Thursday, February 7, 2008

PROSES KESENIMANAN DARIAH

Proses kesenimanan Dariah dimulai sejak kepulangannya dari Panembahan Ronggeng (antara tahun 1944 – 1945). Dariah mulai berlatih bersama dengan beberapa orang di desanya yang memiliki ketrampilan bermain gamelan dan berprofesi sebagai niyaga. Beberapa personel yang berproses bersama antara lain: 1) Kriya Leksana pemegang instrumen kendhang, 2) Tirtadirana (ringgeng), 3) Setradiwirya (saron), 4) Wangsareja (saron penerus), 5) Wangsa Tawin (kenong), 6) Ta Risun (gong), dan 7) Prena (badhud). Bersama keenam personel itulah Dariah memulai menapaki profesi sebagai seorang lengger (Dariah,13-5-2001).
Dalam rangka mempersiapkan Sadam (Dariah) menjadi seorang lengger yang terkenal, kakek Wiryareja menawarkan kepadanya sesuatu yang sangat membutuhkan pengorbanan. Kakeknya menawarkan kepada Sadam bahwa apabila menginginkan menjadi seorang lengger yang terkenal dan digandrungi banyak orang, maka harus bersedia dihilangkan kejantanannya. Sadam setuju dengan syarat kelak apabila ingin meninggalkan dunia seni lengger, kakek Wiryareja bersedia mengembalikan kejantanannya. Kakek Wiryareja setuju dan melalui langkah-langkah yang mistis terjadilah perubahan secara perlahan dalam diri Sadam. Lambat laun terjadi perubahan secara fisik pada diri Dariah menjadi “wanita”, termasuk warna suaranya. Dengan perubahan ini digantilah nama Sadam (laki-laki) menjadi Dariah (perempuan).
Proses latihan tidak terlalu berjalan lama karena ragam gerak Dariah cepat dapat disesuaikan dengan iringan. Langkah pertama yang dijalani oleh Dariah untuk mengawali karier adalah dengan cara melakukan mbarang (mengamen) dari rumah ke rumah. Langkah seperti ini memang lazim dilakukan oleh grup-grup lengger pemula untuk mencapai popularitas yang diinginkan. Melalui cara seperti ini ada beberapa keuntungan sekaligus. Pertama, lengger tersebut dapat menghafalkan ragam gerak tari maupun vokal sindhenan. Melalui mbarang maka seorang lengger semakin banyak frekuensi untuk praktek menari maupun olah vokal. Kedua, mbarang pada dasarnya merupakan teknik publikasi tradisional agar lengger yang relatif masih pemula cepat dikenal oleh masyarakat. Paling tidak pada saat lengger sedang mbarang masyarakat akan menyaksikan dari sisi fisik, kualitas gerak tarian maupun kualitas olah suaranya. Apabila lengger yang sedang mbarang memiliki kualitas yang memadai maka akan cepat dikenal orang sehingga menjadi tenar dan profesional. Ketiga, melalui mbarang sebuah grup lengger pemula mendapatkan pemasukan berupa uang yang diperoleh dari hasil tanggapan dari rumah ke rumah. Dengan perolehan pemasukan uang memungkinkan seorang lengger merasa bahwa dengan menekuni bidang profesi sebagai penari mendapatkan keuntungan materi yang dapat digunakan untuk biaya hidup. Bagi grup-grup lengger pemula, langkah mbarang merupakan semacam syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum benar-benar terjun ke profesional.
Dampak dari mbarang yang dilakukan oleh Dariah bersama rombongan ternyata sangat luar biasa. Dariah dengan cepat terkenal di daerah sendiri maupun di daerah lain seperti di Banjarnegara maupun di Purbalingga. Tanggapan demi tanggapan saling susul-menyusul dan akhirnya Dariah menjadi lengger terkenal.
Semenjak sebelum kemerdekaan Indonesia Dariah sudah berhasil menjadi lengger terkenal di daerahnya. Pada setiap pementasan, Dariah senantiasa diiringi oleh keenam orang pengrawit yang terbentuk menjadi semacam grup sejak proses latihan awal. Ketenaran Dariah di masyarakat berlangsung hingga meletusnya pemberontakan G30S/PKI atau sekitar tahun 1965. Pasca pemberontakan PKI, lengger (juga kesenian rakyat lain) tidak diijinkan pentas karena Pemerintah Orde Baru memperkirakan banyak diantara seniman yang memeluk paham komunis atau terlibat PKI (Dariah,13-5-2001).
Dalam menjalani profesinya sebagai lengger, Dariah sangat sering melakukan pementasan. Pementasan dilakukan dalam tiga macam, yaitu pementasan tanggapan, pementasan barangan, dan pementasan marungan. Pementasan tanggapan dilakukan apabila ada anggota masyarakat yang memiliki khajat tertentu dan membutuhkan hiburan lengger untuk memeriahkan khajatnya. Pada bulan-bulan sepi tanggapan (misalnya bulan Sura) dan pada saat panen raya, Dariah melakukan barangan ke tempat-tempat yang penduduknya memiliki tingkat ekonomi mapan. Pada saat barangan itulah sering dilakukan pementasan marungan ketika mendapati sekelompok priyayi yang sedang bersukaria dengan cara minum-minum dan bermain kartu.
Keberadaan Dariah sangat melekat di hati masyarakat, terutama kaum lelaki. Menurut Dariah pada masa ketenarannya banyak lelaki datang ke kediamannya di Somakaton untuk sekedar bertemu atau memberikan hadiah-hadiah tertentu sebagai ungkapan kekagumannya. Ada pula lelaki yang secara terus terang menyatakan cintanya dan bermaksud meminangnya untuk dijadikan sebagai istri. Namun demikian menyadari dirinya bukanlah perempuan, Dariah senantiasa menolak setiap lamaran lelaki. Dariah hanya menerima hadiah-hadiah dengan tanpa prasyarat tertentu yang memberatkan dan dapat membuka rahasia pribadinya (Dariah,13-5-2001).
Untuk menjaga popularitas yang melekat dalam dirinya, Dariah harus pandai-pandai merawat tubuhnya. Secara fisik, Dariah senantiasa membaluri tubuhnya dengan jamu-jamuan tradisional sehingga kulitnya sehat dan tampak awet muda. Adapun secara non fisik, Dariah banyak menjalankan laku batin seperti tirakat atau sering disebut madhang longan turu longan (mengurangi makan dan tidur), berjalan pada malam hari, mandi sumur tujuh, berendam di sungai, dan lain-lain. Dengan cara demikian aura dalam dirinya memancarkan keindahan fisik yang memicu kekaguman bagi siapapun yang melihat.

Proses kesenimanan Dariah dimulai sejak kepulangannya dari Panembahan Ronggeng (antara tahun 1944 – 1945). Dariah mulai berlatih bersama dengan beberapa orang di desanya yang memiliki ketrampilan bermain gamelan dan berprofesi sebagai niyaga. Beberapa personel yang berproses bersama antara lain: 1) Kriya Leksana pemegang instrumen kendhang, 2) Tirtadirana (ringgeng), 3) Setradiwirya (saron), 4) Wangsareja (saron penerus), 5) Wangsa Tawin (kenong), 6) Ta Risun (gong), dan 7) Prena (badhud). Bersama keenam personel itulah Dariah memulai menapaki profesi sebagai seorang lengger (Dariah,13-5-2001).
Dalam rangka mempersiapkan Sadam (Dariah) menjadi seorang lengger yang terkenal, kakek Wiryareja menawarkan kepadanya sesuatu yang sangat membutuhkan pengorbanan. Kakeknya menawarkan kepada Sadam bahwa apabila menginginkan menjadi seorang lengger yang terkenal dan digandrungi banyak orang, maka harus bersedia dihilangkan kejantanannya. Sadam setuju dengan syarat kelak apabila ingin meninggalkan dunia seni lengger, kakek Wiryareja bersedia mengembalikan kejantanannya. Kakek Wiryareja setuju dan melalui langkah-langkah yang mistis terjadilah perubahan secara perlahan dalam diri Sadam. Lambat laun terjadi perubahan secara fisik pada diri Dariah menjadi “wanita”, termasuk warna suaranya. Dengan perubahan ini digantilah nama Sadam (laki-laki) menjadi Dariah (perempuan).
Proses latihan tidak terlalu berjalan lama karena ragam gerak Dariah cepat dapat disesuaikan dengan iringan. Langkah pertama yang dijalani oleh Dariah untuk mengawali karier adalah dengan cara melakukan mbarang (mengamen) dari rumah ke rumah. Langkah seperti ini memang lazim dilakukan oleh grup-grup lengger pemula untuk mencapai popularitas yang diinginkan. Melalui cara seperti ini ada beberapa keuntungan sekaligus. Pertama, lengger tersebut dapat menghafalkan ragam gerak tari maupun vokal sindhenan. Melalui mbarang maka seorang lengger semakin banyak frekuensi untuk praktek menari maupun olah vokal. Kedua, mbarang pada dasarnya merupakan teknik publikasi tradisional agar lengger yang relatif masih pemula cepat dikenal oleh masyarakat. Paling tidak pada saat lengger sedang mbarang masyarakat akan menyaksikan dari sisi fisik, kualitas gerak tarian maupun kualitas olah suaranya. Apabila lengger yang sedang mbarang memiliki kualitas yang memadai maka akan cepat dikenal orang sehingga menjadi tenar dan profesional. Ketiga, melalui mbarang sebuah grup lengger pemula mendapatkan pemasukan berupa uang yang diperoleh dari hasil tanggapan dari rumah ke rumah. Dengan perolehan pemasukan uang memungkinkan seorang lengger merasa bahwa dengan menekuni bidang profesi sebagai penari mendapatkan keuntungan materi yang dapat digunakan untuk biaya hidup. Bagi grup-grup lengger pemula, langkah mbarang merupakan semacam syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum benar-benar terjun ke profesional.
Dampak dari mbarang yang dilakukan oleh Dariah bersama rombongan ternyata sangat luar biasa. Dariah dengan cepat terkenal di daerah sendiri maupun di daerah lain seperti di Banjarnegara maupun di Purbalingga. Tanggapan demi tanggapan saling susul-menyusul dan akhirnya Dariah menjadi lengger terkenal.
Semenjak sebelum kemerdekaan Indonesia Dariah sudah berhasil menjadi lengger terkenal di daerahnya. Pada setiap pementasan, Dariah senantiasa diiringi oleh keenam orang pengrawit yang terbentuk menjadi semacam grup sejak proses latihan awal. Ketenaran Dariah di masyarakat berlangsung hingga meletusnya pemberontakan G30S/PKI atau sekitar tahun 1965. Pasca pemberontakan PKI, lengger (juga kesenian rakyat lain) tidak diijinkan pentas karena Pemerintah Orde Baru memperkirakan banyak diantara seniman yang memeluk paham komunis atau terlibat PKI (Dariah,13-5-2001).
Dalam menjalani profesinya sebagai lengger, Dariah sangat sering melakukan pementasan. Pementasan dilakukan dalam tiga macam, yaitu pementasan tanggapan, pementasan barangan, dan pementasan marungan. Pementasan tanggapan dilakukan apabila ada anggota masyarakat yang memiliki khajat tertentu dan membutuhkan hiburan lengger untuk memeriahkan khajatnya. Pada bulan-bulan sepi tanggapan (misalnya bulan Sura) dan pada saat panen raya, Dariah melakukan barangan ke tempat-tempat yang penduduknya memiliki tingkat ekonomi mapan. Pada saat barangan itulah sering dilakukan pementasan marungan ketika mendapati sekelompok priyayi yang sedang bersukaria dengan cara minum-minum dan bermain kartu.
Keberadaan Dariah sangat melekat di hati masyarakat, terutama kaum lelaki. Menurut Dariah pada masa ketenarannya banyak lelaki datang ke kediamannya di Somakaton untuk sekedar bertemu atau memberikan hadiah-hadiah tertentu sebagai ungkapan kekagumannya. Ada pula lelaki yang secara terus terang menyatakan cintanya dan bermaksud meminangnya untuk dijadikan sebagai istri. Namun demikian menyadari dirinya bukanlah perempuan, Dariah senantiasa menolak setiap lamaran lelaki. Dariah hanya menerima hadiah-hadiah dengan tanpa prasyarat tertentu yang memberatkan dan dapat membuka rahasia pribadinya (Dariah,13-5-2001).
Untuk menjaga popularitas yang melekat dalam dirinya, Dariah harus pandai-pandai merawat tubuhnya. Secara fisik, Dariah senantiasa membaluri tubuhnya dengan jamu-jamuan tradisional sehingga kulitnya sehat dan tampak awet muda. Adapun secara non fisik, Dariah banyak menjalankan laku batin seperti tirakat atau sering disebut madhang longan turu longan (mengurangi makan dan tidur), berjalan pada malam hari, mandi sumur tujuh, berendam di sungai, dan lain-lain. Dengan cara demikian aura dalam dirinya memancarkan keindahan fisik yang memicu kekaguman bagi siapapun yang melihat.

No comments: