Thursday, February 7, 2008

BEGALAN DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BANYUMAS

Orang Banyumas merupakan bagian dari Orang Jawa yang dalam kehidupannya lekat dengan berbagai macam kegiatan ritual sebagai pelakanaan dari ajaran ketuhanan yang dipercayainya. Herusatoto dalam bukunya yang berjudul Simbolisme dalam Budaya Jawa mengungkapkan bahwa ajaran filsafat Jawa ditujukan agar manusia mencapai kesempurnaan (seek of prefect). Pandangan filsafat demikian didasari oleh pemahaman terhadap Tuhan Semesta Alam sehingga menuntun pemikiran manusia tentang urip (hidup) di dunia; mbiyen ora ana, saiki dadi ana, mbesuk maneh ora ana (dahulu tidak ada, sekarang ada, besok tidak ada). Dengan demikian pemahaman filsafat Jawa tidak sekedar filsafat keduniaan, melainkan untuk mencari kesempurnaan hidup setelah mati (insan kamil).
Keberadaan kesenian begalan di daerah Banyumas tidak lepas dari ajaran-ajaran tentang pencapaian hidup sempurna tersebut. Ajaran kesempurnaan tidak hanya mencakup apa yang akan terjadi setelah mati, melainkan juga bagaimana mencari sangu (bekal) agar setelah mati olih dalan padhang (mendapat jalan terang) dalam rangka penyatuan dengan Tuhan. Di dalam begalan dapat dijumpai properti-properti tertentu yang dijadikan sebagai sarana pengungkapan ajaran-ajaran kehidupan agar kedua mempelai yang akan memasuki hidup baru mengarungi bahtera rumah tangga mampu mendudukkan dirinya sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Sebagai makhluk individu diajarkan bagaimana mengenali diri agar asal mula-mulanira (asal muasal manusia), sehingga sadar akan hak dan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan. Sebagai makhluk sosial diajarkan bagaimana seseorang mampu menempatkan diri secara proporsional dalam lingkungan keluarga (sebagai istri atau suami, sebagai ayah atau ibu serta jadi anak atau menantu), dalam lingkungan sosial masyarakat serta lingkungan alam sekitar. Dengan demikian dapat terwujud keselarasan hidup baik antar manusia maupun dengan alam yang memberikan sumber penghidupan.
Di dalam begalan terdapat berbagai macam cara untuk mengungkapkan ajaran-ajaran yang harus dilaksanakan oleh kedua mempelai yang nota bene telah menjadi manusia dewasa dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sosialnya. Sebagai manusia maka ia harus dapat membedakan hak dan kewajiban, benar dan salah, pahala dan dosa.
Bagi masyarakat Banyumas yang hidup dengan latar belakang kehidupan tradisional agraris, ajaran-ajaran seperti itu tidak mungkin diajarkan sekedar lewat wacana sosial melalui kata-kata verbal. Masyarakat Banyumas tradisional pada umumnya merasa kuthunging kawruh (sedikit pengetahuan) sehingga tidak pandai membuat kata-kata berkias yang mengandung nilai sastra tinggi sebagaimana pada ajaran-ajaran di dalam sastra Jawa yang bersumber dari kalangan istana. Ajaran melalui begalan merupakan ajaran filosofis dalam bentuk visual sehingga mudah ditangkap melalui panca indera dan langsung dicerna ke otak bukan dengan cara menghafal. Ajaran seperti ini sangat cocok untuk masyarakat yang hidup di daerah-daerah pedesaan yang tidak banyak mengenyam pengetahuan sastra kraton yang diungkapkan melalui kata-kata indah dalam karya sastra.
Masyarakat pedesaan di daerah Banyumas akan merasa lebih mudah menangkap makna filosofis tentang jagad gumelar (makro kosmos) dan jagad gumulung (mikro kosmos) melalui ian yang secara visual memiliki empat pojok dan senantiasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di dapur. Ajaran-ajaran tentang kosmologi maupun epistemologi sebagaimana diungkapkan dalam karya-karya sastra macam Serat Wirid Hidayat Jati karya R.Ng. Ranggawarsito bukanlah bagian dari kehidupan mereka. Dengan demikian empat pojok pada alat rumah tangga yang bernama ian sudah cukup untuk menggambarkan empat penjuru mata angin yang ada dalam jagad gumelar (makro kosmos). Dengan belajar tentang makro kosmos tadi maka seseorang akan dapat mengimbanginya dengan belajar mikro kosmos yang ada dalam dirinya sehingga dapat ngrumat (merawat) agar dapat lestari kehidupan manusia di dunia.
Harapan-harapan tentang kehidupan yang bahagia dan sejahtera cukup digambarkan melalui dua negara yang sedang besanan yaitu negeri Medhang Kamulan dan negeri Kahuripan. Medhang Kamulan dapat diartikan sebagai pintu kemuliaan, pintu kebahagiaan. Adapun Kahuripan dapat diartikan kehidupan, yakni kehidupan yang selaras (harmonis) antar sesama makhluk Tuhan yang meliputi makhluk manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan bangsa alus (makhluk halus).
Kesenian begalan benar-benar merupakan pengungkapan intisari filsafat kehidupan masyarakat Banyumas ala masyarakat pedesaan. Dengan demikian melalui kesenian ini dapat dilihat kesederhanaan pola pikir masyarakat pedesaan di daerah Banyumas yang merupakan komunitas masyarakat marginal survival yang berada jauh dari lingkungan istana sebagai pusat kekuasaan sekaligus pusat pertumbuhan kebudayaan.

Orang Banyumas merupakan bagian dari Orang Jawa yang dalam kehidupannya lekat dengan berbagai macam kegiatan ritual sebagai pelakanaan dari ajaran ketuhanan yang dipercayainya. Herusatoto dalam bukunya yang berjudul Simbolisme dalam Budaya Jawa mengungkapkan bahwa ajaran filsafat Jawa ditujukan agar manusia mencapai kesempurnaan (seek of prefect). Pandangan filsafat demikian didasari oleh pemahaman terhadap Tuhan Semesta Alam sehingga menuntun pemikiran manusia tentang urip (hidup) di dunia; mbiyen ora ana, saiki dadi ana, mbesuk maneh ora ana (dahulu tidak ada, sekarang ada, besok tidak ada). Dengan demikian pemahaman filsafat Jawa tidak sekedar filsafat keduniaan, melainkan untuk mencari kesempurnaan hidup setelah mati (insan kamil).
Keberadaan kesenian begalan di daerah Banyumas tidak lepas dari ajaran-ajaran tentang pencapaian hidup sempurna tersebut. Ajaran kesempurnaan tidak hanya mencakup apa yang akan terjadi setelah mati, melainkan juga bagaimana mencari sangu (bekal) agar setelah mati olih dalan padhang (mendapat jalan terang) dalam rangka penyatuan dengan Tuhan. Di dalam begalan dapat dijumpai properti-properti tertentu yang dijadikan sebagai sarana pengungkapan ajaran-ajaran kehidupan agar kedua mempelai yang akan memasuki hidup baru mengarungi bahtera rumah tangga mampu mendudukkan dirinya sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Sebagai makhluk individu diajarkan bagaimana mengenali diri agar asal mula-mulanira (asal muasal manusia), sehingga sadar akan hak dan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan. Sebagai makhluk sosial diajarkan bagaimana seseorang mampu menempatkan diri secara proporsional dalam lingkungan keluarga (sebagai istri atau suami, sebagai ayah atau ibu serta jadi anak atau menantu), dalam lingkungan sosial masyarakat serta lingkungan alam sekitar. Dengan demikian dapat terwujud keselarasan hidup baik antar manusia maupun dengan alam yang memberikan sumber penghidupan.
Di dalam begalan terdapat berbagai macam cara untuk mengungkapkan ajaran-ajaran yang harus dilaksanakan oleh kedua mempelai yang nota bene telah menjadi manusia dewasa dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sosialnya. Sebagai manusia maka ia harus dapat membedakan hak dan kewajiban, benar dan salah, pahala dan dosa.
Bagi masyarakat Banyumas yang hidup dengan latar belakang kehidupan tradisional agraris, ajaran-ajaran seperti itu tidak mungkin diajarkan sekedar lewat wacana sosial melalui kata-kata verbal. Masyarakat Banyumas tradisional pada umumnya merasa kuthunging kawruh (sedikit pengetahuan) sehingga tidak pandai membuat kata-kata berkias yang mengandung nilai sastra tinggi sebagaimana pada ajaran-ajaran di dalam sastra Jawa yang bersumber dari kalangan istana. Ajaran melalui begalan merupakan ajaran filosofis dalam bentuk visual sehingga mudah ditangkap melalui panca indera dan langsung dicerna ke otak bukan dengan cara menghafal. Ajaran seperti ini sangat cocok untuk masyarakat yang hidup di daerah-daerah pedesaan yang tidak banyak mengenyam pengetahuan sastra kraton yang diungkapkan melalui kata-kata indah dalam karya sastra.
Masyarakat pedesaan di daerah Banyumas akan merasa lebih mudah menangkap makna filosofis tentang jagad gumelar (makro kosmos) dan jagad gumulung (mikro kosmos) melalui ian yang secara visual memiliki empat pojok dan senantiasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di dapur. Ajaran-ajaran tentang kosmologi maupun epistemologi sebagaimana diungkapkan dalam karya-karya sastra macam Serat Wirid Hidayat Jati karya R.Ng. Ranggawarsito bukanlah bagian dari kehidupan mereka. Dengan demikian empat pojok pada alat rumah tangga yang bernama ian sudah cukup untuk menggambarkan empat penjuru mata angin yang ada dalam jagad gumelar (makro kosmos). Dengan belajar tentang makro kosmos tadi maka seseorang akan dapat mengimbanginya dengan belajar mikro kosmos yang ada dalam dirinya sehingga dapat ngrumat (merawat) agar dapat lestari kehidupan manusia di dunia.
Harapan-harapan tentang kehidupan yang bahagia dan sejahtera cukup digambarkan melalui dua negara yang sedang besanan yaitu negeri Medhang Kamulan dan negeri Kahuripan. Medhang Kamulan dapat diartikan sebagai pintu kemuliaan, pintu kebahagiaan. Adapun Kahuripan dapat diartikan kehidupan, yakni kehidupan yang selaras (harmonis) antar sesama makhluk Tuhan yang meliputi makhluk manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan bangsa alus (makhluk halus).
Kesenian begalan benar-benar merupakan pengungkapan intisari filsafat kehidupan masyarakat Banyumas ala masyarakat pedesaan. Dengan demikian melalui kesenian ini dapat dilihat kesederhanaan pola pikir masyarakat pedesaan di daerah Banyumas yang merupakan komunitas masyarakat marginal survival yang berada jauh dari lingkungan istana sebagai pusat kekuasaan sekaligus pusat pertumbuhan kebudayaan.

No comments: