Friday, December 7, 2007

WUJUD KEBUDAYAAN BANYUMAS: MEMBANGUN IDENTITAS

Wujud kebudayaan Banyumas berupa local genius dari kelompok-kelompok kecil masyarakat yang mendiami dusun-dusun, grumbul-grumbul dan desa-desa yang dibatasi oleh gunung, sawah, ladang, sungai, hutan dan semak belukar. Di setiap lokus komunitas kecil itu terdapat spesifikasi budaya yang dibangun berdasarkan peradaban lokal komunitas tersebut. Oleh karena itu tidak mustakhil apabila suatu ragam kesenian ada di satu kelompok masyarakat, tetapi tidak terdapat di kelompok masyarakat lainnya, meskipun semua itu masih berada di dalam ranah kebudayaan Banyumas.
Edi Sedyawati menjelaskan bahwa dalam konteks kemasyarakatan, jenis-jenis kesenian tertentu memiliki kelompok-kelompok pendukung tertentu pula (Edi Sedyawati et al, 1986:4). Di Banyumas, bongkel hanya ada di Gerduren, Purwojati. Jemblung hanya hidup di wilayah Sumpiuh dan Tambak. Ujungan hanya di wilayah segitiga perbatasan Kabupaten Banyumas, Banjarnegara dan Purbalingga. Krumpyung hanya terdapat di Kecitran, Banjarnegara dan masih banyak ragam kesenian lain yang tersebar di satuan kelompok-kelimpok kecil masyarakat dalam lingkup grumbul, dusun ataupun desa.

Demikian pula dalam hal bahasa. Bahasa Jawa dialek Banyumas terbagi setidaknya menjadi sub dialek, yaitu sub dialek wetan kali (sisi timur sungai) dan sub dialek kulon kali (sisi barat sungai). Yang dimaksud sungai di sini adalah sungai Serayu. Sub dialek wetan kali merupakan dialek Banyumasan yang cenderung dekat dengan bahasa Jawa standar yang dikembangkan di wilayah negarigung. Sedangkan dialek kulon kali cenderung dekat dengan bahasa Sunda. Fakta yang paling mudah ditemukan adalah nama-nama desa. Di sisi barat sungai Serayu terdapat begitu banyak desa atau tempat-tempat yang didahului kata “ci” yang dalam bahasa Sunda berarti sungai, seperti Cilongok, Cingebul, Cilacap, Cionje dan lain-lain. Ini berbeda dengan desa-desa atau tempat-tempat di sebelah timur sungai Serayu yang lebih njawani, seperti Karangsalam, Karangrau, Purwareja, Wirasaba, Somagede dan lain-lain. Kenyataan demikian tidak dapat disangkal meskipun nama-nama njawani berkembang lebih meluas hingga sisi barat sungai Serayu. Semua itu terjadi karena sungai Serayu telah menjadi batas terakhir perkembangan kebudayaan Sunda, sementara persebaran kebudayaan Jawa merambah hingga perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Lebih dari itu pada tingkat kelompok-kelompok kecil ternyata juga terdapat perbedaan-perbedaan sub dialek yang tercermin pada pilihan kosa kata, intonasi, dan gaya bahasa. Di wilayah kulon kali, terdapat banyak sub dialek seperti yang terdapat di wilayah Kalibagor hingga Purwokerto yang berbeda dengan Karanglewas dan Cilongok. Hal ini berbeda dengan yang terdapat di Ajibarang hingga Lumbir. Semakin ke arah barat, semakin kental pula warna Sundanya. Namun justru ada kekhususan, di daerah Wanareja dan sekitarnya justru banyak digunakan bahasa Jawa bandhek (standar) untuk komunikasi sehari-hari. Hal tersebut terjadi karena di wilayah Wanareja dihuni oleh orang-orang dari Wetan (wilayah Blora, Pati, Klaten dan lainnya) bekas narapidana Nusakambangan pada masa penjajahan Belanda yang tidak pulang ke daerahnya. Artinya, sejak lama di wilayah Wanareja justru telah dihuni oleh masyarakat multietnis yang memungkinkan terciptanya sub kebudayaan tersendiri di dalam konteks kebudayaan Banyumas secara keseluruhan.
Fakta tersebut di atas memberikan petunjuk bahwa kebudayaan Banyumas ternyata tidak dibangun oleh sebuah komunitas masyarakat yang homogen. Identitas kebudayaan Banyumas justru dibangun dari serpihan-serpihan komunitas masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang menghuni di wilayah Banyumas. Hal ini sangat bisa dipahami karena pada dasarnya identitas budaya dibangun oleh individu-individu sejauh dia dipengaruhi oleh tanggung jawabnya terhadap sebuah kelompok atau kebudayaan (Wikipedia,2006). Karakter individu sangat berperan di sini. Karakteristik individu berakar pada identitas dasar yang dibawa semenjak lahir dan merupakan suatu anugerah yang tidak bisa dihindari. Identitas dasar itulah yang kemudian membentuk “keakuan” dan membedakannya dengan yang lain (Ubid Abdillah S., 2002:12). Karakteristik individu pada orang per orang yang mendiami wilayah Banyumas kemudian disatukan oleh perasaan kebersamaan. Ibarat sapu, individu-individu di Banyumas adalah lidinya, sedangkan suh (pengikat)-nya adalah perasaan kebersamaan. Adanya perasaan kebersamaan ini kemudian terbentuk suatu sistem kebudayaan; kebudayaan Banyumas.

Perasaan kebersamaan diwujudkan melalui berbagai cara dan ekspresi seperti yang tampak pada bahasa dan kesenian-kesenian tertentu yang berkembang meluas di seantero Banyumas. Bahwa bahasa dialek Banyumasan dengan sub-sub dialeknya merupakan ekspresi perasaan kebersamaan kaum penginyongan (Ahmad Tohari, 2006) di tengah hegemoni kebudayaan kraton Jawa. Musik calung adalah contoh konkret ragam kesenian yang mampu berperan sebagai pengikat rasa kebersamaan tersebut.

Calung tumbuh subur di berbagai lokus dan didukung oleh hampir semua kelompok masyarakat di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas. Keadaan demikian tentu saja bukan suatu hal yang kebetulan terjadi. Pasti ada sesuatu yang membedakan calung dengan ragam kesenian lain yang berkembang di dalam lokus yang lebih terbatas. Sebab, seperti dijelaskan Tolstoy, kesenian adalah kegiatan manusia yang secara sadar dengan perantaraan tanda-tanda lahiriah tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan perasaan-perasaan yang telah dihayatinya kepada orang lain (dalam The Liang Gie, 1976:60). Calung memiliki kekuatan yang menjadikannya dapat diterima dan dinikmati oleh lebih banyak orang Banyumas. Sebagaimana bahasa dialek Banyumasan, calung mampu berfungsi sebagai sarana komunikasi antar warga masyarakat Banyumas dalam konteks yang lebih luas.

Pada awalnya calung pun tentu bermula dari perkembangan lokal, berbagai serpihan khasanah kebudayaan Banyumas yang hanya hidup di kelompok kecil masyarakat. Namun demikian serpihan itu kemudian berkembang, baik secara kualitatif maupun kuantitatif (Edi Sedyawati, 1984,50-51) sehingga semakin memiliki kualitas estetis yang tinggi dan semakin luas jangkauan sebarannya. Seperti ditegaskan Van Zanten tentang body of concepts kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang tercermin di dalam realitas musik (Van Zanten, W., 1996), realitas musik pada calung mampu mewadahi sensitivitas dan sensibilitas perasaan serta konsep nilai yang dianut bersama-sama oleh masyarakat Banyumas.

Melalui ragam musik calung, masyarakat Banyumas menganyam dan merajut mata rantai identitas yang berbasis kehidupan kaum penginyongan. Franz Magnis Suseno mengungkapkan bahwa identitas sebuah bangsa adalah kediriannya yang terbentuk dalam proses perkembangannya, dalam sejarahnya (Franz Magnis Suseno, 1992:52). Kehadiran musik calung bermakna sebagai media ekspresi kedirian masyarakat Banyumas di tengah peradaban yang lebih luas. Terhadap nilai, ruh dan tampilan perwajahan calung, masyarakat Banyumas boleh jadi tidak perlu lagi membaca, sekalipun bisa membacanya. Hal ini karena ekspresi musikal pada sajian calung ibarat kata-kata yang mewakili gagasan-gagasan yang begitu saja keluar untuk dikomunikasikan kepada khalayak. Maka, khalayak yang berposisi sebagai komunikanlah yang membaca dan menterjemahkan makna ekspresi musik tersebut guna mengetahui ide atau gagasan yang ada di dalam benak pikiran orang Banyumas. Keberhasilan mengkomunikasikan gagasan itu sendiri, bagi mereka kemudian menjadi media menunjukkan karakter ‘keakuan’. Dengan cara demikian, maka mereka merasa lebih ‘hidup’.

Dalam hal ini Jennifer Lindsay menyatakan bahwa kesenian tradisional menjadi suatu ciri dalam identitas serta cermin kepribadian masyarakat pendukungnya (Jennifer Lindsay, 1991:39). Pernyataan Jennifer Lindsay dibuktikan oleh musik calung yang ternyata mampu berperan sebagai media ungkap identitas kebudayaan Banyumas. Hal demikian karena musik bambu tradisional ini telah dirasakan sebagai milik sendiri oleh masyarakat di lingkungannya. Calung diolah berdasarkan cita rasa masyarakat Banyumas selaku pendukung keberlangsungannya. Cita rasa di sini memiliki pengertian luas, termasuk nilai kebudayaan tradisi, pandangan hidup, pendekatan, falsafah, rasa etis serta estetis serta budaya setempat. Hasilnya berupa sebuah ragam musik yang membumi, mewakili jiwa sebagian besar masyarakat Banyumas dan kemudian diterima sebagai tradisi yang diwariskan oleh angkatan tua kepada angkatan muda.


DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Tohari, 2006, “Membangun Identitas Banyumas melalui Seni-Budaya”, Pointers makalah, disampaikan pada Sarasehan Seni yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas bertempat di Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas tanggal 20 Juli 2006.

Edi Sedyawati, 1984, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: Sinar Harapan.

_____ et al, 1986, Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Masalah tari, Jakarta: Direktorat Pengembangan Kesenian Proyek Pengembangan Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lindsay, Jennifer, 1991, Klasik, Kitsch, dan Kontemporer, Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Suseno, Franz Magnis, 1992, Filsafat Kebudayaan Politik. Butir-Butir Pemikiran Kritis, Jakarta: Gramedia.

The Liang Gie, 1976, Garis-garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan), Yogyakarta: Karya.

Ubid Abdillah S, 2002, Politik Identitas Etnis: Pergulatan Tanda Tanpa Identitas, Magelang: Indonesiatera.

Van Zanten, W., 1996, Sundanese Music In The Cianjuran Style., Foris Publication, Dordrecht-Holland/Providence - U.S.A.

Wikipedia Indonesia, 2006, “Indonesia: Era Orde Baru” Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Bagian dari seri Sejarah Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/ Indonesia:_Era_Orde_Baru.

Wujud kebudayaan Banyumas berupa local genius dari kelompok-kelompok kecil masyarakat yang mendiami dusun-dusun, grumbul-grumbul dan desa-desa yang dibatasi oleh gunung, sawah, ladang, sungai, hutan dan semak belukar. Di setiap lokus komunitas kecil itu terdapat spesifikasi budaya yang dibangun berdasarkan peradaban lokal komunitas tersebut. Oleh karena itu tidak mustakhil apabila suatu ragam kesenian ada di satu kelompok masyarakat, tetapi tidak terdapat di kelompok masyarakat lainnya, meskipun semua itu masih berada di dalam ranah kebudayaan Banyumas.
Edi Sedyawati menjelaskan bahwa dalam konteks kemasyarakatan, jenis-jenis kesenian tertentu memiliki kelompok-kelompok pendukung tertentu pula (Edi Sedyawati et al, 1986:4). Di Banyumas, bongkel hanya ada di Gerduren, Purwojati. Jemblung hanya hidup di wilayah Sumpiuh dan Tambak. Ujungan hanya di wilayah segitiga perbatasan Kabupaten Banyumas, Banjarnegara dan Purbalingga. Krumpyung hanya terdapat di Kecitran, Banjarnegara dan masih banyak ragam kesenian lain yang tersebar di satuan kelompok-kelimpok kecil masyarakat dalam lingkup grumbul, dusun ataupun desa.

Demikian pula dalam hal bahasa. Bahasa Jawa dialek Banyumas terbagi setidaknya menjadi sub dialek, yaitu sub dialek wetan kali (sisi timur sungai) dan sub dialek kulon kali (sisi barat sungai). Yang dimaksud sungai di sini adalah sungai Serayu. Sub dialek wetan kali merupakan dialek Banyumasan yang cenderung dekat dengan bahasa Jawa standar yang dikembangkan di wilayah negarigung. Sedangkan dialek kulon kali cenderung dekat dengan bahasa Sunda. Fakta yang paling mudah ditemukan adalah nama-nama desa. Di sisi barat sungai Serayu terdapat begitu banyak desa atau tempat-tempat yang didahului kata “ci” yang dalam bahasa Sunda berarti sungai, seperti Cilongok, Cingebul, Cilacap, Cionje dan lain-lain. Ini berbeda dengan desa-desa atau tempat-tempat di sebelah timur sungai Serayu yang lebih njawani, seperti Karangsalam, Karangrau, Purwareja, Wirasaba, Somagede dan lain-lain. Kenyataan demikian tidak dapat disangkal meskipun nama-nama njawani berkembang lebih meluas hingga sisi barat sungai Serayu. Semua itu terjadi karena sungai Serayu telah menjadi batas terakhir perkembangan kebudayaan Sunda, sementara persebaran kebudayaan Jawa merambah hingga perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Lebih dari itu pada tingkat kelompok-kelompok kecil ternyata juga terdapat perbedaan-perbedaan sub dialek yang tercermin pada pilihan kosa kata, intonasi, dan gaya bahasa. Di wilayah kulon kali, terdapat banyak sub dialek seperti yang terdapat di wilayah Kalibagor hingga Purwokerto yang berbeda dengan Karanglewas dan Cilongok. Hal ini berbeda dengan yang terdapat di Ajibarang hingga Lumbir. Semakin ke arah barat, semakin kental pula warna Sundanya. Namun justru ada kekhususan, di daerah Wanareja dan sekitarnya justru banyak digunakan bahasa Jawa bandhek (standar) untuk komunikasi sehari-hari. Hal tersebut terjadi karena di wilayah Wanareja dihuni oleh orang-orang dari Wetan (wilayah Blora, Pati, Klaten dan lainnya) bekas narapidana Nusakambangan pada masa penjajahan Belanda yang tidak pulang ke daerahnya. Artinya, sejak lama di wilayah Wanareja justru telah dihuni oleh masyarakat multietnis yang memungkinkan terciptanya sub kebudayaan tersendiri di dalam konteks kebudayaan Banyumas secara keseluruhan.
Fakta tersebut di atas memberikan petunjuk bahwa kebudayaan Banyumas ternyata tidak dibangun oleh sebuah komunitas masyarakat yang homogen. Identitas kebudayaan Banyumas justru dibangun dari serpihan-serpihan komunitas masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang menghuni di wilayah Banyumas. Hal ini sangat bisa dipahami karena pada dasarnya identitas budaya dibangun oleh individu-individu sejauh dia dipengaruhi oleh tanggung jawabnya terhadap sebuah kelompok atau kebudayaan (Wikipedia,2006). Karakter individu sangat berperan di sini. Karakteristik individu berakar pada identitas dasar yang dibawa semenjak lahir dan merupakan suatu anugerah yang tidak bisa dihindari. Identitas dasar itulah yang kemudian membentuk “keakuan” dan membedakannya dengan yang lain (Ubid Abdillah S., 2002:12). Karakteristik individu pada orang per orang yang mendiami wilayah Banyumas kemudian disatukan oleh perasaan kebersamaan. Ibarat sapu, individu-individu di Banyumas adalah lidinya, sedangkan suh (pengikat)-nya adalah perasaan kebersamaan. Adanya perasaan kebersamaan ini kemudian terbentuk suatu sistem kebudayaan; kebudayaan Banyumas.

Perasaan kebersamaan diwujudkan melalui berbagai cara dan ekspresi seperti yang tampak pada bahasa dan kesenian-kesenian tertentu yang berkembang meluas di seantero Banyumas. Bahwa bahasa dialek Banyumasan dengan sub-sub dialeknya merupakan ekspresi perasaan kebersamaan kaum penginyongan (Ahmad Tohari, 2006) di tengah hegemoni kebudayaan kraton Jawa. Musik calung adalah contoh konkret ragam kesenian yang mampu berperan sebagai pengikat rasa kebersamaan tersebut.

Calung tumbuh subur di berbagai lokus dan didukung oleh hampir semua kelompok masyarakat di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas. Keadaan demikian tentu saja bukan suatu hal yang kebetulan terjadi. Pasti ada sesuatu yang membedakan calung dengan ragam kesenian lain yang berkembang di dalam lokus yang lebih terbatas. Sebab, seperti dijelaskan Tolstoy, kesenian adalah kegiatan manusia yang secara sadar dengan perantaraan tanda-tanda lahiriah tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan perasaan-perasaan yang telah dihayatinya kepada orang lain (dalam The Liang Gie, 1976:60). Calung memiliki kekuatan yang menjadikannya dapat diterima dan dinikmati oleh lebih banyak orang Banyumas. Sebagaimana bahasa dialek Banyumasan, calung mampu berfungsi sebagai sarana komunikasi antar warga masyarakat Banyumas dalam konteks yang lebih luas.

Pada awalnya calung pun tentu bermula dari perkembangan lokal, berbagai serpihan khasanah kebudayaan Banyumas yang hanya hidup di kelompok kecil masyarakat. Namun demikian serpihan itu kemudian berkembang, baik secara kualitatif maupun kuantitatif (Edi Sedyawati, 1984,50-51) sehingga semakin memiliki kualitas estetis yang tinggi dan semakin luas jangkauan sebarannya. Seperti ditegaskan Van Zanten tentang body of concepts kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang tercermin di dalam realitas musik (Van Zanten, W., 1996), realitas musik pada calung mampu mewadahi sensitivitas dan sensibilitas perasaan serta konsep nilai yang dianut bersama-sama oleh masyarakat Banyumas.

Melalui ragam musik calung, masyarakat Banyumas menganyam dan merajut mata rantai identitas yang berbasis kehidupan kaum penginyongan. Franz Magnis Suseno mengungkapkan bahwa identitas sebuah bangsa adalah kediriannya yang terbentuk dalam proses perkembangannya, dalam sejarahnya (Franz Magnis Suseno, 1992:52). Kehadiran musik calung bermakna sebagai media ekspresi kedirian masyarakat Banyumas di tengah peradaban yang lebih luas. Terhadap nilai, ruh dan tampilan perwajahan calung, masyarakat Banyumas boleh jadi tidak perlu lagi membaca, sekalipun bisa membacanya. Hal ini karena ekspresi musikal pada sajian calung ibarat kata-kata yang mewakili gagasan-gagasan yang begitu saja keluar untuk dikomunikasikan kepada khalayak. Maka, khalayak yang berposisi sebagai komunikanlah yang membaca dan menterjemahkan makna ekspresi musik tersebut guna mengetahui ide atau gagasan yang ada di dalam benak pikiran orang Banyumas. Keberhasilan mengkomunikasikan gagasan itu sendiri, bagi mereka kemudian menjadi media menunjukkan karakter ‘keakuan’. Dengan cara demikian, maka mereka merasa lebih ‘hidup’.

Dalam hal ini Jennifer Lindsay menyatakan bahwa kesenian tradisional menjadi suatu ciri dalam identitas serta cermin kepribadian masyarakat pendukungnya (Jennifer Lindsay, 1991:39). Pernyataan Jennifer Lindsay dibuktikan oleh musik calung yang ternyata mampu berperan sebagai media ungkap identitas kebudayaan Banyumas. Hal demikian karena musik bambu tradisional ini telah dirasakan sebagai milik sendiri oleh masyarakat di lingkungannya. Calung diolah berdasarkan cita rasa masyarakat Banyumas selaku pendukung keberlangsungannya. Cita rasa di sini memiliki pengertian luas, termasuk nilai kebudayaan tradisi, pandangan hidup, pendekatan, falsafah, rasa etis serta estetis serta budaya setempat. Hasilnya berupa sebuah ragam musik yang membumi, mewakili jiwa sebagian besar masyarakat Banyumas dan kemudian diterima sebagai tradisi yang diwariskan oleh angkatan tua kepada angkatan muda.


DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Tohari, 2006, “Membangun Identitas Banyumas melalui Seni-Budaya”, Pointers makalah, disampaikan pada Sarasehan Seni yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyumas bertempat di Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas tanggal 20 Juli 2006.

Edi Sedyawati, 1984, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Jakarta: Sinar Harapan.

_____ et al, 1986, Pengetahuan Elementer Tari dan Beberapa Masalah tari, Jakarta: Direktorat Pengembangan Kesenian Proyek Pengembangan Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lindsay, Jennifer, 1991, Klasik, Kitsch, dan Kontemporer, Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Suseno, Franz Magnis, 1992, Filsafat Kebudayaan Politik. Butir-Butir Pemikiran Kritis, Jakarta: Gramedia.

The Liang Gie, 1976, Garis-garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan), Yogyakarta: Karya.

Ubid Abdillah S, 2002, Politik Identitas Etnis: Pergulatan Tanda Tanpa Identitas, Magelang: Indonesiatera.

Van Zanten, W., 1996, Sundanese Music In The Cianjuran Style., Foris Publication, Dordrecht-Holland/Providence - U.S.A.

Wikipedia Indonesia, 2006, “Indonesia: Era Orde Baru” Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia, Bagian dari seri Sejarah Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/ Indonesia:_Era_Orde_Baru.

1 comment:

Anonymous said...

kalau tentang sejarah asal usul adanya calung itu bagaimana?