Thursday, February 7, 2008

MAKNA SIMBOLIK PADA PROPERTI BEGALAN


Baca Selengkapnya...
Martawireja (wawancara:12-12-2001) menerangkan bahwa brenong kepang yang dibawa oleh peraga begalan utusan pihak pengantin pria memiliki makna simbolis yang sangat berguna bagi kedua mempelai dalam menjalani hidup berumah tangga. Makna simbolis masing-masing alat atau properti adalah sebagai berikut:

a. Ian
Ian adalah alas untuk mendinginkan nasi (angi) terbuat dari bambu berbentuk bujur sangkar. Di dalam begalan alat ini menggambarkan jagad gumelar (makro kosmos) yang memiliki padon papat (empat arah mata angin) yaitu timur, barat, utara, dan selatan. Manusia yang diberi karunia cipta, rasa, dan karsa harus mampu memelihara jagad gumelar, yaitu alam semesta beserta isinya agar kehidupan di dunia dapat lestari, aman, tenteram dan damai. Bagi masyarakat Banyumas alam semesta merupakan bagian dari kuasa Gusti kang asipat tan kena kinayangapa (tidak dapat digambarkan) yang memiliki kuasa anglimputi alam sakalir (meliputi dunia seisinya). Memelihara dunia dan seisinya merupakan salah satu manifestasi dari rasa tunduk dan patuh terhadap Sang Penguasa Alam.
Pemeliharaan jagad gumelar (makro kosmos) juga harus diimbangi dengan pemeliharaan jagad gumulung (mikro kosmos) yaitu batining manungsa (batin manusia). Memelihara jagad gumulung tidak berbeda dengan memelihara jagad gumelar. Apabila batin manusia tidak dipelihara niscaya akan menjadi rusak yang pada akhirnya akan berdampak pada kerusakan dunia. Cara merawat jagad gumulung adalah dengan merawat sedulur tuwa sedulur nom (saudara tua dan saudara muda) yang senantiasa sejalan seiring dengan setiap diri manusia, yaitu kakang kawah adhi ari-ari. Yang dimaksud dengan kakang kawah adalah air ketuban, sedangkan adhi ari-ari adalah plasenta.

b. Ilir
Ilir adalah alat dapur semacam kipas untuk mendinginkan nasi (angi). Alat ini merupakan simbolisasi dari susuhing angin (sarang angin atau sumber angun). Dalam hidup manusia angin memiliki manfaat yang sangat penting. Tanpa angin niscaya tidak mungkin ada kehidupan di dunia ini. Dalam diri manusia untuk dapat hidup di dunia fana sampai dengan menyatu kembali dengan Gusti ada tiga hal penting, yaitu napas, nupus dan tanapas yang tidak lain merupakan bagian dari kodrat Illahi.

c. Kukusan
Kukusan adalah wadah untuk menanak nasi yang berbentuk kerucut. Pada bagian pangkal terdiri atas empat pojok dan bagian ujung (pucuk) satu pokok. Ini melambangkan kadang papat lima pancer (saudara empat lima pusat). Yang dimaksud dengan kadang papat adalah nafsu empat macam yaitu amarah, luamah, supiah, dan mutmainah. Keempat nafsu itu apabila tidak dikendalikan akan dapat merusak tatanan kehidupan dunia. Pengendalinya tidak lain adalah hati nurani yang disebut dengan istilah pancer. Dalam falsafah Jawa keberadaan manusia diibaratkan kreta jaran sakusire. Jasad manusia diibaratkan kereta. Nafsu manusia diibaratkan empat kuda dengan warna merah (amarah), hitam (luamah), kuning (sufiah), dan putih (mutmainah).

d. Kekeb
Bagi masyarakat di wilayah sebaran budaya Banyumas, kekeb adalah sejenis alat dapur berupa tembikar yang digunakan sebagai alat penutup pada saat menanak nasi. Alat ini menggambarkan bahwa dalam hidup bersuami istri masing-masing harus mampu menutup aib pasangannya. Istri harus mampu menutupi aib suami, demikian pula suami harus mampu menutupi aib istri. Hal senada diungkapkan pula oleh Sidam (wawancara:12-10-2001) bahwa kata “kekeb” diambil “keb”-nya yang berarti baik suami maupun istri harus mampu ngrungkebi (menerima dengan tulus) kelebihan dan kekurangan pasangannya. Apapun adanya apabila sudah menjadi suami atau istri maka harus dikukup diraup (disadari sebagai milik dengan penuh tulus dan ikhlas).

e. Pedaringan
Pedaringan adalah alat untuk menyimpan beras yang terbuat dari tembikar. Alat ini mengandung ajaran bahwa wanita sebagai istri harus mampu menjadi pedaringan, yaitu mampu menjadi tempat menyimpan segala macam rejeki yang diperoleh suami. Artinya istri harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar dapat menyimpan penghasilan suami dan mampu nanjakna (membelanjakan) untuk hal-hal positif dan berguna bagi kebutuhan rumah tangga dengan penuh kontrol; tidak terkesan boros. Dalam pandangan masyarakat Banyumas, istri yang berlaku boros sering diibaratkan dengan ungkapan kaya pedaringan bolong (seperti pedaringan bocor) yang berarti wanita yang boros, tidak dapat menyimpan harta benda atau rejeki yang diperoleh suami. Istri yang boros tidak dapat menjadi tempat bersemayam rejeki dari suaminya, karena seberapapun penghasilan yang didapatkan akan “bocor” (habis) untuk hal-hal yang kurang perlu.

f. Layah atau ciri
Layah atau ciri adalah wadah untuk menggerus sambal. Ini memiliki ajaran bahwa seorang yang sudah berkeluarga harus mampu menjadi wadah bagi datangnya berbagai macam omongan orang baik perkataan yang bersifat baik maupun buruk mengenai pasangannya, seperti halnya layah yang mampu mewadahi berbagai macam rasa; ada pedas, asin, manis, dan lain-lain. Apabila mampu mewadahi maka percampuran berbagai macam rasa itu justru akan menjadi rasa yang enak.

g. Muthu
Muthu adalah alat yang lazim digunakan sebagai penggerus untuk membuat sambal. Alat ini terbuat dari batu sehingga mampu memecah beraneka bahan makanan yang keras-keras. Dalam begalan alat ini memiliki makna bahwa seseorang yang menjalani hidup berumah tangga harus senantiasa mampu memecahkan segala macam persoalan yang menghadang. Sekeras atau sebesar apapun permasalahan yang menimpa, maka ia harus mampu memecahkannya sehingga akan terselesaikan dan menjadi kenikmatan hidup tersendiri.

h. Irus
Irus yaitu gayung kecil untuk memasak. Ini menggambarkan bahwa orang yang hidup berumah tangga harus mampu mengolah rasa seperti rasa cinta, bahagia, menderita, sedih, dan lain-lain. Semua rasa itu merupakan sandanganing urip (pakaian dalam hidup) yang senantiasa menimpa setiap orang. Oleh karena itu setiap orang yang berkeluarga harus senantiasa mersdi (berupaya) agar berbagai macam rasa itu dapat menjadi pelajaran untuk tumbuhnya kedewasaan dalam sikap, tutur kata dan perbuatan.

i. Siwur
Siwur atau gayung) memiliki makna bahwa dalam hidup berkeluarga maupun hidup bermasyarakat orang tidak ngawur. Dalam setiap sesi kehidupan selalu ada aturan main (rule of the game) yang harus dipatuhi agar mampu hidup berdampingan dengan orang lain di lingkungannya. Orang harus tepa slira atau nepak awak (bercermin pada diri sendiri), apabila dicubit merasa sakit maka hendaknya jangan mencubit, kalau difitnah merasa sakit hati maka janganlah memfitnah orang lain, dan seterusnya.

j. Pala gumantung
Pala gumantung atau buah-buahan yang tergantung memiliki makna agar dalam hidup di lingkungan sosial jangan menggantungkan nasib kepada orang lain. Tuhan telah memberi karunia akal dan pikiran adalah untuk berupaya atau ikhtiar dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup pribadi maupun keluarga. Oleh karena itu setiap orang harus rela dan mau bekerja keras membanting tulang demi tercukupinya beraneka macam kebutuhan hidup.

k. Pala kependhem
Pala kapendhem atau umbi-imbian yang terpendam di dalam tanah memiliki makna bahwa dalam hidup seseorang harus mampu memendam dalam-dalam rasa sakit hati kepada orang lain di lingkungannya. Rasa dendam tidak akan ada gunanya. Hal terbaik adalah saling memaafkan segala kesalahan atau kekhilafan orang lain kepada dirinya sehingga dapat hidup rukun, tenteram dan damai.

l. Padi
Padi adalah penjelmaan Dewi Sri, yaitu dewi kemakmuran. Agar hidup manusia mencapai kemakmuran maka setiap orang harus mampu ngreksa (merawat) Dewi Sri dalam arti harus bersedia mengolah lahan pertanian hingga dapat menghasilkan bahan makanan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Secara filsafati padi memiliki sifat semakin tua semakin merunduk. Sama halnya dengan manusia, sudah semestinya semakin tua semakin mengolah batin untuk menundukkan diri terhadap Sang Pencipta dan memiliki sifat rendah hati terhadap sesama hidup.

m. Beras kuning
Beras kuning adalah beras dicampur dengan air perasan kunyit. Ini menggambarkan kemakmuran yang diharapkan dapat dicapai melalui hidup berumah tangga.

n. Sambetan
Sambetan adalah ramuan tradisional yang berguna untuk pengusir roh jahat. Manusia dalam hidupnya jangan sampai dirasuki roh jahat yang dapat mencelakakan baik secara lahir maupun secara batin. Celaka secara lahir bisa dalam bentuk penyakit fisik yang mengakibatkan seseorang tidak dapat mengerjakan tugas dan fungsinya dalam keluarga maupun masyarakat. Adapun sakit secara batin berupa penyakit psikologis yang mengakibatkan ia tidak mampu berbuat kebajikan yang merupakan jalan menuju kehidupan abadi (urip sampurna).

o. Uang logam (koin)
Uang logam menggambarkan rejeki yang harus dicari oleh setiap orang dalam hidup berumah tangga. Seperti dalam Serat Wulangreh pupuh Sinom karya Paku Buana IV sebagai berikut:
Bonggan kang tan mrelokena
Mungguh ugering aurip
Uripe lan tri prakara
Wirya arta tri winasis
Kalamun kongsi sepi
Marang wilangan tetelu
Telas tilasing janma
Aji godhong jati aking
Temah papa papariman ngulandara


Terjemahan bebas:

Tidak berguna bagi orang yang tidak mencari
Pada aturan hidup
Hidup itu sendiri dan tiga hal
Ketrampilan, harta benda dan kepandaian
Kalau sampai tidak memiliki
Ketiga hal tersebut
Habislah maknanya sebagai manusia
Lebih berharga daun jati yang kering
Akan hidup sengsara di mana-mana

Dalam tembang tersebut, selain hidup itu sendiri masih ada tiga hal yang harus disiasati, yaitu ketrampilan, harta benda dan kepandaian. Oleh karena itu setiap manusia harus mencari sebanyak-banyaknya ketiga hal tersebut dengan tidak meninggalkan tujuan utama dalam hidup di dunia.

p. Wangkring
Wangkring adalah alat pemikul yang terbuat dari jenis bambu tali. Ini adalah ajar bagi laki-laki yang dalam membina rumah tangga harus mampu bersikap dan berbuat seperti sifat bambu tali. Bambu ini apabila dibuat menjadi tali sangat kuat, tidak mudah putus. Demikian pula bila dibuat menjadi pikulan (alat pemikul) sangat lentur sehingga tidak mudah patah. Dalam kehidupan orang Banyumas ada ungkapan lemesa kaya tali kakua kaya pikulan yang berarti bahwa seorang pria dalam membina rumah tangga harus mampu bersikap toleran terhadap segala keadaan. Dengan demikian tidak akan sampai terjadi terputusnya hubungan antara suami dan istri.

2. Ajaran Kebaikan dan Pepali
Keseluruhan makna simbolis yang terkandung di dalam pertunjukan begalan di atas pada dasarnya dapat digolongkan menjadi tiga macam ajaran dan pepali (larangan) yang diarahkan pada kehidupan yang lebih baik bahkan lebih sempurna yang meliputi: (1) hidup berumah tangga, (2) untuk penetrasi dalam kehidupan sosial, dan (3) pemahaman adanya Tuhan.
Dalam rangka hidup berumah tangga, baik suami maupun istri sebagai generasi muda yang diharapkan dapat hidup aman, tenteram dan bahagia, dibekali sangu (bekal) oleh generasi tua. Dalam pandangan generasi muda dikenal ungkapan belilu tau pinter urung nglakoni (bodoh tapi pernah mengalami, pintar belum melakukan) yang berarti sepandai-pandai generasi muda masih harus tetap mendapat bekal dari generasi muda yang sudah lebih kenyang pengalaman dengan harapan dalam perjalanan hidupnya jangan sampai terhempas ke jalan yang salah. Adapun bekal tersebut antara lain:
1. Suami maupun istri harus mampu menutup aib pasangannya.
2. Istri harus mampu menjadi pedaringan, yaitu mampu menjadi tempat bersemayamnya segala macam rejeki yang diperoleh suami.
3. Mampu menjadi wadah bagi datangnya berbagai macam omongan orang baik perkataan yang bersifat baik maupun buruk mengenai pasangannya.
4. Mampu memecahkan segala macam persoalan yang menghadang.
5. Mampu mengolah berbagai macam rasa (cinta, bahagia, menderita, sedih, dan lain-lain) sebagai sandanganing urip (pakaian dalam hidup) yang senantiasa menimpa setiap orang.
6. Mencari sumber penghidupan untuk kemakmuran hidup berumah tangga.
7. Mampu bersikap toleran terhadap segala keadaan agar tidak sampai terjadi terputusnya hubungan antara suami dan istri.
Dalam rangka hidup bermasyarakat di lingkungan sosial, kedua mempelai diberi sangu (bekal) sebagai berikut:
1. Dalam hidup berkeluarga maupun bermasyarakat orang tidak boleh ngawur. Dalam setiap sesi kehidupan selalu ada aturan main (rule of the game) yang harus dipatuhi agar mampu hidup berdampingan dengan orang lain di lingkungannya. Orang harus tepa slira atau nepak awak (bercermin pada diri sendiri).
2. Dalam hidup dalam lingkungan sosial orang jangan menggantungkan nasib kepada orang lain.
3. Dalam hidup orang harus mampu memendam dalam-dalam rasa sakit hati kepada orang lain di lingkungannya. Rasa dendam tidak akan ada gunanya. Hal terbaik adalah saling memaafkan segala kesalahan atau kekhilafan orang lain kepada dirinya sehingga dapat hidup rukun, tenteram dan damai.
4. Untuk mencapai kemakmuran hidup setiap orang harus mampu ngreksa (merawat) Dewi Sri dalam arti harus bersedia mengolah lahan pertanian hingga dapat menghasilkan bahan makanan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Secara filsafati padi memiliki sifat semakin tua semakin merunduk. Sama halnya dengan manusia, sudah semestinya semakin tua semakin mengolah batin untuk menundukkan diri terhadap Sang Pencipta dan memiliki sifat rendah hati terhadap sesama hidup.
5. Orang harus mampu mencari nafkah untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.
Ajaran ketiga adalah tentang pemahaman adanya Tuhan dan alam semesta (ontologi), kedua mempelai diberi sangu sebagai berikut:
1. Jagad gumelar (makro kosmos) yang memiliki padon papat (empat arah mata angin) yaitu timur, barat, utara, dan selatan yang digambarkan melalui ian. Pemeliharaan jagad gumelar (makro kosmos) juga harus diimbangi dengan pemeliharaan jagad gumulung (mikro kosmos) yaitu batining manungsa (batin manusia).
2. Susuhing angin (sarang angin atau sumber angun) yang merupakan ajaran tentang kekuatan alam yang dapat menghidupi manusia yang mengimbas pada tiga hal penting, yaitu napas, nupus dan tanapas yang tidak lain merupakan bagian dari kodrat Illahi.
3. Kadang papat lima pancer yang merupakan nafsu empat macam yaitu amarah, luamah, supiah, dan mutmainah.
4. Adanya kekuatan roh jahat yang memungkinkan menjadi gangguan dalam kehidupan yang dapat mengakibatkan celaka lahir dan batin.

BEGALAN DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BANYUMAS


Baca Selengkapnya...
Orang Banyumas merupakan bagian dari Orang Jawa yang dalam kehidupannya lekat dengan berbagai macam kegiatan ritual sebagai pelakanaan dari ajaran ketuhanan yang dipercayainya. Herusatoto dalam bukunya yang berjudul Simbolisme dalam Budaya Jawa mengungkapkan bahwa ajaran filsafat Jawa ditujukan agar manusia mencapai kesempurnaan (seek of prefect). Pandangan filsafat demikian didasari oleh pemahaman terhadap Tuhan Semesta Alam sehingga menuntun pemikiran manusia tentang urip (hidup) di dunia; mbiyen ora ana, saiki dadi ana, mbesuk maneh ora ana (dahulu tidak ada, sekarang ada, besok tidak ada). Dengan demikian pemahaman filsafat Jawa tidak sekedar filsafat keduniaan, melainkan untuk mencari kesempurnaan hidup setelah mati (insan kamil).
Keberadaan kesenian begalan di daerah Banyumas tidak lepas dari ajaran-ajaran tentang pencapaian hidup sempurna tersebut. Ajaran kesempurnaan tidak hanya mencakup apa yang akan terjadi setelah mati, melainkan juga bagaimana mencari sangu (bekal) agar setelah mati olih dalan padhang (mendapat jalan terang) dalam rangka penyatuan dengan Tuhan. Di dalam begalan dapat dijumpai properti-properti tertentu yang dijadikan sebagai sarana pengungkapan ajaran-ajaran kehidupan agar kedua mempelai yang akan memasuki hidup baru mengarungi bahtera rumah tangga mampu mendudukkan dirinya sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Sebagai makhluk individu diajarkan bagaimana mengenali diri agar asal mula-mulanira (asal muasal manusia), sehingga sadar akan hak dan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan. Sebagai makhluk sosial diajarkan bagaimana seseorang mampu menempatkan diri secara proporsional dalam lingkungan keluarga (sebagai istri atau suami, sebagai ayah atau ibu serta jadi anak atau menantu), dalam lingkungan sosial masyarakat serta lingkungan alam sekitar. Dengan demikian dapat terwujud keselarasan hidup baik antar manusia maupun dengan alam yang memberikan sumber penghidupan.
Di dalam begalan terdapat berbagai macam cara untuk mengungkapkan ajaran-ajaran yang harus dilaksanakan oleh kedua mempelai yang nota bene telah menjadi manusia dewasa dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sosialnya. Sebagai manusia maka ia harus dapat membedakan hak dan kewajiban, benar dan salah, pahala dan dosa.
Bagi masyarakat Banyumas yang hidup dengan latar belakang kehidupan tradisional agraris, ajaran-ajaran seperti itu tidak mungkin diajarkan sekedar lewat wacana sosial melalui kata-kata verbal. Masyarakat Banyumas tradisional pada umumnya merasa kuthunging kawruh (sedikit pengetahuan) sehingga tidak pandai membuat kata-kata berkias yang mengandung nilai sastra tinggi sebagaimana pada ajaran-ajaran di dalam sastra Jawa yang bersumber dari kalangan istana. Ajaran melalui begalan merupakan ajaran filosofis dalam bentuk visual sehingga mudah ditangkap melalui panca indera dan langsung dicerna ke otak bukan dengan cara menghafal. Ajaran seperti ini sangat cocok untuk masyarakat yang hidup di daerah-daerah pedesaan yang tidak banyak mengenyam pengetahuan sastra kraton yang diungkapkan melalui kata-kata indah dalam karya sastra.
Masyarakat pedesaan di daerah Banyumas akan merasa lebih mudah menangkap makna filosofis tentang jagad gumelar (makro kosmos) dan jagad gumulung (mikro kosmos) melalui ian yang secara visual memiliki empat pojok dan senantiasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di dapur. Ajaran-ajaran tentang kosmologi maupun epistemologi sebagaimana diungkapkan dalam karya-karya sastra macam Serat Wirid Hidayat Jati karya R.Ng. Ranggawarsito bukanlah bagian dari kehidupan mereka. Dengan demikian empat pojok pada alat rumah tangga yang bernama ian sudah cukup untuk menggambarkan empat penjuru mata angin yang ada dalam jagad gumelar (makro kosmos). Dengan belajar tentang makro kosmos tadi maka seseorang akan dapat mengimbanginya dengan belajar mikro kosmos yang ada dalam dirinya sehingga dapat ngrumat (merawat) agar dapat lestari kehidupan manusia di dunia.
Harapan-harapan tentang kehidupan yang bahagia dan sejahtera cukup digambarkan melalui dua negara yang sedang besanan yaitu negeri Medhang Kamulan dan negeri Kahuripan. Medhang Kamulan dapat diartikan sebagai pintu kemuliaan, pintu kebahagiaan. Adapun Kahuripan dapat diartikan kehidupan, yakni kehidupan yang selaras (harmonis) antar sesama makhluk Tuhan yang meliputi makhluk manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan bangsa alus (makhluk halus).
Kesenian begalan benar-benar merupakan pengungkapan intisari filsafat kehidupan masyarakat Banyumas ala masyarakat pedesaan. Dengan demikian melalui kesenian ini dapat dilihat kesederhanaan pola pikir masyarakat pedesaan di daerah Banyumas yang merupakan komunitas masyarakat marginal survival yang berada jauh dari lingkungan istana sebagai pusat kekuasaan sekaligus pusat pertumbuhan kebudayaan.

SEKILAS TENTANG BEGALAN


Baca Selengkapnya...
Di dalam kebudayaan Jawa dikenal simbol-simbol atau lambang-lambang yang digunakan sebagai sarana atau media untuk menitipkan pesan-pesan atau nasehat-nasehat bagi bangsanya. Simbol pada dasarnya adalah sesuatu hal atau keadaan yang merupakan pengantara pemahaman terhadap obyek (Herusatoto,1994:11). Simbol merupakan salah satu bagian terpenting dari kebudayaan Jawa. Orang Jawa tradisional biasanya menyampaikan ajaran tidak secara langsung, melainkan lewat sanepa-sanepa tertentu sehingga si penerima ajaran atau nasehat tidak secara langsung menerimanya secara tekstual (Supajar,1991:4). Penggunaan simbol tersebut dilaksanakan dengan penuh kesadaran, pemahaman dan penghayatan yang tinggi dan dianut secara tradisional dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam praktek kehidupan sehari, simbol sebagai konsep ajaran, petuah, wewarah atau nasehat dapat dijumpai dalam berbagai bidang seperti bahasa, sastra, kesenian, benda-benda dan tindakan-tindakan tertentu yang diberi makna simbolis. Konsep ajaran melalui simbol tidak disampaikan secara tekstual (Jawa: mloho). Oleh karena itu penerima ajaran atau nasehat harus mencari makna dari apa yang diterima dengan persyaratan harus melandasinya dengan bekal positif thinking (cara berpikir positif). Dengan cara demikian di dalam simbol dapat ditemukan makna sesungguhnya dari apa yang dimaksudkan oleh orang yang memberikan ajaran.
Daerah Banyumas yang merupakan salah satu wilayah sebaran budaya Jawa tidak lepas dari kebiasaan penggunaan simbol-simbol pada masyarakatnya dalam rangka menyampaikan sesuatu maksud dari satu orang kepada orang lain. Salah satu ajaran simbolis yang masih terus berlangsung hingga saat sekarang adalah penyampaian ajaran simbolis melalui kesenian begalan. Begalan adalah bentuk kesenian yang khusus digunakan sebagai bagian dari upacara perkawinan tradisional masyarakat Banyumas. Kesenian begalan biasanya dipentaskan pada upacara perkawinan apabila salah satu pengantin adalah anak pertama (Jawa: mbarep) atau anak terakhir (Jawa: ragil).
Secara visual kesenian begalan tersaji dalam bentuk drama tari yang dilakukan oleh dua orang pria yang masing-masing satu orang berperan sebagai pembawa brenong kepang atau abrag-abrag (properti) dan yang lain berperan sebagai begal (perampok). Brenong kepang terdiri atas peralatan rumah tangga (ian, ilir, centhong, kekeb, dan sejenisnya), pala kependhem (umbi-umbian atau bahan makanan yang berasal dari tanaman biji-bijian di dalam tanah) dan pala gumantung (buah-buahan atau bahan makanan yang berasal dari tanaman biji-bijian di atas tanah/tergantung), padi, beras kuning, koin dan lain-lain. Iringan begalan adalah gendhing-gendhing Banyumasan yang disajikan menggunakan perangkat musik gamelan.
Di balik hal-hal yang bersifat visual, begalan adalah ajaran yang disampaikan kepada kedua mempelai berupa hak dan kewajiban sebagai suami atau istri, hal-hal yang harus dilakukan dalam proses bersosialisasi di masyarakat sebagai orang dewasa yang sudah berkeluarga serta kewajiban yang harus dilakukan kepada Tuhan Penguasa Alam. Dengan demikian begalan hadir sebagai bentuk ajaran, petuah atau nasehat bagi kedua mempelai dalam kedudukannya sebagai pribadi, bagian dari anggota masyarakat dan sebagai makhluk Tuhan. Ajaran-ajaran yang disampaikan secara simbolis tersebut terdapat di dalam setiap bagian dari properti yang dibawa oleh salah satu pemain begalan.
Keberadaan begalan dalam upacara perkawinan bukan sekedar pelengkap upacara, melainkan justru hadir secara substantif sebagai semacam prasyarat bagi terlaksananya upacara tersebut. Sebagai prasyarat berarti tanpa kehadiran begalan maka upacara perkawinan itu belum absah. Bagi seseorang yang pada saat pelaksanaan pernikahan mengharuskan disertai begalan tapi tidak dipenuhi, apabila pada suatu saat terjadi peristiwa-peristiwa buruk yang melanda biasanya akan dikaitkan dengan tidak dilaksanakannya begalan. Kepercayaan semacam ini masih terus berlangsung hingga sekarang sehingga kesenian begalan meskipun hadir dalam nuansa tradisional masih mampu bertahan di tengah maraknya arus modernisasi dan globalisasi.

PROSES KESENIMANAN DARIAH


Baca Selengkapnya...
Proses kesenimanan Dariah dimulai sejak kepulangannya dari Panembahan Ronggeng (antara tahun 1944 – 1945). Dariah mulai berlatih bersama dengan beberapa orang di desanya yang memiliki ketrampilan bermain gamelan dan berprofesi sebagai niyaga. Beberapa personel yang berproses bersama antara lain: 1) Kriya Leksana pemegang instrumen kendhang, 2) Tirtadirana (ringgeng), 3) Setradiwirya (saron), 4) Wangsareja (saron penerus), 5) Wangsa Tawin (kenong), 6) Ta Risun (gong), dan 7) Prena (badhud). Bersama keenam personel itulah Dariah memulai menapaki profesi sebagai seorang lengger (Dariah,13-5-2001).
Dalam rangka mempersiapkan Sadam (Dariah) menjadi seorang lengger yang terkenal, kakek Wiryareja menawarkan kepadanya sesuatu yang sangat membutuhkan pengorbanan. Kakeknya menawarkan kepada Sadam bahwa apabila menginginkan menjadi seorang lengger yang terkenal dan digandrungi banyak orang, maka harus bersedia dihilangkan kejantanannya. Sadam setuju dengan syarat kelak apabila ingin meninggalkan dunia seni lengger, kakek Wiryareja bersedia mengembalikan kejantanannya. Kakek Wiryareja setuju dan melalui langkah-langkah yang mistis terjadilah perubahan secara perlahan dalam diri Sadam. Lambat laun terjadi perubahan secara fisik pada diri Dariah menjadi “wanita”, termasuk warna suaranya. Dengan perubahan ini digantilah nama Sadam (laki-laki) menjadi Dariah (perempuan).
Proses latihan tidak terlalu berjalan lama karena ragam gerak Dariah cepat dapat disesuaikan dengan iringan. Langkah pertama yang dijalani oleh Dariah untuk mengawali karier adalah dengan cara melakukan mbarang (mengamen) dari rumah ke rumah. Langkah seperti ini memang lazim dilakukan oleh grup-grup lengger pemula untuk mencapai popularitas yang diinginkan. Melalui cara seperti ini ada beberapa keuntungan sekaligus. Pertama, lengger tersebut dapat menghafalkan ragam gerak tari maupun vokal sindhenan. Melalui mbarang maka seorang lengger semakin banyak frekuensi untuk praktek menari maupun olah vokal. Kedua, mbarang pada dasarnya merupakan teknik publikasi tradisional agar lengger yang relatif masih pemula cepat dikenal oleh masyarakat. Paling tidak pada saat lengger sedang mbarang masyarakat akan menyaksikan dari sisi fisik, kualitas gerak tarian maupun kualitas olah suaranya. Apabila lengger yang sedang mbarang memiliki kualitas yang memadai maka akan cepat dikenal orang sehingga menjadi tenar dan profesional. Ketiga, melalui mbarang sebuah grup lengger pemula mendapatkan pemasukan berupa uang yang diperoleh dari hasil tanggapan dari rumah ke rumah. Dengan perolehan pemasukan uang memungkinkan seorang lengger merasa bahwa dengan menekuni bidang profesi sebagai penari mendapatkan keuntungan materi yang dapat digunakan untuk biaya hidup. Bagi grup-grup lengger pemula, langkah mbarang merupakan semacam syarat mutlak yang harus dipenuhi sebelum benar-benar terjun ke profesional.
Dampak dari mbarang yang dilakukan oleh Dariah bersama rombongan ternyata sangat luar biasa. Dariah dengan cepat terkenal di daerah sendiri maupun di daerah lain seperti di Banjarnegara maupun di Purbalingga. Tanggapan demi tanggapan saling susul-menyusul dan akhirnya Dariah menjadi lengger terkenal.
Semenjak sebelum kemerdekaan Indonesia Dariah sudah berhasil menjadi lengger terkenal di daerahnya. Pada setiap pementasan, Dariah senantiasa diiringi oleh keenam orang pengrawit yang terbentuk menjadi semacam grup sejak proses latihan awal. Ketenaran Dariah di masyarakat berlangsung hingga meletusnya pemberontakan G30S/PKI atau sekitar tahun 1965. Pasca pemberontakan PKI, lengger (juga kesenian rakyat lain) tidak diijinkan pentas karena Pemerintah Orde Baru memperkirakan banyak diantara seniman yang memeluk paham komunis atau terlibat PKI (Dariah,13-5-2001).
Dalam menjalani profesinya sebagai lengger, Dariah sangat sering melakukan pementasan. Pementasan dilakukan dalam tiga macam, yaitu pementasan tanggapan, pementasan barangan, dan pementasan marungan. Pementasan tanggapan dilakukan apabila ada anggota masyarakat yang memiliki khajat tertentu dan membutuhkan hiburan lengger untuk memeriahkan khajatnya. Pada bulan-bulan sepi tanggapan (misalnya bulan Sura) dan pada saat panen raya, Dariah melakukan barangan ke tempat-tempat yang penduduknya memiliki tingkat ekonomi mapan. Pada saat barangan itulah sering dilakukan pementasan marungan ketika mendapati sekelompok priyayi yang sedang bersukaria dengan cara minum-minum dan bermain kartu.
Keberadaan Dariah sangat melekat di hati masyarakat, terutama kaum lelaki. Menurut Dariah pada masa ketenarannya banyak lelaki datang ke kediamannya di Somakaton untuk sekedar bertemu atau memberikan hadiah-hadiah tertentu sebagai ungkapan kekagumannya. Ada pula lelaki yang secara terus terang menyatakan cintanya dan bermaksud meminangnya untuk dijadikan sebagai istri. Namun demikian menyadari dirinya bukanlah perempuan, Dariah senantiasa menolak setiap lamaran lelaki. Dariah hanya menerima hadiah-hadiah dengan tanpa prasyarat tertentu yang memberatkan dan dapat membuka rahasia pribadinya (Dariah,13-5-2001).
Untuk menjaga popularitas yang melekat dalam dirinya, Dariah harus pandai-pandai merawat tubuhnya. Secara fisik, Dariah senantiasa membaluri tubuhnya dengan jamu-jamuan tradisional sehingga kulitnya sehat dan tampak awet muda. Adapun secara non fisik, Dariah banyak menjalankan laku batin seperti tirakat atau sering disebut madhang longan turu longan (mengurangi makan dan tidur), berjalan pada malam hari, mandi sumur tujuh, berendam di sungai, dan lain-lain. Dengan cara demikian aura dalam dirinya memancarkan keindahan fisik yang memicu kekaguman bagi siapapun yang melihat.

DARIAH: LENGGER LANANG ITU


Baca Selengkapnya...
Dariah lahir di desa Somakaton, kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas dengan nama Sadam, berjenis kelamin laki-laki. Ibu bernama Samini dan ayah bernama Kartameja yang hidup sebagai petani kecil. Dariah tidak dapat menyebutkan angka tahun yang pasti tahun berapa Dariah dilahirkan. Namun demikian Dariah menuturkan bahwa kakeknya pernah bercerita dirinya lahir tidak lama setelah Kongres Pemuda (4-4-2001). Dengan demikian diperkirakan Dariah lahir pada akhir tahun 1928 atau awal tahun 1929.
Pada umur 5 tahun Dariah ditinggal mati ayahnya, kemudian Dariah dan ibunya ikut dengan kakeknya, Wiryareja di desa yang sama. Wiryareja adalah juga seorang petani kecil dengan lahan pertanian yang tidak terlalu luas. Bersama kakeknya, Sadam (Dariah) tumbuh sebagai anak desa yang lugu. Dariah menerangkan, “Pada sekitar umur 8 tahun saya dikhitankan oleh kakek Wiryareja. Saya dikhitan sebelum datangnya Jepang, sekitar tahun 1942 (4-4-2001). Dengan asumsi Dariah lahir tahun 1929, maka saat pelaksanaan khitanan terjadi pada tahun 1938.
Pada saat marak-maraknya kathok karung (celana terbuat dari bahan karung) ada seorang pengembara (masyarakat setempat menyebutnya maulana) bernama Kaki Danabau datang ke rumah kakek Wiryareja. Tidak ada seorang pun yang tahu siapa dan dari mana asal Kaki Danabau, sebab nama tersebut lebih terkesan nama samaran. Kata “danabau” berasal dari kata “dana” yang berarti memberi dan “bau” berarti tenaga. “Danabau” berarti memberi bantuan tenaga, artinya Kaki Danabau menyediakan tenaganya guna membantu orang lain yang membutuhkan.
Kaki Danabau berdomisili di desa Somakaton dan bertempat tinggal di rumah Wiryareja. Di rumah kakek Dariah, Kaki Danabau membantu menggarap lahan pertanian, membersihkan kebun, dan membantu pekerjaan rumah tangga yang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Apa yang secara langsung diterima hanyalah makanan pokok yang disantapnya pada saat-saat tertentu saja. Menurut Dariah, Kaki Danabau jarang sekali makan nasi. Kaki Danabau sekedar makan beberapa potong ubi jalar rebus dalam satu hari, selebihnya hanya menghisap rokok klobot (daun jagung) yang dipadu dengan klembak menyan. Pada hari-hari tertentu Kaki Danabau pergi tanpa ada yang tahu ke mana arahnya dan kemudian datang lagi. Hampir satu tahun Kaki Danabau datang dan pergi ke rumah Wiryareja sehingga keberadaannya sudah seperti keluarga sendiri (15-4-2001).
Pada suatu ketika Kaki Danabau mengatakan sesuatu yang tidak pernah dikatakan sebelumnya. “Wirya, kae putumu si Sadam tah kedunungan indhang lengger. Angger gelem ginau bisa dadi lengger sing misuwur” (Wirya, cucumu si Sadam dirasuki indhang lengger. Kalau mau belajar dapat menjadi lengger yang terkenal), demikian kata Dariah mengenang masa lalunya (15-4-2001). Apa yang dikatakan oleh Kaki Danabau tidak lepas dari kenyataan yang ada. Dariah kecil meskipun berjenis kelamin laki-laki, namun suka lenggak-lenggok seperti seorang lengger dan suka nyindhen (menyuarakan vokal sindhenan) atau melagukan tembang-tembang Jawa. Kegemarannya menari dan menyanyi dilakukan sambil melakukan pekerjaan apa saja. Rengeng-rengeng (menyanyi dengan suara lirih) adalah salah satu kesenangannya selain menari seperti halnya yang dilakukan oleh lengger di atas pentas. Lagi pula di lingkungan keluarga Dariah ada dua orang yang pada masa mudanya menjadi ronggeng, yaitu neneknya yang bernama Mainah dan bibiknya yang bernama Misem. Darah seniman telah mengalir ke dalam dirinya sehingga tidak mustahil bila Dariah sangat calakan (cepat menangkap) tembang-tembang yang pernah didengarnya.
Dariah tidak tahu apakah benar-benar telah kerasukan indhang lengger atau sekedar terimajinasi kata-kata Kaki Danabau. Setelah mendengar kata-kata tersebut dalam diri Dariah yang kala itu masih bernama Sadam terjadi gejolak yang tidak terkendali. Sadam seperti dituntun oleh alam bawah sadar. Tanpa pamit dengan orang-orang tercinta dan tanpa tahu kemana tujuannya, Sadam pergi dari rumah tanpa berbekal apapun kecuali sedikit uang yang dimilikinya. Sadam berjalan sekedar mengikuti langkah kaki. Hal yang masih diingatnya adalah berjalan ke arah timur mengikuti jalan beraspal jalur Banyumas-Banjarnegara, kemudian berbelok ke kiri ke arah Purbalingga. Di daerah Bukateja Sadam sempat berhenti dan diberi air minum oleh warga setempat.
Dariah terus berjalan entah ke mana dan entah berapa hari sudah dilewatinya, hingga akhirnya sampai di sebuah pekuburan tua. Dariah melihat banyak batu lonjong dalam posisi berdiri (menhir) dan ada sebuah arca wanita cantik terbuat dari batu. Dariah belum juga tahu di wilayah mana dirinya berada. Dariah hanya dapat memasrahkan hidup dan matinya kepada Hyang Maha Pencipta, dan memohon kalau memang ditakdirkan menjadi seorang lengger maka dirinya akan menerima dengan sepenuh hati.
Di tempat yang sebelumnya sama sekali tidak dikenalnya, Dariah sama sekali tidak berniat bertapa atau bersemadi, tetapi betapa dirinya merasa tenang dan damai, sehingga merasa betah dalam waktu berhari-hari. Dariah merasa mendapatkan perlindungan dari kekuatan magis yang tidak pernah dimengerti. Dariah tidak dapat mengingat berapa hari dan berapa malam berada di makam tua tanpa makan dan minum. Menurut Dariah peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada masa penjajahan Jepang menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia atau sekitar tahun 1944 - 1945 (Dariah,15-4-2001).
Setelah berhari-hari Dariah berada di tempat pekuburan tua yang sangat mendamaikan hatinya, selanjutnya mulai terdengar pembicaraan orang-orang yang lewat di jalan yang ada di sisi barat tempat ia bersimpuh. “Kae sapa sih sing lagi tapa nang Panembahan Ronggeng?” (Siapa sih yang sedang bertapa di Panembahan Ronggeng?), tanya seseorang. Yang lain menjawab sekenanya, “Mbuh wong ngendi. Wong nang Panembahan Ronggeng mesthine ya lagi ngudi men bisa dadi ronggeng” (Entah orang mana. Orang di Panembahan Ronggeng mestinya ya sedang memohon agar dapat menjadi ronggeng). Dariah mulai paham bahwa selama beberapa hari ternyata dirinya berada di Panembahan Ronggeng yang merupakan tempat bagi orang memohon kepada Penguasa Alam agar dapat menjadi seorang ronggeng (Dariah,4-4-2001).
Panembahan Ronggeng merupakan tempat bersemadi bagi orang yang menginginkan dirinya menjadi ronggeng atau lengger, terdapat di desa Gandatapa, kecamatan Sumbang, kabupaten Banyumas. Dengan demikian Dariah telah berjalan mengelilingi tiga kabupaten, yaitu kabupaten Banyumas, Banjarnegara, dan Purbalingga, sebelum akhirnya kembali ke wilayah kabupaten Banyumas di lokasi Panembahan Ronggeng. Hingga pelaksanaan penelitian berlangsung, Panembahan Ronggeng masih sering dikunjungi dan dijadikan sebagai tempat semadi oleh anggota masyarakat yang menginginkan dirinya menjadi lengger.
Setelah merasa puas berada di Panembahan Ronggeng, selanjutnya Dariah melanjutkan perjalanan pulang. Untuk menuju ke tempat tinggalnya di Somakaton, Dariah tidak begitu saja tahu jalan yang harus dilalui. Dariah harus banyak bertanya kepada orang yang dijumpainya dalam perjalanan. Akhirnya Dariah sampai di kota Purwokerto. Di Purwokerto Dariah membelanjakan bekal uangnya untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan oleh seorang lengger dalam pementasan. Dariah berambut pendek, dibelinya satu buah gelung brongsong (konde yang dilengkapi semacam ikat kepala sehingga pemakaiannya tinggal diterapkan di kepala). Dariah juga membeli kemben (kain penutup dada), sampur, kain, dan keperluan lain.
Barang-barang hasil belanjaan yang dipersiapkan untuk perlengkapan lengger lalu dibawanya pulang. Dengan berjalan kaki akhirnya Dariah sampai di Somakaton. Betapa gemparnya seluruh keluarga, kerabat dan tetangga-tetangganya demi mengetahui Dariah pulang setelah sekian lama pergi entah kemana tanpa ada seorangpun yang tahu. Sesampainya di rumah Dariah menceritakan semua yang dialami selama kepergiannya. Seluruh keluarga dan kerabat menanggapi positif semua yang terjadi. Semua kerabat menganggap bahwa semua yang telah terjadi merupakan bagian dari proses yang harus dialami oleh Dariah untuk menjadi seorang lengger. Beberapa orang yang memiliki ketrampilan bermain gamelan dikumpulkan untuk berlatih bersama-sama dengan Dariah. Semenjak itulah Dariah menjadi seorang lengger. Menurut Dariah apa yang dialaminya itu terjadi pada masa penjajahan Jepang menjelang kemerdekaan Indonesia (antara tahun 1944 – 1945).

LENGGER: ANTARA MITOS KESUBURAN DAN MEDIA HIBURAN


Baca Selengkapnya...
Dalam kehidupan manusia kesenian memiliki posisi yang sangat penting. Tidak ada satu kelompok masyarakat pun yang tidak membutuhkan kehadiran kesenian. Kesenian dapat dikatakan merupakan salah satu kebutuhan pokok selain makan dan minum. Setiap manusia dalam aktivitas hidupnya tidak akan pernah lepas dari tindakan-tindakan estetis yang fungsional berkaitan dengan tujuan sesungguhnya yang ingin dicapai. Penjual makanan di pasar sering terlihat menghitung barang dagangannya dengan lagu dan irama tertentu. Katanya agar tidak lupa jumlah yang akan diberikan kepada pembeli. Tindakan demikian merupakan tindakan bernuansa estetis namun fungsional dengan pekerjaan yang sedang dilakukan.
Dalam kehidupan masyarakat primitif, kesenian dianggap suatu karya puncak yang terjadi karena manunggalnya cipta, rasa, dan karsa manusia. Sebagai karya puncak, kesenian menjadi suatu hal yang sangat pantas untuk dipersembahkan kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Kesenian diyakini sebagai sesuatu yang agung dan penciptaannya sebagai puncak-puncak perenungan batin yang paling dalam. Di sinilah letak kelebihan karya seni sehingga bagi masyarakat yang masih berpola kehidupan tradisional dipercayai sebagai sesuatu hal yang sangat layak untuk sarana persembahan. Persembahan berupa karya seni itu dipercaya akan menjadikan doa-doa yang ditujukan kepada Sang Pencipta akan didengar dan dengan demikian pula kelestarian hidup umat manusia akan tetap terjamin.
Tindakan persembahan seperti itu tidaklah murni hubungan ritual manusia dengan Tuhan. Di dalamnya ada unsur-unsur tertentu yang bersifat menghibur diri sehingga hidup mereka lebih bermakna. Bentuk tindakan demikian dapat dilihat pada kesenian lengger di daerah Banyumas. Kesenian ini dalam perkembangannya tidak saja sebagai sarana hiburan, melainkan juga sering digunakan sebagai sarana upacara yang berkaitan dengan kesuburan.
Lengger merupakan salah satu bentuk kesenian khas yang tumbuh dan berkembang di daerah Banyumas. Kesenian ini tersaji dalam bentuk tari rakyat yang kemunculannya sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya masyarakat setempat yang dijiwai oleh semangat kerakyatan. Berdasarkan gotek, istilah “lengger” merupakan jarwo dhosok yang berarti diarani leng jebulane jengger (dikira perempuan ternyata laki-laki) (Koderi,1991:60). Pengertian demikian berkaitan dengan apa yang terjadi pada masa lalu, penari lengger adalah seorang laki-laki yang berdandan seperti wanita.
Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah lengger berarti ana celeng padha geger. Pengertian ini tidak lain berkaitan dengan pola kehidupan tradisional agraris masyarakat yang bermukim di daerah Banyumas. Kultur petani di daerah ini telah melahirkan tradisi lengger yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat setempat. Kalimat ana celeng padha geger diilhami oleh hama babi hutan yang merusak tanaman pertanian (padi, jagung, jewawut, ketela pohon, dan lain-lain). Apabila sekelompok babi hutan datang merusak tanaman pertanian maka masyarakat geger dengan membunyikan berbagai bunyi-bunyian untuk mengusir hama tanaman tersebut. Kebiasaan ini kemudian diungkapkan kembali melalui tabuh-tabuhan alat musik yang diberi tari-tarian yang akhirnya disebut dengan istilah “lengger”.
Ada dua fungsi yang menonjol melalui kehadiran kesenian lengger di daerah Banyumas yaitu sebagai sarana upacara kesuburan dan media hiburan. Keduanya sama-sama penting dan hadir menjadi satu-kesatuan bentuk pementasan. Artinya, ketika lengger hadir dalam menjalankan fungsinya sebagai sarana upacara kesuburan, di dalamnya juga hadir fungsi hiburan. Demikian pula pada saat kesenian ini disajikan sebagai sarana hiburan, di dalamnya juga terkandung fungsi kesuburan. Kedua fungsi tersebut sama-sama penting dan tidak dapat dipisah-pisahkan dalam pelaksanaannya.
Secara spesifik, fungsi sebagai sarana upacara kesuburan dalam kesenian lengger dapat dilihat pada pelaksanaan upacara baritan yaitu upacar minta hujan dan keselamatan ternak. Adapun sebaga sarana hiburan dapat disaksikan melalui pementasan-pementasan untuk keperluan tanggapan pada acara khajatan penduduk di daerah Banyumas dan sekitarnya. Namun demikian dalam pelaksanaannya baik sebagai sarana upacara kesuburan maupun sebagai sarana hiburan, bentuk penyajiannya nyaris tidak ada perbedaan yang berarti. Selain itu ketika lengger hadir dalam upacara kesuburan, pada kenyataannya aspek hiburannya terasa sangat kental. Penonton ikut berjoged bersama lengger dalam bentuk banceran (menari bersama lengger dengan cara memberikan sejumlah uang). Demikian pula dalam pertunjukan lengger untuk keperluan hiburan seringkali dapat dilihat seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil ke dekat lengger untuk dicium keningnya dengan tujuan agar anaknya tidak terkena sawan (godaan makhluk jahat) dan agar anaknya kelak dapat tumbuh dewasa dengan paras secantik lengger yang sedang pentas.

B. Mitos Kesuburan
Setiap bentuk kesenian biasanya tidak mutlak hadir sebagai sajian estetis, melainkan ada tendensi lain yang berhubungan dengan kepentingan-kepentingan masyarakat pendukungnya. Kesenian tidak lagi memiliki otoritas sebagai sarana hayatan, melainkan lebih fungsional sebagai sarana-sarana tertentu. Di dalam kehidupan masyarakat tradisional, kesenian memiliki tempat khusus bagi pendukungnya. Kesenian memiliki fungsi tertentu yang berhubungan dengan kelestarian hidup masyarakat pada jaman itu. Edi Sedyawati (1976:179) mengungkapkan bahwa salah satu fungsi kesenian adalah sebagai pelengkap sehubungan dengan saat-saat tertentu dalam perputaran waktu.
Sebagaimana diungkapkan Edi Sedyawati di atas, di daerah Banyumas lengger sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan upacara kesuburan. Bagi masyarakat Banyumas yang hidup dalam pola tradisional agraris, upacara kesuburan merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan sosial. Di daerah ini terdapat bentuk-bentuk upacara kesuburan, seperti yang dapat dilihat pada cowongan dan baritan. Lengger dengan sosok penari wanita atau pria yang berdandan layaknya seorang wanita adalah simbol kesuburan. Wanita diibaratkan bumi yang menjadi sumber kehidupan. Wanita pun demikian, tempat awal bagi kehidupan setiap manusia. Kesamaan sifat inilah yang menjadi dasar bagi masyarakat di daerah Banyumas menggunakan wanita sebagai simbol kesuburan. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Ahmad Tohari dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, upacara kesuburan melalui kehadiran lengger atau ronggeng dipaparkan secara lugas melalui upacara bukak klambu.
Memang tidak ada petunjuk langsung yang mengatakan bahwa keberadaan lengger adalah untuk upacara kesuburan. Namun demikian upacara bukak klambu adalah benar adanya dengan melibatkan langsung seorang wanita yang akan dinobatkan menjadi lengger terlebih dahulu harus berhubungan seksual. Proses hubungan seksual seperti yang dialami oleh Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk pada saat bukak klambu tidak sekedar pelampiasan hasrat biologis melainkan lebih sebagai aktualisasi dari pernyataan kesuburan berkaitan dengan kelestarian kehidupan manusia.
Bukak klambu memang bukanlah satu-satunya jalan bagi seseorang yang ingin terjun ke profesi sebagai lengger. Proses bukak klambu hanya terjadi pada satu tempat dalam kaitannya dengan penembahan atau luhur di daerah itu yang mengharuskan melakukan prosesi ini sebelum terjun menjadi lengger. Di tempat lain ungkapan tentang kesuburan dilakukan dengan cara-cara yang lain. Salah satunya adalah baritan yaitu pertunjukan lengger pada musim kemarau dengan tujuan untuk minta hujan dan keselamatan ternak yang biasanya dilaksanakan pada bulan Sura. Pertunjukannya sekilas seperti pertunjukan biasa, namun yang paling penting adalah maksud, tujuan, dan makna yang terkandung dalam pertunjukan itu.

C. Antara Tontonan dan Tuntunan
Siapapun sependapat kalau lengger adalah sarana hiburan. Menyaksikan lenggak-lenggok penarinya yang masih muda dengan paras yang cantik menarik sungguh merupakan cara refresing, terutama bagi masyarakat pedesaan di daerah Banyumas yang cenderung miskin sarana hiburan. Hingga saat ini meskipun sarana hiburan sudah semakin banyak dan merambah ke desa-desa, setiap pertunjukan lengger selalu dipenuhi penonton. Kedatangan lengger di atas pentas selalu disambut teriakan histeris dan siulan penton yang kesengsem melihat penampilan penari-penari pujaannya.
Sebagai sarana hiburan memang lengger cukup memenuhi syarat. Penari lengger adalah seorang wanita muda (remaja) dengan paras yang menarik (cantik). Kecantikan adalah prasyarat utama bagi seseorang yang ingin menerjuni profesi sebagai seorang lengger. Namun demikian, ia juga memiliki syarat lain, yaitu memiliki kualitas tarian dan suara (vokal) yang bagus. Lengger selain sebagai penari juga sekaligus sebagai vokalis di atas pentas. Tanpa diimbangi kualitas tarian dan vokal yang memadai niscaya kehadirannya di atas panggung akan menjadi kurang semarak dan tidak mengundang daya tarik penonton. Apabila seorang lengger memiliki tiga prasyarat tersebut, niscaya ia akan menjadi penari yang terkenal dan digandrungi oleh penonton.
Almarhumah Nyi Kunes yang merupakan penari lengger terkenal di daerah Banyumas pernah mengatakan bahwa yang membuat dirinya digemari banyak orang memang karena memiliki tiga kriteria di atas. Dengan parasnya yang cukup cantik bahkan menjadikannya pernah melangsungkan perkawinan dengan banyak perjaka. Selain itu dengan modal tarian dan vokal yang cukup mumpuni, menjadikan ia ditanggap oleh berbagai kalangan mulai dari masyarakat jelata sampai dengan pejabat-pejabat di daerahnya (Yusmanto,1999:4).
Dalam tradisi pertunjukan lengger di Banyumas memang kesenian ini dapat benar-benar dijadikan sebagai sarana penghibur diri. Pada saat pertunjukan lengger penonton dapat ikut berperan serta menari bersama lengger. Dengan demikian benar apa yang diungkapkan oleh Soedarsono (1978:1) bahwa tarian rakyat adalah tarian yang lebih mementingkan partisipasi bersama daripada penataan artistik yang ditujukan kepada penontonnya. Dalam petunjukan lengger di masa lalu, kesenian ini benar-benar membuka peluang bagi penonton untuk menari bersama dengan penari lengger dalam bentuk banceran, marungan, dan ombyok (Yusmanto,1999:7-8).
Banceran adalah saat dimana penonton menari dengan lengger dengan cara menyelipkan sejumlah uang di kemben yang dipakai oleh penari. Pada saat itu penonton dapat memesan lagu atau gending kesukaannya dan menari dengan lengger dalam satu babak (satu kali sajian gending). Setelah itu ia dapat memsan gending lain dan kembali menari dengan lengger dengan cara menyelipkan lagi sejumlah uang di balik kemben.
Marungan adalah model pesta para priyayi desa pada masa lalu. Pada acara marungan berkumpul beberapa priyayi yang bersukaria dengan menenggak minuman dan bermain kartu. Pada saat itu diundang satu rombongan lengger dan dipentaskan untuk meramaikan acara minum-minum dan permainan kartu. Pertunjukan lengger dalam acara tersebut sama sekali tidak digunakan untuk keperluan khajatan. Lengger benar-benar hadir sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hiburan si penanggap yang sedang bersukaria. Sebagai kelengkapan hiburan, maka pertunjukan hiburan di sini lebih bebas dan setiap orang yang tergabung dalam acara itu dapat menari bersama dengan lengger dengan cara menyelipkan uang ke balik kemben.
Ombyok adalah salah satu bentuk tradisi orang Banyumas ketika sedang punya khajat maka yang sedang dikhajati (biasanya pengantin pria atau anak yang akan dikhitankan) didaulat untuk menari dengan lengger. Bagi mereka ini sangat menggairahkan karena semua orang yang hadir dalam pertunjukan itu akan dapat menyaksikan betapa si empunya khajat tengah dalam kegembiraan dan kebahagiaan.
Dalam pertunjukan lengger sebenarnya tidak hanya hiburan yang dapat diperoleh penonton. Di dalamnya terdapat ajaran-ajaran filsafati yang berguna bagi kehidupan individu maupun sosial. Pada awal pertunjukan biasanya disajikan tiga macam gending, yaitu Ricik-ricik, Sekar Gadhung, dan Eling-eling. Penyajian ketiga gending ini memiliki makna filsafati yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia di dunia. Ricik-ricik adalah sebutan untuk hujan gerimis. Ini mengandung maksud awal kehidupan manusia yang diibaratkan masih kecil seperti halnya hujan gerimis yang belum mampu membasahi bumi. Saat itu manusia belum dapat berbuat banyak untuk membangun dunia.
Dalam perkembangannya manusia yang lahir bayi akan semakin tumbuh berkembang dewasa. Saat itu manusia diibaratkan sebagai sekar gadhung (bunga umbi Gadung). Umbi Gadung adalah sejenis umbi yang mengandung racun yang berbahaya bagi kesehatan manusia, namun apabila dapat mengolahnya umbi itu dapat menjadi bahan makanan yang enak. Manusia tidak berbeda dengan Gadung. Ia dapat menjadi racun sesamanya, tetapi ia dapat pula menjadi pembangun dunia. Semua itu sangat bergantung pada panggulawenthah (proses pengajaran)-nya. Oleh karena itu di Banyumas ada ungkapan aja nganti salah barute (jangan sampai salah dalam membedong). Ungkapan ini memiliki makna agar dalam mengajar anak jangan sampai terjadi kesalahan, karena bila terjadi salah didik kelak ia akan menjadi orang yang berperilaku buruk, jahat, dan akan menjadi racun bagi sesamanya. Manusia adalah bunga Gadung. Bunga dalam arti sebagai paesan atau pepethan (sesuatu yang dilihat indah). Namun demikian hendaknya sesuatu yang terlihat baik dan indah itu jangan sampai menyimpan racun yang membahayakan.
Geding ketiga adalah Eling-eling yang bermakna bahwa manusia dalam menjalani hidup di dunia harus senantiasa ingat kepada yang menghidupi, ingat sangkan paran (asal dan tujuan). Ini adalah filsafat terpenting bagi manusia Jawa, termasuk pula orang Banyumas. Keberadaan manusia di dunia tidaklah ada dengan sendirinya. Ia ada karena diadakan. Ia hidup karena dihidupi. Pada akhirnya ia akan diambil kembali oleh Dzat Yang Mahakuasa yang telah mengadakan dan menghidupinya, yaitu Tuhan.
Bagi orang Banyumas yang dianggap kasampunaning urip (hidup yang sempurna) adalah mengetahui tentang sangkan paraning urip (asal dan tujuan hidup). Tanpa mengetahui sangkan paraning urip niscaya manusia tidak akan mengetahui siapa dirinya, asalnya dari mana, dan mau kemana setelah menjalani hidup di dunia fana ini. Poros tujuan hidup adalah penyatuan diri manusia dengan Tuhan.
Demikianlah pemahaman tentang hakekat hidup dipahami dan diungkapkan kembali melalui gending Eling-eling. Ketiga gending di atas menjadi satu-kesatuan pemahaman secara utuh tentang ajaran kehidupan yang harus ada dalam diri setiap orang. Dengan memahami hakekat hidup maka setiap manusia akan mampu menjalankan tugasnya membangun dunia dan pada akhirnya akan kembali menyatu dengan Tuhan Semesta Alam.
Ajaran-ajaran tentang hidup dan kehidupan di dalam pertunjukan disampaikan secara simbolik yang untuk mengetahuinya memerlukan pemahaman mendalam tentang makna keseluruhan pertunjukan. Cakepan-cakepan (syair-syair) sindhenan banyak pula yang sarat makna. Di dalam gending Eling-eling terdapat cakepan “eling-eling wong eling balia maning” (ingat-ingat orang ingat pulanglah kembali) memiliki makna bahwa setiap orang harus senantiasa ingat kepada Sang Khalik. Apabila ia sudah ingat maka hendaknya ia kembali ke jalan yang bendar, yaitu jalan yang dikehendaki Tuhan untuk dapat kembali bersatu dengan Dzat-Nya.
Pada cakepan gending lain pun banyak dijumpai ajaran-ajaran ketuhanan yang disumblimasikan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Lihatlah pada cakepan gending Randha Nunut di bawah ini:
Randhane nunut, ora nunut dhudha kembang, ora nunut dhudha kembang, nunuta si dhudha perjaka, sing entheng ginawa lunga

Terjemahan:

Jandanya minta bantuan, tidak minta bantuan dhudha kembang, tidak minta bantuan dhudha kembang, minta bantuan ke dhudha perjaka, yang ringan dibawa pergi

Pada cakepan tersebut di atas, yang dimaksud dengan dhudha kembang adalah Tuhan, sedangkan dhudha perjaka adalah manusia biasa. Apabila dalam hidupnya manusia hanya minta bantuan kepada manusia biasa, niscaya hanya akan mendapat kesulitan di kemudian hari karena manusia biasa dengan keterbatasannya hanya akan membawa pergi sesuatu yang ringan-ringan saja dan meninggalkan permasalahan yang berat yang tidak dapat mengatasinya. Oleh karena itu dalam pandangan tentang ketuhanan masyarakat Banyumas sebaik-baik meminta bantuan kepada manusia, masih lebih baik meminta bantuan langsung kepada Tuhan.
Dalam konteks kehidupan sosial terdapat ajaran-ajaran terselubung melalui cakepan-cakepan gending. Ajaran tentang kerukunan hidup dapat dilihat pada cakepan gending Kembang Glepang sebagai berikut:
Duh lae rama
Padha parikan kembang glepang sasorot gutuling layang
Sesorot gutuling layang pegat kadang kinasihan
Pegat kadang kinasihan inyong nang kene esih duwe sedulur lanang
Inyong rabi rika maleni rika rabi nyong parani
Ora nyumbang dunya brana nyumbang geni sawuwungan
Nyumbang geni sawuwungan klawan banyu sakranjang
Inyong nang kene esih duwe kaki nini
Sepisan kaki nini kapindhone beyung rama
Kapindhone beyung rama kaping telu kakang mbekayu
Kaping telu kakang mbekayu kaping pat bandha wirayat
Kaping pat bandha wirayat kaping lima bandhu sentana
Aja gawe gendra bumi Banyumas kenang dhendha kenang prekara

Terjemahan:

Wahai ayah
Mari bernyanyi kembang glepang sesaat datangnya surat
Sesaat datangnya surat terputusnya sahabat terkasih
Terputusnya sahabat terkasih saya di sini masih punya saudara lelaki
Saya menikah Anda menjadi wali Anda menikah saya minta dijemput
Tidak menyumbang harta benda menyumbang api setinggi bubungan
Menyumbang api setinggi bubungan bersama air sekeranjang
Bersama air sekeranjang saya di sini masih punya kakek nenek
Pertama kakek nenek kedua ibu bapak
Kedua ibu dan bapak ketiga kakak laki-laki dan kakak perempuan
ketiga kakak laki-laki dan kakak perempuan keempat sanak saudara
keempat sanak saudara kelima kekayaan harta benda
jangan membuat onar bumi Banyumas terkena denda terkena perkara

Cakepan gending Kembang Glepang di atas sesungguhnya merupakan tembang cinta yang sarat makna tentang ajaran kebaikan bagi manusia dalam kehidupan sosial. Pertama, putus dalam tali percintaan bukanlah akhir segalanya, karena masih banyak waktu untuk menjalin kembali tali cinta dengan orang lain. Kedua, dalam hubungan persaudaraan harus senantiasa saling tolong-menolong sebatas kemampuan yang dimiliki. Dalam cakepan di atas disebutkan ora nyumbang dunya brana nyumbang geni sawuwungan, klawan banyu sakranjang (tidak menyumbang harta benda menyumbang api setinggi bubungan dan air sekeranjang) yang memiliki makna keinginan untuk memberikan bantuan berupa tenaga. Ketiga, dalam kehidupan sosial hendaknya jangan berbuat huru-hara karena akan berakibat terkena denda dan berhadapan dengan hukum.
Berbagai ajaran kebaikan tidak disampaikan secara wantah (verbal) melainkan senantiasa disandikan, disimbolkan, dipersonifikasikan dan dimetaforakan dengan cara-cara tertentu atau dalam bahasa Jawa sering disebut medhang miring dan nyampar pikoleh. Cara medhang miring berarti dalam penyampaian ajaran benar-benar disandikan agar tidak secara langsung dapat diketahui melalui kata-kata atau ungkapan yang terdapat di dalam syair atau cakepan. Adapun melalui nyampar pikoleh berarti ajaran tersebut disampaikan melalui kata-kata atau ungkapan yang bermakna ganda yang kalau diartikan secara verbal akan berbeda dengan makna simbolis yang dimaksudkan.

D. Pandangan Masyarakat Banyumas terhadap Lengger
Lengger selalu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat pendukungnya. Sisa-sisa tradisi masa lalu tentang lengger selalu dikaitkan dengan kegiatan prostitusi terselubung. Prosesi bukak klambu seperti halnya dipaparkan dalam Ronggeng Dukuh Paruk akhirnya banyak dimanfaatkan untuk pelampiasan nafsu seksual. Di dalam tradisi masa lalu ada pula praktek prostitusi terselubung melalui upacara gowokan, yaitu semacam pendidikan seks bagi remaja yang hendak menikah dengan cara remaja itu hidup serumah dengan seorang gowok (biasanya lengger tua). Di sisi lain sebagian lengger di luar panggung ada pula yang menjajakan dirinya untuk pemenuhan kebutuhan biologis bagi lelaki hidung belang. Kenyataan demikian telah menjadi trade mark bagi lengger seolah-olah kesenian ini identik dengan praktek-praktek prostitusi terselubung. Namun demikian pada kenyataannya tidak semua lengger melakukan penyimpangan-penyimpangan seksual seperti halnya yang disebutkan di atas.
Pandangan-pandangan negatif terhadap lengger terutama datang dari kalangan santri yaitu penganut agama Islam yang memegang erat doktrin Islam secara kuat, terutama dalam hal penafsiran moral dan sosialnya (Geertz,1983:173). Menonton lengger adalah perbuatan yang mubah atau bahkan dapat digolongkan perbuatan yang dikharamkan. Apabila dilihat dari keadaan yang terjadi pada masa lalu, memang pandangan seperti ini tidak sepenuhnya salah, sebab pada kenyataannya melalui pertunjukan lengger terjadi praktek-praktek perbuatan yang bertentangan dengan doktrin Islam. Namun demikian apabila dipandang dari usur seninya maka tidak ada hal-hal yang patut ditolak oleh ajaran Rasulullah tersebut.
Pada kenyataannya apapun penilaian masyarakat, pertunjukan lengger masih terus berlangsung sampai saat sekarang. Lengger tetap mampu bertahan hidup di tengah hiruk-pikuknya berbagai macam dan bentuk hiburan dengan isi dan teknik penawaran yang semakin canggih. Lengger tetap menjadi bagian dari tradisi masyarakat Banyumas yang mampu memberikan hiburan segar bagi penontonnya.
Dalam perkembangannya justru lengger mampu memadukan konsep tradisi-modern dalam setiap pertunjukannya. Kenyataan demikian dapat dilihat melalui rias kostum, bentuk tarian, gending atau lagi yang disajikan atau peralatan pendukung yang dibutuhkan dalam pementasan. Rias lengger saat ini tidak lagi memakai jelaga dan teres pada masa lalu, melainkan pakai peralatan kecantikan modern. Kostum yang dipakai penari juga semakin menunjukkan adanya perkembangan yang cukup pesat dalam ukuran seni pertunjukan tradisional. Bentuk gerak semakin bervariasi dengan dipadukan dengan bentuk-bentuk modern dance yang memungkinkan lebih memikat penonton. Daam hal sajian gending atau lagu, saat ini lazim disajikan gending atau lagu-lagu campursari atau lagu-lagu pop. Untuk mendukung disajikannya lagu-lagu campursari dan lagu-lagu pop ini tentu saja ditambahkan pula instrumen-instrumen musik tertentu yang bersifat non tradisi. Demikian pula peralatan pendukung pementasan sudah dilengkapi dengan perangkat sound sistem dan lighting yang cukup memadai.
Lengger sudah mulai digarap melalui paket-paket tari Banyumasan yang dikemas dalam bentuk dan garap tarian tertentu. Penggarapan demikian ternyata telah menjadikan lengger dapat merambah ke segala lapisan masyarakat, baik di tingkat bawah maupun di kalangan elite class. Ini menggambarkan kesenian lengger telah mampu menunjukkan eksistensinya sebagai bentuk kesenian yang masih dimaui oleh masyarakat pendukungnya.
Selaras dengan perkembangan jaman, memang kehidupan manusia senantiasa mengalami perubahan. Hal ini terjadi pula dengan keberadaan lengger. Perubahan pola pikir masyarakat dari mistis ke fungsional telah mengubah tata cara hidup, termasuk dalam memandang, memfungsikan dan atau memanfaatkan kesenian yang menjadi miliknya. Lengger yang semula hadir sebagai sarana upacara kesuburan kini praktis lebih berfungsi sebagai sarana hiburan. Pergeseran fungsi semacam ini adalah sesuatu yang wajar mengingat kebutuhan masyarakat Banyumas berkaitan dengan kehadiran lengger sudah berubah. Apabila pada masa lalu lengger memiliki posisi sebagai kesenian yang harus hadir untuk keperluan upacara ritual, maka saat ini harus puas dengan posisi barunya “hanya” sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hiburan. Oleh karena itu sangat wajar apabila seniman-seniman yang terlibat langsung dalam seni lengger saat sekarang banyak mengubah atau merevisi pandangan masa lalu tentang keberadaan lengger dengan konsep-konsep baru yang lebih mengarah pada konsep entertainment yang memandang bahwa jika lengger ingin tetap bertahan maka harus mengubahnya menjadi cabang seni pertunjukan yang mampu memuaskan penonton lewat sajian-sajiannya.

E. Penutup
Lengger adalah lengger yang harus dipahami sebagai cabang seni pertunjukan yang mau tidak mau harus mampu membawa penonton hanyut dalam pementasannya. Ketika berbagai bentuk upacara ritual yang membutuhkan kehadiran lengger sebagai bagian terpenting di dalamnya sudah tinggal mitos, maka kesenian ini harus rela hadir sebagai sarana hiburan. Hal ini merupakan konsekuensi logis yang harus dialami oleh berbagai bentuk kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Kiranya ini adalah sesuatu yang sangat masuk akal bagi suatu cabang seni yang ingin tetap mampu bertahan di tengah derasnya arus perubahan jaman. Cabang seni apapun yang tidak mampu memberikan manfaat langsung bagi pemiliknya maka ia harus merelakan dirinya untuk tergeser ke tepi atau bahkan mengalami kepunahan.