tulisan lain tentang kajian konseptual kesenian yang sudah terbit seperti tulisan Satoto1 (1994), Djoharnurani2 (1999), Mamannoor3 (1999), Sahid4 (1999) dan Wirjodirdjo5 (1999), namun demikian semua itu belum cukup dibanding dengan kekayaan ragam kesenian di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Buku ini merupakan himpunan beberapa tulisan para pakar seni budaya tentang fenomena-fenomena kesenian yang ada di Jawa antara lain tulisan Soeharyoso, Soetaryo, Sunyoto Usman, Soepomo, Soeprapto dan Umar Kayam dkk. Dari keseluruhan tulisan yang dihimpun di dalamnya dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni sebagian tulisan bersifat sinkronis sedangkan sebagian lainnya bersifat diakronis (historis). Tulisan Soeharyoso, Soetaryo, Sunyoto Usman, Soepomo dan Soeprapto dapat digolongkan ke dalam kategori analisis sinkronis. Adapun tulisan Umar Kayam dkk dapat digolongkan analisis historis.
Tulisan-tulisan yang dihimpun di dalam buku ini merupakan hasil penelitian yang dibidik dari sudut pandang tertentu dengan fokus dan angle tertentu pula. Tulisan Soeharyoso membahas dan memetakan jenis-jenis kesenian yang ada dari sudut pandang makro. Demikian pula tulisan Sunyoto Usman dan Soepomo-Soeprapto mendeskripsikan kesenian-kesenian tertentu dengan konteksnya, tetapi tidak seluas konteks geografis seperti yang ada dalam tulisan Soeharyoso. Sebaliknya tulisan Soetaryo mengambil sudut pandang mikro dengan melakukan pendalaman pada kesenian angguk dari desa Garongan. Secara ekstrem Soetaryo seolah-olah berusaha mengubah ketajaman fokus lensa yang digunakan oleh Soeharyoso. Tulisan Umar Kayam dkk merupakan hasil bidikan lensa dengan fokus yang digerakkan dari fokus yang kecil ke yang lebih besar. Hasilnya adalah deskripsi yang agak rinci mengenai jenis kesenian tertentu, sejarah kesenian tersebut secara singkat, kehidupan perkumpulan kesenian tertentu dan konteks perubahan masyarakat pemilik kesenian tersebut.
Secara keseluruhan buku ini terdiri atas tujuh tulisan ilmiah tentang kesenian. Tulisan pertama berjudul “Seni dalam Beberapa Perspektif: Sebuah Pengantar” oleh Heddy Shri Ahimsa Putra selaku penyunting. Pada awal tulisannya Ahimsa secara eksplisit menyatakan keprihatinan yang cukup mendalam berkaitan dengan perkembangan kajian atau analisis fenomena kesenian dan seni di Indonesia yang ditinjau dari sisi kualitas maupun kuantitas belum sepadan dengan kebutuhan. Sebagai sebuah pengantar, tulisan ini menyampaikan ulasan tentang lima tulisan lain yang ada di dalam buku ini. Kelima tulisan ini digolongkan menjadi dua dua kategori, yakni tulisan yang bersifat sinkronis dan yang bersifat diakronis (historis). Dikatakan bahwa dari kelima tulisan ini pembahasan dilakukan melalui fokus dan angle tertentu sehingga menghasilkan tulisan-tulisan yang bersifat makro, mikro dan historis.

Jenis dan Persebaran Teater Tradisional di Sleman
Tulisan kedua adalah “Teater Tradisional di Sleman, Yogyakarta: Jenis dan Persebarannya” yang ditulis oleh Soeharyoso6. Tulisan ini merupakan laporan hasil penelitian yang dibiayai oleh Rockefeller Fondation di Sleman pada tahun 1979 dengan judul asli, “Penyebaran Teater Tradisional di Kabupaten Sleman”. Di dalam tulisannya Soeharsoyo membahas tentang jenis dan persebaran teater tradisional di Sleman, Yogyakarta antara lain: (1) wayang, (2) Langen Mondro Wanoro, (3) Kethoprak, (4) Sruntul, (5) Ande-ande Lumut, (6) Srandul, (7) Dadung Awuk, (8) Tayub, (9) Jatilan dan Reog, dan (10) slawatan. Dalam kehidupan masyarakat Sleman, keberadaan teater tradisional erat kaitannya dengan upacara-upacara atau kegiatan yang menyangkut adat-istiadat, bahkan acap kali menjadi media pendidikan mental dan dapat pula berkembang menjadi media penyaluran kritik sosial terhadap kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Persebaran teater tradisional ini adalah di kalangan masyarakat petani. Mereka menjadikan kesenian ini sebagai hobby yang dilakukan pada malam hari.
Dari hasil penelitian di 17 kecamatan diketahui bahwa dari berbagai jenis teater tradisional yang ada, jenis teater yang memiliki populasi terbanyak adalah kethoprak dengan jumlah perkumpulan 249 buah (22,95%). Terbanyak kedua adalah karawitan dengan jumlah 213 buah (19,63%), disusul wayang orang 108 buah (9,95%), slawatan 81 buah (7,46%), jatilan 75 buah (6,91%), salang wayang kulit 41 kelompok (3,78%), srandul sembilan kelompok (0,83%), reog delapan kelompok (0,74%), dalang wayang klithik lima orang (0,46%), ande-ande lumut empat kelompok (0,37%), dalang wayang golek tiga orang (0,28%), dadung awuk dua kelompok (0,18%) serta langendriyan, langen mondro wanoro dan tayub masing-masing satu kelompok (0,09%).

Angguk di Garongan
Tulisan ketiga, “Kesenian Angguk di Desa Garongan” oleh Soetaryo7. Tulisan ini merupakan hasil penelitian mengenai keberadaan kesenian angguk di desa Garongan, sebuah desa yang terletak di pantai selatan Yogyakarta. Penelitian dilakukan pada tahun 1979 dengan biaya bersumber dari Rockefeller Fondation. Kesenian angguk yang menjadi subyek penelitian memiliki spesifikasi dibanding dengan angguk di daerah lain. Meskipun sama-sama kesenian bernafas islami, angguk di Garongan sangat khas yaitu atraksi klimaks yang disebut ndadi (trance) yang menurut kepercayaan masyarakat setempat melibatkan kekuatan magis (kekuatan sakti). Kekuatan magis ini diyakini dapat hadir karena adanya jimat yang diperoleh dari seorang jurukunci pasarean Bagelen, Kabupaten Purworejo serta roh-roh yang diperbantukan untuk membuat pemain angguk mengalami trance.
Tulisan ini dimaksudkan untuk menggambarkan seluk-beluk kesenian angguk desa Garongan dengan fokus perhatian pada atraksi ndadi atau wuru. Namun demikian hal-hal yang terkait dengan teknis penyajian juga dibahas secara proporsional, antara lain tentang peralatan musik, kostum pemain, tarian dan pantun-pantun yang dapat dibedakan menjadi pantun nasehat atau pendidikan, pantun muda-mudi dan pantun sakral. Sebagai fokus bahasan ndadi dalam pertunjukan angguk di Garongan dibahas cukup jelas mengenai pengertian ndadi, persyaratan ndadi, tentang roh suci beserta cara menerima dan memelihara hubungan dengan roh suci hingga rasa, keadaan dan penyembuhan ketika seorang pemain angguk mengalami ndadi.

Apresiasi Masyarakat Yogyakarta terhadap Musik Populer
Tulisan keempat, “Apresiasi Masyarakat Yogyakarta terhadap Musik Populer” oleh Suntoyo Usman8. Tulisan ini merupakan laporan hasil penelitian tentang tingkat apresiasi masyarakat Yogyakarta terhadap musik populer. Penelitian yang dibiayai oleh Rockefeller Fondation ini dilakukan pada tahun 1980 dengan mengambil lokasi di RK Cokrodirjan dan RK Kotabaru, Kotamadya Yogyakarta dengan judul asli “Apresiasi Masyarakat terhadap Musik Populer”. Dalam tulisan ini dijelaskan bahwa musik populer merupakan salah satu jenis musik bertiti nada diatonis yang memiliki “masyarakat pendengar” yang cukup luas.
Ada tiga faktor penting yang mempengaruhi apresiasi masyarakat warga masyarakat terhadap musik populer, yakni: (1) derajat pengenalan, (2) pembiasaan, dan (3) identitas pergaulannya dengan musik populer. Derajat pengenalan adalah persentuhan orang dengan suatu produk musik populer tertentu. Pembiasaan merupakan frekuensi persentuhan orang dengan suatu produk musik populer tertentu. Adapun identitas pergaulan yang dimaksud adalah pengetahuan yang lebih mendasar mengenai aspek-aspeknya serta keterlibatan (baik secara kuantitatif maupun kualitatif) dalam kegiatan yang mempergunakan musik populer sebagai salah satu sarana pokok. Dua sifat yang mewarnai musik populer adalah komersialitas dan kepraktisannya. Produk musik populer yang dimaksud di sini antara lain berupa: (1) rekaman musik populer (berbentuk kaset atau piringan hitam), (2) pementasan musik populer (live-show) yang komersial, dan (3) penyajian musik populer melalui televisi.
Di dalam penelitiannya Suntoyo Usman mengamati penyiaran musik populer melalui radio-radio yang ada di Yogyakarta antara lain RRI Yogyakarta, Radio Arma Sebelas, Radio EMC, dan Radio Reco Buntung. Dalam upaya mengumpulkan data-data penelitian, Suntoyo Usman mengamati masyarakat Kotabaru dan dan Cokrodirjan melalui prosentase berdasarkan kewarganegaraan, golongan umur dan jenis kelamin, tingkat pendidikan, mata pencaharian, sarana komunikasi serta jenis dan organisasi sosial. Untuk mengumpulkan data-data tentang intensitas kontak masyarakat dengan dengan musik populer diperoleh melalui kebiasaan mendengarkan dan menyaksikan pementasan, pemilikan kaset rekaman, ketrampilan bermain musik serta keikutsertaan dalam kelompok musik dan tari pergaulan. Adapun kegemaran terhadap musik populer ditinjau dari kegemaran terhadap melodi, kegemaran terhadap ritme (irama), kegemaran terhadap syair, kegemaran terhadap warna suara penyanyi dan instrumen musik dan alasan kegemaran.

Apresiasi Masyarakat Yogyakarta terhadap Dagelan Mataram
Tulisan kelima, “Dagelan Mataram: Apresiasi Masyarakat Yogyakarta” oleh Soepomo Poedjosoedarmo9 dan Soeprapto Budi Santoso. Tulisan ini merupakan laporan hasil penelitian tentang tingkat apresiasi masyarakat Yogyakarta terhadap dagelan Mataram. Penelitian yang dibiayai oleh Rockefeller Fondation ini dilakukan pada tahun 1980 dengan judul asli, “Tingkat Penerimaan Masyarakat terhadap Dagelan Mataram di Wilayah Kotamadya Yogyakarta (Sebuah Laporan Penelitian)”. Dalam tulisannya kedua penulis ini mengungkapkan bahwa dagelan Mataram merupakan suatu jenis kesenian Jawa yang dilahirkan di lingkungan Kraton Yogyakarta ketika GP Hangabehi, putra Sultan Hamengkubuana VIII, pada tiap-tiap hari kelahirannya memanggil para abdi dalem oceh-ocehan ke rumah kediamannya untuk membuat tertawa orang yang melihat dan mendengar ocehan mereka. Dagelan Mataram memiliki ciri-ciri tertentu antara lain: (1) mengandung ceritera tertentu, (2) memakai bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar, (3) materi cerita diangkat dari kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa, (4) diiringi gamelan dan sinden sebagai ilustrasi, (5) kadang-kadang memakai tarian, (6) pemain kadang-kadang menyanyikan tembang, dan (7) memakai kostum pakaian Jawa gaya Surakarta atau pakaian yang berasal dari kesenian Jawa lainnya (kethoprak atau wayang wong).
Di dalam tulisan ini dipaparkan beberapa kisah kehidupan pribadi para pemain, antara lain: (1) Hardjo Gepeng (Dagelan “Gudeg Yogya”), (2) Darsono (Dagelan “Gudeg Yogya”), (3) Marsidah, BSc. (Dagelan “Gudeg Yogya”), (4) Suprapto (Dagelan “Gudeg Yogya”), (5) Dul Hadi (Ngabdul), (6) Suprapti, (7) Nyi Put (Bu Basiyo), (8) Suhartini, dan (9) Bu Tik. Fokus bahasan berkisar pada dagelan Mataram dan perusahaan kaset, dagelan Mataram dalam siaran radio dan tingkat penerimaan masyarakat. data mengenai tingkat penerimaan masyarakat bersumber dari pengamatan terhadap pekerja kasar, pedagang, mahasiswa, pegawai dan ibu rumah tangga,pelajar elite dan pelajar slump.

Pertunjukan Rakyat Tradisional Jawa dan Perubahannya
Tulisan keenam, “Pertunjukan Rakyat Tradisional Jawa dan Perubahannya” oleh Umar Kayam10. Tulisan ini merupakan laporan penelitian yang didanai oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1985) dengan judul asli, “Beberapa Bentuk Seni Tradisional Jawa”. Di dalam tulisan ini Umar Kayam dkk menguraikan bahwa kesenian tradisional Jawa memiliki ragam yang cukup banyak meliputi seni rupa, seni tari, seni sastra dan seni teater (drama). Dalam kehidupannya seni tradisional mempunyai fungsi penting yang terlihat terutama pada dua segi, yaitu segi daya jangkau penyebarannya dan segi fungsi sosialnya.
Fokus bahasan tulisan ini adalah kajian secara diakronis tentang tiga kesenian tradisional yang ada di Jawa antara lain: kethoprak, ludrug dan wayang wong. Sebagai bentuk kajian diakronis, penelitian terhadap ketiga jenis kesenian yang menjadi sasaran meliputi aspek kesejarahan, sisi organisasi, ekonomi perkumpulan, struktur pertunjukan dan apresiasi penonton. Pembahasan menganai kethoprak mengambil sasaran perkumpulan kethoprak “P.S. Bayu”. Untuk pembahasan mengenai ludruk sasaran penelitian pada perkumpulan ludruk “Bintang Jaya”. Adapun pembahasan mengenai wayang wong sasaran penelitian pada perkumpulan wayang wong “Sriwedari”. Pada bagian akhir disebutkan bahwa kecenderungan yang kurang menggembirakan serta perubahan yang terjadi pada seni pertunjukan tradisional Jawa pada umumnya berhubungan dengan terjadinya perubahan-perubahan tertentu dalam masyarakat. Ada dua macam perubahan yang dikaji dalam tulisan ini yaitu perubahan teknologi komunikasi serta perubahan sistem sosial dan sistem nilai. Sebagai bagian dari kajian dibahas pula tentang tanggapan seni tradisioal terhadap modernisasi berupa respon pasif dan respon aktif. Respon pasif berupa kesediaan menerima segala tuntutan yang terjadi sehingga menyebabkan seni tradisional berada dalam posisi yang bersaing dengan seni modern produksi massal. Adapun respon aktif berupa usaha mencari peluang yang belum diisi oleh seni modern.

Kajian Tekstual, Kontekstual dan Post-Modernistis dalam Kesenian
Tulisan ketujuh, “Wacana Seni dalam Antropologi Budaya: Tekstual, Kontekstual dan Post-Modernistis” oleh Heddy Shri Ahimsa Putra. Tulisan ini merupakan perbaikan dan pengembangan dari artikel “Sebagai Teks dalam Konteks: Seni dalam Kajian Antropologi Budaya” yang dimuat dalam Jurnal Seni edisi VI/01, Mei, 1998. Di sini Ahimsa tidak memusatkan pembahasan pada bidang seninya, melainkan lebih pada paradigmanya yang difokuskan pada dua bentuk kajian, yaitu: (1) kajian yang memandang fenomena kesenian sebagai suatu teks yang relatif berdiri sendiri, dan (2) kajian yang menempatkan fenomena tersebut dalam konteks yang lebih luas, yaitu konteks sosial budaya masyarakat tempat fenomena kesenian itu muncul atau hidup. Kajian tekstualistik adalah kajian simbolis atau hermeneutik (interpretative) dan kajian struktural (ala Levi-Strauss), sedangkan kajian kontekstualistik didominasi oleh paradigma ekonomi politik, yang melihat kesenian tidak lepas dari berbagai kepentingan politik individu-individu, yang sedikit banyak bersangkut paut dengan kesenian tersebut.
Pandangan post-modernistis umumnya tidak melakukan analisis atau memahami isi suatu fenomena, tetapi mendekonstruksikannya, meruntuhkannya atau mempertanyakan kembali, membuat sebagian ahli antropologi mempertanyakannya kembali apa etnografi itu sendiri, dan ini ternyata mempunyai implikasi radikal. Pandangan post-modernistis memungkinkan semakin lebih jelas pengaruhnya terhadap kesenin dalam antropologi. Melalui pandangan ini dapat dimunculkan etnografi eksperimental yang akan menghilangkan batas-batas yang memisahkan “seni” dan “ilmiah” sehingga semakin memberikan kesadaran akan implikasi politis dari etnografi itu sendiri.

Setetes Air di Tengah Sahara
Sebagai tulisan yang dihasilkan di tengah kelangkaan kajian dan analisis tentang kesenian, buku ini seolah-olah hadir sebagai setetes air di tengah sahara. Beberapa tulisan yang berhasil dihimpun merupakan hasil analisis akademisi di bidang kebudayaan yang juga menjadi pendukung kebudayaan itu sendiri. Oleh karena itu analisis di dalamnya merupakan hasil pemikiran para pelaku budaya yang sehari harinya mengetahui setiap gerak perubahan ragam kesenian yang menjadi bahan tulisannya. Hal ini memungkinkan tulisan yang berhasil disusun sesuai dengan berbagai fakta konkret yang terjadi di lapangan.
Secara umum buku ini mengambil tema tentang bagaimana orang Jawa mengungkapkan pengalaman-pengalaman estetisnya melalui aneka ragam kesenian yang dihasilkannya. Dalam wacana pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan, seni tradisi Jawa dapat dibedakan menjadi seni tradisi kraton dan seni tradisi kerakyatan (kesenian rakyat). Seni tradisi kraton lahir, tumbuh dan berkembang di lingkungan kraton yang erat sekali kaitannya dengan kekuasaan raja-raja Jawa. Adapun kesenian rakyat lahir, tumbuh dan berkembang di lingkungan komunitas rakyat jelata yang hidup di desa-desa yang jauh dari pengaruh kraton. Buku ini bukan dimaksudkan untuk membahas keunikan dan adiluhung-nya kesenian kraton, melainkan lebih memusatkan perhatian pada ragam kesenian rakyat yang tumbuh di luar tembok kraton. Orang Jawa yang dimaksud di dalam buku ini adalah para kawula atau rakyat kebanyakan yang dalam hidupnya tidak lepas dari usaha-usaha pemenuhan kebutuhan estetis sebagai salah satu kebutuhan pokok di luar kebutuhan fisik makan dan minum.
Ada dua kelemahan yang tampak di dalam buku ini. Pertama, tulisan-tulisan yang dihimpun dalam buku Ketika Orang Jawa Nyeni merupakan hasil penelitian yang dilakukan dalam rentang waktu tahun 1979-1985 sementara buku ini diterbitkan pada tahun 2000. Lamanya rentang waktu ini memungkinkan terjadinya deviasi antara analisis di dalam tulisan dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat buku ini diterbitkan. Seperti kita ketahui bahwa antara tahun 1979-1985 adalah masa pemerintahan Orde Baru yang nota bene adalah masa terjadinya model pemerintahan sentralistis. Pada waktu itu kekuasaan pemerintah pusat sangat kuat terhadap segala bidang kehidupan, termasuk kesenian. Banyak ragam kesenian yang kehadirannya sangat dimuati oleh unsur-unsur politik kekuasaan. Hal ini berbeda dengan tahun 2000 yang sudah memasuki era reformasi yang mengakibatkan kecenderungan terjadinya perubahan sosio kultural ke arah kebebasan (demokratisasi). Pada era terakhir ini jelas telah terjadi perubahan-perubahan yang sangat mendasar dalam berbagai aspek kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia.
Di sisi lain dalam rentang waktu yang cukup jauh antara pelaksanaan penelitian dan penerbitan akan berkaitan erat dengan fluktuasi pertumbuhan dan perkembangan kesenian yang diakibatkan oleh perubahan pola pikir masyarakat pendukungnya, sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan masukan data di dalam tulisan. Sebagai contoh pada tulisan Suntoyo Usman tentang produk rekaman hanya dicontohkan berbentuk kaset atau piringan hitam. Hal ini terjadi karena pada saat dilakukannya penelitian belum beredar bentuk rekaman lain seperti CD, VCD, DVD dan lain-lain.
Kedua, khususnya pada tulisan Soeharyoso terjadi kesalahan entry data. Pada tulisannya yang berjudul “Teater Tradisional di Sleman, Yogyakarta: Jenis dan Persebarannya” Soeharyoso memasukkan karawitan dan slawatan ke dalam jenis teater tradisional. Kedua jenis kesenian ini adalah jenis musik tradisional, bukan teater tradisional seperti yang tercantum di dalam tulisan Soeharyoso. Kesalahan demikian dapat memicu pemahaman yang keliru tentang pengertian musik dan teater.
Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang ada, buku ini merupakan bentuk analisis dan kajian tentang kesenian yang cukup mendalam. Sejauh ini tidak banyak dijumpai tulisan-tulisan sejenis yang memiliki kejian mendalam dari sudut pandang kesenian itu sendiri. Tulisan-tulisan yang ada umumnya mengambil sudut pandang kajian sosiologis dan atau antropologis. Hal ini dapat dimaklumi karena kesenian sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya manusia. Selain itu pembicaraan kesenian dari sisi kajian ilmiah merupakan sesuatu yang relatif baru dalam perkembangan dunia ilmu pengetahuan, khususnya di Indonesia.
Yang membuat buku ini semakin menarik adalah penggunaan bahasa yang lugas dan runtut. Para penulis mampu merumuskan ide dan pemikirannya dalam sebuah teks yang mudah dipahami oleh pembaca. Namun demikian satu hal yang dapat dianggap sebagai kelemahan adalah hampir keseluruhan teks di dalam buku ini terasa kering. Hal ini dapat dipahami karena tulisan-tulisan yang dihimpun dalam buku ini merupakan hasil penelitian sehingga lebih banyak menggunakan ragam kata yang bersifat formal seperti layaknya laporan penelitian pada umumnya.
Di dalam buku ini terdapat beberapa kesalahan cetak yang tidak prinsip namun terasa mengganggu. Nama pengarang pada tulisan pertama Ahimsa menggunakan ‘oe’ untuk nama Soeharyoso, namun pada tulisan kedua tertulis Suharyoso. Selain itu penulisan kata-kata asing (bahasa Jawa) tidak konsisten. Pada beberapa kata dicetak miring (italic), tetapi pada kata yang lain tidak dicetak miring.
Dalam wacana perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini, buku Ketika Orang Jawa Nyeni bukan saja penting untuk mereka yang belajar kesenian, tetapi juga dapat memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi pengembangan ilmu-ilmu humaniora, khususnya antropologi dan sosiologi. Dengan demikian buku ini layak dikonsumsi oleh kalangan akademisi yang tertarik pada penelaahan seni budaya.

***
1 Sudiro Satoto, “Teater sebagai Sistem Tanda” dalam Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia, tahun V, 1994, halaman 6-25.
2 Djoharnurani, “Seni dan Intertekstualitas: Sebuah Perspektif”, makalah Pidato Ilmiah pada Disnatalis XV Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, 1999.
3 Mamannoor, “Pendekatan Kosmologi Metafisik Kritik Seni Rupa di Indonesia”, dalam Jurnal Seni edisi VI/03, 1999, halaman 232-250.
4 Sahid, “Pendekatan Sosiologi Teater dan Permasalahannya”, dalam Jurnal Seni edisi VI/03, 1999, halaman 171-184.
5 Wirjodirdjo, “Keris dalam Bingkai Pandang Semiotik”, dalam Jurnal Seni edisi VI/03, 1999, halaman 301-313.
6 Soeharyoso adalah dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
7 Soetaryo adalah staf pengajar di Jurusan Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajahmada Yogyakarta.
8 Suntoyo Usman adalah staf pengajar di Jurusan Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajahmada Yogyakarta.
9 Soepomo Poedjosoedarmo adalah Guru Besar dalam bidang linguistik Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan peneliti senior di Pusat Penelitian Kebudayaan dan Perubahan Sosial UGM.
10 Umar Kayam adalah guru besar emeritus pada Fakultas Sastra UGM. Penulis lain yang bersama-sama terlibat dalam penulisan laporan penelitian ini adalah Ryadi Gunawan, Faruk dan Ahmad Adaby Durban.

HADIRNYA SETITIK AIR DI TENGAH HAUSNYA KAJIAN
TENTANG KESENIAN

Judul Buku : KETIKA ORANG JAWA NYENI
Penyunting : Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, MA.
Pengantar : Prof. Dr. Sjafri Sairin, MA.
Penerbit : Galang Press, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2000
Tebal : 431 halaman

Heddy Shri Ahimsa Putra (Ahimsa) membuat judul yang cukup nyleneh untuk tulisannya: Ketika Orang Jawa Nyeni (2000). Tulisan ini disunting sebagai wujud keprihatinan yang cukup mendalam berkaitan dengan perkembangan kajian atau analisis fenomena kesenian dan seni di Indonesia yang ditinjau dari sisi kualitas maupun kuantitas belum sepadan dengan kebutuhan. Sebenarnya sebelum tulisan Ahimsa diterbitkan sudah ada beberapa tulisan lain tentang kajian konseptual kesenian yang sudah terbit seperti tulisan Satoto1 (1994), Djoharnurani2 (1999), Mamannoor3 (1999), Sahid4 (1999) dan Wirjodirdjo5 (1999), namun demikian semua itu belum cukup dibanding dengan kekayaan ragam kesenian di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Buku ini merupakan himpunan beberapa tulisan para pakar seni budaya tentang fenomena-fenomena kesenian yang ada di Jawa antara lain tulisan Soeharyoso, Soetaryo, Sunyoto Usman, Soepomo, Soeprapto dan Umar Kayam dkk. Dari keseluruhan tulisan yang dihimpun di dalamnya dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni sebagian tulisan bersifat sinkronis sedangkan sebagian lainnya bersifat diakronis (historis). Tulisan Soeharyoso, Soetaryo, Sunyoto Usman, Soepomo dan Soeprapto dapat digolongkan ke dalam kategori analisis sinkronis. Adapun tulisan Umar Kayam dkk dapat digolongkan analisis historis.
Tulisan-tulisan yang dihimpun di dalam buku ini merupakan hasil penelitian yang dibidik dari sudut pandang tertentu dengan fokus dan angle tertentu pula. Tulisan Soeharyoso membahas dan memetakan jenis-jenis kesenian yang ada dari sudut pandang makro. Demikian pula tulisan Sunyoto Usman dan Soepomo-Soeprapto mendeskripsikan kesenian-kesenian tertentu dengan konteksnya, tetapi tidak seluas konteks geografis seperti yang ada dalam tulisan Soeharyoso. Sebaliknya tulisan Soetaryo mengambil sudut pandang mikro dengan melakukan pendalaman pada kesenian angguk dari desa Garongan. Secara ekstrem Soetaryo seolah-olah berusaha mengubah ketajaman fokus lensa yang digunakan oleh Soeharyoso. Tulisan Umar Kayam dkk merupakan hasil bidikan lensa dengan fokus yang digerakkan dari fokus yang kecil ke yang lebih besar. Hasilnya adalah deskripsi yang agak rinci mengenai jenis kesenian tertentu, sejarah kesenian tersebut secara singkat, kehidupan perkumpulan kesenian tertentu dan konteks perubahan masyarakat pemilik kesenian tersebut.
Secara keseluruhan buku ini terdiri atas tujuh tulisan ilmiah tentang kesenian. Tulisan pertama berjudul “Seni dalam Beberapa Perspektif: Sebuah Pengantar” oleh Heddy Shri Ahimsa Putra selaku penyunting. Pada awal tulisannya Ahimsa secara eksplisit menyatakan keprihatinan yang cukup mendalam berkaitan dengan perkembangan kajian atau analisis fenomena kesenian dan seni di Indonesia yang ditinjau dari sisi kualitas maupun kuantitas belum sepadan dengan kebutuhan. Sebagai sebuah pengantar, tulisan ini menyampaikan ulasan tentang lima tulisan lain yang ada di dalam buku ini. Kelima tulisan ini digolongkan menjadi dua dua kategori, yakni tulisan yang bersifat sinkronis dan yang bersifat diakronis (historis). Dikatakan bahwa dari kelima tulisan ini pembahasan dilakukan melalui fokus dan angle tertentu sehingga menghasilkan tulisan-tulisan yang bersifat makro, mikro dan historis.

Jenis dan Persebaran Teater Tradisional di Sleman
Tulisan kedua adalah “Teater Tradisional di Sleman, Yogyakarta: Jenis dan Persebarannya” yang ditulis oleh Soeharyoso6. Tulisan ini merupakan laporan hasil penelitian yang dibiayai oleh Rockefeller Fondation di Sleman pada tahun 1979 dengan judul asli, “Penyebaran Teater Tradisional di Kabupaten Sleman”. Di dalam tulisannya Soeharsoyo membahas tentang jenis dan persebaran teater tradisional di Sleman, Yogyakarta antara lain: (1) wayang, (2) Langen Mondro Wanoro, (3) Kethoprak, (4) Sruntul, (5) Ande-ande Lumut, (6) Srandul, (7) Dadung Awuk, (8) Tayub, (9) Jatilan dan Reog, dan (10) slawatan. Dalam kehidupan masyarakat Sleman, keberadaan teater tradisional erat kaitannya dengan upacara-upacara atau kegiatan yang menyangkut adat-istiadat, bahkan acap kali menjadi media pendidikan mental dan dapat pula berkembang menjadi media penyaluran kritik sosial terhadap kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Persebaran teater tradisional ini adalah di kalangan masyarakat petani. Mereka menjadikan kesenian ini sebagai hobby yang dilakukan pada malam hari.
Dari hasil penelitian di 17 kecamatan diketahui bahwa dari berbagai jenis teater tradisional yang ada, jenis teater yang memiliki populasi terbanyak adalah kethoprak dengan jumlah perkumpulan 249 buah (22,95%). Terbanyak kedua adalah karawitan dengan jumlah 213 buah (19,63%), disusul wayang orang 108 buah (9,95%), slawatan 81 buah (7,46%), jatilan 75 buah (6,91%), salang wayang kulit 41 kelompok (3,78%), srandul sembilan kelompok (0,83%), reog delapan kelompok (0,74%), dalang wayang klithik lima orang (0,46%), ande-ande lumut empat kelompok (0,37%), dalang wayang golek tiga orang (0,28%), dadung awuk dua kelompok (0,18%) serta langendriyan, langen mondro wanoro dan tayub masing-masing satu kelompok (0,09%).

Angguk di Garongan
Tulisan ketiga, “Kesenian Angguk di Desa Garongan” oleh Soetaryo7. Tulisan ini merupakan hasil penelitian mengenai keberadaan kesenian angguk di desa Garongan, sebuah desa yang terletak di pantai selatan Yogyakarta. Penelitian dilakukan pada tahun 1979 dengan biaya bersumber dari Rockefeller Fondation. Kesenian angguk yang menjadi subyek penelitian memiliki spesifikasi dibanding dengan angguk di daerah lain. Meskipun sama-sama kesenian bernafas islami, angguk di Garongan sangat khas yaitu atraksi klimaks yang disebut ndadi (trance) yang menurut kepercayaan masyarakat setempat melibatkan kekuatan magis (kekuatan sakti). Kekuatan magis ini diyakini dapat hadir karena adanya jimat yang diperoleh dari seorang jurukunci pasarean Bagelen, Kabupaten Purworejo serta roh-roh yang diperbantukan untuk membuat pemain angguk mengalami trance.
Tulisan ini dimaksudkan untuk menggambarkan seluk-beluk kesenian angguk desa Garongan dengan fokus perhatian pada atraksi ndadi atau wuru. Namun demikian hal-hal yang terkait dengan teknis penyajian juga dibahas secara proporsional, antara lain tentang peralatan musik, kostum pemain, tarian dan pantun-pantun yang dapat dibedakan menjadi pantun nasehat atau pendidikan, pantun muda-mudi dan pantun sakral. Sebagai fokus bahasan ndadi dalam pertunjukan angguk di Garongan dibahas cukup jelas mengenai pengertian ndadi, persyaratan ndadi, tentang roh suci beserta cara menerima dan memelihara hubungan dengan roh suci hingga rasa, keadaan dan penyembuhan ketika seorang pemain angguk mengalami ndadi.

Apresiasi Masyarakat Yogyakarta terhadap Musik Populer
Tulisan keempat, “Apresiasi Masyarakat Yogyakarta terhadap Musik Populer” oleh Suntoyo Usman8. Tulisan ini merupakan laporan hasil penelitian tentang tingkat apresiasi masyarakat Yogyakarta terhadap musik populer. Penelitian yang dibiayai oleh Rockefeller Fondation ini dilakukan pada tahun 1980 dengan mengambil lokasi di RK Cokrodirjan dan RK Kotabaru, Kotamadya Yogyakarta dengan judul asli “Apresiasi Masyarakat terhadap Musik Populer”. Dalam tulisan ini dijelaskan bahwa musik populer merupakan salah satu jenis musik bertiti nada diatonis yang memiliki “masyarakat pendengar” yang cukup luas.
Ada tiga faktor penting yang mempengaruhi apresiasi masyarakat warga masyarakat terhadap musik populer, yakni: (1) derajat pengenalan, (2) pembiasaan, dan (3) identitas pergaulannya dengan musik populer. Derajat pengenalan adalah persentuhan orang dengan suatu produk musik populer tertentu. Pembiasaan merupakan frekuensi persentuhan orang dengan suatu produk musik populer tertentu. Adapun identitas pergaulan yang dimaksud adalah pengetahuan yang lebih mendasar mengenai aspek-aspeknya serta keterlibatan (baik secara kuantitatif maupun kualitatif) dalam kegiatan yang mempergunakan musik populer sebagai salah satu sarana pokok. Dua sifat yang mewarnai musik populer adalah komersialitas dan kepraktisannya. Produk musik populer yang dimaksud di sini antara lain berupa: (1) rekaman musik populer (berbentuk kaset atau piringan hitam), (2) pementasan musik populer (live-show) yang komersial, dan (3) penyajian musik populer melalui televisi.
Di dalam penelitiannya Suntoyo Usman mengamati penyiaran musik populer melalui radio-radio yang ada di Yogyakarta antara lain RRI Yogyakarta, Radio Arma Sebelas, Radio EMC, dan Radio Reco Buntung. Dalam upaya mengumpulkan data-data penelitian, Suntoyo Usman mengamati masyarakat Kotabaru dan dan Cokrodirjan melalui prosentase berdasarkan kewarganegaraan, golongan umur dan jenis kelamin, tingkat pendidikan, mata pencaharian, sarana komunikasi serta jenis dan organisasi sosial. Untuk mengumpulkan data-data tentang intensitas kontak masyarakat dengan dengan musik populer diperoleh melalui kebiasaan mendengarkan dan menyaksikan pementasan, pemilikan kaset rekaman, ketrampilan bermain musik serta keikutsertaan dalam kelompok musik dan tari pergaulan. Adapun kegemaran terhadap musik populer ditinjau dari kegemaran terhadap melodi, kegemaran terhadap ritme (irama), kegemaran terhadap syair, kegemaran terhadap warna suara penyanyi dan instrumen musik dan alasan kegemaran.

Apresiasi Masyarakat Yogyakarta terhadap Dagelan Mataram
Tulisan kelima, “Dagelan Mataram: Apresiasi Masyarakat Yogyakarta” oleh Soepomo Poedjosoedarmo9 dan Soeprapto Budi Santoso. Tulisan ini merupakan laporan hasil penelitian tentang tingkat apresiasi masyarakat Yogyakarta terhadap dagelan Mataram. Penelitian yang dibiayai oleh Rockefeller Fondation ini dilakukan pada tahun 1980 dengan judul asli, “Tingkat Penerimaan Masyarakat terhadap Dagelan Mataram di Wilayah Kotamadya Yogyakarta (Sebuah Laporan Penelitian)”. Dalam tulisannya kedua penulis ini mengungkapkan bahwa dagelan Mataram merupakan suatu jenis kesenian Jawa yang dilahirkan di lingkungan Kraton Yogyakarta ketika GP Hangabehi, putra Sultan Hamengkubuana VIII, pada tiap-tiap hari kelahirannya memanggil para abdi dalem oceh-ocehan ke rumah kediamannya untuk membuat tertawa orang yang melihat dan mendengar ocehan mereka. Dagelan Mataram memiliki ciri-ciri tertentu antara lain: (1) mengandung ceritera tertentu, (2) memakai bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar, (3) materi cerita diangkat dari kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa, (4) diiringi gamelan dan sinden sebagai ilustrasi, (5) kadang-kadang memakai tarian, (6) pemain kadang-kadang menyanyikan tembang, dan (7) memakai kostum pakaian Jawa gaya Surakarta atau pakaian yang berasal dari kesenian Jawa lainnya (kethoprak atau wayang wong).
Di dalam tulisan ini dipaparkan beberapa kisah kehidupan pribadi para pemain, antara lain: (1) Hardjo Gepeng (Dagelan “Gudeg Yogya”), (2) Darsono (Dagelan “Gudeg Yogya”), (3) Marsidah, BSc. (Dagelan “Gudeg Yogya”), (4) Suprapto (Dagelan “Gudeg Yogya”), (5) Dul Hadi (Ngabdul), (6) Suprapti, (7) Nyi Put (Bu Basiyo), (8) Suhartini, dan (9) Bu Tik. Fokus bahasan berkisar pada dagelan Mataram dan perusahaan kaset, dagelan Mataram dalam siaran radio dan tingkat penerimaan masyarakat. data mengenai tingkat penerimaan masyarakat bersumber dari pengamatan terhadap pekerja kasar, pedagang, mahasiswa, pegawai dan ibu rumah tangga,pelajar elite dan pelajar slump.

Pertunjukan Rakyat Tradisional Jawa dan Perubahannya
Tulisan keenam, “Pertunjukan Rakyat Tradisional Jawa dan Perubahannya” oleh Umar Kayam10. Tulisan ini merupakan laporan penelitian yang didanai oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1985) dengan judul asli, “Beberapa Bentuk Seni Tradisional Jawa”. Di dalam tulisan ini Umar Kayam dkk menguraikan bahwa kesenian tradisional Jawa memiliki ragam yang cukup banyak meliputi seni rupa, seni tari, seni sastra dan seni teater (drama). Dalam kehidupannya seni tradisional mempunyai fungsi penting yang terlihat terutama pada dua segi, yaitu segi daya jangkau penyebarannya dan segi fungsi sosialnya.
Fokus bahasan tulisan ini adalah kajian secara diakronis tentang tiga kesenian tradisional yang ada di Jawa antara lain: kethoprak, ludrug dan wayang wong. Sebagai bentuk kajian diakronis, penelitian terhadap ketiga jenis kesenian yang menjadi sasaran meliputi aspek kesejarahan, sisi organisasi, ekonomi perkumpulan, struktur pertunjukan dan apresiasi penonton. Pembahasan menganai kethoprak mengambil sasaran perkumpulan kethoprak “P.S. Bayu”. Untuk pembahasan mengenai ludruk sasaran penelitian pada perkumpulan ludruk “Bintang Jaya”. Adapun pembahasan mengenai wayang wong sasaran penelitian pada perkumpulan wayang wong “Sriwedari”. Pada bagian akhir disebutkan bahwa kecenderungan yang kurang menggembirakan serta perubahan yang terjadi pada seni pertunjukan tradisional Jawa pada umumnya berhubungan dengan terjadinya perubahan-perubahan tertentu dalam masyarakat. Ada dua macam perubahan yang dikaji dalam tulisan ini yaitu perubahan teknologi komunikasi serta perubahan sistem sosial dan sistem nilai. Sebagai bagian dari kajian dibahas pula tentang tanggapan seni tradisioal terhadap modernisasi berupa respon pasif dan respon aktif. Respon pasif berupa kesediaan menerima segala tuntutan yang terjadi sehingga menyebabkan seni tradisional berada dalam posisi yang bersaing dengan seni modern produksi massal. Adapun respon aktif berupa usaha mencari peluang yang belum diisi oleh seni modern.

Kajian Tekstual, Kontekstual dan Post-Modernistis dalam Kesenian
Tulisan ketujuh, “Wacana Seni dalam Antropologi Budaya: Tekstual, Kontekstual dan Post-Modernistis” oleh Heddy Shri Ahimsa Putra. Tulisan ini merupakan perbaikan dan pengembangan dari artikel “Sebagai Teks dalam Konteks: Seni dalam Kajian Antropologi Budaya” yang dimuat dalam Jurnal Seni edisi VI/01, Mei, 1998. Di sini Ahimsa tidak memusatkan pembahasan pada bidang seninya, melainkan lebih pada paradigmanya yang difokuskan pada dua bentuk kajian, yaitu: (1) kajian yang memandang fenomena kesenian sebagai suatu teks yang relatif berdiri sendiri, dan (2) kajian yang menempatkan fenomena tersebut dalam konteks yang lebih luas, yaitu konteks sosial budaya masyarakat tempat fenomena kesenian itu muncul atau hidup. Kajian tekstualistik adalah kajian simbolis atau hermeneutik (interpretative) dan kajian struktural (ala Levi-Strauss), sedangkan kajian kontekstualistik didominasi oleh paradigma ekonomi politik, yang melihat kesenian tidak lepas dari berbagai kepentingan politik individu-individu, yang sedikit banyak bersangkut paut dengan kesenian tersebut.
Pandangan post-modernistis umumnya tidak melakukan analisis atau memahami isi suatu fenomena, tetapi mendekonstruksikannya, meruntuhkannya atau mempertanyakan kembali, membuat sebagian ahli antropologi mempertanyakannya kembali apa etnografi itu sendiri, dan ini ternyata mempunyai implikasi radikal. Pandangan post-modernistis memungkinkan semakin lebih jelas pengaruhnya terhadap kesenin dalam antropologi. Melalui pandangan ini dapat dimunculkan etnografi eksperimental yang akan menghilangkan batas-batas yang memisahkan “seni” dan “ilmiah” sehingga semakin memberikan kesadaran akan implikasi politis dari etnografi itu sendiri.

Setetes Air di Tengah Sahara
Sebagai tulisan yang dihasilkan di tengah kelangkaan kajian dan analisis tentang kesenian, buku ini seolah-olah hadir sebagai setetes air di tengah sahara. Beberapa tulisan yang berhasil dihimpun merupakan hasil analisis akademisi di bidang kebudayaan yang juga menjadi pendukung kebudayaan itu sendiri. Oleh karena itu analisis di dalamnya merupakan hasil pemikiran para pelaku budaya yang sehari harinya mengetahui setiap gerak perubahan ragam kesenian yang menjadi bahan tulisannya. Hal ini memungkinkan tulisan yang berhasil disusun sesuai dengan berbagai fakta konkret yang terjadi di lapangan.
Secara umum buku ini mengambil tema tentang bagaimana orang Jawa mengungkapkan pengalaman-pengalaman estetisnya melalui aneka ragam kesenian yang dihasilkannya. Dalam wacana pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan, seni tradisi Jawa dapat dibedakan menjadi seni tradisi kraton dan seni tradisi kerakyatan (kesenian rakyat). Seni tradisi kraton lahir, tumbuh dan berkembang di lingkungan kraton yang erat sekali kaitannya dengan kekuasaan raja-raja Jawa. Adapun kesenian rakyat lahir, tumbuh dan berkembang di lingkungan komunitas rakyat jelata yang hidup di desa-desa yang jauh dari pengaruh kraton. Buku ini bukan dimaksudkan untuk membahas keunikan dan adiluhung-nya kesenian kraton, melainkan lebih memusatkan perhatian pada ragam kesenian rakyat yang tumbuh di luar tembok kraton. Orang Jawa yang dimaksud di dalam buku ini adalah para kawula atau rakyat kebanyakan yang dalam hidupnya tidak lepas dari usaha-usaha pemenuhan kebutuhan estetis sebagai salah satu kebutuhan pokok di luar kebutuhan fisik makan dan minum.
Ada dua kelemahan yang tampak di dalam buku ini. Pertama, tulisan-tulisan yang dihimpun dalam buku Ketika Orang Jawa Nyeni merupakan hasil penelitian yang dilakukan dalam rentang waktu tahun 1979-1985 sementara buku ini diterbitkan pada tahun 2000. Lamanya rentang waktu ini memungkinkan terjadinya deviasi antara analisis di dalam tulisan dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat buku ini diterbitkan. Seperti kita ketahui bahwa antara tahun 1979-1985 adalah masa pemerintahan Orde Baru yang nota bene adalah masa terjadinya model pemerintahan sentralistis. Pada waktu itu kekuasaan pemerintah pusat sangat kuat terhadap segala bidang kehidupan, termasuk kesenian. Banyak ragam kesenian yang kehadirannya sangat dimuati oleh unsur-unsur politik kekuasaan. Hal ini berbeda dengan tahun 2000 yang sudah memasuki era reformasi yang mengakibatkan kecenderungan terjadinya perubahan sosio kultural ke arah kebebasan (demokratisasi). Pada era terakhir ini jelas telah terjadi perubahan-perubahan yang sangat mendasar dalam berbagai aspek kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia.
Di sisi lain dalam rentang waktu yang cukup jauh antara pelaksanaan penelitian dan penerbitan akan berkaitan erat dengan fluktuasi pertumbuhan dan perkembangan kesenian yang diakibatkan oleh perubahan pola pikir masyarakat pendukungnya, sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan masukan data di dalam tulisan. Sebagai contoh pada tulisan Suntoyo Usman tentang produk rekaman hanya dicontohkan berbentuk kaset atau piringan hitam. Hal ini terjadi karena pada saat dilakukannya penelitian belum beredar bentuk rekaman lain seperti CD, VCD, DVD dan lain-lain.
Kedua, khususnya pada tulisan Soeharyoso terjadi kesalahan entry data. Pada tulisannya yang berjudul “Teater Tradisional di Sleman, Yogyakarta: Jenis dan Persebarannya” Soeharyoso memasukkan karawitan dan slawatan ke dalam jenis teater tradisional. Kedua jenis kesenian ini adalah jenis musik tradisional, bukan teater tradisional seperti yang tercantum di dalam tulisan Soeharyoso. Kesalahan demikian dapat memicu pemahaman yang keliru tentang pengertian musik dan teater.
Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang ada, buku ini merupakan bentuk analisis dan kajian tentang kesenian yang cukup mendalam. Sejauh ini tidak banyak dijumpai tulisan-tulisan sejenis yang memiliki kejian mendalam dari sudut pandang kesenian itu sendiri. Tulisan-tulisan yang ada umumnya mengambil sudut pandang kajian sosiologis dan atau antropologis. Hal ini dapat dimaklumi karena kesenian sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya manusia. Selain itu pembicaraan kesenian dari sisi kajian ilmiah merupakan sesuatu yang relatif baru dalam perkembangan dunia ilmu pengetahuan, khususnya di Indonesia.
Yang membuat buku ini semakin menarik adalah penggunaan bahasa yang lugas dan runtut. Para penulis mampu merumuskan ide dan pemikirannya dalam sebuah teks yang mudah dipahami oleh pembaca. Namun demikian satu hal yang dapat dianggap sebagai kelemahan adalah hampir keseluruhan teks di dalam buku ini terasa kering. Hal ini dapat dipahami karena tulisan-tulisan yang dihimpun dalam buku ini merupakan hasil penelitian sehingga lebih banyak menggunakan ragam kata yang bersifat formal seperti layaknya laporan penelitian pada umumnya.
Di dalam buku ini terdapat beberapa kesalahan cetak yang tidak prinsip namun terasa mengganggu. Nama pengarang pada tulisan pertama Ahimsa menggunakan ‘oe’ untuk nama Soeharyoso, namun pada tulisan kedua tertulis Suharyoso. Selain itu penulisan kata-kata asing (bahasa Jawa) tidak konsisten. Pada beberapa kata dicetak miring (italic), tetapi pada kata yang lain tidak dicetak miring.
Dalam wacana perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini, buku Ketika Orang Jawa Nyeni bukan saja penting untuk mereka yang belajar kesenian, tetapi juga dapat memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi pengembangan ilmu-ilmu humaniora, khususnya antropologi dan sosiologi. Dengan demikian buku ini layak dikonsumsi oleh kalangan akademisi yang tertarik pada penelaahan seni budaya.

***
1 Sudiro Satoto, “Teater sebagai Sistem Tanda” dalam Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia, tahun V, 1994, halaman 6-25.
2 Djoharnurani, “Seni dan Intertekstualitas: Sebuah Perspektif”, makalah Pidato Ilmiah pada Disnatalis XV Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, 1999.
3 Mamannoor, “Pendekatan Kosmologi Metafisik Kritik Seni Rupa di Indonesia”, dalam Jurnal Seni edisi VI/03, 1999, halaman 232-250.
4 Sahid, “Pendekatan Sosiologi Teater dan Permasalahannya”, dalam Jurnal Seni edisi VI/03, 1999, halaman 171-184.
5 Wirjodirdjo, “Keris dalam Bingkai Pandang Semiotik”, dalam Jurnal Seni edisi VI/03, 1999, halaman 301-313.
6 Soeharyoso adalah dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
7 Soetaryo adalah staf pengajar di Jurusan Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajahmada Yogyakarta.
8 Suntoyo Usman adalah staf pengajar di Jurusan Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajahmada Yogyakarta.
9 Soepomo Poedjosoedarmo adalah Guru Besar dalam bidang linguistik Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan peneliti senior di Pusat Penelitian Kebudayaan dan Perubahan Sosial UGM.
10 Umar Kayam adalah guru besar emeritus pada Fakultas Sastra UGM. Penulis lain yang bersama-sama terlibat dalam penulisan laporan penelitian ini adalah Ryadi Gunawan, Faruk dan Ahmad Adaby Durban.

No comments: