Thursday, February 7, 2008

LENGGER: ANTARA MITOS KESUBURAN DAN MEDIA HIBURAN

Dalam kehidupan manusia kesenian memiliki posisi yang sangat penting. Tidak ada satu kelompok masyarakat pun yang tidak membutuhkan kehadiran kesenian. Kesenian dapat dikatakan merupakan salah satu kebutuhan pokok selain makan dan minum. Setiap manusia dalam aktivitas hidupnya tidak akan pernah lepas dari tindakan-tindakan estetis yang fungsional berkaitan dengan tujuan sesungguhnya yang ingin dicapai. Penjual makanan di pasar sering terlihat menghitung barang dagangannya dengan lagu dan irama tertentu. Katanya agar tidak lupa jumlah yang akan diberikan kepada pembeli. Tindakan demikian merupakan tindakan bernuansa estetis namun fungsional dengan pekerjaan yang sedang dilakukan.
Dalam kehidupan masyarakat primitif, kesenian dianggap suatu karya puncak yang terjadi karena manunggalnya cipta, rasa, dan karsa manusia. Sebagai karya puncak, kesenian menjadi suatu hal yang sangat pantas untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Kesenian diyakini sebagai sesuatu yang agung dan penciptaannya sebagai puncak-puncak perenungan batin yang paling dalam. Di sinilah letak kelebihan karya seni sehingga bagi masyarakat yang masih berpola kehidupan tradisional dipercayai sebagai sesuatu hal yang sangat layak untuk sarana persembahan. Persembahan berupa karya seni itu dipercaya akan menjadikan doa-doa yang ditujukan kepada Sang Pencipta akan didengar dan dengan demikian pula kelestarian hidup umat manusia akan tetap terjamin.
Tindakan persembahan seperti itu tidaklah murni hubungan ritual manusia dengan Tuhan. Di dalamnya ada unsur-unsur tertentu yang bersifat menghibur diri sehingga hidup mereka lebih bermakna. Bentuk tindakan demikian dapat dilihat pada kesenian lengger di daerah Banyumas. Kesenian ini dalam perkembangannya tidak saja sebagai sarana hiburan, melainkan juga sering digunakan sebagai sarana upacara yang berkaitan dengan kesuburan.
Lengger merupakan salah satu bentuk kesenian khas yang tumbuh dan berkembang di daerah Banyumas. Kesenian ini tersaji dalam bentuk tari rakyat yang kemunculannya sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya masyarakat setempat yang dijiwai oleh semangat kerakyatan. Berdasarkan gotek, istilah “lengger” merupakan jarwo dhosok yang berarti diarani leng jebulane jengger (dikira perempuan ternyata laki-laki) (Koderi,1991:60). Pengertian demikian berkaitan dengan apa yang terjadi pada masa lalu, penari lengger adalah seorang laki-laki yang berdandan seperti wanita.
Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah lengger berarti ana celeng padha geger. Pengertian ini tidak lain berkaitan dengan pola kehidupan tradisional agraris masyarakat yang bermukim di daerah Banyumas. Kultur petani di daerah ini telah melahirkan tradisi lengger yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat setempat. Kalimat ana celeng padha geger diilhami oleh hama babi hutan yang merusak tanaman pertanian (padi, jagung, jewawut, ketela pohon, dan lain-lain). Apabila sekelompok babi hutan datang merusak tanaman pertanian maka masyarakat geger dengan membunyikan berbagai bunyi-bunyian untuk mengusir hama tanaman tersebut. Kebiasaan ini kemudian diungkapkan kembali melalui tabuh-tabuhan alat musik yang diberi tari-tarian yang akhirnya disebut dengan istilah “lengger”.
Ada dua fungsi yang menonjol melalui kehadiran kesenian lengger di daerah Banyumas yaitu sebagai sarana upacara kesuburan dan media hiburan. Keduanya sama-sama penting dan hadir menjadi satu-kesatuan bentuk pementasan. Artinya, ketika lengger hadir dalam menjalankan fungsinya sebagai sarana upacara kesuburan, di dalamnya juga hadir fungsi hiburan. Demikian pula pada saat kesenian ini disajikan sebagai sarana hiburan, di dalamnya juga terkandung fungsi kesuburan. Kedua fungsi tersebut sama-sama penting dan tidak dapat dipisah-pisahkan dalam pelaksanaannya.
Secara spesifik, fungsi sebagai sarana upacara kesuburan dalam kesenian lengger dapat dilihat pada pelaksanaan upacara baritan yaitu upacar minta hujan dan keselamatan ternak. Adapun sebaga sarana hiburan dapat disaksikan melalui pementasan-pementasan untuk keperluan tanggapan pada acara khajatan penduduk di daerah Banyumas dan sekitarnya. Namun demikian dalam pelaksanaannya baik sebagai sarana upacara kesuburan maupun sebagai sarana hiburan, bentuk penyajiannya nyaris tidak ada perbedaan yang berarti. Selain itu ketika lengger hadir dalam upacara kesuburan, pada kenyataannya aspek hiburannya terasa sangat kental. Penonton ikut berjoged bersama lengger dalam bentuk banceran (menari bersama lengger dengan cara memberikan sejumlah uang). Demikian pula dalam pertunjukan lengger untuk keperluan hiburan seringkali dapat dilihat seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil ke dekat lengger untuk dicium keningnya dengan tujuan agar anaknya tidak terkena sawan (godaan makhluk jahat) dan agar anaknya kelak dapat tumbuh dewasa dengan paras secantik lengger yang sedang pentas.

B. Mitos Kesuburan
Setiap bentuk kesenian biasanya tidak mutlak hadir sebagai sajian estetis, melainkan ada tendensi lain yang berhubungan dengan kepentingan-kepentingan masyarakat pendukungnya. Kesenian tidak lagi memiliki otoritas sebagai sarana hayatan, melainkan lebih fungsional sebagai sarana-sarana tertentu. Di dalam kehidupan masyarakat tradisional, kesenian memiliki tempat khusus bagi pendukungnya. Kesenian memiliki fungsi tertentu yang berhubungan dengan kelestarian hidup masyarakat pada jaman itu. Edi Sedyawati (1976:179) mengungkapkan bahwa salah satu fungsi kesenian adalah sebagai pelengkap sehubungan dengan saat-saat tertentu dalam perputaran waktu.
Sebagaimana diungkapkan Edi Sedyawati di atas, di daerah Banyumas lengger sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan upacara kesuburan. Bagi masyarakat Banyumas yang hidup dalam pola tradisional agraris, upacara kesuburan merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan sosial. Di daerah ini terdapat bentuk-bentuk upacara kesuburan, seperti yang dapat dilihat pada cowongan dan baritan. Lengger dengan sosok penari wanita atau pria yang berdandan layaknya seorang wanita adalah simbol kesuburan. Wanita diibaratkan bumi yang menjadi sumber kehidupan. Wanita pun demikian, tempat awal bagi kehidupan setiap manusia. Kesamaan sifat inilah yang menjadi dasar bagi masyarakat di daerah Banyumas menggunakan wanita sebagai simbol kesuburan. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Ahmad Tohari dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, upacara kesuburan melalui kehadiran lengger atau ronggeng dipaparkan secara lugas melalui upacara bukak klambu.
Memang tidak ada petunjuk langsung yang mengatakan bahwa keberadaan lengger adalah untuk upacara kesuburan. Namun demikian upacara bukak klambu adalah benar adanya dengan melibatkan langsung seorang wanita yang akan dinobatkan menjadi lengger terlebih dahulu harus berhubungan seksual. Proses hubungan seksual seperti yang dialami oleh Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk pada saat bukak klambu tidak sekedar pelampiasan hasrat biologis melainkan lebih sebagai aktualisasi dari pernyataan kesuburan berkaitan dengan kelestarian kehidupan manusia.
Bukak klambu memang bukanlah satu-satunya jalan bagi seseorang yang ingin terjun ke profesi sebagai lengger. Proses bukak klambu hanya terjadi pada satu tempat dalam kaitannya dengan penembahan atau luhur di daerah itu yang mengharuskan melakukan prosesi ini sebelum terjun menjadi lengger. Di tempat lain ungkapan tentang kesuburan dilakukan dengan cara-cara yang lain. Salah satunya adalah baritan yaitu pertunjukan lengger pada musim kemarau dengan tujuan untuk minta hujan dan keselamatan ternak yang biasanya dilaksanakan pada bulan Sura. Pertunjukannya sekilas seperti pertunjukan biasa, namun yang paling penting adalah maksud, tujuan, dan makna yang terkandung dalam pertunjukan itu.

C. Antara Tontonan dan Tuntunan
Siapapun sependapat kalau lengger adalah sarana hiburan. Menyaksikan lenggak-lenggok penarinya yang masih muda dengan paras yang cantik menarik sungguh merupakan cara refresing, terutama bagi masyarakat pedesaan di daerah Banyumas yang cenderung miskin sarana hiburan. Hingga saat ini meskipun sarana hiburan sudah semakin banyak dan merambah ke desa-desa, setiap pertunjukan lengger selalu dipenuhi penonton. Kedatangan lengger di atas pentas selalu disambut teriakan histeris dan siulan penton yang kesengsem melihat penampilan penari-penari pujaannya.
Sebagai sarana hiburan memang lengger cukup memenuhi syarat. Penari lengger adalah seorang wanita muda (remaja) dengan paras yang menarik (cantik). Kecantikan adalah prasyarat utama bagi seseorang yang ingin menerjuni profesi sebagai seorang lengger. Namun demikian, ia juga memiliki syarat lain, yaitu memiliki kualitas tarian dan suara (vokal) yang bagus. Lengger selain sebagai penari juga sekaligus sebagai vokalis di atas pentas. Tanpa diimbangi kualitas tarian dan vokal yang memadai niscaya kehadirannya di atas panggung akan menjadi kurang semarak dan tidak mengundang daya tarik penonton. Apabila seorang lengger memiliki tiga prasyarat tersebut, niscaya ia akan menjadi penari yang terkenal dan digandrungi oleh penonton.
Almarhumah Nyi Kunes yang merupakan penari lengger terkenal di daerah Banyumas pernah mengatakan bahwa yang membuat dirinya digemari banyak orang memang karena memiliki tiga kriteria di atas. Dengan parasnya yang cukup cantik bahkan menjadikannya pernah melangsungkan perkawinan dengan banyak perjaka. Selain itu dengan modal tarian dan vokal yang cukup mumpuni, menjadikan ia ditanggap oleh berbagai kalangan mulai dari masyarakat jelata sampai dengan pejabat-pejabat di daerahnya (Yusmanto,1999:4).
Dalam tradisi pertunjukan lengger di Banyumas memang kesenian ini dapat benar-benar dijadikan sebagai sarana penghibur diri. Pada saat pertunjukan lengger penonton dapat ikut berperan serta menari bersama lengger. Dengan demikian benar apa yang diungkapkan oleh Soedarsono (1978:1) bahwa tarian rakyat adalah tarian yang lebih mementingkan partisipasi bersama daripada penataan artistik yang ditujukan kepada penontonnya. Dalam petunjukan lengger di masa lalu, kesenian ini benar-benar membuka peluang bagi penonton untuk menari bersama dengan penari lengger dalam bentuk banceran, marungan, dan ombyok (Yusmanto,1999:7-8).
Banceran adalah saat dimana penonton menari dengan lengger dengan cara menyelipkan sejumlah uang di kemben yang dipakai oleh penari. Pada saat itu penonton dapat memesan lagu atau gending kesukaannya dan menari dengan lengger dalam satu babak (satu kali sajian gending). Setelah itu ia dapat memsan gending lain dan kembali menari dengan lengger dengan cara menyelipkan lagi sejumlah uang di balik kemben.
Marungan adalah model pesta para priyayi desa pada masa lalu. Pada acara marungan berkumpul beberapa priyayi yang bersukaria dengan menenggak minuman dan bermain kartu. Pada saat itu diundang satu rombongan lengger dan dipentaskan untuk meramaikan acara minum-minum dan permainan kartu. Pertunjukan lengger dalam acara tersebut sama sekali tidak digunakan untuk keperluan khajatan. Lengger benar-benar hadir sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hiburan si penanggap yang sedang bersukaria. Sebagai kelengkapan hiburan, maka pertunjukan hiburan di sini lebih bebas dan setiap orang yang tergabung dalam acara itu dapat menari bersama dengan lengger dengan cara menyelipkan uang ke balik kemben.
Ombyok adalah salah satu bentuk tradisi orang Banyumas ketika sedang punya khajat maka yang sedang dikhajati (biasanya pengantin pria atau anak yang akan dikhitankan) didaulat untuk menari dengan lengger. Bagi mereka ini sangat menggairahkan karena semua orang yang hadir dalam pertunjukan itu akan dapat menyaksikan betapa si empunya khajat tengah dalam kegembiraan dan kebahagiaan.
Dalam pertunjukan lengger sebenarnya tidak hanya hiburan yang dapat diperoleh penonton. Di dalamnya terdapat ajaran-ajaran filsafati yang berguna bagi kehidupan individu maupun sosial. Pada awal pertunjukan biasanya disajikan tiga macam gending, yaitu Ricik-ricik, Sekar Gadhung, dan Eling-eling. Penyajian ketiga gending ini memiliki makna filsafati yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia di dunia. Ricik-ricik adalah sebutan untuk hujan gerimis. Ini mengandung maksud awal kehidupan manusia yang diibaratkan masih kecil seperti halnya hujan gerimis yang belum mampu membasahi bumi. Saat itu manusia belum dapat berbuat banyak untuk membangun dunia.
Dalam perkembangannya manusia yang lahir bayi akan semakin tumbuh berkembang dewasa. Saat itu manusia diibaratkan sebagai sekar gadhung (bunga umbi Gadung). Umbi Gadung adalah sejenis umbi yang mengandung racun yang berbahaya bagi kesehatan manusia, namun apabila dapat mengolahnya umbi itu dapat menjadi bahan makanan yang enak. Manusia tidak berbeda dengan Gadung. Ia dapat menjadi racun sesamanya, tetapi ia dapat pula menjadi pembangun dunia. Semua itu sangat bergantung pada panggulawenthah (proses pengajaran)-nya. Oleh karena itu di Banyumas ada ungkapan aja nganti salah barute (jangan sampai salah dalam membedong). Ungkapan ini memiliki makna agar dalam mengajar anak jangan sampai terjadi kesalahan, karena bila terjadi salah didik kelak ia akan menjadi orang yang berperilaku buruk, jahat, dan akan menjadi racun bagi sesamanya. Manusia adalah bunga Gadung. Bunga dalam arti sebagai paesan atau pepethan (sesuatu yang dilihat indah). Namun demikian hendaknya sesuatu yang terlihat baik dan indah itu jangan sampai menyimpan racun yang membahayakan.
Geding ketiga adalah Eling-eling yang bermakna bahwa manusia dalam menjalani hidup di dunia harus senantiasa ingat kepada yang menghidupi, ingat sangkan paran (asal dan tujuan). Ini adalah filsafat terpenting bagi manusia Jawa, termasuk pula orang Banyumas. Keberadaan manusia di dunia tidaklah ada dengan sendirinya. Ia ada karena diadakan. Ia hidup karena dihidupi. Pada akhirnya ia akan diambil kembali oleh Dzat Yang Mahakuasa yang telah mengadakan dan menghidupinya, yaitu Tuhan.
Bagi orang Banyumas yang dianggap kasampunaning urip (hidup yang sempurna) adalah mengetahui tentang sangkan paraning urip (asal dan tujuan hidup). Tanpa mengetahui sangkan paraning urip niscaya manusia tidak akan mengetahui siapa dirinya, asalnya dari mana, dan mau kemana setelah menjalani hidup di dunia fana ini. Poros tujuan hidup adalah penyatuan diri manusia dengan Tuhan.
Demikianlah pemahaman tentang hakekat hidup dipahami dan diungkapkan kembali melalui gending Eling-eling. Ketiga gending di atas menjadi satu-kesatuan pemahaman secara utuh tentang ajaran kehidupan yang harus ada dalam diri setiap orang. Dengan memahami hakekat hidup maka setiap manusia akan mampu menjalankan tugasnya membangun dunia dan pada akhirnya akan kembali menyatu dengan Tuhan Semesta Alam.
Ajaran-ajaran tentang hidup dan kehidupan di dalam pertunjukan disampaikan secara simbolik yang untuk mengetahuinya memerlukan pemahaman mendalam tentang makna keseluruhan pertunjukan. Cakepan-cakepan (syair-syair) sindhenan banyak pula yang sarat makna. Di dalam gending Eling-eling terdapat cakepan “eling-eling wong eling balia maning” (ingat-ingat orang ingat pulanglah kembali) memiliki makna bahwa setiap orang harus senantiasa ingat kepada Sang Khalik. Apabila ia sudah ingat maka hendaknya ia kembali ke jalan yang bendar, yaitu jalan yang dikehendaki Tuhan untuk dapat kembali bersatu dengan Dzat-Nya.
Pada cakepan gending lain pun banyak dijumpai ajaran-ajaran ketuhanan yang disumblimasikan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Lihatlah pada cakepan gending Randha Nunut di bawah ini:
Randhane nunut, ora nunut dhudha kembang, ora nunut dhudha kembang, nunuta si dhudha perjaka, sing entheng ginawa lunga

Terjemahan:

Jandanya minta bantuan, tidak minta bantuan dhudha kembang, tidak minta bantuan dhudha kembang, minta bantuan ke dhudha perjaka, yang ringan dibawa pergi

Pada cakepan tersebut di atas, yang dimaksud dengan dhudha kembang adalah Tuhan, sedangkan dhudha perjaka adalah manusia biasa. Apabila dalam hidupnya manusia hanya minta bantuan kepada manusia biasa, niscaya hanya akan mendapat kesulitan di kemudian hari karena manusia biasa dengan keterbatasannya hanya akan membawa pergi sesuatu yang ringan-ringan saja dan meninggalkan permasalahan yang berat yang tidak dapat mengatasinya. Oleh karena itu dalam pandangan tentang ketuhanan masyarakat Banyumas sebaik-baik meminta bantuan kepada manusia, masih lebih baik meminta bantuan langsung kepada Tuhan.
Dalam konteks kehidupan sosial terdapat ajaran-ajaran terselubung melalui cakepan-cakepan gending. Ajaran tentang kerukunan hidup dapat dilihat pada cakepan gending Kembang Glepang sebagai berikut:
Duh lae rama
Padha parikan kembang glepang sasorot gutuling layang
Sesorot gutuling layang pegat kadang kinasihan
Pegat kadang kinasihan inyong nang kene esih duwe sedulur lanang
Inyong rabi rika maleni rika rabi nyong parani
Ora nyumbang dunya brana nyumbang geni sawuwungan
Nyumbang geni sawuwungan klawan banyu sakranjang
Inyong nang kene esih duwe kaki nini
Sepisan kaki nini kapindhone beyung rama
Kapindhone beyung rama kaping telu kakang mbekayu
Kaping telu kakang mbekayu kaping pat bandha wirayat
Kaping pat bandha wirayat kaping lima bandhu sentana
Aja gawe gendra bumi Banyumas kenang dhendha kenang prekara

Terjemahan:

Wahai ayah
Mari bernyanyi kembang glepang sesaat datangnya surat
Sesaat datangnya surat terputusnya sahabat terkasih
Terputusnya sahabat terkasih saya di sini masih punya saudara lelaki
Saya menikah Anda menjadi wali Anda menikah saya minta dijemput
Tidak menyumbang harta benda menyumbang api setinggi bubungan
Menyumbang api setinggi bubungan bersama air sekeranjang
Bersama air sekeranjang saya di sini masih punya kakek nenek
Pertama kakek nenek kedua ibu bapak
Kedua ibu dan bapak ketiga kakak laki-laki dan kakak perempuan
ketiga kakak laki-laki dan kakak perempuan keempat sanak saudara
keempat sanak saudara kelima kekayaan harta benda
jangan membuat onar bumi Banyumas terkena denda terkena perkara

Cakepan gending Kembang Glepang di atas sesungguhnya merupakan tembang cinta yang sarat makna tentang ajaran kebaikan bagi manusia dalam kehidupan sosial. Pertama, putus dalam tali percintaan bukanlah akhir segalanya, karena masih banyak waktu untuk menjalin kembali tali cinta dengan orang lain. Kedua, dalam hubungan persaudaraan harus senantiasa saling tolong-menolong sebatas kemampuan yang dimiliki. Dalam cakepan di atas disebutkan ora nyumbang dunya brana nyumbang geni sawuwungan, klawan banyu sakranjang (tidak menyumbang harta benda menyumbang api setinggi bubungan dan air sekeranjang) yang memiliki makna keinginan untuk memberikan bantuan berupa tenaga. Ketiga, dalam kehidupan sosial hendaknya jangan berbuat huru-hara karena akan berakibat terkena denda dan berhadapan dengan hukum.
Berbagai ajaran kebaikan tidak disampaikan secara wantah (verbal) melainkan senantiasa disandikan, disimbolkan, dipersonifikasikan dan dimetaforakan dengan cara-cara tertentu atau dalam bahasa Jawa sering disebut medhang miring dan nyampar pikoleh. Cara medhang miring berarti dalam penyampaian ajaran benar-benar disandikan agar tidak secara langsung dapat diketahui melalui kata-kata atau ungkapan yang terdapat di dalam syair atau cakepan. Adapun melalui nyampar pikoleh berarti ajaran tersebut disampaikan melalui kata-kata atau ungkapan yang bermakna ganda yang kalau diartikan secara verbal akan berbeda dengan makna simbolis yang dimaksudkan.

D. Pandangan Masyarakat Banyumas terhadap Lengger
Lengger selalu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat pendukungnya. Sisa-sisa tradisi masa lalu tentang lengger selalu dikaitkan dengan kegiatan prostitusi terselubung. Prosesi bukak klambu seperti halnya dipaparkan dalam Ronggeng Dukuh Paruk akhirnya banyak dimanfaatkan untuk pelampiasan nafsu seksual. Di dalam tradisi masa lalu ada pula praktek prostitusi terselubung melalui upacara gowokan, yaitu semacam pendidikan seks bagi remaja yang hendak menikah dengan cara remaja itu hidup serumah dengan seorang gowok (biasanya lengger tua). Di sisi lain sebagian lengger di luar panggung ada pula yang menjajakan dirinya untuk pemenuhan kebutuhan biologis bagi lelaki hidung belang. Kenyataan demikian telah menjadi trade mark bagi lengger seolah-olah kesenian ini identik dengan praktek-praktek prostitusi terselubung. Namun demikian pada kenyataannya tidak semua lengger melakukan penyimpangan-penyimpangan seksual seperti halnya yang disebutkan di atas.
Pandangan-pandangan negatif terhadap lengger terutama datang dari kalangan santri yaitu penganut agama Islam yang memegang erat doktrin Islam secara kuat, terutama dalam hal penafsiran moral dan sosialnya (Geertz,1983:173). Menonton lengger adalah perbuatan yang mubah atau bahkan dapat digolongkan perbuatan yang dikharamkan. Apabila dilihat dari keadaan yang terjadi pada masa lalu, memang pandangan seperti ini tidak sepenuhnya salah, sebab pada kenyataannya melalui pertunjukan lengger terjadi praktek-praktek perbuatan yang bertentangan dengan doktrin Islam. Namun demikian apabila dipandang dari usur seninya maka tidak ada hal-hal yang patut ditolak oleh ajaran Rasulullah tersebut.
Pada kenyataannya apapun penilaian masyarakat, pertunjukan lengger masih terus berlangsung sampai saat sekarang. Lengger tetap mampu bertahan hidup di tengah hiruk-pikuknya berbagai macam dan bentuk hiburan dengan isi dan teknik penawaran yang semakin canggih. Lengger tetap menjadi bagian dari tradisi masyarakat Banyumas yang mampu memberikan hiburan segar bagi penontonnya.
Dalam perkembangannya justru lengger mampu memadukan konsep tradisi-modern dalam setiap pertunjukannya. Kenyataan demikian dapat dilihat melalui rias kostum, bentuk tarian, gending atau lagi yang disajikan atau peralatan pendukung yang dibutuhkan dalam pementasan. Rias lengger saat ini tidak lagi memakai jelaga dan teres pada masa lalu, melainkan pakai peralatan kecantikan modern. Kostum yang dipakai penari juga semakin menunjukkan adanya perkembangan yang cukup pesat dalam ukuran seni pertunjukan tradisional. Bentuk gerak semakin bervariasi dengan dipadukan dengan bentuk-bentuk modern dance yang memungkinkan lebih memikat penonton. Daam hal sajian gending atau lagu, saat ini lazim disajikan gending atau lagu-lagu campursari atau lagu-lagu pop. Untuk mendukung disajikannya lagu-lagu campursari dan lagu-lagu pop ini tentu saja ditambahkan pula instrumen-instrumen musik tertentu yang bersifat non tradisi. Demikian pula peralatan pendukung pementasan sudah dilengkapi dengan perangkat sound sistem dan lighting yang cukup memadai.
Lengger sudah mulai digarap melalui paket-paket tari Banyumasan yang dikemas dalam bentuk dan garap tarian tertentu. Penggarapan demikian ternyata telah menjadikan lengger dapat merambah ke segala lapisan masyarakat, baik di tingkat bawah maupun di kalangan elite class. Ini menggambarkan kesenian lengger telah mampu menunjukkan eksistensinya sebagai bentuk kesenian yang masih dimaui oleh masyarakat pendukungnya.
Selaras dengan perkembangan jaman, memang kehidupan manusia senantiasa mengalami perubahan. Hal ini terjadi pula dengan keberadaan lengger. Perubahan pola pikir masyarakat dari mistis ke fungsional telah mengubah tata cara hidup, termasuk dalam memandang, memfungsikan dan atau memanfaatkan kesenian yang menjadi miliknya. Lengger yang semula hadir sebagai sarana upacara kesuburan kini praktis lebih berfungsi sebagai sarana hiburan. Pergeseran fungsi semacam ini adalah sesuatu yang wajar mengingat kebutuhan masyarakat Banyumas berkaitan dengan kehadiran lengger sudah berubah. Apabila pada masa lalu lengger memiliki posisi sebagai kesenian yang harus hadir untuk keperluan upacara ritual, maka saat ini harus puas dengan posisi barunya “hanya” sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hiburan. Oleh karena itu sangat wajar apabila seniman-seniman yang terlibat langsung dalam seni lengger saat sekarang banyak mengubah atau merevisi pandangan masa lalu tentang keberadaan lengger dengan konsep-konsep baru yang lebih mengarah pada konsep entertainment yang memandang bahwa jika lengger ingin tetap bertahan maka harus mengubahnya menjadi cabang seni pertunjukan yang mampu memuaskan penonton lewat sajian-sajiannya.

E. Penutup
Lengger adalah lengger yang harus dipahami sebagai cabang seni pertunjukan yang mau tidak mau harus mampu membawa penonton hanyut dalam pementasannya. Ketika berbagai bentuk upacara ritual yang membutuhkan kehadiran lengger sebagai bagian terpenting di dalamnya sudah tinggal mitos, maka kesenian ini harus rela hadir sebagai sarana hiburan. Hal ini merupakan konsekuensi logis yang harus dialami oleh berbagai bentuk kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Kiranya ini adalah sesuatu yang sangat masuk akal bagi suatu cabang seni yang ingin tetap mampu bertahan di tengah derasnya arus perubahan jaman. Cabang seni apapun yang tidak mampu memberikan manfaat langsung bagi pemiliknya maka ia harus merelakan dirinya untuk tergeser ke tepi atau bahkan mengalami kepunahan.

Dalam kehidupan manusia kesenian memiliki posisi yang sangat penting. Tidak ada satu kelompok masyarakat pun yang tidak membutuhkan kehadiran kesenian. Kesenian dapat dikatakan merupakan salah satu kebutuhan pokok selain makan dan minum. Setiap manusia dalam aktivitas hidupnya tidak akan pernah lepas dari tindakan-tindakan estetis yang fungsional berkaitan dengan tujuan sesungguhnya yang ingin dicapai. Penjual makanan di pasar sering terlihat menghitung barang dagangannya dengan lagu dan irama tertentu. Katanya agar tidak lupa jumlah yang akan diberikan kepada pembeli. Tindakan demikian merupakan tindakan bernuansa estetis namun fungsional dengan pekerjaan yang sedang dilakukan.
Dalam kehidupan masyarakat primitif, kesenian dianggap suatu karya puncak yang terjadi karena manunggalnya cipta, rasa, dan karsa manusia. Sebagai karya puncak, kesenian menjadi suatu hal yang sangat pantas untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Kesenian diyakini sebagai sesuatu yang agung dan penciptaannya sebagai puncak-puncak perenungan batin yang paling dalam. Di sinilah letak kelebihan karya seni sehingga bagi masyarakat yang masih berpola kehidupan tradisional dipercayai sebagai sesuatu hal yang sangat layak untuk sarana persembahan. Persembahan berupa karya seni itu dipercaya akan menjadikan doa-doa yang ditujukan kepada Sang Pencipta akan didengar dan dengan demikian pula kelestarian hidup umat manusia akan tetap terjamin.
Tindakan persembahan seperti itu tidaklah murni hubungan ritual manusia dengan Tuhan. Di dalamnya ada unsur-unsur tertentu yang bersifat menghibur diri sehingga hidup mereka lebih bermakna. Bentuk tindakan demikian dapat dilihat pada kesenian lengger di daerah Banyumas. Kesenian ini dalam perkembangannya tidak saja sebagai sarana hiburan, melainkan juga sering digunakan sebagai sarana upacara yang berkaitan dengan kesuburan.
Lengger merupakan salah satu bentuk kesenian khas yang tumbuh dan berkembang di daerah Banyumas. Kesenian ini tersaji dalam bentuk tari rakyat yang kemunculannya sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya masyarakat setempat yang dijiwai oleh semangat kerakyatan. Berdasarkan gotek, istilah “lengger” merupakan jarwo dhosok yang berarti diarani leng jebulane jengger (dikira perempuan ternyata laki-laki) (Koderi,1991:60). Pengertian demikian berkaitan dengan apa yang terjadi pada masa lalu, penari lengger adalah seorang laki-laki yang berdandan seperti wanita.
Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah lengger berarti ana celeng padha geger. Pengertian ini tidak lain berkaitan dengan pola kehidupan tradisional agraris masyarakat yang bermukim di daerah Banyumas. Kultur petani di daerah ini telah melahirkan tradisi lengger yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat setempat. Kalimat ana celeng padha geger diilhami oleh hama babi hutan yang merusak tanaman pertanian (padi, jagung, jewawut, ketela pohon, dan lain-lain). Apabila sekelompok babi hutan datang merusak tanaman pertanian maka masyarakat geger dengan membunyikan berbagai bunyi-bunyian untuk mengusir hama tanaman tersebut. Kebiasaan ini kemudian diungkapkan kembali melalui tabuh-tabuhan alat musik yang diberi tari-tarian yang akhirnya disebut dengan istilah “lengger”.
Ada dua fungsi yang menonjol melalui kehadiran kesenian lengger di daerah Banyumas yaitu sebagai sarana upacara kesuburan dan media hiburan. Keduanya sama-sama penting dan hadir menjadi satu-kesatuan bentuk pementasan. Artinya, ketika lengger hadir dalam menjalankan fungsinya sebagai sarana upacara kesuburan, di dalamnya juga hadir fungsi hiburan. Demikian pula pada saat kesenian ini disajikan sebagai sarana hiburan, di dalamnya juga terkandung fungsi kesuburan. Kedua fungsi tersebut sama-sama penting dan tidak dapat dipisah-pisahkan dalam pelaksanaannya.
Secara spesifik, fungsi sebagai sarana upacara kesuburan dalam kesenian lengger dapat dilihat pada pelaksanaan upacara baritan yaitu upacar minta hujan dan keselamatan ternak. Adapun sebaga sarana hiburan dapat disaksikan melalui pementasan-pementasan untuk keperluan tanggapan pada acara khajatan penduduk di daerah Banyumas dan sekitarnya. Namun demikian dalam pelaksanaannya baik sebagai sarana upacara kesuburan maupun sebagai sarana hiburan, bentuk penyajiannya nyaris tidak ada perbedaan yang berarti. Selain itu ketika lengger hadir dalam upacara kesuburan, pada kenyataannya aspek hiburannya terasa sangat kental. Penonton ikut berjoged bersama lengger dalam bentuk banceran (menari bersama lengger dengan cara memberikan sejumlah uang). Demikian pula dalam pertunjukan lengger untuk keperluan hiburan seringkali dapat dilihat seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil ke dekat lengger untuk dicium keningnya dengan tujuan agar anaknya tidak terkena sawan (godaan makhluk jahat) dan agar anaknya kelak dapat tumbuh dewasa dengan paras secantik lengger yang sedang pentas.

B. Mitos Kesuburan
Setiap bentuk kesenian biasanya tidak mutlak hadir sebagai sajian estetis, melainkan ada tendensi lain yang berhubungan dengan kepentingan-kepentingan masyarakat pendukungnya. Kesenian tidak lagi memiliki otoritas sebagai sarana hayatan, melainkan lebih fungsional sebagai sarana-sarana tertentu. Di dalam kehidupan masyarakat tradisional, kesenian memiliki tempat khusus bagi pendukungnya. Kesenian memiliki fungsi tertentu yang berhubungan dengan kelestarian hidup masyarakat pada jaman itu. Edi Sedyawati (1976:179) mengungkapkan bahwa salah satu fungsi kesenian adalah sebagai pelengkap sehubungan dengan saat-saat tertentu dalam perputaran waktu.
Sebagaimana diungkapkan Edi Sedyawati di atas, di daerah Banyumas lengger sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan upacara kesuburan. Bagi masyarakat Banyumas yang hidup dalam pola tradisional agraris, upacara kesuburan merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan sosial. Di daerah ini terdapat bentuk-bentuk upacara kesuburan, seperti yang dapat dilihat pada cowongan dan baritan. Lengger dengan sosok penari wanita atau pria yang berdandan layaknya seorang wanita adalah simbol kesuburan. Wanita diibaratkan bumi yang menjadi sumber kehidupan. Wanita pun demikian, tempat awal bagi kehidupan setiap manusia. Kesamaan sifat inilah yang menjadi dasar bagi masyarakat di daerah Banyumas menggunakan wanita sebagai simbol kesuburan. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Ahmad Tohari dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, upacara kesuburan melalui kehadiran lengger atau ronggeng dipaparkan secara lugas melalui upacara bukak klambu.
Memang tidak ada petunjuk langsung yang mengatakan bahwa keberadaan lengger adalah untuk upacara kesuburan. Namun demikian upacara bukak klambu adalah benar adanya dengan melibatkan langsung seorang wanita yang akan dinobatkan menjadi lengger terlebih dahulu harus berhubungan seksual. Proses hubungan seksual seperti yang dialami oleh Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk pada saat bukak klambu tidak sekedar pelampiasan hasrat biologis melainkan lebih sebagai aktualisasi dari pernyataan kesuburan berkaitan dengan kelestarian kehidupan manusia.
Bukak klambu memang bukanlah satu-satunya jalan bagi seseorang yang ingin terjun ke profesi sebagai lengger. Proses bukak klambu hanya terjadi pada satu tempat dalam kaitannya dengan penembahan atau luhur di daerah itu yang mengharuskan melakukan prosesi ini sebelum terjun menjadi lengger. Di tempat lain ungkapan tentang kesuburan dilakukan dengan cara-cara yang lain. Salah satunya adalah baritan yaitu pertunjukan lengger pada musim kemarau dengan tujuan untuk minta hujan dan keselamatan ternak yang biasanya dilaksanakan pada bulan Sura. Pertunjukannya sekilas seperti pertunjukan biasa, namun yang paling penting adalah maksud, tujuan, dan makna yang terkandung dalam pertunjukan itu.

C. Antara Tontonan dan Tuntunan
Siapapun sependapat kalau lengger adalah sarana hiburan. Menyaksikan lenggak-lenggok penarinya yang masih muda dengan paras yang cantik menarik sungguh merupakan cara refresing, terutama bagi masyarakat pedesaan di daerah Banyumas yang cenderung miskin sarana hiburan. Hingga saat ini meskipun sarana hiburan sudah semakin banyak dan merambah ke desa-desa, setiap pertunjukan lengger selalu dipenuhi penonton. Kedatangan lengger di atas pentas selalu disambut teriakan histeris dan siulan penton yang kesengsem melihat penampilan penari-penari pujaannya.
Sebagai sarana hiburan memang lengger cukup memenuhi syarat. Penari lengger adalah seorang wanita muda (remaja) dengan paras yang menarik (cantik). Kecantikan adalah prasyarat utama bagi seseorang yang ingin menerjuni profesi sebagai seorang lengger. Namun demikian, ia juga memiliki syarat lain, yaitu memiliki kualitas tarian dan suara (vokal) yang bagus. Lengger selain sebagai penari juga sekaligus sebagai vokalis di atas pentas. Tanpa diimbangi kualitas tarian dan vokal yang memadai niscaya kehadirannya di atas panggung akan menjadi kurang semarak dan tidak mengundang daya tarik penonton. Apabila seorang lengger memiliki tiga prasyarat tersebut, niscaya ia akan menjadi penari yang terkenal dan digandrungi oleh penonton.
Almarhumah Nyi Kunes yang merupakan penari lengger terkenal di daerah Banyumas pernah mengatakan bahwa yang membuat dirinya digemari banyak orang memang karena memiliki tiga kriteria di atas. Dengan parasnya yang cukup cantik bahkan menjadikannya pernah melangsungkan perkawinan dengan banyak perjaka. Selain itu dengan modal tarian dan vokal yang cukup mumpuni, menjadikan ia ditanggap oleh berbagai kalangan mulai dari masyarakat jelata sampai dengan pejabat-pejabat di daerahnya (Yusmanto,1999:4).
Dalam tradisi pertunjukan lengger di Banyumas memang kesenian ini dapat benar-benar dijadikan sebagai sarana penghibur diri. Pada saat pertunjukan lengger penonton dapat ikut berperan serta menari bersama lengger. Dengan demikian benar apa yang diungkapkan oleh Soedarsono (1978:1) bahwa tarian rakyat adalah tarian yang lebih mementingkan partisipasi bersama daripada penataan artistik yang ditujukan kepada penontonnya. Dalam petunjukan lengger di masa lalu, kesenian ini benar-benar membuka peluang bagi penonton untuk menari bersama dengan penari lengger dalam bentuk banceran, marungan, dan ombyok (Yusmanto,1999:7-8).
Banceran adalah saat dimana penonton menari dengan lengger dengan cara menyelipkan sejumlah uang di kemben yang dipakai oleh penari. Pada saat itu penonton dapat memesan lagu atau gending kesukaannya dan menari dengan lengger dalam satu babak (satu kali sajian gending). Setelah itu ia dapat memsan gending lain dan kembali menari dengan lengger dengan cara menyelipkan lagi sejumlah uang di balik kemben.
Marungan adalah model pesta para priyayi desa pada masa lalu. Pada acara marungan berkumpul beberapa priyayi yang bersukaria dengan menenggak minuman dan bermain kartu. Pada saat itu diundang satu rombongan lengger dan dipentaskan untuk meramaikan acara minum-minum dan permainan kartu. Pertunjukan lengger dalam acara tersebut sama sekali tidak digunakan untuk keperluan khajatan. Lengger benar-benar hadir sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hiburan si penanggap yang sedang bersukaria. Sebagai kelengkapan hiburan, maka pertunjukan hiburan di sini lebih bebas dan setiap orang yang tergabung dalam acara itu dapat menari bersama dengan lengger dengan cara menyelipkan uang ke balik kemben.
Ombyok adalah salah satu bentuk tradisi orang Banyumas ketika sedang punya khajat maka yang sedang dikhajati (biasanya pengantin pria atau anak yang akan dikhitankan) didaulat untuk menari dengan lengger. Bagi mereka ini sangat menggairahkan karena semua orang yang hadir dalam pertunjukan itu akan dapat menyaksikan betapa si empunya khajat tengah dalam kegembiraan dan kebahagiaan.
Dalam pertunjukan lengger sebenarnya tidak hanya hiburan yang dapat diperoleh penonton. Di dalamnya terdapat ajaran-ajaran filsafati yang berguna bagi kehidupan individu maupun sosial. Pada awal pertunjukan biasanya disajikan tiga macam gending, yaitu Ricik-ricik, Sekar Gadhung, dan Eling-eling. Penyajian ketiga gending ini memiliki makna filsafati yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia di dunia. Ricik-ricik adalah sebutan untuk hujan gerimis. Ini mengandung maksud awal kehidupan manusia yang diibaratkan masih kecil seperti halnya hujan gerimis yang belum mampu membasahi bumi. Saat itu manusia belum dapat berbuat banyak untuk membangun dunia.
Dalam perkembangannya manusia yang lahir bayi akan semakin tumbuh berkembang dewasa. Saat itu manusia diibaratkan sebagai sekar gadhung (bunga umbi Gadung). Umbi Gadung adalah sejenis umbi yang mengandung racun yang berbahaya bagi kesehatan manusia, namun apabila dapat mengolahnya umbi itu dapat menjadi bahan makanan yang enak. Manusia tidak berbeda dengan Gadung. Ia dapat menjadi racun sesamanya, tetapi ia dapat pula menjadi pembangun dunia. Semua itu sangat bergantung pada panggulawenthah (proses pengajaran)-nya. Oleh karena itu di Banyumas ada ungkapan aja nganti salah barute (jangan sampai salah dalam membedong). Ungkapan ini memiliki makna agar dalam mengajar anak jangan sampai terjadi kesalahan, karena bila terjadi salah didik kelak ia akan menjadi orang yang berperilaku buruk, jahat, dan akan menjadi racun bagi sesamanya. Manusia adalah bunga Gadung. Bunga dalam arti sebagai paesan atau pepethan (sesuatu yang dilihat indah). Namun demikian hendaknya sesuatu yang terlihat baik dan indah itu jangan sampai menyimpan racun yang membahayakan.
Geding ketiga adalah Eling-eling yang bermakna bahwa manusia dalam menjalani hidup di dunia harus senantiasa ingat kepada yang menghidupi, ingat sangkan paran (asal dan tujuan). Ini adalah filsafat terpenting bagi manusia Jawa, termasuk pula orang Banyumas. Keberadaan manusia di dunia tidaklah ada dengan sendirinya. Ia ada karena diadakan. Ia hidup karena dihidupi. Pada akhirnya ia akan diambil kembali oleh Dzat Yang Mahakuasa yang telah mengadakan dan menghidupinya, yaitu Tuhan.
Bagi orang Banyumas yang dianggap kasampunaning urip (hidup yang sempurna) adalah mengetahui tentang sangkan paraning urip (asal dan tujuan hidup). Tanpa mengetahui sangkan paraning urip niscaya manusia tidak akan mengetahui siapa dirinya, asalnya dari mana, dan mau kemana setelah menjalani hidup di dunia fana ini. Poros tujuan hidup adalah penyatuan diri manusia dengan Tuhan.
Demikianlah pemahaman tentang hakekat hidup dipahami dan diungkapkan kembali melalui gending Eling-eling. Ketiga gending di atas menjadi satu-kesatuan pemahaman secara utuh tentang ajaran kehidupan yang harus ada dalam diri setiap orang. Dengan memahami hakekat hidup maka setiap manusia akan mampu menjalankan tugasnya membangun dunia dan pada akhirnya akan kembali menyatu dengan Tuhan Semesta Alam.
Ajaran-ajaran tentang hidup dan kehidupan di dalam pertunjukan disampaikan secara simbolik yang untuk mengetahuinya memerlukan pemahaman mendalam tentang makna keseluruhan pertunjukan. Cakepan-cakepan (syair-syair) sindhenan banyak pula yang sarat makna. Di dalam gending Eling-eling terdapat cakepan “eling-eling wong eling balia maning” (ingat-ingat orang ingat pulanglah kembali) memiliki makna bahwa setiap orang harus senantiasa ingat kepada Sang Khalik. Apabila ia sudah ingat maka hendaknya ia kembali ke jalan yang bendar, yaitu jalan yang dikehendaki Tuhan untuk dapat kembali bersatu dengan Dzat-Nya.
Pada cakepan gending lain pun banyak dijumpai ajaran-ajaran ketuhanan yang disumblimasikan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Lihatlah pada cakepan gending Randha Nunut di bawah ini:
Randhane nunut, ora nunut dhudha kembang, ora nunut dhudha kembang, nunuta si dhudha perjaka, sing entheng ginawa lunga

Terjemahan:

Jandanya minta bantuan, tidak minta bantuan dhudha kembang, tidak minta bantuan dhudha kembang, minta bantuan ke dhudha perjaka, yang ringan dibawa pergi

Pada cakepan tersebut di atas, yang dimaksud dengan dhudha kembang adalah Tuhan, sedangkan dhudha perjaka adalah manusia biasa. Apabila dalam hidupnya manusia hanya minta bantuan kepada manusia biasa, niscaya hanya akan mendapat kesulitan di kemudian hari karena manusia biasa dengan keterbatasannya hanya akan membawa pergi sesuatu yang ringan-ringan saja dan meninggalkan permasalahan yang berat yang tidak dapat mengatasinya. Oleh karena itu dalam pandangan tentang ketuhanan masyarakat Banyumas sebaik-baik meminta bantuan kepada manusia, masih lebih baik meminta bantuan langsung kepada Tuhan.
Dalam konteks kehidupan sosial terdapat ajaran-ajaran terselubung melalui cakepan-cakepan gending. Ajaran tentang kerukunan hidup dapat dilihat pada cakepan gending Kembang Glepang sebagai berikut:
Duh lae rama
Padha parikan kembang glepang sasorot gutuling layang
Sesorot gutuling layang pegat kadang kinasihan
Pegat kadang kinasihan inyong nang kene esih duwe sedulur lanang
Inyong rabi rika maleni rika rabi nyong parani
Ora nyumbang dunya brana nyumbang geni sawuwungan
Nyumbang geni sawuwungan klawan banyu sakranjang
Inyong nang kene esih duwe kaki nini
Sepisan kaki nini kapindhone beyung rama
Kapindhone beyung rama kaping telu kakang mbekayu
Kaping telu kakang mbekayu kaping pat bandha wirayat
Kaping pat bandha wirayat kaping lima bandhu sentana
Aja gawe gendra bumi Banyumas kenang dhendha kenang prekara

Terjemahan:

Wahai ayah
Mari bernyanyi kembang glepang sesaat datangnya surat
Sesaat datangnya surat terputusnya sahabat terkasih
Terputusnya sahabat terkasih saya di sini masih punya saudara lelaki
Saya menikah Anda menjadi wali Anda menikah saya minta dijemput
Tidak menyumbang harta benda menyumbang api setinggi bubungan
Menyumbang api setinggi bubungan bersama air sekeranjang
Bersama air sekeranjang saya di sini masih punya kakek nenek
Pertama kakek nenek kedua ibu bapak
Kedua ibu dan bapak ketiga kakak laki-laki dan kakak perempuan
ketiga kakak laki-laki dan kakak perempuan keempat sanak saudara
keempat sanak saudara kelima kekayaan harta benda
jangan membuat onar bumi Banyumas terkena denda terkena perkara

Cakepan gending Kembang Glepang di atas sesungguhnya merupakan tembang cinta yang sarat makna tentang ajaran kebaikan bagi manusia dalam kehidupan sosial. Pertama, putus dalam tali percintaan bukanlah akhir segalanya, karena masih banyak waktu untuk menjalin kembali tali cinta dengan orang lain. Kedua, dalam hubungan persaudaraan harus senantiasa saling tolong-menolong sebatas kemampuan yang dimiliki. Dalam cakepan di atas disebutkan ora nyumbang dunya brana nyumbang geni sawuwungan, klawan banyu sakranjang (tidak menyumbang harta benda menyumbang api setinggi bubungan dan air sekeranjang) yang memiliki makna keinginan untuk memberikan bantuan berupa tenaga. Ketiga, dalam kehidupan sosial hendaknya jangan berbuat huru-hara karena akan berakibat terkena denda dan berhadapan dengan hukum.
Berbagai ajaran kebaikan tidak disampaikan secara wantah (verbal) melainkan senantiasa disandikan, disimbolkan, dipersonifikasikan dan dimetaforakan dengan cara-cara tertentu atau dalam bahasa Jawa sering disebut medhang miring dan nyampar pikoleh. Cara medhang miring berarti dalam penyampaian ajaran benar-benar disandikan agar tidak secara langsung dapat diketahui melalui kata-kata atau ungkapan yang terdapat di dalam syair atau cakepan. Adapun melalui nyampar pikoleh berarti ajaran tersebut disampaikan melalui kata-kata atau ungkapan yang bermakna ganda yang kalau diartikan secara verbal akan berbeda dengan makna simbolis yang dimaksudkan.

D. Pandangan Masyarakat Banyumas terhadap Lengger
Lengger selalu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat pendukungnya. Sisa-sisa tradisi masa lalu tentang lengger selalu dikaitkan dengan kegiatan prostitusi terselubung. Prosesi bukak klambu seperti halnya dipaparkan dalam Ronggeng Dukuh Paruk akhirnya banyak dimanfaatkan untuk pelampiasan nafsu seksual. Di dalam tradisi masa lalu ada pula praktek prostitusi terselubung melalui upacara gowokan, yaitu semacam pendidikan seks bagi remaja yang hendak menikah dengan cara remaja itu hidup serumah dengan seorang gowok (biasanya lengger tua). Di sisi lain sebagian lengger di luar panggung ada pula yang menjajakan dirinya untuk pemenuhan kebutuhan biologis bagi lelaki hidung belang. Kenyataan demikian telah menjadi trade mark bagi lengger seolah-olah kesenian ini identik dengan praktek-praktek prostitusi terselubung. Namun demikian pada kenyataannya tidak semua lengger melakukan penyimpangan-penyimpangan seksual seperti halnya yang disebutkan di atas.
Pandangan-pandangan negatif terhadap lengger terutama datang dari kalangan santri yaitu penganut agama Islam yang memegang erat doktrin Islam secara kuat, terutama dalam hal penafsiran moral dan sosialnya (Geertz,1983:173). Menonton lengger adalah perbuatan yang mubah atau bahkan dapat digolongkan perbuatan yang dikharamkan. Apabila dilihat dari keadaan yang terjadi pada masa lalu, memang pandangan seperti ini tidak sepenuhnya salah, sebab pada kenyataannya melalui pertunjukan lengger terjadi praktek-praktek perbuatan yang bertentangan dengan doktrin Islam. Namun demikian apabila dipandang dari usur seninya maka tidak ada hal-hal yang patut ditolak oleh ajaran Rasulullah tersebut.
Pada kenyataannya apapun penilaian masyarakat, pertunjukan lengger masih terus berlangsung sampai saat sekarang. Lengger tetap mampu bertahan hidup di tengah hiruk-pikuknya berbagai macam dan bentuk hiburan dengan isi dan teknik penawaran yang semakin canggih. Lengger tetap menjadi bagian dari tradisi masyarakat Banyumas yang mampu memberikan hiburan segar bagi penontonnya.
Dalam perkembangannya justru lengger mampu memadukan konsep tradisi-modern dalam setiap pertunjukannya. Kenyataan demikian dapat dilihat melalui rias kostum, bentuk tarian, gending atau lagi yang disajikan atau peralatan pendukung yang dibutuhkan dalam pementasan. Rias lengger saat ini tidak lagi memakai jelaga dan teres pada masa lalu, melainkan pakai peralatan kecantikan modern. Kostum yang dipakai penari juga semakin menunjukkan adanya perkembangan yang cukup pesat dalam ukuran seni pertunjukan tradisional. Bentuk gerak semakin bervariasi dengan dipadukan dengan bentuk-bentuk modern dance yang memungkinkan lebih memikat penonton. Daam hal sajian gending atau lagu, saat ini lazim disajikan gending atau lagu-lagu campursari atau lagu-lagu pop. Untuk mendukung disajikannya lagu-lagu campursari dan lagu-lagu pop ini tentu saja ditambahkan pula instrumen-instrumen musik tertentu yang bersifat non tradisi. Demikian pula peralatan pendukung pementasan sudah dilengkapi dengan perangkat sound sistem dan lighting yang cukup memadai.
Lengger sudah mulai digarap melalui paket-paket tari Banyumasan yang dikemas dalam bentuk dan garap tarian tertentu. Penggarapan demikian ternyata telah menjadikan lengger dapat merambah ke segala lapisan masyarakat, baik di tingkat bawah maupun di kalangan elite class. Ini menggambarkan kesenian lengger telah mampu menunjukkan eksistensinya sebagai bentuk kesenian yang masih dimaui oleh masyarakat pendukungnya.
Selaras dengan perkembangan jaman, memang kehidupan manusia senantiasa mengalami perubahan. Hal ini terjadi pula dengan keberadaan lengger. Perubahan pola pikir masyarakat dari mistis ke fungsional telah mengubah tata cara hidup, termasuk dalam memandang, memfungsikan dan atau memanfaatkan kesenian yang menjadi miliknya. Lengger yang semula hadir sebagai sarana upacara kesuburan kini praktis lebih berfungsi sebagai sarana hiburan. Pergeseran fungsi semacam ini adalah sesuatu yang wajar mengingat kebutuhan masyarakat Banyumas berkaitan dengan kehadiran lengger sudah berubah. Apabila pada masa lalu lengger memiliki posisi sebagai kesenian yang harus hadir untuk keperluan upacara ritual, maka saat ini harus puas dengan posisi barunya “hanya” sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hiburan. Oleh karena itu sangat wajar apabila seniman-seniman yang terlibat langsung dalam seni lengger saat sekarang banyak mengubah atau merevisi pandangan masa lalu tentang keberadaan lengger dengan konsep-konsep baru yang lebih mengarah pada konsep entertainment yang memandang bahwa jika lengger ingin tetap bertahan maka harus mengubahnya menjadi cabang seni pertunjukan yang mampu memuaskan penonton lewat sajian-sajiannya.

E. Penutup
Lengger adalah lengger yang harus dipahami sebagai cabang seni pertunjukan yang mau tidak mau harus mampu membawa penonton hanyut dalam pementasannya. Ketika berbagai bentuk upacara ritual yang membutuhkan kehadiran lengger sebagai bagian terpenting di dalamnya sudah tinggal mitos, maka kesenian ini harus rela hadir sebagai sarana hiburan. Hal ini merupakan konsekuensi logis yang harus dialami oleh berbagai bentuk kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Kiranya ini adalah sesuatu yang sangat masuk akal bagi suatu cabang seni yang ingin tetap mampu bertahan di tengah derasnya arus perubahan jaman. Cabang seni apapun yang tidak mampu memberikan manfaat langsung bagi pemiliknya maka ia harus merelakan dirinya untuk tergeser ke tepi atau bahkan mengalami kepunahan.

2 comments:

Anonymous said...

matur suwun sanget.................artikel tentang 'lengger sangat membantuku dalam mengerjakan tugas mata kuliahku dan artikel ini saya jadikan sabagai bahan tugas saya....

misbakhul munir
085641004894

Anonymous said...

matur suwun sanget.................artikel tentang 'lengger sangat membantuku dalam mengerjakan tugas mata kuliahku dan artikel ini saya jadikan sabagai bahan tugas saya....

misbakhul munir
085641004894