Friday, December 26, 2008

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS


Baca Selengkapnya...
Untuk memenuhi kebutuhan pemahaman tentang ragam kesenian lokal Banyumas, pada kesempatan ini saya posting jenis-jenis kesenian khas Banyumas dalam 'Seri Kesenian Lokal Banyumas' dengan disertai keterangan-keterangan singkat. Sesungguhnya keterangan mengenai jenis-jenis kesenian ini belumlah memadai. Namun demikian saat ini dirasa sudah mendesak untuk dipublikasikan khasanah kesenian khas Banyumas, mengingat sebagaian di antaranya telah benar-benar punah. Oleh karena itu, pada kesempatan yang akan datang saya berusaha akan memberikan paparan tulisan yang lebih lengkap lagi dengan disertai foto-foto sesuai kebutuhan. Ragam kesenian tersebut yang saya tampilkan urut abjad, dimulai dari ragam seni pertunjukan dan dilanjutkan ragam seni rupa. Semoga keterangan yang sederhana ini dapat dijadikan sebagai awalan bagi penelitian-penelitian yang lebih serius, sehingga memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun eksistensi aneka ragam kesenian khas Banyumas yang ada.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: ABID


Baca Selengkapnya...
Abid: atraksi permainan obor diiringi genjring yang dipergunakan untuk menunjukkan kemampuan generasi muda santri di lingkungan kelompok pengajian atau pondok pesantren. Abid biasanya disajikan pada acara-acara hari besar Islam atau untuk keperluan khajatan. Hingga sekarang abid masih berkembang di wilayah kecamatan Patikraja, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: AKSIMUDHA


Baca Selengkapnya...
Aksimudha; kesenian bernafas islami yang tersaji dalam bentuk atraksi pencak silat yang dipadu dengan tari-tarian dengan iringan terbang/genjring. Pertunjukan aksimudha dilakukan oleh delapan penari pria. Hingga sekarang aksimudha masih berkembang di wilayah kecamatan Tambak dan Cilongok, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: ANGGUK


Baca Selengkapnya...
Angguk; kesenian bernafas islami yang tersaji dalam bentuk tari-tarian dengan iringan terbang/genjring. Pertunjukan angguk dilakukan oleh delapan orang pria. Menjelang akhir pertunjukan biasanya para pemain mengalami intrance. Hingga sekarang angguk masih berkembang di wilayah desa Somakaton, kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: ANGKLUNG


Baca Selengkapnya...
Angklung; perangkat musik bambu berlaras slendro. Spesifikasi angklung adalah setiap nada terpisah-pisah dalam rancak-rancak tersendiri. Satu rancak angklung biasanya terdiri dari tiga nada yang sama, yang dibedakan pada tinggi rendahnya. Hingga sekarang angklung masih berkembang di wilayah desa Tanggeran, kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: APLANG


Baca Selengkapnya...
Aplang; kesenian bernafas islami serupa dengan angguk, pemainnya terdiri atas delapan penari wanita. Hingga sekarang aplang masih berkembang di wilayah desa Kanding, kecamatan Patikraja, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: BARITAN


Baca Selengkapnya...
Baritan; upacara kesuburan dengan menggunakan kesenian sebagai media utamanya. Hingga saat ini ada dua macam baritan yaitu baritan yang digunakan untuk tujuan memanggil hujan dan baritan untuk keselamatan ternak. Untuk memanggil hujan biasanya digunakan berbagai macam kesenian yang ada seperti lengger, buncis atau ebeg. Adapun baritan untuk keselematan ternak biasanya menggunakan lengger sebagai media upacara. Di sini para pangon (penggembala) menari bersama penari lengger dengan terlebih menyerahkan dhadhung (tali pengikat ternak) dan selesai menari dapat mengambil dhadhung dengan terlebih dahulu memberikan sejumlah uang kepada penari lengger. Baritan biasanya dilaksanakan pada mangsa Kapat (sekitar bulan September). Hingga sekarang baritan masih berkembang di wilayah kecamatan Ajibarang, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: BEGALAN


Baca Selengkapnya...
Begalan; seni tutur tradisional yang digunakan sebagai sarana upacara pernikahan. Begalan menggambarkan peristiwa perampokan terhadap barang bawaan dari besan (pihak mempelai pria) oleh seorang begal (perampok). Dalam falsafah orang Banyumas, yang dibegal (dirampok) bukanlah harta benda, melainkan bajang sawane kaki penganten nini penganten (segala macam kendala yang mungkin terjadi dalam kehidupan berumah tangga pada mempelai berdua). Begalan dilakukan oleh dua orang pria dewasa yang merupakan sedulur pancer lanang (saudara garis laki-laki) dari pihak mempelai pria. Kedua pemain begalan menari di depan kedua mempelai dengan membawa properti yang disebut abrag-abrag atau bubak kawah atau brenong kepang. Properti tersebut terdiri atas alat-alat dapur yang diberi makna simbolis yang berisi falsafah Jawa dan berguna bagi kedua mempelai yang akan menempuh hidup baru mengarungi kehidupan berumah tangga. Hingga sekarang begalan masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: BERJANJEN


Baca Selengkapnya...
Berjanjen; musik rakyat yang ditujukan untuk membacakan isi kitab Barzanji dengan menggunakan perangkat musik genjring. Hingga sekarang abid masih berkembang di desa Dawuhan kecamatan Banyumas, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: BONGKEL


Baca Selengkapnya...
Bongkel atau gondolio; musik tradisional mirip angklung, hanya terdiri atas satu buah instrumen dengan empat buah bilah berlaras slendro dengan nada 2 (ro), 3 (lu), 5 (ma) dan 6 (nem). Hingga sekarang bongkel atau gondolio masih berkembang di desa Tambaknegara, kecamatan Rawalo dan desa Gerduren, kecamatan Purwojati, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: BRAEN


Baca Selengkapnya...
Braen; seni tari islami dengan iringan genjring, dilakukan para penari wanita dengan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanji. Hingga sekarang braen masih berkembang di wilayah kecamatan Kejobong dan Kaligondang, kabupaten Purbalingga.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: BUNCIS


Baca Selengkapnya...
Buncis; perpaduan antara musik dan tari yang dibawakan oleh delapan penari pria. Dalam pertunjukannya, pemain buncis menari sambil bermain musik dan vokal dengan membawa alat musik angklung. Tetapi ada pula buncis jenis yang lain, yaitu pertunjukan tunggal yang dilakukan oleh seorang pemain yang memegang boneka (sepintas seperti boneka menggendong si pemain) dengan iringan angklung tunggal. Hingga sekarang buncis masih berkembang di desa Tanggeran kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: CALUNG


Baca Selengkapnya...
Calung; musik tradisional dengan perangkat mirip gamelan terbuat dari bambu wulung. Musik calung hidup di komunitas masyarakat pedesaan di wilayah sebaran budaya Banyumas. Menurut masyarakat setempat, kata “calung” merupakan jarwo dhosok (dua kata yang digabung menjadi kata bentukan baru) yang berarti carang pring wulung (pucuk bambu wulung) atau dicacah melung-melung (dipukul bersuara nyaring). Spesifikasi musik calung adalah bentuk musik minimal, yaitu dengan perangkat yang sederhana (minimal) namun mampu menghasilkan aransemen musikal yang lengkap. Perangkat musik calung terdiri atas gambang barung, gambang penerus, dhendhem, kenong, gong dan kendhang. Perangkat musik ini berlaras slendro dengan nada-nada 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (ma) dan 6 (nem). Hingga sekarang calung masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: COWONGAN


Baca Selengkapnya...
Cowongan; upacara minta hujan dengan menggunakan properti berupa siwur atau irus yang dihias menyerupai seorang putri. Pelaku cowongan terdiri atas wanita yang tengah dalam keadaan suci (tidak sedang haid, nifas atau habis melakukan hubungan seksual) dengan menyanyikan tembang-tembang tertentu yang sesungguhnya merupakan doa-doa. Cowongan dilaksanakan hanya pada saat terjadi kemarau panjang. Biasanya ritual ini dilaksanakan mulai pada akhir Mangsa Kapat (hitungan masa dalam kalender Jawa) atau sekitar bulan September. Hingga sekarang cowongan masih berkembang di desa Plana kecamatan Somagede dan desa Rawalo kecamatan Rawalo, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: DHAENG


Baca Selengkapnya...
Dhaeng atau Dhames; seni tari islami dengan iringan genjring dengan lagu-lagu diambil dari kitab Barzanji. Dalam pertunjukan para pemain mengalami intrance. Hingga sekarang dhaeng atau dhames masih berkembang di desa Bokol kecamatan Kemangkon, kabupaten Purbalingga.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: DHAGELAN


Baca Selengkapnya...
Dhagelan; drama tradisional dalam lawakan, di dalamnya terdapat unsur-unsur cerita dan terdapat peran-peran terkait dengan cerita yang disajikan. Hingga sekarang calung masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: DHOGER


Baca Selengkapnya...
Dhoger; tari rakyat tradisional yang dilakukan oleh penari perempuan dengan diiringi gamelan ringgeng. Dalam pertunjukannya pemain mengalami intrance. Menurut cerita dari mulut ke mulut, istilah 'dhoger' merupakan jarwodhosok yang berarti 'dhog gawe geger' (begitu datang membuat gempar). Kesenian dhoger pernah berkembang meluas di perbatasan wilayah kultur Banyumas dengan kultur Pasundan, terutama yang berdekatan dengan Kadipaten Cirebon, seperti Pekuncen, Brebes, Bumijawa dan sekitarnya.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: EBEG


Baca Selengkapnya...
Ebeg; seni tari tradisional dengan properti utama berupa kuda kepang, menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan penari berjumlah delapan penari pria. Dalam pertunjukannya, ebeg biasanya dilengkapi dengan penari topeng yang disebut penthul (gecul) dan cepet (menakutkan) serta barongan (seperti sapi). Pada sebagian pertunjukan ebeg dilengkapi pula dengan sintren yaitu penari pria yang berdandan wanita di dalam sebuah kurungan. Semua pemain ebeg dalam pertunjukannya mengalami intrance. Musik pengiring ebeg disebut bendhe. Hingga sekarang calung masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: EMPRAK


Baca Selengkapnya...
Emprak; drama tradisional versi islami dengan iringan genjring. Dalam pertunjukan menyajikan cerita-cerita Islam tentang kisah para nabi yang diambil dari kitab Anbiya. Kesenian emprak pernah berkembang di wilayah kecamatan Kedungbanteng, Baturraden, dan Sumbang.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: GEJOG


Baca Selengkapnya...
Gejog atau titir; musik tradisional dengan menggunakan perangkat lesung atau kenthongan dengan pola tabuhan cepat bertalu-talu. Apabila alat yang digunakan adalah lesung, maka disebut gejog. Sedangkan apabila menggunakan alat kenthongan disebut titir. Gejog atau titir biasanya dilakukan pada saat terjadi gempa bumi (lindhu), gerhana, kemalingan, dan peristiwa-peristiwa tragis yang bersifat mendadak lainnya. Gejog bisa dilakukan oleh satu orang atau lebih. Hingga sekarang gejog atau titir masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: GENDHING BANYUMASAN


Baca Selengkapnya...
Gendhing Banyumasan; salah satu ragam aransemen musikal dalam karawitan Jawa yang tumbuh dan berkembang di wilayah sebaran budaya Banyumas. Ciri utama gendhing Banyumasan memiliki bentuk yang sederhana, seperti bentuk lancaran, ketawang, ladrang, ayak-ayak, srepeg, dan sampak. Gendhing Banyumasan dikenal memiliki tiga warna, yaitu warna Wetanan, Kulonan dan Banyumasan. Warna Wetanan dalam gendhing Banyumasan dipengaruhi oleh gendhing-gendhing gaya Surakarta dan Yogyakarta. Warna Kulonan dipengaruhi oleh gendhing gaya Sunda. Adapun warna Banyumasan adalah warna khas yang dilatarbelakangi oleh budaya masyarakat setempat yang bernafas kerakyatan. Hingga sekarang gendhing Banyumasan masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: GUBRAG LESUNG


Baca Selengkapnya...
Gubrag Lesung; jenis musik tradisional dengan menggunakan perangkat musik berupa lesung yang dilakukan oleh minimal tiga orang pemain. Setiap pemain menabuh bagian-bagian tertentu dari lesung dengan pola dan warna bunyi yang berbeda-beda untuk membentuk jalinan musikal. Hingga sekarang gubrag lesung masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: GUMBENG


Baca Selengkapnya...
Gumbeng; permainan rakyat yang terdiri atas potongan ruas bambu yang dilaras dengan nada-nada tertentu, diletakkan di atas kaki yang sengaja dijulurkan ke depan dalam posisi duduk. Gumbeng pernah berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: GURITAN


Baca Selengkapnya...
Guritan; tembang bebas yang dilakukan oleh seorang atau lebih. Umumnya tembang jenis guritan dapat dijumpai dalam sajian karawitan Banyumasan. Gumbeng pernah berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas, dan sekarang masih berkembang sebagai bagian dari sajian seni karawitan gagrag Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: JONJANG


Baca Selengkapnya...
Jonjang; permainan rakyat yang digunakan untuk menghibur diri pada saat terjadi terang bulan di malam hari. Terdapat dua jenis jonjang, yaitu permainan dan pertandingan. Jenis permainan dilakukan oleh seorang atau lebih dalam bentuk tetembangan atau aktivitas fisik tertentu yang dilakukan secara bersama-sama. Sedangkan pertandingan adalah jenis jonjang yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang masing-masing berhadapan antara satu dengan lainnya dan terdapat unsur kalah-menang. Jonjang pernah berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: JEMBLUNG


Baca Selengkapnya...
Jemblung; seni tutur tradisional yang dilakukan oleh empat orang pemain. Menurut masyarakat setempat, kata “jemblung” merupakan jarwo dhosok (penggabungan dua kata menjadi kata bentukan baru) yang berarti jenjem-jenjeme wong gemblung (rasa tenteram yang dirasakan oleh orang gila). Pengertian ini diperkirakan bersumber dari tradisi pementasan jemblung yang menempatkan pemain seperti layaknya orang “gila”. Para pemain jemblung tampil dalam pementasannya tanpa properti artistik apapun, bermain seperti halnya sandiwara kethoprak, dan mengiringi pertunjukan dengan aransemen musikal yang dibangun melalui sajian musik mulut (oral). Ada pula yang berpendapat bahwa kata “jemblung” berasal dari kata “Jemblung Umarmadi”, yaitu seorang tokoh dalam cerita Umar-Amir (bersumber dari Serat Ambiya/riwayat para nabi) yang memiliki ciri berperut buncit (Jw.: njemblung). Ini berkaitan dengan salah satu cerita yang disajikan dalam pertunjukan jemblung bersumber dari Serat Ambiya. Dalam pertunjukannya pemain jemblung duduk di kursi menghadap sebuah meja yang berisi nasi tumpeng dan jajan pasar yang menjadi properti pementasan. Pertunjukan jemblung menyajikan kisah-kisah babad, legenda atau cerita rakyat yang adegannya diplot seperti halnya plot cerita pada pertunjukan kethoprak. Hingga sekarang jemblung masih berkembang di wilayah kecamatan Tambak dan Sumpiuh, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: KARAWITAN GAGRAG BANYUMAS


Baca Selengkapnya...
Karawitan gagrag Banyumas; salah satu gaya dalam karawitan Jawa yang tumbuh dan berkembang di wilayah sebaran budaya Banyumas. Karawitan gagrag Banyumas dikenal memiliki tiga warna, yaitu warna Wetanan, Kulonan dan Banyumasan. Warna Wetanan dalam karawitan gagrag Banyumas dipengaruhi oleh karawitan kraton (gaya Surakarta dan Yogyakarta). Warna Kulonan dipengaruhi oleh karawitan gaya Sunda. Adapun warna Banyumasan adalah warna khas yang dilatarbelakangi oleh budaya masyarakat setempat yang bernafas kerakyatan. Ketiga warna tersebut dapat dijumpai pada bentuk gendhing, garap gendhing dan garap instrumen dalam setiap penyajiannya. Karawitan gagrag Banyumasan disajikan dalam perangkat gamelan ageng. Namun demikian dapat pula disajikan dengan menggunakan perangkat musik calung maupun angklung yang merupakan perangkat musik khas Banyumasan. Hingga sekarang karawitan Banyumas masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: KASTER


Baca Selengkapnya...
Kaster; musik tradisional dengan alat musik berupa siter, gong bumbung dan kendhang kotak sabun (terbuat dari kotak kayu sebagai resonator dengan sumber bunyi berupa tali karet yang diikatkan di kedua sisi kotak). Dalam pertunjukannya disajikan gendhing-gendhing gaya Surakarta-Yogyakarta dan gaya Banyumas. Hingga sekarang jemblung masih berkembang di desa Karangtalun Kidul kecamatan Purwojati, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: KETHEK OGLENG


Baca Selengkapnya...
Kethek Ogleng; atraksi seni dengan menggunakan media monyet dengan tabuh-tabuhan seadanya. Kethek obleng di Banyumas telah ada sejak jaman penjajahan Belanda, dipertunjukkan di pasar-pasar malam. Saat ini kethek ogleng banyak digunakan sebagai media untuk mbarang atau ngamen.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: KETHOPRAK


Baca Selengkapnya...
Kethoprak; kethoprak di Banyumas merupakan pengaruh dari kethoprak Mataram yang dilakukan dari tobong ke tobong secara berpindah-pindah. Kethoprak yang berkembang di Banyumas memiliki spesifikasi berupa penyajian cerita-cerita lakal dan adanya tokoh-tokoh lokal yang tidak terdapat pada kethoprak Mataram. Kethoprak pernah berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: KENTHONGAN


Baca Selengkapnya...
Kenthongan; kenthongan merupakan alat komunikasi tradisional di Banyumas. Alat ini lazim dijadikan sebagai alat bunyi-bunyian yang mengarah pada jalinan musik. Jalinan musikal terjadi apabila bunyi-bunyian tersebut dilakukan dengan menggunakan dua buah kenthongan atau lebih. Perkembangan yang terjadi sejak dekade tahun 1980-an di Banyumas muncul genre musik baru berupa musik kenthongan yang memiliki warna kontemporer. Puncak perkembangan musik kenthongan terjadi pada akhir dekade tahun 1990-an hingga awal dekade 2000-an. Kenthongan masih menjadi alat komunikasi tradisional di desa-desa di wilayah kultur Banyumas, sedangkan musik kenthongan masih dapat dijumpai di wilayah Kabupaten Banyumas dan Purbalingga.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: KIDUNGAN


Baca Selengkapnya...
Kidungan; tembang yang dilakukan oleh seorang atau lebih dengan tujuan untuk berdoa untuk memohon keselamatan kepada Tuhan. Biasanya tembang diambil dari serat Kidungan yang konon dibuat oleh para wali pada awal perkembangan Islam di Jawa. Kidungan pernah berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: KRUMPYUNG


Baca Selengkapnya...
Krumpyung; jenis musik angklung yang terdiri dari tiga oktaf. Krumpyung biasanya juga digunakan sebagai iringan lengger di wilayah Banyumas dan sekitarnya. Hingga sekarang krumpyung masih berkembang di desa Bilungan kecamatan Purwareja-Klampok, kabupaten Banjarnegara.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: LAIS


Baca Selengkapnya...
Lais; seni tari tradisional yang disajikan oleh seorang penari pria yang berdandan selayaknya wanita yang dilakukan pada saat pemain sedang mengalami intrance. Lais biasa disajikan sebagai bagian dari pertunjukan ebeg. Lais pernah berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: LENGGER


Baca Selengkapnya...
Lengger; seni pertunjukan tradisional khas Banyumas yang dilakukan oleh penari laki-laki yang berdandan wanita. Dalam pertunjukannya penari lengger menari sambil menyanyi (nyindhen) dengan diiringi oleh gamelan calung. Kata “lengger” merupakan jarwo dhosok (penggabungan dua kata menjadi kata bentukan baru) yang berarti diarani leng jebule jengger (dikira lubang ternyata mahkota ayam jantan). Maksud jarwo dhosok tersebut adalah berkaitan dengan kebiasaan pada masa lalu pemain lengger berjenis kelamin laki-laki yang berdandang perempuan. “Leng” adalah simbol gender perempuan, sedangkan “jengger” adalah simbol gender laki-laki. Dalam perkembangannya, kesenian lengger lebih sebagai media hiburan sehingga penari yang semula laki-laki diganti dengan penari perempuan muda yang berparas cantik. Pada masyarakat tradisional di daerah Banyumas, lengger memiliki fungsi ritual sebagai sarana pelaksanaan upacara kesuburan. Lengger dipentaskan untuk keperluan baritan (upacara minta hujan), sedhekah bumi (upacara syukuran setelah panen padi), kaul (nadar), dan lain-lain. Saat sekarang lengger banyak dipentaskan untuk keperluan hiburan di daerah pedesaan maupun perkotaan dan telah dimodifikasi menjadi tarian-tarian rakyat yang digarap dengan konsep kekinian. Lengger saat ini umumnya dilakukan oleh penari wanita tidak ubahnya ronggeng, dan berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: MACAPATAN


Baca Selengkapnya...
Macapatan; tembang yang disajikan secara bersama-sama secara berkelompok dengan mengambil dari tembang-tembang cilik (macapat). Biasanya dalam macapatan satu orang melagukan tembang, kemudian yang lain mengikuti (mbarungi). Dalam tradisi lokal di Banyumas, macapatan juga diartikan sebagai tradisi berkumpul untuk bersama-sama nembang untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan yang melibatkan lima desa/kampung. Satu desa/kampung sebagai titik imajiner sedangkan empat desa/kampung lainnya adalah desa/kampung yang terdapat di keempat arah mata angin (timur, barat, selatan dan utara). Ini terkait dengan paham kosmologi Jawa, paham tentang jagad cilik (mikro kosmos) dan jagad gedhe (makro kosmos). Macapatan hingga saat ini masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: MARUNGAN


Baca Selengkapnya...
Marungan; pertunjukan kesenian yang dipergunakan untuk bersuka ria (kasukan) di kalangan priyayi Banyumas pada masa lalu. Pertunjukan dilakukan di malam hari dan benar-benar digunakan sebagai media hiburan. Dalam pertunjukan marungan para priyayi menari bersama dengan para penari wanita. Marungan pernah berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: MENOREK


Baca Selengkapnya...
Menorek/Menoreng. Drama tradisional Banyumas versi islami dengan menyajikan cerita bebas. Bisa berupa fiksi atau babad, baik yang bersumber dari cerita islami mapun cerita lokal Banyumas. Dalam pertunjukannya, menorek diiringi dengan menggunakan alat musik trabang/genjring. Saat ini menorek masih dapat dijumpai di wilayah kecamatan Jatilawang.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: MUNTHIET


Baca Selengkapnya...
Munthiet; pertunjukan monolog tradisional di Banyumas yang merupakan perpaduan dari penyajian tembang macapat, seni pedhalangan, dan kethoprak. Pertunjukan dilakukan secara bebas, bisa dilakukan di dalam atau di luar ruangan dengan iringan yang dibuat sendiri oleh pemain, baik dengan mulut maupun benda-benda yang secara spontan ditemukan pada saat pertunjukan. Munthiet pernah berkembang di wilayah perbatasan kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Banyumas hingga ke wilayah pantai selatan pulau Jawa.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: MUYEN


Baca Selengkapnya...
Muyen; jenis macapatan yang dipergunakan pada saat kelahiran seorang anak. Dalam macapatan muyen ini, tembang yang disajikan diambil dari serat Yusuf (untuk bayi laki-laki) atau serat Maryam (untuk bayi perempuan). Hingga saat ini muyen masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: NDHONDHING


Baca Selengkapnya...
Ndhondhing/Rengeng-rengeng; tembang bebas yang dilakukan oleh seseorang di mana saja dan kapan saja yang ditujukan untuk menghibur diri. Tembang yang dinyanyikan bisa berupa macapat, sindhenan, gerongan atau bentuk-bentuk tembang lain yang telah dihafalnya. Hingga saat ini ndhondhing/rengeng-rengeng masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: PAKELIRAN KIDUL GUNUNG


Baca Selengkapnya...
Pakeliran Kidul Gunung; pakeliran wayang kulit purwa gagrag Banyumas yang merupakan imbas dari pakeliran wayang kulit gagrag Mataram (sebelum berkembangnya gaya Surakarta-Yogyakarta). Salah satu spesifikasinya adalah menggunakan jenis wayang kulit Kidang Kencanan (memiliki bentuk lebih kecil dari wayang pada umumnya). Setelah perjanjian Giyanti, dengan berdirinya Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, pakeliran gaya Mataram tidak lagi berkembang di lingkungan kraton. Kemudian gaya Mataram berkembang di luar tembok kraton, khususnya di wilayah Kedu dan sekitarnya, menjadi gagrag Kedu. Imbas dari perkembangan gagrag Kedu di wilayah Banyumas adalah lahirnya gaya Pesisiran (selatan) yang kemudian disebut pula gagrag Kidul Gunung. Hingga saat ini pakeliran Kidul Gunung masih berkembang di desa Bangsa, kecamatan Kebasen, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: PAKELIRAN LOR GUNUNG


Baca Selengkapnya...
Pakeliran Lor Gunung; wayang kulit purwa gagrag Banyumas yang merupakan imbas dari pakeliran wayang kulit gagrag Surakarta. Wayang kulit Lor Gunung berkembang di Banyumas karena banyak adipati Banyumas yang menjadi sentana dalem di kraton Surakarta Hadiningrat. Dalam perkembangannya, berdirinya sekolah seni seperti Konservatori dan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) di Surakarta juga semakin mempertebal perkembangan gaya Surakarta di Banyumas. Adaptasi dari pakeliran gaya Surakarta di Banyumas melahirkan gagrag Lor Gunung. Hingga saat ini pakeliran Lor Gunung masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: RENGGONG


Baca Selengkapnya...
Renggong; pertunjukan tari tradisional yang dilakukan oleh seorang wanita atau lebih sebagai imbas dari persebaran ragam tari tradisional dari wilayah Sunda. Spesifikasi terdapat pada ragam gerak dan musikal yang kental warna Sundanya. Pada akhir pertunjukan pemain mengalami intrance. Kesenian renggong pernah berkembang meluas di perbatasan wilayah kultur Banyumas dengan kultur Pasundan, terutama di Kabupaten Cilacap bagian barat seperti Rawaapu, Sidareja, Dayeuh Luhur dan sekitarnya.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: RENGKONG


Baca Selengkapnya...
Rengkong; ritual mengangkut padi dari sawah ke rumah kediaman oleh beberapa orang dengan menggunakan pikulan bambu yang diberi lobang resonator, sehingga akibat gesekan antara tali pengikat padi dan pikulan menghasilkan jalinan bunyi yang mengarah pada aransemen musikal. Hingga saat ini rengkong masih berkembang di wilayah kecamatan Kedungbanteng, kabupateng Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: RINDHING


Baca Selengkapnya...
Rindhing; alat musik tradisional yang terbuat dari serat pohon pisang atau kulit pohon waru yang diletakkan di rongga mulut untuk dibunyikan melalui tiupan nafas. Rongga mulut berfungsi sebagai resonator, sehingga mampu menghasilkan bunyi dawai yang melengking tinggi. Rindhing pernah berkembang meluas di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas dan sekarang masih dapat dijumpai di wilayah kecamatan Gumelar, kabupaten Banyumas dan kecamatan Karangpucung, kabupaten Cilacap.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: RINGGENG


Baca Selengkapnya...
Ringgeng; musik tradisional dengan menggunakan gamelan besi dengan spesifikasi berupa instrumen-instrumen berbentuk bilah nada. Di dalamnya tidak terdapat instrumen pencon seperti halnya yang dijumpai pada gamelan pada umumnya. Instrumen-instrumen seperti bonang, kethuk, kenong dan gong keseluruhannya berbentuk bilah. Ringgeng pernah berkembang meluas di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas dan sekarang masih dapat dijumpai di desa Somakaton, kecamatan Somagede, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: RODAD


Baca Selengkapnya...
Rodad; tari rakyat versi islami yang dilakukan oleh penari wanita dengan iringan berupa lagu-lagu islami dan lagu-lagu versi pop. Pada akhir sajian pemain mengalami intrance. Hingga saat ini rodad masih dapat dijumpai di kelurahan Pabuaran, kecamatan Purwokerto Utara, kabupaten Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: RONGGENG


Baca Selengkapnya...
Ronggeng; salah satu jenis tari rakyat pengaruh Sunda yang dilakukan oleh penari wanita. Ini mirip dengan yang dijumpai pada renggong. Letak perbedaannya adalah apabila renggong kental warna Sundanya, maka ronggeng lebih kental warna lokal Banyumasannya. Ronggeng sekarang lebih dikenal dengan istilah lengger dan masih berkembang pesat di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: SINTREN


Baca Selengkapnya...
Sintren; seni pertunjukan rakyat serupa dengan lais, yaitu penari pria yang berdandan wanita dalam situasi sedang intrance. Apabila lais disajikan bersama-sama dengan sajian ebeg, maka sintren disajikan sebagai sajian mandiri. Sintren pernah berkembang di wilayah kultur Banyumas yang berdekatan dengan wilayah pantai utara pulau Jawa, seperti kecamatan Sumbang dan Baturraden (kabupaten Banyumas), karangreja (kabupaten Purbalingga). Sekarang sintren masih dapat dijumpai di wilayah kabupaten Pemalang, Tegal dan Brebes.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: SLAWATAN JAWA


Baca Selengkapnya...
Slawatan Jawa; musik bernafas islami dengan perangkat berupa terbang Jawa. Semua pemain slawatan Jawa adalah laki-laki dewasa. Slawatan Jawa masih berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: TUNDHAN BELIS


Baca Selengkapnya...
Tundhan/Tundhan Belis; jenis musik tradisional dengan menggunakan alat-alat dapur yang digunakan untuk mengusir setan atau memanggil kembali seseorang warga yang dibawa pergi oleh lampor atau kelong (sejenis setan yang suka membawa pergi manusia). Sajian musik dilakukan secara bebas sesuai dengan kehendak hati para penabuh dalam berimprovisasi. Tundhan belis pernah berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas, tetapi sekarang sudah sangat jarang dijumpai.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: UJUNGAN


Baca Selengkapnya...
Ujungan; ritual tradisional minta hujan dengan cara adu manusia. Ujungan merupakan adu manusia dengan properti berupa sebatang rotan. Pelaku ujungan adalah laki-laki dewasa yang memiliki kekuatan untuk menahan gempuran pukulan lawan. Sebelum beradu pukul, pemain ujungan menari-nari dengan iringan tepuk dan sorak-sorai penonton. Ritual ini hanya dilaksanakan pada saat terjadi kemarau panjang. Biasanya ujungan dilaksanakan pada akhir mangsa Kapat (pranata mangsa Jawa) atau sekitar bulan September. Dalam tradisi masyarakat Banyumas, ujungan dilakukan dalam hitungan ganjil misalnya satu kali, tiga kali, lima kali atau tujuh kali. Apabila sekali dilaksanakan ujungan belum turun hujan maka dilaksanakan tiga kali. Jika dilaksanakan tiga kali belum turun hujan maka dilaksanakan sebanyak lima kali. Demikian seterusnya hingga turun hujan. Ujungan masih berkembang di wilayah perbatasan kabupaten Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara, antara lain di wilayah kecamatan Somagede (kabupaten Banyumas), kecamatan Susukan (kabupaten Banjarnegara), dan kecamatan Kemangkon (kabupaten Purbalingga).

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: WIRENGAN


Baca Selengkapnya...
Wirengan; pertunjukan tradisional berupa pethilan atau fragmen wayang orang. Pertunjukan dilakukan hanya meliputi satu adegan, seperti gara-gara, perang, pasihan, dan lain-lain. Wirengan pernah berkembang di hampir seluruh wilayah kultur Banyumas, tetapi sekarang sudah sangat jarang dijumpai.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: BATIK


Baca Selengkapnya...
Batik; batik keberadaan batik di Banyumas sangat terkait dengan wilayah-wilayah kekuasaan yang berada di bawah kekuasaan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat maupun Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Di wilayah Banyumas terdapat beberapa sentra batik antara lain di Sokaraja, Banyumas, Purbalingga, dan Gumelem.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: TATAH SUNGGING


Baca Selengkapnya...
Tatah Sungging; persebaran seni tatah sungging di Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat maupun Kasunanan Surakarta Hadiningrat sampai juga di wilayah Banyumas yang melahirkan seni tatah sungging di wilayah ini. Hasil-hasilnya dapat dilihat dalam bentuk tatah sungging wayang, lukis kaca, kaligrafi dan lain-lain. Tatah sungging masih berkembang di desa Tanggeran kecamatan Somagede, desa Karangrau kecamatan Banyumas dan kelurahan Bobosan kecamatan Purwokerto Utara (kabupaten Banyumas).

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: SENI KRIYA


Baca Selengkapnya...
Kriya; seni kriya di Banyumas dapat dilihat pada barang-barang keperluan sehari-hari, barang-barang hiasan dan souvenir. Semua ini merupakan pengaruh dari perkembangan seni kriya di lingkungan kraton, khususnya di Surakarta dan Yogyakarta. Beberapa sentra kerajinan di wilayah kultur Banyumas antara lain: keramik Klampok dan pandhe besi Gumelem kecamatan Susukan (kabupaten Banjarnegara), keramik Lumbir, kerajinan bambu desa Piasa dam desa Kemawi kecamatan Somagede, kemasan dan bandol Karanglewas (kabupaten Banyumas), kerajinan gamelan Pesayangan (kabupaten Purbalingga), dan lain-lain.

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: WAYANG KULIT KIDUL GUNUNG


Baca Selengkapnya...
Wayang kulit Kidul Gunung; jenis wayang kulit yang dipengaruhi wayang kulit Kidang Kencana yang berkembang pada jaman Mataram. Pada mulanya, wayang kulit Kidang Kencana merupakan jenis wayang kulti yang digunakan sebagai media berlatih putra dalem, sehingga bentuk dan ukurannya lebih kecil daripada wayang yang digunakan untuk pementasan. Dalam perkembangannya, setelah Mataram runtuh, wayang Kidang Kencanan berkembang di wilayah Kedua, pantai selatan (pesisir) Jawa bagian barat hingga ke wilayah Banyumas. Di Banyumas jenis wayang ini bukan sekedar untuk berlatih, tetapi juga untuk pertunjukan. Sebagai sebuah adaptasi, di dalamnya terdapat penambahan-penambahan tokoh seperti Sarkowi, Lisun, Medem, Janaloka, Sarawita dan lain-lain. Hingga saat ini tidak ada lagi pengrajin wayang kulit yang secara khusus membuat wayang kulit gagrag Kidul Gunung. Untuk dapat memperoleh wayang kulit jenis ini dapat berhubungan dengan pengrajin tatah sungging di desa Tanggeran kecamatan Somagede, desa Karangrau kecamatan Banyumas dan kelurahan Bobosan kecamatan Purwokerto Utara (kabupaten Banyumas).

SERI KESENIAN LOKAL BANYUMAS: WAYANG KULIT LOR GUNUNG


Baca Selengkapnya...
Wayang Kulit Lor Gunung; jenis wayang kulit pengaruh gaya Surakarta. Seperti halnya pada wayang kulit versi Kidul Gunung, di dalam versi Lor Gunung juga terdapat penambahan tokoh lokal seperti Sarkowi, Lisun, Medem, Janaloka, Sarawita dan lain-lain. Hingga saat ini tidak ada lagi pengrajin wayang kulit yang secara khusus membuat wayang kulit gagrag Lor Gunung. Untuk dapat memperoleh wayang kulit jenis ini dapat berhubungan dengan pengrajin tatah sungging di desa Tanggeran kecamatan Somagede, desa Karangrau kecamatan Banyumas dan kelurahan Bobosan kecamatan Purwokerto Utara (kabupaten Banyumas).

ASET WISATA LOKAL BANYUMAS MENUJU PASAR GLOBAL


Baca Selengkapnya...


A. Pendahuluan
Pariwisata yang memiliki sifat multidimensi dan multisektor dirasakan punya pengaruh besar bagi banyak pihak sebagai sebuah multistakeholder. Pariwisata sudah menjadi industri, namun sektor ini sangat rentan terhadap beragam isu, dari sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan fisik hingga kondisi keamanan negara.

Pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin ekonomi penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara tidak terkecuali di Indonesia. Namun demikian pada prinsipnya pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara. Pada saat ini pembangunan kepariwisataan pada dasarnya ditujukan untuk:

1. Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Pariwisata mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru negeri. Sehingga dengan banyaknya warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah selain tempat tinggalnya akan timbul rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.

2. Penghapusan Kemiskinan (Poverty Alleviation)
Pembangunan pariwisata seharusnya mampu memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan ke suatu daerah seharusnya memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian pariwisata akan mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata.

3. Pembangunan Berkesinambungan (Sustainable Development)
Dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramahtamahan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini. Bahkan berdasarkan berbagai contoh pengelolaan kepariwisataan yang baik, kondisi lingkungan alam dan masyarakat di suatu destinasi wisata mengalami peningkatan yang berarti sebagai akibat dari pengembangan keparwiwisataan di daerahnya.

4. Pelestarian Budaya (Culture Preservation)
Pembangunan kepariwisataan seharusnya mampu kontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara atau daerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut, sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian kebudayaan di berbagai daerah.

5. Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia
Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan skema paid holidays.

6. Peningkatan Ekonomi dan Industri
Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan seharusnya mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di suatu destinasi pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa. Syarat utama dari hal tersebut di atas adalah kemampuan usaha pariwisata setempat dalam memberikan pelayanan berkelas dunia dengan menggunakan bahan dan produk lokal yang berkualitas.

7. Pengembangan Teknologi
Dengan semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini mereka. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang akan mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya. Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. Kepariwisataan akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas memiliki dua babonan (source) utama, yaitu gunung Slamet dan sungai Serayu. Keduanya sama-sama memiliki kekuatan yang luar biasa yang apabila dikembangkan secara optimal akan menempatkan Kabupaten Banyumas sebagai salah satu kekuatan utama kepariwisataan di Jawa Tengah. Gunung Slamet memiliki kekuatan berupa landscape alam yang indah. Sedangkan sungai Serayu memiliki kekuatan berupa kebudayaan lokal yang lahir, hidup dan berkembang di sepanjang aliran sungai. Kekuatan alam yang berporos di gunung Slamet melahirkan obyek dan potensi wisata, antara lain: landscape Baturraden, Wana Wisata, Pancuran Tiga, Pancuran Tujuh, Goa Sarabadak, Curug Ceheng, Curug Gede, dan Curug Gomblang, yang jika dirunut lebih jauh maka sampai pada Curug Cipendok Cilongok, Goa Darma Kradenan Ajibarang, Gunung Putri Purwojati, hingga Puncak Mahameru Tambak.

Kekuatan kebudayaan lokal Banyumas dapat dilihat pada beberapa aspek, antara lain:
1. Sejarah: Majapahit dan Pajajaran sebagai leluhur Banyumas serta posisi strategis Banyumas pasca perang Diponegoro (1830).
2. Nilai Tradisional: nilai-nilai kultur Banyumas berakar dari kehidupan tradisional-agraris dan budaya kerakyatan.
3. Kepercayaan terhadap Tuhan YME: perpaduan antara kepercayaan lokal dengan Hinduisme, Budhisme, Islam dan Barat.
4. Kesenian: terdapat 56 jenis kesenian lokal khas Banyumas yang dapat dibedakan ke dalam jenis seni musik tradisional, seni tari tradisional, seni teater tradisional, dan seni rupa.
5. Permuseuman: di Banyumas terdapat beberapa museum penting antara lain Museum Wayang Sendang Mas Banyumas, Museum BRI Purwokerto, dan Museum Pangsar Soedirman serta artefak-artefak budaya yang tersimpan di masyarakat.
6. Kepurbakalaan: Banyumas memiliki kekayaan artefak peninggalan sejarah purbakala peninggalan masa prasejarah, masa klasik (Hindu-Budha), masa Islam dan masa kolonial.
7. Kebahasaan: berkembang bahasa Jawa dialek Banyumasan yang merupakan salah satu wujud identitas kultur Banyumas.
8. Kesastraan: berkembang pesat sastra lisan dalam kehidupan masyarakat Banyumas sebagai akibat dari kuatnya perkembangan tradisi lisan pada masa lalu.

Selain kedua kekuatan di atas, Kabupaten Banyumas masih menyimpan kekuatan kepariwisataan yang lain, meliputi:
1. Wisata Kota Lama Banyumas, Bendung Gerak Serayu
2. Wisata Husada : Kali bacin, Pancuran 7, Pancuran 3 Baturraden
3. Wisata Kerajinan : Batik, Bambu, Keramik
4. Wisata Boga : Sokaraja, Baturraden, Banyumas, dll
5. Wisata Agro : Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Cikakak
6. Wisata Kota : Alun-alun, Gor, Moro, Rita, Fatmaba
7. Wisata Spiritiual : Masjid Saka Tunggal Cikakak, Goa Maria , Candi, Petilasan;
8. Wisata Minat Khusus : Jungle Track, Pendakian gunung;
9. Wisata Rekreasi : Konvensi, Impresariat, Teknologi, Olah raga dll

B. Kepariwisataan di Era Globalisasi
Ada dua esensi dalam kepariwisataan, yaitu: (1) looking for something difference (mencari segala sesuatu yang berbeda), dan (2) aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan ketika berada dalam perjalanan, baik pemenuhan sarana akomodasi, pengalaman baru, kesegaran fisik dan psikis, maupun kegiatan lainnya mulai sejak berangkat sampai dengan pulang.

Pariwisata internasional pada tahun 2004 mencapai kondisi tertinggi sepanjang sejarah dengan mencapai 763 juta orang dan menghasilkan pengeluaran sebesar US$ 623 miliar. Kondisi tersebut meningkat 11% dari jumlah perjalanan tahun 2003 yang mencapai 690 juta orang dengan jumlah pengeluaran US$ 524 miliar. Diperkirakan jumlah perjalanan wisata dunia di tahun 2010 akan mencapai 1 miliar orang dan di tahun 2020 akan menembus 1,5 miliar orang per tahun. Namun demikian perjalanan wisata di dunia masih dihadapkan kepada permasalahan-permasalahan besar yang meliputi ancaman terorisme dan penyebaran penyakit mematikan (pandemi) yang melanda dunia akhir-akhir ini.

World Travel and Tourism Council (WTTC) yang berkedudukan di London, Inggris, pada tahun 2003 telah menerbitkan suatu dokumen yang menggambarkan arah perubahan hubungan antara para pelaku kepariwisataan. Disebutkan bahwa pembangunan kepariwisataan saat ini memerlukan:
1. Kemitraan yang koheren antara para pelaku kepariwisataan, masyarakat, usaha swasta dan pemerintah.
2. Penyampaian produk wisata yang secara komersial menguntungkan, namun tetap memberikan jaminan manfaat bagi setiap pihak yang terlibat.
3. Berfokus pada manfaat bukan saja bagi wisatawan yang datang namun juga bagi masyarakat yang dikunjungi serta bagi lingkungan alam, sosial dan budaya setempat.

Pada sisi lainnya, kepariwisataan dunia juga menghadapi globalisasi yang antara lain berbentuk liberalisasi dan aliansi perdagangan jasa-jasa seperti tertuang dalam Persetujuan Umum Tarif Jasa (GATS) dan di tingkat regional diimplementasikan melalui pemberlakuan AFTA dan AFAS. Pemberlakuan liberalisasi perdagangan dan jasa ini adalah untuk menghilangkan hambatan dalam hal perdagangan, meliputi: transaksi perdagangan barang dan jasa, sumber daya modal (investasi), dan pergerakan manusia.

Dengan diberlakukannya AFAS, batas-batas negara yang selama ini menghambat pergerakan perdagangan baik barang dan jasa termasuk di dalamnya pariwisata akibat aspek peraturan dan kebijakan yang berlaku di masing-masing negara menjadi tidak berlaku lagi, sesuai dengan prinsip globalisasi yaitu borderless (dunia tanpa batas). Akibatnya persaingan/kompetisi antar bangsa adalah faktor kunci yang menuntut setiap negara untuk menyiapkan strategi dan langkah-langkah yang tepat dalam menghadapi era perdagangan bebas, misalnya di bidang pariwisata melalui peningkatan kualitas dan pelayanan produk pariwisata, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Selanjutnya masalah keamanan global menjadi perhatian serius. Masalah keamanan sangat terkait dengan aksi terorisme yang pada faktanya telah menjadi salah satu ancaman serius pada saat ini. Masalah keamanan global ternyata telah menciptakan citra yang sangat kurang menguntungkan bagi industri pariwisata global. Keselamatan wisatawan yang menjadi faktor utama telah terusik akibat aksi bom di destinasi maupun fasilitas pariwisata (hotel dan pesawat terbang) serta didorong dengan adanya pandangan bahwa saat ini tidak ada destinasi yang aman untuk berwisata. Apabila sentimen ini sudah masuk dalam benak wisatawan, maka hal ini akan menjadi permasalahan yang cukup serius bagi perkembangan pariwisata global di masa depan.

Masalah kesehatan global juga menjadi perhatian serius dalam pengembangan kepariwisataan dunia. Penyebaran AIDS, avian flu, meningitis, cholera, demam berdarah dengue dan tubercolosis yang semakin tinggi berakibat kurang menguntungkan bagi pergerakan wisatawan dunia. Pandemi yang melanda beberapa negara di Asia belakangan ini telah mempengaruhi daya saing kepariwisataan negara-negara tersebut. Antisipasi dalam mencegah penyebaran penyakit mematikan tersebut serta keterbukaan informasi masing-masing negara merupakan faktor penting dalam menciptakan daya tarik bagi calon wisatawan untuk kembali melakukan perjalana wisata ke negara-negara yang mengalami pandemi tersebut.

Kemajuan teknologi di bidang transportasi, telekomunikasi, dan informasi telah menciptakan dunia tanpa batas, memudahkan terjadinya mobilitas manusia antarnegara maupun pertukaran informasi melalui dunia maya (virtual). Kerjasama dan pergaulan yang semakin global dengan memanfaatkan kemajuan Iptek, harus pula diimbangi dengan upaya mengangkat unsur budaya lokal yang semakin besar perannya dalam membentuk karakter dan identitas bangsa serta meningkatkan keunggulan kompetitif. Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi telah memacu terjadinya kontak antarbudaya secara lebih intensif, baik secara personal (tatap muka) maupun impersonal, melalui berbagai media seperti radio, televisi, komputer, internet, koran, dan majalah.

Perjalanan wisata internasional di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2004 mewakili 20% perjalanan dunia atau setara dengan 152,5 juta perjalanan wisata dengan pendapatan mencapai US$124,97 miliar. Pertumbuhan perjalanan wisata di kawasan ini merupakan yang tertinggi di dunia (27,9%) dibandingkan kawasan lainnya. Asia Pasifik sampai saat ini merupakan kawasan pariwisata dunia yang paling dinamis. Pada tahun 1990 jumlah perjalanan wisata di kawasan ini baru mencapai 57,7 juta perjalanan namun dalam waktu limabelas tahun berlipat tiga menjadi lebih dari 150 juta perjalanan, walaupun sempat mengalami penurunan jumlah kunjungan yang signifikan di tahun 2003 (-9,0%).

Di Asia Tenggara, seluruh negara yang melakukan kegiatan pariwisata melaporkan pertumbuhan dua digit di tahun 2004. Tourism Highlight 2005, UN-WTO, 2005 melaporkan bahwa dari lima negara destinasi pariwisata utama di Asia Tenggara, Thailand masih merupakan negara yang paling besar menerima devisa dari kegiatan pariwisata internasional. Kelebihan dan kekurangan pada tiap-tiap negara di kawasan Asia Tenggara antara lain:

1. Thailand : atraksi wisata budaya, infrastruktur, fasilitas dan pelayanan pariwisata, citra negatif pariwisata, ominasi kepemilikan usaha oleh orang asing.
2. Malaysia : aksesibilitas, fasilitas dan pelayanan pariwisata, kemampuan untuk menahan wisman lebih lama, keragaman atraksi wisata.
3. Singapura : infrastruktur dan aksesibilitas (hub penerbangan), fasilitas dan pelayanan wisata, keterbatasan destinasi, kemampuan untuk menahan wisman lebih lama.
4. Filipina : atraksi wisata alam dan budaya, keragaman destinasi, keamanan, citra negatif pariwisata.
5. Vietnam : kekayaan heritage tourism, atraksi wisata alam dan budaya, terbatasnya infrastruktur, belum terbentuknya citra sebagai destinasi pariwisata.

Di tingkat nasional, laju pertumbuhan kepariwisataan masih ditemui dilema (paradox). Sifat paling mendasar dari investasi pada industri pariwisata di Indonesia adalah “high investment, not quick yield” artinya investasi di bidang pariwisata membutuhkan investasi yang besar dengan tingkat pengembalian yang lama (jangka panjang). Kondisi ini sungguh tidak menarik bagi kebanyakan stakeholders kepariwisataan yang masih memiliki budaya “instant and shortcut”. Mereka lebih menyukai melakukan investasi yang dapat segera memberikan keuntungan. Sehingga para investor tidak tertarik menanamkan modalnya dalam mengembangkan usaha pariwisata.

Dalam konteks ini diperlukan integrasi usaha pariwisata (tourism business integration) yang merupakan sinergi pelaku kepariwisataan secara horisontal maupun vertikal dan memberikan keuntungan atau manfaat bagi masing-masing pihak. Oleh karena itu diperlukan bentuk-bentuk insentif yang mampu merangsang timbulnya investasi di bidang kepariwisataan dengan menggunakan manajemen partisipatoris dengan melibatkan seluruh stakeholders baik masyarakat, dunia usaha, lembaga keuangan, pemerintah daerah (provinsi, kabupaten maupun kota), serta pemerintah pusat.

Sesuai dengan Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Kepariwisataan Nasional tahun 2005 – 2009, maka kebijakan dalam pembangunan kepariwisataan nasional diarahkan untuk:
1. Peningkatkan daya saing destinasi, produk dan usaha pariwisata nasional;
2. Peningkatan pangsa pasar pariwisata melalui pemasaran terpadu di dalam maupun di luar negeri;
3. Peningkatan kualitas, pelayanan dan informasi wisata;
4. Pengembangan incentive system usaha dan investasi di bidang pariwisata;
5. Pengembangan infrastruktur pendukung pariwisata;
6. Pengembangan SDM (standarisasi, akreditasi dan sertifikasi kompetensi);
7. Sinergi multi-stakeholders dalam desain program kepariwisataan.


C. Pengembangan Kepariwisataan di Kabupaten Banyumas

Letak strategis Kabupaten Banyumas yang berada di posisi silang sesungguhnya sangat menguntungkan bagi pembangunan kepariwisataan di daerah ini. Dalam kacamata pandang kepariwisataan, Kabupaten Banyumas terletak pada:

 Posisi Kabupaten Banyumas di tengah tengah jalur dari Pantura menuju ke pantai selatan atau jalan utama Jakarta – Surabaya di selatan pulau Jawa;
 Jalur lalulintas dari Jawa Barat menuju Jawa Timur sedemikian melalui kawasan selatan Kabupaten Banyumas;
 Banyaknya peluang potensi wisata berbasis wisata: alam, budaya, buatan, sejarah, kuliner, dan lain-lain menjadi daya tarik untuk dikunjungi.

Isyu strategis yang memungkinkan dapat mendorong pertumbuhan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas antara lain:

 Gunung Slamet dan sungai Serayu sebagai kekuatan kepariwisataan Banyumas.
 Letak strategis Kabupaten Banyumas di posisi silang.
 Kekayaan potensi alam dan kebudayaan lokal sebagai kekuatan pembangunan kepariwisataan.
 Keinginan pencapaian kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan kepariwisataan.

Dalam rangka pembangunan kepariwisataan wilayah Banyumas telah disusun RIPPDA (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah) tahun 2008 – 2015. Di dalamnya disebutkan bahwa pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas dibagi menjadi tiga SWPP (Sub Wilayah Pengembangan Pariwisata), antara lain:

 Wilayah I : Baturraden, Kedungbanteng, Karanglewas, Purwokerto Utara, Purwokerto Barat, Purwokerto Selatan, Purwokerto Timur, Sumbang, Kembaran, Sokaraja, Kalibagor, Patikraja, Kebasen.
 Wilayah II : Cilongok, Ajibarang, Pekuncen, Gumelar, Lumbir, Wangon, Jatilawang, Purwojati, Rawalo.
 Wilayah III : Banyumas, Somagede, Tambak, Sumpiuh, Kemranjen.

Berdasarkan ketiga pembagian sub wilayah pembangunan pariwisata tersebut, maka pelaksanaan pengembangan kepariwisataan dapat diwujudkan ke dalam sebuah bangun segitiga “Bango mas” yang meliputi wilayah Baturraden, Wangon, dan Banyumas.

Titik pertumbuhan kepariwisataan di Baturraden dilakukan dengan menitikberatkan pengembangan wisata alam. Pertumbuhan kepariwisataan Baturraden didukung oleh pengembangan Museum Pangsar Soedirman sebagai wisata kota dan Curug Cipendok di Cilongok. Di Museum Pangsar Soedirman dirancang selain dibangun taman bermain, juga akan dibangun sebuah cinema yang dapat dipergunakan untuk memutar film-film perjuangan Jenderal Soedirman dan film-film produksi lokal. Sedangkan di curug Cipendok akan dibangun agrowisata dengan memanfaatkan landscape alam pegunungan di wilayah itu.

Wilayah Banyumas akan dikembangkan wisata kota lama dengan memanfaatkan artefak-artefak bangunan kuno bersejarah dan ragam kebudayaan local setempat. Pembangunan kota lama Banyumas sebagai destinasi wisata telah dimulai dengan dibentuknya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sentra Budaya yang memiliki kewenangan menggali, melestarikan, mengembangkan, dan memberdayakan aspek-aspek kebudayaan lokal sebagai salah satu kekuatan kedirian masyarakat Banyumas dalam wacana politik identitas serta diarahkan terbentuknya etalase budaya, museum sekaligus laboratorium kebudayaan lokal Banyumas. Pengembangan kota lama Banyumas didukung oleh pengembangan wisata serayu (Serayu River Voyage – SRV).

Titik pertumbuhan Wangon dilakukan dengan memanfaatkan artefak sejarah berupa Masjid Saka Tunggal Cikakak. Titik pertumbuhan wilayah ini didukung oleh beberapa kekuatan, antara lain makam Kyai Tolih, kera-kera jinak di sekitar masjid Saka Tunggal, goa krast Darma Kradenan, Gunung Putri Purwojari dan wisata husada Kalibacin.

Arah kebijakan pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas, dilakukan melalui serangkaian tindakan yang berbasis pada strategi :

1. Kebijakan Investasi (Investment Policy), melalui penerapan peraturan yang kondusif terhadap pembangunan usaha pariwisata baru maupun pengembangan usaha yang telah ada.
2. Pengembangan Infrastruktur, dengan memperbesar aksesibilitas menuju dan dalam destinasi pariwisata melalui pembangunan serta perluasan jaringan jalan, jaringan telekomunikasi, penyediaan listrik dan air bersih. Ketersediaan infrstruktur yang memadai akan meningkatkan daya saing serta daya tarik dalam penyediaan fasilitas kepariwisataan di setiap lokus.
3. Pengembangan SDM, melalui peningkatan kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat lokal guna mengembangkan kompetensi masyarakat dalam penyediaan barang dan jasa kepariwisataan serta pelayanan bagi wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara.
4. Koordinasi Lintas Sektor, mengembangkan kemitraan antara seluruh stakeholders pembangunan kepariwisataan melalui upaya koordinasi, sinkronisasi dan konsolidasi yang melibatkan lembaga swadaya masyarakat, asosiasi/usaha pariwisata, DPRD, maupun pemerintah.

Seluruh kondisi tersebut di atas memerlukan pendekatan yang ditujukan untuk meningkatkan keunggulan daya saing (competitive advantage) yang dimiliki Kabupaten Banyumas dalam pengembangan kepariwisataan. Michael E. Porter (2004) menyebutkan bahwa competitive advantage membutuhkan faktor-faktor pembangun seperti :

1. Cost Advantages, keunggulan atas biaya yang harus dikeluarkan dalam penyediaan produk dan pelayanan wisata merupakan faktor penting dalam membangun keunggulan kompetitif destinasi pariwisata. Di dalamnya bergabung berbagai faktor yang mampu mengembangkan kinerja destinasi seperti perencanaan (desain); pengembangan produk wisata; pemasaran; pelayanan; serta harga. Dalam konteks pemerintahan, keunggulan biaya dapat pula dibantu dengan harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah yang terkait dengan insentif keuangan, penetapan tarif serta skema perpajakan atau retribusi.
2. Differentiation, membedakan destinasi dan produk pariwisata merupakan fokus dalam mengembangkan keunggulan komparatif kepariwisataan. Suatu destinasi pariwisata harus mampu menjadi berbeda dengan pesaingnya ketika menghasilkan aksesibilitas, atraksi dan amenitas yang unik dan berharga bagi wisatawan yang datang. Diferensiasi tidak melulu dilakukan dengan hanya menawarkan harga produk dan pelayanan yang lebih rendah.
3. Business Linkages, mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan merupakan suatu proses integratif dalam membangun keunggulan kompetitif kepariwisataan. Hubungan yang dibangun bersifat vertikal dan horisontal serta saling terintegrasi satu sama lainnya.
4. Services, pelayanan yang konsisten semenjak wisatawan tiba di pintu masuk (entry point), pada saat berada di destinasi pariwisata sampai dengan kepulangannya. Seluruh pihak yang terkait seperti adminsitratur bandara dan pelabuhan, petugas imigrasi, bea cukai dan karantina, supir taksi dan lainnya seyogyanya mampu memberikan pelayanan prima dan baku sehingga meninggalkan kesan yang dalam bagi wisatawan.
5. Infrastructures, kondisi prasarana dan sarana pendukung kepariwisataan yang terpelihara dan beroperasi dengan baik juga merupakan faktor penting pembangun keunggulan kompetitif suatu destinasi pariwisata.
6. Technology, penggunaan teknologi yang tepat dan mudah digunakan akan mampu memberikan dukungan bagi pelayanan kepada wisatawan yang datang selain mampu juga mendukung proses pengambilan keputusan dalam pengembangan, pengelolaan dan pemasaran destinasi pariwisata.
7. Human Resources, kompetensi sumberdaya manusia pelayanan dan pembinaan kepariwisataan menjadi kunci penting pelaksanaan berbagai faktor pembentuk keunggulan kompetitif tersebut di atas.

Berbagai faktor pembentuk keunggulan kompetitif tersebut menggambarkan kompleksitas pengembangan kepariwisataan yang bersifat multisektor dan multidisipliner bagi di tingkat pusat, provinsi maupun lokal. Namun demikian untuk melaksanakannya secara berhasil diperlukan tiga elemen penting yaitu (1) Visi; (2) Kepemimpinan (Leadership); dan (3) Komitmen. Ketiga elemen ini harus pula ditunjukkan secara nyata dalam proses pengembangan, pengelolaan dan pemasaran kepariwisataan.

D. Penutup

Pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas dihadapkan pada berbagai masalah, tantangan dan hambatan baik yang berskala global, nasional maupun regional. Selain itu diperlukan pula perubahan paradigma dalam memandang pariwisata dalam konteks pembangunan nasional. Pariwisata tidak lagi semata dipandang sebagai alat peningkatan pendapatan nasional namun memiliki spektrum yang lebih luas dan mendasar. Oleh karena itu pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas memerlukan fokus yang lebih tajam serta mampu memposisikan destinasi pariwisata sesuai potensi alam, budaya dan masyarakatnya. Dalam konteks ini, setiap lokus yang memiliki potensi kepariwisataan harus dapat memposisikan dirinya dalam kerangka pembangunan kepariwisataan nasional dengan diimbangi dengan perencanaan yang matang dan upaya-upaya peningkatan kompetensi SDM yang berkualitas dunia.


DAFTAR PUSTAKA

Boxwell, Robert J., Jr. (1994), Benchmarking for Competitive Advantage, McGraw-Hill, Inc., New York.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2005), Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Nasional 2005 – 2009, Jakarta.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas (2007), Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Tahun 2008-2015, Purwokerto.

Porter, Michael E. (2004), Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance, with a new introduction, copyright 1985, Free Press Publishing, New York.

Thurow, Lester C. (1999), Building Wealth: the New Rules for Individuals, Companies, and Nations in a Knowledge-Based Economy, 1 st Edition, HarperCollins Publishers, Inc., New York.

United Nation-World Tourism Organization (2005), Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid.

World Travel dand Tourism Council (2003), The Blueprint of New Tourism, WTTC, London.

ASET WISATA LOKAL BANYUMAS MENUJU PASAR GLOBAL


Baca Selengkapnya...
A. Pendahuluan
Pariwisata yang memiliki sifat multidimensi dan multisektor dirasakan punya pengaruh besar bagi banyak pihak sebagai sebuah multistakeholder. Pariwisata sudah menjadi industri, namun sektor ini sangat rentan terhadap beragam isu, dari sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan fisik hingga kondisi keamanan negara.

Pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin ekonomi penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara tidak terkecuali di Indonesia. Namun demikian pada prinsipnya pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara. Pada saat ini pembangunan kepariwisataan pada dasarnya ditujukan untuk:

1. Persatuan dan Kesatuan Bangsa
Pariwisata mampu memberikan perasaaan bangga dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh penduduknya ke seluruh penjuru negeri. Sehingga dengan banyaknya warganegara yang melakukan kunjungan wisata di wilayah-wilayah selain tempat tinggalnya akan timbul rasa persaudaraan dan pengertian terhadap sistem dan filosofi kehidupan masyarakat yang dikunjungi sehingga akan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional.

2. Penghapusan Kemiskinan (Poverty Alleviation)
Pembangunan pariwisata seharusnya mampu memberikan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan ke suatu daerah seharusnya memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian pariwisata akan mampu memberi andil besar dalam penghapusan kemiskinan di berbagai daerah yang miskin potensi ekonomi lain selain potensi alam dan budaya bagi kepentingan pariwisata.

3. Pembangunan Berkesinambungan (Sustainable Development)
Dengan sifat kegiatan pariwisata yang menawarkan keindahan alam, kekayaan budaya dan keramahtamahan pelayanan, sedikit sekali sumberdaya yang habis digunakan untuk menyokong kegiatan ini. Bahkan berdasarkan berbagai contoh pengelolaan kepariwisataan yang baik, kondisi lingkungan alam dan masyarakat di suatu destinasi wisata mengalami peningkatan yang berarti sebagai akibat dari pengembangan keparwiwisataan di daerahnya.

4. Pelestarian Budaya (Culture Preservation)
Pembangunan kepariwisataan seharusnya mampu kontribusi nyata dalam upaya-upaya pelestarian budaya suatu negara atau daerah yang meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan budaya negara atau daerah. UNESCO dan UN-WTO dalam resolusi bersama mereka di tahun 2002 telah menyatakan bahwa kegiatan pariwisata merupakan alat utama pelestarian kebudayaan. Dalam konteks tersebut, sudah selayaknya bagi Indonesia untuk menjadikan pembangunan kepariwisataan sebagai pendorong pelestarian kebudayaan di berbagai daerah.

5. Pemenuhan Kebutuhan Hidup dan Hak Azasi Manusia
Pariwisata pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar kehidupan masyarakat modern. Pada beberapa kelompok masyarakat tertentu kegiatan melakukan perjalanan wisata bahkan telah dikaitkan dengan hak azasi manusia khususnya melalui pemberian waktu libur yang lebih panjang dan skema paid holidays.

6. Peningkatan Ekonomi dan Industri
Pengelolaan kepariwisataan yang baik dan berkelanjutan seharusnya mampu memberikan kesempatan bagi tumbuhnya ekonomi di suatu destinasi pariwisata. Penggunaan bahan dan produk lokal dalam proses pelayanan di bidang pariwisata akan juga memberikan kesempatan kepada industri lokal untuk berperan dalam penyediaan barang dan jasa. Syarat utama dari hal tersebut di atas adalah kemampuan usaha pariwisata setempat dalam memberikan pelayanan berkelas dunia dengan menggunakan bahan dan produk lokal yang berkualitas.

7. Pengembangan Teknologi
Dengan semakin kompleks dan tingginya tingkat persaingan dalam mendatangkan wisatawan ke suatu destinasi, kebutuhan akan teknologi tinggi khususnya teknologi industri akan mendorong destinasi pariwisata mengembangkan kemampuan penerapan teknologi terkini mereka. Pada daerah-daerah tersebut akan terjadi pengembangan teknologi maju dan tepat guna yang akan mampu memberikan dukungan bagi kegiatan ekonomi lainnya. Dengan demikian pembangunan kepariwisataan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintahan di berbagai daerah yang lebih luas dan bersifat fundamental. Kepariwisataan akan menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan suatu daerah dan terintegrasi dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas memiliki dua babonan (source) utama, yaitu gunung Slamet dan sungai Serayu. Keduanya sama-sama memiliki kekuatan yang luar biasa yang apabila dikembangkan secara optimal akan menempatkan Kabupaten Banyumas sebagai salah satu kekuatan utama kepariwisataan di Jawa Tengah. Gunung Slamet memiliki kekuatan berupa landscape alam yang indah. Sedangkan sungai Serayu memiliki kekuatan berupa kebudayaan lokal yang lahir, hidup dan berkembang di sepanjang aliran sungai. Kekuatan alam yang berporos di gunung Slamet melahirkan obyek dan potensi wisata, antara lain: landscape Baturraden, Wana Wisata, Pancuran Tiga, Pancuran Tujuh, Goa Sarabadak, Curug Ceheng, Curug Gede, dan Curug Gomblang, yang jika dirunut lebih jauh maka sampai pada Curug Cipendok Cilongok, Goa Darma Kradenan Ajibarang, Gunung Putri Purwojati, hingga Puncak Mahameru Tambak.

Kekuatan kebudayaan lokal Banyumas dapat dilihat pada beberapa aspek, antara lain:
1. Sejarah: Majapahit dan Pajajaran sebagai leluhur Banyumas serta posisi strategis Banyumas pasca perang Diponegoro (1830).
2. Nilai Tradisional: nilai-nilai kultur Banyumas berakar dari kehidupan tradisional-agraris dan budaya kerakyatan.
3. Kepercayaan terhadap Tuhan YME: perpaduan antara kepercayaan lokal dengan Hinduisme, Budhisme, Islam dan Barat.
4. Kesenian: terdapat 56 jenis kesenian lokal khas Banyumas yang dapat dibedakan ke dalam jenis seni musik tradisional, seni tari tradisional, seni teater tradisional, dan seni rupa.
5. Permuseuman: di Banyumas terdapat beberapa museum penting antara lain Museum Wayang Sendang Mas Banyumas, Museum BRI Purwokerto, dan Museum Pangsar Soedirman serta artefak-artefak budaya yang tersimpan di masyarakat.
6. Kepurbakalaan: Banyumas memiliki kekayaan artefak peninggalan sejarah purbakala peninggalan masa prasejarah, masa klasik (Hindu-Budha), masa Islam dan masa kolonial.
7. Kebahasaan: berkembang bahasa Jawa dialek Banyumasan yang merupakan salah satu wujud identitas kultur Banyumas.
8. Kesastraan: berkembang pesat sastra lisan dalam kehidupan masyarakat Banyumas sebagai akibat dari kuatnya perkembangan tradisi lisan pada masa lalu.

Selain kedua kekuatan di atas, Kabupaten Banyumas masih menyimpan kekuatan kepariwisataan yang lain, meliputi:
1. Wisata Kota Lama Banyumas, Bendung Gerak Serayu
2. Wisata Husada : Kali bacin, Pancuran 7, Pancuran 3 Baturraden
3. Wisata Kerajinan : Batik, Bambu, Keramik
4. Wisata Boga : Sokaraja, Baturraden, Banyumas, dll
5. Wisata Agro : Kemranjen, Sumpiuh, Tambak, Cikakak
6. Wisata Kota : Alun-alun, Gor, Moro, Rita, Fatmaba
7. Wisata Spiritiual : Masjid Saka Tunggal Cikakak, Goa Maria , Candi, Petilasan;
8. Wisata Minat Khusus : Jungle Track, Pendakian gunung;
9. Wisata Rekreasi : Konvensi, Impresariat, Teknologi, Olah raga dll

B. Kepariwisataan di Era Globalisasi
Ada dua esensi dalam kepariwisataan, yaitu: (1) looking for something difference (mencari segala sesuatu yang berbeda), dan (2) aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan ketika berada dalam perjalanan, baik pemenuhan sarana akomodasi, pengalaman baru, kesegaran fisik dan psikis, maupun kegiatan lainnya mulai sejak berangkat sampai dengan pulang.

Pariwisata internasional pada tahun 2004 mencapai kondisi tertinggi sepanjang sejarah dengan mencapai 763 juta orang dan menghasilkan pengeluaran sebesar US$ 623 miliar. Kondisi tersebut meningkat 11% dari jumlah perjalanan tahun 2003 yang mencapai 690 juta orang dengan jumlah pengeluaran US$ 524 miliar. Diperkirakan jumlah perjalanan wisata dunia di tahun 2010 akan mencapai 1 miliar orang dan di tahun 2020 akan menembus 1,5 miliar orang per tahun. Namun demikian perjalanan wisata di dunia masih dihadapkan kepada permasalahan-permasalahan besar yang meliputi ancaman terorisme dan penyebaran penyakit mematikan (pandemi) yang melanda dunia akhir-akhir ini.

World Travel and Tourism Council (WTTC) yang berkedudukan di London, Inggris, pada tahun 2003 telah menerbitkan suatu dokumen yang menggambarkan arah perubahan hubungan antara para pelaku kepariwisataan. Disebutkan bahwa pembangunan kepariwisataan saat ini memerlukan:
1. Kemitraan yang koheren antara para pelaku kepariwisataan, masyarakat, usaha swasta dan pemerintah.
2. Penyampaian produk wisata yang secara komersial menguntungkan, namun tetap memberikan jaminan manfaat bagi setiap pihak yang terlibat.
3. Berfokus pada manfaat bukan saja bagi wisatawan yang datang namun juga bagi masyarakat yang dikunjungi serta bagi lingkungan alam, sosial dan budaya setempat.

Pada sisi lainnya, kepariwisataan dunia juga menghadapi globalisasi yang antara lain berbentuk liberalisasi dan aliansi perdagangan jasa-jasa seperti tertuang dalam Persetujuan Umum Tarif Jasa (GATS) dan di tingkat regional diimplementasikan melalui pemberlakuan AFTA dan AFAS. Pemberlakuan liberalisasi perdagangan dan jasa ini adalah untuk menghilangkan hambatan dalam hal perdagangan, meliputi: transaksi perdagangan barang dan jasa, sumber daya modal (investasi), dan pergerakan manusia.

Dengan diberlakukannya AFAS, batas-batas negara yang selama ini menghambat pergerakan perdagangan baik barang dan jasa termasuk di dalamnya pariwisata akibat aspek peraturan dan kebijakan yang berlaku di masing-masing negara menjadi tidak berlaku lagi, sesuai dengan prinsip globalisasi yaitu borderless (dunia tanpa batas). Akibatnya persaingan/kompetisi antar bangsa adalah faktor kunci yang menuntut setiap negara untuk menyiapkan strategi dan langkah-langkah yang tepat dalam menghadapi era perdagangan bebas, misalnya di bidang pariwisata melalui peningkatan kualitas dan pelayanan produk pariwisata, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Selanjutnya masalah keamanan global menjadi perhatian serius. Masalah keamanan sangat terkait dengan aksi terorisme yang pada faktanya telah menjadi salah satu ancaman serius pada saat ini. Masalah keamanan global ternyata telah menciptakan citra yang sangat kurang menguntungkan bagi industri pariwisata global. Keselamatan wisatawan yang menjadi faktor utama telah terusik akibat aksi bom di destinasi maupun fasilitas pariwisata (hotel dan pesawat terbang) serta didorong dengan adanya pandangan bahwa saat ini tidak ada destinasi yang aman untuk berwisata. Apabila sentimen ini sudah masuk dalam benak wisatawan, maka hal ini akan menjadi permasalahan yang cukup serius bagi perkembangan pariwisata global di masa depan.

Masalah kesehatan global juga menjadi perhatian serius dalam pengembangan kepariwisataan dunia. Penyebaran AIDS, avian flu, meningitis, cholera, demam berdarah dengue dan tubercolosis yang semakin tinggi berakibat kurang menguntungkan bagi pergerakan wisatawan dunia. Pandemi yang melanda beberapa negara di Asia belakangan ini telah mempengaruhi daya saing kepariwisataan negara-negara tersebut. Antisipasi dalam mencegah penyebaran penyakit mematikan tersebut serta keterbukaan informasi masing-masing negara merupakan faktor penting dalam menciptakan daya tarik bagi calon wisatawan untuk kembali melakukan perjalana wisata ke negara-negara yang mengalami pandemi tersebut.

Kemajuan teknologi di bidang transportasi, telekomunikasi, dan informasi telah menciptakan dunia tanpa batas, memudahkan terjadinya mobilitas manusia antarnegara maupun pertukaran informasi melalui dunia maya (virtual). Kerjasama dan pergaulan yang semakin global dengan memanfaatkan kemajuan Iptek, harus pula diimbangi dengan upaya mengangkat unsur budaya lokal yang semakin besar perannya dalam membentuk karakter dan identitas bangsa serta meningkatkan keunggulan kompetitif. Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi telah memacu terjadinya kontak antarbudaya secara lebih intensif, baik secara personal (tatap muka) maupun impersonal, melalui berbagai media seperti radio, televisi, komputer, internet, koran, dan majalah.

Perjalanan wisata internasional di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2004 mewakili 20% perjalanan dunia atau setara dengan 152,5 juta perjalanan wisata dengan pendapatan mencapai US$124,97 miliar. Pertumbuhan perjalanan wisata di kawasan ini merupakan yang tertinggi di dunia (27,9%) dibandingkan kawasan lainnya. Asia Pasifik sampai saat ini merupakan kawasan pariwisata dunia yang paling dinamis. Pada tahun 1990 jumlah perjalanan wisata di kawasan ini baru mencapai 57,7 juta perjalanan namun dalam waktu limabelas tahun berlipat tiga menjadi lebih dari 150 juta perjalanan, walaupun sempat mengalami penurunan jumlah kunjungan yang signifikan di tahun 2003 (-9,0%).

Di Asia Tenggara, seluruh negara yang melakukan kegiatan pariwisata melaporkan pertumbuhan dua digit di tahun 2004. Tourism Highlight 2005, UN-WTO, 2005 melaporkan bahwa dari lima negara destinasi pariwisata utama di Asia Tenggara, Thailand masih merupakan negara yang paling besar menerima devisa dari kegiatan pariwisata internasional. Kelebihan dan kekurangan pada tiap-tiap negara di kawasan Asia Tenggara antara lain:

1. Thailand : atraksi wisata budaya, infrastruktur, fasilitas dan pelayanan pariwisata, citra negatif pariwisata, ominasi kepemilikan usaha oleh orang asing.
2. Malaysia : aksesibilitas, fasilitas dan pelayanan pariwisata, kemampuan untuk menahan wisman lebih lama, keragaman atraksi wisata.
3. Singapura : infrastruktur dan aksesibilitas (hub penerbangan), fasilitas dan pelayanan wisata, keterbatasan destinasi, kemampuan untuk menahan wisman lebih lama.
4. Filipina : atraksi wisata alam dan budaya, keragaman destinasi, keamanan, citra negatif pariwisata.
5. Vietnam : kekayaan heritage tourism, atraksi wisata alam dan budaya, terbatasnya infrastruktur, belum terbentuknya citra sebagai destinasi pariwisata.

Di tingkat nasional, laju pertumbuhan kepariwisataan masih ditemui dilema (paradox). Sifat paling mendasar dari investasi pada industri pariwisata di Indonesia adalah “high investment, not quick yield” artinya investasi di bidang pariwisata membutuhkan investasi yang besar dengan tingkat pengembalian yang lama (jangka panjang). Kondisi ini sungguh tidak menarik bagi kebanyakan stakeholders kepariwisataan yang masih memiliki budaya “instant and shortcut”. Mereka lebih menyukai melakukan investasi yang dapat segera memberikan keuntungan. Sehingga para investor tidak tertarik menanamkan modalnya dalam mengembangkan usaha pariwisata.

Dalam konteks ini diperlukan integrasi usaha pariwisata (tourism business integration) yang merupakan sinergi pelaku kepariwisataan secara horisontal maupun vertikal dan memberikan keuntungan atau manfaat bagi masing-masing pihak. Oleh karena itu diperlukan bentuk-bentuk insentif yang mampu merangsang timbulnya investasi di bidang kepariwisataan dengan menggunakan manajemen partisipatoris dengan melibatkan seluruh stakeholders baik masyarakat, dunia usaha, lembaga keuangan, pemerintah daerah (provinsi, kabupaten maupun kota), serta pemerintah pusat.

Sesuai dengan Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Kepariwisataan Nasional tahun 2005 – 2009, maka kebijakan dalam pembangunan kepariwisataan nasional diarahkan untuk:
1. Peningkatkan daya saing destinasi, produk dan usaha pariwisata nasional;
2. Peningkatan pangsa pasar pariwisata melalui pemasaran terpadu di dalam maupun di luar negeri;
3. Peningkatan kualitas, pelayanan dan informasi wisata;
4. Pengembangan incentive system usaha dan investasi di bidang pariwisata;
5. Pengembangan infrastruktur pendukung pariwisata;
6. Pengembangan SDM (standarisasi, akreditasi dan sertifikasi kompetensi);
7. Sinergi multi-stakeholders dalam desain program kepariwisataan.


C. Pengembangan Kepariwisataan di Kabupaten Banyumas

Letak strategis Kabupaten Banyumas yang berada di posisi silang sesungguhnya sangat menguntungkan bagi pembangunan kepariwisataan di daerah ini. Dalam kacamata pandang kepariwisataan, Kabupaten Banyumas terletak pada:

 Posisi Kabupaten Banyumas di tengah tengah jalur dari Pantura menuju ke pantai selatan atau jalan utama Jakarta – Surabaya di selatan pulau Jawa;
 Jalur lalulintas dari Jawa Barat menuju Jawa Timur sedemikian melalui kawasan selatan Kabupaten Banyumas;
 Banyaknya peluang potensi wisata berbasis wisata: alam, budaya, buatan, sejarah, kuliner, dan lain-lain menjadi daya tarik untuk dikunjungi.

Isyu strategis yang memungkinkan dapat mendorong pertumbuhan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas antara lain:

 Gunung Slamet dan sungai Serayu sebagai kekuatan kepariwisataan Banyumas.
 Letak strategis Kabupaten Banyumas di posisi silang.
 Kekayaan potensi alam dan kebudayaan lokal sebagai kekuatan pembangunan kepariwisataan.
 Keinginan pencapaian kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan kepariwisataan.

Dalam rangka pembangunan kepariwisataan wilayah Banyumas telah disusun RIPPDA (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah) tahun 2008 – 2015. Di dalamnya disebutkan bahwa pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas dibagi menjadi tiga SWPP (Sub Wilayah Pengembangan Pariwisata), antara lain:

 Wilayah I : Baturraden, Kedungbanteng, Karanglewas, Purwokerto Utara, Purwokerto Barat, Purwokerto Selatan, Purwokerto Timur, Sumbang, Kembaran, Sokaraja, Kalibagor, Patikraja, Kebasen.
 Wilayah II : Cilongok, Ajibarang, Pekuncen, Gumelar, Lumbir, Wangon, Jatilawang, Purwojati, Rawalo.
 Wilayah III : Banyumas, Somagede, Tambak, Sumpiuh, Kemranjen.

Berdasarkan ketiga pembagian sub wilayah pembangunan pariwisata tersebut, maka pelaksanaan pengembangan kepariwisataan dapat diwujudkan ke dalam sebuah bangun segitiga “Bango mas” yang meliputi wilayah Baturraden, Wangon, dan Banyumas.

Titik pertumbuhan kepariwisataan di Baturraden dilakukan dengan menitikberatkan pengembangan wisata alam. Pertumbuhan kepariwisataan Baturraden didukung oleh pengembangan Museum Pangsar Soedirman sebagai wisata kota dan Curug Cipendok di Cilongok. Di Museum Pangsar Soedirman dirancang selain dibangun taman bermain, juga akan dibangun sebuah cinema yang dapat dipergunakan untuk memutar film-film perjuangan Jenderal Soedirman dan film-film produksi lokal. Sedangkan di curug Cipendok akan dibangun agrowisata dengan memanfaatkan landscape alam pegunungan di wilayah itu.

Wilayah Banyumas akan dikembangkan wisata kota lama dengan memanfaatkan artefak-artefak bangunan kuno bersejarah dan ragam kebudayaan local setempat. Pembangunan kota lama Banyumas sebagai destinasi wisata telah dimulai dengan dibentuknya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sentra Budaya yang memiliki kewenangan menggali, melestarikan, mengembangkan, dan memberdayakan aspek-aspek kebudayaan lokal sebagai salah satu kekuatan kedirian masyarakat Banyumas dalam wacana politik identitas serta diarahkan terbentuknya etalase budaya, museum sekaligus laboratorium kebudayaan lokal Banyumas. Pengembangan kota lama Banyumas didukung oleh pengembangan wisata serayu (Serayu River Voyage – SRV).

Titik pertumbuhan Wangon dilakukan dengan memanfaatkan artefak sejarah berupa Masjid Saka Tunggal Cikakak. Titik pertumbuhan wilayah ini didukung oleh beberapa kekuatan, antara lain makam Kyai Tolih, kera-kera jinak di sekitar masjid Saka Tunggal, goa krast Darma Kradenan, Gunung Putri Purwojari dan wisata husada Kalibacin.

Arah kebijakan pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas, dilakukan melalui serangkaian tindakan yang berbasis pada strategi :

1. Kebijakan Investasi (Investment Policy), melalui penerapan peraturan yang kondusif terhadap pembangunan usaha pariwisata baru maupun pengembangan usaha yang telah ada.
2. Pengembangan Infrastruktur, dengan memperbesar aksesibilitas menuju dan dalam destinasi pariwisata melalui pembangunan serta perluasan jaringan jalan, jaringan telekomunikasi, penyediaan listrik dan air bersih. Ketersediaan infrstruktur yang memadai akan meningkatkan daya saing serta daya tarik dalam penyediaan fasilitas kepariwisataan di setiap lokus.
3. Pengembangan SDM, melalui peningkatan kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat lokal guna mengembangkan kompetensi masyarakat dalam penyediaan barang dan jasa kepariwisataan serta pelayanan bagi wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara.
4. Koordinasi Lintas Sektor, mengembangkan kemitraan antara seluruh stakeholders pembangunan kepariwisataan melalui upaya koordinasi, sinkronisasi dan konsolidasi yang melibatkan lembaga swadaya masyarakat, asosiasi/usaha pariwisata, DPRD, maupun pemerintah.

Seluruh kondisi tersebut di atas memerlukan pendekatan yang ditujukan untuk meningkatkan keunggulan daya saing (competitive advantage) yang dimiliki Kabupaten Banyumas dalam pengembangan kepariwisataan. Michael E. Porter (2004) menyebutkan bahwa competitive advantage membutuhkan faktor-faktor pembangun seperti :

1. Cost Advantages, keunggulan atas biaya yang harus dikeluarkan dalam penyediaan produk dan pelayanan wisata merupakan faktor penting dalam membangun keunggulan kompetitif destinasi pariwisata. Di dalamnya bergabung berbagai faktor yang mampu mengembangkan kinerja destinasi seperti perencanaan (desain); pengembangan produk wisata; pemasaran; pelayanan; serta harga. Dalam konteks pemerintahan, keunggulan biaya dapat pula dibantu dengan harmonisasi regulasi antara pemerintah pusat dan daerah yang terkait dengan insentif keuangan, penetapan tarif serta skema perpajakan atau retribusi.
2. Differentiation, membedakan destinasi dan produk pariwisata merupakan fokus dalam mengembangkan keunggulan komparatif kepariwisataan. Suatu destinasi pariwisata harus mampu menjadi berbeda dengan pesaingnya ketika menghasilkan aksesibilitas, atraksi dan amenitas yang unik dan berharga bagi wisatawan yang datang. Diferensiasi tidak melulu dilakukan dengan hanya menawarkan harga produk dan pelayanan yang lebih rendah.
3. Business Linkages, mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan merupakan suatu proses integratif dalam membangun keunggulan kompetitif kepariwisataan. Hubungan yang dibangun bersifat vertikal dan horisontal serta saling terintegrasi satu sama lainnya.
4. Services, pelayanan yang konsisten semenjak wisatawan tiba di pintu masuk (entry point), pada saat berada di destinasi pariwisata sampai dengan kepulangannya. Seluruh pihak yang terkait seperti adminsitratur bandara dan pelabuhan, petugas imigrasi, bea cukai dan karantina, supir taksi dan lainnya seyogyanya mampu memberikan pelayanan prima dan baku sehingga meninggalkan kesan yang dalam bagi wisatawan.
5. Infrastructures, kondisi prasarana dan sarana pendukung kepariwisataan yang terpelihara dan beroperasi dengan baik juga merupakan faktor penting pembangun keunggulan kompetitif suatu destinasi pariwisata.
6. Technology, penggunaan teknologi yang tepat dan mudah digunakan akan mampu memberikan dukungan bagi pelayanan kepada wisatawan yang datang selain mampu juga mendukung proses pengambilan keputusan dalam pengembangan, pengelolaan dan pemasaran destinasi pariwisata.
7. Human Resources, kompetensi sumberdaya manusia pelayanan dan pembinaan kepariwisataan menjadi kunci penting pelaksanaan berbagai faktor pembentuk keunggulan kompetitif tersebut di atas.

Berbagai faktor pembentuk keunggulan kompetitif tersebut menggambarkan kompleksitas pengembangan kepariwisataan yang bersifat multisektor dan multidisipliner bagi di tingkat pusat, provinsi maupun lokal. Namun demikian untuk melaksanakannya secara berhasil diperlukan tiga elemen penting yaitu (1) Visi; (2) Kepemimpinan (Leadership); dan (3) Komitmen. Ketiga elemen ini harus pula ditunjukkan secara nyata dalam proses pengembangan, pengelolaan dan pemasaran kepariwisataan.

D. Penutup

Pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas dihadapkan pada berbagai masalah, tantangan dan hambatan baik yang berskala global, nasional maupun regional. Selain itu diperlukan pula perubahan paradigma dalam memandang pariwisata dalam konteks pembangunan nasional. Pariwisata tidak lagi semata dipandang sebagai alat peningkatan pendapatan nasional namun memiliki spektrum yang lebih luas dan mendasar. Oleh karena itu pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Banyumas memerlukan fokus yang lebih tajam serta mampu memposisikan destinasi pariwisata sesuai potensi alam, budaya dan masyarakatnya. Dalam konteks ini, setiap lokus yang memiliki potensi kepariwisataan harus dapat memposisikan dirinya dalam kerangka pembangunan kepariwisataan nasional dengan diimbangi dengan perencanaan yang matang dan upaya-upaya peningkatan kompetensi SDM yang berkualitas dunia.


DAFTAR PUSTAKA

Boxwell, Robert J., Jr. (1994), Benchmarking for Competitive Advantage, McGraw-Hill, Inc., New York.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI (2005), Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata Nasional 2005 – 2009, Jakarta.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas (2007), Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Tahun 2008-2015, Purwokerto.

Porter, Michael E. (2004), Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance, with a new introduction, copyright 1985, Free Press Publishing, New York.

Thurow, Lester C. (1999), Building Wealth: the New Rules for Individuals, Companies, and Nations in a Knowledge-Based Economy, 1 st Edition, HarperCollins Publishers, Inc., New York.

United Nation-World Tourism Organization (2005), Tourism Highlight 2005, UN-WTO, Madrid.

World Travel dand Tourism Council (2003), The Blueprint of New Tourism, WTTC, London.

PERMOHONAN MAAF


Baca Selengkapnya...
Kepada para pembaca sekalian, saya mohon maaf yang setulus-tulusnya karena dalam waktu tiga bulan ini (Oktober s.d. Desember) saya tidak sempat posting tulisan, gambar maupun informasi lainnya. Hal tersebut karena dalam waktu tiga bulan ini saya dalam keadaan yang sangat sibuk. Hanya sedikit sekali waktu yang bisa saya gunakan untuk buka-buka internet, yang paling-paling sekedar buka email. Mulai akhir Desember ini para pembaca sudah dapat membaca gagasan-gagasan saya yang saya tuangkan dalam bentuk tulisan maupun bentuk informasi lainnya. Dengan harapan, pada masa mendatang semakin banyak yang peduli terhadap eksistensi kebudayaan lokal Banyumas. Menurut saya, kian banyak orang peduli, maka memungkinkan dijadikan sebagai kekuatan bersama membangun kebudayaan lokal Banyumas untuk mampu menciptakan citra diri sebagai sebuah kekuatan nilai yang bermakna bagi pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan dunia. Akhirnya saya berharap adanya kritik, saran, dan pendapat yang dapat dijadikan sebagai acuan lebih lanjut dalam pengembangan kultur panginyongan ini. Hidup Banyumas!!!

Sunday, September 21, 2008

SENI BUNCIS DI BANYUMAS: Ekspresi Estetik Dalam Kekalutan


Baca Selengkapnya...

Pertunjukan Seni Buncis di Banyumas



Buncis di Banyumas bukan sekedar nama sayuran untuk lauk-pauk. Buncis juga menjadi nama salah satu kesenian local setempat. Kesenian ini tersaji dalam bentuk seni pertunjukan rakyat. Pemain terdiri dari delapan orang yang menari sambil menyanyi, sekaligus menjadi musisinya. Dalam sajiannya keseluruhan pemain mengenakan kostum berupa kain yang dibuat menyerupai rumbai-rumbai menutup aurat. Sedangkan di kepalanya dikenakan mahkota yang terbuat dari rangkaian bulu ayam. Dengan kostum yang demikian inilah kemudian menjadikan seni buncis lazim disebut dengan istilah ‘dayak-dayakan’ yang berarti menyerupai kostum suku Dayak di Kalimantan.

Para pemain dalam pertunjukannya membawa alat musik angklung berlaras slendro. Masing-masing membawa satu buah alat musik yang berisi satu jenis nada yang berbeda. Enam orang di antaranya memegang alat bernada 2 (ro), 3 (lu), 5 (ma), 6 (nem) 1 (ji tinggi) dan 2 (ro tinggi). Dua orang yang lain memegang instrument kendhang dan gong bumbung. Dalam membangun sajian musical, masing-masing pemain menjalankan fungsi nada sesuai dengan alur lagu balungan gendhing. Dari permainan alat-alat musik yang demikian, mereka mampu menyajikan gendhing-gendhing Banyumasan.

Hingga saat ini seni buncis masih bertahan hidup di wilayah kecamatan Somagede, tepatnya di Desa Tanggeran, Klinting, dan Sokawera. Semua berjumlah empat kelompok, yaitu di Tanggeran terdapat dua kelompok, Klinting (satu kelompok), dan Sokawera (satu kelompok). Hingga dasawarsa 1970-an, buncis masih bias ditemukan di wilayah kecamatan Kemranjen dan Kebasen. Namun seiring dengan perubahan jaman dari era tradisional-agraris ke modern-teknologis, keberadaan seni buncis di kedua kecamatan ini berangsur-angsur mengalami kepunahan.

Kisah Perjuangan sebagai Awal Lahirnya Seni Buncis

Keberadaan seni buncis erat dengan perjuangan menentang kolonialis Belanda yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas dan sekitarnya. Semenjak berakhirnya perang Diponegoro tahun 1830, wilayah Banyumas dilego oleh Pemerintah Kraton Surakarta Hadiningrat kepada Hindia-Belanda sebagai pampas an perang. Hal ini terjadi karena Kasunanan Surakarta Hadiningrat menjadi pihak yang kalah, sementara Pemerintah Hindia-Belanda sebagai pihak pemenang menderita kerugian material yang cukup besar. Banyumas sebagai wilayah kekuasaan Surakarta Hadiningrat saat itu kemudian dijadikan sebagai pampasan perang dengan harapan Pemerintah Hindia-Belanda segera dapat mendapatkan kembali kerugian material yang telah diderita.

Perubahan segera terjadi. Wilayah Banyumas dijadikan sebagai salah satu sentra perkebunan yang sangat produktif. Tercatat di wilayah ini didirikan pabrik pemintalan dan kilang minyak di wilayah Cilacap serta Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) dan peternakan di wilayah Baturraden, Banyumas. Di wilayah ini dibangun pula pabrik gula sebanyak lima buah, yaitu di Klampok (Banjarnegara), dan Purbalingga, serta Kalibagor, Purwokerto, dan Ajibarang (Banyumas). Hasil di wilayah Banyumas konon mencapai 1/3 dari keseluruhan penghasilan yang diperoleh Pemerintah Hindia-Belanda di nusantara.

Berakhirnya perang Diponegoro ternyata tidak menyurutkan perlawanan dari para pejuang di wilayah Banyumas. Mereka umumnya mengungsi di gunung-gunung dan hutan-hutan agar tidak ditangkap musuh. Ada pula di antara mereka yang berbaur dengan masyarakat pedesaan, memperistri gadis setempat dan menetap di desa itu. Ada pula yang berkelana dari kampung ke kampung sebagai pengelana (orang Banyumas menyebutnya kaum maulana).

Sebagian pejuang yang memiliki kreativitas estetik pun berkesenian untuk menghibur diri. Salah satu kesenian yang dihasilkan adalah seni buncis. Konon kata ‘buncis’ merupakan jarwo dhosok yang berarti ‘bundhelan cis’. ‘Bundhelan’ dapat diartikan simpul, patron atau sesuatu yang dianggap bermakna, sesuatu yang harus dipegang teguh. Sedangkan ‘cis’ berarti perkataan yang keluar dari lisan. ‘Buncis’ dapat diartikan secara luas sebagai kata-kata para leluhur yang harus dipegang teguh, dijadikan sebagai dasar dalam perikehidupan. Lalu kata-kata apa yang dimaksud? Adalah kata-kata pemimpin perjuangan mereka; Pangeran Diponegoro. Bahwa ibarat ‘sedumuk bathuk senyari bumi’, jika harkat dan martabat kemanusiaan direndahkan serta sejengkal tanah wutah getih dikuasai orang lain’ maka harus dipertahankan hingga titik darah penghabisan. Demikianlah spirit keakuan ini terus dikobarkan untuk menggugah semangat juang para prajurit. Seni buncis pun kemudian dijadikan sebagai alat perjuangan. Buncis menjadi spirit untuk membangkitkan gairah mempertahankan bumi nusantara dari cengkeraman penjajah Belanda. Melalui spirit inilah, perjuangan terus dikobarkan hingga mencapai kemerdekaan pada tahun 1945.

Buncis sebagai Media Ekspresi Estetis

Apa yang dijumpai dalam pertunjukan buncis adalah sebuah ragam seni pertunjukan yang tampil seadanya. Penari dapat dengan bebas berekspresi melalui ragam gerak tarian sesuai dengan pengalaman estetik tiap-tiap pemain. Satu hal yang menjadi ciri utama adalah ragam gerak tarian dengan pola-pola gagahan. Ini mungkin terjadi karena fonding fathersnya adalah para pejuang yang tentu saja sangat terapresiasi dengan spirit kegagahan para syuhada. Ekspresi sikap gagah ini diungkapkan melalui ragam gerak tarian rakyat yang dapat dijumpai pula pada seni ebeg, barongan, ujungan, dan sejenisnya.

Kostum yang dipakai tidak mencerminkan pertunjukan panggung yang secara khusus dibuat untuk menciptakan kekaguman penanonton pada patron, pola, bentuk maupun warna. Kostum yang dikenakan dalam pertunjukan buncis lebih menyiratkan bahwa mereka dalam kondisi sangat melarat. Dengan riasan berupa arang yang dibalurkan ke seluruh wajah hingga tubuh, para pemain yang tengah mengenakan kostum lebih mirip suku pedalaman yang belum mengenal peradaban. Sepintas memang mirip dengan pakaian suku Dayak di Kalimantan, maka tidak salah jika mereka kemudian disebut ‘dayak-dayakan’. Jika dilihat dari sisi kostum tersebut, justru dapat diperoleh gambaran betapa seni buncis seperti disengaja untuk tidak tampil gebyar. Ini terjadi karena buncis lahir di kalangan para buron yang sewaktu-waktu ditangkap atau lari menghindari penangkapan.

Sajian musikal yang dibangun melalui instrumen angklung cenderung memiliki pola-pola sajian yang demikian terbatas. Dari keenam instrumen angklung yang ada, lima instrumen di antaranya ditabuh dengan cara dikocok atau digoyang untuk menyajikan balungan gendhing. Hanya satu instrumen yang disajikan secara terpola, yaitu nada 2 (ro tinggi) yang dikocok terus-menerus di sela-sela sajian instrumen lain. Mereka menyebut pola tabuhan instrumen ini adalah ‘ngecruki’. Instrumennya pun kemudian disebut ‘kecruk’. Instrumen gong disajikan pada setiap akhir seleh terberat dari keseluruhan alur lagu gendhing. Adapun instrumen kendhang selain berfungsi sebagai pengendali permainan tempo dan irama, juga memiliki sekaran-sekaran tertentu yang berkiblat pada karawitan gagrag Banyumasan. Pola demikian lazim dijumpai pada tradisi karawitan di Banyumas yang disajikan melalui berbagai perangkat musik, seperti gamelan, calung, krumpyung, kaster, gumbeng, bendhe, dan kaster. Ragam gendhing yang biasa disajikan dalam pertunjukan buncis antara lain: Eling-eling, Ricik-ricik, Kulu-Kulu, Blendrong Kulon, Renggong Manis, Pacul Gowang, Gudril, Man Dhoplang, Kicir-kicir, Tlutur, dan sejenisnya.

Pertunjukan buncis tidak membutuhkan tempat khusus. Kesenian ini hanya membutuhkan arena yang lebar yang memungkinkan digunakan sebagai tempat berkiprah para pemain. Oleh karena itu, buncis lazim disajikan di tanah lapang atau halaman rumah. Di arena semacam inilah para pemain mengekspresikan pengalaman estetik mereka ke dalam bentuk sajian yang bebas, gagah, semangat, dan gembira.

Pada pertengahan hingga akhir sajian, para pemain biasanya mengalami intrance atau mendem (wuru). Kebiasaan demikian adalah hal yang umum dilakukan dalam pertunjukan tradisional di Banyumas. Hampir semua ragam pertunjukan tradisional di daerah ini menyajikan sesi intrance pada pertengahan hingga akhir sajian. Ragam-ragam kesenian tradisional Banyumas yang menyajikan intrance antara lain: lengger, buncis, ebeg, aplang, angguk, aksi mudha, braen, dan laisan (sintran). Adanya sesi intrance di sini bukan saja karena masyarakat Banyumas mengenal indhang sebagai roh leluhur yang diyakini menjadi spirit pertunjukan, tetapi juga hal tersebut sebagai sebuah fenomena totalitas para pemain pada kesenian tradisional terhadap dunia yang digelutinya itu. Seorang pemain pada suatu ragam kesenian tradisional yang dalam pementasannya tidak mengalami intrance, umumnya dianggap belum total. Mereka mengatakan dengan istilah belum ‘ndadi’.

Jika benar seni buncis lahir di dalam ranah perjuangan mempertahankan bumi nusantara dari kerakusan penjajah, maka ini telah membuktikan bahwa ekspresi estetik hadir kapan saja, di mana saja dan dalam situasi apapun juga. Dalam sedih, gembira, susah, senang, kebutuhan rokhani akan keindahan estetik mutlak diperlukan. Di tengah ancaman terhadap kelangsungan hidupnya, para pejuang masih menyempatkan diri berkespresi melalui media kesenian. Buncis lalu menjadi sarana ungkap pengalaman empirik dan daya estetik para pejuang.

Ekspresi estetik melalui kesenian terbukti dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja dalam ranah jangkauan ruang dan waktu. Seni buncis membuktikannya. Saat perang berlangsung pun kesenian ini mampu hadir sebagai bagian dari spirit perjuangan. Dalam situasi seperti ini tentu mereka tidak memiliki sarana-prasarana yang memenuhi syarat untuk sajian seni pertunjukan. Maka, digunakannlah bambu untuk alat musik, kain-kain bekas untuk kostum berbentuk rumbai-rumbai, dan bulu-bulu ayam sebagai mahkotanya.

Fenomena yang terjadi dalam pertunjukan buncis membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan bagi manusia untuk berekspresi. Justru keterbatasan akan mampu menggugah semangat untuk mengembangkan kreativitas. Hal ini sudah cukup banyak bukti yang dapat dilihat. Jepang mungkin tidak akan semaju sekarang ini, jika Hiroshima dan Nagasaki tidak pernah dibom atom oleh tentara sekutu. Demikian pula musik pop tidak akan mendunia seperti sekarang, jika kekuasaan gereja tidak membelenggu kreativitas bangsa Barat. Atau, tidak mungkin akan ditemukan vaksin jika tidak ada penyakit yang ditimbulkan oleh virus. Demikian seterusnya, hingga ditemukannya ragam teknologi yang dapat dilihat pada alat-alat musik tradisional di Banyumas yang diawali oleh ketidakadaan dan kemelaratan.

Buncis dalam Ranah Filsafat

Keberadaan buncis di Banyumas tidak lepas dari falsafah yang menjadi dasar dalam kehidupan masyarakat setempat. Jarwo dhosok buncis sebagai ‘bundhelan cis’ memiliki makna filosofi yang dalam terkait dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan masyarakat pendukungnya. Bahwa segala macam perkataan yang sudah terlontar melalui lisan, harus senantiasa dipegang teguh sebagai pedoman dalam langkah berikutnya. Hal ini disebabkan perkataan yang telah terucap laksana anak panah yang sudah lepas dari busurnya, tidak akan pernah bisa ditarik kembali. oleh karena itu apabila seseorang dalam hidupnya tidak memegang teguh perkataan yang telah terucap, maka dia akan berada dalam posisi tidak dipercaya oleh orang lain.

Dalam kepercayaan masyarakat Banyumas, mulut manusia seringkali menjadi media dari sabda Tuhan. Dalam situasi demikian sesungguhnya sedang terjadi kontemplasi, merasuknya kekuatan supernatural ke dalam badan wadag manusia. Istilah ‘Gusti Allah katon’ sangat populer di Banyumas yang menyiratkan bahwa manusia sewaktu-waktu tidak hadir sebagai pribadi yang mandiri. Kekuatan-kekuatan ghaib memungkinkan menyatu dengan dirinya, sehingga motif-motif perkataan seseorang bisa ‘numusi’ (menjadi kenyataan). Masyarakat Banyumas percaya seorang ibu memiliki kata-kata yang mengandung tuah tertentu (mandi) bagi anak-anaknya. Demikian pula kata-kata yang diucapkan oleh seseorang yang tengah dalam penderitaan sangat mungkin memiliki kekuatan ghaib yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup diri sendiri maupun orang-orang di sekelilingnya.

Banyak contoh yang dapat ditemukan di sini. Seorang ibu yang merasa sakit hati atas perbuatan anaknya, kemudian mengatakan bahwa kalau anaknya tidak menurut maka akan menemui celaka. Beberapa waktu kemudian anaknya pun mengalami celaka. Maka, seorang ibu tidak boleh mengatakan sesuatu yang buruk (ndhandhangi) terhadap anak-anaknya, karena hal itu menjadi kenyataan. Lain lagi, seseorang yang anaknya menderita sakit tiba-tiba mengatakan bahwa kalau anaknya sembuh akan ditanggapkan lengger. Setelah anaknya sembuh tetapi orang tua itu tidak segera menanggap lengger, maka anaknya menderita sakit lagi. Untuk menyembuhkan anak yang kembali sakit ini harus dilakukan dengan cara menanggap lengger. Inilah, kemudian ada istilah ‘kaul’, yaitu melaksanakan kata-kata yang sudah terucap di hari yang lalu; mbuang idu wayu atau ngluwari punagi.

Paham adanya kemungkinan hadirnya kekuatan supernatural melalui kata-kata yang terucap erat kaitannya dengan paham kosmologi masyarakat Banyumas. Kosmologi atau ilmu tenteng semesta alam menjadi dasar yang sangat kuat dalam diri setiap pribadi masyarakat yang berbingkai budaya Banyumas. Dalam hidupnya, manusia tidak sendirian. Dia hidup di bentangan alam yang luas dengan kekuatan-kekuatan supernatural yang tidak tampak dalam pandangan mata telanjang. Kekuatan tentang adanya Tuhan, indhang, leluhur, roh, jin, setan, memedi dan lain-lain ada dan melingkupi hidup manusia. Setiap kata yang meluncur dari lisan tidak hanya didengar oleh diri sendiri dan lawan bicaranya, tetapi juga oleh alam seisinya. Apabila seseorang dalam hidupnya sering berkata-kata yang tidak sesuai dengan kenyataan, maka dia akan kesiku, kewalat atau kenang sarik, yang menjadikan dirinya menemui kendala di hari esok. Satu-satunya cara agar selamat di hari depan, maka setiap orang harus berkata jujur sesuai dengan hati nuraninya. Paham demikian pada tahap tertentu hadir secara kultural dalam bentuk pola hidup ‘cablaka’, yaitu berkata terus terang apa yang dirasakan atau dipikirkan kepada orang lain di sekelilingnya. Pola hidup cablaka pada akhirnya menjadi dasar yang sangat kuat dalam hidup dan kehidupan masyarakat Banyumas secara keseluruhan.

Perkembangan Seni Buncis Dewasa Ini

Seperti halnya kesenian tradisional pada umumnya, perkembangan seni buncis di Banyumas mengalami pasang surut seiring dengan perubahan sosial dan kultural masyarakat pendukungnya. Jika pada masa lalu aneka ragam kesenian erat kaitannya dengan daya hidup manusia, maka pada dekade tahun 1960-an banyak digunakan untuk kendaraan politik oleh Rezim Orde Lama maupun Partai Komunis Indonesia. Carut-marut yang terjadi setelah terjadinya pemberontakan G 30 S/PKI di Indonesia berdampak secara nyata bagi keberadaan seni buncis di Banyumas. Sejak tahun 1965 seni buncis dilarang untuk tampil karena dicurigai menjadi kendaraan politik bagi PKI. Keadaan membaik sejak Pemerintah Orde Baru menegaskan pentingnya puncak-puncak kebudayaan daerah bagi kebudayaan nasional sebagaimana tertuang di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Sejak itu pula berbagai ragam kesenian tradisional termasuk seni buncis mulai diijinkan untuk melakukan pertunjukan.

Namun perubahan sosio-kultural di Banyumas telah beranjak dari pola tradisional-agraris ke arah modern-teknologis. Kecenderungan yang terjadi masyarakat adalah berkembangnya pola hidup yang praktis-pragmatis dan instan. Paham kosmologi yang pada masa lalu begitu kuat berakar dalam kehidupan masyarakat Banyumas berangsur-angsur luntur dan tergantikan kebiasaan-kebiasaan manusia modern yang lebih didasari oleh cara berpikir yang logis dan realistis. Kehadiran seni buncis pun tidak lagi didasari oleh paham kosmologi, tetapi lebih diarahkan pada seni pertunjukan yang dijadikan sebagai media hiburan semata. Perubahan ini telah menyeret seni buncis ke dalam kancah persaingan global, harus mampu bertahan di antara dahsyatnya perkembangan produk-produk budaya massa dan seni pop. Keadaan pun menjadi semakin dipaksakan. Buncis dipaksa menjadi pertunjukan yang menghibur. Lalu dalam pertunjukannya selain menyajikan gendhing-gendhing Banyumasan harus pula menyajikan lagu-lagu pop yang tengah disukai masyarakat. Dengan hanya bermodalkan instrumen musik tradisional yang terbatas, pola tarian terbatas, rias-busana terbatas, tata panggung terbatas, dan SDM terbatas, akhirnya seni buncis kian tampil pucat pasi di antara maraknya perkembangan seni pop. Seni buncispun kian tergeser ke tepi, yang jika tidak diselamatkan tinggal menunggu waktu bukan tidak mungkin akan mengalami kepunahan.

Usaha penyelamatan memang terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas. Dewasa ini pemerintah setempat mulai menerapkan politik identitas dalam pembangunan kebudayaan lokal. Dengan cara demikian diharapkan berbagai kearifan lokal termasuk seni buncis dapat dikembangkan dan diarahkan untuk mewujudkan identitas kultur Banyumas yang berakar kerakyatan. Namun seberapa jauh efeknya terhadap eksistensi seni buncis? Kita bisa menunggu akhir dari episode kisah terakhir ini. Namun sesungguhnya kita tidak bijaksana jika hanya dalam posisi menunggu. Siapapun orangnya, yang merasa menjadi bagian dari kultur Banyumas sudah seharusnya ikut bersinergi, berperan serta dalam menggali, mengembangkan dan memberdayakan aneka ragam kearifan lokal yang ada guna menciptakan kebanggaan bagi masyarakat Banyumas terhadap ragam kebudayaan lokal miliknya.***