Friday, December 7, 2007

Pengalaman Kesenian



Pementasan Karya tari "Dadi Ronggeng" pada Borobudur International Festival tahun 2003






Dalam usaha mewujudkan iklim berkesenian yang kondusif di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas, saya senantiasa berupaya menciptakan ragam karya tari yang bersumber dari tradisi setempat. Beberapa karya yang telah berhasil saya ciptakan antara lain:

  • Gobyog Jaranan (1994), bersumber dari kesenian ebeg. Karya tari ini menjadi salah satu karya terbaik pada Lomba Karya Cipta Tari Anak-anak Tingkat Jawa Tengah bertempat di Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta.
  • Tregel (1994), ragam tari kreasi baru gagrag Banyumas yang memadukan unsur-unsur gerak tarian lokal Banyumas dan jaipongan. Karya tari ini pernah ditampilkan di beberapa event internasional antara lain World Music Art and Dance (WOMAD) Festival di Reading-Inggris, Larmer Tree Music Festival di Salisbury-Inggris, Queen Elizabeth Hall di London-Inggris, Rudolstaadt Festival di Jerman, dan Sfinks Festival di Belgia.
  • Lobong Ilang (1996), bersumber dari seni lengger Banyumas, menjadi penyaji terbaik pada Festival Tari Rakyat Tingkat Jawa Tengah di Kabupaten Tegal tahun 1997.
  • Marungan (1999), bersumber dari seni lengger Banyumas, menjadi penyaji terbaik pada Bengawan Solo Festival bertempat di Pagelaran Kraton Surakarta tahun 1998 dan menjadi penyaji terbaik pada Festival Tari Rakyat Tingkat Jateng-DIY bertempat di Hotel Natour Garuda Yogyakarta tahun 2001.
  • Pager Bumi (2002), sebuah tarian ritual yang menggambarkan keblat papat lima pancer. Penari terdiri dari lima orang dengan kostum berwarna merah, hitam, kuning, putih dan ijo maya-maya, yang menggambarkan empat nafsu manusia (amarah, aluamah, sufiah dan mutmainah) dan hati nurani yang menjadi pancer dan pengendali keempat nafsu tersebut.
  • Krasa Ngawak Krasa Ngati (2002), menggambarkan penderitaan dan kemelaratan yang ditampilkan melalui ragam karya tari kontemporer dengan sumber gerak berupa ragam tari rakyat Banyumasan.
  • Karya Tari Dadi Ronggeng (3003), bersumber dari seni lengger Banyumas, menjadi salah satu penyaji terbaik pada Borobudur International Festival bertempat di Kabupaten Magelang tahun 2003.
  • Srintil Melarung Birahi (2004), karya tari kontemporer yang diilhami oleh novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Sekalipun karya tari ini berkategori tari kontemporer, namun sumber geraknya adalah ragam tarian tradisional Banyumasan, terutama kesenian lengger.
  • Semar Mbarang Jantur (2004), sebuah karya kompilasi antara cerita dalam wayang kulit purwa dengan lengger Banyumasan yang diaktualisasikan melalui sebuah karya tari lepas. Karya ini menjadi salah satu penyaji terbaik pada Kemilau Nusantara II yang bertempat di Bandung, Jabar tahun 2004.
  • Kaki Mbeang Mbeong (2006), dramatari dengan sumber cerita dongeng tentang sebuah keluarga miskin yang memiliki 25 orang anak. Demi memberikan harapan bagi anak-anaknya, Kaki Mbeang Mbeong merebus batu yang dikatakan sedang menanak nasi. Di dalamnya diceritakan, saat tidak ada apapun untuk dimakan, mereka hidup rukun senasib seperjuangan. Namun ketika ada sesuatu yang dapat dimakan, mereka saling berebut dan berkelakuan lebih liar dari binatang.



Pementasan Karya tari "Dadi Ronggeng" pada Borobudur International Festival tahun 2003






Dalam usaha mewujudkan iklim berkesenian yang kondusif di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas, saya senantiasa berupaya menciptakan ragam karya tari yang bersumber dari tradisi setempat. Beberapa karya yang telah berhasil saya ciptakan antara lain:
  • Gobyog Jaranan (1994), bersumber dari kesenian ebeg. Karya tari ini menjadi salah satu karya terbaik pada Lomba Karya Cipta Tari Anak-anak Tingkat Jawa Tengah bertempat di Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta.
  • Tregel (1994), ragam tari kreasi baru gagrag Banyumas yang memadukan unsur-unsur gerak tarian lokal Banyumas dan jaipongan. Karya tari ini pernah ditampilkan di beberapa event internasional antara lain World Music Art and Dance (WOMAD) Festival di Reading-Inggris, Larmer Tree Music Festival di Salisbury-Inggris, Queen Elizabeth Hall di London-Inggris, Rudolstaadt Festival di Jerman, dan Sfinks Festival di Belgia.
  • Lobong Ilang (1996), bersumber dari seni lengger Banyumas, menjadi penyaji terbaik pada Festival Tari Rakyat Tingkat Jawa Tengah di Kabupaten Tegal tahun 1997.
  • Marungan (1999), bersumber dari seni lengger Banyumas, menjadi penyaji terbaik pada Bengawan Solo Festival bertempat di Pagelaran Kraton Surakarta tahun 1998 dan menjadi penyaji terbaik pada Festival Tari Rakyat Tingkat Jateng-DIY bertempat di Hotel Natour Garuda Yogyakarta tahun 2001.
  • Pager Bumi (2002), sebuah tarian ritual yang menggambarkan keblat papat lima pancer. Penari terdiri dari lima orang dengan kostum berwarna merah, hitam, kuning, putih dan ijo maya-maya, yang menggambarkan empat nafsu manusia (amarah, aluamah, sufiah dan mutmainah) dan hati nurani yang menjadi pancer dan pengendali keempat nafsu tersebut.
  • Krasa Ngawak Krasa Ngati (2002), menggambarkan penderitaan dan kemelaratan yang ditampilkan melalui ragam karya tari kontemporer dengan sumber gerak berupa ragam tari rakyat Banyumasan.
  • Karya Tari Dadi Ronggeng (3003), bersumber dari seni lengger Banyumas, menjadi salah satu penyaji terbaik pada Borobudur International Festival bertempat di Kabupaten Magelang tahun 2003.
  • Srintil Melarung Birahi (2004), karya tari kontemporer yang diilhami oleh novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Sekalipun karya tari ini berkategori tari kontemporer, namun sumber geraknya adalah ragam tarian tradisional Banyumasan, terutama kesenian lengger.
  • Semar Mbarang Jantur (2004), sebuah karya kompilasi antara cerita dalam wayang kulit purwa dengan lengger Banyumasan yang diaktualisasikan melalui sebuah karya tari lepas. Karya ini menjadi salah satu penyaji terbaik pada Kemilau Nusantara II yang bertempat di Bandung, Jabar tahun 2004.
  • Kaki Mbeang Mbeong (2006), dramatari dengan sumber cerita dongeng tentang sebuah keluarga miskin yang memiliki 25 orang anak. Demi memberikan harapan bagi anak-anaknya, Kaki Mbeang Mbeong merebus batu yang dikatakan sedang menanak nasi. Di dalamnya diceritakan, saat tidak ada apapun untuk dimakan, mereka hidup rukun senasib seperjuangan. Namun ketika ada sesuatu yang dapat dimakan, mereka saling berebut dan berkelakuan lebih liar dari binatang.

No comments: