Thursday, February 7, 2008

SEKILAS TENTANG BEGALAN

Di dalam kebudayaan Jawa dikenal simbol-simbol atau lambang-lambang yang digunakan sebagai sarana atau media untuk menitipkan pesan-pesan atau nasehat-nasehat bagi bangsanya. Simbol pada dasarnya adalah sesuatu hal atau keadaan yang merupakan pengantara pemahaman terhadap obyek (Herusatoto,1994:11). Simbol merupakan salah satu bagian terpenting dari kebudayaan Jawa. Orang Jawa tradisional biasanya menyampaikan ajaran tidak secara langsung, melainkan lewat sanepa-sanepa tertentu sehingga si penerima ajaran atau nasehat tidak secara langsung menerimanya secara tekstual (Supajar,1991:4). Penggunaan simbol tersebut dilaksanakan dengan penuh kesadaran, pemahaman dan penghayatan yang tinggi dan dianut secara tradisional dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam praktek kehidupan sehari, simbol sebagai konsep ajaran, petuah, wewarah atau nasehat dapat dijumpai dalam berbagai bidang seperti bahasa, sastra, kesenian, benda-benda dan tindakan-tindakan tertentu yang diberi makna simbolis. Konsep ajaran melalui simbol tidak disampaikan secara tekstual (Jawa: mloho). Oleh karena itu penerima ajaran atau nasehat harus mencari makna dari apa yang diterima dengan persyaratan harus melandasinya dengan bekal positif thinking (cara berpikir positif). Dengan cara demikian di dalam simbol dapat ditemukan makna sesungguhnya dari apa yang dimaksudkan oleh orang yang memberikan ajaran.
Daerah Banyumas yang merupakan salah satu wilayah sebaran budaya Jawa tidak lepas dari kebiasaan penggunaan simbol-simbol pada masyarakatnya dalam rangka menyampaikan sesuatu maksud dari satu orang kepada orang lain. Salah satu ajaran simbolis yang masih terus berlangsung hingga saat sekarang adalah penyampaian ajaran simbolis melalui kesenian begalan. Begalan adalah bentuk kesenian yang khusus digunakan sebagai bagian dari upacara perkawinan tradisional masyarakat Banyumas. Kesenian begalan biasanya dipentaskan pada upacara perkawinan apabila salah satu pengantin adalah anak pertama (Jawa: mbarep) atau anak terakhir (Jawa: ragil).
Secara visual kesenian begalan tersaji dalam bentuk drama tari yang dilakukan oleh dua orang pria yang masing-masing satu orang berperan sebagai pembawa brenong kepang atau abrag-abrag (properti) dan yang lain berperan sebagai begal (perampok). Brenong kepang terdiri atas peralatan rumah tangga (ian, ilir, centhong, kekeb, dan sejenisnya), pala kependhem (umbi-umbian atau bahan makanan yang berasal dari tanaman biji-bijian di dalam tanah) dan pala gumantung (buah-buahan atau bahan makanan yang berasal dari tanaman biji-bijian di atas tanah/tergantung), padi, beras kuning, koin dan lain-lain. Iringan begalan adalah gendhing-gendhing Banyumasan yang disajikan menggunakan perangkat musik gamelan.
Di balik hal-hal yang bersifat visual, begalan adalah ajaran yang disampaikan kepada kedua mempelai berupa hak dan kewajiban sebagai suami atau istri, hal-hal yang harus dilakukan dalam proses bersosialisasi di masyarakat sebagai orang dewasa yang sudah berkeluarga serta kewajiban yang harus dilakukan kepada Tuhan Penguasa Alam. Dengan demikian begalan hadir sebagai bentuk ajaran, petuah atau nasehat bagi kedua mempelai dalam kedudukannya sebagai pribadi, bagian dari anggota masyarakat dan sebagai makhluk Tuhan. Ajaran-ajaran yang disampaikan secara simbolis tersebut terdapat di dalam setiap bagian dari properti yang dibawa oleh salah satu pemain begalan.
Keberadaan begalan dalam upacara perkawinan bukan sekedar pelengkap upacara, melainkan justru hadir secara substantif sebagai semacam prasyarat bagi terlaksananya upacara tersebut. Sebagai prasyarat berarti tanpa kehadiran begalan maka upacara perkawinan itu belum absah. Bagi seseorang yang pada saat pelaksanaan pernikahan mengharuskan disertai begalan tapi tidak dipenuhi, apabila pada suatu saat terjadi peristiwa-peristiwa buruk yang melanda biasanya akan dikaitkan dengan tidak dilaksanakannya begalan. Kepercayaan semacam ini masih terus berlangsung hingga sekarang sehingga kesenian begalan meskipun hadir dalam nuansa tradisional masih mampu bertahan di tengah maraknya arus modernisasi dan globalisasi.

Di dalam kebudayaan Jawa dikenal simbol-simbol atau lambang-lambang yang digunakan sebagai sarana atau media untuk menitipkan pesan-pesan atau nasehat-nasehat bagi bangsanya. Simbol pada dasarnya adalah sesuatu hal atau keadaan yang merupakan pengantara pemahaman terhadap obyek (Herusatoto,1994:11). Simbol merupakan salah satu bagian terpenting dari kebudayaan Jawa. Orang Jawa tradisional biasanya menyampaikan ajaran tidak secara langsung, melainkan lewat sanepa-sanepa tertentu sehingga si penerima ajaran atau nasehat tidak secara langsung menerimanya secara tekstual (Supajar,1991:4). Penggunaan simbol tersebut dilaksanakan dengan penuh kesadaran, pemahaman dan penghayatan yang tinggi dan dianut secara tradisional dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam praktek kehidupan sehari, simbol sebagai konsep ajaran, petuah, wewarah atau nasehat dapat dijumpai dalam berbagai bidang seperti bahasa, sastra, kesenian, benda-benda dan tindakan-tindakan tertentu yang diberi makna simbolis. Konsep ajaran melalui simbol tidak disampaikan secara tekstual (Jawa: mloho). Oleh karena itu penerima ajaran atau nasehat harus mencari makna dari apa yang diterima dengan persyaratan harus melandasinya dengan bekal positif thinking (cara berpikir positif). Dengan cara demikian di dalam simbol dapat ditemukan makna sesungguhnya dari apa yang dimaksudkan oleh orang yang memberikan ajaran.
Daerah Banyumas yang merupakan salah satu wilayah sebaran budaya Jawa tidak lepas dari kebiasaan penggunaan simbol-simbol pada masyarakatnya dalam rangka menyampaikan sesuatu maksud dari satu orang kepada orang lain. Salah satu ajaran simbolis yang masih terus berlangsung hingga saat sekarang adalah penyampaian ajaran simbolis melalui kesenian begalan. Begalan adalah bentuk kesenian yang khusus digunakan sebagai bagian dari upacara perkawinan tradisional masyarakat Banyumas. Kesenian begalan biasanya dipentaskan pada upacara perkawinan apabila salah satu pengantin adalah anak pertama (Jawa: mbarep) atau anak terakhir (Jawa: ragil).
Secara visual kesenian begalan tersaji dalam bentuk drama tari yang dilakukan oleh dua orang pria yang masing-masing satu orang berperan sebagai pembawa brenong kepang atau abrag-abrag (properti) dan yang lain berperan sebagai begal (perampok). Brenong kepang terdiri atas peralatan rumah tangga (ian, ilir, centhong, kekeb, dan sejenisnya), pala kependhem (umbi-umbian atau bahan makanan yang berasal dari tanaman biji-bijian di dalam tanah) dan pala gumantung (buah-buahan atau bahan makanan yang berasal dari tanaman biji-bijian di atas tanah/tergantung), padi, beras kuning, koin dan lain-lain. Iringan begalan adalah gendhing-gendhing Banyumasan yang disajikan menggunakan perangkat musik gamelan.
Di balik hal-hal yang bersifat visual, begalan adalah ajaran yang disampaikan kepada kedua mempelai berupa hak dan kewajiban sebagai suami atau istri, hal-hal yang harus dilakukan dalam proses bersosialisasi di masyarakat sebagai orang dewasa yang sudah berkeluarga serta kewajiban yang harus dilakukan kepada Tuhan Penguasa Alam. Dengan demikian begalan hadir sebagai bentuk ajaran, petuah atau nasehat bagi kedua mempelai dalam kedudukannya sebagai pribadi, bagian dari anggota masyarakat dan sebagai makhluk Tuhan. Ajaran-ajaran yang disampaikan secara simbolis tersebut terdapat di dalam setiap bagian dari properti yang dibawa oleh salah satu pemain begalan.
Keberadaan begalan dalam upacara perkawinan bukan sekedar pelengkap upacara, melainkan justru hadir secara substantif sebagai semacam prasyarat bagi terlaksananya upacara tersebut. Sebagai prasyarat berarti tanpa kehadiran begalan maka upacara perkawinan itu belum absah. Bagi seseorang yang pada saat pelaksanaan pernikahan mengharuskan disertai begalan tapi tidak dipenuhi, apabila pada suatu saat terjadi peristiwa-peristiwa buruk yang melanda biasanya akan dikaitkan dengan tidak dilaksanakannya begalan. Kepercayaan semacam ini masih terus berlangsung hingga sekarang sehingga kesenian begalan meskipun hadir dalam nuansa tradisional masih mampu bertahan di tengah maraknya arus modernisasi dan globalisasi.

No comments: