Sunday, January 13, 2008

MERENGKUH KEMBALI IDENTITAS KERAKYATAN


Baca Selengkapnya...
Sejak akhir dekade tahun 1980-an di Banyumas mulai muncul kesadaran terhadap wawasan identitas atau jatidiri terhadap lingkungan budayanya. Orang mulai berpikir tentangnya pentingnya identitas yang bersumber dari wawasan kebudayaan lokal bagi terciptanya ketahanan sosial dalam kehidupan nyata. Tumbuhnya kesadaran semacam ini sedikit banyak dipengaruhi oleh konsep identitas Jawa Tengah yang digulirkan pada masa pemerintahan Gubernur Ismail. Dalam salah satu pidatonya, Ismail mengungkapkan persoalan identitas, sebagai berikut:

Sekali lagi, akulturasi dan enkulturasi (sic!), adalah sendi-sendi pokok di dalam kehidupan sosial budaya kita. Kita akan berkembang menjadi lebih baru, menjadi lebih maju, menjadi lebih kaya, akan tetapi tanpa kehilangan identitas, tanpa kehilangan kepribadian, tanpa kehancuran dasar kultural (Ismail,1989).

Petikan naskah pidato di atas menunjukkan adanya upaya Pemerintah Propinsi/Dati I Jawa Tengah agar dalam wacana persilangan budaya di masa kini dan masa yang akan datang, masyarakat Jawa Tengah tidak kehilangan identitas, kepribadian, dan terjadinya kehancuran dasar kultural. Pada bagian lain dari naskah tersebut dijelaskan tentang the within forces dari kehidupan manusia yang meliputi sikap mental, nilai hidup, cara berpikir, cara merasa, cara bertindak dan cara kerja, logika, estetika dan etika (Ismail,1989). The within forces tidak lain adalah nilai-nilai kejawaan yang berada dalam ranah kebudayaan Jawa yang merupakan warisan nenek-moyang. Dalam kacamata pandang wawasan identitas Jawa Tengah diharapkan keseluruhan aspek dari the within forces tersebut dapat senantiasa terwujud pada perilaku, karakter dan tata kehidupan sehari-hari setiap pribadi masyarakat Jawa Tengah.
Gema dari bergulirnya konsep wawasan identitas Jawa Tengah tersebut telah mengilhami sebagian dari masyarakat Banyumas untuk menghidupkan kembali identitas Banyumas dengan mengaktualisasikan kembali profil masyarakat penginyongan. Sejak saat itu identitas Banyumas bergulir sebagai wacana umum, baik di tingkat pemerintahan, organisasi kemasyarakatan maupun pribadi orang Banyumas, baik yang berada di dalam maupun di luar daerah. Pemerintah Kabupaten/Daerah Tingkat II Banyumas semakin getol menampilkan berbagai ragam kesenian khas daerah—seperti lengger, ebeg, jemblung, dan lain-lain—sebagai bagian dari ikon jatidiri Banyumas. Warga Banyumas yang tinggal di kota-kota seperti Jakarta, Semarang, Surakarta dan Yogyakarta, mulai membentuk paguyuban wong Banyumas dengan nama-nama Seruling Mas (Seruan Eling Banyumas), Kangmas (Sekang/dari Banyumas), Kepamba (Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Banyumas) dan lain-lain. Paguyuban semacam ini meskipun pada tingkat tertentu dapat bermakna etnosentris, namun hal ini membuktikan adanya kesadaran pribadi-pribadi orang Banyumas yang berada di luar daerah untuk mengakui dan menciptakan kebanggaan terhadap nilai-nilai lokal yang bersumber dari kebudayaan daerah asal mereka. Dalam tataran internal masyarakat Banyumas sendiri, geliat kesadaran akan identitas dapat dilihat pada aktivitas keseharian yang masih menggunakan aspek-aspek kebudayaan Banyumas sebagai mainstream dalam kehidupan sosial.
Semua itu merupakan suatu upaya struggle (berjuang) sebagai bentuk resistensi sekaligus reaksi atas kekuatan-kekuatan dari luar diri masyarakat Banyumas yang dibimbing oleh proses kesadaran sebagai wong Banyumas. Di sini terjadi semacam upaya menggalang kekuatan untuk mengukuhkan diri sebagai sebuah bangsa yang memiliki karakter yang dibangun oleh semangat kebudayaan lokal mereka di antara persebaran kebudayaan lain.
Usaha perjuangan identitas Banyumas masa kini tentu saja berbeda dengan identitas Banyumas masa lalu yang lebih dibangun oleh semangat kerakyatan dari sebuah komunitas masyarakat pinggiran yang berpola kehidupan tradisional-agraris. Identitas yang dibangun saat ini adalah Banyumas sebagai kawasan budaya yang tidak alergi terhadap perubahan. Banyumas yang dipengaruhi oleh perkembangan sosial politik dunia, ekonomi dunia, teknologi mutakhir dan pengaruh globalisasi. Banyumas yang lebih maju, tanpa meninggalkan karakter budayanya yang explosure (terbuka), cablaka (transparan) dan dinamis. Pola-pola impian masa depan seperti inilah yang kemudian digelorakan untuk mewujudkan identitas Banyumas masa kini.
Sejak dekade tahun 1990-an, perjuangan mewujudkan identitas Banyumas masa kini dilakukan melalui berbagai cara, baik oleh Pemerintah, organisasi swadaya masyarakat, maupun oleh perseorangan. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah melalui jagad kesenian. Berbagai ragam kesenian khas Banyumas seperti lengger, aplang, aksi mudha, angguk, ebeg, bongkel atau gondolio, jemblung dan ragam kesenian lain produk lokal masyarakat Banyumas, dijadikan media perjuangan identitas yang mereka impikan.
Perjuangan mewujudkan kembali identitas Banyumas memang layak dilakukan. Hal ini mengingat dalam perjalanan hidupnya, kultur Banyumas sejak lama senantiasa berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Pada masa kejayaan kerajaan (Jawa), kebudayaan Banyumas lebih berada dalam posisi sub-ordinasi sebagai sub-kultur dari kebudayaan Jawa yang dikembangkan di wilayah negarigung. Sebagai wilayah sub-kultur, pertumbuhan kebudayaan Banyumas sangat mungkin berada dalam keadaan determinasi, yang dapat dirasakan dalam praktek kehidupan sosial maupun secara psikologis oleh masyarakatnya. Dampak determinasi dalam praktek kehidupan sosial, mungkin lebih dirasakan hanya saat peristiwa berlangsung. Yang paling parah adalah dampak psikologis, karena terjadi pada tataran alam bawah sadar yang memungkinkan berlangsung dalam tempo yang sangat panjang.
Ketika kekuasaan kraton melemah, ternyata tidak banyak mengubah keadaan. Determinasi terhadap kebudayaan Banyumas kemudian datang dari pengaruh asing yang datang melalui era modernismenya. Dalam konteks ini, yang dirambah arus modernisasi tidak hanya Banyumas, tetapi lebih dalam konteks Indonesia. Seperti yang diungkapkan Ninok Leksono, di tengah kepungan perubahan global terdapat beberapa hal yang berpengaruh terhadap Indonesia, antara lain: (1) pengaruh sosial politik dunia, (2) pengaruh ekonomi dunia, (3) pengaruh teknologi mutakhir, dan (4) pengaruh globalisasi (Ninok Leksono [ed.],2000). Keempat macam pengaruh ini juga terjadi di Banyumas dan terbukti mampu mengubah berbagai sisi dari tatanan kehidupan masyarakat setempat.
Modernisasi[1] yang merambah di hampir segala bidang kehidupan memang merupakan persoalan tersendiri bagi identitas kebudaan Banyumas. Pada era ini semakin banyak orang berpikir tentang usaha untuk melepaskan diri dari pola kehidupan tradisional yang mereka anggap ketinggalan jaman. Kondisi demikian terutama terjadi pada kalangan masyarakat terpelajar dan yang bermukim di daerah perkotaan. Mereka berpikir bahwa kebudayaan tradisional tidak cocok diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kaum muda lebih merasa cocok berperilaku dan berpenampilan kebarat-baratan dan malu mengkonsumsi hal-hal yang bernuansa tradisional. Menyaksikan pertunjukan lengger atau ebeg bagi mereka bukanlah aktivitas yang membanggakan. Pertunjukan musik underground, rock’n roll dan atau band lebih dianggap mewakili ekspresi pribadi mereka serta dianggap lebih cocok untuk konsumsi masyarakat perkotaan. Sikap demikian pada akhirnya mewabah pula hingga ke daerah-daerah pedesaan. Generasi muda Banyumas cenderung akhirnya tidak lagi memahami dan menghargai ragam budaya miliknya.
Berbagai macam determinasi terhadap eksistensi kebudayaan Banyumas sesungguhnya tidak begitu saja menghilangkan warna dan identitas ke-Banyumas-an. Di tengah kehidupan masyarakat Banyumas masih bisa ditemukan puing-puing atau serpihan nilai-nilai yang memungkinkan dibangun kembali menjadi semangat yang relevan untuk jaman sekarang. Kesadaran penginyongan, misalnya, yakni kesadaran kolektif orang Banyumas sebagai komunitas non-priyayi bisa dibangun menjadi semangat kerakyatan, hingga saat ini masih tumbuh subur di lingkungan kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas. Ahmad Tohari bahkan secara tegas mengemukakan bahwa jiwa penginyongan, bila dikelola dan dikembangkan secara baik dapat mengikis budaya feodal Jawa yang harus sudah ditinggalkan karena tidak sesuai lagi dengan pembangunan demokrasi (Ahmad Tohari,2005). Ini disebabkan akar kebudayaan Banyumas dibangun dari kehidupan rakyat jelata yang dijiwai oleh sikap jujur, kebersamaan, kesahajaan dan keterbukaan.
Farida mengemukakan bahwa dalam pembentukan jatidiri seseorang dipengaruhi berbagai macam pengalaman yang dijumpai dalam kehidupannya. Dalam hal ini ada faktor-faktor determinan (penentu) yang berpengaruh terhadap timbulnya motivasi bagi perilaku seseorang yang dapat digolongkan tiga determinan perilaku, yaitu: (1) determinan yang berasal dari lingkungan, (2) determinan yang berasal dari dalam diri sendiri, (3) determinan yang merupakan nilai dari obyek (Farida,1994:25). Determinasi yang berasal dari lingkungan dapat dilihat pada perkembangan kebudayaan asing yang merambah ke wilayah sebaran kebudayaan Banyumas. Determinasi yang datang dari dalam diri sendiri terjadi karena adanya harapan, emosi, insting, keinginan, dan lain-lain. Adapun determinasi yang merupakan nilai dari obyek dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu berasal dari dalam diri individu seperti dijumpai pada kepuasan kerja, tanggung jawab, disiplin; dan berasal dari luar individu seperti halnya yang dijumpai ketika seseorang mengharapkan perolehan status dan uang.
Membangkitkan kebanggaan Banyumas yang telah lama runtuh memang tidaklah mudah. Namun kesadaran individu maupun kolektif wong Banyumas yang lambat laun mulai tumbuh dapat menjadi modal yang sangat berharga untuk membangun serpihan-serpihan tersebut ke dalam sebuah ‘bangunan’ identitas Banyumas dengan warna kekinian. Setijanto menyatakan bahwa ketika Unsoed mulai menggarap lengger dalam bentuk paket-paket pementasan dengan durasi terbatas, banyak orang mencibir dan berpendapat sebagai tindakan bodoh dan sia-sia[2]. Pendapat serupa diungkapkan oleh Darkam Anom Sugito, “Ketika pada tahun 1978 Pemerintah Kabupaten/Dati II Banyumas mendirikan SMKI, banyak diantaranya yang yakin langkah tersebut tidak akan memberikan manfaat yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan”[3]. Semua mata kemudian terbuka ketika sejak tahun 1980-an usaha tersebut mulai tampak hasilnya. Berbagai ragam kesenian tradisional mulai mendapat tempat di hati masyarakat pemiliknya.
Usaha membangkitkan kembali identitas Banyumas tidak lain adalah membangkitkan totalitas karakter yang tinggal menetap di dalam setiap diri pribadi masyarakat Banyumas dalam konteks kebudayaan dan peradaban masa kini dan masa yang akan datang. Nilai-nilai budaya sebagaimana tercermin melalui ide-ide, tindakan-tindakan maupun hasil karya dari tindakan-tindakan diharapkan dapat ditampakkan pada ‘tampilan perwajahan’ yang dapat diketahui kehadirannya melalui panca indera serta keseluruhan karakter yang lebih bersifat psikologis. Dengan demikian Banyumas sebenarnya bukan sekedar menunjuk wilayah, tetapi juga manusia, sekaligus mind set manusia yang menghuni wilayah tersebut.
Tampilan dan karakter kebudayaan Banyumas sebagai kebudayaan kaum penginyongan paling mudah dijumpai melalui bahasa dan kesenian lokal yang tumbuh di wilayah ini. Bahasa yang digunakan dalam kehidupan masyarakat Banyumas adalah bahasa Jawa dialek Banyumasan yang bercirikan ‘ngapak-ngapak´. Sedangkan pada wujud kesenian dapat dilihat karakter eskpresi keindahan estetik masyarakat Banyumas yang diwujudkan dalam pola dan bentuk yang sederhana serta tampil apa adanya. John Blacking mengemukakan bahwa musik dapat menjadi dan digunakan sebagai suatu simbol identitas kelompok, dengan mengabaikan strukturnya; dan struktur musik dapat demikian manakala kondisi memerlukan untuk menghasilkan hubungan dan perasaan antar orang-orang yang memungkinkan berpikiran positif dan tindakan di lapangan yang bukan musik (John Blacking, 1995:198). Ini berarti melalui tampilan suatu bentuk kesenian, sebuah kelompok sosial memungkinkan mengungkapkan identitas mereka. Di sini ragam kesenian hadir sebagai wujud gambaran diri pribadi ataupun kelompok sosial masyarakat pendukungnya.
Di kalangan pemerintahan juga dilakukan berbagai upaya untuk mewujudkan identitas lokal Banyumas. Salah satunya adalah melalui motto SATRIA (Sejahtera, Adil, Tertib, Indah dan Aman) pada tahun 1987[4] telah dijadikan sebagai spirit bagi Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam menjalankan roda pemerintahannya. Secara heuristik motto tersebut memiliki pengertian adanya keinginan mewujudkan Kabupaten Banyumas sebagai daerah yang sejahtera, adil, tertib, rapi, indah dan aman. Di luar itu semua, secara hermeneutik, motto SATRIA memiliki pengertian adanya keinginan meniru seseorang tokoh yang dalam hidupnya senantiasa melakukan dharma membela kebenaran dan keadilan, ambirat dur angkara (membasmi tindakan tercela). Dengan demikian melalui motto SATRIA terungkap keinginan Pemerintah Kabupaten Banyumas menerapkan darma seorang ksatria dalam mewujudkan tatanan pemerintahan yang sejahtera, adil, tertib, indah dan aman. Sekalipun motto semacam ini seringkali hadir lebih sebagai tulisan di atas kertas dan sekedar kelengkapan administrasi, namun demikian semua itu dapat diperoleh gambaran bahwa Pemerintah Kabupaten Banyumas memiliki niat positif membangun kawasan Banyumas melalui pola pembangunan yang berwawasan identitas budaya.
Wujud keinginan Pemerintah Kabupaten Banyumas melaksanakan pembangunan yang berwawasan identitas budaya kembali tercermin pada visi Kabupaten Banyumas tahun 2002-2006 yang berbunyi, “Kabupaten Banyumas mampu mewujudkan masyarakat yang sejahtera, terpenuhinya pelayanan dasar secara adil dan transparan, yang didukung dengan pemerintahan yang baik dan aparat yang bersih dengan tetap mempertahankan budaya Banyumasan.” Penuangan term “tetap mempertahankan budaya Banyumasan” pada visi ini menunjukkan intensitas Kabupaten Banyumas terhadap semangat identitas lokal dalam pelaksanaan pembangunan daerah. Dengan adanya visi yang demikian ini tentu saja membawa konsekuensi logis dalam pelaksanaan pembangunan daerah, yakni upaya mempertahankan budaya Banyumasan menjadi salah satu tujuan pembangunan.
Pada masa sekarang ini, wujud identitas kebudayaan Banyumas yang hendak direngkuh kembali merupakan perpaduan antara konsep lama dan konsep kekinian. Konsep lama terdiri dari spirit Banyumas yang tidak lain adalah spirit masyarakat penginyongan yang tercermin pada semangat kerakyatan yang dibangun dari pola kehidupan tradisional-agraris. Sedangkan semangat kekinian dijiwai oleh nilai-nilai modernisme yang berakar pada konsep berpikir yang rasional, efektif, efisien dan terstruktur. Semua itu diarahkan pada terciptanya kebudayaan Banyumas yang mengindonesia serta berorientasi ke depan sebagai sebuah kelompok masyarakat yang berbudaya dan bermartabat dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal yang merupakan warisan nenek-moyang yang telah menjadi pedoman hidup secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu contoh kasus dapat dilihat pada musik kenthongan yang mencapai puncak perkembangannya pada dekade tahun 1990-an. Masyarakat Banyumas secara bersama-sama menuangkan minat estetik melalui pertunjukan musik yang mereka anggap mewakili wong Banyumas. Melalui musik ini seolah-olah mereka sedang menunjukkan bangkitnya kembali semangat penginyongan yang memiliki ciri utama cablaka, egaliter dan kebersamaan. Secara sadar mereka ingin membangun suatu bentuk wujud identitas Banyumasan dengan memadukan nilai-nilai tradisional dengan hal-hal yang bersifat kekinian yang dijiwai oleh semangat modernisme dan budaya pop. Di dalamnya ada semacam usaha revitalisasi nilai-nilai dan spirit Banyumas yang ada di masa lalu, kemudian melakukan rekonstruksi ke dalam wujud baru yang dijiwai semangat kekinian.
Melalui pertunjukan musik kenthongan, masyarakat Banyumas seakan-akan tengah melakukan show of force (unjuk kekuatan) tentang eksistensi mereka sebagai sebuah komunitas masyarakat yang mempunyai identitas lokal dan tetap mempertahankannya tanpa harus alergi terhadap perubahan. Hal demikian penting untuk dikaji lebih lanjut, karena usaha mewujudkan identitas bagi suatu komunitas masyarakat memiliki makna yang substansial di tengah perubahan jaman yang hadir sebagai sebuah keniscayaan (Sjafri Sairin, 1997:2).[5] Usaha mewujudkan identitas Banyumas yang kini tengah menggejala, bukan tidak mungkin menjadi titik balik bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Banyumas pada masa yang akan datang.
Apa yang terjadi pada musik kenthongan di atas merupakan wujud perjuangan identitas melalui kesenian. Jennifer Lindsay menyatakan bahwa kesenian tradisional menjadi suatu ciri dalam identitas serta cermin kepribadian masyarakat pendukungnya (Jennifer Lindsay, 1991:39). Pendapat Jennifer Lindsay menunjukkan adanya kekuatan di dalam kesenian tradisional yang mampu mewadahi totalitas karakter individu dan kelompok masyarakat pendukungnya. Hal ini sebagaimana dikemukakan Umar Kayam menjelaskan kesenian tradisional lahir dalam lingkungan kelompok suatu daerah serta memiliki corak dan gaya yang mencerminkan pribadi masyarakat daerahnya (Umar Kayam, 1981:60). Berbagai ragam kesenian tradisional memang umumnya memiliki jangkauan yang terbatas pada lingkungan kultur yang menunjang. Namun karena itu pulalah sebuah bentuk kesenian tradisional mencerminkan suatu kultur masyarakatnya. Keberadaan kesenian tradisional yang tercipta secara anonim bersama dengan sifat kolektivitas masyarakat pemiliknya, kemudian menjadi bagian dari suatu kosmos kehidupan yang bulat yang tidak terbagi-bagi dalam pengkotakan spesifikasi.
[1] J.W. Schoorl (1988) menyebutkan bahwa aspek yang paling spektakuler dalam modernisasi sesuatu masyarakat ialah pergantian teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-cara modern, yang tertampung dalam pengertian revolusi industri.
[2] Wawancara: 21-6-2005.
[3] Darkam Anom Sugito, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas, wawancara tanggal 20 Juni 2005. Darkam Anom Sugito adalah salah seorang pendiri SMKI Pemda Banyumas dan pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah pada periode tahun 1990-1995.
[4] Motto SATRIA tercetus pada masa pemerintahan Bupati Djoko Sudantoko yang terinspirasi dari motto Solo Berseri yang diterapkan oleh Kota Madya Surakarta. Motto tersebut selanjutnya dituangkan di dalam Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 1987 tentang Motto Kabupaten Banyumas.
[5] Baca juga: J.W. Schrool, 1988, ibid, hal. 1; Parsudi Suparlan, 1988, Kebudayaan dan Pebangunan, MGMP Sosiologi dan Antropologi, Jakarta, hal. 9.

ORDE BARU: ANTARA MADU DAN RACUN BAGI KESENIAN BANYUMAS


Baca Selengkapnya...
Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia untuk masa jabatan 5 tahun. Sejak itu pula Orde Baru secara resmi dimulai dan berakhir pada tahun 1998. Wikipedia menuliskan bahwa selama masa pemerintahannya, Presiden Soeharto memilih perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya serta struktur administratif yang didominasi militer (Wikipedia Indonesia,2006). Kebijakan tersebut dilaksanakan melalui eksploitasi alam secara besar-besaran serta usaha mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Hasilnya sangat fantastis. Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000 (Wikipedia Indonesia,2006). Pemerataan dan atau penyebaran penduduk antar wilayah dilakukan melalui program transmigrasi. Pengendalian jumlah penduduk dilakukan melalui program Keluarga Berencana yang berlaku secara nasional.
Di awal kekuasaannya, Orde Baru menghadapi Indonesia yang traumatis. Saat itu Indonesia tengah mengalami keterpurukan di berbagai sektor kehidupan sebagai akibat terjadinya prahara politik. Berbagai sektor riil seperti ekonomi, politik, sosial, dan budaya, serta psikologis, berada dalam situasi yang sangat rentan. Keadaan demikian kemudian dijadikan formula bagi Orde Baru untuk menerapkan kebijakannya; pemulihan atau normalisasi secepatnya. Jika tidak, kondisi bangsa akan kian berlarut-larut dalam ketidakpastian dan pembangunan nasional akan semakin tertunda (delayed) (Anton Tabah,2006). Hal tersebut dapat dimengerti karena pada awal lahirnya Orde Baru, Indonesia baru saja mengalami peristiwa yang sangat memilukan sebagai akibat terjadinya pemberontakan PKI yang lazim disebut Gestapu (Gerakan September tanggal 30) atau Gestok (Gerakan satu Oktober).[1]
Di bidang politik diterapkan melalui kekuatan tunggal Golongan Karya (Golkar). Pengetahuan berorganisasi memang telah dihancurkan sejak peristiwa pemberontakan PKI pada tahun 1965. Pemerintahan Soeharto membubarkan puluhan partai maupun organ sektoralnya menjadi tiga partai yang telah mereka tentukan, yaitu Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrasi Indonesia, dan Golongan Karya (Linda Christanty,2002). Dalam hal ini Golongan Karya dijadikan sebagai kekuatan tunggal yang menopang kontinuitas pemerintahan Orde Baru. Oleh karena itu agar kekuatan Orde Baru tidak tergoyahkan, rakyat kemudian ditekan agar memilih Partai Golongan Karya yang dilakukan secara langsung maupun tak langsung.
Fakta membuktikan bahwa paling kurang 80% rakyat Indonesia dalam tiap pemilu selalu mencoblos Partai Golongan Karya (Wikipedia Indonesia,2006). Pemilu sepanjang masa kekuasaan Orde Baru sama sekali bukan realitas demokrasi, karena tujuannya adalah untuk melanggengkan kekuasaan dan tidak ada ruang bagi terjadinya rotasi kekuasaan. Pemilu sekadar berperan sebagai pembuat kesan demokrasi pada zaman Orde Baru. Seorang antropolog Amerika ahli Indonesia, John Pemberton menyebut pemilu zaman Orde Baru ibarat pesta perkawinan (Hasyim Asy'ari, 2004). Di dalam pesta perkawinan selalu ada mempelai, pesta yang hingar-bingar, disediakan aneka hidangan, dihadiri oleh banyak orang, melibatkan banyak orang untuk menyelenggarakan perhelatan dan diramaikan oleh panggung-panggung atraksi kesenian. Kebijakan politik yang demikian telah mengantarkan Soeharto untuk dilantik sebagai Preside RI secara berturut-turut pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.
Orde Baru membiakkan militerisme dan fasisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Pemerintahan saat itu dilakukan dengan mengabaikan kebebasan sipil, termasuk kebebasan berekspresi, beragama, berserikat dan sebagainya (Andreas Harsono,2006). Yang muncul berjaya adalah militerisme. Upacara dan baris-berbaris, indoktrinasi P4, penyeragaman kurikulum, asas tunggal dalam politik, pelarangan kegiatan kesenian hanyalah beberapa contoh dari kuatnya semangat militerisme saat itu (Alex. Supartono et al,2003). Ini merupakan model politik dehumanisasi yang menjadi salah satu “kelebihan” pemerintahan Orde Baru. Rakyat lebih sekedar berposisi sebagai obyek pembangunan yang berada dalam sebuah jaringan yang digerakkan dari pusat dengan model top down. Ibarat sebuah perangkat mekanik, ketika pemerintah pusat memencet tombol, maka seluruh jaringan harus berfungsi. Jaringan yang tidak berfungsi dengan baik maka harus rela dicopot dan diganti dengan jaringan baru yang memungkinkan bekerja sesuai dengan pusat kendali.
Pada masa Orde Baru kebudayaan tidak lagi dimengerti sebagai jaringan makna (Clifford Geertz,1973) yang melibatkan kerja otak, aktivitas dan hasil aktivitas manusia ((Koentjaraningrat,1984)). Kebudayaan yang dikembangkan pada masa itu lebih berorientasi pada kebudayaan fisik yang dipertuntukkan bagi semakin kukuhnya kekuatan Soeharto sebagai Bapak Pembangunan. Model yang diterapkan dalam rangka penggarapan sektor kebudayaan adalah usaha mewujudkan kebudayaan nasional yang secara eksplisit tertuang di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Bahkan Puthut E.A. secara tegas menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Orde Baru, kebudayaan dipersempit lagi yakni hanya melulu kesenian (Puthut EA,2006). Pernyataan tersebut sebenarnya terlalu ekstrem karena penggarapan kebudayaan dalam prakteknya menjadi salah satu tugas pokok dan fungsi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mencakup delapan aspek, antara lain: (1) sejarah, (2) nilai tradisional, (3) kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (4) kesenian, (5) permuseuman, (6) kepurbakalaan, (7) bahasa, dan (8) sastra (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984). Hanya saja, program kerja kebudayaan yang meliputi delapan aspek ini dalam prakteknya lebih didominasi oleh program kerja kesenian.
Dominasi program kerja kesenian dalam penggarapan kebudayaan pada masa Orde Baru sangat masuk akal karena tingkat pengetahuan pejabat waktu itu lebih banyak didasari oleh apresiasi kesenian yang merupakan salah satu wujud kebudayaan yang paling mudah dirasakan kehadirannya. Tingkat pengetahuan pejabat terhadap kebudayaan yang demikian menjalar kepada bawahan yang kemudian menjalar pula ke masyarakat. Akhirnya terjadi pemahaman yang keliru, menyamakan pengertian kebudayaan dengan kesenian.
Kesenian, selama pemerintahan Soeharto memang memiliki peran yang cukup dominan. Pertautan antara seni dengan politik kekuasan sangat kuat yang terlihat dari artefak-artefak visual yang memposisikan seni sebagai bagian dari pilar kekuasaan. Politik senantiasa menjadi raja atau panglima dan kesenian menjadi (dianggap) sebagai pasukan yang kadang dijadikan ujung tombak. Kenyataan demikian telah membenarkan pernyataan Acep Zamzam Noor bahwa kesenian banyak dijadikan sebagai tunggangan, corong, bahkan tisue untuk mengkilapkan kembali panggung ataupun tokoh dan partai politik. Banyak di antara seni tradisional dan modern yang dibebani jargon partai politik tertentu. Kesenian telah dijadikan media untuk mengolah massa ke dalam idiom-idiom yang membodohkan (Acep Zamzam Noor,2004:2004). Hal ini dapat dilihat pada beberapa fenomena, misalnya kampanye politik dalam rangka pemenangan Golongan Karya pada setiap pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) dan kampanye program-program pembangunan.
Kehadiran kesenian pada kegiatan tersebut terbukti telah semakin memperkokoh kekuatan Golongan Karya dalam menyampaikan program-programnya pada masa kampanye menjelang Pemilu. Sementara itu berbagai macam program pemerintah seperti Keluarga Berencana (KB), transmigrasi dan pemasyarakatan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), dengan cepat dapat dikomunikasikan kepada masayrakat sesuai dengan harapan Pemerintah.
Dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan kesenian di Banyumas, masa kekuasaan Orde Baru memiliki makna tersendiri. Pada masa inilah, berbagai kesenian khas Banyumas mendapat kesempatan tumbuh-berkembang mewarnai kehidupan masyarakat setempat. Namun demikian suasana kondusif ini tidak begitu saja terjadi semenjak awal Orde Baru. Hingga paruh pertama dekade tahun 1970-an, Pemerintah Kabupaten/Daerah Tingkat (Dati) II Banyumas lebih berkonsentrasi mengembangkan ragam seni tradisi yang berasal dari Surakarta-Yogyakarta yang dianggap memiliki nilai adiluhung.
Suhardi RS. menerangkan bahwa hingga awal dekade tahun 1970-an beberapa ragam kesenian rakyat di Banyumas dilarang dipentaskan.[2] Paling tidak ada dua alasan yang mendasari pelarangan pementasan kesenian rakyat. Pertama, trauma masa lalu. Pada masa revolusi banyak di antara kesenian rakyat di daerah ini direkrut atau dicurigai direkrut oleh Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang merupakan underbow PKI. Kedua, adanya penilaian rendah terhadap hal-hal yang berbau “rakyat”. Ragam kesenian tradisional seperti lengger, calung, ebeg, aplang dan lain-lain dianggap kesenian bermutu rendah sehingga tidak pantas dikembangkan atau bahkan dipentaskan di Pendopo Kabupaten.
Selain kedua alasan di atas, pada saat itu pegawai di Kabin Kebudayaan[3] dan pejabat lain yang memiliki kepedulian terhadap bidang kebudayaan banyak di antaranya yang berasal dari wilayah Surakarta-Yogyakarta atau pernah mengenyam pendidikan Konservatori di kedua daerah itu. Beberapa tokoh yang berperan di antaranya adalah Koeswondo, Hardi Sarsono, Kamaru Samsi, Suhardi RS., Sadino AS.[4] dan Sardjono[5]. Banyaknya tokoh yang berasal dari Surakarta memungkinkan memberikan pengaruh pada skala prioritas kegiatan kebudayaan yang lebih terkonsentrasi pada penggarapan kesenian gaya Surakarta seperti wayang kulit, wayang wong, karawitan dan tari gaya Surakarta.
Kesenian tradisional Banyumas mulai terangkat sejak tumbuhnya kesadaran tentang pentingnya tradisi lokal dalam menciptakan apa yang disebut sebagai “puncak-puncak kebudayaan daerah” guna mewujudkan kebudayaan nasional sebagaimana tertuang di dalam GBHN. Pemerintah mulai menganggap penting berbagai ragam kesenian tradisional yang hidup di daerah-daerah. Ini tercermin pada pola penggarapan kebudayaan yang lebih serius dengan terbutnya SK Mendikbud RI Nomor 079/O/1975 tanggal 17 April 1975 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
SK ini merupakan perubahan dari SK Mendikbud Nomor: 0141/1969 dan 0142/1969 tanggal 25 Nopember 1969 tentang Struktur Organisasi Kantor Pembinaan. Dengan berlakunya SK yang terakhir ini, kemudian Depdikbud mengalami reorganisasi dari yang semula perwakilan Depdikbud di tingkat Kabupaten terpecah menjadi Kabin-Kabin[6], diubah menjadi Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Urusan kebudayaan ditangani oleh Seksi Kebudayaan yang dikepalai oleh seorang Pejabat Struktural Kepala Seksi Kebudayaan. Di tingkat Kecamatan ada seorang petugas yang secara khusus bertugas mengurusi persoalan kebudayaan, yaitu Penilik Kebudayaan. SK Mendikbud RI Nomor: 079/O/1975 kemudian diperbaharui oleh SK Mendikbud RI Nomor 0173/O/1983 tanggal 14 Maret 1973 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Veritkal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Kesadaran tentang pentingnya keberadaan aspek-aspek kebudayaan lokal, termasuk di dalamnya kesenian rakyat, kian marak di lingkungan lembaga pemerintah, organisasi kemasyarakatan maupun perorangan. Tanggal 11 Maret 1978 Pemerintah Kabupaten/Dati II Banyumas secara resmi mendirikan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) dengan nama SMK Pemda Banyumas yang membuka dua jurusan, yaitu Jurusan Seni Tari dan Jurusan Seni Karawitan. Melalui kedua jurusan ini, SMKI selain melaksanakan pembelajaran seni tari dan karawitan tradisi gaya Surakarta-Yogyakarta, juga seni tari dan karawitan gaya Banyumas. Saat itulah mulai diciptakan karya-karya tari garapan baru gagrag Banyumas yang bersumber dari berbagai ragam kesenian tradisional di daerah ini yang menjadi bahan ajar pada Jurusan Seni Tari. Sementara pada Jurusan Seni Karawitan diajarkan gendhing-gendhing Banyumasan dengan menggunakan perangkat gamelan gedhe dan calung.
Pada tahun 1978 Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto juga mulai menggarap karya tari Banyumasan yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen. Setijanto, seorang dosen di Fakultas Biologi yang menyukai seni tari, mencoba menuangkan ide-ide kreatifnya melalui media seni tari dengan mengambil sumber garapan kesenian lengger dan menggunakan perangkat musik calung Banyumasan.[7] Karya tari yang berhasil diciptakan antara lain Tari Singgang, yang mengambil falsafah tunas batang padi.
Beberapa tokoh seniman tari yang berhasil menggubah karya-karya tari garapan baru gagrag Banyumasan pada periode ini antara lain: (1) Supriyadi dengan karya-karyanya Baladewan, Surung Dayung dan Cepet-cipit; (2) Suhartoyo (Gambyong Banyumasan); (3) Suwarno (Pasihan); (4) Atmono (Baladewan, bersama Supriyadi) (Sri Multiyah Susanti,2005:2). Pada periode ini mulai digarap pula cerita-cerita khas Banyumas dalam bentuk sendratari. Misalnya Sendratari Kamandaka oleh Kamaru Samsi, yang digarap dengan menggunakan teknik garap tari gaya Surakarta.
Di masyarakat bertebaran seniman-seniman kreatif yang mengembangkan ragam kesenian tradisional Banyumas, antara lain Rasito, Parta, S. Bono, Kunes, Suryati, Sugino, Sugito, Kampi dan lain-lain. Dari nama-nama tersebut, beberapa di antaranya adalah tokoh seni karawitan, yaitu Rasito, Parta, Kasbi, S. Bono, Kunes dan Suryati. Tokoh Rasito, Parta dan S. Bono adalah seniman karawitan yang selain memiliki kemampuan garap, juga memiliki ide-ide kreatif menciptakan pola garap dan juga gendhing-gendhing bernuansa Banyumasan. Sementara Kunes dan Suryati merupakan dua tokoh sindhen Banyumas yang memiliki nama besar di antara sederet nama-nama sindhen Banyumas yang lain. Beberapa tokoh seni karawitan ini telah berhasil membawa seni karawitan gagrag Banyumasan ke panggung yang lebih luas dalam pertumbuhan dan perkembangan jagad kesenian di Banyumas. Mereka berhasil membawa seni karawitan ke produksi rekaman kaset dengan menggunakan perangkat gamelan gedhe dan calung.
Sugino dan Sugito adalah dua tokoh dhalang terkenal di wilayah sebaran budaya Banyumas. Kedua tokoh ini sama-sama mengembangkan sajian pakeliran wayang kulit purwa gagrag Banyumasan dengan versi masing-masing. Sugino lebih mengandalkan warna kerakyatannya, sementara Sugito lebih mengandalkan nilai filosofi yang terkandung di dalam pertunjukan wayang kulit. Namun demikian keduanya sama-sama memiliki warna khas yang menunjukkan kentalnya warna Banyumasan dalam setiap pertunjukannya. Warna Banyumasan tersebut ditunjukkan melalui ragam cerita, dialog antar tokoh wayang, antawacana, sulukan, dhodhogan, keprakan, iringan dan gaya individu di atas panggung. Kedua dhalang ini berhasil membawa pakeliran wayang kulit gagrag Banyumas sebagai sajian kesenian yang digemari oleh masyarakat Banyumas, baik dalam bentuk pertunjukan langsung maupun dalam bentuk rekaman pita kaset.
Kampi adalah tokoh penari lengger yang berasal dari daerah Banjarwaru, Cilacap. Tokoh ini mengembangkan gaya sajian pertunjukan lengger dengan dengan ekspresi individu yang sangat menonjolkan warna sajian Banyumasan, baik melalui ragam gerak tarian, sindhenan, senggakan, gendhing yang disajikan, perangkat musik calung yang digunakan, kostum yang dikenakan dan lain-lain. Atas peran Kampi inilah, pertunjukan lengger yang hingga awal dekade tahun 1970-an hampir punah dapat berkembang pesat lagi sebagai pertunjukan rakyat yang sangat digemari oleh berbagai kalangan, baik di kota maupun di desa. Di tangan lengger ini pula, mula-mula pertunjukan lengger direkam dalam bentuk pita kaset yang diedarkan secara meluas di dalam maupun di luar wilayah sebaran budaya Banyumas.
Cikal bakal pertumbuhan kesenian Banyumas yang diawali pada paruh kedua dekade tahun 1970-an ini semakin mencapai puncaknya pada era tahun 1980-an. R. Anderson Sutton bahkan mencatat era tahun 1980-an sebagai, “... the modern democratic era has at least provided an atmosphere more condutive to the wide acceptance of arts seen by some as “folk”.” (... era demokrasi modern yang memberikan atmosfer lebih kondusif terhadap penerimaan yang lebih luas bagi ragam kesenian yang dipandang sebagai "rakyat" (R. Anderson Sutton,1991:71). Catatan Sutton didasarkan pada kenyataan bahwa banyak di antara kesenian rakyat Banyumas seperti calung, lengger dan ebeg yang pada saat itu berkembang cukup pesat. Terlebih lagi dengan lahirnya SMKI yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Kesenian rakyat yang semula hanya hidup di daerah pedesaan saat itu mulai dipentaskan di Pendopo Kabupaten serta digunakan untuk misi kesenian dan diikutkan pada festival-festival seni.
Kondisi yang dialami ragam kesenian Banyumas pada era tahun 1980-an menunjukkan peningkatan perkembangan, baik secara kualitas maupun secara kuantitatif. Edi Sedyawati berpendapat bahwa menyatakan bahwa perkembangan dalam arti kualitatif berarti mengolah dan memperbaharui wajah pertunjukan itu ke arah kualitas yang lebih baik. Sedangkan perkembangan dalam arti kuantitatif berarti membesarkan volume penyajian dan meluaskan wilayah pengenalannya (Edi Sedyawati,1982:50-51). Fakta demikian sangat nyata dalam pertumbuhan kesenian Banyumasan di erah tahun 1980-an. Pada dekade ini, seniman Banyumas semakin yakin terhadap potensi kesenian Banyumas memiliki nilai jual dan bargaining power di antara ragam kesenian lain. Berbagai peristiwa penting yang membawa nama daerah senantiasa menyertakan kesenian Banyumasan di dalamnya, misalnya: penyambutan tamu Pemerintah Kabupaten/Dati II Banyumas, misi kesenian, keikutsertaan dalam lomba dan atau festival seni, pertunjukan apresiasi seni dan lain sebagainya.
Di antara pertumbuhan dan perkembangan berbagai ragam kesenian tradisional Banyumas, kekuatan Orde Baru sangat nampak di dalamnya. Kekuatan politik kekuasaan Orde Baru sangat mewarnai keberadaan aneka ragam kesenian seperti wayang kulit, ebeg, lengger, calung dan lain-lain. Berbagai ragam kesenian ini dijadikan sebagai media penyampaian pesan pemerintah dalam mengkampanyekan berbagai program politik dan program pembangunan agar secara cepat ditangkap dan dimengerti oleh rakyat.
Pada saat menjelang dilaksanakan Pemilihan Umum, berbagai ragam kesenian tradisional di Banyumas seakan-akan mendapatkan angin segar, mendapat kesempatan khusus dari Pemerintah untuk dipentaskan di ajang kampanye politik. Golongan Karya yang merupakan kendaraan politik penguasa Orde Baru dalam menjalankan dan mempertahankan kekuasaannya, senantiasa menggunakan berbagai ragam kesenian tradisional Banyumas sebagai kendaraan dan media yang sangat efektif guna meraih massa sebanyak-banyaknya. Kesenian yang dipentaskan untuk keperluan itu umumnya harus rela dibayar murah dengan dalih dedikasi dan loyalitas. Dalam pertunjukan seniman wajib mengenakan seragam berwarna kuning; warna identitas Golongan karya. Dalam pelaksanaan pertunjukan, ide cerita, teks syair, dialog, properti hingga aksesories, semua diarahkan untuk mengajak, menunjukkan atau menggambarkan kebesaran partai berlambang beringin ini. Semua itu dilakukan dengan berbagai macam teknik mulai dari teknik verbal (Jawa: mloho), nyampar pikoleh hingga medhang miring.
Teknik verbal (mloho) biasanya dilakukan dengan kata-kata yang secara langsung menunjukkan ajakan memilih Golkar yang dijumpai pada teks syair maupun kata-kata pada dialog antar pemain dalam pertunjukan. Contoh model verbal yang dijumpai pada teks syair misalnya pada bentuk parikan (pantun Jawa) seperti berikut ini:

1. Numpak dokar jarane bigar/nyoblos Golkar pembangunan lancar (Naik dokar kudanya tidak terkendali/mencoblos Golkar pembangunan lancar)
2. Numpak dokar jarane minger/nyoblos Golkar mesthi bener (Naik dokar kudanya membelok [terkendali]/mencoblos Golkar mesti bener)
3. Maring pasar numpak sepur/milih Golkar emut sedulur (Pergi ke pasar naik sepur/memilih Golkar ingat saudara)
4. Kembar mayang kecemplung sumur/Golkar menang negarane makmur (Kembar mayang jatuh ke sumur/Golkar menang negaranya makmur)

Teks syair semacam ini biasanya dinyanyikan oleh sindhen, senggak atau pemain lainnya, baik dilakukan hanya oleh seorang maupun oleh beberapa orang. Model semacam ini sangat lazim dijumpai pada pertunjukan kesenian lengger, ebeg, buncis dan wayang kulit. Tujuannya adalah mengajak masyarakat agar dalam Pemilu nantinya mereka menentukan pilihan pada Golkar.
Teknik nyampar pikoleh adalah teknik penuangan gagasan melalui cara-cara yang tidak langsung. Misalnya dalam pertunjukan lengger disajikan fragmen drama tradisional (mirip kethoprak) dengan menyajikan penggalan cerita pengangkatan Raden Joko Kahiman menjadi Adipati Wirasaba oleh Sultan Hadiwijaya di Kerajaan Pajang. Pada saat prosesi ritual pengangkatan Adipati tersebut, Sultan Hadiwijaya dengan lantang mengucap, “Sun tetepake Joko Kahiman minangka Adipati ana ing Wirasaba kanthi ajejuluk Kanjeng Adipati Warga Utama ingkang kaping loro” (saya tetapkan Joko Kahiman sebagai Adipati di Wirasaba dengan nama sebutan Kanjeng Adipati Warga Utama II). Pada adegan itu, kata “kaping loro” (kedua) diucapkan secara lantang dengan menunjukkan dua jari yang dimaksudkan untuk secara tidak langsung mengatakan “Golongan Karya adalah kontestan Pemilu nomor 2 (dua)”.
Teknik medhang miring adalah teknik penyampaian sesuatu ide atau gagasan melalui sebagian atau keseluruhan pertunjukan yang identik dengan maksud yang ingin disampaikan. Dalam hal ini penonton harus dengan kreatif mencari makna apa yang ingin disampaikan dalam pertunjukan itu. Misalnya, dalam pertunjukan lengger disajikan pethilan atau fragmen drama tradisional dengan mengambil cerita Andhe-andhe Lumut. Dalam sajian itu diketengahkan ada tiga orang putri yang bermaksud ingin meminang seorang perjaka bernama Andhe-andhe Lumut. Ketiga orang putri itu bernama Kleting Abang, Kleting Kuning dan Kleting Ijo. Pada akhir cerita dikisahkan pinangan Kleting Kuninglah yang diterima oleh Andhe-andhe Lumut. Di sini penonton secara kreatif akan menerjemahkan makna pementasan tersebut, bahwa yang dimaksudkan dengan Kleting Abang adalah PDI, Kleting Kuning adalah Golkar dan Kleting Ijo adalah PPP. Pementasan cerita Andhe-andhe Lumut pada pertunjukan tersebut dimaksudkan meyakinkan kepada masyarakat bahwa dari ketiga kontestan yang ada, Golkarlah yang akan mencapai kesuksesan memenangkan Pemilu.
Teknik-teknik verbal, nyampar pikoleh maupun medhang miring juga lazim dijumpai dalam mengkampanyekan program Keluarga Berencana, transmigrasi, pemasyarakatan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dan ajakan masyarakat dalam pelaksanaan program pembangunan. Dalam pertunjukan kesenian tradisional di Banyumas sering sekali dijumpai teks-teks syair dalam bentuk parikan antara lain:

1. Pasar Wage Purwakerta/melu KB sejahtera (Pasar Wage Purwakerta, ikut KB sejahtera)
2. Lunga nempur karo tuku trasi/kepengin makmur transmigrasi (Pergi membeli beras dan membelu trasi/ingin makmur transmigrasi)
3. Njagong sila ura-ura/Pancasila dasar negara (Duduk bersila sambil menyanyi/Pancasila dasar negara)
4. Nandur jae nang galengan/nyambut gawe bebarengan (Menanam jahe di pematang/bekerja bersama-sama)

Contoh-contoh teks syair tersebut berbentuk parikan yang berisi indoktrinasi kepada masyarakat agar mengikuti kebijakan pemerintah. Teks syair tersebut harus dinyanyikan oleh penayagan, sindhen, badhud, dhagelan, lengger ataupun dhalang dalam pertunjukan mereka. Seniman yang tidak bersedia melagukan teks-teks semacam itu dianggap sebagai seniman yang tidak loyal kepada pemerintah. Konsekuensinya mereka akan dipersulit dalam pengurusan ijin pertunjukan yang dilakukan melalui Kantor Depdikbud dan pihak kepolisian setempat.
Demikian adanya, masa pemerintahan Orde Baru bagai madu sekaligus racun bagi pertumbuhan dan perkembangan kesenian tradisional di Banyumas. Selama era ini berbagai ragam kesenian rakyat yang semula hanya menjadi milik masyarakat pedesaan, dapat hidup dalam suasana yang lebih baik, diterima oleh masyarakat desa dan kota. Namun demikian kreativitas seniman cenderung dibelenggu dan diarahkan demi kepentingan politik kekuasaan. Menjadi seniman berarti harus siap menjadi corong pemerintah. Menjadi seniman juga berarti harus menjadi seorang penurut yang bekerja sesuai dengan keinginan pemerintah. Banyak seniman yang merasa bangga dengan kondisi ini. Tetapi tidak kurang seniman yang merasa kreativitasnya dipenjarakan sehingga merasa perlu protes meski dengan konsekuensi tidak diberi ruang gerak yang bebas. Kasus yang dapat dicontohkan di sini adalah dhalang Ki Suyud Hadiwinoto yang berafiliasi ke PDI telah dipersulit untuk melakukan pementasan sehingga harus merelakan dirinya menghentikan profesi yang telah lama dijalani. Ini hanya satu contoh di antara kasus-kasus lain yang banyak terjadi di Banyumas selama masa pemerintahan Orde Baru.
[1] Asvi Warman Adam (2003) menyebutkan bahwa Gestok adalah istilah yang digunakan oleh Presiden Sukarno untuk menyebut gerakan yang terjadi pada dinihari tanggal 1 Oktober 1965 yang melakukan penculikan terhadap beberapa orang Jenderal. Pelaku peristiwa itu sendiri menamakan dirinya “Gerakan 30 September” tetapi pentolan Angkatan Darat menyebutnya “Gestapu” agar bisa diasosiasikan masyarakat dengan Gestapo Jerman yang kejam itu.
[2] Wawancara: 20-4-2006.
[3] Kabin Kebudayaan Kabupaten/Dati II Banyumas merupakan tangan panjang dari Kantor Perwakilan Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 0141/1969 dan 0142/1969 tanggal 25 Nopember 1969 tentang Struktur Organisasi Kantor Pembinaan.
[4] Koeswondo dan Hardi Sarsono adalah tokoh asli Banyumas yang sangat menggemari seni tari dan wayang orang gaya Surakarta. Jabatan terakhir Koeswondo adalah Kepala Kabin Kebudayaan. Sementara jabatan terakhir Hardi Sarsono adalah Kasi Kebudayaan. Kamaru Samsi adalah tokoh kebudayaan asal Kabupaten Tegal yang pernah menjabat sebagai Kasi Kebudayaan. Sedangkan Suhardi RS. dan Sadino AS. merupakan pegawai pada Kabin Kebudayaan yang kesemuanya berasal dari Surakarta dan pernah menempuh pendidikan di Konservatori Karawitan Surakarta.
[5] Sardjono adalah salah satu tokoh yang sanagat berkonsentrasi mengembangkan tari tradisi gaya Surakarta. Jabatan terakhir tokoh ini adalah Wedana Jatilawang.
[6] Pada saat itu Kabin-Kabin yang merupakan tangan panjang Kantor Perwakilan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah di tingkat Kabupaten meliputi: (1) Kabin Sarpralub (Pendidikan Dasar, Prasekolah dan Luar Biasa), (2) Kabin Pendidikan Masyarakat (Penmas), (3) Kabin Pendidikan Teknik (Diktek), (4) Kabin Olahraga, dan (5) Kabin Kebudayaan.
[7] Wawancara: 7-10-2004.

Thursday, January 3, 2008

MUSIK KENTHONGAN DI TENGAH PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT BANYUMAS


Baca Selengkapnya...
Kebudayaan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu selaras dengan dinamika masyarakat pendukungnya. Munculnya perubahan kebudayaan dapat terjadi akibat faktor-faktor internal yang muncul dari dinamika yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri atau akibat pengaruh yang berasal dari luar masyarakat itu1. Faktor internal yang mengakibatkan perubahan kebudayaan adalah terjadinya perkembangan pola pikir, kebiasaan, pandangan hidup serta berbagai kepentingan kelompok manusia di dalam wadah komunitas masyarakat yang menjadi pendukung kebudayaan itu. Adapun faktor eksternal perubahan kebudayaan terjadi sebagai akibat terjadinya penyebaran kebudayaan dari individu ke individu lain dalam satu masyarakat atau dari suatu masyarakat ke masyarakat lain dalam wacana difusi kebudayaan2.

Kebudayaan Banyumas yang semula berkembang di lingkungan masyarakat yang berpola kehidupan tradisional-agraris, pada gilirannya tidak lepas dari perubahan-perubahan seiring dengan perkembangan jaman yang mengarah pada pola modern-teknologis. Proses perubahan semacam ini menurut Parsudi Suparlan terjadi melalui substitusi (penggantian unsur-unsur yang lama oleh unsur-unsur yang baru secara fungsional dapat diterima oleh unsur-unsur lainnya) atau hilangnya unsur atau seperangkat unsur tanpa ada gantinya. Perubahan juga dapat terjadi melalui penambahan unsur-unsur baru dalam kebudayaan tanpa menghilangkan unsur-unsur yang sudah ada dalam kebudayaan tersebut3.

Perubahan sosial di daerah Banyumas telah memberikan imbas terhadap hampir semua aspek kehidupan masyarakatnya, tidak terkecuali di bidang kesenian. Akhir-akhir ini di Banyumas tengah terjadi booming perkembangan musik kenthongan. Pada mulanya kenthongan dalam kehidupan masyarakat tradisional merupakan alat atau sarana komunikasi. Kini alat tradisional ini telah menjadi salah satu bentuk musik alternatif yang sangat digemari oleh hampir semua kalangan, baik tua maupun muda. Musik kenthongan yang sering juga disebut dengan istilah musik thek-thek dan atau themling tumbuh di hampir setiap desa, bahkan RW (Rukun Warga), dalam bentuk-bentuk perkumpulan dengan anggota antara 40-65 orang tiap grup.

Data Kesenian Kabupaten Banyumas Tahun 2004 pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas menyebutkan bahwa pada tahun 2004 perkumpulan kenthongan di daerah ini berjumlah 368 grup. Dengan rasio jumlah kecamatan di Kabupaten Banyumas sebanyak 27 buah, maka setiap kecamatan hampir mencapai lebih dari 13,6 grup. Apabila dibanding dengan jumlah desa/kelurahan di daerah ini yang berjumlah 330 desa, maka ada 1,1 grup kenthongan di setiap desa. Sesungguhnya tidak setiap desa/kelurahan ada grup-grup kenthongan, tetapi ada desa/kelurahan yang memiliki perkumpulan kenthongan tiga atau empat grup.

Keberadaan musik kenthongan di Banyumas tidak lepas dari kecenderungan perubahan masyarakat setempat yang hidup dalam era transisi budaya. Pada situasi demikian, unsur-unsur budaya lama yang berpola tradisional-agraris tidak begitu saja tergantikan oleh unsur-unsur baru yang modern teknologis. Demikian pula berbagai aturan tradisi yang cenderung mengikat sebagai bentuk kristalisasi nilai-nilai yang telah berlangsung turun-temurun, tidak begitu saja tergantikan oleh unsur-unsur baru yang berorientasi praktis-pragmatis. Hal demikian nampak sekali dalam wujud sajian musik kenthongan yang mencerminkan adanya penggabungan kedua unsur tersebut.

Pada satu sisi musik ini merupakan bentuk reproduksi dari berbagai ragam seni pertunjukan yang sudah ada sebelumnya. Di dalam musik kenthongan terdapat unsur musik tradisional calung, angklung, tari tradisional Banyumasan dan kostum yang bercorak tradisional. Namun demikian di dalamnya dapat dengan mudah dijumpai ciri-ciri tertentu yang mencerminkannya sebagai produk seni masa kini, misalnya hadirnya warna musik “pop”, modern dance dan marching band. Selain itu di dalamnya juga senantiasa dilakukan usaha-usaha inovasi yang bertujuan untuk “mempercantik diri” agar penampilannya tampak lebih menarik dan memiliki kekhasan tersendiri. Hal terakhir ini telah menyebabkan setiap grup kenthongan senantiasa berusaha tampil dengan warna penampilan yang berbeda-beda antara satu grup dan grup yang lain.

Banyumas; Open Culture

Dalam konteks kebudayaan, Banyumas bukan sekedar wilayah administratif yang dipimpin oleh seorang Bupati. Banyumas adalah wilayah kebudayaan dari suatu komunitas masyarakat yang berpola kehidupan tradisional-agraris yang telah menjadi muara berbagai ragam kebudayaan. Perjalanan kebudayaan Banyumas tidak lepas dari komunikasi lintas budaya yang melibatkan unsur-unsur budaya asing ke dalam kebudayaan masyarakat setempat. Unsur-unsur budaya asing yang telah mewarnai pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Banyumas adalah sebagaimana terpapar dalam uraian berikut.
Dua kutub budaya besar: Jawa-Sunda. Letak geografis Banyumas berada di daerah antara dua kutub budaya besar yaitu budaya Jawa dan budaya Sunda. Sebagai daerah yang berada di wilayah marginal survival, keberadaan kebudayaan Banyumas tidak lepas dari pengaruh dua kutub budaya tersebut. Pengaruh Jawa-Sunda di daerah ini dapat dijumpai pada hampir segala aspek kehidupan, terutama pada pemahaman tentang leluhur, kesenian dan bahasa.

Masyarakat Banyumas dikenal memiliki dua leluhur yang berasal dari dua alur sejarah yang berbeda, yakni Majapahit dan Pajajaran4. Raden Baribin yang dianggap menurunkan adipati-adipati Banyumas adalah adik dari Brawijaya V dari Majapahit yang menikah dengan Retna Pamekas, salah seorang putri Pajajaran. Keyakinan tentang keterkaitan Banyumas dengan Sunda bahkan sudah ada sebelum itu. Di dalam Babad Kamandaka5 disebutkan bahwa Putri Bungsu Ciptoroso, anak terakhir dari Adipati Kandandaha dari Kadipaten Pasirluhur telah menikah dengan Raden Kamandaka yang merupakan salah seorang anak Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran.

Dalam bidang kesenian, di Banyumas berkembang berbagai macam kesenian yang sangat dipengaruhi oleh kultur Jawa-Sunda. Kesenian lengger yang berkembang di wilayah sebaran budaya Jawa dengan istilah tayub, di Banyumas disebut juga dengan istilah ronggeng. Kesenian ronggeng adalah salah satu jenis seni pertunjukan tradisional yang berkembang di Jawa Barat yang notabene merupakan wilayah perkembangan budaya Sunda. Demikian pula dalam seni karawitan gagrag Banyumas dapat dijumpai ragam komposisi musikal (gendhing) yang memiliki pola balungan dan garap dari kedua kutub budaya ini.

Bahasa yang berkembang di Banyumas juga mencirikan adanya pertautan antara Jawa-Sunda di dalamnya. Bahasa Banyumasan yang sangat dipengaruhi oleh bahasa Jawa Kuno dan Pertengahan juga sangat dipengaruhi oleh bahasa Sunda. Pengaruh Sunda di sini dapat dilihat baik pada ragam kosa kata maupun aspek langue (bahasa) dan aspek parole (tuturan). Kosa kata dalam bahasa Banyumasan banyak di antaranya yang merupakan kosa kata dalam bahasa Sunda. Misalnya: penggunaan kata “ci” yang berarti sungai pada nama-nama tempat di Banyumas seperti Cilongok, Ciberem, Cionje, Cisalak dan lain-lain. Langue adalah aspek sosial bahasa meliputi tata-bahasa atau “aturan-aturan” yang ada pada ranah fonologis, morfemis, sintaksis, dan semantis. Adapun aspek parole merupakan aspek individual atau statistikal yang berkaitan dengan “gaya” atau “style” seorang individu6. Pengaruh Jawa-Sunda pada bahasa Banyumasan dibatasi oleh aliran Sungai Serayu. Di sebelah selatan dan timur aliran sungai Serayu berkembang pengaruh bahasa Jawa, sedangkan di sisi utara dan barat dipengaruhi oleh bahasa Sunda.

Kebudayaan Hindu-Budha. Kebudayaan Hindu-Budha telah memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Banyumas. Pengaruh ini dapat dilihat dari sisi fisik dan non-fisik. Pengaruh kebudayaan fisik dapat dilihat pada artefak-artefak yang dapat ditemukan di berbagai tempat di wilayah Banyumas dalam bentuk arca, lingga/palus, yoni dan lain-lain. Adapun pengaruh non fisik dapat dijumpai pada pemahaman terhadap kekuatan ghaib yang datang dari dewa-dewi.

Kebudayaan Islam. Agama Islam yang telah dianut oleh sebagian besar warga masyarakat Banyumas telah memberikan pengaruh yang begitu kuat terhadap perjalanan kebudayaan Banyumas. Di daerah ini diketahui berkembang varian Islam abangan yang umumnya berkembang di daerah-daerah pedesaan. Kuatnya pengaruh Islam abangan di daerah ini dapat dilihat pada aspek kebudayaan yang bercirikan ‘budaya membingkai agama’. Pemahaman tentang ketuhanan biasanya dibingkai dalam berbagai bentuk perilaku budaya. Selain itu, di daerah ini banyak berkembang ragam kesenian yang bernafas islami seperti dijumpai pada slawatan, angguk, aksimudha, aplang, tunil dan rodat.
Kebudayaan Kolonial. Kolonialisme Barat (baca: Belanda) yang begitu lama bercokol di Banyumas telah memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap eksistensi kebudayaan Banyumas. Pada berbagai aspek kebudayaan Banyumas dapat dijumpai kuatnya pengaruh kebudayaan kolonial. Contoh konkret untuk hal terakhir ini dapat dilihat pada kebiasaan minum (minuman keras) sebagai kelengkapan pertunjukan kesenian yang lazim disebut marungan.

Kebudayaan Barat Modern. Modernisasi yang datang dari negara-negara Barat telah memberikan pengaruh pada dinamika perkembangan kebudayaan Banyumas. Arus budaya massa sebagai bagian dari pengaruh globalalisasi telah memberikan pengaruh terhadap perkembangan pola pikir, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dampaknya dapat dirasakan pada hampir segala aspek kehidupan. Dalam bidang kesenian dapat dirasakan melalui perkembangan kesenian tradisional yang banyak menggunakan peralatan-peralatan modern dan unsur-unsur modern lainnya sebagai bagian dari kelengkapan pertunjukan. Selain itu telah lahir dan muncul ragam kesenian tandingan yang memadukan tradisi-modern di dalamnya.

Musik Kenthongan di Banyumas

Siapa mengira kenthongan akan menggegerkan masyarakat Banyumas? Dulu kenthongan hanyalah sekedar jenis peralatan tradisional bergelantungan di pos-pos ronda atau teras rumah penduduk. Kini alat ini telah berubah menjadi sarana pertunjukan yang cukup menghebohkan. Bukan hanya setahun-dua tahun. Semenjak kelahirannya sekitar tahun 1986 perkembangan musik kenthongan musik tidak surut. Pertumbuhannya kian merebak ke seluruh pelosok desa di Kabupaten Banyumas hingga mencapai kurang lebih 368 grup pada tahun 2004.

Musik kenthongan di Banyumas telah lahir dan berkembang menjadi musik yang begitu atraktif dan bergairah. Setiap grup dapat menampilkan kreativitasnya masing-masing secara bebas, tanpa aturan-aturan baku yang mengekang kreativitas. Kebebasan kreativitas inilah yang menjadi salah satu daya tarik dari musik ini. Setiap grup bisa menyederhanakan atau merumitkan teknik permainan musik sesuai dengan kemampuan dan keinginan mereka. Setiap individu bisa mengekspresikan pengalaman estetis dalam wadah pertunjukan musik yang dipadu dengan tari-tarian, atraksi badut atau bahkan cheers leader dan marching band. Benar-benar bebas, enjoy.

Musik kenthongan di Banyumas sebenarnya sudah dapat dijumpai pada awal dekade tahun 1970-an. Di wilayah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas (kurang lebih 10 km di sebelah barat Kota Purwokerto) dijumpai ada sekelompok masyarakat yang mengembangkan alat-alat kenthongan menjadi semacam perangkat musik. Caranya adalah membuat alat kenthongan dalam jumlah banyak kemudian ditabuh bersama-sama. Pada waktu itu ada yang mencoba memasukkan alat musik mirip dengan angklung yang cara membunyikannya adalah dengan memukul bilah-bilah nada di dalamnya. Selanjutnya jadilah aransemen musikal dari alat kenthongan yang dilengkapi dengan alat musik mirip angklung.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, musik kenthongan mulai tumbuh subur diawali sejak digalakkannya kegiatan Kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat) oleh jajaran Kepolisian tahun 1986. Untuk mengefektifkan program Kamtibmas, jajaran Kepolisian Daerah Jawa Tengah mewajibkan setiap rumah tangga memiliki alat kenthong yang digunakan untuk komunikasi apabila sewaktu-waktu terjadi peristiwa tertentu yang membutuhan bantuan orang lain. Pada malam hari digalakkan pula kegiatan ronda dengan istilah Siskamling (sistem keamanan lingkungan). Pada saat ronda malam, para petugas ronda membunyikan kenthongan secara terorganisir sehingga menjadi jalinan komposisi musikal yang bersifat metris tanpa melodi dengan tujuan agar tidak jenuh dalam melaksanakan jaga malam. Komposisi musikal sederhana ini lalu dijadikan sebagai sarana mengiringi berbagai nyanyian yang mereka hafal. Demikianlah setiap malam para petugas ronda melaksanakan jaga malam keliling kampung sambil bernyanyi sekenanya dengan iringan aransemen musikal yang dihasilkan oleh kenthongan yang mereka bawa.

Jajaran Kepolisian di Kabupaten Banyumas kemudian menangkap kebiasaan bermain musik para petugas ronda itu melalui lomba thek-thek kamling yang dimulai pada level antar kampung di tingkat desa, tingkat kecamatan dan berakhir di tingkat Kabupaten. Setiap peserta lomba diwajibkan membawakan lagu-lagu tertentu yang berisi pesan-pesan keamanan dan ketertiban lingkungan. Pada waktu itu, ada satu grup yang hampir selalu menjuarai lomba thek-thek Kamling di tingkat Kabupaten, yaitu grup musik kenthongan dari Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas.
Keberhasilan grup musik thek-thek asal Kalisalak menjuarai setiap perlombaan telah menumbuhkan motivasi bagi grup-grup musik kenthongan lain di Kabupaten Banyumas. Sejak itulah musik kenthongan kemudian berkembang di berbagai penjuru wilayah Kabupaten Banyumas sebagai ragam musik alternatif yang bukan saja digunakan untuk siskamling (ronda) melainkan juga untuk keperluan hiburan bagi warga masyarakat di sekitar grup-grup itu berada.

Hingga saat ini musik thek-thek masih terus tumbuh subur hampir di seluruh wilayah Kabupaten Banyumas. Masyarakat umumnya merasa “enjoy” dengan musik tersebut. Perasaan senang umumnya timbul disebabkan oleh kemudahan cara menyajikan, tersalurnya kreativitas seni yang dimilikinya serta sifat sajian yang bebas sehingga setiap orang dapat datang dan main tanpa dibatasi oleh jumlah pemain, keterbatasan alat maupun hal-hal lain yang bersifat teknis sajian. Pada kenyataannya siapapun dapat mengambil peran sebagai penabuh, penari, badut, semacam mayoret, dan lain-lain. Kebebasan kreativitas inilah salah satu daya tarik dari musik thek-thek.

Alat musik. Sebagai penggabungan dari berbagai varian musik, maka hingga saat ini tidak ada pembakuan di dalam sajian kenthongan. Setiap orang atau kelompok masyarakat dapat menciptakan berbagai bentuk alat musik yang berbeda-beda baik dalam hal bentuk maupun fungsi dalam sajian musikal sesuai dengan daya kreativitas masing-masing. Sejauh ini di dalam perangkat musik thek-thek dapat dijumpai alat-alat sebagai berikut:
a. Kenthongan dengan nada besar
b. Kenthongan dengan nada sedang
c. Kenthongan dengan nada kecil
d. Instrumen melodi mirip calung
e. Instrumen melodi mirip angklung
f. Alat musik mirip gendang/bass
g. Tepak, instrumen mirip drum
h. Alat musik mirip simbal
i. Seruling atau sejenisnya
j. Bilah bambu tanpa nada untuk bunyi “tek-tek”
k. Lain-lain alat musik yang umumnya perkusi

Pemain. Pemain thek-thek dapat dilakukan oleh pria, wanita atau gabungan pria dan wanita dengan jumlah tidak terbatas. Dalam satu grup musik thek-thek memungkinkan dilakukan oleh sedikit atau banyak pemain bergantung pada keikut sertaan anggota masyarakat pada saat berlangsungnya pertunjukan. Oleh karena itu dalam satu sajian dan sajian lain memungkinkan jumlah pemain yang berbeda.

Para pemain musik thek-thek secara umum dapat dibagi dalam berbagai peran antara lain:
a. Penabuh, yaitu pemain yang bertugas menabuh atau membunyikan alat-alat musik.
b. Mayoret, yaitu pemain yang bertugas mengatur barisan seperti layaknya mayoret pada drum band.
c. Penari, yaitu pemain yang bertugas membawakan ragam tarian tertentu yang diiringi oleh lagu-lagu tertentu yang disajikan.
d. Badut, yaitu pemain yang memakai kostum-kostum lucu sebagai salah satu daya tarik sajian.

Rias dan Busana. Rias-busana dalam pertunjukan musik kenthongan tidak ada ketentuan khusus. Pada umumnya para penabuh mengenakan kostum yang lazim dipakai pada saat melaksanakan siskamling, yaitu celana komprang, baju potong Jawa, iket dan sarung. Mayoret dan penari yang biasanya dilakukan oleh wanita mengenakan pakaian berupa baju kebaya dan jarit. Dijumpai pula penari yang mengenakan berbagai macam aksesories panggung. Rias yang diterapkan biasanya ala kadarnya dengan basis rias ayu. Adapun badut mengenakan kostum yang lucu-lucu. Namun demikian yang harus diketahui adalah bahwa rias kostum tersebut tidak dapat digeneralisasikan untuk setiap penampilan musik thek-thek. Setiap grup dapat melakukan penampilan yang berbeda-beda sesuai dengan daya kreativitasnya.

Teknik Sajian. Teknik sajian musik thek-thek juga sangat variatif sesuai dengan daya kreativitas masing-masing grup. Biasanya dalam suatu pertunjukan thek-thek disajikan berbagai macam lagu baik lagu-lagu yang bernuansa tradisional, modern maupun “pop”, termasuk di antaranya lagu-lagu nasional. Sajian lagu-lagu tersebut dipimpin oleh seorang mayoret dan digunakan untuk mengiringi tarian para penari maupun badut. Penyajian musik thek-thek tidak memerlukan tempat-tempat yang harus dipersiapkan secara khusus. Pada umumnya musik ini disajikan di tempat-tempat terbuka seperti di jalan-jalan desa, lapangan atau halaman yang luas.

Dampak Perubahan Sosial

Modernisasi yang tengah melanda kehidupan masyarakat Banyumas saat ini merupakan sebuah proses perubahan yang belum selesai. Proses ini akan terus berlanjut hingga menemukan bentuk sebagaimana yang diinginkan oleh setiap anggota masyarakat yang bermukim di daerah ini. Agus Salim7 mengungkapkan bahwa kematangan masyarakat menuju masyarakat industri, memiliki bentuk transisi yang cukup panjang dan lama dalam bentuk orientasi sekarang (present oriented). Dalam masyarakat transisi bentuk rasionalitas yang didambakan belum muncul sebagai potensi utama, karena modernisasi baru direspon sebagai ‘kekaguman’ bentuk luar dari kebudayaan Barat. Hal ini sebagaimana diungkapkan Selo Sumarjan bahwa masyarakat akan mengalami tahap-tahap modernisasi yang terjadi di hadapannya, yaitu taraf yang paling rendah ke tingkat yang paing tinggi, meliputi: (1) modernisasi tingkat alat, (2) modernisasi tingkat lembaga, (3) modernisasi tingkat individu, dan (4) modernisasi tingkat inovasi8.

Aspek paling spektakuler dari modernisasi adalah penggantian teknik-teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-cara modern. Kenyataan ini terjadi hampir pada setiap bidang kehidupan manusia dewasa ini, tidak terkecuali bidang-bidang yang tradisional sekalipun9. Kenyataan dapat dilihat dalam kehidupan ragam kesenian di Banyumas. Dewasa ini berbagai ragam kesenian tradisional yang sebelumnya menjadi bagian dari perjalanan tradisi masyarakat setempat, banyak diantaranya yang tergeser oleh ragam kesenian modern. Ragam kesenian tradisional seperti angguk, aksimuda, aplang, bongkel, krumpyung, buncis dan sejenisnya, sekarang hampir tidak pernah terdengar lagi hadir dalam bentuk sajian bagi masyarakat pendukungnya. Jenis-jenis kesenian semacam ini telah digantikan oleh produk seni lain yang dianggap sepadan dengan kebutuhan estetis masyarakat setempat.

Ada tiga jenis kesenian tradisional khas Banyumas yang hingga kini masih mampu bertahan dalam kancah persaingan dengan cabang-cabang seni modern, yaitu wayang kulit, ebeg dan lengger Banyumasan. Semenjak dekade tahun 1970-an dan 1980-an ketiga jenis kesenian ini telah menjadi semacam trade mark bagi eksistensi kebudayaan Banyumas dan masih berlanjut hingga sekarang. Nampaknya berdasarkan perkembangan ketiga jenis ini kemudian R. Anderson Sutton menyebut era tahun 1980-an sebagai era demokrasi modern bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Banyumas10.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui telah terjadi kemajuan pesat yang mampu mengangkat Banyumas dari kategori “rakyat” dan mampu berdiri sederajat dengan seni istana. Mulai tahun 1980 disebutnya sebagai era demokrasi modern, setidak-tidaknya memberi suasana yang kondusif bagi dukungan terhadap kesenian rakyat. Ini berbeda dengan pada masa masa-masa kerajaan yang telah menempatkan seni-seni istana memegang supermasi dalam kehidupan sosial. Sungguh pun demikian sebenarnya pernyataan Sutton tidak berlaku bagi beberapa ragam kesenian seperti disebut pertama, yang dewasa ini dapat dikatakan telah mengalami kepunahan.

Tarik-ulur antara tradisi dan modern dalam pertumbuhan dan perkembangan kesenian di Banyumas ternyata telah mempu melahirkan ragam kesenian baru yang merupakan perpaduan dari keduanya. Lahirnya musik kenthongan di Banyumas sangat erat kaitannya dengan perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat setempat. Hal ini sebagaimana dikatakan Arnold Hauser dalam kutipan berikut:

This is in spite of fact that art both influences and is influenced by social changes, that it initiates social changes while itself changing within them. Art and society are not monolithically related; each of them can be object as well as subject. The influence of art on society is not even the more dominant or significant force in this mutual relationship. The influence that starts in society and is directed toward art determines the nature of the relationship more than reserve, where a form of art—already characterized by interpersonal relationships—reacts upon society11.

Pernyataan Arnold Hauser membuktikan bahwa keberadaan kesenian dalam konteks perubahan sosial merupakan dua hal yang saling berhubungan satu sama lain. Keberadaan kesenian sangat dipengaruhi oleh perubahan sosial, demikian pula perubahan sosial mendapat pengaruh dari keberadaan suatu bentuk kesenian di lingkungan sosial masyarakat yang bersangkutan. Kesenian dan masyarakat sama-sama memungkinkan menjadi obyek sekaligus subyek yang saling berpengaruh terhadap perubahan bagi keduanya. Pengaruh seni terhadap masyarakat tidak selalu memiliki kekuatan yang lebih dominan atau signifikan. Pengaruh yang berawal di dalam masyarakat dan ditujukan terhadap seni menentukan hubungan yang alami lebih dari sekedar reserve, di mana sebuah bentuk seni—dicirikan oleh hubungan antar personal—bereaksi terhadap masyarakat.

Proses perubahan semacam ini terjadi pada konteks perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Banyumas yang saat ini tengah menuju ke arah modernisasi. Keberadaan musik kenthongan di Banyumas tidak lepas dari perubahan sosial masyarakat di daerah itu. Dalam hal ini perubahan sosial dimungkinkan telah memicu kelahiran musik kenthongan yang saat ini perkembangannya tengah mengalami booming. Namun demikian kelahiran musik ini berpotensi memberikan pengaruh terhadap kehidupan sosial bagi masyarakat setempat. Dilihat dari sisi banyaknya jumlah anggota tim (mencapai 40-65 orang per grup), kesenian ini berpotensi memberikan pengaruh bagi tumbuhnya jiwa corsa, kesatuan dan kebersamaan antar individu di dalam kehidupan sosial mereka. Demikian juga dari sisi pertunjukan yang menyajikan perpaduan antara tradisi-modern memungkinkan menuntun kehidupan mereka pada arus modernisasi yang tetap mempertahankan tradisi masa lalu.

Dalam konteks pembentukan musik kenthongan Roy Bhaskar12 menyatakan bahwa perubahan sosial biasanya terjadi secara wajar (naturaly), gradual, bertahap serta tidak pernah terjadi secara radikal atau revolusioner. Proses perubahan sosial meliputi proses reproduction dan proses transformation. Proses reproduction adalah proses mengulang-ulang, menghasilkan kembali segala hal yang diterima sebagai warisan budaya dari nenek moyang kita sebelumnya. Proses transformation adalah suatu proses penciptaan hal yang baru (something new) yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi (tool and technologies), yang berubah adalah aspek budaya yang bersifat material, sedangkan yang sifatnya norma dan nilai sulit sekali diadakan perubahan (bahkan ada kecenderungan untuk dipertahankan).

Kelahiran musik kenthongan pastilah merupakan rangkaian mata rantai perjalanan kesenian di Banyumas yang telah bersimbiosis dengan perubahan sosial yang terjadi terus-menerus. Di tengah perubahan sosial inilah musik kenthongan lahir sebagai lokal genius masyarakat Banyumas. Musik kenthongan atau thek-thek lahir sebagai kesenian alternatif yang dapat mewadahi kebutuhan masyarakat Banyumas akan hadirnya bentuk sajian seni yang digunakan sebagai sarana ekspresi sekaligus pemenuhan kebutuhan estetis dalam dirinya. Musik ini selanjutnya berkembang mengarah pada bentuk entartaiment melibatkan dua hal selama ini banyak dikontradiksikan; tradisi-modern. Namun demikian hadirnya kedua warna ini justru membuktikan bahwa masyarakat Banyumas yang saat ini tengah berjalan di rel modernisasi tidak sepenuhnya meninggalkan kehidupan masa lalu mereka yang berakar dari kerakyatan. Warna tradisional di dalam pertunjukan kenthongan adalah ekstrak atau kristalisasi dari produk kebudayaan lama yang masih dipertahankan dalam mewujudkan bentuk kreativitas seni. Oleh karena itu pada banyak segi di dalamnya merupkan bentuk imitasi dari ragam kesenian yang sudah ada sebelumnya.

Banyumas yang kaya akan bambu telah melahirkan berbagai jenis musik tradisional seperti calung, angklung, krumpyung, gondoliyo/bongkel. Jenis musik ini sama-sama memiliki instrumen terbuat dari bambu wulung. Ketersediaan bahan baku yang melimpah di daerah ini memungkinkan melahirkan daya kreativitas masyarakatnya. Bambu-bambu itu dibuat menjadi bilah-bilah nada yang dilaras sesuai dengan keperluan sajian musik. Ada yang dibuat model nada-nada yang dirangkai dalam satu rancakan dan teknik menabuhnya dengan cara dipukul; maka jadilah calung. Ada pula bilah-bilah nadanya yang digantung sehingga teknik menabuhnya dengan cara digoyang; maka jadilah angklung, krumpyung dan bongkel. Dari keempat jenis musik ini, yang paling populer adalah calung yang biasanya digunakan untuk mengiringi pertunjukan lengger.

Dilihat dari sisi organologis, secara fisik instrumen kenthongan merupakan bentuk metamorfosis dari alat-alat musik tersebut di atas. Romantisme masyarakat Banyumas terhadap masa lalu yang melekat pada pertunjukan-pertunjukan rakyat seperti calung, angklung, krumpyung, gondoliyo/bongkel—semua alat musik bambu—yang berpadu dengan nuansa kekinian telah melahirkan ide-ide kreatif melalui musik kenthongan. Sebagai sebuah metamorfosis, di dalam proses penciptaan musik kenthongan tentu saja terjadi proses imitasi terhadap ragam alat musik yang sudah ada sebelumnya.
Proses imitasi tersebut tidak sekedar dalam bentuk “fotocopy” belaka, tetapi juga melakukan inovasi dengan memasukkan unsur-unsur “baru” mulai dari ragam dan bentuk alat musik (organologi), lagu-lagu yang disajikan, ragam tarian, jumlah personal, rias-busana, aksesories pertunjukan dan lain-lain. Proses imitasi dan inovasi seperti ini semakin lama semakin mewujudkan suatu bangunan musik yang lengkap dan semakin menarik ditonton sehingga semakin banyak masyarakat yang menyukai maka semakin bermunculaan kelompok-kelompok musik kenthongan.

Bagaikan gayung bersambut karena begitu banyak bermunculan kelompok-kelompok musik kenthongan dan banyaknya penonton pada setiap penampilannya, berbagai macam organisasi formal maupun informal kemudian mengadakan lomba dan atau festival kenthongan yang bertujuan untuk mencari kelompok-kelompok musik kenthongan terbaik. Menurut pengamatan penulis selama lima tahun terakhir lomba dan atau festival musik kenthongan di Kabupaten Banyumas dilakukan lebih dari 10 kali dalam setahun yang diselenggarakan oleh organisasi/lembaga yang berbeda-beda.
Sebagai bentuk produk lokal, musik kenthongan memungkinkan berkembang pada dua arah, yaitu (1) sebagai bagian dari tradisi masyarakat Banyumas, dan (2) sebagai produk budaya temporer. Untuk dapat menjadi bagian dari tradisi sebuah masyarakat, maka musik kenthongan masih akan terus “diuji” melalui perjalanan waktu yang cukup lama. Musik ini harus melewati perubahan-perubahan sehingga akan terjadi kristalisasi nilai dan bentuk. Kristalisasi nilai berkaitan dengan isi yang terkandung di dalamnya. Nilai apa yang terkandung di dalam musik ini berkaitan dengan pola pikir, pandangan hidup, ideologi dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada masyarakat setempat.

Kemungkinan kedua tentang hadirnya musik kenthongan sebagai kesenian temporer, berkaitan dengan rentang waktu. Sebagai musik temporer, musik ini lebih sekedar sebagai trend perkembangan masyarakat selaras dengan perjalanan jaman yang akan terus berubah. Dulu calung, sekarang kenthongan, besok ganti lagi dengan bentuk yang lain.

Kesimpulan

Musik kenthongan yang perkembangannya tengah mengalami booming dewasa ini lahir di tengah perubahan sosial yang terjadi hampir di segala kehidupan masyarakat Banyumas. Kehidupan masyarakat Banyumas yang terus berubah searah dengan perkembangan jaman telah menghasilkan musik alternatif yang memadukan konsep tradisi-modern di dalamnya. Ciri utama dari musik ini adalah pola garapan yang bebas, tidak terikat pada pola aturan baku yang membelenggu kreativitas. Hal ini menyebabkan setiap grup kenthongan tampil dengan ciri khas masing-masing. Hal demikian terjadi karena budaya Banyumas adalah ragam kebudayaan yang cenderung terbuka bagi masuknya unsur-unsur budaya asing di dalamnya. Berbagai unsur kebudayaan telah turut berperan membentuk kebudayaan Banyumas hingga seperti wujudnya yang dapat dijumpai sekarang ini. Lahirnya musik kenthongan yang terjadi pada era modernisasi telah memberikan pengaruh tersendiri bagi musik ini yang tersaji dalam bentuk perpaduan tradisi-modern.

Lahirnya musik kenthongan tidak lepas dari ketersediaan bahan baku berupa bambu jenis bambu wulung. Melimpahnya bambu jenis ini terbukti telah memberikan daya kreatif bagi masyarakat setempat yang mampu menciptakan berbagai alat musik seperti calung, angklung, krumpyung dan gondolio/bongkel. Dilihat dari sisi organologis, alat musik kenthongan juga merupakan metamorfosisi dari berbagai ragam alat musik tradisional yang ada di daerah ini.

Dalam wacana perubahan sosial, lahirnya musik kenthongan sangat dipengaruhi oleh arus budaya massa yang telah menghasilkan budaya “pop”. Bentuk musikal dan pertunjukannya yang mencirikan adanya perpaduan tradisi-modern membuktikan lekatnya unsur budaya “pop” di dalam musik yang satu ini. Namun demikian apabila dirunut lebih jauh, maka lahirnya musik kenthongan tidak lepas dari pengaruh komunikasi lintas budaya yang telah terjadi jauh sebelum masuknya arus budaya modern ke wilayah Banyumas.

Pada masa yang akan datang terjadi dua kemungkinan kelanjutan perkembangan musik kenthongan, yaitu sebagai bagian dari tradisi masyarakat Banyumas, dan sebagai produk budaya temporer. Kedua kemungkinan ini sama besar peluangnya dan masing-masing akan menjadi kenyataan sesuai dengan kehendak masyarakat Banyumas selaku pendukung kesenian ini. Apabila perkembangan musik kenthngan terus berlanjut dengan mengalami pengkristalan, bukan tidak mungkin kesenian ini akan menjadi bagian dari perjalanan tradisi masyarakat Banyumas. Namun demikian apabila kehadiran kenthongan lebih sekedar sebagai trend, maka pada akhirnya musik ini akan tergeser oleh ragam kesenian yang datang kemudian sebagai trend perkembangan lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Salim, 2002, Perubahan Sosial, Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia, Yogyakarta: PT Tiara Wacana.

Babad Banyumas, manuskrip, t.th.

Babad Kamandaka, 1972, Balai Pustaka, Jakarta.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, 2004, “Data Kesenian Kabupaten Banyumas 2004”, Purwokerto: Disparbud.

Gere, David (ed.), 1992, Looking Out Perspektives on Dance and Criticism in Multicultural World, New York: Schrimer Brooks An Imprint of Simon & Schuster Macmillan.

Hauser, Arnold, 1974, The Sociology of Art, Translated by Kenneth J. Northcott, Chicago and London: The University of Chicago Press.

Heddy Shri Ahimsa Putra, 2000, Ketika Orang Jawa Nyeni, Yogyakarta: Galang Press.

Koentjaraningrat, 1990, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta: Dian Rakyat.

Lauer, Robert H., 1989, Perspektif tentang Perubahan Sosial, Edisi II, terjemahan Aliumadan, Jakarta: Bina Aksara Baru.

Parsudi Suparlan, 1988, Kebudayaan dan Pebangunan, Jakarta: MGMP Sosiologi dan Antropologi.

Redfield, Robert, 1969, The Little Community Pleasant Society and Culture, London, Chicago: The Univesity of Chicago Press.

Schrool, J.W., 1988, Modernisasi Pengantar Sosial Pembanguna Negara-negara Sedang Berkembang, Jakarta: Gramedia.

Selo Sumarjan, 1986, Perubahan Sosial di Yogyakarta, Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Sjafri Sairin, 1997, Transmisi Nilai Budaya dalam Dinamikan Perubahan dalam Humaniora, buletin Universitas Gadjah Mada No. VI Oktober-November 1997.

Sutton, R. Anderson, 1991, Traditions of Gamelan Music in Java: Musical Pluralism and Region Identity, New York: Cambridge University Press.

1 Sairin, Sjafri, 1997, Transmisi Nilai Budaya dalam Dinamikan Perubahan dalam Humaniora, buletin Universitas Gadjah Mada No. VI Oktober-November 1997, hal. 2
2 Redfield, Robert, 1969, The Little Community Pleasant Society and Culture, The Univesity of Chicago Press, London, Chicago, p. 42-43.
3 Suparlan, Parsudi, 1988, Kebudayaan dan Pebangunan, Jakarta: MGMP Sosiologi dan Antropologi, hal. 9. (Lihat juga Koentjaraningrat, 1990, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Dian Rakyat, Jakarta, hal. 108-109; Robert H. Lauer, 1989, Perspektif tentang Perubahan Sosial, Edisi II, terjemahan Aliumadan, Jakarta: Bina Aksara Baru, hal. 227).
4 Lihat “Babad Banyumas”, manuskrip, t.th.
5 Babad Kamandaka, 1972, Balai Pustaka, Jakarta. Cerita tentang Kamandaka juga berkembang meluas di kalangan masyarakat Banyumas dalam bentuk cerita tutur.
6 Heddy Shri Ahimsa Putra, 2000, Ketika Orang Jawa Nyeni, Galang Press, Yogyakarta, hal. 407.
7 Agus Salim, 2002, Perubahan Sosial, Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia, PT Tiara Wacana, Yogyakarta, hal. 72.
8 Selo Sumarjan, 1986, Perubahan Sosial di Yogyakarta, Gajahmada University Press, Yogyakarta.
9 Schrool, J.W., 1988, Modernisasi Pengantar Sosial Pembanguna Negara-negara Sedang Berkembang, Gramedia, Jakarta, hal. 1.
10 Sutton, R. Anderson, 1991, Traditions of Gamelan Music in Java: Musical Pluralism and Region Identity, Cambridge University Press, New York, P. 71.
11 Arnold Hauser, 1974, The Sociology of Art, Translated by Kenneth J. Northcott, The University of Chicago Press, Chicago and London, p. 89.
12 Roy Bhaskar dalam, Agus Salim, 2002, op cit hal. 20-21.

MEMBEBASKAN DIRI DARI IMPERIUM KEBUDAYAAN


Baca Selengkapnya...
Salah satu persoalan yang sangat pelik dalam perkembangan sejarah kebudayaan Banyumas adalah wilayah ini begitu lama mengalami masa-masa keterjajahan. Tragisnya lagi, imperialisme di Banyumas tidak sekedar dilakukan oleh bangsa-bangsa Barat pada masa kolonialisme, tetapi juga oleh bangsa sendiri pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Jawa. Paling tidak semenjak era Pajang, Banyumas dipercaya mulai berada di bawah kekuasaan kerajaan Jawa, yang berlangsung hingga era Surakarta-Yogyakarta. Tidak ditemukan bukti-bukti tertulis tentang kekuasaan Pajang di wilayah Banyumas. Namun di dalam babad Wirasaba yang berkembang secara lisan di masyarakat, diceritakan bahwa Adipati Warga Utama I terbunuh dalam perjalanan pulang setelah menyerahkan anak perempuannya untuk menjadi selir Sultan Hadiwijaya.

Paling tidak ada dua macam penjajahan yang dialami oleh masyarakat Banyumas, yaitu penjajahan fisik dan penjajahan kultural. Penjajahan fisik dilakukan oleh bangsa-bangsa Barat seperti Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis. Penjajahan fisik lebih berorientasi pada penguasaan teritorial untuk kepentingan ekonomi, perdagangan, dan politik. Adapun penjajahan kultural dilakukan oleh raja-raja Jawa sejak era Pajang. Penjajahan budaya lebih berupa penguasaan psikologis untuk kepentingan kekuasaan raja. Penguasaan secara psikologis ini berimbas pada hampir seluruh sisi kehidupan; fisik-mental. Wilayah Banyumas selain dikuasai dari sisi kewilayahan dan ekonomi, juga dikuasai dari sisi kehormatan, harkat dan martabat kemanusiaan, ideologi, hingga harapan hidup. Orang Banyumas sering diumpamakan sebagai “kebo cinancangan” (kerbau yang diikat). Demikian jargon yang konon berkembang sejak masa kekuasaan Sultan Agung di Negeri Mataram. Perumpamaan tersebut memiliki makna, apabila orang Banyumas diberi cukup makan dan dipiara dengan baik, maka akan dengan mudah ditaklukkan. Bagi mereka yang menganut sinkretisme, perumpamaan tersebut diterima dengan baik sebagai sebuah realita yang tidak dapat disangkal. Namun, bagi sebagian sesepuh yang merupakan intelektual lokal, perumpamaan demikian adalah sebuah penghinaan Mataram terhadap Banyumas dalam arti yang sesungguhnya. Orang Banyumas memiliki ungkapan yang sangat pas untuk menyebut keadaan yang sangat tragis ini yaitu “kebo ilang kandhange rubuh” (kerbau hilang, kandangnya roboh) (Yusmanto dan Bambang Wadoro, 2000:23). Ungkapan ini memiliki makna orang yang mendapat celaka teramat sangat.

Sebagian masyarakat Banyumas pada dasarnya juga merasa bahwa kuatnya kekuasaan kraton telah menempatkan Banyumas dalam posisi yang lemah. Semua itu dapat bermakna sebagai usaha pembedaan kelas dan pembodohan. Namun demikian, umumnya mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan kekuasan Mataram. Kenyataan demikian kiranya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah kebudayaan Banyumas. Perasaan menderita dan terjajah telah mendarah-daging, menjadi memori otak kecil yang tergambar melalui perilaku bawah sadar dalam kehidupan sehari-hari. Orang Banyumas umumnya memiliki ciri nrima ing pandum (menerima semua keadaan yang menimpa dirinya), apatis (masa bodoh), dan tidak suka melawan kekuasaan. Semua itu adalah realita yang tergambar melalui berbagai aktivitas estetik.

Di kalangan masyarakat Banyumas sendiri kemudian tumbuh dua kelompok masyarakat. Kelompok pertama adalah kelompok priyayi yang terdiri dari para ambtenaar (pegawai pemerintah). Mereka adalah kelompok minoritas yang umumnya mendiami pusat-pusat desa. Mereka memiliki tempat tinggal yang strategis, dekat dengan fasilitas umum seperti pasar, balai desa dan sekolah. Sedangkan kelompok kedua adalah wong cilik atau kaum penginyongan (pekulaan) yang terdiri dari buruh tani, petani kecil, dan para pedagang. Mereka adalah kelompok mayoritas yang mendiami wilayah-wialayah pinggiran desa. Di antara kedua kelompok ini terdapat dua konsep hidup yang berbeda. Di kalangan kelompok priyayi dikembangkan pola hidup yang teratur, hidup sehat, berpendidikan serta pola tindakan dan tutur kata halus yang mengacu pada budaya tinggi. Sementara di kalangan kaum penginyongan berlangsung pola hidup yang sederhana, apa adanya dan lebih mengutamakan kebersamaan dalam suasana hidup yang berdiri sama tinggi duduk sama rendah.

Kalangan priyayi di desa-desa umumnya berusaha memegang kendali sistem kehidupan yang dianut bersama. Mereka memungkinkan bersikap ‘menguasai’ (atau bahkan arogan) kaum penginyongan. Hal seperti itu, sekalipun oleh kaum penginyongan dirasakan sebagai tindakan yang menyakitkan, tetapi mereka merasa ora ilok (tidak pantas) untuk menentangnya. Dalam situasi seperti itu mereka mencoba untuk menetralisir keadaan yang bernada supata (kutukan) dengan ungkapan tunggak jarak mrajak tunggak jati mati yang berarti orang kecil akan hidup lestari beranak-pinak, sedangkan para priyayi pada akhirnya akan mengalami keterputusan generasi (tidak lestari). Dengan demikian, sekalipun hidup menderita, mereka merasa lebih beruntung dibanding dengan golongan priyayi. Hal tersebut didasarkan pada realita kekuasaan Jawa, tidak satupun raja besar di Jawa yang mampu bertahan lama dalam mempertahankan garis keturunannya. Namun demikian kekalahan tetap saja bermakna sebagai kekalahan, yang harus diterima dan dialami sepanjang hayat.

Gambaran tentang kekalahan tersebut dapat dipahami dengan jelas pada tradisi seni sastra. Di Banyumas jarang sekali dijumpai bentuk-bentuk wiracarita yang menggambarkan heroisme perlawanan terhadap kekuasaan. Beberapa ragam cerita sejarah/babad yang memuat kisah heroisme seperti Adipati Seda Pendapa di Kadipaten Banyumas dan Raden Thole di Kadipaten Pasir, semua berakhir tragis bagi tokoh hero dalam cerita.

Sikap berontak pada kalangan masyarakat Banyumas jarang sekali dilakukan secara kolektif. Sikap berontak lebih muncul pada tataran individu atau kelompok kecil yang bersifat parsial. Pada umumnya orang-orang yang memiliki sikap berontak justru dianggap sebagai sikap yang ucul tali gadhage (tidak dapat mengendalikan diri (Yusmanto dan Bambang Wadoro, 2000:19). Orang-orang seperti ini justru dipandang sebagai sesuatu yang aneh, bahkan tidak jarang akan dijauhkan dari pergaulan.

Hidup rekasa (menderita) dalam komunitas masyarakat tradisional di Banyumas dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Hidup manusia lir wayang seumpamane (bagaikan wayang). Kalau Gusti urung pareng (Gusti belum mengijinkan), maka apapun usaha manusia akan berakhir sia-sia. Oleh karena itu sangat wajar apabila kemiskinan di desa-desa di Banyumas seakan-akan telah mendarah daging (Tjetjep Rohendi Rohidi, 2000:25). Mereka sudah tidak lagi merasakan bahwa kemiskinan adalah sebuah penderitaan. Kekurangan makan seringkali justru dipahami sebagai kesempatan untuk menjalankan laku agar mencapai keselamatan di dunia-akherat atau jalan menuju pencapaian segala yang diinginkan. Kemelaratan bagi mereka adalah keniscayaan, sehingga tidak perlu diusahakan dengan cara membabi-buta untuk berubah menjadi kaya.

Orang Banyumas memiliki sikap yang khas, yaitu pinter madani awake dhewek (pintar mencela diri sendiri). Di daerah ini banyak terdapat ungkapan-ungkapan yang dimaksudkan untuk madani. Misalnya: anak turune si kemrunggi (orang yang dalam hidupnya senantiasa merugikan orang lain), anak turune wong gelung unthil (keturunan orang kecil/rakyat kebanyakan), balung cilik (orang yang memiliki kekuatan terbatas sehingga tidak mampu melakukan hal-hal besar) (Yusmanto dan Bambang Wadoro, 2000:11-13) dan lain-lain. Ungkapan-ungkapan semacam ini ditujukan untuk diri sendiri yang bertujuan untuk menyadari ketidakmampuan dan kekurangannya di dalam pergaulan sosial.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa imperialisme budaya telah mampu mencuci otak orang Banyumas ke dalam situasi berpikir yang terkadang tidak rasional, pesimis dan apriori dalam hidupnya. Ini merupakan pembunuhan karakter yang terjadi dalam tempo yang sangat lama. Bagi mereka yang belum mampu keluar dari tekanan psikologis semacam ini, pada umumnya lebih bersifat lamban menerima perubahan, cenderung gumunan (mudah takjub) dan minder apabila dihadapkan dengan persoalan-persoalan baru.

Perilaku umum semacam kasus yang terjadi pada masyarakat Banyumas telah diteliti oleh Guofang Li terhadap sebuah keluarga imigran asal Filipina di Kanada. Dalam penelitiannya, Guofang Li menemukan fenomena khusus pada keluarga Holman yang dalam lingkungan sosial berusaha beradaptasi dengan masyarakat sekitarnya yang hidup dalam tradisi dan kebudayaan Kanada. Tetapi ketika mereka berkumpul di rumah, maka mereka kembali menggunakan cara hidup yang didasari oleh tradisi dan kebudayaan Filipina (Guofang Li, 2000). Perilaku semacam ini pun terjadi pada masyarakat Banyumas. Di lingkungan sosialnya, mereka sangat akrab dengan peradaban Banyumas yang memang mendasari kehidupan mereka. Namun ketika mereka hidup di tengah pergaulan sosial yang lebih luas cenderung menghilangkan identitas mereka. Fenomena demikian dapat dilihat pada seseorang yang melakukan urbanisasi ke kota-kota besar. Hanya dalam waktu yang relatif singkat seseorang bekerja di Jakarta, maka ia sudah begitu fasih berbahasa dialek Betawi. Begitu pun mereka yang bekerja di Bandung yang begitu cepat menghilangkan “kebanyumasan”-nya dengan berbahasa Sunda. Atau mereka yang tinggal di Surakarta-Yogyakarta yang serta merta menggunakan bahasa bandhekan dalam berkomunikasi.

Di tengah kuatnya pengaruh imperialisme budaya di Banyumas, justru lahir aktivitas estetik yang langsung maupun tidak langsung menjadi media ungkap dalam upaya membebaskan diri dari peristiwa imposisi tersebut. Aktivitas estetik itu terwujud melalui musik calung. Di dalam musik ini tersirat adanya usaha masyarakat Banyumas menjadi dirinya sendiri, tanpa diliputi perasaan tertekan atau terancam oleh pihak luar. Kenyataan demikian dapat menjadi sarana uji kebenaran pendapat Ernst Cassier yang menyatakan bahwa seni merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling hakiki yang menjadikan manusia merasa lebih hidup. Dengan kesenian pula manusia dapat lepas dari beban hidup yang senantiasa menimpa dirinya (Ernst Cassirer, 1987:240). Orang Banyumas bisa saja apatis, nglenggana atau nrima ing pandum atau minder terhadap keadaan yang menimpa dirinya. Tetapi semua itu tidak tampak pada tampilan musiknya. Calung justru tampil begitu dahsyat, dengan irama dan laya yang dinamis, atraktif dan semangat.

Di dalam sajian musik calung sama-sekali tidak tergambar beban derita yang dihadapi dalam perjalanan sejarah kebudayaan Banyumas. Calung justru berada dalam situasi paradok dengan semua itu. Semua yang terjadi di dalam sajian musik calung merupakan semacam luapan emosi dari alam pikir dan alam rasa masyarakat Banyumas yang tidak dapat diungkapkan di dalam pergaulan sosial. Di dalam musik calung tertuang kebebasan kreatif yang dengan ‘liar’ dituangkan dalam ide-ide dan garap musikal. Di sini para kreator musik dapat dengan bebas mengembarakan imajinasi mereka sesuka hati. Suatu saat mereka menghadirkan warna Banyumasan yang lekat dengan kerakyatannya. Pada saat yang lain, dihadirkan romantisme dan ketakjuban kebesaran kraton yang memuat keindahan ragam kebudayaan tinggi serta sesuatu yang rumit dan memiliki teknik tinggi. Sementara pada saat yang lain lagi, hadir ragam warna Kulonan sebagai media ekspresi pengalaman empirik yang merupakan wujud kedekatan mereka dengan kebudayaan Pasundan.

Di dalam sajian calung juga tertuang sikap-sikap kritis masyarakat Banyumas tentang falsafah hidup, tentang penderitaan, alam lingkungan, tentang kebahagiaan dan atau tentang segala sesuatu yang bersifat utopia. Gendhing Sekar Gadhung memuat falsafah tentang manusia. Gadhung adalah jenis umbi beracun yang dengan teknik pengolahan tertentu dapat menjadi makanan rakyat yang sangat digemari di kalangan masyarakat setempat. Manusia diibaratkan ‘bunga gadhung’. Apabila salah dalam merawat dan mendidik, manusia akan menjadi sukertaning jagad (sampah kehidupan di dunia). Sebaliknya, apabila seorang anak manusia dirawat dan dididik dengan baik, maka ia akan menjadi orang yang mampu berperan membangun dunia. Sebaliknya gendhing Randha Nunut mengambarkan penderitaan yang dialami oleh seorang janda dalam hidupnya.

Penggambaran tentang alam lingkungan dapat dilihat pada gendhing Ricik-ricik (hujan gerimis). Melalui alur melodi gendhing ternyata dapat digambarkan imajinasi tentang hujan gerimis, saat-saat terindah yang dialami oleh kaum tani yang berarti hadirnya kembali harapan hidup. Dengan datangnya gerimis maka kaum tani berkesempatan menggarap sawah atau ladang yang menjadi lahan tanaman pangan sebagai gantungan hidup dan sumber mata pencaharian. Sehubungan dengan alur melodi yang terdapat di dalam gendhing Ricik-ricik yang begitu anggun, Ki Narto Sabdo kemudian menggubah lirik lagu gerongan yang berisi percintaan.

Penggambaran tentang kebahagiaan selain dijumpai pada gendhing Ricik-ricik di atas, juga dapat dijumpai pada gendhing lain seperti Renggong Manis (renggong adalah tarian sejenis lengger yang berkembang di wilayah perbatasan sebaran kebudayaan Banyumas dan kebudayaan Sunda), Siji Lima, Kembang Glepang, Gudril dan lain-lain. Untuk mengungkapkan suasana kegembiraan, melodi gendhing berupa alur lagu dinamis yang menyiratkan keceriaan dengan ditunjang teks syair yang ceria pula.

Pandangan tentang segala sesuatu yang bersifat utopia juga tergambar di dalam sajian calung. Banyak gendhing yang disajikan di dalam pertunjukan calung yang menggambarkan negeri impian, kebahagiaan ideal atau perasaan kesejatian yang hanya dapat diperoleh di dalam impian. Sebagai contoh gendhing Gunungsari dan Eling-eling. Kata ‘gunungsari’ berasal dari kata ‘gunung’ dan ‘sari’ (bunga) yang berarti kebahagiaan puncak setinggi gunung. Demikian pula Eling-eling (ingat-ingat) memiliki makna warning (perhatian) untuk mencapai hidup ideal maka setiap orang harus senantiasa ingat kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Jika seseorang selalu ingat Tuhannya, maka diharapkan akan tercapai kebahagiaan sejati, baik selama hidup di dunia maupun setelah di akherat kelak.

Di dalam sajian calung dapat dilihat dengan jelas ungkapan-ungkapan tentang kebahagiaan, kesenangan, kebebasan dan kemerdekaan. Semua itu dapat dilihat pada model-model improvisasi pada sajian musik yang dilakukan secara spontan. Salah satu ricikan biasanya menawarkan pola tabuhan tertentu yang secara spontan dilakukan pada sajian gendhing. Kemudian instrumen lain menyambut dengan tabuhan sang saling mengisi. Dengan begitu sajian gendhing lalu berjalan lebih variatif, menyenangkan.

Melalui sajian calung juga dapat dituangkan ajaran dan atau ajakan untuk berbuat kebaikan, pernyataan sikap, larangan terhadap perbuatan menyimpang, kritik, sindiran atau bahkan sarkasme terhadap kejadian-kejadian umum sehari-hari di lingkungan pergaulan sosial. Kritik, sindiran atau sarkasme itu umumnya dilakukan melalui teks-teks syair (cakepan) yang diucapkan oleh sindhen dan atau senggak. Teks syair itu umumnya berbentuk parikan ataupun wangsalan yang disajikan dengan alur lagu tertentu sesuai dengan sajian gendhing yang sedang berlangsung. Untuk lebih jelasnya lihat contoh berikut ini.

Contoh teks parikan dua baris

1. Nandur jae nang galengan/ngkono bae go delengan (menanam jahe di pematang/di situ saja untuk dipandang)
2. Nandur kopi keblusuk-blusuk/ora saiki mbok mesuk-mbesuk (menanam kopi terperosok/tidak sekarang semoga besok-besok)
3. Dina Minggu ora prei/ditunggu-tunggu ora diwei (hari minggu tidak libur/ditunggu-tunggu tidak diberi)
4. Dina Minggu plesir Gombong/ditunggu-tunggu digawa ngewong (hari Minggu bertamasya ke Gombong/ditunggu-tunggu dibawa orang)

Contoh teks parikan empat baris

1. Awang-awang si mega mendhung/trenggiling amba sisike/tega nyawang ora tega nembung/kelingan kebecikane (awang-awang si mega mendhung/trenggiling lebar sisiknya/tega melihat tidak tega meminta/mengingat kebaikannya)
2. Tuku cita citane luntur/balekena maring nyonyahe/urung nikah uwis campur/gawe wirang wong tuwane (membeli [kain]cita, citanya luntur/kembalikan kepada si nyonya [panggilan untuk wanita Tionghoa]/belum menikah sudah campur/membuat malu orang tua)
3. Kapuk randhu di Jawa Barat/hujan gerimis di Jawa Timur/kalau rindu kirimlah surat jangan menangis di tempat tidur
4. Dari mana datangnya lintah/dari sawah turun ke kali/dari mana datangnya cinta/dari mata turun ke hati

Contoh teks wangsalan

1. Lisus kali, kedhung jero banyu mili/meneng sote, atine bolar-baleran (lisus sungai, lubuk dalam air mengalir/meski diam, hatinya gundah-gulana)
2. Lodhong ijo, banyu wayu tinggang Rebo/aja maido, nanggap sindhen esih bodho (lodhong [tempat membawa air terbuat dari batang bambu] hijau, air basi tiga Rabu/jangan menegur, menanggap sindhen masih bodoh)
3. Janur gunung, sakulon Banjarpatoman/kadingaren, wong bagus gasik tekane (janur gunung, sebelah barat Banjarpatoman/tidak seperti biasanya, orang bagus gasik datangnya)
4. Klasa janur, klasane wong mbaranggawe/ndhempe-ndmpe, wong seneng ngenteni simpe (tikar janur, tikarnya orang punya khajat/ berusaha mendekat, orang cinta menunggu [orang lain] lupa)

Beberapa contoh teks syair di atas hanyalah sebagian dari begitu banyak syair yang ada dan lazim menjadi teks tembang yang dibawakan oleh sindhen dan senggak pada sajian gendhing. Dengan mempelajari isi syair, maka dapat dilihat kepribadian orang Banyumas sebagai sebuah komunitas masyarakat yang memiliki naluri hidup kolektif. Mereka senantiasa berbagi perasaan tentang kebahagiaan dan penderitaan. Di dalamnya terdapat nuansa kesahajaan dan egaliter yang hadir mewarnai kehidupan sehari-hari. Pada teks syair di atas tidak satu pun yang dimaksudkan untuk menunjukkan ‘keakuan’ yang angkuh. Tetapi justru inilah wujud ‘keakuan’ masyarakat Banyumas. Mereka hidup kolektif, berdampingan, saling menghormati dan menghargai, homogen dan adanya perasaan senasib sepenanggungan. Dengan cara hidup seperti itulah, semua penderitaan dan ketidak-adilan dapat dipikul bersama dalam suasana senasib sependeritaan.

Melalui aktivitas musik calung, masyarakat Banyumas malakukan penuangan nilai-nilai ideal tentang hidup, sekalipun hal itu tidak selamanya berlangsung dalam realita kehidupan sosial. Penuangan nilai-nilai ideal itu dilakukan melalui proses pembayangan dan penjadian bentuk. Seperti diungkapkan Edi Sedyawati bahwa nilai di dalam seni terwujud sebagai pengalaman yang berisi pembayangan (image) dan penjadian (process) (Edi Sedyawati, 1984:58). Cara seperti inilah yang kemudian menghasilkan situasi yang paradoksal antara kenyataan hidup dengan kenyataan musik. Ini membuktikan seni hadir kapan saja, di mana saja serta dalam situasi apa saja. Seperti dikatakan Budhisantoso bahwa kesenian merupakan gejala kebudayaan yang universal sehingga tidak ada suatu masyarakat di dunia ini yang tidak mengembangkan kesenian (S. Budhisantoso, 1994:2). Dalam kemelaratan, penderitaan dan keserbatiadaan pun, masyarakat Banyumas mampu menciptakan ragam kesenian.
DAFTAR PUSTAKA


Budhisantoso, S., 1994, “Kesenian dan Kebudayaan”, dalam Wiled, Jurnal Seni STSI Surakarta, Tahun I, Juli 1994.

Cassirer, Ernst, 1987, Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia, Jakarta: Gramedia.

Edi Sedyawati, 1984, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: Sinar Harapan.

Guofang Li, 2000, “Family Literacy and Cultural Identity: An Ethnographic Study of a Filipino Family in Canada”, McGill Journal of Education, http://Furl.net.

Rohidi, Tjetjep Rohendi, 2000, Ekspresi Seni Orang Miskin, Adaptasi Simbolik terhadap Kemiskinan, Bandung: Yayasan Adikarya IKAPI bekerjasama dengan Ford Foundation.

Yusmanto & Bambang Wadoro, 2000, Ungkapan Tradisional Banyumas, Purwokerto: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas.